Khutbah Jumat: Hakikat Ikhlas, Pengertian, Urgensi, Buah, Tandanya

Khutbah Pertama

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ اْلكِتَابَ. أَظْهَرَ اْلحَقَّ بِاْلحَقِّ وَأَخْزَى اْلأَحْزَابَ وَأَتَمَّ نُوْرَهُ، وَجَعَلَ كَيْدَ اْلكَافِرِيْنَ فِيْ تَبَاب

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ اْلعَزِيْزِ اْلوَهَّابَ. المَلِكُ فَوْقَ كُلِّ اْلمُلُوْكِ وَرَبَّ اْلأَرْبَابِ.غَافِرُ الذَّنْبِ وَقَابِلُ التَّوْبِ شَدْيْدُ اْلعِقَابِ

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اْلمُسْتَغْفِرُ التّوَّاب.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى اْلآلِ وَاْلأَصْحَابِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا .يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أمَّا بعد

Pengertian Ikhlas

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kita sering mendengar kata ikhlas di tengah pergaulan kita sehari-hari. Misalnya, ada yang minta sumbangan kepada kita dengan nominal seikhlasnya. Yaitu sesuai kerelaan hati kita.

Padahal kata ikhlas merupakan istiah syar’i yang memiliki konsep makna sendiri.

Ikhlas merupakan perkara besar dalam agama ini. Salah satu pilar utama diterimanya suatu amal. Ikhlas tidak sama dengan kerelaan hati.

Dalam kesempatan khutbah kali ini, kita akan coba berikan gambaran agak detail tentang persoalan ikhlas dalam tinjauan syar’i.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menjelaskan bahwa secara bahasa kata ikhlas itu diambil dari kata kerja أخْلَصَ – يُخْلِصُ Akhlashayukhlishu dengan bentuk mashdarnya إخلاصا Ikhlaashan yang berarti menjadikan sesuatu menjadi murni dan tidak tidak tercampuri sesuatu yang lain

Sedangkan secara syar’i, para ulama memberikan beragam definisi. Yang terpenting adalah sebagai berikut:

  1. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Ikhlas adalah mengarahkan tujuan ketaatan hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.” [Madarijus salikin 2/91]
  2. Imam Al-Jurjani berkata,”Ikhlas adalah memurnikan hati dari segala noda yang mencampuri kemurnian hati tersebut.” [At-Ta’rifat: 28]
  3. Hudzaifah Al-Mura’isyi rahimahullah berkata,”Ikhlas adalah amalan seorang hamba itu sama antara yang zhahir dan batin.” [at-Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran: 13]
  4. Didapatkan keterangan dari Salafush Shalih sejumlah makna ikhlas, di antaranya adalah:
  • Memperuntukkan amal hanya bagi Allah Ta’ala dan tidak ada bagian untuk selain Allah dalam amal tersebut.
  • Memurnikan amal dari perhatian manusia.
  • Memurnikan amal dari segala noda. [Madarijus salikin : 91-92][i]

Perintah Ikhlas

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kalau kita perhatikan dalam al-Quran dan As-Sunnah banyak terdapat ayat dan hadits yang memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk berbuat ikhlas untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala saja dalam melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Di antaranya adalah sebagai berikut:

Dalil Ikhlas Dalam Al-Quran

  1. Al-Bayyinah: 5

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ -٥-

Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).

  1. Az-Zumar: 14

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصاً لَّهُ دِينِي -١٤-

Katakanlah, “Hanya Allah yang aku ibadahi dengan penuh keikhlasan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.”

  1. Al-An’am: 162-163

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ -١٦٢- لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ -١٦٣-

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,

Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (Muslim).”

  1. Al-Mulk: 2

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ -٢-

Yang Menciptakan mati dan hidup, untuk Menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,

Allah Ta’ala menjelaskan bahwa tujuan Allah menciptakan kematian dan kehidupan adalah untuk menguji manusia siapakah di antara merena yang paling baik amalnya.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah-ulama Tabiut tabi’in, menjelaskan makna ahsanu ‘amalan / amalan yang paling baik sebagi berikut:

Yaitu amalan yang paling ikhlas dan paling benar / tepat (shawwab). beliau ditanya, apakah yang dimaksud dengan yang paling ikhlas dan paling benar / tepat (shawwab)?

Beliau menjawab,”Amal itu bila ikhlas namun tidak benar maka tidak diterima. dan apabila amal itu benar namun tidak ikhlas juga tidak diterima. Sampai amal itu menjadi ikhlas dan benar. Ikhlas yaitu hanya karena Allah dan benar adalah berdasar atas sunnah.”

Ibnu Taimiyah memberikan komentar terhadap penjelasan Al-Fudhail dengan mengatakan,”Hal itu merupakan realisasi firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدً

Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhan-nya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhan-nya.” [Al-Kahfi: 110] [Majmu’ Fatawa: (1/333)]

Dalil Ikhlas Dalam As Sunnah

  1. Hadits niat dari Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu,

Rasulullah ﷺ bersabda,”Sesungguhnya semua amalan itu tergantung dengan niat. Dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai apa yang dia niatkan.” [Riwayat Al-Bukhari (1) dan Muslim (1907)]

  1. Hadits riwayat At-Tirmidzi (3590) dan dihasankan oleh Al-Albani

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Tidak seorang hamba mengatakan,”Laa ilaaha illallah saja secara ikhlas kecuali dibukakan untuknya pintu-pintu langit sampai ke ‘Arsy selama dia menjauhi dosa-dosa besar.”

  1. Hadits tentang keutamaan puasa Ramadhan secara ikhlas.

Rasulullah ﷺ bersabda,”Siapa saja yang puasa Ramadhan karena iman dan berharap pahala maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [Hadits riwayat Al-Bukhari (38) dan Muslim (760)]

  1. Hadits tentang keutamaan qiyamullail di bulan Ramadhan secara ikhlas

Rasulullah ﷺ bersabda,”Siapa saja yang qiyamullail pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala maka akan dampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [Hadits riwayat Al-Bukhari (2685) dan Muslim (1153)][ii]

Urgensi Ikhlas

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Ikhlas menduduki posisi sangat penting dalam kehidupan kaum muslimin hingga sampai pada tingkatan darurat sehingga tidak seorang muslim pun kecuali membutuhkan ikhlas.

Berikut ini sejumlah hal yang menunjukkan urgensi dari ikhlas bagi setiap Muslim sebagaimana diterangkan oleh Dr. Mahmud As-Sayyid Dawud:

  1. Ikhlas adalah senjata yang sesuai bagi seorang Muslim dalam mengarungi pertempuran dalam kehidupan ini.

Medan tempur Muslim dalam hidup ini banyak, yaitu perang melawan dirinya sendiri, hawa nafsu dan dunia, perang melawan setan manusia dan jin yang menghalangi antara dirinya dengan peribadahan kepada Tuhannya.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Fath: 18:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Pertolongan, keberhasilan, kekuasaan dan pembebasan atau turunnya ketenangan dan kebahagiaan itu karena Allah mengetahui dalam diri para sahabat tersebut terdapat iman dan ikhlas.

  1. Ikhlas merupakan jalan selamat dari riya’ dan syirik serta siksaan yang diakibatkan oleh kedua hal tersebut pada hari kiamat.

Hal ini sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (1905) tentang tiga orang yang pertama kali disiksa pada hari kiamat, yaitu orang berilmu atau ahli baca quran (qari’), Mujahid yang gugur di medan perang dan orang yang suka berderma, karena mereka tidak ikhlas.

  1. Ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya Ibadah.

Ibadah akan diterima dengan dua syarat yaitu pertama harus sesuai dengan syara’. Yang kedua ikhlas mengharap ridha Allah Ta’ala. Ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدً

Maka siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia beramal shaleh dan janganlah mensekutukan dengan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya. [Al-Kahfi: 110]

  1. Ikhlas merupakan bukti bahwa Islam itu tidak hanya memperhatikan persoalan tampilan semata namun memperhatikan esensi juga.

Ini sebagai bantahan kepada orang yang menuduh bahwa Islam hanya memperhatikan tampilan lahiriah seperti memanjangkan jenggot dan memendekkan celana. Pria muslim punya tampilan tertentu demikian pula dengan wanita muslimah.

Namun tekanan pada ikhlas membantah tuduhan tersebut karena ikhlas itu perbuatan hati yang tidak ada hubungannya dengan tampilan sama sekali.[iii]

Tanda-Tanda Keikhlasan

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Ikhlas itu memiliki tanda-tanda yang nampak pada orang-orang yang ikhlas yang telah disebutkan oleh para ulama, di antaranya adalah:

  1. Tidak suka popularitas.
  2. Tidak suka pujian dan sanjungan.
  3. Bersemangat beramal untuk agama ini.
  4. Bersegera dalam beramal dan mengharapkan akhirat.
  5. Sabar, tegar dan tidak suka mengeluh.
  6. Berusaha keras untuk menyembunyikan amalan.
  7. Melakukan amal sebaik mungkin secara tersembunyi.
  8. Memperbanyak amal secara tersembunyi.
  9. Amal yang tersembunyi lebih besar dari amalan yang terlihat.

Semua ini adalah tanda-tanda keikhlasan. Namun menurut Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, orang yang mempersaksikan keikhlasan dalam keikhlasan dirinya maka ikhlasnya tersebut masih membutuhkan keikhlasan.

Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang ikhlas dan agar Allah mensucikan hati kita dan amal kita dari riya’ dan kemunafikan.[iv]

Buah Ikhlas

Ma’asyiral Muslimi rahimakumullah,

Ikhlas memiliki faedah yang banyak dan buah yang melimpah ketika keikhlasan terwujud dalam hati seorang mukmin yang shalih. Syaikh Muhammad Shalih merinci buah-buah ikhlas dalam satu buku kecil, Al-Ikhlas, namun tidak seluruhnya bisa disampaikan di sini. Di antara buah-buah ikhlas adalah:

  1. Diterimanya amal

Ini sebagaimana dalam hadits Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,”Nabi ﷺ bersabda,”Sesungguhnya Allah tidka menerima amal kecuali bila amal itu murni dan hanya mengharapkan ridha Allah dengan amal tersebut.” [Hadits riwayat An-Nasai (3140) dan dishahihkan oleh Al-Albani]

  1. Mendapatkan pahala dan mengubah kebiasaan dan perbuatan mubah menjadi ibadah yang bernilai tinggi.

Hal ini sebagaimana hadits Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,”Rasulullah ﷺ bersabda,”Sesungguhnya tidaklah kamu menginfakkan suatu nafkah yang dengan nafkah tersebut kamu mengharapkan wajah Allah kecuali kamu diberi pahala karena nafkah tersebut hingga apa yang kamu suapkan pada mulut istrimu.” [Hadits riwayat Al-Bukhari (56) dan Muslim (1628)]

  1. Menjadikan amal yang kecil menjadi besar.

Imam Ibnul Mubarak rahimahullah – seorang ulama Tabiut Tabi’in, berkata,”Bisa jadi amal kecil menjadi banyak karena niat dan bisa jadi amal besar menjadi kecil karena niat.” [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (1/13)]

  1. Dosa-dosanya diampuni

Ikhlas merupakan sebab terbesar diampuninya dosa-dosa. Ibnu Taimiyah berkata,” Satu jenis amal saja yang terkadang dilakukan oleh seseorang dengan keikhlasan dan penghambaan yang sempurna kepada Allah, maka Allah akan mengampuni sejumlah dosa-dosa besar.

Sebagaimana dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma dari nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, ”Ada salah seorang dari umatku dipanggil pada hari kiamat di hadapan seluruh manusia ketika itu. Lalu dibentangkan catatan amalnya yang berjumlah 99 lembar catatan.

Setiap lembar catatan panjangnya sejauh mata memandang. Kemudian Allah bertanya kepadanya, “Apakah ada sesuatu yang engkau ingkari dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.”

Allah berfirman, “Kamu tidak akan dizhalimi.” Lantas dikeluarkanlah satu bithaqah /kartu sebesar telapak tangan yang bertuliskan syahadat ‘laa ilaha ilallah. Lalu ia bertanya, “Dimanakah letak kartu ini bersama dengan catatan amal tadi?”

Lantas diletakkanlah dan kartu Laa ilaha illallah’ di satu daun timbangan (mizan) dan catatan amalnya di daun timbangan lainnya. Ternyata kartu bertuliskan Laa ilaaha illallah itu lebih berat daripada catatan amalnya. [Hadits riwayat At-Tirmidzi (2639) dan Ibnu Majah dishahihkan oleh Al-Hakim dan adzahabi mengatakan sesuai syarat Muslim]

Ini adalah keadaan orang yang mengatakan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dan jujur sebagaimana dikatakan oleh lelaki dalam hadits ini. Kalau tidak demikian maka seluruh pelaku dosa besar yang telah masuk neraka itu juga mengucapkan Laa ilaaha illallah namun demikian, perkataan mereka itu tidak menjadikan lebih berat dibandingkan keburukan mereka sebagaimana perkataan pemilik bithaqah ini telah menjadikannya lebih berat.” [Fatawa Ibnu taimiyah (6/218-221)]

  1. Mendapatkan pahala suatu amal meskipun tidak mampu melakukannya.

Hal ini sebagaimana dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,”Rasulullah ﷺ bersabda,”Sesungguhnya ada sejumlah orang di Madinah yang berada di belakang kita (maksudnya tidak ikut dalam perang di jalan Allah), tidaklah kita melewati suatu jalan setapak di gunung atau pun suatu lembah kecuali mereka bersama kita disana. mereka ditahan oleh udzur.” [Hadits riwayat Al-Bukhari (2684)]

dalam riwayat lain disebutkan,”Kecuali mereka itu berserikat dengan kalian dalam pahala.” [Hadits riwayat Muslim (1911)]

  1. Melindungi diri dari setan

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ -٣٩- إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ -٤٠-

Ia (Iblis) berkata, “Tuhan-ku, oleh karena Engkau telah Memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya,

kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlash di antara mereka.” [Al-Hijr: 39-40]

Jadi setan tidak bisa menyesatkan orang yang membentengi diri dengan keikhlasan.

  1. Selamat dari fitnah

Orang yang ikhlas akan terlindungi dari terjerumus ke dalam lembah syahwat dan dari cakar orang-orang fasik dan fajir. Allah telah menyelamatkan Nabi Yusuf ‘alaihis salam dari fitnah Istri Al-‘Aziz, gelar penguasa Mesir saat itu.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَن رَّأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاء إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ -٢٤-

Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami Palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang ikhlas. [Yusuf: 24]

  1. Diberi jalan keluar dari masalah yang berat.

Hal ini sebagaimana kisah tiga orang yang terperangkap di dalam gua karena tertutup batu besar di zaman sebelum umat nabi Muhammad ﷺ.

Masing-masing dari ketiga orang itu kemudian bertawassul kepada Allah dengan amal shaleh mereka yang dinilai paling tulus karena Allah, agar Allah berkenan memberi jalan keluar dari masalah tersebut.

Akhirnya Allah berkenan mengabulkan permohonan mereka. Batu besar yang menutup pintu gua akhirnya bergeser dan mereka bisa keluar. Kisah ini terdapat dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (2102) dan Muslim (2743) dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِمَامُ الأَنبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

  أَمَّا بَعْدُ

Perkataan Ulama Tentang Ikhlas

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,

Dalam khutbah kedua ini akan kami nukilkan beberapa pandangan para ulama salaf tentang ikhlas untuk menjadi pelajaran bagi kita semua betapa ikhlas merupakan persoalan yang sangat penting bagi setiap Muslim.

  1. Fudhail bin ‘Iyadh, ulama tabiut Tabi’in berkata,”Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki dari dirimu hanyalah tentang niatmu dan kehendakmu.”
  2. Sahl bin Abdillah At-Tustari pernah ditanya,”Apakah sesuatu yang paling berat bagi diri anda?” Dia menjawab,”ikhlas, karena jiwa ini tidak mendapatkan bagian sama sekali.”
  3. Yusuf bin Asbath rahimahullah berkata,”Memurnikan niat dari segala yang merusaknya itu jauh lebih berat bagi orang-orang yang beramal daripada melakukan ibadah dengan sungguh-sungguh dalam waktu yang lama.”
  4. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata,”Tidak ada sesuatu yang aku obati yang lebih sulit bagiku melebihi niyatku karena niyat tersebut berbolak-balik pada diriku.”
  5. Yusuf bin Al Husain berkata,”Sesuatu yang paling berat di dunia ini adalah ikhlas. Berapa kali aku berusaha keras untuk menghilangkan riya’ dari hatiku, namun seolah-olah ia muncul dalam warna yang lain.”

Doa Penutup

Demikian ini khutbah tentang ikhlas yang bisa kami sampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Marilah kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengakhiri khutbah ini.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾ [الأحزاب: 56]

فَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى سَيِّدِ اْلأَوَّلِيْنَ وَاْلآخَرِيْنَ وَإِمَامِ اْلمُرْسَلِيْنَ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَبِيْرًا.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ اْلكُفْرَ وَاْلكَافِرِيْنَ يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَلَى اْلحَقِّ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلَامِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ يَا قَوِيُّ يَا عَزِيْزُ، اللَّهُمَّ انْصُرْ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ يَا قَوِيُّ يَا عَزِيْزُ

اللَّهُمَّ فَرِّجْ هَمَّ اْلمَهْمُوْمِيْنَ مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَنَفِّثْ كُرْبَ اْلمَكْرُوْبِيْنَ مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ، اللَّهُمَّ وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى اْلمُسْلِمِيْنَ يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِيْ اْلأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَأَجِرْنَا مِنْ خُزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلآخِرَةِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ نَسْتَغِيْثُ أَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ. اللَّهُمَّ أَعِذْنَا مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، وَأَعِذْنَا مِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

﴿ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴾ [البقرة: 201]

عباد الله: ﴿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ * وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ ﴾ [النحل: 90 – 91].

اُذْكُرُوْا اللهَ اْلعَظِيْمَ اْلجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ


[i] Al-Ikhlash, Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, Majmu’atuz Zaad lin Nasyr, 1430 H / 2009 M, hal. 7-10.

[ii] Ibid, hal. 13-19.

[iii] http://akhbar-alkhaleej.com/news/article/1084742

[iv] Al-Ikhlash, Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, Majmu’atuz Zaad lin Nasyr, 1430 H / 2009 M, hal. 51.

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Khutbah Jum’at Singkat Menyentuh Hati PDF
Khutbah Jumat Takwa Kepada Allah

Print Friendly, PDF & Email