Kriteria Khatib Jumat, Sifat, Adab, & Kesalahan Yang Sering Terjadi

Kriteria Khatib Jumat – Khutbah merupakan salah satu syiar Islam. Khutbah memiliki peran penting dalam membentuk perilaku masyarakat dan mempengaruhi mereka dalam berbagai bidang kehidupan.

Khutbah memiliki peran yang menonjol dalam melayani dakwah kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ memberikan perhatian terhadap khutbah dalam rangka menyebarkan Islam dan menyampaikan risalah.

Bila demikian strategisnya posisi khutbah jum’at dalam Islam, maka khatib masjid sebagai pelaksana khutbah bukanlah orang sembarangan. Khatib merupakan orang-orang pilihan, imam masyarakat dan pembimbing mereka menuju kebaikan dunia dan akhirat.

Tulisan ini dibuat untuk menjelaskan tentang syarat-syarat seseorang bisa menjadi khatib, sifat-sifat khatib, adab-adab khatib, dan beberapa kesalahan yang terkadang dilakukan oleh seorang khatib.

Kriteria & Syarat Khatib Jumat

Syarat -syarat khatib Jumat menurut penjelasan Markaz Al-Fatwa yang berada di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih adalah sebagai berikut:i

  1. Muslim
  2. Berakal
  3. Laki-laki
  4. Memiliki ilmu dan bashirah.

Namun boleh juga khatib berkhutbah dengan mengambil dari buku terpercaya yang ditulis oleh orang berilmu dan memiliki bashirah, dengan suara yang bisa didengar oleh orang banyak atau melalui pengeras suara.

  1. Bukan ahli maksiat.

Bila seseorang dikenal suka bermaksiat maka semestinya tidak diangkat sebagai khatib. Semestinya yang ditunjuk sebagai khatib adalah orang yang bukan ahli maksiat, suka berbuat baik dan memiliki keutamaan.

Seyogyanya pihak – pihak yang berwenang tidak mengangkat seorang khatib kecuali orang yang memiliki keutamaan, memiliki sifat ‘adalah (bukan ahli maksiat) dan istiqamah.

Namun, andaikan ditentukan bahwa seseorang itu pelaku maksiat dan menjadi imam shalat bagi manusia maka shalat mereka itu sah berdasarkan pendapat yang benar selama dia seorang muslim. Jadi maksiat tidak membatalkan shalatnya dan shalatnya orang yang shalat di belakangnya (makmumnya) baik shalat Jumat maupun shalat jamaah.

Sedangkan berdasarkan fatwa Dr. Ahmad Thaha Rayyan, Dosen Al-Fiqih Al-Muqaran (Fikih Perbandingan) di Universitas Al-Azhar, di antara syarat terpenting yang harus dipenuhi oleh seorang khatib adalah :

  1. Memiliki ilmu tentang hukum-hukum shalat sehingga mampu melakukan perbaikan bila terjadi kesalahan dalam shalat dan menyempurnakan kekurangan yang terjadi.
  1. Memiliki hafalan yang kuat dalam jumlah tertentu dari al quran al karim sebagai sarana untuk menjadi imam bagi orang banyak. Meskipun yang paling utama adalah yang paling banyak hafalan al qurannya berdasarkan sabda Nabi ﷺ ,”Orang yang paling berhak sebagai imam (shalat) adalah yang paling menguasai kitab Allah Ta’ala (maksudnya yang paling banyak jumlah hafalannya atau yang paling bagus bacaannya, pent.ii.”
  1. Dikenal oleh penduduk di daerah tempat dia berkhutbah sebagai orang yang istiqamah dan lurus jalan hidupnya, sehingga dia bisa menjadi teladan yang baik bagi orang-orang yang menjadi pendengar khutbahnya dan mengimami shalat mereka.

Manusia secara umum melihat kepada perilaku para ahli ilmu dan perbuatan mereka sebelum melihat kepada perkataan dan ucapan mereka.iii

Sifat-Sifat Khatib Jumat

Khatib memiliki peran besar dan pengaruh kuat di masyarakatnya dan para pendengarnya. Dia seperti seorang pendidik dan pengajar, penegak disiplin syariat dan seorang pembimbing.

Tugas khatib itu merupakan tugas yang berat dan besar yang mengharuskan dirinya untuk menyiapkan persiapan yang memadai , memiliki pemikiran yang lurus dan piawai dalam melaksanakannya.iv

Sifat khathib terbagi menjadi dua, yaitu sifat yang berkaitan dengan pribadinya dan sifat yang berkaitan dengan penampilan sang khatib.v

– Sifat Khatib yang berkaitan dengan pribadi khatib

Sifat khatib yang berkaitan dengan pribadi khatib terbagi menjadi dua:

  • Sebelum khutbah
  1. Kecenderungan alami (modal utama khutbah adalah sifat bawaan dan pilarnya adalah latihan)
  2. Artikulasi yang jelas dan kefasihan lisan
  3. Bekal ilmu pengetahuan
  4. Kepribadian yang kuat
  5. Akhlak yang baik
  6. Ikhlas dan yakin dengan apa yang anda katakan
  • Saat menyampaikan khutbah
  1. Pidato yang baik (kenyaringan dan suara yang bagus, keseimbangan aksen, pengucapan yang baik, berdiri pada posisi yang baik.)
  2. Cepat berimprovisasi
  3. Antusiasme dan gairah yang membara.
  4. Ketenangan dan kekuatan hati

– Sifat khathib yang berkaitan dengan penampilan khatib

  1. Kewibawaan khatib dalam pakaiannya, dan keindahan penampilannya.
  2. Ada jeda saat pelaksanaan khutbah.
  3. Isyarat yang baik dan gerakan yang seimbang.

Adab Khatib Jumat

Adab-adab khatib menurut Syaikh Abdurrahman al-Ahmad dalam kitabnya Al-Bayan Az-Zahir ila Fursanil Manabir adalah sebagai berikut:vi

1. Ikhlas

Khatib menujukan dakwah dan khutbahnya hanya untuk mengharap ridha Allah semata bukan yang lain. Dia tidak bermaksud untuk mendapatkan pengaruh, kemasyhuran dan popularitas.

Dakwah dan khutbah itu ibadah. Bahkan keduanya termasuk amal yang paling besar untuk mendekatkan diri kepada ‘Allah Azza wa Jalla. Oleh karenanya, harus terpenuhi dua syarat diterimanya amal ibadah, yaitu ikhlas dan mengikuti sunnah.

Bukan kata-kata yang kosong dan tidak ikhlas. Kata-kata semacam ini tidak akan berpengaruh kepada seorang pun, tidak menggerakkan orang yang diam dan keluar dari lisan dalam keadaan mati.

Sesungguhnya musibah besar dan bencana yang membahayakan itu ada pada kurangnya keikhlasan. Hukumannya ada dalam kehidupan di akhirat nanti. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:

أول ثلاثة تسعر بهم النار يوم القيامة رجل تعلم العلم وعلمه ليقال عالم

(Ada) Tiga golongan manusia yang pertama kali dibakar api neraka pada hari kiamat. Seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya dengan tujuan agar disebut sebagai orang yang berpengetahuan luas (‘alim)…”

Ketika ikhlas sirna dan mencari ridha manusia serta sanjungan mereka, maka yang menggerakkan sang khatib adalah keinginan-keinginan manusia. Pilihan-pilihan tema khutbahnya dan penyajiannya sesuai dengan kadar untuk mewujudkan hal itu.

Hendaknya seorang khatib waspada terhadap penyakit mematikan ini. Perlu diketahui bahwa keikhlasan dan kesukaan terhada pujian dan ambisi terhadap keridhaan manusia itu tidak akan bisa bersatu dalam hati seseorang selama-lamanya, kecuali sebagaimana berkumpulnya antara air dan api.

Oleh karena itu, siapa yang menginginkan keikhlasan, maka sembelihlah rasa tamak terhadap keridhaan manusia itu dengan pisau putus asa terhadap mereka dan sembelihlah rasa cinta kepada pujian dengan pisau zuhud dan tamak terhadap akhirat . Saat itulah terwujud keikhlasan.

2. Teladan batin (al-qudwah al-bathinah)

Yang kami maksud dengan teladan batin adalah kesesuaian perbuatan dengan perkataan dan amal membenarkan kata-kata. Malik bin DInar berkata,

إن العالم إذا لم يعمل بعلمه زلت موعظته عن القلوب كما يزل القطر عن الصفا

”Sesungguhnya orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya, nasehatnya tidak akan meresap ke dalam hati sebagaimana tetes air hujan tidak bisa meresap ke gunung batu.”

Hal ini karena ungkapan dengan perbuatan itu lebih kuat dan lebih berpengaruh dalam hati seseorang daripada ungkapan lisan. Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman:

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ

”Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” [Ash-Shaf: 3]

Seorang khatib semestinya memiliki perjalanan hidup yang lurus, terpuji dan tidak tergiur dengan dunia dan berbagai tingkatannya, bersabar terhadap bencana-bencana dunia dan dinamikanya, merasa di awasi oleh Allah di saat sendirian maupun di hadapan banyak orang.

Dia ridha terhadap kondisi sulit dan lapang, memanfaatkan vitalitas hidupnya dan memperhatikan kekurangan-kekurangannya, senantiasa mengamalkan apa yang diperintahkan terhadap dirinya, mencintai orang-orang yang taat kepada Allah dan membenci orang-orang yang menyelisihi Allah Ta’ala.

Dia bersikap waspada terhadap kemewahan dan perhiasan dunia ini, tidak cenderung kepada hamba dunia dan syahwatnya, tidak suka dengan ketinggian dunia dan popularitasnya, menjalankan kewajiban-kewajiban dari Allah dan ketentuan-ketentuan-Nya.

Dia menjauhi larangan-larangan-Nya dan batas-batas-Nya, senantiasa menghadap kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya dan tidak peduli dengan celaan para pencela selama di jalan Allah.

3. Santun dan lapang dada

Kesempurnaan ilmu itu ada pada sikap santun. Ungkapan yang lembut adalah pembuka hati. Seorang khatib akan mampu untuk mengobati penyakit-penyakit jiwa dengan ketenangan jiwanya dan ketentraman hatinya serta kelapangan dadanya.

Namun bila amarahnya mudah tersulut dan sikap pandir seseorang bisa memprovokasinya, maka hati manusia akan berlari darinya dan jiwa-jiwa mereka akan berpaling dari dirinya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang hamba-Nya yang terbaik dan penutup para rasul-Nya ﷺ:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” [Ali Imran: 159]

4. Tawadhu’

Seorang dai kepada Allah dan khatib yang membimbing manusia adalah orang yang paling butuh kepada sikap tawadhu’ dibanding yang lainnya.

Manusia tidak akan menerima orang-orang yang merasa superior terhadap mereka, meremehkan mereka, mengecilkan mereka dan bersikap takabur kepada mereka meskipun apa yang dia katakan itu haq dan benar.

Salah satu sifat dasar manusia adalah mereka tidak menyukai orang yang banyak bicara tentang dirinya sendiri, banyak memuji diri sendiri dan banyak berkata: saya… saya…

Demikian pula, masyarakat tidak menerima orang-orang yang hidup di menara gading yang melihat manusia dan kepentingan mereka dari ketinggian, menolak untuk berhubungan dekat dengan mereka dan hidup terisolasi dari mereka.

Akibatnya, tidak ada saling mengunjungi atau bertemu, jauh dari tembok masjid. Orang-orang mengharapkan kejujuran dai dan khatib, kasih sayangnya dan kerendahan hatinya.

Pada dasarnya, tawadhu’ itu dikatakan kepada orang-orang yang memiliki kebesaran yang memang secara hakiki mereka itu orang besar. Adapun kita, maka dikatakan kepada masing-masing diri kita: ketahuilah kadar (kapasitas) dirimu sendiri.

Seseorang itu hanya akan memandang dirinya tinggi, menyombongkan diri dan takjub terhadap dirinya sendiri jika dia tidak mengetahui hakikat dirinya dan tidak mengenal kekuasaan Rabb-nya.

Terkadang kesombongan dan ujub itu menyusup ke dalam hati para dai dan khatib karena mereka melihat orang-orang memperhatikan mereka, mendengarkan mereka dan berkerumun di sekitar mereka.

Mereka itu berada dalam bahaya besar di dunia sebelum di akhirat. Sebagian ulama salaf berkata,

من تكبر بعلمه وترفع وضعه الله به ومن تواضع بعلمه رفعه الله به

”Siapa yang takabur dan merasa tinggi dengan ilmunya, Allah akan merendahkannya dengan ilmunya tersebut. Dan barang siapa merendahkan diri dengan ilmunya, Allah akan meninggikannya dengan ilmunya tersebut.”

Dalam sebuah hadits disebutkan:

من تواضع لله رفعه

Siapa yang bersikap tawadhu’ karena Allah, maka Allah akan meninggikannya.”

Mafhum (makna implisit) dari hadits ini berarti orang yang takabur akan direndahkan oleh Allah.

Nabi ﷺ bersabda,

لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر

Orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat dzarrahvii (bagian terkecil dari suatu unsur,pent) tidak akan masuk ke dalam surga.”

Harus dipahami perbedaan antara tawadhu’ yang terpuji dengan kehinaan dan kerendahan. Betapa indahnya ucapan Ibnul Mubarok rahimahullah mengenail hal itu, saat dia mengatakan,

أساس التواضع أن تضع نفسك عند من دونك في نعمة الدنيا حتى تعلمه أنه ليس لك عليه بدنياك فضل، وأن ترفع نفسك عمن هو فوقك في الدنيا حتى تعلمه أن ليس له بدنياه عليك فضل.

”Asas dari tawadhu’ adalah anda merendahkan diri anda kepada orang-orang yang berada di bawah anda dalam masalah nikmat dunia, hingga anda membuat dirinya mengerti bahwa anda dengan kenikmatan dunia yang anda miliki, tidak memiliki kelebihan atas dirinya.

Juga, anda mengangkat diri anda terhadap orang-orang yang secara duniawi di atas diri anda, hingga anda membuat dirinya mengerti bahwa dia, dengan nikmat duniawinya itu, tidak memiliki kelebihan apa pun atas diri anda.”

5. Mampu mengendalikan diri dan tangguh

Berbicara di depan umum adalah posisi yang berbahaya, karena sang khatib rentan terhadap berbagai kesulitan dan hal-hal yang tidak disukai.

Terkadang dia akan menemui halangan atau penolakan, dan mungkin olok-olokan dan pelecehan. Obat dari semua itu adalah kesabaran dan ketahanan.

6. Qana’ah, ‘iffah dan tidak berharap kepada manusia.

Sejauh mana ulama, dai dan khatib bersikap qana’ahviii terhadap dunia dan mengecilkan nilai dunia maka sejauh itu pula kadar kedudukan mereka dalam hati manusia, berkumpulnya mereka di sekelilingnya dan ketundukan manusia kepada mereka.

Sejauh mana kadar ketergantungan para ulama, dai dan khatib kepada dunia, maka sejauh itu pula kadar tidak tertariknya manusia kepada mereka, menjauhnya manusia dari mereka dan perginya manusia dari mereka.

Sufyan Ats Tsauri berkata,

العالم طبيب هذه الأمة، والمال داؤها، فإذا كان يجر الداء إلى نفسه فكيف يعالج غيره؟

”Orang berilmu itu dokter umat ini sedangkan harta itu penyakit umat ini. Apabila penyakit itu berlari menuju dirinya sendiri lantas bagaimana dia akan mengobati yang lain?”

Qana’ah , ‘iffah (memelihara diri dari hal yang tidak halal baik perkataan atau perbuatan) dan merasa tidak butuh kepada manusia merupakan kemuliaan seorang dai dan khatib.

Al – Hasan Al – Bashri rahimahullah berkata,

لا يزال الرجل كريماً على الناس حتى يطمع في دينارهم، فإذا فعل ذلك استخفوا به، وكرهوا حديثه وأبغضوه.

”Seseorang akan senantiasa dalam keadaan mulia di hadapan manusia sampai dia merasa tamak terhadap dinar (mata uang saat itu) mereka. Apabila dia melakukan hal itu, maka orang-orang akan meremehkannya, tidak suka omongannya dan sangat membencinya.”

Ditanyakan kepada penduduk kota Bashrah, siapakah tuan kalian? Mereka menjawab,”Al-Hasan.” Lalu ditanyakan,”Dengan apa dia menguasai kalian?” Mereka menjawab,”Orang-orang butuh ilmunya sementara dia tidak butuh kepada dinar mereka.”

Dalam sebuah hadits disebutkan,

ازهد فيما عند الناس يحبك الناس

”Bersikap zuhudlah kepada apa yang dimiliki oleh manusia niscaya mereka akan mencintaimu.”

7. Wara’ (memelihara diri dari perkara haram) dan menjaga diri dari syubhat.

Menjauh dari tempat-tempat yang meragukan dan jalur-jalur yang mengundang kecurigaan. Hal itu akan lebih membebaskan dari tanggungan para dai dan khatib, lebih menyelamatkan kehormatannya, lebih ringan bagi manusia untuk menerimanya dan lebih menarik hati manusia untuk tunduk kepadanya.

Karena keadaan seorang dai lebih besar pengaruhnya terhadap hati manusia daripada kata-katanya.

Demikianlah dahulu Nabi ﷺ, para sahabatnya dan para imam petunjuk. Buku-buku biografi dan sejarah telah memberikan contoh-contoh yang mengagumkan tentang sikap wara’ As-Salaf Ash-Shalih. Gambaran yang ada lebih dekat kepada khayalan seandainya riwayat itu tidak benar.

Inilah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah. Suatu kali ada minyak wangi yang sedang ditimbang di hadapannya milik kaum Muslimin. Lantas dia menutupi hidungnya sehingga bau minyak wangi itu tidak tercium oleh hidungnya lalu berkata,” Manfaat yang diambil dari minyak wangi itu hanyalah berupa baunya.”

Dia berkata seperti itu karena untuk menjauhkan hal itu dari dirinya. Ini sikap wara’ nya Umar bin Abdul Aziz rahimahullah. Contoh lain. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah memiliki kambing.

Suatu kali kambingnya memakan makanan hewan sedikit saja kepunyaan sebagian dari para pemimpin wilayah (amir). Maka dia tidak meminum susu kambing tersebut semenjak itu.

Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah berkata,

لأن أردّ درهماً من شبهة؛ خير من أن أتصدق بمئة ألف ومئة ألف ومئة ألف.

”Aku menolak uang satu dirham (mata uang saat itu) yang berasal dari syubhat, itu lebih baik daripada aku bersedekah sebesar 300 ribu dirham.”

Tentang perkara menjauhi tempat-tempat yang diragukan dan jalur-jalur menuju ke arah munculnya tuduhan maka itu hal yang wajib dilakukan. Hal ini karena orang yang melakukannya tidak akan aman dari buruk sangka orang terhadap dirinya. Dia bisa jatuh dalam pandangan orang banyak. Akibatnya, nasehat dan petuahnya tidak bermanfaat.

Inilah Rasul kita ﷺ yang ma’shum. Tidak akan ada seorang muslim pun yang berburuk sangka kepada dirinya selama-lamanya.

Saat beliau melihat ada dua orang sahabat yang melihat dirinya bersama istrinya (berjalan dalam kegelapan malam dari masjid ke rumah, pent), beliau berkata kepada mereka berdua,”Wanita ini Shafiyah.”

Perkataan beliau itu terasa berat dalam hati dua sahabat tersebut. Lantas Rasulullah ﷺ bersabda.

إن الشيطان يجري من ابن آدم مجرى الدم في الجسد وإني خشيت أن يدخل عليكما

”Sesungguhnya setan itu menyusup di tubuh anak Adam di tempat mengalirnya darah (pembuluh darah), dan aku khawatir setan akan memasuki kalian berdua (dengan membisikkan persangkaan buruk, pent).”

8. Tekad yang kuat.

Semestinya para khatib menjadi orang-orang yang besar tekadnya, tinggi jiwanya, melambung tinggi menjauhi dunia dan hal-hal yang rendah yang menjadikan kecilnya apa pun yang berada di bawah perkara-perkara tinggi yang menjadi penghujungnya.

Khatib semacam ini, dengan tekad dan perhatiannya, akan meninggikan masyarakatnya. Masyarakat tersebut akan mencelup dirinya dengan celupan agama sang khatib dan berakhlak dengan akhlaknya.

Tekad para sahabat yang sedemikian besar dalam berpegang teguh kepada agama adalah karena terpengaruh dengan tekad Nabi ﷺ dan ketinggian jiwanya yang mulia, sehingga para pemberani dari kalangan sahabat adalah orang-orang yang dekat dengan beliau ﷺ di medan perang.

9. Berpenampilan yang baik.

Seorang khatib itu diharapkan tampilannya itu bekerja pada hati sebagaimana perkataan itu bekerja pada pendengaran. Jadi dia harus mempersiapkan diri sebelum khutbah dengan bersuci, pakai minyak rambut, minyak wangi, mandi, dan berhias sesuai dengan persyaratan Syariah dalam semua itu.

Imam Al-Mawardi berkata,”Dianjurkan bagi seorang imam untuk berpenampilan yang baik dan menggunakan baju yang indah lebih dari dianjurkannya para makmum untuk mengikutinya.”

Imam An-Nawawi berkata,”Seorang imam lebih dianjurkan daripada dianjurkannya selain imam untuk berpenampilan yang indah dan lainnya,”

Tetapi hendaknya seorang khatib tidak berlebihan dalam masalah pakaian dengan dalih kehormatan dan martabat, karena sering kali hal itu memunculkan jurang pemisah antara dirinya dan umat, terutama jika mereka adalah orang-orang dari kalangan masyarakat biasa.

Perkara yang terbaik adalah yang pertengahan (moderat/sedang) dan petunjuk terbaik adalah petunjuk Muhammad ﷺ.

10. Khidmat dan tenang.

Caranya adalah dengan menahan diri dari terlalu banyak bicara, banyak berisyarat dan bergerak dalam hal-hal yang tidak memerlukan gerakan, menjaga diri dari biasa berolok-olok dan melakukan hal-hal yang dijauhi oleh akal sehat dan ditolak manusia berdasarkan kebiasaan secara umum.

Kemudian, mengendalikan lidah dari hal-hal yang tidak senonoh, pengkhianatan, hal-hal yang menjijikkan dan senda gurau yang dungu. Tidak ada martabat bagi orang yang berlebihan dan tidak ada kebesaran bagi orang yang melampaui batas dalam bersenda gurau dan melakukan hal-hal yang tidak senonoh dalam bercanda.

Hendaknya seorang khatib menjauhi nongkrong di pasar-pasar dan di pinggir jalan tanpa ada kebutuhan yang mendesak, karena banyak melakukan hal tersebut akan mengurangi martabatnya.

Akan tetapi harus waspada terhadap campur aduk antara sikap khidmat dan tenang dengan sikap sombong dan ujub terhadap diri sendiri, serta merasa superior atas yang lain.

Tujuan dari pembahasan kami bukanlah menjadikan seorang khatib itu sebagai pribadi yang terlempar ke dunia khayalan yang tidak bisa bergaul dengan mudah dengan orang lain atau tidak mudah untuk diajak berinteraksi dan tidak ada seorang pun yang berani menyapanya atau berbicara dengannya.

Inilah Rasul kita ﷺ, orang yang paling khidmat, tenang, terhormat dan paling berwibawa dalam jiwa para shahabatnya. Dahulu, umat Islam biasa mendatanginya, menggandeng tangannya, kemudian beliau menyertai umat hingga menyelesaikan kebutuhan mereka.

11. Menjaga sunnah

Menjaga sunnah adalah dengan mengikuti sunnah secara lahir dan batin. Hal ini akan lebih menarik hati masyarakat untuk lebih menerima apa yang khatib serukan berupa mengikuti perintah Rasulullah ﷺ, dan sunnahnya serta syariatnya.

Baca juga: Pembukaan Khutbah Sesuai Sunnah

8 Kesalahan Khatib Jumat

Ada beberapa kesalahan yang dilakukan oleh khatib yang bisa merusak tujuan dari khutbah yang harus dihindari oleh seorang khatib, yaitu:ix

  1. Bertele-tele dan membosankan dan melantur dalam khutbah dan mengumpulkan lebih dari satu tema dalam satu khutbah. Jadi bertele-tele adalah jalan menuju kebosanan yang mencegah efektifitas, penguasaan dan pemahaman.
  1. Cacian, ucapan kasar dan tuduhan yang ditujukan kepada pendengar atau orang-orang tertentu.
  1. Kesalahan tata bahasa dalam berbicara dan menggunakan aksen sehari-hari (tidak menggunakan bahasa resmi), atau memaksakan diri untuk bersajak.
  1. Serampangan dalam perkataan dan memfasih-fasihkan diri dalam berbicara.
  1. Membahas secara mendalam hal-hal yang tidak akan berfaedah buat masyarakat, dan tidak ada masalahatnya berbicara tentang hal tersebut.
  1. Terburu-buru dalam penyampaian. Pengucapan yang cepat dan tergesa-gesa akan menyebabkan para pendengar kehilangan jejak (saat menyimak ceramah), sehingga ceramah tersebut bercampur aduk satu sama lain dan ungkapan-ungkapan menjadi tidak jelas sebagiannya.
  1. Membahas apa yang tidak dia ketahui. Ha ini adalah tempat kebingungan, sehingga wibawa dan martabat hilang dan orang-orang lari menjauh darinya.
  1. Berbicara kepada orang-orang dengan apa yang tidak mereka ketahui, dan tenggelam ke dalam cabang-cabangnya, perbedaan-perbedaan madzhabiyah, aliran pemikiran, dan rincian ilmu dan pengetahuan.

Demikian tadi uraian tentang syarat-syarat, sifat-sifat, adab-aab dan sebagian kesalahan yang terkadang dilakukan oleh khatib Jumat. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Bila ada kebenaran dalam tulsan ini maka itu karena rahmat Allah semata dan bila ada kesaahan dan penyimpangan maka itu dari kami dan dari setan. Semoga Allah berkenan mengampuni kesalahan-kesalahan kami.

Referensi Tulisan:

i https://www.islamweb.net/ar/fatwa/180121/

ii https://islamqa.info/ar/

iii https://fatwa.islamonline.net/9085

iv Khuthbatul Jumu’ah wa masuliyatul khathib, Majlis Dakwah wal Irsyad, hal 16.

v https://islamsyria.com/site/show_articles/12985

vi Al-Bayan Az-Zahir ila Fursanil Manabir, Syaikh Abdurrahman al-Ahmad, Markaz As-Sa’id, 2006, cetakan kedua, hal. 38- 46.

vii https://www.almaany.com/ar/dict/ar-ar/%D8%B0%D8%B1%D8%A9/

viii Secara bahasa qanaah berarti ridha terhadap pemberian yang sedikit. Sedangkan secara istilah berarti keridhaan seseorang terhadap pemberian Allah kepada dirinya dan tidak memperhatikan apa yang dimiliki orang lain yang melebihi dirinya. Lihat: https://mawdoo3.com/

ix Khuthbatul Jumu’ah wa masuliyatul khathib, Majlis Dakwah wal Irsyad, hal 18.

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
Hukum Khutbah Jum’at Menurut Para Ulama
Urutan Khutbah Sesuai Sunnah Nabi
Rukun Khutbah Menurut Madzhab Syafii
50 Panduan Sukses Khutbah Bagi Da’i
Tips Mencari Ide Khutbah Jum’at
Sunnah Yang Harus Diperhatikan Dalam Khutbah

Print Friendly, PDF & Email