Khutbah Jumat: Amalan Sunnah Puasa Bulan Syawal dan Keutamaannya

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

Mukaddimah Pembukaan Khutbah Jumat

Mukadimah

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat dan karunia-Nya yang tak terhitung banyaknya kepada kita semua. Atas rahmat-Nya semata kita masih diberi umur panjang, dalam keadaan aman, sehat dan istiqamah di atas hidayah iman dan Islam.

Shalawat dan salam semoga senantiasa dicurahkan kepada Nabi kita yang mulia, Muhammad ﷺ, keluarganya, para sahabatnya dan siapa saja yang mengikuti sunnah beliau ﷺ dengan penuh ketundukan, keikhlasan dan kesabaran hingga menjelang hari kiamat.

Kami wasiatkan kepada diri kami dan kepada Jamaah shalat Jumat sekalian, marilah kita senantiasa berusaha untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa, sesuai dengan kemampuan kita di mana saja kita berada.

Dengan takwa yang benar dan kokoh di hati kita, Allah akan karuniakan Furqan, cahaya di hati yang membuat kita mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan.  Allah Ta’ala juga akan menghapus keburukan kita dan mengampuni dosa-dosa kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَتَّقُوا اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّكُمْ فُرْقَانًا وَّيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ – ٢٩

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar. [Al-Anfal: 29]

Tanpa furqan dalam hati, seorang Muslim akan sangat rentan menjadi mangsa dari setan manusia yang mengemas berbagai kebatilan dan kesesatan dengan kemasan yang indah, rasional dan modern sehingga menarik hati untuk diyakini sebagai sebuah kebenaran. Wal ‘iyadzu billah.

Keutamaan Amalan Sunnah Bulan Syawal

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Saat ini kita berada di bulan Syawal. Di bulan Syawal kita disunnahkan untuk melaksanakan puasa selama 6 hari. Puasa tersebut bisa dilaksanakan secara langsung pada hari kedua Syawal secara berturut-turut selama 6 hari langsung sebagaimana pendapat madzhab Syafi’i dan Hanafi.

Namun bisa pula ditunda pelaksanaannya hingga pertengahan bulan atau akhir bulan sebagaimana pendapat madzhab Hanbali. Yang prinsip, belum keluar dari bulan Syawal dan jumlahnya sebanyak enam hari.

Hanya saja, penundaan yang terlalu lama kadang bisa mengakibatkan orang terlupa sehingga ada resiko kehilangan kesempatan untuk melaksanakan puasa sunnah di bulan Syawal karena kehabisan waktu.

Untuk itu, alangkah baiknya bila bersegera untuk melaksanakan puasa sunnah di bulan Syawal selama 6 hari. Ini lebih aman dan lebih menjamin agar tidak kehilangan keutamaan puasa 6 hari di bulan Syawal sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

مَن صَامَ رَمَضانَ ثُمَّ أتْبَعَهُ سِتًّا مِن شَوَّالٍ، كانَ كَصِيامِ الدَّهْرِ

”Siapa yang berpuasa Ramadhan, lalu ia lanjutkan dengan puasa 6 hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” [Hadits riwayat Muslim : 1164]

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam An-Nasa’i dan Ibnu Majah dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu secara marfu’ disebutkan,

مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ، مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

”Siapa yang berpuasa selama 6 hari setelah Idul Fithri, maka sempurnalah satu tahun. Siapa yang melakukan sebuah kebaikan maka baginya 10 kali lipatnya pahalanya.”

Nabi ﷺ menerangkan hal tersebut di dalam sabdanya, ”Siapa saja yang berpuasa sebulan (penuh) di bulan Ramadhan, seperti berpuasa selama 10 bulan kemudian berpuasa 6 hari di bulan Syawal setelah Idul Fithri maka dengan demikian ia seperti telah berpuasa selama setahun penuh. Siapa yang melakukan kebaikan, maka baginya dilipatgandakan balasannya sepuluh kali lipat.”

[Hadits riwayat Imam Ahmad : 22412; Ibnu Majah : 1715 dan Ibnu Khuzaimah : 2115. Dishahihkan oleh al-Albani]

Faedah Puasa Bulan Syawal

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Melihat sedemikian besar keutamaan dari puasa enam hari di bulan syawal, lantas apa saja kira-kira faedah dari puasa enam hari di bulan syawal ini? Faedah puasa enam hari di bulan Syawal di antaranya adalah:

  1. Mengganti kekurangan yang terjadi pada puasa wajib di bulan Ramadhan.

Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ : انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ يَككُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ) ، وصححه الألباني في ” صحيح سنن الترمذي ” .

”Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Kalau shalatnya baik maka sungguh dia telah beruntung dan selamat dan jika shalatnya rusak maka sungguh telah gagal dan merugi.

Kalau fardhunya ada sesuatu yang kurang, Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Apakah hamba-Ku pernah mengerjakan tathawwu’ (sunnah) sehingga disempurnakanlah kekurangan pada shalat wajib dengan shalat tathawwu”. Kemudian seluruh amal lainnya akan diperhitungkan seperti itu.” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi)

  1. Melaksanakan sunnah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah ﷺ.
  2. Membiasakan diri untuk melakukan ketaatan setelah ketaatan yang lain. Ini merupakan tanda diterimanya ketaatan sebelumnya, karena Allah memberikan taufik kepada hamba-Nya untuk terus mentaati-Nya setelah melakukan sebuah ketaatan.
  3. Merupakan bentuk syukur kepada Allah atas nikmat menyempurnakan puasa Ramadhan.
  4. Puasa enam hari di bulan Syawal merupakan penyempurnaan bagi puasa setahun sebagaimana dalam hadits,

مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ، مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

”Siapa yang berpuasa selama 6 hari setelah Idul Fithri, maka sempurnalah satu tahun. Siapa yang melakukan sebuah kebaikan maka baginya 10 kali lipatnya pahalanya.”

  1. Mendapatkan kecintaan Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Kecintaan Allah dan Rasul-Nya ﷺ bukanlah perkara kecil atau sepele. Ia merupakan anugerah yang agung bagi seorang hamba. Bila Allah sudah mencintai seseorang maka dia juga akan mendapatkan rasa cinta dari penduduk bumi yang beriman dan beramal shaleh.

Hal ini sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ قَالَ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُوولُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ قَالَ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ

”Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril lalu berfirman, ”Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan maka cintailah dia.” Rasulullah ﷺ bersabda, ”Maka Jibril mencintai orang tersebut.

Kemudian Jibril memanggil penghuni langit lalu berkata, ”Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan maka hendaklah kalian mencintai si Fulan.” Maka penduduk langit mencintai orang tersebut.’ Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, ”Kemudian diberikan untuknya penerimaan di bumi.” [Hadits riwayat Muslim no. 4772]

Dalam sebuah hadits Qudsi yang lain disebutkan bahwa orang yang dicintai oleh Allah akan mendapatkan begitu banyak keistimewaan dari Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits yang dikenal dengan sebutan hadits wali.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi ﷺ bersabda,

إنَّ اللَّهَ قالَ: مَن عادَى لِيْ وِلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِاْلحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إلَييَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أحَبَّ إلَيَّ ممَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، ووَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بالنَّوافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ، فإذا أحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الذي يَسْمَعُ به، وَبَصَرَهُ الذي يُبْصِرُ به، وَيَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا، ورِجْلَهُ الَّتي يَمْشِي بها، وإنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، ولَئِنِ اسْتَعاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ، وما تَرَدَّدْتُ عن شيءٍ أنا فاعِلُهُ تَرَدُّدِي عن نَفْسِ المُؤْمِنِ،، يَكْرَهُ المَوْتَ وأنا أكْرَهُ مَساءَتَهُ

”Sesungguhnya Allah berfirman, ”Siapa saja yang memusuhi seorang wali-Ku, maka sungguh Aku umumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada perkara-perkara yang Aku wajibkan kepadanya.

Dan seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan amalan-amalan sunnah, hingga Aku mencintainya. Dan ketika Aku mencintainya, maka Aku-lah yang menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, dan penglihatannya yang dengannya ia melihat, dan tangannya yang dengannya ia memukul, dan kakinya yang dengannya ia melangkah.

Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Jika ia minta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya. [Hadits riwayat Al-Bukhari no. 6502].

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

الحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَ اْلشُكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَ امْتِنَانِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى ى هَذَا النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ

Antara Mengqodho’ Puasa Wajib Dan Puasa Syawal

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dalam khutbah kedua ini, kami hendak menjelaskan secara ringkas tentang persoalan yang sering dihadapi umat Islam yaitu tentang hukum berpuasa enam hari di bulan Syawal namun belum mengganti puasa wajib yang tertinggal karena halangan syar’i di bulan Ramadhan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, bila seorang wanita memiliki hutang puasa di bulan Ramadhan, apakah boleh baginya untuk mendahulukan puasa enam hari di bulan Syawal daripada puasa untuk mengganti hutang puasanya ataukah harus mengganti hutang puasanya terlebih dahulu?”

Beliau menjawab, ”Bila wanita tersebut punya kewajiban untuk mengqodho’ (mengganti) puasa Ramadhan maka dia tidak boleh berpuasa enam hari di bulan Syawal kecuali setelah membayar hutang puasanya.

Hal itu karena Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ ) ، رواه مسلم 1164

”Siapa yang puasa Ramadhan kemudian dia ikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti puasa setahun.” [Hadits riwayat Muslim no. 1164]

Siapa saja yang masih memiliki kewajiban untuk mengqodho’ puasa Ramadhan berarti dia belum berpuasa Ramadhan (secara penuh), sehingga dia tidak mendapatkan pahala puasa enam hari di bulan Syawal kecuali setelah selesai menunaikan qoho’nya.

Andaikan diasumsikan bahwa puasa qodho’ tersebut menghabiskan seluruh bulan Syawal, misalnya wanita yang sedang nifas dan tidak puasa satu hari pun di bulan Ramadhan, kemudian segera melaksanakan qodho’ puasa di bulan Syawal dan tidak selesai kecuali setelah masuk bulan Dzulqa’dah, maka dia boleh melakukan puasa enam hari di bulan Syawal.

Dia akan mendapatkan pahala puasa di bulan Syawal sebab penundaannya di sini karena persoalan darurat. Dia orang yang mendapatkan udzur (dari berpuasa selama enam hari di bulan Syawal) sehingga dia tetap mendapatkan pahala puasa enam hari di bulan Syawal.” [Majmu’ Fatawa 19/20]

Doa Penutup

Demikian tadi khutbah tentang amalan puasa sunnah di bulan Syawal. Semoga bermanfaat dalam menambah pengetahuan kita semua. Bila ada kebenaran dalam khutbah ini, maka itu karena rahmat Allah semata.

Dan bila ada kesalahan dan kekeliruan di dalamnya maka itu dari kami dan dari setan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni semua kesalahan kami dan kaum Muslimin.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ وَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ أَهْلِكِ اْلكَفَرَةَ وَ اْلمُشْرِكِيْننَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيميمُ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْييَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا اللَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّـٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

 رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. سُبْحَانَنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ, وَ سَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaru
Khutbah Bulan Dzulqo’dah 2022
Khutbah Bulan Dzulhijjah 2022
Khutbah Bulan Muharram 2022

Print Friendly, PDF & Email