Khutbah Jum’at: Urgensi Taubat Dalam Islam

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

فإنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ

Sebaik-Baik Orang Yang Salah Adalah Yang Bertaubat

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Salah satu aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang telah disepakati oleh para ulama adalah tidak ada manusia yang bebas dari dosa kecuali para nabi. Tidak ada manusia yang dijaga oleh Allah dari melakukan dosa kecuali para Nabi ‘alaihimus salam.

Bila ada individu atau kelompok yang mengklaim bahwa dirinya atau pimpinan kelompoknya itu terbebas dari kesalahan atau dikenal dengan istilah ma’shum, maka orang atau kelompok tersebut telah menyimpang dari aqidah yang benar.

Hanya saja, yang membedakan antara satu orang muslim dengan yang lain adalah kecepatan, kesungguhan dan ketulusan dalam bertaubat setelah melakukan kesalahan. Sebab melakukan dosa atau kesalahan itu adalah sifat yang melekat pada anak manusia. Tidak mungkin bisa lepas bebas darinya. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi ﷺ:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Seluruh anak Adam itu memiliki dosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah orang-orang yang bertaubat.” [Hadits riwayat Ibnu Majah no. 424]

Perintah Bersegera Taubat

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman apabila melakukan suatu dosa agar segera bertaubat kepada-Nya tanpa menunda-menunda. Allah Ta’ala meminta orang-orang yang berdosa agar bertaubat dengan taubat yang tulus dan sungguh-sungguh, bukan bermain-main dengan taubat.

Allah Ta’ala berfirman

وَتُوبُواْ إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” [aT-Taubah: 31]

Allah juga berfirman,

يا أَيُّهَا الَّذِينَ ءامَنُواْ تُوبُواْ إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” [At-Tahrim: 8]

Dalam hadits dari sahabat Al-Aghar bin Yasar Al Muzanni radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

((يَا أيّها النّاس، توبوا إلى اللهِ واستغفِروه، فإنّي أتوبُ في اليَومِ مائَةَ مَرَّة)) رواه مسلم

Wahai manusia ! bertaubatlah kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari 100 kali.” [Hadits riwayat Muslim]

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ beliau bersabda,

((إنَّ الله تَعَالى يَبسُط يدَه باللَّيلِ ليتوبَ مُسيء النّهار، ويبسُط يدَه بالنّهار ليتُوبَ مسيءُ اللّيل)) رواه مسلم

Sesungguhnya Allah Ta’ala membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat buruk pada siang hari dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat buruk pada malam hari.” [Hadits riwayat Muslim]

Baca juga Khutbah Jum’at: Keinginan Mayit Dihidupkan Lagi di Dunia

Hukum Taubat Dalam Islam

Jamaah Jumat rahimakunullah

Bila Allah dan Rasul-Nya ﷺ telah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk bertaubat kepada-Nya, lantas bagaimanakah status hukum dari taubat dalam Islam?

Imam al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa para ulama umat Islam telah bersepakat bahwa taubat itu hukumnya fardhu ‘ain atas orang-orang yang beriman.

Dasar dari kesepakatan ulama adalah surat an Nur: 31 dan At-Tahrim: 8 tadi. Perintah dalam kedua ayat tersebut merupakan fardhu bagi setiap individu di setiap keadaan dan setiap tempat.

Urgensi Taubat

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,

Dalam al-quran kata at-taubah dan turunannya disebut sebanyak 85 kali. Di antaranya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan pertaubatan umat-umat terdahulu berikut balasan dan pahala yang mereka terima.

Namun di sisi lain, dia juga menyebutkan akibat yang bakal diterima oleh orang-orang yang enggan bertaubat semasa di dunia.

Banyaknya ayat yang menyebutkan tentang at-taubah menunjukkan betapa pentingnya taubat ini dalam pandangan Allah Subhanah wa Ta’ala. Di antara urgensi dari taubat menurut al-Quran adalah :

  1. Karena taubat Allah Ta’ala menurunkan ampunan kepada hamba-Nya

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ

Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” [Thaha: 82]

  1. Seorang mukmin mendapatkan kecintaan Allah melalui taubatnya.

Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” [Al-Baqarah: 222]

  1. Taubat Nasuha dapat melebur dosa.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. [At-Tahrim: 8]

  1. Siapa bertaubat saat di dunia niscaya Allah menerima taubatnya saat di akhirat.

Allah berfirman,

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَٰئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” [Al-Baqarah: 160]

Allah Ta’ala juga berfirman,

فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Maidah: 39]

  1. Allah Ta’ala tidak menerima taubat orang-orang yang berada di ujung kematiannya.

Hal ini disebabkan orang itu mengetahui bagaimana akhir dirinya nanti. Sementara, di saat dia masih sehat dan bugar, dia justru enggan bertaubat. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” [An-Nisa’: 18]

Baca juga Khutbah Jum’at: Cara Meraih Husnul Khotimah

Syarat Taubat

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,

Bila seseorang hendak bertaubat kepada Allah Ta’ala, maka taubatnya harus memenuhi syarat-syarat diterimanya taubat. Menurut para ulama syarat taubat itu ada tiga:

  1. Menyesal atas perbuatan yang telah dilakukan.
  2. Berhenti dari pelanggaran serupa.
  3. Bertekad untuk tidak melakukannya lagi di masa mendatang.

Tiga perkara ini harus terkumpul di saat seseorang bertaubat. Artinya, jika seseorang bertaubat maka dalam satu waktu ia harus menyesal, berhenti total dari pelanggaran serupa dan bertekad tidak mengulanginya lagi.

Dengan demikian, seseorang yang telah bertaubat dan memenuhi 3 syarat ini maka ia telah kembali kepada tingkatan ubudiyah. Sebuah titik tolak yang menjadi tujuan penciptaannya. Pada titik balik inilah seseorang telah melakukan taubat sejati.

Tanda-Tanda Taubat Nasuha

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah

Orang-orang yang telah bertaubat dengan taubat nasuha memiliki tanda-tanda lahir yang bisa dilihat, antara lain:

  1. Bergaul dengan orang-orang shalih dan menghindar dari teman-teman yang buruk.
  2. Perilakunya lebih baik daripada sebelumnya.
  3. Berhenti dari perbuatan dosa dan menerima dengan tangan terbuka terhadap segala kebajikan.
  4. Selalu cemas terhadap adzab Allah dan murka-Nya.
  5. Hatinya berpaling dari hal-hal keduniaan dan sebaliknya, hatinya haus akan hal-hal yang bersifat ukhrawi.
  6. Hatinya selalu aktif dan tersadar karena penyesalan dan rasa cemas yang terus membayangi. Hal ini tergantung pada seberapa besar pelanggaran yang dilakukannya.

Baca juga Khutbah Jum’at: Penyebab Mati Su’ul Khotimah

Buah Taubat

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah,

Taubat yang betul-betul tulus, sungguh-sungguh dan memenuhi syarat-syarat taubat nasuha akan memberikan buah-buah yang manis bagi pelakunya. Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai orang yang bertaubat dan bergembira dengan taubatnya. Allah Ta’ala akan memberinya rasa manis dalam hatinya, juga kebahagiaan dan kegembiraan. Di antara buah taubat yang paling penting adalah

  1. Ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala

Di antara dalil yang menunjukkan keridhaan Allah kepada orang yang bertaubat adalah firman Allah Ta’ala dalam surat At-Tahrim: 8

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Dalil yang lain yang menunjukkan bahwa taubat itu termasuk taqarrub yang sangat agung dan sangat dicintai oleh Allah serta menjadikan Allah Ta’ala meridhai pelakunya adalah hadits dari sahabat Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah ﷺ, dia berkata,’Rasulullah ﷺ bersabda,”

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ.أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian yang berada di atas hewan tunggangannya di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya kabur sementara di hewan tunggangan itu terdapat perbekalan makan dan minumnya.

Dia pun menjadi putus asa untuk menemukan hewan tunggangannya. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan berbaring di bawah naungannya dalam keadaan putus asa terhadap hewan tuggangannya. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, hewan tunggangannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil tali kekangnya.

Karena begitu gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah salah ucap karena sangat gembiranya.” [Hadits riwayat Muslim no. 2747).

  1. Ketenangan jiwa

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Perlu diketahui, bahaya dosa terhadap ruh dan jiwa lebih berbahaya daripada bahaya penyakit pada tubuh. Bahkan, bahaya dosa mencakup ruh dan tubuh. Anda bisa melihat bahwa orang yang bermaksiat itu terkumpul pada dirinya berbagai jenis kekhawatiran dan kesedihan, beragam keresahan dan perasaan was-was.

Anda akan dapati orang yang suka bermaksiat itu senantiasa dalam keadaan cemas, galau dan takut. Semua itu sebabnya adalah perbuatan dosa dan maksiatnya.

Oleh karena itu, taubat adalah ketenangan bagi jiwa dan kebahagiaan bagi hati. Al-Hassan Al-Bashri, rahimahullah berkata,”

الحسنة نور في القلب وقوة في البدن، والسيئة ظلمة في القلب ووهن في البدن

”Kebaikan adalah cahaya di hati dan kekuatan di dalam tubuh, dan keburukan adalah kegelapan di hati dan kelemahan di tubuh.”

Jadi, taubat merupakan obat penyakit jiwa dan badan yang menuntut untuk senantiasa bersabar dalam melakukannya dan berharap kepada pahala dari Allah Ta’ala. Taubat merupakan obat yang menjernihkan hati dan membuang sebab-sebab kesempitan yaitu “ar-raan” (noda hitam karena dosa) sebagaimana firman Allah Ta’ala,

كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. [Al-Muthaffifin: 14]

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan suatu dosa maka akan diberikan titik hitam di hatinya. Bila dia bertaubat, meninggalkan dosa itu, dan memohon ampun maka hatinya akan dibersihkan kembali. Namun jika ia kembali melakukan dosa itu maka titik hitamnya akan bertambah hingga menutupi hatinya. Dan itulah ‘Raan’ yang disebutkan oleh Allah dalam al-Qur’an.” [Hadits riwayat At-Tirmidzi dan beliau menyatakan sebagai hadits shahih]

Bila hati sudah dibersihkan dari noda hitam tersebut maka akan menjadi ringan dan lapang tidak mengenal putus asa dan tidak tertimpa sifat mudah marah. Apabila seorang hamba itu tertimpa kekhawatiran dan kegalauan dan tekanan jiwa maka itu karena dosa -dosanya.

Baca juga Khutbah Jum’at: Tentang Umur 40 Tahun

  1. Menjauh dari kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Sesungguhnya taubat itu melindungi seseorang dari adzab Allah dan hukumannya karena dosa-dosa itu menyebabkan kemurkaan, dan bencana sedangkan taubat itu menghapus dosa-dosa dan membersihkannya.

Oleh karenanya Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Yunus ‘Alaihis salam,

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” [Ash-Shaffat: 143-144]

Ucapan tasbih Nabi Yunus ‘alaihis salam yang merupakan ungkapan taubatnya adalah sebagaimana disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam surat yang lain tentang kisah dirinya.

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap:

لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim”. [Al-Anbiya’: 87]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Bahaya Menunda Taubat

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan bahwa taubat sebagai ibadah kepada Allah adalah hal yang pada prinsipnya harus segera dilaksanakan. Dengan kata lain, kewajiban taubat ini haruslah dilakukan sesegera mungkin, yang apabila seseorang menundanya maka ia akan berdosa karena penundaannya itu.

Maka, ketika seorang hamba bertaubat dari suatu dosa maka tersisalah satu dosa yang belum ia taubati, yaitu taubat dari dosa menunda taubat.

Kemungkinan, pemahaman seperti ini jarang terlintas di benak orang yang bertaubat dari suatu dosa. Ia menganggap sudah tidak tersisa lagi dosa yang harus ia taubati. Padahal, dengan ia bertaubat dari suatu dosa, masih tersisa satu dosa yang belum ditaubati olehnya, yaitu dosa menunda taubat.

Penegasan Ibnul Qayyim tersebut menguatkan pentingnya bersegera dalam melakukan taubat dan tidak mencoba untuk menunda-nundanya. Hal ini karena orang yang suka menunda taubat itu sebenarnya sedang bermain-main dengan bahaya kematian mendadak. Dia tidak pernah tahu kapan ajal menjemputnya.

Bila seseorang menunda taubatnya kemudian ajal menjemputnya maka dia berarti meninggal dalam keadaan belum bertaubat dari kemaksiatan yang sedang dilakukan. Hal ini menjadi petaka karena seseorang di akhirat akan dibangkitkan sesuai dengan amal terakhir yang dia lakukan.

Oleh karena itu, sudah semestinya kita membiasakan diri untuk segera bertaubat dari dosa dan kesalahan yang kita lakukan dengan meneladani ptunjuk Nabi ﷺ yang setiap hari bertaubat dan beristighfar 100 kali sehari, padahal beliau tidak memiliki dosa sama sekali.

Mari kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan kepada kita semuanya sikap istiqamah di atas agama-Nya dan ketaatan kepada-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaru
Tentang Sedekah

error: Content is protected !!