Cara Memberi Nama Masjid Dalam Islam

Cara Memberi Nama Masjid Dalam Islam – Memberikan nama pada masjid bukanlah perkara yang bisa dilakukan secara sembarangan dan asal asalan. Masjid adalah tempat ibadah umat Islam. Pemberian nama kepada sebuah masjid ada aturannya di dalam Islam.

Ada sejumlah ketentuan yang telah dijelaskan oleh para ulama. Lantas  apa saja ketentuan pemberian nama masjid dalam Islam?

Memberi Nama Masjid dengan nama Pemilik

Aturan Pemberian Nama Masjid Dalam Islam

Berdasarkan fatwa dari Lajnah Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta’ dan ulama lainnya ada ketentuan-ketentuan dan cara memberi nama masjid dalam Islam.

Berikut ketentuan-ketentuan pemberian nama masjid adalah sebagai berikut:

Pertama: Model Pemberian Nama Masjid

1. Menisbatkan masjid kepada orang yang membangunnya.

Ini masuk ke dalam kategori penisbatan amal kebaikan kepada pelakunya. Ini merupakan penisbatan hakiki untuk tujuan memberikan ciri khas untuk membedakan.

Pemberian nama seperti ini diperbolehkan. Misalnya, Masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada juga yang menyebut dengan Masjid Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Masjid Terbesar di Abu Dhabi
Sumber ig: @x.zoeee_

2. Menisbatkan masjid kepada orang yang shalat di dalamnya atau kepada tempat.

Ini merupakan penisbatan hakiki untuk tujuan memberikan ciri khas untuk membedakan. Hal ini diperbolehkan.

Misalnya, Masjid Quba’, Masjid Bani Zuraiq sebagaimana terdapat di dalam Ash Shahihain dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dalam hadits perlombaan ke Masjid Bani Zuraiq dan masjid pasar.

3. Penisbatan masjid kepada ciri khas tertentu seperti Masjid Al Haram, Masjid Al Aqsha

Hal ini sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha..”[Al Isra’: 1]

Di dalam sunnah telah terdapat riwayat yang tetap dari Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam dari banyak jalur:

لا تعمل المطي إلا لثلاثة مساجد: المسجد الحرام، والمسجد الأقصى، ومسجدي هذا

Tidaklah hewan tunggangan dipersiapkan untuk perjalanan jauh kecuali menuju tiga masjid : Masjid al Haram, Masjid al Aqsha dan masjidku ini (Masjid Nabawy)…” [Sunan An Nasa’I; Al Jum’ah (1430), Musnad Ahmad (6/7), Muwatha’ Imam Malik; Nida’ lish shalat (243).

Contoh lainnya Al Masjid Al Kabir atau Masjid Besar. Telah terdapat pemberian nama sebagian masjid di jalan antara Makkah dan Madinah dengan nama Al Masjid Al Kabir atau Masjid Besar sebagaimana di dalam Shahih Al Bukhari dan yang semisal dengannya disebut Al Jami’ Al Kabir.

Nama Masjid Yang Dilarang Dalam Islam
Sumber ig: @altona82

Artikel Terkait Hukum Merubah Gereja Menjadi Masjid

Kedua: Pemberian nama masjid dengan nama yang tidak hakiki.

Ini untuk membedakan dan untuk memudahkan identifikasi. Hal ini telah nampak tersebar luas di masa kita sekarang karena banyaknya pembangunan masjid dan tersebar luas di berbagai negeri kaum Muslimin -wal hamdulillah- baik di kota maupun desa.

Bahkan pada satu kampung terdapat pemberian nama masjid dengan nama yang menjadi ciri khasnya dari yang lain.

Juga ada yang memilih penisbatannya kepada salah satu tokoh umat dan orang-orang pilihan dari kalangan shahabat radhiyallahu ‘anhum serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Misalnya, Masjid Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, Masjid Umar radhiyallahu ‘anhu, dan demikian seterusnya sebagai gambaran. Pemberian nama semacam ini tidak ada masalah.

Apalagi telah diketahui dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam penamaannya pada senjatanya, perabotan rumah tangganya, binatang tunggangannya, dan pakaiannya sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala di awal kitab Zadul Ma’ad.

Baca juga: Khutbah Jum’at Menyentuh Hati

Ketiga: Pemberian nama masjid dengan salah satu nama dari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Misalnya, Masjid Ar Rahman, masjid Al Qudus, Masjid As Salam. Telah diketahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dengan tegas:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” [Al Jin: 18]

Seluruh masjid itu untuk Allah Ta’ala tanpa ada perkecualian. Maka pemberian nama sebuah masjid dengan salah satu nama Allah untuk mendapatkan keilmiyahan atas masjid tersebut merupakan perkara baru (dalam agama).

Orang-orang terdahulu tidak melakukannya. Maka yang lebih utama adalah meninggalkannya.  Allah lah yang memberikan petunjuk ke jalan yang lurus.

Taufik hanyalah datang dari Allah. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.

Di sampaikan oleh: Lajnah Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta’.[1]

Untuk ketentuan terakhir tentang penggunaan nama Allah Ta’ala  sebagai nama masjid, perlu ada keterangan tambahan. Tambahan ini untuk melengkapi ketentuan penggunaan nama Allah Ta’ala untuk nama masjid.

Nama – nama Allah Ta’ala itu ada yang khusus hanya bagi Allah, tidak dikaitkan kecuali dengan Allah saja bukan yang lain  seperti: Allah, Ar Rabb, Ar Rahman, Al Ahad, Ash Shamad, al Mutakabbir dan yang semacam itu.

Hal yang seperti ini tidak satu orang pun boleh menjadikannya sebagai nama diri berdasarkan kesepakatan ahli ilmu.

Namun ada nama-nama Allah Ta’ala yang tidak khusus untuk Allah Ta’ala dan bisa disebut secara umum untuk manusia seperti nama Sami’, Bashir, Alim, Ali, Hakim, Rasyid.

Dahulu para sahabat yang terkenal telah memakai nama-nama ini seperti Ali bin Abi Thalib, dan Hakim bin Huzam radhiyallahu ‘anhum.

Di dalam hasyiyah (semacam catatan pinggir) kitab  Asna al-Mathalib Syarh Raudh at-Thalib: (4/243)  dari kitab Syafiiyah disebutkan:

جواز التسمية بأسماء الله تعالى التي لا تختص به ، أما المختص به فيحرم ، وبذلك صرح النووي في شرح مسلم

“Diperbolehkan  memberikan nama dengan nama-nama Allah Ta’ala yang tidak khusus untuk diri-Nya. Sementara nama yang khusus untuk-Nya, hukumnya haram. Seperti ini yang ditegaskan an-Nawawi dalam Syarh Muslim.”[2]

قال النووي في شرح مسلم: وَاَعْلَمُ أَنَّ التَّسَمِّيَ بِهَذَا الاسم – يعني ملك الأملاك – حرام، وَكَذَلِكَ التَّسَمِّي بِأَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى الْمُخْتَصَّةِ بِهِ كَالرَّحْمَنِ وَالْقُدُّوسِ وَالْمُهَيْمِنِ وَخَالِقِ الْخَلْقِ وَنَحْوِهَا. انتهى

An Nawawi berkata di dalam Syarah Shahih Muslim:

“Ketahuilah bahwa penamaan dengan nama ini yaitu Malikul Amlak (Maha Raja) adalah haram. Demikian pula pemberian nama dengan nama-nama Allah Ta’ala yang khusus untuk-Nya seperti Ar Rahman, Al Quddus, Al Muhaimin, Khaliqul Khalqi dan yang semacam itu.”[3]

Penamaan Masjid dengan Nama Orang
Masjid Abu Dhabi. Sumber: ig @smilesfromabroad

Semoga tulisan ini membantu para tak’mi masjid atau siapapun yang ingin membangun masjid untuk memberi nama dengan sebaik mungkin. Nantinya, ketika ingin membeli jam masjid digital, nama dapat dicetak sesuai keinginan tanpa harus merubahnya kembali.

Referensi

[1] Lihat: http://almoslim.net/node/216358

[2] Lihat: https://islamqa.info/ar/answers/114309/

[3] Lihat: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/149279/

Leave a Comment

error: Content is protected !!