Khutbah Jum’at: Keutamaan Menutup Aib Saudara Muslim Dalam Islam

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

فإنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ

Menutup Aib Sesama Muslim adalah Tuntutan Ukhuwah Islamiyah

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Pada kesempatan khutbah ini, khatib hendak membahas salah satu tuntutan wajib dari ukhuwah Islamiyah, yaitu menutup aib saudara sesama Muslim. Selain merupakan hak ukhuwah Islamiyah yang harus dipenuhi, menutup aib sesama Muslim juga merupakan salah satu amal shalih yang sangat besar pahalanya bila dilakukan dengan benar dan penuh keikhlasan.

Dan sebaliknya, orang yang tidak mau menutup aib saudaranya, atau bahkan suka membongkar dan menyebar aib dan kekurangan saudaranya sesama Muslim mendapat ancaman yang keras dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلْفَٰحِشَةُ فِى ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” [An-Nur: 19]

Banyak hadits Nabi ﷺ yang membicarakan tentang menutup aib sesama muslim. Hal ini menunjukkan pentingnya persoalan ini sehingga Nabi ﷺ banyak memberikan penjelasan dan dorongan untuk menutup aib sesama Muslim serta memperingatkan dari membuka aib mereka.

Perintah Menutup Aib Saudara Muslim

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,

Di antara hadits-hadits yang menjadi dalil diperintahkannya menutup aib sesama Muslim adalah:

  1. Hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma

Dalam Ash-Shahihain dan Jami’ At-Tirmidzi dari hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً ، فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ القِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ

Seorang Muslim itu saudara Muslim yang lain. Dia tidak akan menzhaliminya dan tidak menyerahkan kepada musuh. Siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.

Dan siapa yang menghilangkan sebuah kesengsaraan (kesusahan) dari seorang Muslim, maka dengan perbuatan tersebut Allah akan menghilangkan dari dirinya sebuah kesengsaraan (kesusahan) dari berbagai kesengsaraan pada hari kiamat. Dan siapa yang menutupi seorang Muslim Allah akan menutupinya pada hari kiamat.” [Hadits riwayat Al-Bukhari (2442), Muslim (2564) dan At-Tirmidzi (1426)]

  1. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

Dalam Shahih Muslim, Musnad Ahmad, Sunan Abu daud dan At-Tirmidzi, An-nasa’i, Ibnu Majah serta shahih Al-hakim dan shahih Ibnu Hibban dari hadits Abu Hurairah secara marfu’ disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعَسِّرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِيْ الدُّنْيَا وَالآَخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمَاً سَتَرَهُ اللهُ فِيْ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ

Siapa yang meringankan dari seorang mukmin sebuah kesusahan yang berat dari berbagai kesusahan dunia, Allah akan meringankannya dari dari kesusahan berat dari sekian kesusahan berat pada hari kiamat.Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan, Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat.

Dan siapa yang menutupi seorang Muslim, Allah akan menutupinya di dunia dan akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut senantiasa menolong saudaranya.”

  1. Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma

Di dalam Sunan Ibnu Majah dan yang lainnya dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi ﷺ beliau bersabda,

مَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ ، سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ كَشَفَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ ، كَشَفَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ ، حَتَّى يَفْضَحَهُ بِهَا فِي بَيْتِهِ

Siapa yang menutup seorang aurat saudaranya Muslim Allah akan menutup auratnya pada hari kiamat. Siapa yang menyingkap aurat saudaranya Muslim Allah akan menyingkap auratnya hingga Allah akan membongkarnya di rumahnya.” [Syaikh Al-Albani menyatakannya sebagai hadits shahih di dalam Shahih Sunan Ibni Majah]

Baca juga Khutbah Jum’at: Keutamaan Menghilangkan Kesusahan Muslim

Keutamaan Menutup Aib Saudara Muslim

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Menutup aib saudara sesama muslim itu merupakan sebuah amalan yang sangat utama. Di antara keutamaan menutupi aib saudaranya sesama Muslim adalah :

  1. Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat

Hal ini sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ ،

”Siapa yang menutupi seorang Muslim, Allah akan menutupinya di dunia dan akhirat.”

  1. Merupakan tanda bukti kecintaannya kepada sesama Muslim.

Hal ini karena dia telah menutupi kekuranganya, menginginkan dia untuk bertaubat, tidak mau membongkarnya. Ini merupakan indikasi kuat bahwa dia mencintai saudaranya sesama Muslim.

Namun sebaliknya, orang yang membongkar aib saudaranya sesama Muslim, itu menunjukkan ketidaksukaannnya kepada saudara muslim tersebut, menghendaki keburukan terhadapnya dan mencemarkan nama baiknya. Akibatnya adalah muncul kebencian di antara sesama Muslim.

  1. Memberikan ketenangan dan kebahagiaan di dalam hati

Hal ini karena dia telah berbuat kebaikan. Setiap kebaikan dilakukan oleh seseorang maka itu akan menenangkan hatinya, melapangkan dadanya, menjernihkan dan menentramkan jiwanya. Banyak hadits yang menerangkan tentang hal ini, di antaranya:

Dari Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma dia berkata,” Aku menghafal dari Rasulullah ﷺ (sabdanya):

فَإِنَّ الخَيْرَ طُمَأْنِيْنَةٌ وَإِنَّ الشَّرَّ رِيْبَةٌ

Sesungguhnya kebaikan itu (membuahkan ) ketenangan, sedangkan kejelekan itu (mendatangkan) kegelisahan.”

[Hadits riwayat Al Hakim 2/51 dalam Mustadroknya. Al-Hakim mengatakan hadits ini sanadnya shahih. Adz-Dzahabi menyatakan hadits ini shahih.]

Dari Nawas bin Sam’an, Nabi ﷺ bersabda,

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

Kebaikan adalah dengan berakhlak mulia. Dan keburukan adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa dan kamu tidak suka bila manusia mengetahuinya.” [Hadits riwayat Muslim no. 2553]

  1. Dengan menutupi aib seorang muslim berarti telah menutup keburukan agar tidak tersebar luas, karena tersebar luasnya sebuah keburukan itu berarti membantu menguatkan hati para pelaku maksiat, menguatkan setan dalam menguasai para pelaku maksiat dan mencemarkan nama baik orang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam orang-orang yang suka agar keburukan itu menyebar luas di kalangan orang-orang beriman dengan firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” [An-Nur: 19]

Syariat Islam Untuk Menutup Kesalahan / Aib Saudara Muslim

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Untuk mencegah agar seorang muslim tidak mudah membuka aib atau kekurangan saudaranya, syariat Islam telah memberikan sejumlah larangan yang bisa berfungsi sebagai sarana untuk menutup celah bagi seorang muslim untuk membuka aib saudaranya. Di antaranya adalah:

  1. Larangan Ghibah

Ghibah adalah menyebut sesuatu tentang saudara sesama muslim yang tidak disukai oleh muslim tersebut. Hal ini sebagaimana dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,

أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ ؟ قَالُوْا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، فَقِيْلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخْيْ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Apakah kalian tahu apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab, ”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Rasulullah ﷺ bersabda, ”Kamu menyebut tentang saudaramu dalam hal yang dia benci.”

Lalu ditanyakan,”Bagaimana pendapat anda jika apa yang aku katakan tentang saudaraku itu benar adanya?”

Rasulullah ﷺ bersabda,”Jika apa yang kamu sebutkan tentang saudaramu itu benar adanya maka sungguh engkau telah mengghibah saudaramu dan jika apa yang kamu katakan itu tidak benar ada pada dirinya maka engkau telah berdusta tentang saudaramu.”

Di antara dalil yang melarang ghibah adalah firman Allah Ta’ala,

مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمُ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُم أَنْ يَأكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۚ وَاتَّقُوْا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوّابٌ رَحيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari kesalahan orang lain dan jangan di antara kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? tentu kalian akan merasa jijik. Bertakwalah kalian pada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.” [Al-Hujurat : 12]

  1. Larangan Tajassus

Tajassus berarti mencari – cari kesalahan dan kekeliruan orang lain serta rahasia mereka. Hal ini dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firmannya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” [Al-Hujurat : 12]

  1. Larangan Mujaharah

Mujaharah adalah melakukan dosa dan maksiat secara terangan atau bisa juga berarti seseorang melakukan dosa secara tersembunyi lalu menceritakan dan menyebarkan kemaksiatan yang dia lakukan kepada orang lain.

Pada zaman sekarang bentuk yang paling mudah dipahami adalah orang yang merekam perbuatan dosa dan maksiat yang dia lakukan lalu diunggah ke media sosial di internet agar dilihat oleh banyak orang.

Ini bentuk yang paling vulgar. Biasanya dilakukan oleh orang–orang yang sudah menganggap biasa kemaksiatan yang dilakukan sehingga setan membalik cara pandang dan cara berfikirnya. Sesuatu yang semestinya memalukan malah dianggap membanggakan. Nasalullahal ‘afiah.

Seorang Muslim wajib menutup aibnya sendiri dan aib orang lain. Bila dia melakukan maksiat maka kewajibannya adalah bertaubat dan tidak boleh menyebarkan kemaksiatan yang dia lakukan kepada orang lain.

Bila dia melihat orang lain bermaksiat maka kewajibannya adalah mengingatkan saudaranya agar bertaubat dan tidak menyebarkan maksiat saudaranya kepada orang lain. Kecuali orang itu dikenal sebagai ahli maksiat atau melakukannya secara terbuka tanpa merasa malu dan bersalah, apalagi berbangga dengan maksiatnya.

Larangan membuka ketergelinciran seseorang dalam dosa adalah orang yang dikenal istiqamah agamanya kemudian suatu saat tergelincir dalam maksiat. Orang semacam ini harus ditutupi kesalahannya dan tidak boleh disebarluaskan.

Ahli maksiat dan orang yang terus menerus melakukan berbagai kefasikan secara terang-terangan maka tidak ada kehormatan bagi orang semacam itu. Tidak disyariatkan untuk menutupi dosa dan maksiatnya.

Di antara dalil yang melarang mujaharah dengan dosa dan maksiat adalah firman Allah Ta’ala,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلْفَٰحِشَةُ فِى ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” [An-Nur: 19]

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Salim bin Abdillah, dia berkata, ”Aku mendengar Rasulullah bersabda ﷺ,

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ: عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujaahirin (para pelaku mujaharah,pent). Dan termasuk perbuatan mujaharah (terang-terangan berbuat dosa) adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi harinya dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut.

Dia justru berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupinya, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap apa yang Allah telah tutup darinya.”

Baca juga Khutbah Jum’at: Perusak Ukhuwah Islamiyah

Cara Menutup Kekurangan / Aib Saudara Muslim

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah,

Mungkin anda bertanya-tanya, bagaimana caranya agar kita bisa menutupi aib saudara sesama muslim? Sarana apa yang bisa kita gunakan untuk itu? Di antara cara yang bisa digunakan untuk memudahkan kita menjalankan kewajiban menutupi kekurangan saudara sesama muslim adalah:

  1. Mengetahui keutamaan menutupi kekurangan saudara sesama Muslim, yaitu Allah akan menutupinya di dunia dan akhirat.
  2. Senantiasa mengingat dalam hati dan pikiran kita makna persaudaraan iman atau ukhuwah Islamiyah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” [Al-Hujurat: 10]

Nabi ﷺ bersabda,

المُسْلِمُ أخُو المُسْلِمِ، لا يَظْلِمُهُ ولا يَخْذُلُهُ، ولا يَحْقِرُهُ

Seorang Muslim adalah saudara sesama Muslim, dia tidak menzhaliminya dan tidak mentelantarkannya, dan tidak merendahkannya.”

[Hadits shahih riwayat Muslim di dalam shahih Muslim no. 2564 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

  1. Anda menempatkan diri anda pada posisi saudara muslim yang sedang bersalah atau melakukan pelanggaran. Apakah anda suka jika dibongkar atau ditutupi? Nabi ﷺ bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Salah seorang dari kalian tidak beriman hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” [Hadits riwayat Al-Bukhari (13) dan Muslim (45)]

  1. Seseorang sibuk dengan upaya memperbaiki dirinya sendiri

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah – seorang ulama Tabi’in – dari kota Bashrah, Irak, berkata,

يا ابن آدم، لن تنال حقيقة الإيمان حتَّى لا تعيب النَّاس بعيب هو فيك، وتبدأ بذلك العيب من نفسك، فتصلحه، فما تصلح عيبًا إلَّا ترى عيبًا آخر، فيكون شغلك في خاصَّة نفسك

” Wahai anak Adam! Kamu tidak akan bisa mencapai hakikat iman hingga kamu tidak mengecam orang lain dengan aib yang ada pada dirimu sendiri. Lalu kamu mulai memperbaiki aib tersebut dari diri kamu sendiri. Dan tidaklah kamu sedang memperbaiki sebuah kekurangan kecuali kamu akan melihat kekurangan yang lain. Sehingga kesibukanmu terkait dengan dirimu sendiri.”

Ini tadi sebagian cara untuk menutupi aib-aib saudara sesama Muslim. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memudahkan dan memampukan kita untuk melakukannya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا.

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد.

Perkataan Salaf Tentang Menutup Aib Saudara Muslim

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Para Ulama salaf memiliki komitmen sangat kuat dalam masalah menutup kekurangan saudaranya sesama Muslim. Mereka begitu sensitif terhadap persoalan membuka aurat saudaranya. Membuka kekurangan saudaranya merupakan persoalan serius bagi mereka. Berikut ini sebagian dari mutiara hikmah dari mereka:

  1. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu

قال أبو بكر الصِّديق رضي الله عنه: (لو أخذت سارقًا لأحببت أن يَسْتُره الله عزَّ وجلَّ، ولو أخذت شاربًا، لأحببت أن يَسْتُره الله عزَّ وجلَّ

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Andaikan aku menangkap seorang pencuri, aku benar-benar ingin agar Allah ‘Azza wa Jalla menutupinya. Dan andaikan aku menangkap orang yang sedang minum khamr, aku benar-benar ingin agar Allah ‘Azza wa Jalla menutupinya.”

  1. Abdullah bin Al-Mubarok rahimahullah (tokoh ulama Tabiut tabi’in)

– وعن عبد الله بن المبارك، قال: (كان الرَّجل إذا رأى من أخيه ما يكره، أمره في سِتْر، ونهاه في سِتْر، فيُؤجر في سِتْره، ويُؤجر في نهيه، فأمَّا اليوم فإذا رأى أحدٌ من أحدٍ ما يكره، استغضب أخاه، وهتك سِتْره)

Dari Abdullah bin Al-Mubarok, dia berkata,”Dahulu seseorang itu jika melihat ada sesuatu yang tidak dia sukai dari saudaranya (sesama muslim) dia memerintahnya secara tertutup dan melarangnya secara tertutup, sehingga dia diberi pahala dalam perbuatannya memerintah dan melarang saudaranya tersebut.

Adapun sekarang, jika seseorang melihat ada sesuatu yang tidak dia sukai pada orang lain, dia memarahi saudaranya tersebut dan merobek tirai yang menutupinya.”

  1. Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah (wafat tahun 795 H)

Ibnu Rajab berkata,” Diriwayatkan dari salah seorang ulama Salaf bahwa beliau berkata,

أدركت قومًا لم يكن لهم عيوب، فذكروا عيوب النَّاس، فذكر النَّاس عيوبهم. وأدركت أقوامًا، كانت لهم عيوب فكَفُّوا عن عيوب النَّاس فنُسيت عيوبهم

”Saya mendapati sejumlah orang yang tidak memiliki banyak aib. Mereka menyebut-nyebut aib-aib orang. Maka orang-orang pun menyebut kekurangan-kekurangannya. Dan aku mendapati sejumlah orang yang punya banyak aib namun mereka menahan diri dari membicarakan aib-aib orang lain maka kekurangan-kekurangan mereka dilupakan.”

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan menutupi semua aib kita dan seluruh kaum Muslimin baik di dunia dan akhirat. Mari kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Download Teks Khutbah Jum’at

error: Content is protected !!