Khutbah Jumat: Pelajaran Tahun Baru Hijriyah Dalam Kacamata Muslim

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ،

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

أَمَّا بَعْدُ

Mukaddimah Pembukaan Khutbah Jumat

Refleksi Tahun Baru Hijriah 1444 H

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga sampai saat ini kita masih diberi hidayah, kesehatan dan waktu untuk beribadah kepada-Nya, untuk menambah bekal perjalanan abadi ke akhirat nanti.

Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi kita yang mulia, Muhammad ﷺ dan keluarganya, para sahabatnya dan siapa saja yang mengikuti ajaran beliau secara lahir dan batin dengan penuh keikhlasan, kesabaran dan istiqamah, hingga hari kiamat.

Pada hari ini kita telah berada di bulan Muharram, bulan pertama dalam sistem kalender hijriyah yang berdasarkan perputaran bulan. Ini berarti kita telah memasuki tahun baru Islam.

Oleh karenanya, marilah kita berupaya agar amal perbuatan yang membuka tahun baru kita ini adalah ketakwaan dan keshalehan diiringi dengan penyesalan dan taubat terhadap masa dan waktu yang telah berlau di tahun sebelumnya yang tidak berhasil kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya atau kita habiskan untuk selain ketaatan kepada Allah.

Tahun kemarin yang telah berlalu itu bisa menjadi saksi yang akan membela kita namun bisa juga menjadi saksi yang akan menyusahkan kita di yaumul hisab nanti. Oleh karenanya, pada tahun yang baru ini, kita harus berusaha semaksimal kemampuan kita untuk memperbanyak amal kebaikan pada umur yang tersisa.

Kita tutup kekurangan dan ketergelinciran yang terjadi pada tahun sebelumnya, serta bergegas dalam memanfaatkan momen-momen kebaikan, sebelum datang Malaikat maut yang tak pernah memberi tahu kapan hendak menjemput ajal kita.

Kita berada di bulan Muharram, bulan yang agung dalam Islam. Ia merupakan salah satu dari bulan haram sebagaimana yang Allah firmankan,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. [At-Taubah: 36]

Bulan-bulan haram dalam Islam adalah tiga bulan yang berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram kemudian melompat ke bulan Rajab. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu.

Maksiat yang dilakukan oleh seorang Muslim di bulan haram itu berlipat ganda dosanya dibandingkan bila dilakukan pada bulan selain bulan haram. Demikian pula dengan kebaikan atau amal shaleh di bulan-bulan haram itu juga dilpatgandakan pahalanya sebagaimana diterangkan oleh para ulama.

Untuk itu, marilah kita buka lembaran sejarah baru dalam hidup kita di tahun baru Islam ini, dimulai di bulan Muharam yang mulia ini, dengan berusaha menjauhi berbagai maksiat dan menjalankan berbagai ketaatan, utamanya puasa sunnah tasua asyura.

Kaum Muslimin cenderung memelihara diri dari dosa secara ketat hanya di bulan suci Ramadhan. Padahal bulan Ramadhan bukan termasuk bulan haram. Semestinya spirit bulan Ramadhan tetap terpelihara paska Ramadhan, terutama di bulan-bulan haram mengingat di bulan haram dosa dan pahala dilipat gandakan.

Rekomendasi Khutbah Mensyukuri Kemerdekaan 17 Agustus

Pelajaran dari Tahun Baru Hijriah

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Saat memasuki tahun baru hijriah, kita senantiasa teringat akan sejumlah pelajaran yang terkandung dalam tahun baru hijriah ini, di antaranya adalah:

1. Pelajaran Penanggalan Tahun Baru Hijriah

Pada permulaan Islam, belum dikenal adanya sistem penanggalan Islam. Sistem penanggalan Islam ini baru dikenal saat Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah, wilayah kekuasaan Islam meluas dan orang-orang membutuhkan adanya penanggalan dalam pemberian-pemberian (hibah) mereka dan lain-lain.

Pada tahun ketiga atau keempat dari kekhilafahan Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, Abu Musa Al-Asy’ari menulis surat kepada Umar sebagai berikut,”Telah sampai kepada kami sejumlah dokumen yang tidak ada tanggalnya.”

Maka Umar mengumpulkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum untuk bermusyawarah dengan mereka. Salah seorang usul agar menggunakan sistem kalender orang-orang Persia yang mengacu kepada raja-rajanya.

Setiap kali seorang raja binasa, maka penanggalannya diganti dengan mengacu kepada nama raja berikutnya. Namun para sahabat tidak suka dengan sistem penanggalan tersebut.

Yang lain usul agar menggunakan sistem penanggalan romawi, namun para sahabat juga tidak menyukainya.

Ada yang usul, gunakan saja penanggalan berdasarkan kelahiran Nabi ﷺ . Yang lain usul, dimulai dari sejak diangkatnya sebagai Nabi saja. Kemudian ada pula yang usul dimulai dari hijrah Nabi ﷺ saja.

Maka Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,”Hijrah itu memisahkan antara yang haq dan bathil. Mulailah penanggalan dari hijrah Nabi ﷺ .” Maka para sahabat memulai penanggalan dengan hijrah Nabi ﷺ dan bersepakat atas hal tersebut.

Kemudian mereka bermusyawarah tentang permulaan tahun dimulai dari bulan apa? Sebagian berkata Ramadhan, karena ia merupakan bulan yang di dalamnya Al-Quran diturunkan.

Sebagian lainnya berkata dari Rabi’ul awal karena ia merupakan bulan Nabi ﷺ datang di Madinah sebagai muhajir. Sedangkan Umar, Utsman dan Ali radhiyallahu ‘anhum lebih memilih untuk dimulai dengan bulan Muharram.

Ini karena Muharram merupakan bulan yang dekat dengan bulan Dzulhijjah yang di bulan tersebut kaum Muslimin melaksanakan hajinya dan dengan haji tersebut sempurnalah rukun agamanya.

Di bulan Muharram itu terdapat baiat orang-orang Anshar kepada Nabi ﷺ dan tekad untuk berhijrah. Maka permulaan tahun Islam hijriyah adalah dari bulan haram Muharram.[i]

2. Spirit Hijrah Rasul

Peristiwa hijrahnya Rasulullah ﷺ dari Mekah ke Madinah merupakan peristiwa yang sangat besar. Hijrah merupakan titik balik dari sejarah perjuangan kaum Muslimin dari yang tadinya lemah dan tertindas menjadi merdeka dan bebas secara penuh dalam melaksanakan tuntunan agamanya.

Hijrah Rasulullah ﷺ ini mengandung spirit atau ruh berupa keteguhan dalam memegang prinsip kebenaran, keberanian berkorban secara total demi hidup merdeka di atas prinsip kebenaran tersebut.

Makna Hijrah dalam Islam itu ada dua jenis. Yang pertama adalah hijrah maknawi, yaitu meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah Ta’ala. Ini membutuhkan keteguhan hati dalam berpegang kepada perintah Allah untuk menjauhi larangan dan sekaligus kesediaan berkorban demi menjauhi larangan Allah tersebut.

Sebab, sering kali terjadi, orang berhijrah menjauhi kebatilan, baik berpindah dari agama selain Islam menujuIslam atau keluar dari kubangan pergaulan dan gaya hidup jahiliyah menuju pergaulan dan gaya hidup yang Islami, itu mengalami banyak hal yang tidak mengenakkan.

Baik berupa pengucilan, dinyinyir orang, dikeluarkan dari pekerjaan, dianiaya hingga sampai dihilangkan nyawanya. Hijrah batin membutuhkan keteguhan hati, kesabaran dan ketawakalan.

Kemudian jenis hijrah kedua adalah hijrah zhahir, berhijrah dari negeri kafir atau negeri yang kezaliman atau kefasikan meraja lela di dalamnya, menuju ke negeri Islam atau negeri yang lebih ringan tingkat kezhaliman dan kefasikannya dalam rangka untuk menyelamatkan agama, nyawa dan hartanya.

Hijrah jenis kedua ini lebih berat lagi.Keteguhan hati, kesabaran, dan kesediaan berkorban yang dibutuhkan lebih besar lagi. Tuntutan untuk bertawakal kepada Allah juga lebih besar karena jelas orang yang hijrah zhahir ini pasti harus meninggalkan kampung halamannya, kadang juga keluarga dan kerabatnya, ke tempat asing yang sama sekali berbeda segalanya.

Setiap kali mengingat hijrah Rasulullah ﷺ dan para sahabat dari Madinah ke Mekkah yang berjarak sekitar 490 km.

Dengan sarana transportasi kuda dan unta, kita akan teringat dengan keteguhan mereka memegang kebenaran, keberanian berkorban, kesabaran menanggung kesulitan perjalanan, ketawakalan kepada Allah terkait nasib masa depan mereka dan keluarganya di tempat baru, yang sama sekali tidak menjanjikan kesejahteraan secara duniawi saat itu.

Mereka justru meninggalkan segala yang mereka miliki, baik rumah, pekerjaan, aset-aset berharga lainnya. Apa yang mereka tinggalkan akhirnya dirampas oleh orang-orang kafir Quraisy. Ini bukan perkara ringan.

Untuk itulah kita senantiasa perlu diingatkan dalam momen tahun baru seperti ini dengan salah satu amal amal paling utama dan sangat agung dalam Islam yaitu hijrah di jalan Allah, agar kita termotifasi untuk teguh hati menjauhi larangan Allah.

Dan saat kondisi menuntut untuk hijrah secara zhahir, maka tidak segan-segan untuk melakukannya bila ada kemampuan untuk itu. Hijrah itu pahalanya tidak ada bandingannya. Dari Abu Fathimah Al Iyadi radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

يا رسولَ اللهِ ! حدِّثني بعملٍ أستقيم عليه وأعملُه ! قال له رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : عليك بالهجرةِ، فإنه لا مثلَ لها

”Wahai Rasulullah ﷺ ! Beritahulah saya satu amal yang aku akan beristiqamah di atasnya dan aku akan amalkan.” Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya,”Hendaklah kamu berhijrah.Sesungguhnya tidak ada (kebaikan) yang setara dengan hijrah (pahalanya).”

[Hadits riwayat An-Nasa’i, dalam shahih An-Nasa’i no. 4178, hadits hasan shahih menurut Syaikh Al-Albani]

Sebagian ulama menyatakan bahwa Hijrah yang dimaksud dalam hadits ini adalah hijrah zhahir yaitu berpindah dari negeri kafir ke negeri Islam sebagamaimana dari Mekah ke Madinah sebelum terjadinya Fathu Mekkah (dibebaskannya Mekah dari kekuasaan orang kafir).

Adapun Imam Ad-Dailami menyatakan yang dimaksud dengan hijrah di sini adalah meninggalkan apa saja yang Allah haramkan.”[ii]

Ini berarti hijrah maknawi. Hijrah maknawi atau meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala itu wajib bagi setiap muslim kapan pun sampai dia meninggal dunia.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

155 Khutbah Jumat Singkat Terbaru

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

3. Muhasabah Tahun Baru Hijriah

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Di antara pelajaran berikutnya yang bisa diambil dari tahun baru hijriah adalah tentang masalah muhasabah atau evaluasi diri atas apa yang telah kita lakukan untuk mengisi umur kita pada tahun sebelumnya.

Ada sebagian orang yang disibukkan dengan kesibukan dunia dengan mengorbankan akhirat. Setiap kali dia menyelesaikan satu pekerjaan, dia memasuki pekerjaan lain, seolah-olah dia tidak diciptakan kecuali untuk dunia ini, hingga kematian secara mengejutkan mendatanginya, saat dia berada dalam kesibukannya.

Kematian mendatanginya secara tiba-tiba saat dia sedang lalai. Saat itulah ada penyesalan yang besar dan kesedihan yang mendalam, tetapi penyesalan saat itu tidak bermanfaat.

Mari kita ingat orang-orang yang pernah kita kenal dari kalangan kerabat, teman atau tetangga dan kita renungkan bagaimana hidupnya? Bagaimana dia menghabiskan hidupnya? Lalu kematian mendatanginya secara mendadak. Entah karena sakit, kecelakaan di jalan, serangan jantung dan lain-lain.

Setelah itu ia pindah dari dunia ini ke alam akhirat, meninggalkan hartanya, rumahnya, dan keluarganya, berbantalkan tanah, dan berpisah dengan orang-orang yang dicintainya. Apa yang akan bermanfaat baginya setelah kematiannya? Apa yang dia sesali setelah meninggalkan dunia ini?

Jika satu tahun telah berlalu dari kehidupan seseorang, selayaknya seseorang perlu menyendiri dengan dirinya sendiri dan memperhitungkan dengan jujur ​​apa yang dulu telah dia lakukan dan apa yang akan dia lakukan untuk hari esok.

Dia perlu melakukan muhasabah untuk satu tahun yang telah berlalu dari hidupnya, apakah tahun yang telah berlalu itu akan menjadi saksi yang akan menguntungkan dirinya atau merugikan dirinya kelak di akhirat.

Berhati-hatilah di siang dan malam yang kita lewati. Itu adalah tahapan-tahapan yang kita lewati menuju kampung akhirat hingga kita mencapai akhir perjalanan kita. Setiap hari yang dilalui seseorang, akan menjauhkannya dari dunia ini dan mendekatkannya dengan kematian dan apa yang datang setelahnya.

Setiap bulan yang dimasuki oleh manusia, bulan demi bulan yang berlalu, tahun demi tahun yang telah lewat itu akan mendekatkannya kepada ajalnya dan akhiratnya. Lantas apa yang perlu kita lakukan pada sisa umur kita?[iii]

Seorang ulama Tabi’ut Tabi’in yang terkenal bernama Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah bertanya kepada seseorang, ”Berapa umurmu?” Dia menjawab,”60.” Fudhail berkata,”Kamu sejak 60 tahun lalu telah berjalan menuju Tuhanmu dan hampir sampai.” Pria itu berkata,”Innaalillah wa innaa ilaihi raaji’uun.”

Fudhail berkata, ”Tahukah kamu tafsirnya? Maksud kalimatmu itu adalah aku ini hamba milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Siapa yang tahu bahwa dia hamba milik Allah dan akan kembali kepada-Nya maka hendaknya dia tahu bahwa dia akan dihentikan.

Siapa yang tahu dia akan dihentikan maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan ditanya. Dan siapa saja yang tahu bahwa dirinya akan ditanya, maka hendaklah menyiapkan jawabnya.”

Pria itu bertanya, ”Lantas bagaimana caranya?”

Fudhail menjawab, ”Itu mudah. Kamu berbuatlah yang baik di sisa umurmu, niscaya apa yang telah berlalu akan diampuni. Sesungguhnya, jika kamu berbuat buruk dalam sisa umurmu, kamu akan dihukum karena apa yang telah kamu lakukan di masa lalu dan apa yang tersisa dari umurmu.”[iv]

Kita mohon kepada Allah Ta’ala agar memberi taufik kepada kita pada sisa umur yang kita miliki untuk bisa melakukan ketaatan kepada Allah. Semoga Allah Ta’ala memenuhi hati kita dengan kecintaan dan ketawakalan kepada-Nya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi waktu kita dan memberi petunjuk kita kepada apa saja yang Allah ridhai, menutup hidup kita dengan amal shalih dan menjadikan sebaik-baik hari kita adalah hari kita berjumpa dengan Allah Ta’ala.

155 Kumpulan Khutbah Jumat Singkat

Doa Penutup

Marilah kita akhiri khutbah tentang tahun baru hijriyah kali ini dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

 الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنَّا نَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِى لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


[i] https://www.rslantext.com/Sbook.aspx?ID=42

[ii] https://www.alukah.net/sharia/0/77216/

[iii]https://khutabaa.com/ar/article/%D9%88%D9%82%D9%81%D8%A9%D9%85%D8%AD%D8%A7%D8%B3%D8%A8%D8%A9-2

[iv] http://www.saaid.net/mktarat/nihat/72.htm

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
Materi Khutbah Jum’at PDF
Khutbah Jumat Menyikapi Tahun Baru Masehi
Khutbah Jumat Tentang Kemerdekaan
Khutbah Jumat Nabi Pejuang Kemerdekaan

Print Friendly, PDF & Email