Khutbah Jumat: Menjaga Spirit Ibadah di Bulan Syawal

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

Mukaddimah Pembukaan Khutbah Jumat

Mukadimah

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Segala puji mari kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat dan karunia-Nya yang tak akan pernah bisa kita menghitungnya. Terutama nikmat hidayah iman dan Islam, keamanan, kesehatan dan kecukupan rezeki yang halal.

Dengan semua nikmat tersebut, kita semua bisa hadir ke masjid ini dengan mudah, aman dan selamat, untuk menjalankan salah satu kewajiban dan syiar yang agung dalam Islam yaitu ibadah shalat Jumat. Semoga Allah Ta’ala karuniakan taufik kepada kita semua untuk mampu bersyukur kepada Allah dengan sebaik-baiknya.

Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada penutup para nabi dan pemimpin anak Adam, Muhammad ﷺ , keluarganya, para sahabatnya dan seluruh kaum Muslimin yang mengikuti sunnah beliau dengan sebaik-baiknya.

Tak lupa kami berwasiat kepada Jamaah shalat Jumat sekalian dan kepada diri kami agar senantiasa berusaha untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa di mana pun kita berada semaksimal kemampuan kita.

Dengan takwa yang benar, Allah akan memudahkan semua urusan kita dan memberikan rezeki kepada kita dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya,

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ

dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. [Ath-Thalaq: 2-3]

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا

Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya. [Ath-Thalaq: 4]

Khutbah Jumat Tentang Gempa Bumi Dalam Islam
Khutbah Jumat Tentang Sebab Bencana dan Musibah

Refleksi Bulan Syawal

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kita sudah memasuki bulan Syawal sekarang ini, setelah selama sebulan penuh melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan menerima puasa kita, shalat kita, sedekah kita dan seluruh amal shalih yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan.

Bulan Syawal sebenarnya merupakan bulan yang diberkahi juga. Bulan Syawal merupakan salah satu dari bulan haji. Ia merupakan bulan ketaatan. Allah Ta’ala berfirman,

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُواْ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللّهُ وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ

(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah Mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat! [Al-Baqarah: 197]

Dalam Tafsir Ibnu Abbas dijelaskan bahwa ‘Al-hajju asyhurum ma‘luumaat’ (haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi), yakni pelaksanaan ibadah haji itu terdapat dalam bulan-bulan yang sudah diketahui.

Pada bulan-bulan itu seseorang dapat melaksanakan ihram untuk berhaji, yaitu pada bulan Syawal, Dzulqaidah, dan sepuluh hari bulan Dzulhijjah.

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid, pernikahan dianjurkan untuk dilaksanakan di bulan syawal. Demikian juga dengan orang yang ingin mengqodho’ i’tikaf yang terlewat di bulan Ramadhan bisa dilakukan di bulan Syawal.

Rasulullah ﷺ adalah orang yang bila mengamalkan suatu amalan sunnah, beliau akan menjaga keberlangsungannya secara terus menerus. Termasuk dalam hal ini sunnah i’tikaf. Nabi ﷺ pernah sekali terlewat tidak melakukan i’tikaf pada bulan Ramadhan, lalu Nabi ﷺ beri’tikaf pada bulan Syawal.

Menjaga Spirit Ibadah Setelah Bulan Syawal

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Saat Ramadhan, kita merasa ringan dalam melakukan amal shalih dan berbagai ibadah karena memang waktunya sangat kondusif. Setan dibelenggu, pahala dilipatgandakan dan begitu banyak orang berbuat kebaikan dan ketaatan.

Keadaan berubah saat Ramadhan telah pergi dan kita memasuki bulan Syawal. Semangat mayoritas orang Muslim banyak yang kendor untuk berbuat taat karena berbagai sebab.

Di antaranya adalah setan kembali leluasa dalam melakukan pekerjaan utamanya, yaitu menghalangi manusia dari jalan Allah dan mengiring mereka agar menjadi penghuni neraka sebagaimana dirinya.

Agar kita dapat menjaga spirit ibadah di bulan Syawal ini, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan:

  1. Membangun kesadaran

Saat memasuki bulan Syawal, kebanyakan orang memang cenderung melemah semangatnya untuk melakukan ketaatan, khususnya yang berbentuk ibadah mahdhah. Hal ini bisa dilihat dari volume jumlah orang yang hadir ke masjid untuk shalat lima waktu tidak sebagaimana saat di bulan Ramadhan.

Hanya sebagian kecil masyarakat saja yang tetap memiliki kesadaran tinggi untuk senantiasa memelihara spirit beribadah di bulan Ramadhan agar tetap bertahan di bulan-bulan berikutnya.

Karenanya, perlu membangun kesadaran diri sendiri semenjak di bulan Syawal ini karena merupakan titik permulaan dari perjalanan 11 bulan ke depan.

  1. Menyadari bahwa ketaatan yang kontinyu adalah indikator diterimanya sebuah amal

Amalan ketaatan yang berkelanjutan itu sebenarnya merupakan indikasi atas diterimanya ketaatan tersebut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Lail: 5-7,

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.

Saat menerangkan ayat ke 7 yaitu فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ (maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah), Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menukil pendapat sebagian ulama salaf yang menyatakan,

مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

”Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan setelah itu. Dan di antara balasan (jaza’) keburukan adalah keburukan setelah itu.”

Berdasarkan hal ini, bila seseorang melaksanakan kebaikan berupa puasa sunnah setelah dia melaksanakan kebaikan berupa puasa wajib di bulan Ramadhan, maka ini merupakan salah satu indikasi diterimanya amal shaleh tersebut.

Inilah yang menjadi pendapat dari Imam Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah. Beliau berkata,

أَنَّ مُعَاوَدَةَ الصِّيَامِ بَعْدَ صِيَامِ رَمَضَانَ عَلَامَةٌ عَلَى قَبُوْلِ صَوْمِ رَمَضَانانَ فَإِنَّ اللهَ إَذَا تَقَبَّلَ عَمَلَ عَبْدٍ وَفَّقَهُ لِععَمَلٍ صَالِحٍ بَعْدَهُ كَمَا قَالَ بَعْضُهُمْ : ثَوَابُ اْلحَسَنَةِ اْلحَسَنَةُ بَعْدَهَا فَمَنْ عَمِلَ حَسَنَةً ثُمَّ اتَّبَعَهَا بَعْدَ بِحَسَنَةٍ كَانَ ذَلِكَ عَلَامَةً عَلَى قَبُوْلِ اْلحَسَنَةِ اْلأُوْلَى كَمَا أَنَّ مَنْ عَمِلَ حَسَنَةً ثُمَّ اتَّبَعَهَا بِسَيِّئَةٍ كَانَ ذَلِكَ عَلَامَةَ رَدِّ اْلحَسَنَةِ وَ عَدَمِ قَبُوْلِهَا

“Sesungguhnya melakukan puasa kembali setelah puasa Ramadhan merupakan sebuah tanda bagi diterimanya puasa Ramadhan. Sesungguhnya Allah itu bila menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi taufik kepadanya untuk melakukan amal shalih setelah itu.

Hal ini sebagaimana sebagian ulama katakan, ‘Balasan dari suatu kebaikan adalah kebaikan setelah kebaikan tadi.’ Maka, siapa saja yang melakukan suatu kebaikan kemudian setelah itu diikuti dengan kebaikan lagi, maka itu tanda bagi diterimanya amal yang pertama.

Demikian pula, orang yang melakukan kebaikan kemudian setelah itu diikuti dengan keburukan, maka itu tanda kebaikan tersebut ditolak dan tidak diterima.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 388).

Persoalan ini kemungkinan besar belum dipahami oleh mayoritas kaum Muslimin. Akibatnya, sebagian besar dari kaum Muslimin kurang peka terhadap kondisi dirinya sendiri. Jarang mengevaluasi dirinya paska melakukan sebuah ketaatan apakah semakin baik atau justru semakin buruk.

Bila grafik kebaikan seseorang cenderung meningkat dari waktu ke waktu maka ini indikasi banyak kebaikannya diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

  1. Meluruskan niat (kembali)

Bila saat bulan Ramadhan seseorang rajin ke masjid shalat lima waktu namun setelah Ramadhan sama sekali tidak pernah ke masjid kecuali untuk shalat Jumat, maka ini perlu dievaluasi, apakah ada niatan yang salah selama melaksanakan shalat di masjid di bulan Ramadhan?

Sebab, niat yang salah, yaitu bukan untuk mencari ridha Allah, merupakan salah satu sebab ditolaknya amal shalih. Bila seseorang ke masjid saat bulan Ramadhan bukan untuk meraih ridha Allah dan mengikuti sunnah Rasul-Nya, berarti ada niatan lainnya.

Kesalahan niat adalah persoalan serius karena ini terkait tujuan ibadah. Bila kemudian Allah tidak memberinya taufik untuk terus melaksanakan shalat 5 waktu di masjid di luar bulan Ramadhan maka itu bisa dimaklumi.

Demikian pula dengan kebaikan lain berupa puasa sunnah di bulan Syawal dan bulan-bulan lainnya. Bila seseorang sama sekali tidak pernah melaksanakan satu pun jenis puasa sunnah di luar bulan Ramadhan, maka dikhawatirkan ini merupakan indikasi puasa Ramadhan yang dilakukannya tidak diterima oleh Allah walaupun kewajibannya sudah tertunaikan.

Artinya, kepayahannya selama bulan Ramadhan bisa jadi tidak mendapatkan balasan apa pun di akhirat nanti. Ini jelas kerugian besar. Sudah berpayah-payah namun tidak mendapatkan apa pun.

Untuk itulah, penting bagi setiap muslim untuk senantiasa memelihara spirit beribadah setelah bulan Ramadhan.

  1. Bergaul dengan orang yang istiqamah dalam ketaatan.

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menjaga spirit ibadah adalah dengan senantiasa bergaul dengan orang-orang yang stabil dalam melakukan ketaatan dan kebaikan serta bertaqarrub kepada Allah di sepanjang waktunya, bukan hanya di bulan Ramadhan.

Orang-orang yang stabil dalam menjaga kontinyuitas ibadah dan ketaatannya biasanya sudah memiliki kemampuan untuk menyemangati diri sendiri. Dia tidak memerlukan dorongan dari luar. Inner spirit sudah mengakar kuat dalam dirinya.

  1. Banyak mengingat kematian

Sering mengingat kematian merupakan sunnah yang terlupakan. Padahal sunnah dzikrul maut ini sangat besar pengaruhnya dalam menjaga stabilitas semangat beribadah seorang muslim. Selain itu, masih ada kebaikan lain yang akan didapatkan.

Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Rasulullah ﷺ bersabda,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

”Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” [Hadits riwayat Ibnu Majah, no. 4.258; At-Tirmidzi; An-Nasai; Ahmad].

Imam Abu Ali Ad-Daqaq rahimahullah, wafat pada tahun 405 H, mengatakan, ”Siapa yang banyak mengingat kematian niscaya ia akan dimuliakan dengan 3 hal:

  1. Bersegera untuk bertaubat.
  2. Hati menjadi qana’ah.
  3. Giat dalam beribadah

Dan siapa saja yang melupakan kematian niscaya ia akan dihukum dengan 3 hal:

  1. Suka menunda taubat.
  2. Hati tidak bisa bersikap qana’ah.
  3. Malas beribadah. (At Tadzkirah, Al-Qurthubi : 4)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

155 Kumpulan Khutbah Jumat Singkat

Khutbah kedua

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Semangat Selalu Meski Ramadhan Berlalu

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Asy-Syarh: 7,

فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ – ٧

Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),

Dalam kitab tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah yang disusun oleh sekelompok ulama dijelaskan maksud ayat ini sebagai berikut:

“Jika kamu sudah selesai dari melakukan suatu amalan berupa dakwah dan ibadah maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa dan mohonlah kepada Allah kebutuhanmu. Dan juga bersungguh-sungguhlah dalam beribadah.

Maksudnya, apabila kamu sudah menyelesaikan suatu amal maka beralihlah kepada amal yang lain. Dengan demikian waktumu dipenuhi dengan berbagai amalan yang bermanfaat.” [Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah jilid 2 hal. 779]

Dengan demikian, bila Ramadhan telah berlalu, kita tidak perlu larut dengan kesedihan atas perginya bulan yang penuh berkah tersebut. Kita dihasung oleh Allah Ta’ala agar langsung menghadapkan diri kita kepada berbagai ibadah lainnya di bulan-bulan berikutnya.

Kita awali di bulan Syawal. Kita berusaha untuk menjalani berbagai ibadah yang wajib dan sunnah yang ada dengan etos amal yang tinggi. Bila hal ini sudah menjadi kebiasaan maka akan mudah bagi kita untuk menjaga stabilitas pelaksanaan amal kebaikan di bulan-bulan berikutnya dengan izin Allah.

Dengan senantiasa mengingat perintah Allah Ta’ala dalam surat Asy-Syarh yang sudah kita hafal ini, kita tidak akan pernah kehilangan semangat untuk beramal shaleh insyaallah.

Kita tidak akan banyak terpengaruh oleh situasi di luar diri kita. Fluktuasi amal itu biasa namun tidak sampai kepada tingkat futur atau malas beramal lalu meninggalkannya sama sekali.

155 Khutbah Jumat Singkat Terbaru

Doa Penutup

Semoga Allah Ta’ala mengaruniakan kepada kita semua taufik untuk istiqamah beribadah kepada-Nya hingga ajal tiba.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ وَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ أَهْلِكِ اْلكَفَرَةَ وَ اْلمُشْرِكِيْننَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيميمُ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْييَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا اللَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّـٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

 رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. سُبْحَانَنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ, وَ سَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaru
Khutbah Bulan Dzulqo’dah
Khutbah Bulan Dzulhijjah
Khutbah Bulan Muharram
Khutbah Jumat Tentang Haji

Print Friendly, PDF & Email