50 Panduan Menjadi Khatib Jumat Yang Baik Berdasarkan Al-Quran Dan As-Sunnah

Menjadi khatib yang baik adalah dambaan setiap muslim yang memiliki tanggung jawab sebagai khatib. Hanya saja tidak setiap khatib mengetahui caranya.

Tulisan ini adalah penjelasan tentang panduan menjadi khatib yang baik berdasarkan ilmu yang mendalam dan pengalaman pengalaman luas dari Dr. Amir bin Muhammad Al-Mudri, Imam dan Khathib Masjid Al-Iman di Yaman.

Panduan Khatib Jum'at munculkan

Kualitas seorang khatib yang berpengaruh, atau faktor-faktor yang membuat seorang khatib itu bermanfaat bagi umatnya, masyarakatnya dan terutama dirinya sendiri, adalah sebagai berikut:i

1. Rasa Tanggung Jawab

Khatib harus merasa bahwa dia adalah pemilik dari pesan yang dia serukan. Dia menghendaki keridhaan Allah melalui khutbah tersebut, bahkan jika itu adalah pekerjaannya yang dia jalani, karena pemilik pesan itu akan mencurahkan seluruh energinya untuk menyampaikannya kepada orang-orang. Dia tidak merasa lelah atau bosan.

Faktanya, jika perasaan ini hadir pada diri khatib, maka sesungguhnya kesuksesan akan selalu mengiringinya, dan dia akan menjadi orang terbaik perkataannya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” [Fushilat: 33]

Tidak seorang pun yang lebih baik perkataannya daripada orang yang membawa obor dakwah kepada Allah dan kepada mengikuti manhaj-Nya serta berpegang teguh dengan hukum-hukum-Nya dan ajaran-ajaran-Nya.

Wajib atas seorang dai atau khatib untuk menyatakan secara terbuka identitas dan afiliasinya dengan mengatakan bahwa dia bagian dari kaum Muslimin yang jauh dari sektarianisme yang sempit dan pandangan yang terbatas, karena Islamlah yang menjadi pondasi. Islam itu lebih umum dan lebih komprehensif.

Khatib yang sukses dan berpengaruh adalah khatib yang menjadikan keikhlasan sebagai kendaraan yang membawanya ke jalannya dan tujuannya, serta mengemas harta miliknya dengan ikatan rasa takut kepada Allah Ta’ala.

Ketahuilah saudaraku khatib, bahwa Allah telah memilih Anda untuk memikul dakwah-Nya, menjaga amanah-Nya, memelihara perjanjian-Nya, dan mewujudkan janji-Nya, sehingga orang-orang mengetahui agama Allah dan menyederhanakannya di hadapan mereka.

وَلَٰكِن كُونُوا۟ رَبَّٰنِيِّۦنَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ ٱلْكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” [Ali Imran: 79]

2. Membakati

Khithobah (pidato/retorika) adalah seni. Oleh karena itu, orang yang berurusan dengannya harus membakatinya, dimuati dengan berbagai ilmu dan pengetahuan, terkait erat dengan ilmu retorika.

Jadi, luasnya pengetahuan (telaah) adalah bantuan terbaik bagi seorang khatib dalam melakukan khutbahnya dengan kuat dan berpengaruh.

3. Bekal Ilmu Pengetahuan Dan Wawasan

Ini adalah asas yang mesti ada sehingga orang-orang bisa mendapatkan jawaban dari berbagai pertanyaan dan solusi atas berbagai masalah pada diri sang khatib. Selain itu, pengetahuan yang luas tersebut akan menjadi bekal untuk mengajari orang-orang tentang hukum-hukum syariat serta membuka pandangan mereka terhadap realitas yang ada.

Demikian juga, dengan pengetahuan tersebut khatib mampu untuk memberikan keyakinan dan mampu membantah syubhat, mantap dalam memaparkan dan kreatif dalam memberikan penyadaran dan arahan.

Bila dakwah kepada Allah itu merupakan posisi hamba yang paling mulia, paling agung dan paling utama, maka dakwah tersebut tidak akan terwujud kecuali dengan ilmu yang menjadi sarana dakwah dan tujuan seruan dakwah. Yang harus menjadi bagian dari kesempurnaan dakwah adalah capaian ilmu hingga batas yang mampu diraih oleh sebuah usaha.

Bila seorang khatib telah mencapai tingkatan ilmu yang memadai dan masuk ke dalam kesatuan para penuntut ilmu maka dia di masyarakatnya menjadi sebuah mercusuar yang menjadi pemandu arah sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim tentang para Fuqaha’ (ahli fikih):

”Di bumi ini mereka menjadi semacam bintang-bintang bagi langit. Mereka menjadi penunjuk dalam kegelapan. Kebutuhan manusia kepada mereka lebih besar daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman dan ketaatan kepada para fuqaha lebih wajib atas mereka daripada mentaati ibu dan bapak.”

Yang dimaksud dengan wawasan seorang khatib adalah:

  1. Menghafal Al-quran dengan hafalan yang mantap (kokoh) sehingga ayat-ayat itu baginya seperti dia membacanya dengan melihat ke mushaf atau, minimal ada sejumlah besar hafalan al-Quran.

Tidak diragukan lagi bahwa penghafal al-quran lebih mampu untuk menghadirkan ayat-ayat dan berdalil dengannya. Ini merupakan sifat kesempurnaan seorang khatib. Akan tetapi, ada kadar minimal wajib yang harus ada pada setiap khatib.

Kadar tersebut pertama berkaitan dengan kemampuan membaca al-Quran dengan benar tanpa lahn (kesalahan baca quran. Ada yang khafi dan ada yang jali. Yang tidak ditoleransi adalah lahn jali karena sudah mengakibatkan perubahan dalam makna, pent)

Kemudian kemampuan untuk menghadirkan ayat-ayat yang berkaitan dengan topik khutbahnya serta mengetahui pendapat para ahli ilmu dalam mentafsiri ayat-ayat tersebut, membedakan antara yang shahih (sah) dan tidak shahih, serta riwayat israiliyat dan maudhu’ (palsu) dan lain-lain.

Seorang khatib hendaklah bersikap waspada dari memasukkan ayat-ayat bukan pada tempatnya, atau memalingkan ayat dari arah yang semestinya, menundukkan ayat-ayat tersebut pada teori-teori ilmiah dan penemuan-penemuan modern, atau menundukkan mereka pada realitas temporal atau spasial jika itu bertentangan dengan agama Allah.

  1. Menghafal sejumlah besar hadits-hadits Nabi ﷺ, khususnya kitab Riyadhush-Shalihin bagi para khatib pemula, karena kitab ini menggunakan ungkapan-ungkapan yang mudah dipahami, sedikit lafazh, pembagian bab yang bagus, ketepatan penyajian dengan mengelompokkan topik-topik pada bagiannya secara terpisah.
  1. Mengkaji kisah-kisah dalam al-Quran al-Karim karena di dalamnya terdapat bahan yang bagus untuk mengambil pelajarannya dan menghubungkan pemikiran, terutama karena orang-orang suka model penyajian khutbah yang seperti ini.
  1. Mengisi pikiran dengan peperangan Rasulullah ﷺ dan menghubungkannya dengan realitas yang hidup.
  1. Mengkaji kehidupan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka adalah kelompok manusia pilihan. Mengambil teladan dari mereka dan menghubungkannya dengan kehidupan manusia.
  1. Pengetahuan tentang hukum-hukum syar’i terkait dengan imamah dan shalat.

Sifat ini merupakan cabang dari sifat pertama namun kami sendirikan karena urgensinya dan untuk memberikan peringatan tentang hal tersebut. Hendaknya seorang khatib memiliki ilmu tentang hukum-hukum khutbah dan shalat, syarat-syarat keduanya, hal-hal yang menjadikan kedua sah dan batal, tata cara keduanya dan kelengkapannya.

Khatib tidak disyaratkan orang yang ‘alim mujtahid muthlaq atau muqayyad, tidak pula seorang mufti dalam seluruh hukum dan ulama bagi semua orang. Hal itu merupakan sifat kesempurnaan bukan termasuk sifat-sifat keabsahan dan ketidakabsahaan.

  1. Ilmu sejarah

Sejarah dan studi sejarah akan memperluas cakrawala khatib dan menginformasikan kepadanya tentang kondisi berbagai bangsa, perjalanan tokoh-tokoh dan bergantiannya hari-hari bersama umat dan bersama tokoh-tokoh tersebut.

Di dalam sejarah, sang khatib akan melihat sunnatullah yang bersifat kauniyah dan kesudahan dari bangsa, masyarakat dan peradaban, dan kemenangan atau kekalahan berbagai ajakan (kepada suatu agama atau paham atau idiologi).

Sejarah adalah cermin halus yang di dalamnya tampak jelas hasil akhir dari iman dan takwa serta akhir dari kekafiran dan kefajiran. Sejarah itu adalah saksi yang paling benar untuk dakwah para Rasul dan para pengikut mereka.

Allah ‘Azza wa Jalla telah menunjukkan dalam kitab-Nya pentingnya cerita dan nasihat dengan keadaan para pendahulu. Allah berfirman:

قُلْ سِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلُ ۚ

Katakanlah: Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu..” [Arrum: 42]

وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُم مِّن قَرْنٍ هُمْ أَشَدُّ مِنْهُم بَطْشًا

Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini…” [ Qaf: 36]

لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” [Yusuf: 111]

Khatib dan dai itu jika mempelajari sejarah dengan baik dan mengambil manfaat darinya, akan lebih membantunya dalam menetapkan makna-makna dan nilai-nilai yang dia serukan, terutama jika keadaan dan motifnya serupa.

  1. Suka membaca beberapa buku sastra dan pemikiran untuk melincahkan lidah, kehalusan dan keselamatan ungkapan dari kesalahan dan kefasihan pengucapan.
  1. Realitas Dunia Islam:

Betapa buruknya seorang khatib yang tidak mengetahui kondisi umatnya dan realitas dunianya. Jika tidak, lantas di mana satu tubuh itu? Dari mana masyarakat mendapatkan berita tentang saudara-saudaranya dan bagaimana mereka dapat memberikan bantuan kepada saudara-saudaranya atau setidaknya berpartisipasi dengan doa dan dukungan moral untuk masalah – masalah mereka dan krisis mereka ?!

Seorang khatib juga harus menyadari realitas kekuatan global yang memusuhi Islam:

Permusuhan terbuka musuh-musuh Islam terhadap Islam dan para dainya adalah perkara yang tidak akan dibantah kecuali oleh orang yang sombong. Metode musuh itu beragam dan peran mereka berganti-ganti. Hari ini disuguhkan dengan peran merpati, dan besok dia akan menjadi elang yang menyerang mangsanya.

Dengan kelalaian umat dari mengetahui hakikat perseteruan dan tabiatnya, peran para dai dan khatib menjadi satu keniscayaan untuk membuka mata umat tentang musuh-musuh tersebut, metode-metode mereka dan konspirasi mereka.

Tetapi sangat disayangkan, orang yang melihat kondisi umat saat ini menyadari tidak adanya peran ini sepenuhnya, dan terus mengekor di belakang musuh-musuhnya dan menggantungkan harapannya kepada musuh-musuhnya dengan melupakan sejarah mereka, permusuhan dan makar mereka, dan itu hanya karena hari ini mereka memainkan peran merpati.

Di antara bentuknya adalah ketergantungan Muslim saat ini kepada Rusia dan Perancis agar kedua negera tersebut mengembalikan kepada mereka hak-hak mereka yang dirampas, martabat mereka yang hilang, dan tanah mereka yang dirampas, karena lupa atau melupakan tentang peran buruk Rusia dan Perancis serta perbuatan keji mereka kepada bangsa-bangsa Muslim.

Kesadaran khatib tentang kenyataan ini dan metode-metode musuh, dalam bidang ekonomi, politik, dan pemikiran, dan keragaman bentuk lembaga kristenisasi, misionaris, orientalis, atau Freemasonry, dan peringatannya terhadap ummat ini serta pencerahan umat tentang hal ini merupakan bagian dari tugasnya untuk melindungi umat ini dari serangan menyakitkan.

Tetapi ada dua hal yang harus diperhatikan:

  1. Tidak membesar-besarkan dan berlebihan dalam hal itu, karena dapat menyebabkan keputusasaan dan sikap menyerah, sebagaimana pengabaian bisa menyebabkan menganggap sepele dan tidak mengambil segala upaya yang diperlukan.
  1. menyadari sifat hubungan antara kekuatan-kekuatan yang bermusuhan ini, dan bahwa mereka itu anda sangka bersatu, padahal hati mereka berselisih.

Lantas, apa kekuatan seorang khatib jika dia tidak dapat menghafal dari setiap bab hadits yang mengembangkan kemampuannya, mendukung idenya, meluruskan lidahnya, dan membangkitkan perasaannya?

Baca juga: Mukadimah Khutbah Singkat

4. Memohon Pertolongan Kepada Allah

Ingatlah bahwa Anda hanya berkhutbah dan berbicara dengan daya dan kekuatan dari Allah Ta’ala. Jika Allah Ta’ala berkehendak, dia bebaskan lidah Anda. Dan jika Dia berkehendak, dia bisa menahannya. Jika Allah menyerahkan Anda kepada diri Anda sendiri, Anda akan menjadi buta dan tidak berdaya.

Pangkal tenggorokan yang menjadi wadah munculnya suara, lidah, bibir, dan gigi yang membentuk huruf dan nada, adalah ciptaan Allah Ta’ala,

وَقَالُوا۟ لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدتُّمْ عَلَيْنَا ۖ قَالُوٓا۟ أَنطَقَنَا ٱللَّهُ ٱلَّذِىٓ أَنطَقَ كُلَّ شَىْءٍ

Dan mereka berkata kepada kulit mereka, ”Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab, ”Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata,” [Fushilat: 21]

Ketahuilah bahwa Allah menyertai anda .. Dia menyaksikan dan melihat anda .. Pandangan-Nya lebih awal daripada tatapan orang yang mendengarkan anda.

Jadi berpegang teguhlah kepada Allah. Bagi Anda, ada contoh yang baik di dalam diri Nabi Allah, Musa ‘alaihis salam. Allah Ta’ala berfirman:

قَالَ رَبِّ ٱشْرَحْ لِى صَدْرِى وَيَسِّرْ لِىٓ أَمْرِى وَٱحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِى يَفْقَهُوا۟ قَوْلِى

Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” [Thaha: 25-28]

Kami mengingatkan agar khatib harus menghindar dari tertipu oleh diri sendiri dan ujub terhadap diri sendiri, karena hal itu dapat membatalkan amal dan pahala.

5. Teladan

Orang-orang melihat tingkah laku khatib, dan mempertimbangkannya dengan cermat. Itulah sebabnya, perbuatannya harus sesuai dengan perkataannya.

Kepatuhan khatib pada aturan Islam secara umum, dan penerapan apa yang dia serukan dalam khutbahnya, membuat perkataannya dapat diterima oleh pendengarnya.

Namun bila perbuatannya menyelisihi kata-katanya, maka hal itu menjadikan kaum muslimin tidak percaya kepadanya dan kepada omongannya.

Allah Ta’ala berfirman:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” [Al-Baqarah: 44]

يـاَيـُّهَا الَّذَيـْنَ امَنُوْا لِمَ تَـقُوْلُـوْنَ مَا لاَ تَـفْعَلُـوْنَ. كَـبُرَ مَقْتـًا عِنْدَ اللهِ اَنْ تَـقُوْلُـوْا مَا لاَ تَـفْعَلُـوْنَ. الصف:2-3

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” [Ash-Shaff : 2 – 3]

Khatib teladan mempergauli orang dan menyeru mereka dengan kata-kata dan perbuatan, sehingga dia menjadi orang yang sangat berpengaruh. Hati orang-orang berputar-putar di sekelilingnya. Dalam gambaran yang dramatis, mengerikan dan menakutkan, Nabi ﷺ, menjelaskan keadaan orang-orang yang amal perbuatannya berbeda dengan perkataannya.

وعن أَبي زيدٍ أُسامة بْنِ زيد بن حَارثَةَ، رضي اللَّه عنهما، قَالَ: سَمِعْتُ رسولَ اللَّه ﷺ يَقُولُ: يُؤْتَى بالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيامةِ فَيُلْقَى في النَّار، فَتَنْدلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ، فيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الحِمَارُ في الرَّحا، فَيجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّار فَيَقُولُونَ: يَا فُلانُ مَالَكَ؟ أَلَمْ تَكُن تَأْمُرُ بالمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ المُنْكَرِ؟ فَيَقُولُ: بَلَى، كُنْتُ آمُرُ بالمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيه، وَأَنْهَى عَنِ المُنْكَرِ وَآَتِيهِ مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata,” Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Akan didatangkan seseorang pada hari kiamat lalu dimasukkan ke dalam neraka. Di dalam neraka orang tersebut berputar-putar sebagaimana keledai berputar mengelilingi mesin penumbuk gandum.

Para penduduk neraka mengelilingi orang tersebut lalu berkata, ‘Wahai Fulan, ada apa dengan dirimu? Bukankah engkau dahulu memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran?’ Orang tersebut menjawab, ‘Benar. Sungguh dulu aku biasa memerintahkan kepda kebaikan namun aku tidak melaksanakannya. dan aku melarang dari kemungkaran tapi aku malah melakukannya.” [Hadits riwayat Al- Bukhari dan Muslim)

Di manakah posisi para dai dari hadits yang agung ini? Saya mohon kepada Allah Yang Maha Agung, pemilik ‘Arys yang mulia, agar menjadikan kita di antara orang-orang yang ucapannya sesuai dengan tindakannya.

6. Keberanian

Khatib hendaknya menjadi orang yang berani mengatakan kebenaran, dengan sikap yang bijaksana dan mampu memberikan penilaian dengan baik terhadap suatu pendirian, jauh dari sikap ceroboh dan impulsif (menuruti kata hati) tanpa perhitungan.

Keberanian dalam mengatakan kebenaran adalah sifat asasi yang harus dimiliki seorang khatib, Karena dia akan dihadapkan pada banyak hal. Jika dia tidak memiliki keberanian yang cukup, dia tidak akan dapat mencapai tujuan dan target yang diinginkan.

7. Hubungan dengan masyarakat audiens

Seorang khatib hendaknya berhubungan dekat dengan para pendengarnya, berbicara secara dekat dengan mereka, menjenguk mereka yang sakit, bertanya tentang ketidakhadiran mereka, dan berpartisipasi dalam mencari solusi untuk masalah mereka.

Semakin dia mendekati para pendengarnya dan berdiri di samping mereka dalam krisis yang mereka hadapi, hal itu semakin menarik mereka untuk berkumpul di sekitarnya, dan dekat dengannya.

Dengan catatan, dia harus memelihara diri dari apa yang dimiliki orang lain, sebagaimana dinyatakan dalam hadits yang mulia:

ازهد في الدنيا يحبك الله وازهد فيما في أيدي الناس يحبوك

Bersikap zuhudlah di dunia, Allah akan mencintaimu dan bersikap zuhudlah pada apa yang dimiliki manusia, mereka akan mencintaimu.”

8. Yakin Dengan Apa Yang Disampaikan

Hendaknya seorang khatib sepenuhnya yakin dengan apa yang dia serukan, agar dapat meyakinkan dan mempengaruhi. Keimanan terhadap suatu perkara membuat pemiliknya mempertahankannya dengan semua yang dia miliki.

Jika khatib tidak yakin dengan apa yang dia serukan, maka dia tidak dapat meyakinkan orang lain tentang hal itu.

Jika khatib dalam khutbahnya mengajak orang-orang untuk membayar zakat harta mereka atau bersedekah dan pada saat yang sama dia tidak membayar zakat hartanya atau tidak bersedekah, atau dia mengajak mereka untuk meninggalkan ghibah sementara dia justru melakukan hal itu.

Atau dia mengajak mereka untuk mewajibkan anak perempuan dan istrinya untuk mengenakan pakaian syar’i, sementara putri dan istrinya tidak memakai pakaian syar’i, dan seterusnya , maka banyak orang tidak akan memperhatikan kata-katanya dan khutbahnya.

9. Memilih Topik Khutbah Dari Realitas Kehidupan

Hendaknya khatib memilih topik khutbah dari kenyataan hidup yang dijalani masyarakat, membahas berbagai masalah sosial, dan mencoba menawarkan solusi untuk masalah-masalah tersebut. Sedangkan topik-topik negatif yang tidak mengobati berbagai penyakit dan kekurangan masyarakat, manfaat dari khutbah semacam itu hanya sedikit.

Khatib yang berhasil adalah khatib yang melihat realitas orang-orang untuk membicarakannya. Sehingga tidak bijaksana bila tidak memperhitungkan realitas orang-orang.

Misalnya, jika ada musibah kematian, tidak pantas bagi khatib untuk pergi dan berbicara tentang pernikahan, karena yang pantas dibicarakan adalah kematian sebagai sebuah kebenaran yang tak terelakkan dan tentang mengambil pelajaran dari peristiwa kematian.

Juga, mengajak orang untuk bersiap menghadapi kematian, menjelaskan bahwa seseorang tidak tahu kapan ajalnya akan tiba, dan seterusnya. Dia juga harus menyadari apa yang terjadi di dunia ini, berupa peristiwa-peristiwa, perubahan-perubahan dan perkembangan, untuk memberi tahu para pendengarnya serta menjelaskan hukum Islam dalam persoalan tersebut.

10. Lisan Yang Fasih Dan Artikulasi Yang Jelas

Kefasihan lidah dan kesehatan tempat keluarnya huruf-huruf adalah perkara penting bagi khatib. Begitu pula dengan menjaga penyampaian yang baik, dengan kuat dan lembut, sehingga penyampaian itu tidak dalam satu cara saja, sehingga pendengar tidak bosan.

Atau mengadopsi metode bersajak yang menyebalkan, karena hal ini akan menyia-nyiakan makna dan hanya fokus pada lafazh. Namun tetap perlu memperhatikan kaidah bahasa karena tidak memperhatikan hal tersebut menyebabkan adanya cacat dalam makna.

Khatib yang sukses dan berpengaruh memiliki kata-kata yang paling manis, paling bersemangat dan paling dekat dengan hati dan perasaan. Dia menawan Anda dengan kata-katanya yang merupakan oase bagi orang-orang yang kelelahan dan hiburan bagi orang-orang yang berbicara, dan panduan bagi yang bingung. Dia menghubungkan mereka dengan masjid dengan hubungan yang kuat.

11. Penampilan Yang Baik Dan Serasi

Dia harus berpakaian bagus dan dalam kondisi yang baik karena hal itu lebih menarik dan memikat para pendengar dan memperhatikan dirinya. Namun harus menjaga agar tidak berlebih-lebihan dalam masalah pakaian sampai pada titik memaksakan diri dan menyusahkan diri sendiri.

12. Lunak Dan Lembut

Seorang khatib yang sukses harus berperilaku lembut, dan santun kepada dengan orang-orang karena itu akan membuat mereka lebih menerima dan yakin. Sedangkan untuk metode kekerasan, keras dan kaku, kenyataan membuktikan kegagalan dan kesia-siaannya.

Allah telah berfirman kepada Rasul-Nya ﷺ:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” [Ali Imran: 159]

خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” [Al-A’raf: 199]

Nabi ﷺ bersabda:

إنّ الرفق لا يكون في شيء إلاّ زانه ولا ينزع من شيء إلاّ شانه

Sesungguhnya kelembutan itu bila ada pada sesuatu maka ia pasti membuatnya menjadi indah dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu kecuali menjadikannya buruk.”

Orang secara alami tidak menyukai kekasaran dan kekerasan. Mereka cenderung kepada sikap lembut, lunak dan santun.

13. Menjauhi Sikap Ikut-Ikutan Yang Menyebalkan Serta Dipaksakan Dan Meniru Kepribadian Khatib Yang Lain.

Kita telah menyaksikan beberapa khatib meniru para khatib terkenal dengan cara memaksakan diri sehingga menyebabkan ketidakpuasan dan penolakan dalam jiwa. Namun, tidak ada halangan untuk mengambil manfaat dari gaya orang lain dengan cara yang dapat diterima dan tidak memaksakan diri.

Hal ini karena tingkat wawasan dan kemampuan ilmiah setiap peniru itu seringkali bertingkat-tingkat dan berjauhan. Dari sinilah timbulnya kekurangan dan tidak ada keberhasilan dalam pelaksanaan khutbah.

14. Tidak Bertele-Tele (Terlalu Panjang) Saat Khutbah

Seorang khatib yang berhasil, tidak memperpanjang khutbahnya, karena memperhatikan kondisi dan keadaan pendengarnya. Di antara mereka ada yang sakit serta orang-orang yang punya kepentingan dan tugas.

Terkadang sifat suasana memainkan peran yang mendasar dalam menentukan waktu khutbah. sehingga seorang khatib harus memperhatikan hal ini secara proporsional. Nabi ﷺ telah memberitahu kita bahwa tanda kedalaman pemahaman agama seseorang adalah memperpanjang shalat dan memperpendek khutbah

Khatib harus tahu bahwa seni bicara ringkas dan fasih itu bervariasi dari satu keadaan ke keadaan lain, sesuai dengan keadaan pendengar, dalam hal perhatian dan kebosanan mereka, jenis topik khutbah, dan keadaan penyampaiannya.

Lebih baik khatib membiasakan para pendengarnya dengan waktu yang pertengahan dan tetap, yang dia pegang teguh. Karena jika para pendengar itu mengenalnya sebagai orang yang disiplin dan kuat komitmennya, para pendengar itu akan mencintai sang khatib dan melaziminya serta menghadirinya.

Seorang khatib yang tidak mengatur pidatonya agar sesuai dengan spirit masa sekarang yang sedang dominan dan memiliki ciri khas cepat, maka tidak akan diterima dan, terkadang, menimbulkan kebencian orang lain. Jadi hendaklah singkat saja.

عن أَبُي وَائِلٍ قال: خَطَبَنَا عَمَّارٌ فَأَوْجَزَ وَأَبْلَغَ فَلَمَّا نَزَلَ قُلْنَا يَا أَبَا الْيَقْظَانِ لَقَدْ أَبْلَغْتَ وَأَوْجَزْتَ فَلَوْ كُنْتَ تَنَفَّسْتَ؟ فَقَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ((إِنَّ طُولَ صَلاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ، فَأَطِيلُوا الصَّلاةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ، وَإِنَّ مِنْ الْبَيَانِ سِحْرًا)).

Dari Abu Wail, dia berkata,” ‘Ammar berkhutbah kepada kami. Dia berkhutbah dengan ringkas dan sangat jelas. Saat turun, kami berkata,”Wahai Abu Yaqzhan, anda telah berbicara dengan ringkas dan sangat jelas. Mereka berkata,”Andai saja anda memperpanjang khutbahnya.”

Maka ‘Ammar berkata,”Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,’Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan ringkasnya khutbahnya merupakan tanda kedalaman pemahaman agamanya. Maka kalian panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khutbah. Sesungguhnya sebagian dari penjelasan itu benar-benar merupakan sihir.”

Abdullah bin Mas’ud memberikan tadzkirah kepada orang-orang di setiap Kamis (ada kajian rutin tiap kamis, pent). Seorang pria berkata kepadanya,” Wahai Abu Abdurrahman, saya benar-benar ingin Anda memberikan pengingatan (kajian ilmu) setiap hari.”

Abdullah bin Mas’ud berkata,”Sesungguhnya yang mencegah saya dari hal itu adalah aku tidak suka hal itu akan membuat kalian menjadi bosan. Sesungguhnya aku memberikan nasehat kepada kalian sebagaimana dahulu Nabi ﷺ memberikan kami nasehat karena khawatir kami merasa bosan.

15. Memanfaatkan Moment

Seorang khatib yang sukses adalah orang yang mencari moment dan peristiwa serta mengukurnya dalam kriteria Syariah. Moment tersebut haruslah:

1- Cocok untuk konten yang akan disajikan dan kenyataan.

2- Berada pada level para jamaah shalat, tidak lebih tinggi atau lebih rendah

16. Pengulangan Dan Penjelasan Yang Baik.

Ini adalah salah satu dasar yang digunakan khatib untuk menyajikan isi khutbah, dan fungsi dari metode ini adalah untuk memperjelas dan meningkatkan penekanan.

Nilai pengulangan berasal dari bentuk dan keragamannya yang berbeda. Pengulangan bukanlah pengulangan kalimat tertentu, huruf demi huruf dan kata demi kata. Nabi ﷺ, terus mengulang satu konten selama tiga belas tahun di Mekkah:”Katakan: laa ilaaha illallah, kalian akan beruntung.” Apakah selama bertahun-tahun tersebut beliau hanya mengulang-ulang kata-kata ini saja? Jawabannya tentu saja tidak

Masih harus dikatakan bahwa pengulangan hanya memiliki satu momok, yaitu kebosanan, dan kebosanan bisa dihilangkan melalui variasi dan pengayaan.

Metode ini tidak baik bila dilakukan dengan kata-kata yang sama, karena jiwa manusia akan lari darinya, melainkan dengan istilah-istilah baru, bahkan dengan cara yang berbeda-beda. Terkadang dengan penegasan, terkadang dengan pertanyaan, terkadang dengan pemberian harapan atau pemberian ancaman, dan terkadang dengan mencela, dan metode retorika lainnya.

Contoh praktis:

Dalam Al-Qur’an banyak sekali jenis ini. Termasuk penetapan tauhid, kisah-kisah para nabi, dan peristiwa pada hari kiamat.

Bagian Dua: Mengulangi kata kunci atau penting:

Jika khatib menyampaikan kata-kata ini, dia dapat mengulanginya sampai dikukuhkan di hati para pendengar.

Contoh Penerapan:

Allah Ta’ala befirman:

ٱلْقَارِعَةُ مَا ٱلْقَارِعَةُ وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلْقَارِعَةُ

1. Hari Kiamat,

2. apakah hari Kiamat itu?

3. Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?

عن النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ يَقُولُ: ((أَنْذَرْتُكُمْ النَّارَ أَنْذَرْتُكُمْ النَّارَ أَنْذَرْتُكُمْ النَّار))َ. حَتَّى لَوْ أَنَّ رَجُلاً كَانَ بِالسُّوقِ لَسَمِعَهُ مِنْ مَقَامِي هَذَا، قَالَ: حَتَّى وَقَعَتْ خَمِيصَةٌ كَانَتْ عَلَى عَاتِقِهِ عِنْدَ رِجْلَيْهِ . رواه احمد

Dari Nu’man bin basyir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,”Aku mendengar Rasulullah ﷺ berkhutbah. Beliau bersabda,”Aku peringatkan kalian dari api neraka. Aku peringatkan kalian dari api neraka. Aku peringatkan kalian dari api neraka.” Sehingga, andaikan seseorang saat itu berada di pasar, dia akan mendengarnya dari tempat aku berdiri ini. Nu’man berkata,”Sampai-sampai selendang yang ada di pundaknya jatuh ke samping ke dua kakinya.” [Hadits riwayat Ahmad]

وعَنْ مِحْجَنِ بْنِ الأدْرَعِ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم خَطَبَ النَّاسَ فَقَالَ: ((يَوْمُ الْخَلاصِ وَمَا يَوْمُ الْخَلاصِ. يَوْمُ الْخَلاصِ، وَمَا يَوْمُ الْخَلاصِ؟. يَوْمُ الْخَلاصِ وَمَا يَوْمُ الْخَلاصِ، ثَلاثًا، فَقِيلَ لَهُ: وَمَا يَوْمُ الْخَلاص؟ قَالَ: يَجِيءُ الدَّجَّالُ فَيَصْعَدُ أُحُدًا فَيَنْظُرُ الْمَدِينَةَ فَيَقُولُ لأَصْحَابِه:ِ أَتَرَوْنَ هَذَا الْقَصْرَ الأبْيَضَ، هَذَا مَسْجِدُ أَحْمَدَ ثُمَّ يَأْتِي الْمَدِينَةَ، فَيَجِدُ بِكُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلَكًا مُصْلِتًا، فَيَأْتِي سَبْخَةَ الْجَرْفِ فَيَضْرِبُ رُوَاقَهُ ثُمَّ تَرْجُفُ الْمَدِينَةُ ثَلاثَ رَجَفَاتٍ، فَلا يَبْقَى مُنَافِقٌ وَلا مُنَافِقَةٌ وَلا فَاسِقٌ وَلا فَاسِقَةٌ إِلا خَرَجَ إِلَيْهِ، فَذَلِكَ يَوْمُ الْخَلاص رواه احمد بسند صحيح

Dari Mihjan bin Al Adra’ bahwa Rasulullah ﷺ berkhutbah kepada manusia seraya bersabda, ”Hari Al Khalash, dan apakah itu hari Al Khalash? Hari Al Khalash, dan apakah itu hari Al Khalash? Hari Al Khalash, dan apakah itu hari Al Khalash?” Beliau mengulanginya hingga tiga kali, lalu ditanyakanlah kepada beliau, “Dan apakah itu hari Al Khalash?”

Beliau menjawab, “Yaitu, saat keluarnya Dajjal, lalu ia menaiki gunung Uhud sehingga ia pun melihat kota Madinah. Ia pun berkata kepada para sahabatnya, ”Tidakkah kalian melihat istana yang putih ini? ini adalah Masjidnya Ahmad.”

Kemudian ia mendatangi Madinah, dan ia pun mendapati pada setiap jalannya satu Malaikat yang telah siap dengan hunusan pedangnya. Lalu ia mendatangi Sabhatul Harf (tanah kering di penghujung kota Madinah), kemudian ia memukul-mukul perkemahan, Qubah beserta tempat-tempat duduknya.

Dengan itu, kota Madinah pun berguncang dengan tiga kali guncangan. Sehingga tidak seorang munafik pun baik laki-laki atau perempuan dan tidak juga seorang fasik pun baik laki-laki maupun perempuan yang tersisa, kecuali semuanya keluar mengikuti Dajjal. Dan hari itulah yang dinamakan Yaumul Khalash (Hari Pembersihan).” [Hadits riwayat Ahmad no. 18207]

عن أَبِي بَكْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : ((أَلا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ ثَلاثًا قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: الإشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ: أَلا وَقَوْلُ الزُّورِ)). قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ.)) رواه البخاري.

Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,”Nabi ﷺ bersabda,’Maukah kalian aku beritahu dosa besar yang paling besar?” Rasulullah bersabda tiga kali. Para shahabat menjawab,”Tentu wahai Rasulullah.” Rasulullah ﷺ bersabda,”Mensekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua.” lalu beliau duduk, padahal sebelumnya dalam keadaan bersandar, kemudian bersabda,”ketahuilah, dan perkataan bohong.” Abu Bakrah berkata,”Nabi ﷺ terus mengulangnya sehingga kami berkata,”Andai saja beliau diam.” [Hadits riwayat Al-Bukhari]

17. Mengaduk Emosi

Khatib harus melihat isi khutbahnya. Jika khutbahnya mengandung isi yang menggugah perasaan, dia melakukannya, jika tidak, dia tidak melakukannya sehingga dia tidak mengalami kegagalan.

Seorang khatib yang sukses dibedakan oleh kemampuannya untuk menganalisis situasi, menyusun dan mengkoordinasikan pemikiran, dan menyelaraskan dengannya dalam waktunya yang tepat dan tempatnya yang baik.

Seorang khatib yang berpengaruh saat berbicara kepada orang-orang tentang Surga, seolah-olah ia terbang dengan sayap di dalamnya, mengelilingi sungai-sungainya, dan menukik ke hadapan para bidadarinya.

Dan jika ia berbicara kepada mereka tentang neraka, seolah-olah ia berada di dalam gunung api neraka dalam keadaan sedang kepanasan, pidatonya tentang itu menghancurkan hati, membuat akal menjadi linglung, dan memutuskan harapan.

18. Memahami Topik

Seseorang tidak akan dapat merasa nyaman ketika menghadapi pendengarnya kecuali setelah dia berpikir dengan hati-hati, merencanakan pidatonya dan tahu apa yang akan dia katakan.

Beberapa pemula berbicara tentang subjek yang dia tidak memiliki cukup pengetahuan, sehingga ungkapan-ungkapannya membingungkan, kepercayaan pada kemampuannya terguncang, dan dia menuduh dirinya gagal serta tidak mampu untuk berkhutbah. Penyebabnya, ternyata karena persiapan dan perencanaan yang kurang baik.

19.Berlatih Dan Terus Berlatih

Cara efektif pertama dan terakhir untuk membangkitkan kepercayaan diri dalam berbicara di depan umum adalah dengan berdiri lalu berkhutbah.

Saraf akan menjadi tenang sepenuhnya melalui kebiasaan dan pelatihan yang konstan dengan tekad yang kuat. Jika seseorang memiliki suatu pesan, maka dia akan lebih menguasai pidato tersebut ketika dia mengulanginya dan terus menerus mempraktikkannya.

20. Praktek Secara Langsung

Pilih topik yang sudah Anda ketahui, buat pidato lima menit tentangnya, praktekkan menyampaikan pidato beberapa kali, kemudian sampaikan di depan sekelompok teman Anda, dan curahkan semua upaya dan kekuatan Anda saat melakukannya.

Berdiri tegak dan tatap mata para pendengar. Mulailah berbicara dengan percaya diri, seolah-olah semua orang berhutang budi kepada Anda.

Jangan mengotak-atik pakaian atau menggosok tangan, dan jika Anda terpaksa melakukan gerakan gugup akibat ketegangan, pegang sesuatu dengan kuat di depan Anda, seperti mimbar atau meja dan lain-lain.

Anda mungkin diliputi oleh ketakutan, semacam kejutan, atau ketegangan karena gugup pada menit-menit pertama saat Anda bertemu dengan para pendengar. Tetapi jika Anda gigih, Anda akan mengatasi segalanya kecuali ketakutan awal ini, yang hanya merupakan sebuah ketakutan dasar. Setelah beberapa kalimat pertama, Anda dapat mengendalikan diri sendiri. Anda akan berbicara dengan tenang dan mantap.

Mungkin berguna bila anda merekam pidato Anda dengan perekam audio atau video, kemudian ulas dan temukan kekurangannya untuk diatasi pada kali yang lain. Jangan lupa untuk mencari bantuan saudara Anda untuk mengevaluasi Anda. Seorang saudara itu cermin bagi saudaranya yang lain.

21. Cermati dengan baik topik anda

Jika seorang pengkhotbah yang sukses menulis topiknya, maka dia memiliki pilihan antara dua hal:

  1. Jika dia mau, hafalkan dan sampaikan
  2. Jika dia mau, dia mengingat isinya

Namun jangan membacakannya kepada orang-orang dari selembar kertas, karena itu melemahkan kekuatannya dan meninggalkan pengaruhnya pada jiwa seperti yang terlihat.

Pilihan kedua adalah yang terbaik dari keduanya, sehingga tidak terikat dengan ungkapan tertentu. Jadi, jika muncul masalah baru saat dia berkhutbah, dia dapat mengatakannya. Banyak orang yang menghafal. Jika mereka lupa satu kalimat, mereka menjadi gagap atau terguncang. Mereka kehilangan wibawa di mata para pendengar.

Betapa butuhnya seorang khatib itu kepada wibawa dan keagungan! Akan lebih baik dan bermaslahat untuk tidak terikat dengan ungkapan yang dia hafal, tetapi memilih ungkapan-ungkapan yang mengantarkan kepada makna-makna yang dia peroleh melalui kajiannya dan pemikirannya.

Ini jika dia menulis topiknya. Jika dia tidak ingin menulis dan merasa cukup dengan menggambarkan topiknya dalam imajinasinya dan menggarisbawahinya dalam ingatannya, yang dia perkuat melalui latihan dan praktek, maka hal itu akan lebih baik dan lebih sempurna.

22. Berdirilah Dengan Baik

Posisi berdiri yang benar berperan dalam membuat khatib merasa nyaman selama penyampaian khutbah. Hal itu meningkatkan kepercayaan dirinya, dan juga membantunya dalam melakukan pernapasan dengan benar yang mempengaruhi keefektifan suara.

23. Jangan Mulai Dengan Tergesa-Gesa

Setelah Anda bangkit untuk berbicara kepada audiens, jangan mulai dengan terburu-buru. Ini adalah ciri khas dari seorang pemula.

Pandanglah audiens Anda sejenak .. Jika ada keributan, berhentilah sebentar sampai berlalu .. Angkat dada.

Tapi kenapa menunggu untuk melakukannya di depan audiens? Mengapa tidak melakukannya setiap hari saat Anda sendirian? Ketika itulah Anda dapat melakukannya secara otomatis di depan orang.

24. Ketenangan Dan Pengendalian Diri

Keseimbangan berarti tenang dan khidmat. Jauh dari melakukan gerakan yang salah tempat. Kami telah menyebutkan sebelumnya bahwa anda tidak boleh bermain-main dengan pakaian anda karena bisa menarik perhatian. Alasan lainnya adalah hal ini menimbulkan kesan lemah dan rasa percaya diri yang rendah

25. Penyampaian Dengan Tempo Lambat

Penyampaian yang cepat dan tergesa-gesa menyebabkan orang tidak bisa mengikuti. Juga, hal itu terkadang dapat mengganggu artikulasi huruf-huruf, sehingga huruf-huruf itu bercampur satu sama lain, arti menjadi campur aduk dan ungkapan menjadi membingungkan.

Terburu-buru dapat mengakibatkan lalai untuk berhenti di tempat-tempat penghentian dan memperhatikan rincian.

Penyampaian dengan tempo lambat yang kami serukan ini, seharusnya tidak mengarah pada ketenangan yang dingin dan kelambanan yang mematikan.

26. Mengubah Nada Suara

Salah satu penyebab lemahnya pengaruh, munculnya rasa bosan dan jenuh para pendengar adalah karena khatib berbicara pada level yang monoton pada satu mode nada suara saja.

Saat Anda menemukan diri Anda dalam keadaan semacam itu, cari kalimat yang sesuai untuk mengubah nada suara Anda sesuai dengan gaya kalimat.

Dua hal ini akan membantu Anda dalam membuat perubahan:

  1. Jeda sebentar
  2. Pelatihan.

27. Mengubah Kecepatan Bicara

Gagasan utama dan kalimat penting harus diperhatikan dalam penyampaian melalui kecepatan bicara yang diperlambat dan tidak tergesa-gesa, agar pendengar dapat memahaminya, dan untuk meningkatkan pengaruhnya terhadap jiwa.

28. Jeda Sebentar Sebelum Dan Sesudah Pemikiran Yang Penting.

Seorang khatib yang sukses tahu di mana harus berhenti selama khutbahnya. Jika dia menyampaikan ide besar yang ingin ditanamkan dalam benak para pendengarnya, dia menoleh kepada mereka, dan menatap mata mereka secara langsung sejenak tanpa mengatakan apa-apa.

Keheningan mendadak ini menghasilkan kegaduhan yang mendadak. Hal itu akan menarik perhatian, dan membuat setiap orang waspada dan bersiap-siap terhadap kelanjutan ceramah setelah keheningan tersebut .

Demikian juga halnya dengan berhenti setelah setiap kalimat yang ingin ditekankan, karena ia menambah kekuatan lain pada kekuatannya melalui keheningan. Makna itu menyelam di tengah keheningan ini, di dalam jiwa, dan menyampaikan pesannya. Tapi berhenti itu harus alami, dan tidak dipaksakan.

Dan telah dikatakan: “Melalui keheninganmu, kamu berbicara.” Keheningan itu jauh lebih bernilai untuk digunakan saat Anda berbicara. Ini adalah alat yang kuat dan penting yang tidak boleh diabaikan, namun biasanya diabaikan oleh khatib pemula.

Contoh praktis:

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رضي الله عنه قَالَ:خَطَبَنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ النَّحْرِ قَالَ: ((أَتَدْرُونَ أَيُّ يَوْمٍ هَذَا؟)) قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ، قَالَ: ((أَلَيْسَ يَوْمَ النَّحْرِ؟)) قُلْنَا: بَلَى. قَالَ: ((أَيُّ شَهْرٍ هَذَا؟)) قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِهِ، فَقَالَ: ((أَلَيْسَ ذُو الْحَجَّةِ؟)) قُلْنَا: بَلَى، قَال:َ ((أَيُّ بَلَدٍ هَذَا؟)) قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، فَسَكَتَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ سَيُسَمِّيهِ بِغَيْرِ اسْمِه،ِ قَالَ: ((أَلَيْسَتْ بِالْبَلْدَةِ الْحَرَامِ؟)) قُلْنَا: بَلَى، قَال: ((فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا إِلَى يَوْمِ تَلْقَوْنَ رَبَّكُم))رواه البخاري

Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu dia berkata,”Rasulullah ﷺ berkhutbah kepada kami pada hari Nahar (Idul Adha). Beliau bersabda,”Tahukah kalian, hari apakah ini?” Kami menjawab,”Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau kemudian diam hingga kami mengira beliau akan memberinya nama dengan nama yang lain. Beliau bersabda,”Bukankah ini hari nahar?” Kami berkata,”Benar.”

Beliau bersabda,”Bulan apakah ini?” Kami menjawab,”Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Kemudian beliau diam hingga kami mengira beliau akan memberinya nama dengan nama yang lain. Lalu beliau bersabda,”Bukankah ini bulan Dzulhijjah.” Kami berkata,”Benar.”

Beliau kemudian bersabda,”Negeri apakah ini?” Kami menjawab,”Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau diam hingga kami mengira beliau akan memberinya nama dengan nama yang lain. Beliau kemudian bersabda,”Bukankah ini negeri Al-Haram?” Kami berkata,”Benar.”

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda,”Sesungguhnya darah kalian dan harta kalian, haram atas kalian sebagaimana haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini dan di negeri kalian ini, hingga kalian berjumpa dengan Rabb kalian.” [Hadits riwayat Al-Bukhari}

29. Gerakan Dan Isyarat

Gerakan dan isyarat memiliki efek penting pada berbicara di depan umum. Ada dua jenis gerakan dan isyarat:

  1. Gerakan yang tidak terkontrol: Orang yang marah mengerutkan dahinya dan wajahnya menjadi masam, dan mereka yang antusias ada yang matanya memerah dan suaranya meninggi, jari jemarinya mengerut dan meregang.
  1. Gerakan yang terkontrol: ini mencerminkan emosi dan perasaan dan membantu dalam memberikan motivasi untuk mengikuti dan menambah penjelasan.

Isyarat dan gerakan ini harus cukup disiplin, responsif tanpa dibuat-buat, dan selaras dengan perasaan yang sebenarnya.

Sulit untuk memberikan kaidah-kaidah tertentu dalam persoalan ini, karena tergantung pada suasana hati khatib, pada persiapannya, antusiasmenya, kepribadiannya dan pokok bahasannya, dan pada hadirin serta kesempatan yang ada.

Jika gerak tubuh dan isyarat digunakan dengan terampil, tanpa dipaksakan, dan sesuai dengan makna kata-kata yang menyertainya, maka tangan khatib bisa menjadi alat yang luar biasa untuk menyampaikan gagasan dan menggugah perasaan.

Contoh Penerapan:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ: صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ وَيَقُولُ: ((بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ)) وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ: ((أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّد،ٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ))… الحديث.

Dari Jabir bin Abdullah ia berkata, Apabila Rasulullah ﷺ berkhutbah, maka kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan emosinya meluap bagaikan panglima perang yang sedang memberikan komando kepada bala tentaranya.

Beliau bersabda, ”Hendaklah kalian selalu waspada di waktu pagi dan petang. Aku diutus, sementara antara aku dan hari kiamat adalah seperti dua jari ini (yakni jari telunjuk dan jari tengah).”

Kemudian beliau melanjutkan bersabda, ”Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad . Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat.” [Shahih Muslim no. 1435]

30. Kontak Mata

Pandangan perlu dibagi ke seluruh pendengar. Mata Anda adalah tali yang menghubungkan Anda dengan mereka. Melalui pandangan Anda, mereka tahu sejauh mana Anda memperhatikan mereka, dan Anda tahu melalui kontak mata itu sejauh mana mereka memperhatikan apa yang Anda katakan.

Ini meningkatkan kepercayaan diri Anda dan menyelamatkan Anda dari kebingungan dan ketegangan. Ini juga membantu Anda mengetahui reaksi pendengar dan kesan mereka untuk melakukan koreksi yang sesuai terhadap topik Anda atau metode penyampaiannya.

31. Apa Peran Senyum Yang Merekah

Senyuman adalah salah satu aspek kepribadian yang paling menonjol, karena senyum langsung menambah rasa percaya diri dan dengan cepat menunjukkan niat baik seseorang.

Ekspresi wajah berbicara dengan suara yang lebih kuat daripada suara lisan, dan karakteristik Nabi ﷺ sebagaimana disampaikan oleh para penulis sejarah adalah “Beliau adalah orang dengan wajah yang banyak senyum.”

Bagaimana mungkin tidak seperti itu, sementara beliaulah yang berkata,”Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” Amal ini tidak membebani Anda satu dirham atau dinar pun. Itu adalah harta karun jika seorang khatib dan dai tahu bagaimana menggunakannya, hal itu akan menawan hati dan membuka jiwa.

Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata,”Rasulullah ﷺ tidak pernah melihat wajahku semenjak aku masuk Islam kecuali dalam keadaan tersenyum.” [Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim]

Sebuah pepatah Cina mengatakan: “Dia yang tidak bisa tersenyum, sebaiknya tidak membuka toko.” Senyuman ramah diperlukan di depan audiens sebagaimana diperlukan di belakang kalkulator di toko.

Ada sejumlah khatib yang hadir dengan cara yang dingin dan dibuat-buat, seolah-olah mereka harus melakukan tugas yang menjengkelkan. Mereka memuji Allah setelah mereka selesai. Dan kami, sebagai pendengar, juga merasakan hal yang sama, karena cara-cara tersebut menular.

32. Pakaian Khatib

Agama Islam kita yang lurus, sejak hari-hari pertamanya di dunia ini, menyerukan kebersihan dalam segala hal.

Sangat penting bagi para da’i, terutama mubaligh, untuk meningkatkan minatnya pada aspek ini, sehingga memiliki penampilan indah yang membuat mereka merasa lebih baik dan diterima oleh masyarakat.

Dalam salah satu penelitian, semua individu setuju bahwa ketika mereka tampil bugar dan anggun, mereka merasakan efeknya dalam memberi mereka kepercayaan diri dan meningkatkan harga diri mereka.

Ini adalah pengaruh pakaian pada pemakainya. Lantas, apa pengaruhnya terhadap audiens?

Tidak ada keraguan bahwa hal itu berpengaruh pada audiens. Jadi, jika khatib tidak memperhatikan pakaiannya, maka para hadirin kurang menghargai orang ini, sebagaimana yang dia lakukan terhadap penampilannya.

33. Tunjukkanlah Wajah Anda Dan Perhatikan Pencahayaan.

Orang tertarik untuk melihat khatib, karena perubahan ekspresi wajahnya adalah bagian hakiki dari proses ekspresi diri. Terkadang itu memiliki arti yang lebih dari sekedar kata-kata.

Mengenai pencahayaan, rata-rata pembicara tidak mengetahui pentingnya pencahayaan yang tepat.

Biarkan cahaya membanjiri wajah Anda. Jika Anda berdiri tepat di bawah cahaya, wajah Anda mungkin tertutup bayangan.

Jika Anda berdiri tepat di depan cahaya, wajah Anda pasti tidak akan terlihat jelas. Jadi, bukankah bijaksana untuk memilih tempat yang memberi Anda penerangan terbaik sebelum berbicara?

Sedangkan untuk furnitur (perabot mebel), penataan yang ideal adalah kosong dari furnitur. Tidak ada yang menarik perhatian di belakang seorang khatib, atau di kedua sisinya. Tidak ada apa pun kecuali tirai kain.

34. Bagaimana Anda Membuka Khutbah

Penting bagi anda untuk membuka khutbah dengan pengantar yang menarik, dengan sesuatu yang langsung menarik perhatian.

Jika Anda ingin menggunakan kata pengantar, itu harus sesingkat papan reklame. Karena itu sesuai dengan suasana hati para pendengar pengantar tersebut, yang keadaannya mengatakan: Beri kami apa yang Anda miliki dengan cepat kemudian duduk.

Di antara kesalahan yang dilakukan oleh khatib pemula adalah permintaan maaf dalam pengantar karena dirinya bukanlah seorang khatib, atau bahwa dia tidak memiliki apa-apa untuk dikatakan, karena hal ini melemahkan interaksi pendengar dengannya.

Jangan pernah lakukan ini. Mulailah dengan sesuatu yang menarik dari kalimat pertama, bukan kalimat kedua atau ketiga.

Buat penonton terkesan dengan hal berikut ini:

  1. Sebuah cerita yang menarik.

Ini adalah awal yang sangat menarik, karena jiwa manusia itu suka mendengarkan cerita dan riwayat serta mengikuti berbagai peristiwanya lebih dari sekedar pidato teoretis.

  1. Sebuah pertanyaan yang mengusik pikiran.

Salah satu pembukaan yang istimewa adalah pembicara memulai dengan mengajukan pertanyaan untuk menarik audiens agar berpikir dan berkolaborasi dengannya.

Menggunakan pertanyaan pengantar ini adalah salah satu cara paling sederhana dan paling pasti untuk membuka dan memasuki pikiran audiens Anda.

Contoh praktis:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟)) قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ((ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ)) قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: ((إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَه، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ))

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,”Tahukah kalian, apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab,”Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda,”(Yaitu) kamu menyebut tentang saudaramu dengan sesuatu yang dia tidak sukai.”

Ditanyakan kepada beliau,”Bagaimana pendapat anda jika pada diri saudaraku itu memang terdapat apa yang kukatakan?” Beliau menjawab,”Jika pada dirinya ada apa yang kamu katakan berarti kamu sudah mengghibahnya dan jika tidak ada pada dirinya berarti kamu telah berdusta atas dirinya.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang bangkrut) itu?”

Para sahabat menjawab, ”Muflis di kalangan kami adalah orang yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.”

Maka Nabi ﷺ bersabda, “Muflis dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat dengan membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan menuduh orang lain (berbuat jahat), makan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu dan memukul yang lain.

Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” [Hadits riwayat Muslim].

4. Pemberian permisalan:

Pernyataan abstrak sulit untuk diikuti oleh pendengar pada umumnya. Tetapi mudah baginya untuk mendengarkan contoh-contoh. Jadi mengapa tidak memulai dengan salah satunya? Mulailah dengan contoh, ini akan menarik perhatian, lalu lanjutkan dengan memberikan penjelasan umum Anda.

Contoh praktis:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ. هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟)) قَالُوا: لا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ قَال:َ ((فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا)) رواه البخاري

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,”Bagaimana pendapat kalian, andaikan sebuah sungai berada di depan pintu salah satu dari kalian, lalu dia mandi di sana lima kali sehari setiap hari, apakah dia masih menyimpan sesuatu yang kotor?” Para sahabat berkata,”Tidak ada kotoran yang tersisa.” Beliau bersabda,”Itulah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus kesalahan-kesalahan dengan shalat lima waktu.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari

و عَنْ أَبِي مُوسَى رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة)).رواه البخاري

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,”Permisalan seorang teman yang shalih dan teman yang jelek adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi bisa jadi akan memberimu minyak wangi, atau kamu bisa membeli minyak wangi darinya dan bisa jadi juga kamu mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi akan membakar pakaianmu, dan bisa juga bau asapnya yang tak sedap akan mengenaimu.” [Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim]

و عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الأنْصَارِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : ((مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِه)) صحيح الجامع

Dari Ka’ab bin Malik Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,”Rasulullah ﷺ bersabda,” Dua serigala lapar yang dilepaskan di tengah gerombolan kambing itu tidak lebih membahayakan terhadap gerombolan kambing tersebut dibandingkan dengan (bahaya yang ditimbulkan oleh) ketamakan seseorang kepada harta dan kehormatan, terhadap agamanya.” [Shahih Al-Jami’]

5. Review

Cara mudah untuk menarik perhatian adalah dengan mendiskusikan sesuatu yang diketahui para pendengar Anda.

Contoh praktis:

عن عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عنه قال: أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَرِيرًا بِشِمَالِهِ وَذَهَبًا بِيَمِينِهِ ثُمَّ رَفَعَ بِهِمَا يَدَيْهِ فَقَالَ: ((إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي حِلٌّ لإِنَاثِهِمْ))صححه الالباني

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,” Rasulullah ﷺ mengambil sutra di tangan kirinya dan emas dengan tangan kanannya dan kemudian mengangkat keduanya dengan kedua tangannya, beliau bersabda,”Dua hal ini haram untuk umatku yang laki-laki dan halal untuk umatku yang perempuan.” [Dishahihkan oleh Al-Albani]

6. Ringkasan khutbah (garis besar sebelum detail)

Salah satu pengantar khutbah yang berhasil adalah seorang khatib menyajikan kepada pendengarnya gambaran umum tentang elemen-elemen khutbah, kemudian melanjutkan ke detail khutbah. Pendahuluan ini akan menjadi kunci pikiran para pendengar, membantu mereka memahami khutbah dan mengikuti bagian-bagiannya.

Contoh Penerapan:

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ٱسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَٰنِكُمْ فَذُوقُوا۟ ٱلْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ

Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”. [Ali Imran: 106]

Khutbah tentang penyimpangan sebuah generasi.

Dimulai dengan garis besar unsur-unsur khutbah yaitu: nikmat anak, tanggung jawab orang tua dalam mendidik anaknya, bentuk-bentuk penyimpangan anak, penyebab penyimpangan, penanganan (terapi).

Kemudian masuk ke rincian khutbah.

35. Apa Tujuan Khutbah?

Khutbah adalah pesan dengan tujuan tertentu. Seorang khatib harus menentukan tujuan khutbahnya, dimulai dengan tujuan tersebut dan mengulanginya dengan mendiskusikannya dan mengulang-ulangnya di seluruh bagian khutbah, dan berusaha untuk mencapainya.

Tujuan dari khutbah sangat banyak dan beragam, di antaranya: menjelaskan masalah yang masih samar, mengoreksi pemahaman yang salah, mendorong untuk melakukan perbuatan baik, meninggalkan kemungkaran, atau meyakinkan pemikiran tertentu.

36. Kesatuan Tema

Sering kali kegagalan seorang khatib adalah karena sang khatib tampaknya berusaha untuk membuat rekor dunia dalam waktu yang terbatas. Dia melompat dengan cepat dari satu poin ke poin lain, dan saat pendengar keluar dari masjid, mereka tidak mendapatkan apa-apa tentang segala hal.

Itulah mengapa seorang khatib harus membatasi khutbahnya pada satu topik, mengumpulkan unsur-unsurnya, meluruskan perkataannya, dan memuat terapinya, karena kerumitan topik dan banyaknya persoalan di tempat yang sama, akan memecah pikiran dan saling melupakan.

37. Memperhatikan Audiens

Seorang khatib harus memperhatikan kesiapan pendengar saat pelaksanaan khutbah, sehingga dia memakai ungkapan terhadap publik sesuai dengan kadar intelektualitas mereka.

Menghindari ekspresi linguistik yang jauh dari persepsi mereka, menggunakan ungkapan biasa untuk orang-orang biasa dan menggunakan gaya yang elegan untuk orang-orang khusus. Sehingga, dengan semua kelas manusia, dia akan menjadi orang bijak yang menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan dalam setiap kesempatan, khatib perlu menghindari dalam pidatonya setiap hiasan yang batil.

Oleh karenanya, seorang khatib harus mencari bantuan penguat dari hikmah-hikmah yang bertebaran dan dari syair-syair, dan bumbu sejarah, dalam menyampaikan pesannya ke benak para pendengar, menanamkannya di hati mereka, dan menangkal rasa bosan dan jenuh dari mereka.

38. Membandingkan Antara Realitas Dan Idealitas

Dalam mengkritik kesalahan dan mengoreksi perilaku, terkadang orang-orang bosan jika sang kritikus tersebut terbatas pada gagasan teoritis saja.

Tetapi seorang khatib jarang gagal menarik perhatian mereka dan mempengaruhi mereka jika dia menunjukkan beberapa pandangan dari kondisi konkret mereka, dan membandingkan pandangan tersebut dengan pandangan dari keadaan yang benar yang ideal.

Hal yang paling menarik bagi kita adalah kondisi kita saat ini, karena masing-masing kita merasakan dalam keadaan ini bahwa inilah makna dari perkataan ini bukan yang lain.

Contoh praktis:

Mengemukakan pandangan dari kondisi riilMembandingkan dengan kondisi ideal (kondisi para Salaf)
Orang yang begadang dengan temannya, kemudian tertinggal shalat shubuh karena tertidurDahulu, orang yang sakit di masa sahabat dibawa ke masjid, dipapah oleh dua orang dan diberdirikan di dalam barisan shalat.
Seorang pria muda menangis karena kekalahan timnya, dan yang lain menangis dalam sebuah lagu atau drama.Sa’id bin Abdul Azis menangis karena ketinggalan shalat Jamaah.
Sebagian dari wanita kita meremehkan hijabKeluarnya para wanita Anshar ketika turun perintah untuk berhijab, seolah mereka itu burung-burung gagak hitam

Perbandingan seperti itu akan berdampak lebih besar pada jiwa para pendengar daripada kritik langsung

Pertimbangkan pelajaran kenabian ini yang mengandalkan metode perbandingan yang mendorong orang untuk meneladani.

عَنْ خَبَّابِ بْنِ الأَرَتِّ رضي الله عنه قَالَ: شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ فَقُلْنَا: أَلا تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلا تَدْعُو لَنَا؟! فَقَال: ((قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الأَرْضِ، فَيُجْعَلُ فِيهَا فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ، فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ فَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَاللَّهِ لَيَتِمَّنَّ هَذَا الأَمْرُ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لا يَخَافُ إِلا اللَّهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُون.)) رواه البخاري

Dari Khabab bin Al-Arat radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,”Kami pernah mengadu kepada Rasulullah ﷺ, saat itu beliau sedang bersandar pada Ka’bah beralaskan burdah. Kami mengatakan,” Tidakkah anda meminta pertolongan untuk kami? Tidakkah anda berdoa untuk kami???

Beliau lalu bersabda, ”Wahai Khabbab, sungguh ada seorang laki-laki sebelum kalian, yang tubuhnya dikubur hingga sebatas leher ke atas, lalu sebuah gergaji diambil untuk menggergaji kepalanya hingga terbelah menjadi dua.

Ada pula yang tubuhnya digaruk dengan sisir besi sehingga terlepas antara tulang dari dari daging dan uratnya. Namun semua itu tidak menjadikan mereka berpaling dari agamanya.

Demi Allah, urusan (Islam) ini akan sempurna, sehingga suatu saat nanti, seorang pengendara berjalan dari Shan’a hingga menuju Hadramaut tanpa merasa takut kecuali hanya kepada Allah, dan serigala bisa berdampingan dengan kambing (tanpa memangsanya). Namun kalian adalah orang yang tergesa-gesa.” [Hadits riwayat Al-Bukhari].

39. Penutup Khutbah

Ketahuilah wahai saudaraku khatib, bahwa amal itu tergantung pada penutupnya. Penutup khutbah itu bisa jadi merusak atau memperbaiki apa yang datang sebelumnya. Jadi buatlah penutup yang kuat, fokus dan berpengaruh untuk memperkuat dalam pikiran dan agar tersimpan menjadi memori yang baik di hati para pendengar.

Setelah khatib menyelesaikan presentasinya tentang topiknya, dan dia telah menukil dalil-dalilnya, memberikan contohnya, menjelaskan pelajarannya, dan peringatannya, lebih baik dia mengakhiri khutbahnya dengan kesimpulan yang tepat yang kuat dalam ekspresi dan dampaknya, karena itu adalah hal terakhir yang mengetuk telinga pendengar dan menetap dalam pikirannya.

Saran untuk kesimpulan:

  1. Ayat – ayat al-Quran atau hadits – hadits Nabi ﷺ :

Seorang khatib dapat menyimpulkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang sebelumnya tidak dia kutip yang menyatukan topiknya dalam bentuk pemberian motivasi atau ancaman dapn pembuktian serta penegasan, dan terkadang hal itu bisa berupa sebuah hadits yang sesuai.

  1. Doa:

Di hadapan khatib, ada sekumpulan doa dari Al-Quran atau hadits nabawi yang ma’tsur. Dari sana, dia dapat memilih apa yang sesuai dengan topik dan menjadikannya sebagai penutup dari khutbahnya. Dia juga dapat membuat doanya sendiri yang mendukung tujuan khutbah yang diinginkan dan memperkuatnya di hati para pendengar.

  1. Meringkas ide:

Seorang khatib cenderung merangkum banyak gagasan, bahkan dalam pidato singkat yang berkisar antara tiga atau lima menit.

Namun, ada sedikit khatib yang menyadari hal ini. Ini mengasumsikan bahwa pikiran-pikiran ini jelas dan gamblang di benak mereka. Dengan demikian, ia menjadi jelas di benak pendengar mereka.

Tetapi masalahnya sama sekali berbeda karena khatib telah memikirkan dengan cermat apa yang akan dia katakan. Sementara semua pikirannya adalah hal baru bagi pendengarnya. Beberapa di antaranya melekat di benaknya, dan sebagian besar menggelinding dalam kekacauan.

Seorang khatib harus memperbaiki masalah ini dengan menutup khutbahnya dengan kesimpulan yang manyatukan pikirannya, dan meringkas topiknya, dalam ungkapan yang berbeda, dan dengan cara yang singkat.

Dan dikatakan: Pertama beri tahu mereka apa yang ingin Anda beri tahukan kepada mereka, lalu beri tahu mereka, lalu beri tahu mereka apa yang Anda katakan kepada mereka.

40. Memahami Komprehensifitas Islam

Khatib yang berpengaruh memahami Islam secara keseluruhan, dan semua isinya, berupa berbagai ibadah, adab, muamalah, aqidah, akhlak dan perundang-undangan.

Betapa butuhnya kita pada hari ini kepada seseorang yang mengerti Islam dan bagus dalam menjelaskannya. Seringkali keburukan itu datang dari arah mereka yang tidak mengerti Islam dan pada saat yang sama tidak menjelaskan dengan baik kepada kaum muslimin atau orang lain. Seorang khatib tidak boleh tenggelam dalam hal-hal yang tidak dia ketahui.

41. Hidup Bersama Khutbah Selama Sepekan

Seorang khatib yang berpengaruh menentukan fenomena yang ingin dia bahas. Lalu dia hidup bersamanya siang dan malam. Dia menghabiskan sebagian besar perhatiannya dan isi pemikirannya berkutat tentang hal itu dan cenderung kepadanya, hingga saat pikirannya telah penuh, pena bergerak untuk mengukir pemikiran.

Saat dia berdiri di mimbar, maka dia mengambil apa yang tertulis dengan benar, dalam penyampaian yang baik dan kedalaman hubungan antara satu pikiran ke pikiran berikutnya, tanpa lupa untuk menawan hati atau membangkitkan emosi dan menggugah hati nurani.

42. Hidup Bersama Realitas Umatnya

Seorang khatib yang berpengaruh adalah orang media yang mengetahui berita umatnya dan menyiapkannya, menyederhanakannya, dan mengartikulasikan presentasinya kepada campuran orang yang berbeda.

Khatib yang berpengaruh itu penuh kasih dan penyayang, lembut dan luwes dalam bergaul, dan dia tidak mengisolasi dirinya dari orang-orang, tetapi bertanya tentang mereka, hadir dalam pertemuan mereka, memberkati kegembiraan mereka, dan tidak berharap mereka terluka.

Khatib berpengaruh memiliki kedudukan di hati dan jiwa karena dia adalah unsur kebaikan dan pertumbuhan.

Seorang khatib berpengaruh adalah orang yang menyadari rasa sakit dan harapan umatnya, meringankan rasa sakit, menyeka luka, meredakan penyakit, dan mengembuskan harapan untuk bangkit dan mengangkatnya ke cakrawala yang luas dan tinggi.

Seorang khatib berpengaruh adalah mata air kebajikan dan kedermawanan yang mengalir karena dia mencintai dan memberikan kenyamanan dan keridhaan, terutama karena welas asih terhadap sesama adalah salah satu ciri dan sifatnya.

Dia melihat kemungkaran dan tidak tinggal diam terhadapnya, bahkan membentuknya dalam bentuk retorika pendidikan yang berpengaruh, yang membangkitkan orang yang tidur dan memuaskan dahaga, serta membawa orang buta ke jalan kebenaran dan medan pengetahuan.

Ketahuilah bahwa Anda adalah penduduk bumi ini dan bukan penduduk Saturnus, jadi bersikaplah realistis dan logis. Bicaralah tentang lingkungan para hadirin, hiduplah bersama realitas mereka dan masyarakat mereka. Ingatlah bahwa setiap tempat ada perkataan yang sesuai dan setiap kejadian ada pembicaraan yang relevan.

43. Khatib Adalah Seorang Terapis.

Seorang khatib berpengaruh tidak kalah pentingnya dari seorang petempur di jantung tentara, yang melindungi umatnya dengan nyawanya, karena khatib itu membela keyakinannya dari syubhat dan keraguan.

Khatib yang berpengaruh adalah lisan ekspresif umatnya, penerjemahnya yang berpengaruh, detak jantungnya, pembuluh darahnya yang mengalir, bahkan ia adalah semangat baru yang mengalir melalui denyut nadinya, pembuluhnya, bangunannya, dan semua lembaganya.

Khatib yang berpengaruh adalah tempat kembali untuk orang sakit, haus, yang membutuhkan, dan orang yang punya hutang.

Khatib yang berpengaruh diilhami oleh peristiwa untuk membangkitkan orang banyak yang datang kepadanya, mengikutinya, dan menginginkannya, sehingga tidak ada peristiwa yang terjadi pada khatib yang sukses tanpa rasa pendidikan yang berpengaruh, atau nasehat yang sangat menyentuh, atau hubungan yang baik dengan akhirat, atau memobilisasi dan mengirimkan harapan dengan memperpanjang nafas kehidupan, dan meremehkan perkara dunia.

44. Jauhilah Ujub

Seorang khatib terkadang memulai perjalanan khutbahnya dengan awal yang sederhana di mana dia membenci dirinya sendiri. Tetapi begitu kakinya berdiri di mimbar para khatib mulia yang menawan hati orang-orang sebelum pendengaran mereka, maka dia akan tetap rentan untuk tergelincir ke dalam godaan ujub yang menuntunnya untuk mengagumi pendapatnya sendiri.

Dia menjadi mangsa kesalahan dan menghindari kebenaran, terutama dalam masalah yang membingungkan (dilematis). Nabi ﷺ mencela sifat ini dengan mengatakan,

إذا رأيت شحاً مطاعاً وهواً متبعاً وإعجاب كل ذي رأي برأيه فعليك نفسك )) رواه أبو داود والترمذي وحسنه

Bila kamu telah melihat sifat kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti dan setiap orang kagum dengan pendapatnya sendiri, maka hendaklah kalian menjaga diri kalian sendiri.” [hadits riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan dia menghasankannya]

Hal terbaik yang bisa dilakukan oleh orang yang ujub kepada dirinya sendiri untuk mengobati dirinya adalah dengan melihat kepada orang yang lebih tinggi dari dirinya dalam hal ilmu dan sikap tawadhu’ dari kalangan Salaf kita yang shalih dan ulama kita yang mulia.

نَرْفَعُ دَرَجَٰتٍ مَّن نَّشَآءُ ۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِى عِلْمٍ عَلِيمٌ

Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.” [Yusuf: 76]

45. Waspadalah Terhadap Campur Tangan Setan

Seorang khatib harus memperhatikan aspek penting yang dianggap sebagai jalan masuk yang lebar dari pintu masuk setan. Apalagi jika khatib adalah termasuk kalangan yang menjadi pusat berkumpulnya manusia dan banyak yang mencintainya.

Aspek yang penting ini adalah membuat ridha umat. Khatib yang masyhur biasanya tertimpa dua hal:

  1. Membikin ridha para pendengarnya dengan khutbahnya yang di dalamnya terdapat ketegangan dan kritikan kuat tanpa kepedulian.
  1. Membikin ridha pihak lain di luar para pendengarnya.

Kedua hal ini adalah kesalahan fatal. Nabi ﷺ bersabda,

من التمس رضا الناس بسخط الله سخط الله عليه وأسخط عليه الناس ومن التمس رضا الله بسخط الناس رضي الله عنه وأرضا عنه الناس

Siapa yang mencari ridha manusia dengan murka Allah, Allah murka padanya dan membuat orang murka padanya, dan siapa yang mencari keridhaan Allah dengan murka manusia, Allah ridha kepadanya dan menjadikan orang-orang ridha kepadanya.”

Ini jika mereka mencari keridhaan manusia dengan perkara yang salah. Namun jika mencari keridhaan salah satu dari kedua pihak dengan perkara yang benar dan dia bermaksud untuk menyenangkan mereka dengan hal itu, maka itu masuk ke dalam masalah riya’ dan itu adalah syirik yang tersembunyi.

46. Jangan Memaksakan Diri Untuk Bersajak

Beberapa khatib, semoga Allah memberi taufik kepada mereka, jatuh ke dalam kebiasaan yang patut dicela, yaitu kebiasaan bersajak yang dipaksakan dalam khutbah. Ada dua hal tercela dalam sajak yang dipaksakan tesebut, salah satunya adalah kata-kata yang serupa maknanya, sehingga khutbah menjadi kelebihan dengan kata yang tidak berguna, dan hal lain adalah sajak itu tercela dalam beberapa kasus.

Dalil yang menunjukkan dicelanya bersajak adalah hadits dari Abu Hurairah radhyallahu ‘anhu dalam Ash-Shahihain:

اقْتَتَلَتْ امْرَأَتَانِ مِنْ هُذَيْلٍ فَرَمَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى بِحَجَرٍ فَقَتَلَتْهَا وَمَا فِي بَطْنِهَا فَاخْتَصَمُوا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ دِيَةَ جَنِينِهَا غُرَّةٌ عَبْدٌ أَوْ وَلِيدَةٌ وَقَضَى بِدِيَةِ الْمَرْأَةِ عَلَى عَاقِلَتِهَا وَوَرَّثَهَا وَلَدَهَا وَمَنْ مَعَهُمْ فَقَالَ حَمَلُ بْنُ النَّابِغَةِ الْهُذَلِيُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ أَغْرَمُ مَنْ لَا شَرِبَ وَلَا أَكَلَ وَلَا نَطَقَ وَلَا اسْتَهَلَّ فَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الْكُهَّانِ مِنْ أَجْلِ سَجْعِهِ الَّذِي سَجَعَ

“Dua wanita Bani Hudzail sedang berkelahi, yang satu melempar lawannya dengan batu sehingga menyebabkan kematiannya dan kematian anak yang dikandungnya. Lalu mereka mengadukan peristiwa itu kepada Rasulullah ﷺ.

Beliau lalu memberi putusan bahwa denda bagi janin tersebut adalah membebaskan seorang budak yang mahal, baik itu budak laki-laki atau perempuan. Sementara tebusan untuk wanita (terbunuh) dibebankan kepada kerabat terdekat wanita (si pembunuh). Dan menetapkan bahwa harta warisan (wanita yang membunuh) untuk anak-anaknya dan orang yang bersama mereka.”

Hamal bin Nabighah Al Hudzali berkata, ”Ya Rasulullah, bagaimana aku harus menanggung orang yang belum bisa makan dan minum, bahkan belum bisa berbicara ataupun menjerit sama sekali? Bukankah itu sebuah kesia-siaan belaka?” Mendengar hal itu Rasulullah ﷺ pun bersabda, ”Hanyasanya ini seperti saudara-saudaranya setan, karena sajak yang ia ucapkan.” [Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Lafazh hadits ini adalah milik Muslim]

47. Persiapkan Sejak Awal

Beberapa khatib tidak mempersiapkan khutbah kecuali pada pagi hari Jumat atau beberapa jam sebelumnya. Siapa yang melakukan hal itu jika tindakannya memiliki alasan yang membolehkan untuk melakukannya, maka tidak mengapa karena kondisi darurat itu memiliki ketentuannya sendiri.

Namun jika tidak demikian halnya, maka ia termasuk orang yang tidak sedang memikul dakwah dan risalah. Dia hanya menjadikan mimbar sebagai sebuah kebiasaan atau pendapatan. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Jadi seorang khatib harus mencurahkan sebagian besar perhatian dan pemikirannya ke dalam khutbah Jumat dan meluangkan waktu yang lama untuk mempersiapkannya untuk persiapan yang tepat sehingga tugas tersebut diselesaikan dan tujuan yang dimaksudkan tercapai.

48. Berbicara kepada orang sesuai dengan kadar pemahaman mereka.

Ini diperlukan, tetapi melakukannya secara terus menerus mungkin menjadi sebab untuk tidak meningkatkan mereka, karena khatib harus memperhatikan perkembangan dirinya terlebih dahulu dan kemudian perkembangan orang-orang yang menghadirinya.

Tetapi jika dia dibatasi bahwa dia ingin berkhutbah kepada mereka sesuai dengan tingkat pikiran mereka dan tingkat pengetahuan mereka saja, maka dia tidak akan meningkat bersama mereka. Setelah beberapa waktu, persoalan khutbah menjadi masalah rutin bagi khatib, dan menjadi hal yang menyebalkan bagi pendengar.

Kami diberitahu pada awal kami menghadapi persoalan pesan-pesan pemikiran bahwa tema pemikiran itu adalah topik yang sulit dan berat, tetapi setelah beberapa saat saudara-saudara kami dari kaum Muslimin mulai menuntut perbaikan dan peningkatan khutbah.

Selain itu khutbah-khutbah tentang pemikiran tersebut menjadi bahan kajian yang akan diambil jamaah setelah meninggalkan masjid, dan mungkin untuk beberapa hari.

49. Hindari Perkara-Perkara Khilafiah Yang Bisa Memicu Kedengkian, Kebencian Dan Ketersinggungan.

Tugas utama Khatib adalah menyatukan barisan umat Islam dan menghilangkan penyebab perselisihan di antara mereka.

Sesungguhnya mengangkat masalah apa pun yang mengarah pada ketidaksepakatan dan perselisihan di antara umat Islam adalah seperti paku peti mati bagi kehidupan ceramah sang khatib. Ini karena dia tidak berjalan selaras dengan tujuan ideal dan tujuan yang tinggi dari Islam.

50. Menonjol Dalam Hal Tekad Dan Ketaatan.

Keunggulan di bidang keimanan dengan aqidah yang benar, ilmu yang kokoh, dan pengaruh yang kuat – tanpa diperselisihkan lagi – merupakan unsur terpenting dan prioritas pertama bagi dai.

Ini agar dai memiliki iman yang besar kepada Allah, sangat takut pada-Nya, tawakal yang tulus kepada-Nya, selalu merasa diawasi oleh-Nya, banyak kembali kepada-Nya, lidahnya basah dengan mengingat Allah (dzikrullah).

Pikirannya memikirkan tentang kerajaan Alah, dan hatinya dipersiapkan untuk bertemu dengan Allah, sungguh-sungguh dalam ketaatan, bersegera untuk berbuat baik, berpuasa di siang hari, bangun untuk beribadah di malam hari, dengan berupaya untuk ikhlas secara sempurna dan bersangka baik kepada Allah.

Ini adalah tanda kemenanganan, ciri khas kesalehan, kunci keselamatan karena sang khatib telah mewujudkan makna ubudiyah (penghambaan) yang tulus kepada Allah. Ubudiyah inilah yang mendapatkan taufik dari Allah.

Dengan demikian sang dai tersebut telah diluruskan. Jika beramal dia bersungguh-sungguh, jika memberi keputusan hukum dia tepat, dan jika dia berbicara maka bermanfaat.

Tidak dapat dibayangkan keberhasilan dan kesuksesan bagi khatib, atau keistimewaan dan penerimaan tanpa memiliki iman yang besar. Sebab, bagaimana Anda mengajak orang-orang kepada seseorang sementara hubungan anda bersamanya lemah dan pengetahuan Anda tentang dirinya sedikit.

Tujuan besar ini paling berkaitan dengan amal hati yang tersembunyi dari orang-orang dan hanya diketahui oleh Allah, tetapi efeknya terlihat jelas dalam perkataan dan perbuatan.

Semua ini tercermin pada diri sang dai, sehingga pada kepribadiannya nampak pengaruh iman yang benar dan menggerakkan.

51. Peka terhadap dakwah

Tidak mungkin suatu pemikiran itu akan berhasil, apapun itu, kecuali jika dirasakan oleh pemiliknya. Orang yang merasakan panggilan dakwahnya, kata-katanya keluar dengan tulus karena dia merasakan apa yang dia serukan dan merasakan dari dalam dirinya betapa pentingnya pemikirannya dan tidak tenang sampai orang lain merasakannya dan mempercayainya.

Sampai-sampai salah satu dai berkata,” Anda percaya pada pemikiran Anda terlebih dahulu. Percaya pada hal itu sampai pada titik kepercayaan yang panas. Ketika itulah orang lain akan percaya padanya. Jika tidak demikian, maka akan tetap menjadi kata-kata yang kosong dari ruh dan kehidupan.” [Afrahurruh]

Orang-orang berbeda-beda dalam hal keprihatinannya. Ada orang yang perhatiannya hanyalah mengumpulkan uang dan mengejar dunia, dan dia terkadang berpikir bahwa dirinya adalah seorang dai.

Orang semacam ini, jika anda mendatanginya agar dia berkorban sesuatu untuk agama ini, pandangannya akan berbolak balik di hadapanmu, dia akan menipu anda dengan tiba-tiba berkata,” Saya sibuk. Saya banyak pekerjaan.”

Untuk itulah Malik bin Dinar rahimahullah berkata,

بقدر ما تحزن على الدنيا يخرج هم الاخرة من قلبك وبقدر ما تحزن للاخرة يخرج هم الدنيا من قلبك لأنه لا يجتمع في قلب عبد قط حزن بالإخرة وفرح بالدنيا

”Kegelisahan anda terhadap akhirat akan keluar dari hati anda sesuai dengan kadar kesedihan anda terhadap dunia. Dan terusirnya kesedihan anda terhadap dunia dari hati anda itu sesuai dengan kadar kegelisahan anda terhadap akhirat. Hal ini karena kesedihan terhadap akhirat dan kebanggaan terhadap dunia tidak akan pernah bersatu dalam hati seorang hamba.” [Hayatush-Shalihin)

52. Peka terhadap manusia

Ketika sang khatib merasakan dakwahnya, hidup dengannya dan merasakannya setiap saat, ini berarti dia peka terhadap orang-orang di sekitarnya yang menjadi obyek dakwahnya. Di sinilah berbedanya kehidupan beserta makna-maknanya sebagaiman diterangkan oleh Sayyid Qutb rahimahullah.

Dia berkata,”Sesungguhnya kita hidup untuk diri kita sendiri dengan kehidupan yang berlipat ganda ketika kita hidup untuk orang lain. Dan sesuai kadar berlipat gandanya kepekaan kita dengan orang lain, kita melipat gandakan kepekaan kita terhadap kehidupan kita dan kita melipat gandakan kehidupan ini sendiri pada akhirnya.

Allah Ta’ala berfirman,

يَٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱنْهَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [Lukman: 17]

53. Kreatifitas

Syarat kesuksesan Anda wahai khatib, terletak pada kesiapan psikologis Anda untuk menyimpang dari cara-cara yang biasa.

Khatib yang sukses membaca, berpikir, bertanya dan mengumpulkan informasi, menambahkan hal baru yang luar biasa.

Penutup

Sebagai penutup, saya tidak lupa mengingatkan diri saya sendiri terlebih dulu dan saudara saya para khatib bahwa pidato berbunga-bunga, kata-kata yang bergema, massa yang membludak, dan pujian yang besar, semua ini tidak sebanding dengan sebutir gandum jika hubungan dengan Allah Ta’ala itu lemah.

Pada akhirnya, saya memohon kepada Allah agar menjadikan amal ini dalam timbangan perbuatan baik pada hari kiamat, dan agar amal ini memberi manfaat bagi setiap khatib dan dai, serta menjadikan amal ini sebagai amal shalih dan ikhlas semata hanya untuk-Nya.

i http://www.saaid.net/aldawah/236.htm

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
Hukum Khutbah Jum’at Menurut Para Ulama
Urutan Khutbah Sesuai Sunnah Nabi
Rukun Khutbah Menurut Madzhab Syafii
Kesalahan Khatib Yang Sering Terjadi
Memilih Referensi & Tema Khutbah Jum’at
Sunnah-Sunnah Dalam Khutbah Jum’at

error: Content is protected !!