Ayat dan Hadits Tentang Kompetisi Dalam Kebaikan

Hadits Tentang Kompetisi Dalam Kebaikan – Tulisan berikut ini menjelaskan tentang hadits-hadits Nabi ﷺ yang menghasung umatnya untuk bersegera dalam beramal. Tentu bukan semua hadits terkait hal ini karena sangatlah banyak. Juga diberikan syarah atau penjelasannya dari sumber-sumber yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Umur setiap umat Nabi Muhammad ﷺ sangatlah pendek dibandingkan dengan umur umat sebelum Nabi muhammad ﷺ . Nabi ﷺ – dalam sebuah hadits- mengatakan usia umatnya antara 60 sampai 70 tahun hanya sedikit yang lebih dari itu.

Mengingat hal ini beliau dalam banyak kesempatan menghasung umatnya untuk bersegera dalam melakukan amal shalih dan jangan bermalasan atau menunda-nunda. Sebab banyak hal bisa menghalangi seseorang dari melakukan amal shalih.

Misalnya saja terjadinya huru-hara, banyaknya kesibukan, datangnya tanda-tanda besar kiamat atau bahkan datangnya ajal seseorang tanpa pernah diduga.

Ayat Tentang Kompetisi Bersegera Dalam Kebaikan

Ayat Tentang Kompetisi Bersegera Dalam Kebaikan
Ayat Tentang Kompetisi Bersegera Dalam Kebaikan

Berikut ini sejumlah ayat yang menghasung orang-orang beriman untuk bersegera dalam kebaikan:[i]

1. Ayat Bersegera dalam Kebaikan Al-Maidah: 48

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

”Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.

Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.

Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.

Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.”

2. Ayat Bersegera dalam Kebaikan Al-Anbiya’: 89-90

Allah Ta’ala berfirman,

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

89. Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.

90. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.

3. Ayat Bersegera dalam Kebaikan Al-Mukminun: 57-61

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ

وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ

وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

57. Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka,

58. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka,

59. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apa pun),

60. Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,

61. mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.

4. Ayat Bersegera dalam Kebaikan Fathir: 32

Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

32. Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.

5. Ayat Bersegera dalam Kebaikan Al-Hadid: 21

Allah Ta’ala berirman,

سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

21. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

6. Ayat Berkompetisi dalam Kebaikan Al-Muthaffifin: 22-26

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ

عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ

تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ

يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍ

خِتَامُهُ مِسْكٌ ۚ وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

22. Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga),

23. mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.

24. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan.

25. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya),

26. laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.

Kandungan dan Aplikasi Ayat Kompetisi Dalam Kebaikan

Gambaran praktis berlomba atau bersegera dalam kebaikan berdasarkan kajian terhadap tafsir ayat-ayat di atas dalam tafsir Ibnu Katsir secara ringkas adalah sebagai berikut:

  1. Mengikuti syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu syariat Islam.
  2. Membenarkan kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Al-Quran Al-Karim.
  3. Mentaati Allah Subnahu Wa Ta’ala.
  4. Bersegera dalam mengerjakan amal-amal taqarrub dan amal ketaatan.
  5. Beriman dan beramal shalih namun tetap takut murka Allah.
  6. Beriman kepada ayat kauniyah dan syar’iyyah.
  7. Tidak berbuat kemusyrikan dalam bentuk apa pun.
  8. Suka memberi kepada orang lain dengan suatu pemberian namun masih terselip adanya perasaan khawatir amalan tersebut tidak diterima Allah Ta’ala karena kurang memenuhi persyaratan.
  9. Melakukan berbagai perintah yang wajib.
  10. Meninggalkan segala yang haram.
  11. Meninggalkan yang makruh dan sebagian yang mubah.
  12. Mengerjakan ketaatan dan meninggalkan larangan yang dapat menghapus dosa dan mendapatkan pahala serta derajat yang tinggi. Wallahu a’lam.

Hadits-Hadits Tentang Kompetisi Dalam Kebaikan

Hadits Tentang Kompetisi Dalam Kebaikan Ibnu Majah dan Artinya
Hadits Tentang Kompetisi Dalam Kebaikan

Berikut ini sebagian hadits yang menghasung kaum Muslimin untuk bersegera dalam beramal. Tidaksemua hadits terkait ditampilkan karena jumlahnya sangat banyak.

Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad saja dalam masalah ini ada 14 buah hadits. Muatannya berdekatan satu sama lain. Oleh karenanya, hanya diambil sebagian saja sebagai perwakilan dari hadits-hadits dalam masalah ini.

1. Hadits Tentang Kompetisi Dalam Kebaikan Riwayat Muslim

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,”Segeralah beramal sebelum datang berbagai fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan suatu bagian dari dunia ini.”

[Hadits shahih riwayat Muslim di dalam Shahih Muslim no. 118]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سِتًّا طُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا أَوْ الدُّخَانَ أَوْ الدَّجَّالَ أَوْ الدَّابَّةَ أَوْ خَاصَّةَ أَحَدِكُمْ أَوْ أَمْرَ الْعَامَّةِ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, ”Segeralah beramal sebelum (datang) enam (perkara): terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, atau dukhan (asap/kabut), atau Dajjal, atau Daabbah ( binatang yang muncul dari bumi), kekhususan salah seorang dari kalian (kematian) atau urusan umum (kiamat).”

[Hadits shahih riwayat Muslim di dalam Shahih Muslim no.2947]

2. Hadits Tentang Bersegera Dalam Kebaikan Riwayat Ibnu Majah

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا وَبَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ قَبْلَ أَنْ تُشْغَلُوا وَصِلُوا الَّذِي بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ رَبِّكُمْ بِكَثْرَةِ ذِكْرِكُمْ لَهُ وَكَثْرَةِ الصَّدَقَةِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ تُرْزَقُوا وَتُنْصَرُوا وَتُجْبَرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ قَدْ افْتَرَضَ عَلَيْكُمْ الْجُمُعَةَ فِي مَقَامِي هَذَا فِي يَوْمِي هَذَا فِي شَهْرِي هَذَا مِنْ عَامِي هَذَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ تَرَكَهَا فِي حَيَاتِي أَوْ بَعْدِي وَلَهُ إِمَامٌ عَادِلٌ أَوْ جَائِرٌ اسْتِخْفَافًا بِهَا أَوْ جُحُودًا لَهَا فَلَا جَمَعَ اللَّهُ لَهُ شَمْلَهُ وَلَا بَارَكَ لَهُ فِي أَمْرِهِ أَلَا وَلَا صَلَاةَ لَهُ وَلَا زَكَاةَ لَهُ وَلَا حَجَّ لَهُ وَلَا صَوْمَ لَهُ وَلَا بِرَّ لَهُ حَتَّى يَتُوبَ فَمَنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَلَا لَا تَؤُمَّنَّ امْرَأَةٌ رَجُلًا وَلَا يَؤُمَّ أَعْرَابِيٌّ مُهَاجِرًا وَلَا يَؤُمَّ فَاجِرٌ مُؤْمِنًا إِلَّا أَنْ يَقْهَرَهُ بِسُلْطَانٍ يَخَافُ سَيْفَهُ وَسَوْطَهُ

Dari Jabir bin Abdullah ia berkata, ”Rasulullah ﷺ berkhutbah di hadapan kami, beliau bersabda, “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah sebelum kalian mati, bersegeralah beramal shalih sebelum kalian sibuk.

Dan sambunglah (hubungan) antara kalian dengan Rabb kalian dengan memperbanyak dzikir kepada-Nya, banyak sedekah dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, niscaya kalian akan diberi rizki, ditolong dan dicukupi.

Ketahuilah, sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kalian shalat jum’at di tempat berdiriku ini, di hariku ini, di bulanku ini dan di tahunku ini hingga hari kiamat.

Siapa saja meninggalkannya di waktu hidupku atau setelahku, dan dia memiliki imam adil atau fajir (tiran), kemudian meremehkan atau menolaknya, maka Allah tidak akan menyatukan urusannya dan urusannya tidak akan diberkahi.

Ketahuilah, tidak ada shalat, tidak ada zakat, tidak ada haji, tidak ada puasa, dan tidak ada kebaikan baginya hingga ia bertaubat. Maka siapa saja bertaubat, Allah akan menerima taubatnya.

Ketahuilah, tidak boleh seorang perempuan mengimami laki-laki, orang badui mengimami seorang muhajir dan tidak boleh orang fajir mengimami seorang mukmin, kecuali jika ia memaksanya dengan kekuasaan yang ditakuti pedang dan cambuknya. “

[Hadits riwayat Ibnu Majah no. 1071]

Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini dha’if di dalam kitabnya Dha’if At-Targhib no. 444.[ii]

 بادروا بالأعمالِ ستًّا طلوعَ الشَّمسِ من مغربِها والدُّخانَ ودابَّةَ الأرضِ والدَّجَّالَ وخويصَّةَ أحدِكم وأمرَ العامَّة

”Bersegeralah untuk beramal sebelum datangnya enam perkara: terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, dukhan (asap/kabut), binatang melata yang keluar dari bumi, dajjal, hal-hal yang khusus terkait salah seorang dari kalian dan perkara umum (hari kiamat).”

[Hadits riwayat Ibnu Majah (4056). Syaikh Al-Albani menyatakannya sebagai hadits hasan shahih di dalam kitabnya Shahih Ibni Majah no. 3295]

3. Hadits Bersegera dalam Kebaikan Riwayat Tirmidzi

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سَبْعًا هَلْ تَنْتَظِرُونَ إِلَّا فَقْرًا مُنْسِيًا أَوْ غِنًى مُطْغِيًا أَوْ مَرَضًا مُفْسِدًا أَوْ هَرَمًا مُفَنِّدًا أَوْ مَوْتًا مُجْهِزًا أَوْ الدَّجَّالَ فَشَرُّ غَائِبٍ يُنْتَظَرُ أَوْ السَّاعَةَ فَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ .قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda, ”Segeralah beramal (sebelum datang) tujuh (perkara), apakah kalian menunggu selain kefakiran yang membuat lupa, atau kekayaan yang melampaui batas, atau penyakit yang merusak, atau masa tua yang tak terhindarkan, atau kematian yang menyergap tiba-tiba, atau Dajjal, seburuk-buruk hal gaib yang dinanti-nanti atau kiamat dan kiamat itu lebih menghancurkan dan lebih pahit.” Abu Isa At-Tirmidzi berkata,”Hadits ini hasan gharib.”

[Hadits riwayat AT-Tirmidzi, no. 2228, ]

Syaikh Nashirudin Al-Albani di dalam kitabnya Dha’if at-Targhib no. 1957 menyatakan hadits ini dha’if jiddan (lemah sekali).[iii]

4. Hadits Bersegera dalam Kebaikan Riwayat Ahmad

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوا فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda,”Bersegeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di pagi hari dalam keadaan beriman dan di sore telah kafir, dan di sore hari dalam keadaan beriman namun keesokan paginya menjadi orang kafir. Ia menjual agamanya dengan suatu bagian dari dunia.”

[Hadits riwayat Ahmad no. 8493]

Syarah / Kandungan Hadits

Hadits yang akan diberikan penjelasan kandungan maknanya di sini hanyalah hadits yang shahih saja. Untuk hadits yang derajatnya dha’if dan dha’if jiddan tidak kami nukilkan syarahnya.

1. Penjelasan hadits riwayat Muslim yang pertama

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,”Segeralah beramal sebelum datang berbagai fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan suatu bagian dari dunia ini.”

[Hadits shahih riwayat Muslim di dalam Shahih Muslim no. 118]

Syaikh Alawi bi Abdul Qadir As-Saqaf menerangkan makna hadits ini sebagai berikut:

“Bersegeralah beramal shalih sebelum terhalang untuk melakukannya karena terjadinya berbagai fitnah yang menghambat seseorang untuk beramal shalih.

Fitnah malam yang gelap gulita’ maksudnya begitu dahsyatnya fitnah tersebut sehingga seseorang benar-benar diselimuti oleh berbagai fitnah tadi. Seperti potongan-potongan malam yang pekat, sulit untuk memilah satu sama lainnya.

‘Seseorang di pagi hari dalam keadaan beriman, namun di sore hari sudah menjadi orang kafir. atau di sore hari dalam keadaan beriman namun keesokan paginya sudah menjadi orang kafir,’ maksudnya fitnah yang menimpanya tersebut bisa menggelincirkannya dari sifat keimanan. Hal ini dikarenakan dahsyatnya fitnah sehingga seseorang bisa berbalik dalam sehari saja keadaannya.

‘Dia menjual agamanya dengan suatu bagian dari dunia ini’ maksudnya dia meninggalkan agamanya demi kesenangan yang hina dan harga yang rendah.[iv]

Perlu dicatat bahwa kata fitnah dalam hadits tersebut berbeda maknanya dengan kata fitnah yang lazim dipakai dalam kehidupan sehari kaum Muslimin di Indonesi ini.

Kata fitnah dalam bahasa Indonesia berarti perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti, menodai nama baik, merugikan kehormatan orang). hal ini sebagaimana diterangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia.

Tidak demikian halnya dengan makna kata fitnah yang ada dalam hadits ini. Syaikh Alawi bin Abdul Qadir As-Saqaf mengatakan,

والمراد بالفِتْنَة: هي التي يُخلَطُ فيها الحَقُّ بالباطِلِ بين أهْلِ الإسْلامِ، فيصْعُبُ على المُطَّلَعِ الفَصلُ والتَّمييزُ فيها

“Yang dimaksud dengan fitnah adalah sesuatu yang menyebabkan bercampur aduknya antara kebenaran dengan kebatilan di kalangan kaum Muslimin sehingga menyulitkan bagi orang yang mengetahuinya untuk memilah atau membedakannya.[v]

Dalam kesempatan yang lain saat menjelaskan makna fitnah dalam hadits

 إنَّ لكلِّ أمَّةٍ فتنةً وفتنَةُ أمَّتي : المالُ

”Sesungguhnya bagi setiap umat itu ada fitnahnya dan fitnah umatku adalah harta.” [Hadits shahih riwayat at-Tirmidzi di dalam Shahih At-Tirmidzi no. 2336]

Syaikh Alawi As-Saqqaf menerangkan sebagai berikut:

والمقصود هنا بالفِتنةِ الشَّيءُ الَّذي يَضِلُّ به الإنسانُ ويَزيغُ عن طَريقِ الحقِّ، فربَّما كان المالُ فتنةً إذا أبعَد صاحِبَه عن طاعةِ اللهِ

“Maksud fitnah di sini adalah sesuatu yang menjadikan seseorang tersesat dan menyimpang dari jalan kebenaran. Harta itu bisa jadi merupakan fitnah apabila menjauhkan pemiliknya dari ketaatan kepada Allah….”[vi]

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Seorang mukmin itu bersegera dalam beramal. Dia bersikap waspada karena terkadang seseorang diuji dengan kematian yang cepat, kematian mendadak.

Terkadang diuji dengan penyakit yang menghilangkan kekuatannya sehingga tidak mampu beramal. Terkadang diuji dengan usia renta, diuji dengan hal-hal lainnya.

Oleh karenanya, setiap orang hendaklah memanfaatkan masa hidupnya dan kesehatannya serta akalnya untuk beramal shalih sebelum terhalang darinya.

Terkadang karena dihalangi oleh berbagai cobaan yang menghalanginya seperti sakit dan yang lainnya. Pada kali lain, karena tamak terhadap dunia, cinta kepada dunia, mengutamakan dunia daripada akhirat karena musuh-musuh Allah dan para penyeru kepada kekafiran dan kesesatan telah menjadikan dunia itu indah dalam pandangannya.”[vii]

2. Penjelasan hadits riwayat Muslim yang kedua

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سِتًّا طُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا أَوْ الدُّخَانَ أَوْ الدَّجَّالَ أَوْ الدَّابَّةَ أَوْ خَاصَّةَ أَحَدِكُمْ أَوْ أَمْرَ الْعَامَّةِ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, ”Segeralah beramal sebelum (datang) enam (perkara): terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, atau dukhan (asap/kabut), atau Dajjal, atau Daabbah ( binatang yang muncul dari bumi), kekhususan salah seorang dari kalian (kematian) atau urusan umum (kiamat).”

[Hadits shahih riwayat Muslim di dalam Shahih Muslim no.2947]

Penjelasan hadits ini menurut Syaikh Alawi bin Abdul Qadir As-Saqqaf adalah sebagai berikut:

“Nabi ﷺ menghasung umatnya untuk terus menerus beramal shalih dan bersegera dalam melakukannya sehingga seorang Muslim berada pada kondisi paling siap untuk bertemu dengan Allah Ta’ala. Di dalam hadits ini, Nabi ﷺ memberikan bimbingan kepada kita dengan sabdanya:

“Bersegeralah untuk beramal, “ maksudnya, bersegeralah dan bergegaslah untuk menyibukkan diri dengan amalan shalih, “enam perkara” , maksudnya sebelum terjadinya enam tanda terjadinya kiamat.

Terbitnya matahari dari tempat terbenanmnya” Saat matahari telah terbit dari tempat terbenamnya iman seseorang tidak bermanfaat lagi bagi dirinya bila sebelumnya belum beriman.

Atau “dukhan-asap/kabut” yaitu kemunculan dukhan. Atau “Dajjal atau “Daabbah/binatang yang muncul dari bumi, “ maksudnya kemunculan kedua hal tersebut.

Atau kekhususan salah seorang dari kalian” maksudnya kematian yang mendatanginya sehingga terhalang dari beramal atau bisa juga berarti kesibukan tertentu dari seseorang yang berhubungan dengan dirinya dan hartanya dan apa saja yang menjadi perhatiannya.

Atau urusan umum” maksudnya adalah kiamat karena kiamat itu menyebabkan semua manusia mengalami kematian. Dengan demikian, ini berarti bersegeralah untuk beramal shalih sebelum datang kematian dan hai kiamat.[viii]

Untuk hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Majah memiliki kandungan makna yang serupa dengan hadits riwayat Muslim sehingga tidak perlu dberi penjelasan secara tersendiri. syarah dari hadits Muslim tadi sudah cukup mewakili. Wallahu a’lam

Kandungan dan Aplikasi Hadits Kompetisi Dalam Kebaikan

Tuliskan Kandungan Hadits Tentang Kompetisi Dalam Kebaikan
Kandungan Hadits Tentang Kompetisi Dalam Kebaikan

Adapun gambaran praktis bersegera atau bergegas untuk beramal shalih sebagaimana dijelaskan dalam syarah hadits tersebut kurang lebih sebagai berikut:

  1. Melazimi sholat lima waktu sesuai dengan waktunya dan menyempurnakan syarat dan rukunnya. Bagi para pria hendaknya shalat wajib dilakukan di masjid sebagaimana tuntunan Nabi ﷺ dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.
  2. Melazimi sholat sunnah rawatib.
  3. Melazimi sholat dhuha, tahajjud, witir, dan tahiyatul masjid.
  4. Melazimi sholat istikharah saat dihadapkan masalah yang tidak diketahui mana di antaranya yang lebih baik bagi dirinya secara agama dan dunia.
  5. Melaksanakan Puasa Ramadhan
  6. Melazimi berbagai puasa sunnah.
  7. Membayar zakat bagi yang telah sampai nishabnya.
  8. Melaksanakan haji bagi sudah mampu dan aman jalan menuju ke sana, jangan ditunda-tunda.
  9. Melaksanakn umrah bagi yang mampu.
  10. Melazimi dzikir mutlak yang shahih.
  11. Melazimi doa yang ma’tsur dari Nabi ﷺ dan yang terdapat di dalam al Quran, setiap hari .
  12. Melazimi istighfar, shalawat dan berbagai kalimat thayyibah di setiap waktu yang luang sehingga umurnya menjadi berkah dengan kebaikan yang ringan namun bernilai tinggi.
  13. Membiasakan untuk bersedekah walaupun hanya dengan tersenyum kepada saudara sesama muslim saat bertemu.
  14. Melazimi doa dan dzikir yang terkait dengan waktu- waktu dan kejadian tertentu. Misalnya, dzikir saat masuk rumah dan keluar rumah, masuk dan keluar kamar mandi, masuk dan keluar masjid, memakai dan melepas pakaian, sebelum dan sesudah makan dan minum, saat hendak berangkat bepergian, saat datang dari bepergian dan seterusnya.
  15. Setiap Muslim diharapkan memiliki buku pedoman doa dan dzikir yang shahih riwayatnya misalnya Hishnul Muslim yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Buku kecil ini sangat bermanfaat bila diamalkan isinya oleh setiap muslim.
  16. Membaca al-quran setiap hari. Bila ingin sesuai sunnah nabi ﷺ maka setiap bulan minimal khatam sekali.

Dan masih banyak lagi berbagai kebaikan lainnya yang bisa dilakukan secara insidental namun bernilai tinggi, misalnya memberi makan anak yatim, janda dan orang miskin. Menolong orang yang sedang dalam kesusahan, membebaskan hutang seseorang dan lain-lain.

Pada intinya, hadits -hadits yang menghasung untuk bersegera beramal shalih tersebut menuntunkan kita untuk senantiasa berada dalam kondisi sangat siap untuk pulang ke akhirat setiap harinya.

Semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk kebaikan dan ketaatan maka semakin berkahlah umur orang tersebut. Inilah gambaran praktis dan ringkas tentang amalan untuk bersegera beramal dengan kebaikan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Demikian ulasan singkat tentang hadits-hadits yang berbicara tentang bersegera untuk beramal shalih. Semoga bermanfaat.

Bila ada kebenaran dalam tulisan ini maka dari Allah semata karena rahmat dan fadhilah-Nya. Dan bila ada kesalahan maka dari kami dan setan. Semoga Allah Ta’ala berkenan mengampuni semua kesalahan kami dan kaum Muslimin.

Tulisan hadits tentang kompetisi dalam kebaikan ini pertama kali diunggah pada 24 September 2021


[i] https://www.alukah.net/sharia/0/125475/

[ii] https://dorar.net/h/295042aa015556933cda85bbac14e77b

[iii]https://www.dorar.net/hadith/search?q=%D8%A5%D9%90%D9%84%D9%8E%D9%91%D8%A7%20%D9%84%D9%90%D9%85%D9%8F%D8%B4%D9%92%D8%B1%D9%90%D9%83%D9%8D%20%D8%A3%D9%8E%D9%88%D9%92%20%D9%85%D9%8F%D8%B4%D9%8E%D8%A7%D8%AD%D9%90%D9%86%D9%8D&st=a&xclude=&page=2&rawi[]=1416

[iv] https://dorar.net/hadith/sharh/124104

[v] https://dorar.net/hadith/sharh/66297

[vi] https://dorar.net/hadith/sharh/124083

[vii]https://binbaz.org.sa/fatwas/19885/%D8%B4%D8%B1%D8%AD%D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB%D9%8A%D8%B5%D8%A8%D8%AD%D8%A7%D9%84%D8%B1%D8%AC%D9%84%D9%85%D9%88%D9%85%D9%86%D8%A7-%D9%88%D9%8A%D9%85%D8%B3%D9%8A-%D9%83%D8%A7%D9%81%D8%B1%D8%A7

[viii] https://dorar.net/hadith/sharh/20730

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Comment