Khutbah Jumat Tentang Bulan Sya’ban

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

فإنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ

Sunnah Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melimpahkan nikmat-Nya kepada para hamba-Nya dengan memberikan waktu-waktu atau masa-masa atau musim-musim tertentu untuk menambah dan meningkatkan amal, ketaatan dan ibadah di dalamnya dan mendekatkan diri kepada Allah.

Dengan demikian, amal-amal di dalamnya mendapatkan barokah dengan barokah waktu yang ada di dalamnya. Di antara waktu yang mendapatkan perhatian Nabi ﷺ adalah bulan Sya’ban. Di bulan ini Nabi ﷺ memperbanyak ibadah dan pendekatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa dia berkata,

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

Nabi belum pernah berpuasa dalam satu bulan lebih banyak dari bulan Sya’ban. Sesungguhnya beliau berpuasa di bulan Sya’ban seluruhnya.”

Kemudian dalam sebuah hadits dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dia berkata,

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ إِلَّا شَعْبَانَ وَرَمَضَانَ” رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

Aku tidak pernah melihat Nabi berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali Sya’ban dan Ramadhan.” [Hadits riwayat At-Tirmidzi]

Perlu dijelaskan di sini bahwa penyataan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa “Nabi berpuasa di bulan Sya’ban seluruhnya.” Itu tidak berarti bahwa beliau berpuasa satu bulan penuh. Sebab, menurut Imam Abdullah Ibnul Mubarok, sebagaimana dinukil oleh Imam At-Tirmidzi, dalam bahasa Arab dibolehkan mengatakan telah berpuasa sebulan penuh bagi orang yang berpuasa pada sebagian besar hari dalam satu bulan tersebut.

Terdapat dalil yang menguatkan pendapat bahwa Nabi ﷺ tidak pernah berpuasa satu bulan penuh di bulan Sya’ban yaitu hadits yang diriwayatkan Muslim (746) dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa dia berkata,

وَلا أَعْلَمُ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ الْقُرْآنَ كُلَّهُ فِي لَيْلَةٍ ، وَلا صَلَّى لَيْلَةً إِلَى الصُّبْحِ ، وَلا صَامَ شَهْرًا كَامِلا غَيْرَ رَمَضَانَ .

”Dan tidak aku ketahui Nabi Allah ﷺ membaca Al-Quran secara keseluruhan dalam semalam, dan tidak pula shalat di malam hari hingga shubuh dan tidak pula berpuasa sebulan penuh selain Ramadhan,”

Kemudian juga dikuatkan dengan hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari (1971) dan Muslim(1157) dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata,

مَا صَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا كَامِلا قَطُّ غَيْرَ رَمَضَانَ .

”Nabi ﷺ tidak pernah berpuasa satu bulan penuh sama sekali selain Ramadhan.”

Demikianlah semangat Nabi ﷺ dalam mentaati Rabb-nya, padahal beliau telah diampuni kesalahannya baik yang terdahulu maupun yang akan datang. Demikian pula dengan para sahabat Nabi ﷺ. Mereka itu apabila diseru untuk melakukan ketaatan, mereka saling berlomba dalam ketaatan.

Seolah dalam hati mereka telah terukir ayat berikut:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa… [Ali-Imran: 133]

Baca juga Khutbah Jum’at: Keutamaan Bulan Rajab

Keutamaan Bulan Sya’ban

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,

Kira-kira apakah sebabnya sehingga Rasulullah ﷺ begitu bersemangat dalam memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban? Sebabnya ada dua, yaitu:

  1. Banyak orang melalaikan bulan Sya’ban. Oleh karena Nabi ﷺ menghidupkan ibadah di dalamnya. Ini menunjukkan keutamaan beribadah di masa manusia pada umumnya dalam keadaan lalai.
  2. Sesungguhnya amalan itu diangkat kepada Allah Ta’ala di bulan Sya’ban. Maka Rasulullah ﷺ menyukai amal shalih diangkat di bulan ini.

Imam An -Nasa’i telah meriwayatkan dari hadits Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata,’Aku berkata,”Wahai Rasulullah! Saya tidak melihat Anda berpuasa dalam sebuah bulan dari berbagai bulan yang ada sebagaimana Anda berpuasa di bulan Sya’ban.” Rasulullah ﷺ bersabda,

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Bulan itu adalah bulan di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan yang manusia lalai terhadapnya. Pada bulan itu amalan diangkat kepada Allah Rabbul ‘Alamin. Maka Aku suka amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” [Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan di dalam Shahih Sunan An-Nasa’i hadits no. 2356]

Rahasia Disunnahkan Memperbanyak Puasa Di Bulan Sya’ban

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Sesungguhnya bersungguh – sungguh dalam menjalan ketaatan di bulan Sya’ban itu termasuk perkara yang akan membantu untuk bisa bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan di bulan Ramadhan.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali (wafat 795 H) berkata,

إِنَّ صِيَامَ شَعْبَانَ كَالتَّمْرِينِ عَلَى صِيَامِ رَمَضَانَ لِئَلاَّ يَدْخُلَ فِي صَوْمِ رَمَضَانَ عَلَى مَشَقَّةِ وَكُلْفَةٍ، بَلْ قَدْ تَمَرَّنَ عَلَى الصِّيَامِ وَاعْتَادَهُ، وَوَجَدَ بِصِيَامِ شَعْبَانَ قَبْلَهُ حَلاَوَةَ الصِّيَامِ وَلَذَّتَهُ، فَيَدْخُلُ فِي صِيَامِ رَمَضَانَ بِقُوَّةٍ وَنَشَاطٍ، وَلَمَّا كَانَ شَعْبَانُ كَالْمُقَدِّمَةِ لِرَمَضَانَ شُرِعَ فِيهِ مَا يُشْرَعُ فِي رَمَضَانَ مِنَ الصِّيَامِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ؛ لِيَحْصُلَ التَّأَهُّبُ لِتَلَقِّي رَمَضَانَ، وَتَرْتَاضُ النُّفُوسُ بِذَلِكَ عَلَى طَاعَةِ الرَّحْمَنِ”

”Sesungguhnya puasa bulan Sya’ban seperti latihan bagi puasa bulan Ramadhan agar saat memasuki bulan Ramadhan tidak merasa berat dan terbebani. Namun sudah dalam keadaan terlatih dan terbiasa dengan puasa.

Dan mendapati rasa manis dan lezatnya puasa Sya’ban sebelumnya sehingga memasuki puasa Ramadhan dengan perasaan kuat dan semangat.

Karena Sya’ban merupakan pendahuluan bagi Ramadhan, disyariatkan di bulan Sya’ban apa yang disyariatkan di bulan Ramadhan berupa puasa dan membaca Al-Quran.

Tujuannya adalah agar bersiap sedia untuk menghadapi & menyambut bulan Ramadhan, serta melatih jiwa dengan hal itu untuk mentaati Ar-Rahman Allah Yang Maha Pengasih.”

Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,

Sering kita mendengar bahwa malam pertengahan bulan Sya’ban yang dikenal dengan istilah malam nishfu Sya’ban itu memiliki keutamaan tertentu berdasarkan sejumlah hadits dari Nabi ﷺ.

Perlu diketahui bahwa tidak semua hadits yang berbicara tentang keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadits yang bisa diterima sebagai hujah untuk beramal. Sebagian hadits tentang hal itu ada yang bisa dipakai sebagai hujah dan sebagiannya hadits lemah yang tidak bisa digunakan sebagai hujah atau dasar beramal.

Di antara hadits tentang keutamaan malam nishfu Sya’ban yang bisa dijadikan sebagai hujah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman dari Abi Tsa’labah Al-Khusyani radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ’Rasulullah ﷺ bersabda,

يَطَّلِعُ اللهُ -جَلَّتْ قُدْرَتُهُ- إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ؛ فَيَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنينَ، وَيُمْلِي لِلْكَافِرِينَ، وَيَدَعُ أَهْلَ الْحِقْدِ بِحِقْدِهِمْ حَتَّى يَدَعُوهُ

Allah Ta’ala melihat kepada makhluk-Nya pada malam nishfu Sya’ban lalu mengampuni orang-orang beriman dan menangguhkan orang-orang kafir dan meninggalkan orang-orang yang di hatinya ada kedengkian dengan kedengkian mereka sampai mereka berdoa kepada-Nya.”

[Ath-Thabrani juga meriwayatkannya dan Syaikh Al-Albani rahimahullah menyatakannya sebagai hadits hasan di dalam Shahih Al-Jami’ no. 771.

Hadis berikutnya dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Rasulullah ﷺ bersabda,

يَطَّلِعُ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

Allah melihat kepada makhluk-Nya pada malam nishfu Sya’ban lantas Allah mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang berseteru.”

[Hadits riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari Mua’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. Syaikh Al-Albani juga menshahihkan hadits ini.]

Atha’ bin Yasar rahimahullah, salah seorang ulama Tabi’in terkemuka, berkata,

ما من ليلة بعد ليلة القدر أفضل من ليلة النصف من شعبان، يتنزل الله تبارك وتعالى إلى السماء الدنيا، فيغفر لعباده كلهم، إلا لمشرك أو مشاجر أو قاطع رحم

”Setelah malam Lailatul Qadar tidak ada malam yang lebih utama dari malam nishfu Sya’ban. Allah Tabaroka wa Ta’ala turun ke langit dunia kemudian Allah mengampuni para hamba-Nya kecuali orang musyrik, atau orang yang berseteru.”

Bid’ah di Bulan Sya’ban

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Di banyak negeri kaum muslimin, banyak didapati orang-orang yang merayakan malam nishfu Sya’ban dengan shalat dan ibadah malam, berdzikir dan lain-lain. Mereka meyakini bahwa malam nisfu Sya’ban itu memiliki keutamaan lebih dibandingkan hari-hari lainnya di bulan Sya’ban.

Ini jelas merupakan kesalahan dan ketidakmengertian serta merupakan sebuah bid’ah dalam agama. Hadits-hadits shahih yang menunjukkan keutamaan malam nishfu Sya’ban tadi sama sekali tidak merupakan dalil yangmengkhususkan malam nishfu Sya’ban dengan berbagai ibadah tertentu.

Hadits tadi hanyalah merupakan seruan atau ajakan untuk bersilaturrahim, berbakti kepada orang tua, menghilangkan permusuhan dari dalam jiwa dan kebencian dari dalam dada sehingga seorang Muslim memasuki bulan Ramadhan dalam keadaan hatinya tidak ada kedengkian, ganjalan, permusuhan dan dendam terhadap muslim lainnya.

Yang diharapkan adalah seorang Muslim memasuki bulan Ramadhan dalam keadaan hubungan kekerabatannya tersambung dan hatinya kosong kecuali dengan mengingat Allah dan beribadah kepada-Nya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وأما ليلة النصف من شعبان ففيها فضل، وكان في السلف من يصلي فيها، لكن الاجتماع فيها لإحيائها في المساجد بدعة

”Adapun malam nishfu Sya’ban itu ada keutamaan di dalamnya. Di masa Salaf dahulu ada orang-orang yang shalat di malam nishfu Sya’ban. Namun berkumpul-kumpul di dalamnya untuk menghidupkan malam nishfu Sya’ban di masjid itu bid’ah.”

Amalan Shalih Di Bulan Sya’ban

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Setelah kita mengetahui bahwa bulan Sya’ban adalah bulan yang di dalamnya amal shalih dinaikkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lantas amalan apa sajakah yang sebaiknya dilakukan untuk menghidupkan bulan Sya’ban, bulan yang banyak dilalaikan oleh manusia?

Syaikh Husain bin Abdul Azis Alu Syaikh mengatakan bahwa para salaf menyebut bulan Sya’ban dengan nama شهر القُرَّاء “Syahrul Qurra’ atau bulannya para pembaca Al-Quran, karena banyaknya mereka mengulang-ulang bacaan al Quran, mereka fokus untuk memperbanyak membaca al-Quran dan hal itu sebagai persiapan untuk melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan.

Syaikh Husain kemudian menambahkan bahwa kaum muslimin perlu untuk benar-benar memanfaatkan bulan Sya’ban ini dengan berbagai bentuk taqarrub kepada Allah dan seluruh bentuk nawafil dan ketaatan.

Sedangkan anjuran yang diberikan oleh Markazul Fatwa di bawah bimbingan Syaikh Dr. Abdullah Al-Faqih dalam memanfaatkan momen bulan Sya’ban adalah agar setiap Muslim menghiasi dirinya dengan berbagai ketaatan agar mendapatkan ampunan Allah yang Maha Pengasih.

Selain itu juga dengan menjauh dari berbagai dosa dan maksiat yang menghalanginya dari mendapatkan ampunan. Di antara dosa -dosa yang harus dijauhi adalah kesyirikan terhadap Allah. Sesungguhnya perbuatan tersebut menghalangi segala kebaikan.

Dosa lainnya yang harus dijauhi adalah permusuhan dan kedengkian dengan sesama muslim. Hal ini menghalangi dari ampunan Allah di mayoritas waktu pengampunan dan rahmat. Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, ”Rasulullah ﷺ bersabda,

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ ، وَيَوْمَ الْخَمِيسِ ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا ، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ ، فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا ، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا ، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا حَدَّثَنِيهِ

Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka diampunilah dosa-dosa setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya ada permusuhan. Maka dikatakan, ‘Akhirkanlah pengampunan untuk kedua orang ini sampai keduanya berdamai, akhirkanlah pengampunan untuk kedua orang ini sampai keduanya berdamai, akhirkanlah pengampunan untuk kedua orang ini sampai keduanya berdamai.”

[Hadits riwayat Muslim di dalam Shahih Muslim no. 4780]

Namun tidak ada hadits shahih dari Nabi ﷺ dan tidak pula dari salah seorang dari sahabatnya yang mengkhususkan malam – malam di bulan Sya’ban dengan shalat tertentu atau doa tertentu. Munculnya hal itu pertama kali adalah dari sebagian Tabi’in.

Ibnu Rajab berkata, ”Dahulu sejumlah Tabi’in dari penduduk Syam seperti Khalid bin Mi’dan, Makhul, Luqman bin ‘Amir dan selain mereka mengagungkan malam nishfu Sya’ban dan bersungguh-sungguh beribadah di malam tersebut.

Dari merekalah orang-orang mengambil keutamaan malam nishfu Sya’ban dan mengagungkannya. Dan dikatakan bahwa atsar-atsar israiliyat telah sampai kepada mereka. Setelah hal itu terkenal berasal dari mereka di berbagai negeri, orang-orang berselisih dalam persoalan ini.

Di antara mereka ada yang menerimanya dan sepakat dengan mereka dalam mengagungkannya. Di antara mereka adalah pada ahli ibadah dari penduduk Bashrah dan selain mereka. Namun mayoritas ulama Hijaz mengingkarinya.”

Sedangkan amalan yang jelas-jelas dicontohkan oleh Nabi ﷺ adalah memperbanyak puasa sunnah.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

Aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh secara sempurna kecuali pada bulan Ramadhan. Aku juga tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” [Hadits riwayat Al- Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

الحمد لله على إحسانه و الشكر له على توفيقه و امتنانه، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه و أشهد أن محمدا عبده و رسوله الداعي إلى رضوانه. اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Sebagian Hukum Fikih Terkait Bulan Sya’ban

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Terkait memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban, ada ketentuan yang harus dipahami dengan baik agar kita tidak melakukan pelanggaran karena semangat yang kuat tanpa ilmu yang benar bisa menjerumuskan seseorang kepada kesalahan.

Bagi seorang muslim yang tidak biasa melakukan puasa Senin-Kamis atau puasa Daud, yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka, maka dia tidak boleh berpuasa satu hari atau dua hari sebelum Ramadhan sebagai bentuk kehati-hatian terhadap bulan Ramadhan.

Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Rasulullah ﷺ bersabda,

لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ

Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari kecuali seseorang yang punya kebiasaan berpuasa, maka ia boleh berpuasa.” [Hadits riwayat Al-Bukhari no. 1914 dan Muslim no. 1082.]

Larangan yang ada di dalam hadits ini bersifat haram bukan makruh. Dalam sebuah hadits dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata,

مَنْ صَامَ اليَوْمَ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

”Siapa yang berpuasa pada hari yang diragukan maka sungguh telah bermaksiat kepada Abu Al-Qasim ﷺ.” [Hadits riwayat Ahmad dan Ahlus Sunan. Syaikh Abdul Azis bin Baz menyatakan isnadnya shahih dan dihukumi marfu’. Lihat majmu’ fatawa wa maqaalaat Asy-Syaikh Ibni Baz, 15/410]

Selain orang yang biasa melakukan puasa sunnah, yang dikecualikan dari larangan tadi adalah orang-orang yang mengqodho’ atau mengganti hutang puasa Ramadhan atau orang yang sedang melaksanakan puasa wajib selain Ramadhan yaitu karena nadzar atau membayar kafaroh.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan petunjuk kepada kita kepada jalan yang lurus dan menjauhkan diri kita semua dari segala bentuk penyimpangan dan penyelewengan.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهم اغفر للمسلمين و المسلمات و المؤمنين و المؤمنات الأحياء منهم و الأموات

اللهم أعز الإسلام و المسلمين و أهلك الكفرة و المشركين و دمر أعداءك أعداء الدين

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

ربنا هب لنا من أزواجنا و ذرياتنا قرة أعين و احعلنا للمتقين إماما

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا و هب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ, وَ سَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Naskah Khutbah Jum’at Terbaru
– Keutamaan Bulan Dzulhijjah
Keutamaan Bulan Dzulhijjah

error: Content is protected !!