Khutbah Jumat: Menjaga Spirit Ibadah di Bulan Syawal

Khutbah Pertama:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

فإنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ

Refleksi Bulan Syawal

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kita sudah memasuki bulan Syawal sekarang ini, setelah selama sebulan penuh melaksanakan salah satu rukun Islam yaitu berpuasa di bulan Ramadhan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan menerima puasa kita, shalat kita, sedekah kita dan seluruh amal shalih yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan karena mengharap ridha Allah semata.

Bulan Syawal sebenarnya merupakan bulan yang diberkahi juga. Bulan Syawal merupakan salah satu dari bulan haji. Ia merupakan bulan ketaatan. Allah Ta’ala berfirman,

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُواْ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللّهُ وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ

(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah Mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat! [Al-Baqarah: 197]

Dalam Tafsir Ibnu Abbas dijelaskan bahwa ‘Al-hajju asyhurum ma‘luumaatun’ (haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi), yakni pelaksanaan ibadah haji itu terdapat dalam bulan-bulan yang sudah diketahui. Pada bulan-bulan itu seseorang dapat melaksanakan ihram untuk berhaji, yaitu pada bulan Syawal, Dzulqaidah, dan sepuluh hari bulan Dzulhijjah.

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid, pernikahan dianjurkan untuk dilaksanakan di bulan syawal. Demikian juga dengan orang yang ingin mengqodho’ i’tikaf yang terlewat di bulan Ramadhan bisa dilakukan di bulan Syawal.

Rasulullah ﷺ adalah orang yang bila mengamalkan suatu amalan sunnah, dia akan menjaga keberlangsungannya secara terus menerus. Termasuk dalam hal ini sunnah i’tikaf. Nabi ﷺ pernah sekali terlewat tidak melakukan i’tikaf pada bulan Ramadhan, lalu Nabi ﷺ beri’tikaf pada bulan Syawal.

Bila masuk bulan Syawal, para sahabat mulai berdoa kepada Allah Ta’ala agar puasanya dan amalan shalih lainnya diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Imam Ibnu Rajab Al Hanbali menukil sebuah riwayat yang menyatakan sebagian ulama salaf berkata,

كَانُوا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ

”Dahulu para sahabat berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar Allah menyampaikan mereka hingga bertemu bulan Ramadhan kemudian berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar Allah menerima Ramadhan itu dari mereka.”

Amalan Sunnah Bulan Syawal

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Di bulan Syawal disunnahkan untuk melaksanakan puasa selama 6 hari. Puasa tersebut bisa dilaksanakan secara langsung pada hari kedua syawal secara berturut-turut selama 6 hari langsung sebagaimana pendapat madzhab Syafi’i dan Hanafi.

Namun bisa pula ditunda pelaksanaannya pada pertengahan bulan atau akhir bulan sebagaimana pendapat madzhab Hanbali. Yang prinsip, belum keluar dari bulan Syawal dan jumlahnya sebanyak enam hari.

Hanya saja, penundaan yang terlalu lama kadang bisa mengakibatkan orang terlupa sehingga ada potensi kehilangan kesempatan untuk melaksanakan puasa sunnah di bulan Syawal karena kehabisan waktu.

Untuk itu, alangkah baiknya bila seseorang bersegera untuk melaksanakan puasa sunnah di bulan Syawal selama 6 hari. Ini lebih aman dan lebih menjamin agar tidak kehilangan keutamaan puasa 6 hari di bulan Syawal sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

مَن صَامَ رَمَضانَ ثُمَّ أتْبَعَهُ سِتًّا مِن شَوَّالٍ، كانَ كَصِيامِ الدَّهْرِ

”Siapa yang berpuasa Ramadhan, lalu ia lanjutkan dengan puasa 6 hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” [Hadits riwayat Muslim : 1164]

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam An-Nasa’i dan Ibnu Majah dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu secara marfu’ disebutkan,

مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ، مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

”Siapa yang berpuasa selama 6 hari setelah Idul Fithri, maka sempurnalah satu tahun. Siapa yang melakukan sebuah kebaikan maka baginya 10 kali lipatnya pahalanya.”

Nabi ﷺ menerangkan hal tersebut di dalam sabdanya, ”

”Siapa saja yang berpuasa sebulan (penuh) di bulan Ramadhan, seperti berpuasa selama 10 bulan dan berpuasa 6 hari di bulan Syawal setelah Idul Fithri maka dengan demikian ia seperti telah berpuasa selama setahun penuh.

Siapa yang melakukan kebaikan, maka baginya dilipatgandakan balasannya sepuluh kali lipat.” [Hadits riwayat Imam Ahmad : 22412; Ibnu Majah : 1715 dan Ibnu Khuzaimah : 2115. Dishahihkan oleh al-Albani]

Faedah Puasa Bulan Syawal

Melihat sedemikian besar keutamaan dari puasa enam hari di bulan syawal, lantas apa saja kira-kira faedah dari puasa enam hari di bulan syawal ini? di antara faedahnya adalah:

  1. Mengganti kekurangan yang terjadi pada puasa wajib di bulan Ramadhan.

Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ : انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ) ، وصححه الألباني في ” صحيح سنن الترمذي ” .

”Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Kalau shalatnya baik maka sungguh dia telah beruntung dan selamat dan jika shalatnya rusak maka sungguh telah gagal dan merugi.

Kalau fardhunya ada sesuatu yang kurang, Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Apakah hamba-Ku pernah mengerjakan tathawwu’ sehingga disempurnakanlah kekurangan pada shalat wajib dengan shalat tathawwu”. Kemudian seluruh amal lainnya akan diperhitungkan seperti itu.” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi)

  1. Melaksanakan sunnah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah ﷺ
  2. Membiasakan melakukan ketaatan setelah ketaatan yang lain. Ini merupakan tanda diterimanya ketaatan sebelumnya karena Allah memberikan taufik kepada hamba-Nya untuk terus mentaati-Nya setelah melakukan sebuah ketaatan.
  3. Merupakan bentuk syukur kepada Allah atas nikmat menyempurnakan puasa Ramadhan.
  4. Puasa enam hari di bulan Syawal ini merupakan penyempurnaan bagi puasa setahun sebagaimana dalam hadits,

مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ، مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

”Siapa yang berpuasa selama 6 hari setelah Idul Fithri, maka sempurnalah satu tahun. Siapa yang melakukan sebuah kebaikan maka baginya 10 kali lipatnya pahalanya.”

  1. Mendapatkan kecintaan Allah dan Rasul-Nya.

Kecintaan Allah dan Rasul-Nya bukanlah perkara kecil atau sepele. Ia merupakan anugerah yang agung bagi seorang hamba. Bila Allah sudah mencintai seseorang maka dia juga akan mendapatkan rasa cinta dari penduduk bumi yang beriman dan beramal shaleh.

Hal ini sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ قَالَ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ قَالَ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ

”Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril lalu berfirman, ”Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan maka cintailah dia.” Rasulullah ﷺ bersabda, ”Maka Jibril mencintai orang tersebut.

Kemudian Jibril memanggil penghuni langit lalu berkata, ”Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan maka hendaklah kalian mencintai si Fulan.” Maka penduduk langit mencintai orang tersebut. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, ”Kemudian diberikan untuknya penerimaan di bumi.” [Hadits riwayat Muslim no. 4772]

Dalam sebuah hadits Qudsi yang lain disebutkan bahwa orang yang dicintai oleh Allah akan mendapatkan begitu banyak keistimewaan dari Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits yang dikenal dengan sebutan hadits wali.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إنَّ اللَّهَ قالَ: مَن عادَى لِيْ وِلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِاْلحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أحَبَّ إلَيَّ ممَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بالنَّوافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ، فإذا أحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الذي يَسْمَعُ به، وَبَصَرَهُ الذي يُبْصِرُ به، وَيَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا، ورِجْلَهُ الَّتي يَمْشِي بها، وإنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، ولَئِنِ اسْتَعاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ، وما تَرَدَّدْتُ عن شيءٍ أنا فاعِلُهُ تَرَدُّدِي عن نَفْسِ المُؤْمِنِ، يَكْرَهُ المَوْتَ وأنا أكْرَهُ مَساءَتَهُ

”Sungguh Allah berfirman, ”Siapa saja yang memusuhi seorang wali-Ku, maka sungguh Aku mengumumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada perkara-perkara yang Aku wajibkan kepadanya.

Dan seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan amalan-amalan sunnah, hingga Aku mencintainya. Dan ketika Aku mencintainya, maka Aku-lah yang menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, dan penglihatannya yang dengannya ia melihat, dan tangannya yang dengannya ia memukul, dan kakinya yang dengannya ia melangkah.

Jika ia meminta kepada-Ku, Aku benar-benar memberinya. Jika ia minta perlindungan kepadaku, Aku benar-benar melindunginya. Tidaklah Aku ragu tentang sesuatu yang mesti Aku lakukan seperti keraguan-Ku untuk (mencabut) nyawa seorang yang beriman. Dia tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyakitinya.” [Hadits riwayat Al-Bukhari no. 6502].

Menjaga Spirit Ibadah Setelah Bulan Syawal

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Agar dapat menjaga spirit ibadah di bulan Syawal ini, ada beberapa hal yang dapat dilakukan:

1. Membangun Kesadaran

Saat memasuki bulan Syawal, kebanyakan orang memang cenderung melemah semangatnya untuk melakukan ketaatan, khususnya yang berbentuk ibadah mahdhah. Hal ini bisa dilihat dari volume jumlah orang yang hadir ke masjid untuk shalat lima waktu tidak sebagaimana saat di bulan Ramadhan.

Demikian pula dengan puasa sunnah di bulan Syawal baik puasa enam hari atau yang lainnya.

Kecenderungannya adalah tidak ingin lagi merasakan beratnya menanggung derita menahan lapar dan haus setelah selama satu bulan penuh diwajibkan oleh Allah Ta’ala untuk melakukannya.

Kecenderungan umum semacam ini karena suasana umum masyarakatnya memang tidak mendukung, ditambah dengan setan sudah dilepas belenggunya sehingga hambatan yang muncul untuk berbuat taat menjadi berlipat.

Hanya sebagian kecil masyarakat saja yang tetap memiliki kendali terhadap dirinya dan kesadarannya untuk senantiasa memelihara spirit beribadah di bulan Ramadhan agar tetap bertahan di bulan-bulan berikutnya.

Karenanya, perlu membangun kesadaran diri sendiri. Sebab, bulan bulan Syawal karena memang ini titik permulaan dari perjalanan 11 bulan ke depan.

2. Ketaatan adalah Indikator diterimanya sebuah amal

Selain itu, sebenarnya amalan ketaatan yang berkelanjutan itu sebenarnya merupakan indikasi atas penerimaan ketaatan tersebut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala dalam surat AL-Lail: 5-7

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.

Saat menerangkan ayat ke 7 yaitu فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ (maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah), Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menukil pendapat sebagian ulama salaf yang menyatakan:

مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

“Termasuk balasan kebaikan adalah kebaikan setelah itu. Termasuk balasan keburukan adalah keburukan setelah itu.”

Berdasarkan hal ini, bila seseorang melaksanakan kebaikan berupa puasa sunnah setelah dia melaksanakan kebaikan berupa puasa wajib di bulan Ramadhan, maka ini merupakan salah satu indikasi diterimanya amal shaleh tersebut.

Inilah yang menjadi pendapat dari Imam Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah. Beliau berkata,

أَنَّ مُعَاوَدَةَ الصِّيَامِ بَعْدَ صِيَامِ رَمَضَانَ عَلَامَةٌ عَلَى قَبُوْلِ صَوْمِ رَمَضَانَ فَإِنَّ اللهَ إَذَا تَقَبَّلَ عَمَلَ عَبْدٍ وَفَّقَهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ بَعْدَهُ كَمَا قَالَ بَعْضُهُمْ : ثَوَابُ اْلحَسَنَةِ اْلحَسَنَةُ بَعْدَهَا فَمَنْ عَمِلَ حَسَنَةً ثُمَّ اتَّبَعَهَا بَعْدَ بِحَسَنَةٍ كَانَ ذَلِكَ عَلَامَةً عَلَى قَبُوْلِ اْلحَسَنَةِ اْلأُوْلَى كَمَا أَنَّ مَنْ عَمِلَ حَسَنَةً ثُمَّ اتَّبَعَهَا بِسَيِّئَةٍ كَانَ ذَلِكَ عَلَامَةَ رَدِّ اْلحَسَنَةِ وَ عَدَمِ قَبُوْلِهَا

“Sesungguhnya melakukan puasa kembali setelah puasa Ramadhan merupakan sebuah tanda bagi diterimanya puasa Ramadhan. Sesungguhnya Allah itu bila menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi taufik kepadanya untuk melakukan amal shalih setelah itu.

Hal ini sebagaimana sebagian ulama katakan, ‘Balasan dari suatu kebaikan adalah kebaikan setelah kebaikan tadi.’ Maka, siapa saja yang melakukan suatu kebaikan kemudian setelah itu diikuti dengan kebaikan lagi, maka itu tanda bagi diterimanya amal yang pertama.

Demikian pula, orang yang melakukan kebaikan kemudian setelah itu diikuti dengan keburukan, maka itu tanda kebaikan tersebut ditolak dan tidak diterima.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 388).

Persoalan ini kemungkinan besar belum dipahami oleh mayoritas kaum Muslimin. Akibatnya, sebagian besar dari kaum Muslimin kurang peka terhadap kondisi dirinya sendiri. Jarang mengevaluasi dirinya paska melakukan sebuah ketaatan apakah semakin baik atau justru semakin buruk.

Bila grafik kebaikan seseorang cenderung bertambah dari waktu ke waktu maka ini indikasi banyak kebaikannya diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Meluruskan Niat (Kembali)

Bila saat bulan Ramadhan seseorang rajin ke masjid shalat lima waktu namun setelah Ramadhan sama sekali tidak pernah ke masjid kecuali untuk shalat Jumat, maka ini perlu dievaluasi, apakah ada niatan yang salah selama melaksanakan shalat di masjid di bulan Ramadhan?

Sebab, niat yang salah berupa bukan untuk mencari ridha Allah merupakan salah satu sebab ditolaknya amal shalih. Bila seseorang ke masjid saat bulan Ramadhan karena bukan hendak meraih ridha Allah dan mengikuti sunnah Rasul-Nya, berarti ada niatan lainnya.

Kesalahan niat adalah persoalan serius karena ini persoalan tujuan ibadah diperuntukkan bagi siapa. Bila kemudian Allah tidak memberinya taufik untuk terus melaksanakan shalat 5 waktu di masjid di luar bulan Ramadhan maka itu bisa dimaklumi.

Demikian pula dengan kebaikan lain berupa puasa sunnah di bulan Syawal dan bulan-bulan lainnya. Bila seseorang sama sekali tidak pernah melaksanakan satu jenis puasa sunnah pun di luar bulan Ramadhan, maka dikhawatirkan ini merupakan indikasi puasa Ramadhan yang dilakukannya tidak diterima oleh Allah walaupun kewajibannya sudah tertunaikan.

Artinya, kepayahannya satu bulan bisa jadi tidak mendapatkan balasan apa pun di akhirat nanti. Ini jelas kerugian besar. Sudah berpayah-payah namun tidak mendapatkan apa pun. Untuk itulah, penting bagi setiap muslim untuk senantiasa memelihara spirit beribadah setelah bulan Ramadhan.

4. Bergaul dengan Ahli Ketaatan

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menjaga spirit ibadah adalah dengan senantiasa bergaul dengan orang-orang yang suka melakukan ketaatan dan kebaikan serta bertaqarrub kepada Allah di sepanjang waktunya, bukan hanya di bulan Ramadhan.

Orang-orang yang stabil dalam menjaga kontinyuitas ibadah dan ketaatannya biasanya sudah memiliki kemampuan untuk menyemangati diri sendiri. Dia tidak memerlukan dorongan dari luar. Inner spirit sudah mengakar kuat dalam dirinya.

5. Banyak Mengingat Kematian

Sering mengingat kematian merupakan sunnah yang terlupakan. Padahal sunnah dzikrul maut ini sangat besar pengaruhnya dalam menjaga stabilitas semangat beribadah seorang muslim. Selain itu, masih ada kebaikan lain yang akan didapatkan.

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Rasulullah ﷺ bersabda,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

”Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” [Hadits riwayat Ibnu Majah, no. 4.258; At-Tirmidzi; An-Nasai; Ahmad].

Imam Abu Ali Ad-Daqaq rahimahullah, yang wafat pada tahun 405 H, mengatakan, ”Siapa banyak mengingat kematian niscaya ia akan dimuliakan dengan 3 hal:

  1. Bersegera untuk bertaubat
  2. Hati menjadi qana’ah
  3. Giat dalam beribadah

Dan siapa saja yang melupakan kematian niscaya ia akan dihukum dengan 3 hal:

  1. Suka menunda taubat
  2. Hati tidak bisa bersikap qana’ah
  3. Malas beribadah. (At Tadzkirah, Al-Qurthubi : 4)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

الحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَ اْلشُكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَ امْتِنَانِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ

Antara Mengqodho’ Puasa Wajib Dan Puasa Syawal

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Dalam khutbah kedua ini, kami hendak menjelaskan secara ringkas tentang persoalan yang sering dihadapi umat Islam yaitu tentang hukum berpuasa enam hari di bulan Syawal namun belum mengganti puasa wajib yang tertinggal karena halangan syar’i di bulan Ramadhan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya bila seorang wanita memiliki hutang puasa di bulan Ramadhan, apakah boleh baginya untuk mendahulukan puasa enam hari di bulan Syawal daripada puasa untuk mengganti hutang puasanya ataukah harus mengganti hutang puasanya terlebih dahulu?”

Beliau menjawab, ”Bila wanita tersebut punya kewajiban untuk mengqodho’ (mengganti) puasa Ramadhan maka dia tidak boleh berpuasa enam hari di bulan Syawal kecuali setelah membayar hutang puasanya.

Hal itu karena Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ ) ، رواه مسلم 1164

”Siapa yang puasa Ramadhan kemudian dia ikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti puasa setahun.” [Hadits riwayat Muslim no. 1164]

Siapa yang masih memiliki kewajiban untuk mengqodho’ puasa Ramadhan berarti dia belum berpuasa Ramadhan (secara penuh), sehingga dia tidak mendapatkan pahala puasa enam hari di bulan Syawal kecuali setelah selesai menunaikan qoho’nya.

Andaikan diasumsikan bahwa puasa qodho’ tersebut menghabiskan seluruh bulan Syawal, misalnya wanita yang sedang nifas dan tidak puasa satu hari pun di bulan Ramadhan, kemudian segera melaksanakan qodho’ puasa di bulan Syawal dan tidak selesai kecuali setelah masuk bulan Dzulqa’dah, maka dia boleh melakukan puasa enam hari di bulan Syawal.

Dia akan mendapatkan pahala puasa di bulan Syawal sebab penundaannya di sini karena persoalan darurat. Dia orang yang mendapatkan udzur (yaitu berpuasa selama enam hari di bulan Syawal) sehingga dia tetap mendapatkan pahala puasa enam hari di bulan Syawal.” [Majmu’ Fatawa 19/20]

Demikian tadi khutbah tentang bulan Syawal. Semoga bisa menambah pengetahuan kita semua dan bermanfat. Bila ada kebenaran dalam khutbah ini, maka itu karena rahmat Allah semata.

Dan bila ada kesalahan dan kekeliruan maka itu dari kami dan dari setan. Allah dan rasul-Nya berlepas diri darinya.

Doa Penutup

Kita akhiri khutbah Jumat ini dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ وَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ أَهْلِكِ اْلكَفَرَةَ وَ اْلمُشْرِكِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّـٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

 رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ, وَ سَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Download Khutbah Bulan Syawal

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaru
– Khutbah Bulan Rajab

error: Content is protected !!