Arti Yaumul Mizan: Pengertian, Dalil, Hukum, & Hikmahnya Menurut Ulama’

Yaumul Mizan (Arab: يوم الميزان) adalah hari dimana umat manusia akan ditimbang amal perbuatannya setelah menjalani proses hisab untuk menentukan jenis balasan apa yang akan diterimanya.

Bila timbangan amalnya lebih berat kebaikannya maka beruntunglah dirinya dan bila timbangannya lebih berat keburukannya maka celakah dirinya.

Tulisan berikut akan membahas tentang seluk beluk mizan. Dari pengertian, dalil-dalilnya, hukum beriman kepadanya, sifatnya, tata caranya, waktunya, hikmahnya dan hal-hal lain yang terkait dengannya.

Pengertian Yaumul Mizan (يوم الميزان)

Berikut ini penjelasan tentang pengertian Mizan secara bahasa dan istilah syar’i.

Arti Yaumun / Yaumul Secara Bahasa

Arti يوم secara bahasa adalah hari.

Mizan Secara Bahasa

الميزان Al-Mizan secara bahasa berarti ما تقدر به الأشياء خفة، وثقلًا

‘alat untuk mengukur berat dan ringannya sesuatu.’ (Di Indonesia kita kenal dengan istilah Timbangan)

Mizan Secara Syar’i

Sedangkan pengertian mizan secara syar’i, menurut Syaikh Dr. Abdullah bin Hamud al-Farih, adalah timbangan hakiki yang memiliki dua piring timbangan yang Allah letakkan pada hari Kiamat untuk menimbang amal-amal para hamba.

Mizan ini sangat akurat. Tidak akan berlebih dan berkurang dan tidak ada yang mampu untuk mengukur ukuran timbangan ini kecuali Allah Ta’ala.[i]

Maksud Yaumul Mizan adalah Hari?

Yaumul Mizan (Arab: يوم الميزان) adalah hari penimbangan amal. Hari dimana umat manusia akan ditimbang amal perbuatannya setelah menjalani proses yaumul hisab untuk menentukan jenis balasan apa yang akan diterimanya.

Bila timbangan amalnya lebih berat kebaikannya maka beruntunglah dirinya dan bila timbangannya lebih berat keburukannya maka celakah dirinya.

Dalil Adanya Yaumul Mizan

Dalil Yaumul Mizan Dalam Al Quran Hadits Ijma

Adanya Yaumul Mizan, hari ditimbangnya amal perbuatan anak manusia pada hari kiamat itu adalah benar berdasarkan dalil-dalil dalam al-Quran, As-Sunnah dan Ijma’ para ulama.

Dalil Yaumul Mizan dari Al-Quran

  • Al-Anbiya’: 47

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. [Al-Anbiya’: 47]

  • Al-Mukminun: 102-103

فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ

Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan.

Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.

  • Al-Qari’ah: 6-9

فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ * وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ

6. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,

7. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.

8. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,

9. maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.

  • Al-A’raf: 8-9

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَـئِكَ الَّذِينَ خَسِرُواْ أَنفُسَهُم بِمَا كَانُواْ بِآيَاتِنَا يِظْلِمُونَ

Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.

Dalil Yaumul Mizan dari Hadits

Dalil Yaumul Mizan Dalam Hadits Nabi
Dalil Yaumul Mizan Dalam Hadits Nabi
  • Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,

كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kata yang dicintai Ar-Rahman, ringan di lisan, berat di mizan, Subhanallahi wa bi hamdih, Subhanallahil ‘azhiim.” [Hadits riwayat Al-Bukhari (7563) dan Muslim (2694)]

  • Hadits dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu

Dari Abu Malik al-Asy’Ari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

الطَّهُوْرُ شَطْرُ اْلإِيْمَانِ، وَاْلحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ اْلمِيْزَانِ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَاْلحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ

“Bersuci adalah separoh iman, dan Alhamdulillah memenuhi mizan dan subhanallahi wal hamdulillah memenuhi antara langit dan bumi.” [Hadits riwayat Muslim]

  • Hadits dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَسْتَخْلِصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ قَالَ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَلَكَ عُذْرٌ، أَوْ حَسَنَةٌ؟ فَيُبْهَتُ الرَّجُلُ، فَيَقُولُ: لَا، يَا رَبِّ،

 فَيَقُولُ: بَلَى، إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً وَاحِدَةً، لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ، فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ، فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فَيَقُولُ: أَحْضِرُوهُ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ ! فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ، قَالَ: فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ، قَالَ: فَطَاشَتْ السِّجِلَّاتُ، وَثَقُلَتْ الْبِطَاقَةُ، وَلَا يَثْقُلُ شَيْءٌ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibukakan kepadanya sembilanpuluh sembilan catatan amal. Setiap catatan sejauh mata memandang.

Kemudian Allah berkata kepadanya, ‘Apakah ada sesuatu yang kamu ingkari dari catatan ini?. Apakah para pencatat-Ku al-hafizhun (malaikat pencatat amalan) telah menzhalimimu ?’. Orang itu berkata : ‘Tidak, wahai Rabb.”

Allah berfirman : ‘Apakah engkau mempunyai ‘udzur/alasan atau mempunyai kebaikan ?’. Orang itu pun menjadi lesu dan berkata, ‘Tidak wahai Rabb’. Allah berfirman, ‘Sebenarnya kamu di sisi kami mempunyai satu kebaikan’. Tidak ada kezhaliman terhadapmu pada hari ini’.

Lalu dikeluarkanlah untuknya sebuah kartu (bithaqah) yang tertulis : Asyhadu an Laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluh (aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya).

Allah berfirman,‘Perlihatkan kepadanya’. Orang itu berkata,”Wahai Rabb, apalah artinya kartu ini dibandingkan dengan seluruh catatan amal kejelekan ini ?’. Dikatakan : ‘Sesungguhnya engkau tidak akan dizhalimi”.

Nabi ﷺ bersabda,“Lalu diletakkanlah catatan-catatan amal keburukan itu di satu daun timbangan. Ternyata catatan-catatan itu ringan dan kartu itulah yang jauh lebih berat. Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat daripada nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” [Hadits riwayat At-Tirmidzi]

Dalil Ijma’ Adanya Mizan

Tentang adanya ijma’ dalam masalah Mizan pada hari kiamat banyak disampaikan oleh para ulama. Di antaranya adalah Ibnu Bathal yang mengatakan, “

“Ahlus sunnah telah berijma’ dalam hal iman kepada mizan dan bahwa amal para hamba akan ditimbang pada hari kiamat dan bahwa mizan tersebut memiliki lisan dan dua piringan (daun) timbangan dan amal-amal itu menyerupai dengan sesuatu yang ditimbang.

Kaum Mu’tazilah mengingkari hal tersebut dan mengingkari mizan. Mereka berkata, “Mizan itu ungkapan tentang keadilan.” Ini menyelisihi nash kitab Allah dan sabda Rasulullah ﷺ .”

Imam Al-Lalikai berkata, “Ulama Salaf telah berijma’ untuk menetapkan adanya mizan dalam hisab pada hari kiamat.”[ii]

Baca juga: Pengertian Yaumul Jaza

Hukum Beriman Pada Yaumul Mizan

Hukum Beriman Pada Yaumul Mizan

Beriman pada Yaumul Mizan itu wajib hukumnya sebagai bagian dari iman kepada Hari Akhir. Imam Ibnu Bathah dalam kitabnya, Al-Ibanah Ash-Shughra berkata,

وَقَدْ أَجْمَعَ أَهْلُ اْلعِلْمِ بِاْلأَخْبَارِ، وَاْلعُلَمَاءِ وَالزُّهَّادِ وَاْلعُبَّادِ فِيْ جَمِيْعِ اْلأَمْصَارِ أَنَّ اْلإِيْمَانَ بِذَلِكَ، – يَعْنِيْ: بِاْلمِيْزَانِ – وَاجِبٌ لَازِمٌ

“Para ahli ilmu telah berijma’ terhadap khabar-khabar tersebut (tentang mizan). Para ulama, ahli zuhud dan ahli ibadah di seluruh wilayah telah bersepakat bahwa beriman kepada mizan itu adalah wajib dan keharusan.”[iii]

Kupas Masalah Mizan di Akhirat

Ahlus Sunnah wal Jamaah beriman dengan ditegakkannya mizan pada hari Kiamat. Pada mizan tersebut ditimbanglah amalan para hamba. Allah Ta’ala berfirman,

فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ

Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan.

Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. [Al-Mukminun: 102-103]

Zhahir dari nash -nash yang ada tentang mizan menunjukkan bahwa di akhirat nanti memang ada mizan yang bisa dirasakan dan hakiki atau bersifat nyata.[iv]

Di situlah amal perbuatan manusia ditimbang. Ia bukan sebagaimana yang dikatakan orang Mu’tazilah yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan mizan adalah keadilan. Ibnu Hajar berkata, “Abu Ishaq Az-Zujaj berkata:

“Ahlus sunnah telah sepakat (ijma’) dalam hal beriman kepada mizan, bahwa amalan para hamba akan ditimbang dengan mizan tersebut pada hari kiamat dan bahwa mizan itu memiliki lisan dan dua daun atau piring timbangan dan bisa berayun karena amalan yang membebaninya.

Orang-orang Mu’tazilah mengingkari mizan. Mereka berkata, “Mizan itu adalah suatu ibarat tentang keadilan.” Mereka telah menyelisihi Al-Kitab dan as -Sunnah karena Allah telah memberitahu bahwa Dia akan meletakkan mizan untuk menimbang amal perbuatan agar para hamba melihat wujud amalan mereka sehingga mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri.” [v]

Sifat Timbangan Amal / Mizan di Akhirat

Sifat Timbangan Amal Yaumul Mizan di Akhirat

Mizan pada hari kiamat adalah timbangan yang hakiki yang memiliki dua daun timbangan atau piring timbangan sebagaimana yang kita kenal saat ini.

Hanya saja bentuk aslinya tidak akan pernah sama dengan timbangan dunia karena segala sesuatu di akhirat itu tidak akan pernah sama dengan yang ada di dunia ini kecuali dalam hal namanya saja.

Dalil yang menunjukan bahwa mizan di akhirat memiliki daun timbangan adalah hadits yang menceritakan tentang bithaqah (kartu bertuliskan Laa ilaaha illallah) yang dinukil sebelum ini. Imam Ibnu Katsir menjadikan hadits tersebut sebagai dalil dalam masalah ini. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

اْلمِيْزَانُ لَهُ لِسَانٌ، وَكَفَّتَانِ”. [شعب الإيمان: 1/447]

“Mizan itu memiliki lisan dua daun timbangan.” [Syu’abul Iman: 1/447]

Ketika disebutkan tentang mizan di dekat Al-Hasan, dia berkata,

لَهُ لِسَانٌ وَكَفَّتَانِ”. [شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة: 2210]

“Ia memiliki lisan dan dua daun timbangan.” [Syarh Ushul I’tiqad Ahlis sunnah wal Jama’ah: 2210]

Abul Hasan menjelaskan pendapat Ahlus Sunnah dalam masalah mizan, “Ahlul Haq menyatakan, “Mizan itu memiliki lisan dan dua daun timbangan. Amalan kebaikan ditimbang di salah satu daun timbangan sedangkan amalan keburukan ditimbang di daun timbangan yang satunya. Siapa yang kebaikannya lebih berat maka masuk surga. Dan siapa yang keburukannya lebih berat maka masuk neraka. [ Maqalat al-Islamiyyiin: 1/211]

Apabila kita telah menetapkan bahwa mizan itu bersifat hakiki, dan bahwa mizan itu memiliki dua daun timbangan sebagaimana dikenal orang dari bahasa Arab, ini bukan berarti mizan itu serupa dengan timbangan dunia. Namun sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

لَيْسَ فِيْ اْلآخِرَةِ مِمَّا فِيْ الدُّنْيَا إِلَّا اْلأَسْمَاءَ”. [البعث والنشور للبيهقي: 332، بلفظ: “ليس في الجنة شيء]

“Di akhirat itu tidak ada yang semisal dengan yang ada di dunia kecuali dalam hal nama.” [Al-Ba’ts wan Nusyur karya Al-Baihaqi: 332 dengan lafazh: laisa fil jannati syai’][vi]

Baca juga: Yaumul Barzakh

Pendapat Para Ulama Tentang Mizan

Pendapat Para Ulama Tentang Mizan di Hari Penimbangan

Berikut ini sejumlah perkataan ulama salaf tentang mizan agar menjadi bingkai yang benar bagi kita dalam memandang persoalan ini:

  1. Imam Abu Zur’ah rahimahullah

Al-Lalikai berkata di dalam kitab I’tiqad Ahlis Sunnah, ” Dari Ibnu Abi Hatim, dia berkata, “Aku bertanya kepada ayahku (yaitu Abu Hatim) dan Abu Zur’ah tentang madzhab Ahlus Sunnah dalam masalah Ushuluddin dan apa yang telah mereka ketahui dari para ulama di seluruh penjuru wilayah dan apa keyakinan mereka berdua dalam hal itu.

Maka mereka berdua menjawab, “Kami telah mendapati para ulama di seluruh penjuru wilayah baik Hijaz, Irak, Syam dan Yaman, bahwa madzhab mereka yaitu iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, … dan mizan itu benar adanya. ia memiliki dua buah daun timbangan.”

  1. Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahulah berkata, “Sunnah itu ada sepuluh. Siapa saja yang kesepuluh hal tersebut ada pada dirinya maka dia telah menyempurnakan sunnah dan siapa saja yang meninggalkan sebagian darinya maka dia telah meninggalkan sunnah, yaitu:

Menetapkan takdir, mendahulukan Abu Bakar dan Umar, telaga Al-Haudh, Syafaat, Mizan, Shirath (jembatan), iman itu perkataa dan perbuatan, Al-Quran adalah kalamullah, adzab kubur, Al Ba’ats (Hari Kebangkitan), dan kalian jangan memastikan kesaksian atas seorang Muslim (sebagai penghuni surga atau neraka).”

  1. As-Sifaraini berkata, “Kesimpulannya, Iman kepada mizan – sebagaimana pengambilan lembaran amalan – itu telah tetap kebenarannya berdasarkan al-kitab, as-sunnah dan Ijma.”

Beliau juga berkata, “Berbagai Atsar telah menunjukkan bahwa mizan itu bersifat hakiki yang memiliki dua daun timbangan dan satu lisan sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Abbas dan al Hasan dan ditegaskan pula oleh para ulama kita, serta Al-Asy’ariyah serta selain mereka.

Hadits-hadits tentang hal itu telah mencapai derajat mutawatir dan telah terdapat Ijma’ ahlil haq dari kaum Musimin dalam persoalan mizan ini.”

  1. Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Pokok-pokok sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa saja yang dipegang teguh oleh yang para sahabat Rasulullah ﷺ dan meneladani mereka…” sampai perkataan beliau, “dan beriman dengan mizan.”
  2. Ali bin Al-Madini rahimahullah berkata, “Ada banyak perkataan ahli ilmu dalam menetapkan mizan terhadap amalan dengan penetapan secara hakiki sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya ﷺ .”[vii]

Bagaimana Amal Manusia Ditimbang di Mizan?

Bagaimana Amal Manusia Ditimbang di Yaumul Mizan

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengatakan ada tiga pendapat ulama tentang masalah ini:

  1. Yang ditimbang adalah amal perbuatan manusia.
  2. Yang ditimbang adalah orang yang beramal itu sendiri.
  3. Yang ditimbang adalah lembaran-lembaran amal sebagaimana ditunjukkan oleh hadits bithaqah.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Dimungkinkan untuk memadukan berbagai atsar ini bahwa semuanya adalah shahih. Jadi terkadang yang ditimbang amalnya, lain kali yang ditimbang adalah tempat amalnya (lembaran amal) dan lain waktu yang ditimbang adalah pelaku amalnya (orangnya).” [Tafsir Ibnu Katsir: 2/218][viii]

Kapan dilaksanakan Mizan?

Pelaksanaan mizan adalah setelah proses hisab selesai dilakukan. Hal sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Al-Qurthubi rahimahullah:

“Apabila telah usai pelaksanaan hisab, setelah itu adalah penimbangan amalan karena penimbangan itu adalah untuk kepentingan pemberian balasan sehingga selayaknya dilakukan setelah muhasabah (proses hisab). Muhasabah adalah untuk menilai amalan sedangkan timbangan adalah untuk menampakkan ukuran-ukurannya agar balasan itu sesuai dengan amalannya.” [At-Tadzkirah: 309][ix]

Hikmah Adanya Mizan & Yaumul Mizan

Syaikh Abdurrahman bin Sa’ad Asy-Syatsri menjelaskan hikmah dari adanya mizan pda hari kiamat adalah sebagai berikut:

  1. Terlihat jelas keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ibnu Abil ‘Izz berkata, “Dan jika tidak ada hikmah dalam penimbangan amal perbuatan kecuali adalah jelas terlihatnya keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi seluruh hamba-Nya, maka tidak ada yang lebih menyukai alasan selain Allah.”

  1. Menegakkan hujah terhadap makhluk.
  2. Menampakkan tanda-tanda kebahagiaan dan kesengsaraan pada hari kiamat.[x]

Keadaan Manusia di Yaumul Mizan

Sesungguhnya tempat penimbangan amal perbuatan merupakan salah satu dari tempat yang sangat menakutkan pada hari kiamat karena setiap orang pada saat itu lupa kepada keluarganya dan orang-orang yang dia kasihi lalu serta sibuk dengan dirinya sendiri.

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah anda mengingat keluarga anda pada hari kiamat? Beliau menjawab, “Pada tiga tempat ini aku tidak ingat mereka, yaitu Al-Kitab (saat pembagian catatan amal, pent), mizan, dan shirat (saat hendak melintasi jembatan di atas neraka).” [Hadits riwayat Ahmad (6/1001)][xi]

Dari sabda Nabi ﷺ tersebut sudah bisa dibayangkan betapa tercekamnya suasana hati manusia saat itu. Mereka begitu tegang melihat hasil penimbangan amalnya masing-masing karena itu akan menentukan nasib mereka selanjutnya, apakah akan menuju surga atau harus masuk neraka nasa’ullahal ‘afiyah.

Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling tenang dan pemberani dalam menghadapi segala situasi paling mencekam sekalipun saat di dunia ini. Hatinya lebih kokoh dari gunung. Namun demikian, meski beliau sudah dijamin dengan keselamatan di akhirat, tetap saja masih merasakan beratnya suasana saat itu sehingga tidak ingat lagi kepada keluarganya. wallahu a’lam.

Amalan Pemberat di Yaumul Mizan

Amalan pemberat di mizan yaumul mizan

Ada sejumlah amalan yang bisa memperberat Mizan pada hari kiamat. Berbahagialah orang-orang yang mizannya berat dengan kebaikan. Di antara amalan yang bisa memperberat timbangan sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Dr. Abdullah bin Hamud Al-Farih adalah sebagai berikut:

  1. Akhlak yang baik.

Hal ini sebagaimana dalam hadits dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Nabi ﷺ bersabda,

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat di mizan dari akhlak yang baik.” [Hadits riwayat Ahmad no. 27553, Abu Dawud no. 4799, dan At-Tirmidzi no. 2002 dan dia berkata, “Ini hadits hasan shahih.”]

  1. Ucapan: Subhanallahi wa bihamdih, Subhanallahil ‘Azhiim.

Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Nabi ﷺ bersabda,

كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Ada dua kata yang dicintai oleh Ar-Rahman, ringan di lisan, berat di mizan, yaitu Subhanallahi wa bihamdih, Subhanallahil ‘azhiim.” [ Hadits riwayat Al-Bukhari no. 7563 dan Muslim no. 2694.]

  1. Ucapan alhamdulillah

Hal ini sebagaimana dalam hadits dari Abu Malik Al-‘Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda,

الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ، وَالْحَمْدُ لله تَمْلأُ الْمِيزَانَ، وَسُبْحَانَ الله وَالْحَمْدُ لله تَمْلآنِ – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ

“Bersuci itu separoh iman, Alhamdulillah itu memenuhi mizan dan Subhanallahi wal hamdulillah itu memenuhi antara langit dan bumi.” [Hadits riwayat Muslim no. 223]

  1. Ucapan Laa ilaaha Illallah

Berdasarkan hadits tentang bithaqah yang telah dinukil sebelum ini. Di dalamnya terdapat sabda Nabi ﷺ :

فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ، وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ، فَطَاشَتْ السِّجِلَّاتُ، وَثَقُلَتْ الْبِطَاقَةُ فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ

“maka diletakkanlah lembaran-lembaran amal (yang penuh dosa) itu di satu daun timbangan dan bithaqah (kartu bertuliskan Laa ilaaha illallah) di daun timbangan yang lain, maka daun timbangan yang ada lembaran amal buruk tersebut menjadi ringan (bergerak ke atas) dan daun timbangan yang berisi bithaqah menjadi berat (turun ke bawah). Tidak sesuatu yang bisa mengimbangi beratnya nama Allah.” [ Hadits riwayat At-Tirmidzi dan yang lainnya dan dishahihkan oleh Al-Albani.”]

  1. Memelihara kuda untuk jihad di jalan Allah.

Hal ini sebagaimana dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنِ احتبسَ فَرَسًا في سَبِيلِ اللهِ، إيمانًا بِاللهِ، وتَصْدِيقًا بِوَعْدِهِ، فَإنَّ شِبَعَهُ، وَرِيَّهُ، ورَوْثَهُ، وبَوْلَهُ في مِيزَانِهِ يَوْمَ الْقِيامَةِ

”Siapa saja yang memelihara kuda di jalan Allah karena beriman kepada Allah dan membenarkan janji-Nya, maka sesungguhnya makanan dan air minum kuda, serta kotoran dan kencingnya dihitung sebagai kebaikannya yang akan ditimbang pada hari kiamat.” [Haadits riwayat Al-Bukhari no. 2852][xii]

Perbuatan Yang Meringankan Timbangan di Yaumul Mizan

Amalan Yang Meringankan Timbangan di Akhirat Yaumul Mizan

Pada prinsipnya, perbuatan yang bisa meringankan mizan sehingga menjadi sebab kesengsaraan seseorang di akhirat adalah segala bentuk kezhaliman yang dilakukan oleh seseorang kepada yang lain, baik kezhaliman tersebut berupa perkataan atau perbuatan.

Hal ini sebagaimana dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

 – أَتَدْرُونَ ما المُفْلِسُ؟ قالوا: المُفْلِسُ فِينا مَن لا دِرْهَمَ له ولا مَتاعَ، فقالَ: إنَّ المُفْلِسَ مِن أُمَّتي يَأْتي يَومَ القِيامَةِ بصَلاةٍ، وصِيامٍ، وزَكاةٍ، ويَأْتي قدْ شَتَمَ هذا، وقَذَفَ هذا، وأَكَلَ مالَ هذا، وسَفَكَ دَمَ هذا، وضَرَبَ هذا، فيُعْطَى هذا مِن حَسَناتِهِ، وهذا مِن حَسَناتِهِ، فإنْ فَنِيَتْ حَسَناتُهُ قَبْلَ أنْ يُقْضَى ما عليه أُخِذَ مِن خَطاياهُمْ فَطُرِحَتْ عليه، ثُمَّ طُرِحَ في النَّارِ.

”Apakah kalian tahu siapakah orang yang bangkrut (Muflis) itu?”

Para sahabat menjawab,”Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham maupun harta benda.”

Nabi ﷺ  bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci si ini dan menuduh orang lain tanpa bukti (qadzaf biasanya tuduhan terkait perzinaan, pent), makan harta si ini (secara batil), menumpahkan darah si ini dan memukul si ini (tanpa kebenaran) .

Maka orang-orang yang dizhalimi tersebut akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya sebelum dia mendapatkan keputusan maka dosa-dosa mereka akan dilimpahkan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” [Hadits riwayat Muslim no. 2581]

Tanya Jawab Seputar Mizan dan Yaumul Mizan

Berkut Tanya jawab tentang mizan yang kami kumpulkan. Apabila ada pertanyaan yang belum terjawab, silahkan tinggalkan di kolom komentar.

Apa nama timbangan amal di akhirat?

Timbangan amal di akhirat disebut dengan mizan. Karenanya, yaumul mizan maknanya adalah hari penimbangan amal manusia.

Apakah mizan hakiki atau majazi?

Di antara akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah beriman denga mizan pada Hari Kiamat dan bahwa mizan itu hakiki, memiliki dua pirang atau daun timbangan dan tidak ada yang mampu mengukur ukurannya kecuali Allah Ta’ala.

Kemudian amal-amal para hamba itu akan ditimbang dengannya. Nash-Nash dari Al-Kitab dan As -Sunnah serta ijma’ telah menunjukkan hal tersebut. dan di dalam kitab Syarh Aqidah Thahawiyah disebutkan,”As-Sunnah telah menunjukkan bahwa Mizan yang menjadi alat untuk menimbang amalan pada Hari Kiamat memiliki dua buah daun timbangan yang bisa dirasakan dan disaksikan.[xiii]

Apakah satu mizan untuk seluruh makhluk (banyak mizan)?

Dalam persoalan ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Mereka terbagi menjadi dua pendapat:

  1. Pendapat pertama menyatakan mizan itu berjumlah banyak

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

بَلَغَنِيْ أَنَّ لِكُلِّ أَحَدٍ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مِيْزَانًا عَلَى حِدَّةٍ

”Telah sampai kepadaku bahwa bagi setiap orang pada hari kiamat ada mizan secara terpisah.” [Al-Muharrar al Wajiz fi tafsiril Kitab Al-‘Aziz, Ibnu ‘Athiyah, 2/376]

Ada juga yang mengatakan, “Pendapat yang lebih kuat adalah menetapkan adanya banyak mizan pada hari kiamat, bukan satu mizan. Ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat.”[Al-Anbiya’: 47]

 dan firman-Nya

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. [Al-A’raf: 8]

Mereka berkata, “Berdasarkan hal ini maka bisa dikatakan bahwa bagi amalan hati ada mizan, bagi amalan anggota badan ada mizan dan bagi amalan berupa perkataan ada mizan.”

  1. Pendapat kedua menyatakan mizan itu cuma satu

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menguatkan pendapat yang menyatakan mizan itu satu. Setelah beliau menukil perbedaan pendapat yang ada dalam masalah ini lalu berkata, “Pendapat yang kuat mizan itu satu dan tidak ada masalah dengan banyaknya orang yang ditimbang amalnya karena keadaan-keadaan kiamat itu tidak bisa digambarkan dengan keadaan keadaan dunia ini.” [Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, 13/538]

Di antara ulama kontemporer yang berpandang seperti ini adalah Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah saat menjawab pertanyaan tentang timbangan itu satu atau banyak, beliau menjawab setelah menyebutkan adanya perselisihan pendapat di antara ulama, “Yang jelas, wallahu A’lam, bahwa mizan itu satu. Akan tetapi mizan itu berjumlah banyak bila dilihat dari yang ditimbang.” [Majmu’ Fatawa wa rasail Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, 1413 H, 2/44.][xiv]

Apakah amal seluruh manusia akan ditimbang?

Apakah amal seluruh manusia akan ditimbang

Apakah amal semua orang, baik dia mukmin, para pendosa dan orang kafir akan ditimbang?

Syaikh Mahir Ahmad Ash-Shufi mengatakan, “Manusia dalam kaitannya dengan masalah ini terbagi menjadi tiga kelompok di luar kelompok yang Allah muliakan dengan masuk surga tanpa hisab.

  1. Orang bertakwa yang tidak melakukan dosa besar.

Kebaikan-kebaikan mereka diletakan di daun timbangan yang bercahaya dan jika ada dosa-dosa kecilnya maka diletakkan di daun timbangan yang satunya. Allah tidak menganggap dosa-dosa kecil tersebut karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghapusnya dari mereka.

Daun timbangan yang bercahaya tersebut menjadi berat dan timbangan yang gelap naik ke atas seperti tidak ada bebannya. Rasulullah ﷺ telah menanjanjikan bahwa dosa-dosa kecil akan diampuni selama dosa-dosa besar itu dijauhi sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam shahihnya,”

“Shalat lima waktu dan Jumat ke Jumat serta Ramadhan ke Ramadhan itu menghapus dosa di antara keduanya apabila dosa-dosa besar dijauhi.”

  1. Orang-orang yang bercampur dalam dirinya antara kebaikan dan keburukan.

Kebaikan-kebaikan mereka diletakkan di daun timbangan yang bercahaya dan keburukan-keburukan mereka diletakkan di daun timbangan yang gelap sehingga dosa-dosa besar mereka memiliki bobot.

Apabila kebaikannya lebih berat meskipun hanya sebesar telur kutu kepala dia akan masuk surga.

Dan jika keburukannya lebih berat meskipun hanya seberat telur kutu kepala maka akan masuk ke neraka kecuali Allah mengampuninya. Apabila antara kebaikan dan keburukannya seimbang maka dia termasuk para penghuni A’raf.

  1. Orang -orang kafir.

Kekafiran mereka diletakkan di daun timbangan yang gelap dan tidak ada kebaikan yang diletakkan di daun timbangan yang satunya sehingga tetap kosong karena memang tidak ada kebaikannya.

Maka Allah memerintahkan agar mereka dimasukkan ke neraka dan masing-masing disiksa sesuai dengan kadar dosa dan kesalahannya.[xv]

Bentuk dan Ukuran Timbangan Amal / Mizan

At-Tirmidzi Al-Hakim telah menyebutkan di dalam Nawadiril Ushul, “Daun timbangan kebaikan datang dari cahaya dan daun timbangan yang satunya dari kegelapan. Daun timbangan yang bercahaya itu untuk tempat meletakkan kebaikan sedangkan daun timbangan yang gelap untuk meletakkan keburukan.

Dalam sebuah khabar disebutkan: “Sesungguhnya surga diletakkan di sebelah kanan ‘Arsy dan neraka diletakkan di sebelah kiri ‘Arsy. Mizan didatangkan dan didirikan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Daun timbangan kebaikan di sebelah kanan ‘Arsy berhadapan dengan surga dan daun timbangan keburukan berada di sebelah kiri ‘Arsy berhadapan dengan neraka.” [At-Tadzkirah, Al-Qurthubi, hal. 10]

Diriwayatkan dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata, “Mizan diletakkan pada hari Kiamat. Andaikan langit dan bumi diletakkan di atasnya niscaya akan mencukupi. Para malaikat bertanya, “Wahai Tuhan kami, apakah ini?”

Allah berfirman, “Aku menimbang dengan ini siapa saja dari makhluk-Ku yang Aku kehendaki.” Para Malaikat seketika berkata, “Wahai Tuhan kami, kami belum beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benarnya ibadah.”

Ibnu ‘Abbas berkata, “Kebaikan dan keburukan ditimbang di Mizan yang memiliki lisan dan dua daun timbangan.” [At-Tadzkirah, Al-Qurthubi, hal. 10][xvi]

Demikianlah pembahasan tentang seluk beluk Yaumul Mizan secara ringkas. Semoga bermanfaat bagi penulis sendiri dan kaum Muslimin yang membacanya.

Apabila ada kebenaran dalam tulisan ini maka itu dari Allah semata karena rahmat-Nya dan bila ada kesalahan dan kekeliruan maka itu dari kami dan dari setan. Allah dan Rasul-Nya berlepas diri darinya. Semoga Allah berkenan mengampuni segala kesalahan kami.

Tulisan Yaumul Mizan pertama kali diunggah pada tanggal 5 Juli 2021


[i] https://www.alukah.net/sharia/0/101392/

[ii]https://www.islamweb.net/ar/article/229612/%D8%A7%D9%84%D8%A5%D9%8A%D9%85%D8%A7%D9%86-%D8%A8%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%8A%D8%B2%D8%A7%D9%86-%D9%8A%D9%88%D9%85-%D8%A7%D9%84%D9%82%D9%8A%D8%A7%D9%85%D8%A9

[iii]https://www.islamweb.net/ar/article/229612/%D8%A7%D9%84%D8%A5%D9%8A%D9%85%D8%A7%D9%86-%D8%A8%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%8A%D8%B2%D8%A7%D9%86-%D9%8A%D9%88%D9%85-%D8%A7%D9%84%D9%82%D9%8A%D8%A7%D9%85%D8%A9

[iv]https://dorar.net/aqadia/2629/%D8%A7%D9%84%D9%81%D8%B5%D9%84%D8%A7%D9%84%D8%AB%D8%A7%D9%86%D9%8A%D8%B9%D8%B4%D8%B1:%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%8A%D8%B2%D8%A7%D9%86

[v]https://dorar.net/aqadia/2645/%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%A8%D8%AD%D8%AB%D8%A7%D9%84%D8%B1%D8%A7%D8%A8%D8%B9:%D8%AD%D9%82%D9%8A%D9%82%D8%A9%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%8A%D8%B2%D8%A7%D9%86%D8%B9%D9%86%D8%AF%D8%A3%D9%87%D9%84%D8%A7%D9%84%D8%B3%D9%86%D8%A9

[vi] https://almunajjid.com/courses/lessons/371

[vii]https://www.islamweb.net/ar/article/229612/%D8%A7%D9%84%D8%A5%D9%8A%D9%85%D8%A7%D9%86-%D8%A8%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%8A%D8%B2%D8%A7%D9%86-%D9%8A%D9%88%D9%85-%D8%A7%D9%84%D9%82%D9%8A%D8%A7%D9%85%D8%A9

[viii] https://almunajjid.com/courses/lessons/371

[ix] https://www.alukah.net/sharia/0/101392/#ixzz6zXJDCTnv

[x] https://www.alukah.net/sharia/0/136229/

[xi] Lihat Mausu’atul Akhirah Jilid 8, Mahir Ahmad Ash-Shufi, Al-Maktabah Al-Ashriyyah, 1431 H/2010, hal. 66.

[xii] https://www.alukah.net/web/alferieh/0/102037/

[xiii]https://www.islamweb.net/ar/article/229612/%D8%A7%D9%84%D8%A5%D9%8A%D9%85%D8%A7%D9%86-%D8%A8%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%8A%D8%B2%D8%A7%D9%86-%D9%8A%D9%88%D9%85-%D8%A7%D9%84%D9%82%D9%8A%D8%A7%D9%85%D8%A9

[xiv] https://www.alukah.net/sharia/0/124782/

[xv] Lihat Mausu’atul Akhirah Jilid 8, Mahir Ahmad Ash-Shufi, Al-Maktabah Al-Ashriyyah, 1431 H/2010, hal. 63-65 secara ringkas.

[xvi] Ibid, hal. 60.

Print Friendly, PDF & Email

2 thoughts on “Arti Yaumul Mizan: Pengertian, Dalil, Hukum, & Hikmahnya Menurut Ulama’”

Leave a Comment