Khutbah Jum’at: Keutamaan Bulan Haram dan Cara Memuliakannya

Khutbah Pertama

الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

Apa itu Bulan Haram?

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,

Dalam Islam kita mengenal adanya istilah asyhurul hurum atau bulan-bulan Haram. Apakah yang dimaksud dengan bulan haram itu?

Bulan haram adalah bulan-bulan yang Allah jadikan sebagai bulan yang haram. Ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. [At- Taubah: 36]

Bulan-bulan itu diharamkan karena peperangan dan pertempuran berhenti di bulan-bulan tersebut. Adapun melakukan pembelaan diri dari serangan musuh maka ini tidak diharamkan di bulan-bulan tersebut.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa kemaksiatan itu diharamkan sepanjang tahun, hanya saja di bulan-bulan haram, larangan melakukan kemaksiatan itu jauh lebih kuat, dosanya lebih besar.[i]

Yang Termasuk Bulan Haram

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dalam sistem kalender tahun hijriyah, bulan apa saja yang masuk ke dalam bulan Haram?

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa bilangan bulan pada sisi-Nya adalah dua belas bulan sejak Dia menciptakan langit dan bumi.

Allah menyebutkan ada empat bulan di antaranya Allah tetapkan sebagai bulam haram. Namun tidak diberikan rincian apa saja bulan haram tersebut.

Ternyata rinciannya disebutkan oleh Rasulullah ﷺ.

Dalam sebuah hadits Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, dia menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda dalam khutbahnya pada Haji Wada’, “

Ketahuilah sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun adalah 12 bulan. Di antaranya ada empat bulam haram. Tiga bulan secara berurutan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram, lalu bulan Rajab Mudhar yang terletak antara bulan Jumada dan bulan Sya’ban.”

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “Hari apa ini?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau diam sampai-sampai kami berpikir bahwa beliau akan memberikan nama lain untuk hari itu. Lalu, beliau bersabda, “Bukankah hari ini adalah hari Nahr (hari raya kurban)?” Kami menjawab, ” Ya.”

Beliau kembali bertanya, “Bulan apakah ini?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau diam, hingga membuat kami berpikir bahwa beliau akan memberikan nama lain untuk bulan ini. Kemudian beliau bersabda, “Bukankah bulan ini bulan Dzulhijjah?” Kami menjawab, “Ya.”

Rasulullah ﷺ kembali bertanya, “Kota apakah ini?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau diam sampai kami berpikir bahwa beliau akan mengubah namanya. Beliau pun bersabda, “Bukankah ini adalah negeri haram?” Kami berkata, “ya.”

Rasulullah ﷺ kembali bersabda, “Sungguh, darah, harta dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian (tidak boleh dirusak) sebagaimana keharaman hari kalian ini, di bulan kalian ini dan di kota kalian ini.” [Hadits riwayat Al-Bukhari (67), Muslim (1679), Abu Dawud (1948), Ibnu Majah (233) Ahmad (5/37, 39, 45, 49)]

Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Empat bulan haram yang dimaksud dalam ayat ini (yaitu At-Taubah: 36) adalah bulan Muharram, rajab, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah.”[ii]

Baca juga: Khutbah Jum’at Keutamaan Bulan Muharram

Keutamaan & Kekhususan Bulan Haram

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Bulan Haram memiliki keistimewaan dan keutamaan lebih dibandingkan bulan-bulan yang lain.

Menurut Dr. Amin bin Abdullah Asy-Syaqawi, di antara kekhususan dan keutamaan bulan haram adalah sebagai berikut:

1. Dosa-dosa yang dilakukan di bulan haram itu lebih besar dosanya daripada di luar bulan haram.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata meneankan firman Allah Ta’ala

 فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ﴾ [التوبة: 36]

Maka janganlah kalian menzhalimi diri kalian sendiri, ” [At-Taubah: 36]

maksudnya di dalam bulan haram yang telah diharamkan ini karena dosa-dosa di bulan haram itu lebih kuat dan lebih berat dibandingkan di luar bulan haram, sebagaimana halnya kemaksiatan di negeri haram itu dilipatgandakan dosanya berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ ﴾ [الحج: 25]

Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih. [Al-Hajj: 25]

Imam Qatadah berkata mengenai Surat At-Taubah : 36 tadi demikian: Sesungguhnya kezhaliman di bulan haram itu lebih besar kesalahan dan dosanya dibandingkan kezhaliman di luar bulan haram, meskipun kezhaliman di segala keadaan itu merupakan perkara besar (dosanya), akan tetapi Allah mengagungkan perkara-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.”

2. Diharamkan untuk memulai peperangan melawan musuh

Hal Ini berdasarkan pendapat yang lebih kuat (rajih) dari para ulama’ berdasarkan firman Allah Ta’ala:

 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram.” [Al-Maidah: 2]

Allah Ta’ala Juga berfirman:

فَإِذَا انْسَلَخَ الْأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ

Apabila telah habis bulan-bulan haram, maka perangilah orang-orang musyrik. [At-Taubah: 5]

Kecuali orang-orang kafir telah menyerang terlebih dahulu atau telah terjadi perang sebelum bulan haram lalu terus berlanjut hingga bulan haram maka hal semacam ini tidak mengapa.

3. Terdapat amalan haji di bulan Dzulhijjah

Keutamaan bulan haram yang ketiga adalah bahwa amalan haji seluruhnya terjadi pada bulan Dzulhijjah. Allah Ta’ala berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

” (Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi.” [Al-Baqarah: 197]

Imam Al-Bukhari berkata, “Ibnu Umar berkata, “Yaitu bulan Syawal, Dzulqa’dah dan 10 hari dari Dzulhijjah.” Umrah Nabi Muhammad ﷺ sebanyak empat kali juga dilakukan di bulan haram.

Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, “Allah Ta’ala hanya memilihkan untuk Nabi-Nya ﷺ waktu terbaik dan waktu yang paling layak dalam umrahnya. Waktu yang paling utama untuk umrah adalah bulan-bulan haram dan bulan Dzulqa’dah, pertengahannya.”[Jami’ul Fiqhi, Ibnul Qayyim, 3/467. tahqiq: Syaikh Yusra As=Sayyid Muhammad]

4. Terdapat Keutamaan 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah

Di dalam bulan haram ini terdapat 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah yang mana Allah Ta’ala telah bersumpah dengan hari-hari tersebut dalam kitab-Nya dan Nabi ﷺ telah memberitahukan bahwa hari-hari tersebut merupakan hari yang paling utama, amal shaleh di dalamnya lebih agung daripada hari selainnya.

Imam Al-Bukhari dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi ﷺ bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ”، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ! وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، فَقَالَ رَسُولُ صلى الله عليه وسلم: “وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Tidak ada hari-hari di mana amalan shaleh di dalamnya lebih Allah cintai daripada sepuluh hari ini (yakni 10 hari pertama bulan Dzulhijjah).”Lantas Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak pula jihad di jalan Allah?”

Rasulullah ﷺ menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seorang lelaki yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya dan tidak kembali dengan sesuatu pun dari hal itu.” [Shahih Al-Bukhari no. 969 dan Sunan At-Tirmidzi no. 757 dan ini lafazhnya At-Tirmidzi]

5. Terdapat Hari ‘Arafah, hari Nahr, Hari Al Qarr, & hari-hari tasyriq

Di bulan haram itu terdapat hari ‘Arafah, hari Nahr, hari Al-Qirr, hari-hari tasyriq. Semua itu merupakan hari-hari yang agung di sisi Allah danmerupaka hari raya umat Islam.

Abu Dawud meriwayatkan di dalam sunan-nya, dari hadits Abdullah bin Qarth bahwa Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ تَعَالى يَوْمُ النَّحْرِ، ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ

“Sesungguhnya hari-hari yang paling agung di sisi Allah Ta’ala adalah hari Nahr, kemudian hari al-Qarr.”

Yang dimaksud dengan Hari al-Qarr adalah hari kesebelas di bulan Dzulhijjah.

 [Riwayat Abu Dawud no. 1765, dinyatakan shahih oleh Al-Albani rahimahullah di dalam Shahih sunan Abi Dawud 1/331; no. 1552]

6. Terdapat Amalan puasa di bulan Muharram

Di bulan-bulan haram itu terdapat amalan puasa di bulan Muharram yang biasa disebut dengan puasa tasua asyura. Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya no. 1163, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa bulan Allah Al-Muharram.”

7. Terdapat Hari ‘Asyura’

Di bulan-bulan Haram ini terdapat hari ‘Asyura’ (hari kesepuluh dari bulan Muharram). Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa puasa pada hari ‘Asyura itu akan menghapus dosa pada setahun sebelumnya.

Hal ini sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam Shahihnya no. 1162. Pada hari tersebut Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Firaun dan kaumnya.

8. Amalan shaleh di bulan haram pahalanya dilipat gandakan sebagaimana dosanya juga dilipatgandakan.

Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu bila mengagungkan sesuatu dari satu sisi saja maka sesuatu tersebut memiliki satu kehormatan. Dan apabila Allah mengagungkannya dari dua sisi atau lebih maka kehormatannya juga bertambah banyak.

Maka di dalamnya hukuman bagi perbuatan buruk itu dilipatgandakan sebagaimana pahala amal shaleh juga dilipatgandakan.

Sesungguhnya siapa saja yang mentaati Allah di bulan haram, di negeri haram, pahalanya tidak sebagaimana pahalanya orang yang mentaati Allah di bulan halal (di luar bulan-bulan haram), di negeri haram.

Dan siapa saja yang mentaati Allah di bulan halal, di negeri haram, pahalanya tidak sebagaimana pahala orang yang mentaati Allah di bulan halal di negeri halal.

Allah Ta’ala telah mengisyaratkan hal ini dengan firman-Nya:

يَانِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا وَمَنْ يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا

Wahai istri-istri Nabi! Barangsiapa di antara kamu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya azabnya akan dilipatgandakan dua kali lipat kepadanya. Dan yang demikian itu, mudah bagi Allah.

Dan barangsiapa di antara kamu (istri-istri Nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan kebajikan, niscaya Kami Berikan pahala kepadanya dua kali lipat dan Kami Sediakan rezeki yang mulia baginya. [Al-Ahzab: 30-31].[lihat:Tafsir al-Qurthubi juz 10 hal. 198-199][iii]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

الحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَ اْلشُكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَ امْتِنَانِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ.

Cara Memuliakan Bulan Haram

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,

Bila bulan-bulan haram ini sedemikian agungnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, lantas bagaimana cara untuk memuliakan bulan Haram ini?

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Aalu-Syaikh saat ditanya tentang cara seorang muslim memuliakan bulan haram mengatakan, “

“Sesungguhnya bulan-bulan haram ini dimuliakan dengan melakukan ketaatan kepada Allah di dalamnya dan bertaqarrub dengan berbagai amal shaleh serta tidak boleh melakukan pelanggaran terhadap orang lain secara zhalim pada masalah darah, harta dan kehormatan. Kita meminta kepada Allah agar memberikan taufiq kepada kita semua.”

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan melimpahkan rezeki kepada kita semua kekuatan untuk mengamalkan ilmu yang telah kita miliki dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Sesungguhnya ilmu hanya akan bermanfaat bila diamalkan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.

Demikian khutbah yang bisa kami sampaikan pada kesempatan kali ini. Mari kita akhiri dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Doa Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

 الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


[i] https://mawdoo3.com/

[ii] Lihat: Mudah Tafsir Ibnu Katsri Jilid 3, Pentahqiq: Dr. Shalah Abdul Fatah Al-Khalidi, Maghfirah Pustaka, Jakarta, 2017, hal. 518.

[iii] https://www.alukah.net/sharia/0/121267/

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Khutbah Jum’at Singkat Padat
Khutbah Agar Hidup Berkah

Print Friendly, PDF & Email