Khutbah Jumat Tentang Meraih Husnul Khatimah, Pengertian & Tandanya

Khutbah Jum’at Tentang Khusnul Khatimah ini membahas tentang rahasia akhir kehidupan, pengertian husnul khatimah, tanda dan tips meraihnya. Sebab, setiap muslim tentu mengharapkan husnul khatimah.

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ

لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

فإنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ

Amal Tergantung Kepada Penutupnya

Jamaah Jumat rahimakumullah

Amal perbuatan seorang muslim saat di dunia ini ditentukan oleh penutup dari amal tersebut. Bila amal yang menutup kehidupan seorang Muslim adalah amal shalih maka itu tanda yang baik bagi dirinya insyaallah.

Dan bila penutup hidupnya adalah perbuatan yang buruk maka itu merupak sebuah sinyal kerugian yang bisa jadi akan menimpa dirinya di akhirat nanti. Na’udzubillah min dzalik.

Dalam sebuah hadits dari Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi, dia berkata, ”Rasulullah ﷺ melihat kepada seorang pria yang sedang memerangi orang-orang musyrik. Dia termasuk salah satu mujahid kaum Muslimin yang paling berani. Rasulullah ﷺ kemudian bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا

Siapa yang suka untuk melihat salah seorang penghuni neraka maka lihatlah orang ini.”

Lantas ada seorang pria mengikuti orang tadi. Orang yang disebut Rasulullah ﷺ tersebut terus bertempur hingga dia terluka. Dan ia bergegas agar segera mati (karena tidak sanggup menanggung rasa sakitnya, pent). Dia mengambil ujung pedangnya lalu dia letakkan di dadanya, lantas ia hunjamkan hingga menembus di antara kedua lengannya (maksudnya tembus hingga keluar punggungnya, pent).

Kemudian Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ ، وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

Sungguh seorang hamba dalam pandangan orang banyak benar-benar mengamalkan amalan penghuni surga, padahal sesungguhnya dia benar-benar termasuk penghuni neraka. Dan ada seorang hamba dalam pandangan orang banyak melakukan amalan penduduk neraka, namun dia termasuk penghuni surga. Amalan hanyalah tergantung pada penutupnya.” [Hadits riwayat Al-Bukhari]

Anjuran Untuk Memperhatikan Penutup Amal Seseorang

Jamaah Jumat rahimakumullah

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (12235) dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Rasulullah ﷺ bersabda,

لا عليكم ألا تعجبوا بأحد حتى تنظروا بما يختم له، فإن العامل يعمل زمانًا من عمره أو برهة من دهره بعمل صالح لو مات عليه دخل الجنة، ثم يتحول، وإن العبد ليعمل البرهة من دهره بعمل سيء لو مات عليه دخل النار، ثم يتحول، فيعمل عملاً صالحًا، وإذا أراد الله بعبد خيرًا استعمله قبل موته قالوا: يا رسول الله وكيف يستعمله؟ قال: يوفقه لعمل صالح ثم يقبضه عليه

Kalian tidak perlu mengagumi siapa pun sampai kalian melihat dengan apa dia ditutup hidupnya. Sesungguhnya seorang itu beramal pada suatu masa dalam usianya atau suatu saat dalam hidupnya dengan perbuatan baik, andaikan dia meninggal di atas amal tersebut dia akan masuk Surga. Kemudian dia berubah.

Dan sesungguhnya seorang hamba benar-benar beramal dalam masa tertentu dari usianya dengan amalan buruk, andaikan dia meninggal di atas amalan itu dia akan masuk neraka. Kemudian dia berubah lalu dia melakukan amal shalih.

Jika Allah menginginkan seorang hamba menjadi baik, Allah akan mempekerjakannya sebelum kematiannya.” Para sahabat berkata,” Wahai Rasulullah, bagaimana Allah mempekerjakannya? Rasulullah ﷺ bersabda,” Allah memberinya taufik untuk melakukan perbuatan baik kemudian Allah mewafatkannya.” [Al-Albani menshahihkan hadits ini di dalam As-Silsilah Ash-Shahihah: 1334]

Baca juga Khutbah Jum’at: Harapan Mayit Kalau Hidup Lagi

Mengapa Penutup Kehidupan Itu Dirahasiakan

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Tidak diketahuinya amal yang akan menjadi penutup hidup seseorang memiliki hikmah yang mendalam.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid mengatakan bahwa hal itu merupakan salah satu bentuk kelembutan pengaturan dari Allah Ta’ala.

Sebabnya adalah andaikan seseorang mengetahui dia termasuk orang yang selamat maka dia akan merasa malas dan akan tertimpa ujub, dan bila dia termasuk orang yang bakal binasa, niscaya dia justru akan bertambah angkuh dan menjauh.

Oleh karenanya, tersembunyinya penutup amal seseorang itu merupakan rahmat Allah. Manusia hanya akan menjadi baik keadaanya apabila dia berada di antara kondisi berharap dan takut. Apabila seseorang itu berada hanya pada posisi takut saja maka dia akan putus asa dari rahmat Allah sehingga keadaannya tidak akan menjadi baik.

Dan bila seseorang itu hanya mengandalkan pada pengharapan semata dan mengandalkan rahmat Allah maka keadaannya juga tidak akan menjadi baik.

Hafsh bin Humaid berkata kepada Abdullah bin Mubarok (salah satu tokoh ulama generasi tabiut tabi’in), ”Aku telah melihat seorang pria membunuh lelaki yang lain secara zhalim lalu aku berkata dalam hati, ”Aku lebih utama dari pria ini (maksudnya pria pelaku pembunuhan).”

Lantas Ibnu Mubarok berkata,

أمنك على نفسك أشد من ذنبه”. [فتح الباري، لابن حجر: 11/ 330

”Kamu merasa aman terhadap dirimu sendiri itu jauh lebih buruk daripada dosa dia.” [Fathul Bari, Ibnu Hajar, 11/330]

Sebab dari hal ini, menurut Syaikh Al Munajjid adalah dia tidak mengetahui bahwa dia kadang bisa berubah melakukan sesuatu yang lebih buruk dari pembunuhan. Dia telah memastikan dirinya lebih baik dari orang tersebut, padahal Allah terkadang mengampuni orang ini meskipun dosanya adalah pembunuhan dan Allah bisa saja menyiksanya karena rasa ujubnya terhadap dirinya sendiri.

Pengertian Husnul Khatimah

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,

Setiap muslim pasti menginginkan akhir kehidupan yang baik yang sering disebut dengan husnul khatimah. Lantas apakah pengertian dari husnul khatimah itu secara syar’i?

Menurut Syaikh Muhammad Al-Munajjid, yang dimaksud husnul khatimah adalah seorang hamba sebelum kematiannya diberi taufik untuk menjauhi apa saja yang menimbulkan murka Allah Ta’ala, bertaubat kepada Allah dari dosa dan maksiat, serta mengamalkan berbagai ketaatan dan kebaikan kemudian dia meninggal dunia di atas kebaikan-kebaikan tersebut.

Yang menunjukkan kepada makna husnul khatimah semacam ini adalah hadits shahih dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,”Rasulullah ﷺ bersabda,

إذا أراد الله بعبده خيراً استعمله ) قالوا : كيف يستعمله ؟ قال : ( يوفقه لعمل صالح قبل موته ) رواه الإمام أحمد (11625) والترمذي (2142) وصححه الألباني في السلسلة الصحيحة 1334

Jika Allah menginginkan seorang hamba menjadi baik, Allah akan mempekerjakannya sebelum kematiannya.” Para sahabat berkata,” Bagaimana Allah mempekerjakannya? Rasulullah bersabda,” Allah memberinya taufik untuk melakukan perbuatan baik sebelum kematiannya.” [Hadits riwayat Imam Ahmad (11625), At-Tirmidzi (2142) dan Al-Albani menshahihkannya di dalam As-Silsilah Ash-Shahihah 1334]

Rasulullah ﷺ bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعَبْدٍ خَيْرًا عَسَلَهُ قِيلَ وَمَا عَسَلُهُ قَالَ يَفْتَحُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ عَمَلًا صَالِحًا قَبْلَ مَوْتِهِ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ ” رواه أحمد 17330 وصححه الألباني في السلسلة الصحيحة 1114

Bila Allah ‘Azza wa Jalla menginginkan kebaikan pada seorang hamba maka Allah menjadikannya manis.” Ada yang bertanya,”Apa yang dimaksud dengan menjadikannya manis?” Rasulullah ﷺ bersabda, ”Allah ‘Azza wa Jalla membukakan untuknya amal shalih sebelum kematiannya kemudian mewafatkannya di atas amal shalih tersebut.”

[Hadits riwayat Ahmad (17330) dan Al-Albani menshahihkannya di dalam As-Silsilah Ash-Shahihah 1114]

Baca juga Khutbah Jum’at: Penyebab Mati Su’ul Khatimah

Tanda Husnul Khatimah

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Husnul khatimah itu ada tanda-tanda nya menurut penjelasan para ulama. Tanda- tanda husnul khatimah tersebut terbagi menjadi dua:

  1. Tanda husnul khatimah yang diketahui oleh orang yang bersangkutan saat menjelang meninggal.
  2. Tanda husnul khatimah yang nampak oleh manusia di sekitar orang yang meninggal.

Tanda-tanda husnul khatimah yang diketahui oleh orang yang hendak meninggal dunia adalah kabar gembira saat hendak meninggal berupa ridha Allah Ta’ala dan kelayakan menerima kemuliaan dari Allah sebagai bentuk karunia Allah kepadanya.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. [Fushilat: 30]

Dalam tafsir as-Sa’di disebutkan bahwa hal ini terjadi saat seorang hamba menjelang meninggal dunia (ihtidhar).

Sedangkan hadits yang menunjukkan kepada hal ini adalah hadits riwayat Imam Al Bukhari (6507) dan Muslim (2683) dari Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, dia berkata, ”Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ فَقَالَ لَيْسَ كَذَلِكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللَّهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ فَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

Siapa suka untuk berjumpa dengan Allah, maka Allah pun suka untuk berjumpa dengannya dan siapa yang benci berjumpa dengan Allah, maka Allah pun benci berjumpa dengannya.” Lalu aku bertanya,” Wahai Rasulullah, apakah itu berarti benci kepada kematian, padahal masing-masing dari kita membenci kematian?”

Beliau bersabda,”Bukan begitu, tetapi seorang mukmin apabila telah diberi kabar gembira dengan rahmat Allah dan ridha Allah serta surga-Nya, ia senang untuk berjumpa dengan Allah dan Allah pun senang untuk berjumpa dengannya. Dan sesungguhnya orang kafir apabila telah diberi kabar gembira dengan siksa Allah dan murka-Nya, maka ia benci untuk berjumpa dengan Allah dan Allah pun benci berjumpa dengannya.”

Sedangkan tanda-tanda husnul khatimah yang terlihat oleh orang -orang itu banyak jumlahnya. Para Ulama rahimahumullah telah menelurusinya dengan melakukan kajian secara menyeluruh terhadap nash-nash yang menjelaskan masalah ini. Di antaranya adalah

  1. Mengucapkan syahadat saat meninggal dunia.

Ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ , ”Siapa yang akhir ucapannya Laa ilaaha illallah akan masuk ke dalam surga.” [Hadits riwayat Abu Dawud no. 3116 dan Al-Albani menyatakan hadits ini shahih di dalam Shahih Abi Dawud 2673]

  1. Meninggal dengan kening berkeringat

Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ’Kematian seorang mukmin itu dalam keadaan kening berkeringat.” [Hadits riwayat Ahmad (22513), At-Tirmidzi (980) dan An-Nasa’i (1828) dan Al-Albani menyatakan ini hadits shahih di dalam Shahih At-Tirmidzi]

  1. Meninggal di malam Jumat atau di siang hari Jumat.

Ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ , ”Tidak seorang muslim pun yang meninggal dunia pada hari Jumat atau malam jumat kecuali Allah memeliharanya dari fitnah kubur (pertanyaan malaikat di alam kubur, pent)” [Hadits riwayat Ahmad (6546) dan At-Tirmidzi (1074). Al-Albani berkata,”Hadits ini dengan seluruh jalurnya adalah hasan atau shahih.”]

  1. Meninggal saat sedang berperang di jalan Allah.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (169) فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (170) يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ (171

Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” [Ali Imran: 169-171]

Rasulullah ﷺ bersabda, ”Siapa yang terbunuh di jalan Allah maka dia syahid. Dan siapa yang meninggal di jalan Allah maka dia syahid.” [Hadits riwayat Muslim 1915]

  1. Meninggal karena terkena wabah Tha’un.

Ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ , ”Tha’un adalah kematian syahid (syahadah) setiap muslim.” [Hadits riwayat Al-Bukhari (2830) dan Muslim (1916) dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha istri Nabi ﷺ, dia berkata, ”Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang Tha’un. Beliau memberitahuku bahwa tha’un itu adzab yang Allah kirim untuk orang yang Allah kehendaki dan sesungguhnya Allah menjadikan tha’un sebagai rahmat bagi orang-orang beriman.

Tidaklah seseorang yang terkena tha’un kemudian dia tetap tinggal di negerinya dalam keadaan sabar dan karena mengharapkan pahala dan dia mengetahui bahwa tha’un itu tidak akan menimpanya kecuali apa yang telah Allah tetapkan baginya kecuali baginya seperti pahala mati syahid.” [Hadits riwayat Al-Bukhari (3474)]

  1. Meninggal karena penyakit perut.

Ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ , ”… dan siapa yang meninggal karena penyakit di perut maka dia syahid.” [Hadits riwayat Muslim 1915]

  1. Meningal karena tertimpa (terbentur) benda keras dan karena tenggelam.

Ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ , ”Syuhada’ itu ada lima: orang yang meninggal karena tha’un, dan orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang meninggal karena tenggelam, orang yang tertimpa (terbentur) benda keras dan syahid di jalan Allah.” [Hadits riwayat Al-Bukhari (2829) dan Muslim (1915)]

Baca juga Khutbah Jum’at: Rahasia Umur 40 Tahun Dalam Islam

  1. Meninggalnya seorang wanita saat nifasnya disebabkan kelahiran bayinya atau saat wanita tersebut mengandung bayinya.

Dalilnya adalah hadits riwayat Abu Dawud (3111) bahwa Nabi ﷺ bersabda, ”Dan wanita yang mati, sementara ada janin dalam kandungannya maka dia syahid.”

  1. Meninggal karena terbakar dan radang selaput dada serta TBC

Ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ ,

وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ

…dan orang yang meninggal karena terbakar adalah syahid…” [Hadits riwayat Abu Dawud, no. 3111. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Lihat keterangan ‘Aunul-Ma’bud (8: 275)]

Rasulullah ﷺ juga bersabda,

وصاحب ذات الجنب شهيد

Dan orang yang meninggal karena penyakit radang selaput dada syahid.” [Hadits riwayat An-Nasa’i 1846]

Dalam sebuah hadits disebutkan:

والسل شهادة، والبطن شهادة – صححه الألباني في صحيح الجامع الصغير3691

dan meninggal karena penyakit TBC adalah kematian syahid dan kematian karena penyakit di perut adalah kematian syahid.” [Al-Albani menyatakan ini hadits shahih di dalam Shahih Al-Jaami’ Ash-Shaghiir 3691]

  1. Meninggal karena membela agama, harta dan jiwa.

Ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ, ”Siapa yang terbunuh karena membela hartanya maka dia syahid dan siapa yang terbunuh karena membela agamanya maka dia syahid dan siapa yang terbunuh karena membela darahnya maka dia syahid.” [Hadits riwayat At-Tirmidzi 1421]

  1. Meninggal saat sedang ribath (berjaga di wilayah perbatasan paling dekat dengan musuh di medan perang ) di jalan Allah.

Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (1913) dari Salman al Farisi radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Rasulullah ﷺ bersabda, ”Ribath sehari semalam lebih baik daripada puasa dan qiyamul lail selama sebulan dan jika meninggal (saat ribath) maka amalnya yang dia lakukan itu akan terus mengalir, dan rezekinya dialirkan kepadanya dan diamankan dari fitnah.”

  1. Meninggal saat sedang beramal shalih.

Ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ, ”Siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah karena mengharap ridha Allah dan ditutup (hidupnya) dengannya maka dia masuk surga. Dan siapa yang bersedekah dengan suatu sedekah dan dia ditutup (hidupnya) dengannya maka dia masuk surga.” [Hadits riwayat Imam Ahmad (22813) dan Al-Albani menshahihkannya di kitab Al – Janaiz hal. 43]

Seluruh tanda ini merupakan kabar gembira yang baik yang menunjukkan husnul khatimah. Namun demikian, kita tidak boleh memastikan seseorang sebagai penghuni surga kecuali untuk orang-orang yang Rasulullah ﷺ telah mempersaksikan dirinya sebagai penghuni surga seperti khulafaur rasyidin yang empat, misalnya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Tips Meraih Husnul Khatimah

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Apa saja yang bisa kita lakukan agar Allah Ta’ala menganugerahkan husnul khatimah kepada kita? Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid mengatakan bahwa sebab-sebab yang bisa mengantarkan kepada husnul khatimah itu banyak. Diantaranya adalah:

  1. Istiqamah di atas ketaatan kepada Allah
  2. Husnuzhan kepada Allah Ta’ala
  3. Bersikap jujur
  4. Bertakwa kepada Allah
  5. Bertaubat kepada Allah
  6. Senantiasa mengingat kematian dan memendekkan angan-angan.
  7. Mengarahkan jiwa ke akhirat (senantiasa berorientasi ke akhirat dalam hidup ini)
  8. Bersahabat dengan para pelaku kebaikan dan keshalihan.

Doa Penutup

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita semua sikap istiqamah di atas kebenaran dan berkenan menutup kehidupan kita dengan husnul khatimah.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
Materi Khutbah Jum’at
Tips Memilih Judul Khutbah
Khutbah Keutamaan Sedekah

Print Friendly, PDF & Email