Khutbah Jum’at: Menghilangkan Kesusahan Orang Lain

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

فإنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ

Hadits Tentang Menghilangkan Kesusahan Orang Lain

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ketahuilah bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda,

مَنْ نَفَّس عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبةً منْ كُرب الدُّنْيا نفَّس اللَّه عنْه كُرْبةً منْ كُرَب يومِ الْقِيامَةِ، ومَنْ يسَّرَ عَلَى مُعْسرٍ يسَّرَ اللَّه عليْهِ في الدُّنْيَا والآخِرةِ، ومَنْ سَتَر مُسْلِمًا سَترهُ اللَّه فِي الدُّنْيا وَالآخِرَةِ، واللَّه فِي عَوْنِ العبْدِ مَا كانَ العبْدُ في عَوْن أَخيهِ، ومَنْ سَلَكَ طَريقًا يلْتَمسُ فيهِ عِلْمًا سهَّل اللَّه لهُ به طَريقًا إِلَى الجنَّة. وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بيْتٍ منْ بُيُوتِ اللَّه تعالَى، يتْلُون كِتَابَ اللَّه، ويَتَدارسُونهُ بيْنَهُمْ إلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينةُ، وغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمةُ، وحفَّتْهُمُ الملائكَةُ، وذكَرهُمُ اللَّه فيمَنْ عِندَهُ. ومَنْ بَطَّأَ بِهِ عَملُهُ لَمْ يُسرعْ به نَسَبُهُ رواه مسلم.

Siapa yang meringankan satu kesusahan dari berbagai kesusahan dunia seorang mukmin Allah akan meringankan darinya satu kesusahan dari sekian kesusahan yang ada pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat.

Dan siapa yang menutupi seorang muslim Allah akan menutupinya di dunia dan akhirat. Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Dan siapa yang melewati suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya dengan ilmu tersebut jalan menuju surga.

Dan tidak sekelompok orang berkumpul di sebuah rumah dari rumah-rumah Allah Ta’ala, mereka membaca ayat-ayat Allah dan saling mempelajari al quran di antara mereka kecuali ketenangan (sakinah ) akan turun kepada mereka, rahmat akan meliputi mereka dan malaikat akan mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di kalangan malaikat yang ada di sisi-Nya.

Dan siapa yang amalnya kurang maka nasabnya tidak akan bisa mempercepatnya untuk mencapai tingkatan orang yang beramal.

[Hadits riwayat Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya memenuhi kebutuhan kaum muslimin dan saling membantu dengan mereka dalam kebaikan karena kaum Muslimin itu merupakan entitas yang satu, jasad yang satu.

Disyariatkan kepada kaum Muslimin untuk saling menolong dalam kebaikan, saling berwasiat dengan kebenaran, melakukan amar makruf dan nahyi mungkar dan saling memenuhi kebutuhan satu sama lain. Semua ini disyariatkan dalam Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. [Al-Hajj: 77]

Allah Juga berfirman,

وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. [Al-Baqarah: 195]

Allah juga berfirman,

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. [An-Nahl: 128]

Keutamaan Menghilangkan Kesusahan Orang Lain

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kandungan hadits di atas ada beberapa persoalan, yang tidak akan cukup waktunya bila di bahas seluruhnya dalam khutbah ini.

Untuk itu, kami hanya fokus membahas tentang persoalan meringankan atau menghilangkan kesusahan dari seorang mukmin, memudahkan urusannya, menutupinya dan memberikan pertolongan kepadanya.

Dalam hadits tersebut, Rasulullah ﷺ telah menjelaskan bahwa balasan yang akan diterima seseorang itu sesuai dengan jenis amalan yang dilakukan seseorang. Bila seseorang meringankan kesusahan orang mukmin di dunia ini maka Allah akan meringankan kesusahannya di akhirat nanti.

Bila seseorang menghilangkan kesusahan seorang mukmin di dunia ini maka Allah akan menghilangkan kesusahannya di akhirat nanti.

Bila seseorang memudahkan kesulitan yang membelit seorang mukmin, apa pun kesulitan tersebut maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Dan bila seseorang menolong saudaranya sesama orang mukmin maka Allah Ta’ala akan menolongnya.

Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah memiliki penjelasan menarik tentang persoalan ini. beliau berkata, ” Al–Kurbah (kesusahan) adalah tekanan yang berat yang menjadikan seseorang begitu sengsara dan berduka.

At-tanfis maksudnya adalah upaya untuk meringankan kesusahan tersebut dari orang yang mengalaminya. Sedangkan at-tafrij adalah menghilangkan kesusahan tersebut dari yang mengalaminya sehingga kesedihan dan kesusahannya sirna.

Balasan bagi orang yang meringankan kesusahan yang dialami orang lain adalah Allah akan meringankan kesusahannya. Dan balasan menghilangkan kesusahan orang lain adalah Allah akan menghilangkan kesusahannya.[Lihat Jamiul ‘Ulum wal Hikam (II/286)]

Kaidah al- Jaza’ min Jinsil ‘amal atau balasan itu sesuai dengan jenis amalan ini sebagaimana diterangkan oleh Allah Ta’ala langsung dalam beberapa firman Allah Ta’ala berikut:

  1. Allah berfirman di dalam surat An-Nahl: 97

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

  1. Allah berfirman di dalam surat Thaha: 124

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.

  1. Allah berfirman di dalam surat Al-infithar: 13-14

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ ﴿١٣﴾ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.

Baca juga Khutbah Jum’at: Hak Ukhuwah Islamiyah

Mengapa menghilangkan kesusahan dunia balasannya dihilangkan kesusahan di akhirat?

Ma’syiro muslimin rahimakumullah,

Bila kita cermati hadits tentang meringankan kesusahan seorang mukmin di dunia tadi, kita dapati bahwa balasan yang akan diterima adalah Allah akan menghilangkan kesusahannya pada hari kiamat. Tidak ada janji akan dihilangkan kesusahannya di dunia ini.

Sedangkan bila memudahkan kesulitan seorang mukmin maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Demikian pula dengan balasan menutup aurat dan aib seorang mukmin di dunia ini akan diberikan tutup untuknya di dunia dan akhirat.

Jadi terkait dengan tanfisul kurbah atau meringkan kesusahan dan tafrijul kurbah atau menghilangkan kesusahan itu Rasulullah ﷺ tidak mengatakan Allah akan meringankan atau menghilangkan kesusahannya di dunia dan akhirat. Mengapa ada perbedaan?

Menurut Syaikh Sa’ad al-Khatslan dalam website resminya, sebab dari dikhususkan kesusahan yang dihilangkan adalah di hari kiamat kelak adalah karena al-kurbah itu adalah tekanan atau penderitaan yang berat. Hal ini tidak terjadi pada setiap orang. Namun secara umum hanya menimpa sebagian orang saja.

Berbeda halnya dengan kesulitan dan apa yang membutuhkan kepada tutup, kedua hal ini pada umumnya terjadi pada semua orang. Tidak seorang pun di dunia ini kecuali dia mendapati dalam kehidupannya suatu kesulitan dan mendapati satu perkara yang membutuhkan untuk ditutupi.

Namun al-kurbah itu tidak menimpa setiap orang. الكربة هي: الشدة العظيمة والضائقة الشديدة Al-kurbah adalah asyiddah al-a’azhimah atau penderitaan yang sangat berat dan Adh-dhaiqah asy-syadidah atau kesempitan yang amat sangat. Inilah pendapat sebagian ahli ilmu.

Sedangkan pendapat ahli ilmu yang lain menyatakan bahwa meringankan kesusahan dari kesusahan dunia itu pahalanya sangat besar. Pahala dari amal tersebut tidak cukup dengan diringankannya satu kesusahan dari kesusahan -kesusahan yang ada di dunia. Pahalanya jauh lebih besar, yatu dengan diringankannya atau dihilangkannya kesusahan pada hari kiamat.

Gambaran kesusahan pada hari kiamat

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Dalam sejumlah hadits yang shahih, Rasulullah ﷺ memberikan sejumlah berita tentang kondisi yang menyusahkan manusia pada hari kiamat. Dengan memahami kondisi-kondisi berat yang menyusahkan manusia pada hari kiamat akan menguatkan semangat kita untuk mengamalkan hadits tentang keutamaan meringankan atau menghilangkan kesusahan seorang mukmin di dunia ini.

Di antara hadits-hadits tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim serta Ahmad dan lainnya dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

…يَـجْمَعُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ فِـيْ صَعِيْدٍ وَاحِدٍ ، فَيُسْمِعُهُمُ الدَّاعِي ، وَيَنْفُذُهُمُ الْبَصَرُ ، وَتَدْنُو الشَّمْسُ مِنْهُمْ ، فَيَبْلُغُ النَّاسَ مِنَ الْغَمِّ وَالْكَرْبِ مَالاَ يُطِيْقُوْنَ ، وَمَالاَ يَحْتَمِلُوْنَ. فَيَقُوْلُ بَعْضُ النَّاسِ لِبَعْضٍ : أَلاَتَرَوْنَ مَا أَنْتُمْ فِيْهِ ؟ أَلاَتَرَوْنَ مَاقَدْ بَلَغَكُمْ ؟ أَلاَتَنْظُرُوْنَ مَنْ يَشْفَعُ لَكُمْ إِلَى رَبِّكُمْ ؟…

“…Allah mengumpulkan manusia dari generasi pertama hingga generasi terakhir pada satu tempat kemudian penyeru memperdengarkan suara kepada mereka, penglihatan dapat meliputi mereka, matahari mendekat ke mereka, dan manusia menanggung kepedihan hati dan kesusahan yang tidak mampu lagi mereka tahan dan tanggung.

Sebagian manusia berkata kepada sebagian lainnya, ‘Tidakkah kalian melihat kondisi kalian? Tidakkkah kalian melihat apa yang menimpa kalian? Tidakkah kalian melihat orang yang bisa meminta syafa’at untuk kalian kepada Rabb kalian?…’

Sedangkan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan dari Nabi ﷺ , beliau bersabda,

تُحْشَرُوْنَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا. قَالَتْ : فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ ؟ قَالَ : اَلْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكَ

”Kalian akan dikumpulkan (pada hari Kiamat) dalam keadaan tanpa alas kaki, telanjang (tanpa selembar benang pun) dan tidak berkhitan.” ‘Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah! Orang laki-laki dan perempuan akan saling melihat (aurat) yang lain?”

Nabi ﷺ bersabda, “Perkaranya lebih dahsyat daripada mereka memperhatikan hal itu.” [Hadits riwayat Al-Bukhari (no. 6527), Muslim (no. 2859), dan an-Nasa-i (4/114-115)]

Rasululllah ﷺ bersabda,

إِنَّ الْعَرَقَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيَذْهَبُ فِي الْأَرْضِ سَبْعِيْنَ بَاعًا ، وَإِنَّهُ لَيَبْلُغُ إِلَى أَفْوَاهِ النَّاسِ ، أَوْ إِلَى آذَانِهِمْ

Sesungguhnya keringat manusia pada hari Kiamat kelak akan mengalir di bumi sampai tujuh puluh depa atau hasta dan sesungguhnya keringat tersebut akan mencapai mulut atau telinga mereka.[Hadits riwayat al-Bukhari (no. 6532) dan Muslim (no. 2863) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Rasulullah ﷺ bersabda :

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أُدْنِيَتِ الشَّمْسُ مِنَ الْعِبَادِ حَتَّى تَكُوْنَ قِيْدَ مِيْلٍ أَوِ اثْنَيْنِ ، فَتَصْهَرُهُمُ الشَّمْسُ ، فَيَكُوْنُوْنَ فِـي الْعَرَقِ بِقَدْرِ أَعْمَالِهِمْ ؛ فَمِنْهُمْ مَنْ يَأْخُذُهُ إِلَـى عَقِبَيْهِ ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَأْخُذُهُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَأْخُذُهُ إِلَى حِقْوَيْهِ ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ إِلْـجَامًا.

Apabila hari Kiamat telah tiba, matahari didekatkan kepada hamba-hamba hingga sekira satu atau dua mil. Kemudian (panas) matahari membuat mereka berkeringat lalu mereka terendam dalam keringat sesuai dengan perbuatan mereka.

Diantara mereka ada yang terendam hingga kedua tumitnya, ada yang terendam hingga kedua lutut, ada yang terendam hingga pinggangnya, dan di antara mereka ada yang terendam sampai ke mulutnya hingga ia tidak bisa bicara.

[Hadits riwayat Muslim (no. 2864), Ahmad (6/3), dan at-Tirmidzi (no. 2421) dari sahabat al-Miqdad bin al-Aswad Radhiyallahu ‘anhu . Lafazh ini milik at-Tirmidzi]

Baca juga Khutbah Jum’at: Sebaik-Baik Manusia Yang Paling Bermanfaat

Pengertian memudahkan kesulitan dan menutupi seorang mukmin

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Mengenai tanfisul kurbah atau meringankan kesusahan sudah jelas maksudnya. Sekarang apa yang dimaksud dengan memudahkan kesulitan dan menutupi orang mukmin?

Agar interpretasi kita tidak liar, maka kita perlu merujuk kepada ahli ilmu yang berkompeten menjelaskan makna hadits yaitu para ulama.

Syaikh Saad Al-Khatslan mengatakan bahwa kata المعسر (al-mu’sir) atau orang yang sedang mengalami kesulitan menurut para ahli fikih berarti orang yang tidak memiliki apa-apa. Sedangkan المفلس (al-muflis) atau orang yang bangkrut adalah orang yang hutangnya melebihi hartanya.

Namun yang dimaksud dengan orang yang kesulitan dalam hadits tersebut bukan seperti pengertian para ahli fikih. Yang dimaksud dengan orang yang kesulitan adalah makna yang umum yang mencakup orang yang bangkrut juga atau al-muflis, mencakup siapa saja yang tertimpa kesulitan dan kesempitan baik dengan banyaknya hutang atau dengan selainnya.

Kemudian yang dimaksud dengan mempermudah orang yang kesulitan adalah dengan menghilangkan kesulitan tersebut. Bila berupa belitan hutang maka bisa dengan melunaskan hutangnya dan bila dia orang yang menghutangi maka dengan cara membebaskan hutangnya.

Sedangkan yang dimaksud dengan “menutupi seorang muslim” maka yang dimaksud dengan الستر (as-satru) atau penutup di sini adalah penutup yang bersifat inderawi maupun maknawi. Yang dimaksud dengan penutup yang bersifat inderawi adalah dengan memberi seorang muslim pakaian yang menutupi auratnya.

Sedangkan yang dimaksud dengan penutup maknawi adalah bila ada seorang muslim yang tergelincir adalah dengan tidak mengangkat perkaranya dan membongkarnya. Bila seorang muslim melakukan kesalahan maka tidak dilaporkan kepada penguasa dan tidak memberitahukan persoalan tersebut kepada seorang pun.

Balasan bagi orang yang memudahkan kesulitan seorang adalah Allah Ta’ala akan menutupinya di dunia dan akhirat. Maksudnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan membongkar dosa-dosa dan maksiatnya di hadapan seluruh makhluk .

Adapun di dunia ini sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan membongkar jika dia melakukan kekeliruan. Allah akan menjaganya dari ketergelinciran.

Terkait makna hadits bahwa Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya itu adalah kadar pertolongan Allah itu sesuai dengan kadar pertolongannya kepada saudaranya seiman.

Bila pertolongannya kepada saudaranya itu besar maka bantuan Allah kepadanya juga lebih besar.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Pelajaran dari Hadits Meringankan Kesusahan Orang Lain

Jamaah jumat rahimakumullah,

Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari hadits tentang menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia ini. Berdasarkan penjelasan Syaikh Sa’ad Al-Khatslan, di antara faedah atau pelajaran yang didapatkan dari hadits tersebut adalah:

  1. Hadits ini merupakan pokok dalam pensyariatan solidaritas atau kesetiakawanan sosial di antara kaum Muslimin. Sudah selayaknya menyebarluaskan akhlak saling menolong di antara kaum Muslimin.

Bila salah seorang muslim sangat membutuhkan bantuan untuk menghilangkan kesusahannya maka bagi yang mampu hendaknya berusaha keras untuk menghilangkan kesusahan tersebut dan memenuhi kebutuhannya.

Oleh karena itu, shalat jamaah disyariatkan untuk mewujudkan makna ini. Bisa jadi shalat seseorang di rumahnya itu jauh lebih khusyu’ daripaa shalatnya di masjid, namun syariat Islam mewajibkan bagi laki-laki untuk shalat bersama jamaah di masjid untuk mewujudkan makna solidaritas sosial ini, baik berupa kecintaan, kasih sayang, persaudaraan dan saling menolong.

Bila seorang muslim tidak melihat saudaranya di masjid, jika karena sakit maka dia mengunjunginya, bila ada yang membutuhkan bantuan dia membantunya sesuai dengan kemampuannya.

  1. Dalam hadits tadi terdapat dorongan untuk menghilangkan kesusahan kaum Muslimin dengan solusi dalam bentuk apa pun. Pahalanya sangat besar dan pahala itu sesuai dengan jenis amalan.
  1. Hadits tersebut menunjukkan keutamaan memudahkan orang yang sedang berada dalam kesulitan.
  1. Hadits ini menunjukkan keutamaan menutupi seorang muslim. Menutupi seorang muslim ini disyariatkan bagi orang yang dikenal tidak melakukan mujaharah dengan kemaksiatan (melakukan maksiat secara terang-terangan), atau orang terus menerus bermaksiat.

Bila orang semacam itu terjerumus ke dalam sebuah maksiat maka disyariatkan untuk menutupinya dan tidak melaporkannya ke pemimpin kaum Muslimin dengan tetap mengingkari perbuatan mungkar tersebut secara rahasia di antara mereka saja.

Adapun bagi orang yang dikenal dengan keburukan dan kerusakannya atau terus menerus melakukan maksiat maka tidak disyariatkan untuk menutupi orang semacam ini. Bahkan wajib melaporkannya kepada pemimpin kaum Muslimin untuk memberinya hukuman.

Berdasarkan hal ini, hadits tersebut dibawa kepada orang yang tidak dikenal melakukan mujaharah dengan kefasikan atau terus menerus bermaksiat, yaitu orang yang pertama kali tergelincir ke dalam maksiat maka harus ditutupi.

  1. Hadits tersebut menunjukkan atas keutamaan membantu seorang muslim. Membantu seorang muslim bisa berupa bantuan yang bersifat inderawi dan bisa pula yang bersifat maknawi.

Bantuan yang bersifat inderawi misalnya dengan melunasi hutangnya atau membantunya menyelesaikan sebuah pekerjaan. Sedangkan bantuan yang bersifat maknawi seperti memberinya bantuan dengan kedudukan yang dia miliki di sisi seorang penguasa atau pemimpin dengan memberikan pembelaan yang baik.

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا

Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [An-Nisa’: 85]

Syafaat yang baik itu masuk ke dalam kategori membantu seorang hamba.

  1. Menolong seorang muslim yang dianjurkan itu dengan catatan tidak ada madharat yang timbul dengan bantuan tersebut. Bila berakibat adanya madharat baik dalam hal agama atau dunia maka bantuan semacam ini tidak terpuji bahkan dilarang.

Sebagian orang suka membantu orang lain dalam perkara yang diharamkan, misalnya memberikan kesaksian palsu atau membantunya dalam kebohongan dan seterusnya. Jadi bantuan itu dalam perkara yang mubah atau diperbolehkan agama bukan memberikan bantuan dalam perkara yang diharamkan.

  1. Hadits tersebut menunjukkan bahwa balasan itu sesuai dengan jenis amalan. Ini merupakan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ditunjukkan oleh dalil yang banyak. Di antara dalil itu adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). [Ar-rahman: 60]

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan menganugerahkan kepada kita semuanya taufik dan hidayah-Nya serta kepedulian kepada sesama muslim serta kemampuan untuk memberikan pertolongan kepada kaum muslimin, memudahkan kesulitan mereka dan menghilangkan kesusahan mereka serta menutupi aurat dan kekurangan mereka.

Mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Materi Khotbah Jum’at Lengkap

error: Content is protected !!