Khutbah Jumat: Sebaik-Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

فإنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ

Memberi Manfat Adalah Bagian Dari Akhlak Islamiyah

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Syariat Islam datang untuk memperkuat nilai-nilai akhlak yang terpuji, yang bermacam-macam dalam jiwa manusia. Syariat Islam mendidik jiwa manusia di atas nilai-nilai akhlak yang terpuji tersebut agar menjadi perilaku yang dikenal dan karakteristik mereka yang menetap, dalam interaksi mereka dengan orang-orang di lingkungannya di berbagai posisi dan situasi.

Di antara tujuan mulia dari diutusnya para Rasul dan para Nabi ‘alaihimus salam adalah menguatkan akhlak yang baik dan membuang akhlak yang buruk serta meninggalkannya.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,

إنَّما بُعِثتُ لأتمِّمَ مكارمَ الأخلاقِ

Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” [Hadits shahih di dalam As-Silsilah Ash-Shahihah nomor 45.]

Ayat-ayat al-Quran al-Karim dan hadits-hadits nabawi yang mulia telah menyebutkan akhlak mulia dan perilaku yang lurus serta mendorong untuk mengamalkannya dan menjelaskan keutamaannya.

Al-quran al-Karim dan hadits-hadits nabawi juga menyebutkan akhlak yang buruk dan perilaku yang tercela serta memperingatkan dari semua itu . Juga menjelaskan akibat dari akhlak semacam itu serta siksa Allah akibat dari perilaku tersebut.

Dalam kesempatan khutbah ini, kami hendak menjelaskan salah satu dari akhlak yang mulia tersebut, yaitu memberi manfaat kepada orang lain, hadits-hadits mengenainya, keutamaannya, dan buahnya bagi individu dan masyarakat.

Hadits Manusia Paling Bermanfaat

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk berbuat baik di dalam kitab-Nya. Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْأِحْسَانِ

Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan berbuat kebaikan.” [An-Nahl: 90]

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ

Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik..[An-Nahl: 30]

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لَأَنْفُسِكُمْ

Jika kalian berbuat baik berarti kalian telah berbuat baik untuk diri kalian sendiri.” [al-Isra’: 7]

Kita mesti berbuat baik kepada manusia dan memberi manfaat kepada mereka dengan berbagai macam manfaat. Nabi ﷺ telah memberi kabar berita bahwa manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.

Hal ini berdasarkan hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

خيرُ الناسِ أنفعُهم للناسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfat bagi manusia.” [Hadits riwayat Ibnu Hibban dan Ath-Thabrani dan dihasankan oleh Al-Albani.]

Sedangkan dalam hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

أحبُّ الناسِ إلى اللهِ أنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ ، و أحبُّ الأعمالِ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ سُرُورٌ يدْخِلُهُ على مسلمٍ ، أوْ يكْشِفُ عنهُ كُرْبَةً ، أوْ يقْضِي عنهُ دَيْنًا، أوْ تَطْرُدُ عنهُ جُوعًا ، و لأنْ أَمْشِي مع أَخٍ لي في حاجَةٍ أحبُّ إِلَيَّ من أنْ اعْتَكِفَ في هذا المسجدِ ، يعني مسجدَ المدينةِ شهرًا ، و مَنْ كَفَّ غضبَهُ سترَ اللهُ عَوْرَتَهُ ، و مَنْ كَظَمَ غَيْظَهُ ، و لَوْ شاءَ أنْ يُمْضِيَهُ أَمْضَاهُ مَلأَ اللهُ قلبَهُ رَجَاءً يومَ القيامةِ ، و مَنْ مَشَى مع أَخِيهِ في حاجَةٍ حتى تتَهَيَّأَ لهُ أَثْبَتَ اللهُ قَدَمَهُ يومَ تَزُولُ الأَقْدَامِ ، [ و إِنَّ سُوءَ الخُلُقِ يُفْسِدُ العَمَلَ ، كما يُفْسِدُ الخَلُّ العَسَلَ ]

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Dan amal yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla adalah kegembiraan yang dimasukkan ke dalam hati seorang Muslim.

Atau menghilangkan kesusahan darinya atau melunasi hutangnya atau mengusir kelaparannya. Dan aku berjalan bersama saudaraku dalam sebuah kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beri’tikaf di masjid ini – yakni Masjid Nabawi- selama satu bulan.

Dan siapa yang menahan amarahnya Allah akan menutup auratnya dan siapa yang menahan kemarahannya yang seandainya dia mau meluapkannya dia mampu meluapkannya, Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat.

Dan siapa yang berjalan bersama saudaranya dalam suatu keperluan hingga keperluan tersebut telah tertunaikan untuk saudaranya, Allah akan mengokohkan pijakan kakinya pada hari banyak telapak kaki itu tergelincir (saat meniti di atas Shiroth). [dan sesungguhnya akhlak yang buruk itu akan merusak amal sebagaimana cuka merusak madu.] [Hadits riwayat Ath-Thabrani di dalam Al-Ausath (6026) dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 906]

قال -عليه الصلاة والسلام-: (أَحَبُّ الْعبادِ إلى اللهِ, أَنْفَعُهُمْ لِعِيَالِهِ) (أخرجه أبو يعلى في مسنده، وحسنه الألباني).

Nabi ﷺ bersabda, ’Hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi keluarganya.”

[Hadits riwayat Abu Ya’la di dalam Musnadnya dan al-Albani menyatakannya sebagai hadits hasan]

Baca juga Khutbah Jum’at: Tanda-Tanda Husnul Khatimah

Faedah Hadits Manusia Paling Bermanfaat

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Ada sejumlah faedah atau pelajaran dari hadits tadi, yaitu:

  1. Hadits tersebut menjelaskan bahwa orang yang kemanfaatannya bisa menjangkau orang lain itu termasuk manusia terbaik dan manusia yang paling dicintai oleh Allah.

Ini merupakan kedudukan yang agung dan derajat yang tinggi sekali karena kecintaan Allah itu sesuatu yang agung. Allah Ta’ala bila mencintai seseorang maka penduduk langit dan bumi juga mencintainya.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda,

إذا أحب الله العبد، نادى جبريل، إن الله يحب فلانا فأحببه، فيحبه جبريل، فينادي جبريل في أهل السماء، إن الله يحب فلانا فأحبوه، فيحبه أهل السماء، ثم يوضع له القبول في الأرض

Apabila Allah mencintai seseorang, Allah memanggil Jibril,”Sesungguhnya Allah mencintai Fulan maka cintailah dia.” Maka Jibril mencintainya. Lalu Jibril menyeru kepada penduduk langit,”Sesungguhnya Allah mencintai Fulan maka cintailah dia.” Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian penduduk bumi pun memberikan penerimaan kepadanya.” [Muttafaq ‘alaih. Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim]

  1. Hadits tadi juga memberikan faedah bahwa termasuk amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang anda masukkan ke dalam hati seorang Muslim. Hal ini bisa berbeda-beda sesuai dengan keadaan dan individu.
  1. Sabda Nabi,” Dan aku berjalan bersama saudaraku dalam sebuah kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beri’tikaf di masjid ini – yakni Masjid Nabawi- selama satu bulan.” Ini mengisyaratkan bahwa berjalan dalam rangka memenuhi kebutuhan kaum muslimin dan memberikan manfaat kepada mereka serta memenuhi kebutuhan mereka itu pahalanya lebih besar bagi dirinya karena manfaat yang meluas itu lebih utama daripada manfaat yang terbatas.

Hal ini sebagaimana dalam hadits:

( و الله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه ) رواه الحاكم وصحح

Dan Allah senantiasa memberikan pertolongan kepada seorang hamba selama hamba tersebut memberikan pertolongan kepada saudaranya.” [Hadits riwayat Al-Hakim dan beliau menyatakannya sebagai hadits shahih.]

  1. Pada prinsipnya, seorang Muslim senantiasa berusaha memberikan manfaat kepada orang lain pada setiap perkara dunia maupun agama mereka.

Hal paling pertama dalam hal ini adalah menunjukkan kepada kaum muslimin apa saja yang akan membahagiakan mereka di akhirat dengan cara mengenalkan kepada mereka agama Islam dan berpegang teguh kepadanya.

Seperti yang terjadi pada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu ketika mendatangi Nabi ﷺ pada kali pertama. Di antara yang dikatakan Nabi ﷺ kepadanya adalah:

( فهل أنت مبلغ عني قومك ؟ عسى الله أن ينفعهم بك ويأجرك فيهم …) رواه مسلم

Apakah kamu akan menyampaikan dariku kepada kaummu? Mudah-mudahan Allah memberikan manfaat kepada mereka melalui dirimu dan memberikan pahala kepadamu karena mereka…” [Hadits riwayat Muslim]

Dengan demikian, pendidikan pertama yang dilakukan oleh Nabi ﷺ dalam Islam adalah pendidikan untuk berdakwah dan berkeinginan kuat untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

  1. Nabi ﷺ memberikan motivasi untuk memberikan manfaat kepada orang lain apa pun jenis dan macam dari manfaat yang bisa diberikan.

Dalam sebuah hadits dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dia berkata,’Dahulu pamanku (dari jalur ibu) pernah meruqyah seseorang yang tersengat kalajengking. Ketika Nabi ﷺ melarang ruqyah, dia menemuinya lalu berkata,”Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Anda telah melarang ruqyah. Dan sesungguhnya saya saat ini meruqyah seseorang karena (disengat) kalajengking.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda,

من استطاع أن ينفع أخاه فليفعل

Siapa saja yang mampu untuk memberi manfaat kepada saudaranya maka lakukan saja.” [Hadits riwayat Ahmad dan Al-Hakim]

Meskipun hal ini dalam masalah ruqyah, namun hukumnya bersifat umum dalam segala hal.

Buah Memberi Manfaat dan Bantuan Kepada Orang Lain

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Banyak nash-nash Syar’i yang memotivasi untuk saling bekerja sama, bersaudara, berbuat ma’ruf dan mengulurkan bantuan kepada yang membutuhkan. Di antara nash syar’i tersebut adalah firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu.

Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. [Al-Maidah: 2]

Memberikan manfaat dan pertolongan kepada orang lain itu memiliki buah dan pengaruh yang diperoleh individu pada khususnya dan masyarakat secara keseluruhan pada umumnya. Di antara buah dan pengaruh tersebut adalah:

  1. Menyebarkan keakraban dan cinta di antara manusia.
  2. Menghilangkan penyebab iri hati dan pemicu kedengkian dan kebencian dari jiwa manusia.
  3. Mewujudkan makna persaudaraan Islam dan manusia.
  4. Untuk mencapai cinta Allah Yang Maha Tingi, dan untuk mendapatkan keridhaan-Nya serta surga-Nya

Agar Bisa Menjadi Manusia Paling Bermanfaat

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Untuk menjadi orang yang mampu memberi manfaat itu tidak membutuhkan kemampuan khusus atau tingkat kecerdasan tertentu. Sesungguhnya pintu-pintu kebaikan itu banyak. Tidak ada sesuatu yang membatasinya.

Yang perlu dilakukan setiap orang hanyalah membulatkan tekad untuk melakukan kebaikan dan memberikan manfaat kepada orang lain. Nabi ﷺ telah menyebutkan secara garis besar pintu-pintu kebaikan ini dalam sabdanya,

على كل مسلم صدقة، فقالوا : يا نبي الله فمن لم يجد؟ قال : يعمل بيده فينفع نفسه ويتصدق، قالوا : فإن لم يجد ؟ قال : يعين ذا الحاجة الملهوف، قالوا : فإن لم يجد؟ قال : فليعمل بالمعروف وليمسك عن الشر، فإنها له صدقة ) متفق عليه.

Setiap Muslim wajib bersedekah.” Para sahabat kemudian bertanya,”Wahai Nabi Allah ! Bagaimana dengan orang yang tidak memiliki sesuatu untuk disedekahkan?” Rasulullah ﷺ menjawab,”Dia bekerja dengan usahanya sendiri sehingga bisa memberi manfaat untuk dirinya dan bersedekah.”

Para sahabat bertanya lagi,”Jika masih tidak mendapatkan sesuatu untuk disedekahkan?” Rasulullah ﷺ menjawab,”Membantu orang yang sangat butuh pertolongan yang memohon bantuan kepadamu.”

Para sahabat bertanya lagi,”Jika masih tidak mendapatkan hal itu?” Rasulullah ﷺ menjawab,”Hendaklah berbuat baik dan menahan diri dari berbuat buruk. Sesungguhnya hal itu merupakan sedekahnya.” [Muttafaq ‘alaihi. Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim]

( الملهوف ) Al-Malhuf adalah orang yang terzalimi dan orang yang sangat lemah dan sangat membutuhkan pertolongan yang meminta bantuan kepada anda.

Allah Senantiasa Menyertai Orang-Orang Yang Memberi Manfaat Kepada orang Lain

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,

Perlu dicatat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyertai hamba yang melayani hamba-Nya dan membantu orang lain, sehingga Allah akan mendukungnya, membimbingnya, membantunya, dan mengiringinya dalam setiap situasi.

Bukti terkuat yang menunjukkan hal ini adalah perkataan Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha kepada Nabi ﷺ ketika pulang dalam keadaan takut dan cemas setelah turunnya wahyu Allah melalui Jibril ‘alaihis salam kepada dirinya pada kali pertama di Gua Hira’.

Saat itu Khadijah radhiyallahu ‘anha menenangkannya dengan menegaskan bahwa kebaikan akhlaknya kepada manusia dan pergaulannya yang baik terhadap mereka serta pertolongannya kepada mereka itu akan menjadi sebab Allah tidak mungkin akan menelantarkannya.

Hal ini sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

قد خَشِيتُ عَلَى نفسي، فقالَتْ له: كَلَّا، أَبْشِرْ، فواللَّهِ لا يُخْزيك اللَّهُ أبدًا، إنك لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَصْدُقُ الحديثَ، وَتَحْمِلُ الكَلَّ، وَتَقْري الضيفَ، وَتُعينُ عَلَى نَوائبِ الحَقِّ…

Aku mengkhawatirkan kondisi diriku.” Maka Khadijah menjawab,”Jangan pernah khawatir terhadap dirimu. Bergembiralah. Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau suka menyambung silaturrahim, berkata jujur, memenuhi kebutuhan (orang-orang lemah dan yatim) menjamu tamu, dan membela kebenaran…”

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam Shahih Muslim (2699) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كاَنَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ

Siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang mukmin dari berbagai kesempitan dunia, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahan dari sekian kesulitan pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan (secara keuangan) niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat. Dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat. Allah senantia menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.”

Yang dimaksud dengan كُرْبَةً (kurbah) adalah kesedihan, kegundahan dan kesempitan. Sedangkan pertolongan seseorang kepada saudaranya itu bisa berupa harta, ilmu, nasehat, musyawarah dan berbagai bentuk bantuan lainnya.

Dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwa balasan itu sesuai dengan jenis amalan. Maka, siapa yang menolong akan ditolong, siapa yang menutupi saudaranya akan dibalas dengan Alllah menutupi dirinya.

Siapa yang menghilangkan suatu kesusahan akan dibalas dengan dihilangkannya kesusahannya. Siapa saja yang memudahkan orang lain Allah Ta’ala akan memudahkan segala urusannya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

الحمدلله على إحسانه و الشكر له على توفيقه و امتنانه، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه و أشهد أن محمدا عبده و رسوله الداعي إلى رضوانه. اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد.

Semangat Ulama Salaf Dalam Memberi Manfaat Kepada Orang Lain

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,

Membantu orang lain dan memberi manfaat kepada mereka sudah menjadi tabiat bawaan dari Rasulullah ﷺ. Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam hadits Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha saat menenangkan Nabi ﷺ saat pulang dari Hira’ setelah menerima wahyu untuk pertama kalinya.

Sifat semacam ini juga telah menjadi tabiat bawaan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu sama persis dengan karakteristik Nabi Muhammad ﷺ. Hal ini sebagaimana terlihat dalam komentar yang diberikan oleh Ibnu Daghinnah, salah seorang tokoh musyrik Quraisy yang melarang Abu Bakar untuk keluar dari Mekkah dan berjanji untuk melindunginya dari gangguan orang kafir Quraisy.

Waktu itu Ibnu Daghinah menyatakan bahwa orang seperti kamu ini tidak boleh keluar dan tidak boleh diusir. Alasan yang diungkapkannya sama persis dengan ungkapan Khadijah radhiyallahu ‘anha. Kisah ini terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari no. 3905.

Para ulama setelah itu yang mengikuti jejak salaf dengan baik juga memiliki perhatian yang besar dalam persoalan ini. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menceritakan tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah- rahimahullah yang merupakan gurunya, demikian:

كان شيخ الإسلام يسعى سعياً شديداً لقضاء حوائج الناس”

”Syaikhul Islam itu biasa berusaha sangat keras untuk memenuhi kebutuhan orang lain.”

Sedangkan Ali bin Al Husain rahimahullah biasa membawa roti (makanan pokok masyarakat saat itu) ke rumah-rumah orang miskin di saat gelap gulita di waktu malam. Ketika dia meninggal, orang-orang miskin tersebut kehilangan bantuan rutin tadi.

Sekelompok masyarakat di Madinah menjalani hidup tanpa mengetahui darimana mereka mendapatkan bantuan untuk kehidupan mereka. Saat Alin bin Al – Husain meninggal, mereka kehilangan bantuan makanan yang datang kepada mereka di malam hari.

Semoga sepenggal kisah ini bisa mendorong kita semua untuk berusaha menjadi orang yang senantiasa memiliki tekad dan semangat untuk berbuat baik, memberi manfaat dan menolong orang lain.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita semuanya dan seluruh kaum Muslimin kekuatan, taufik dan hidayah-Nya agar kita bisa melakukannya. Marilah kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Contoh Khutbah Jum’at Lengkap
– Kesalahan Khatib di atas mimbar

error: Content is protected !!