Khutbah Jum’at: Para Nabi itu Pejuang Kemerdekaan Hakiki

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

Mukaddimah Pembukaan Khutbah Jumat

Nabi Adalah Pejuang Kemerdekaan

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat yang Alllah karuniakan kepaada kita semua, terutama nikmat hidayah iman dan Islam.

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita yang mulia Muhammad ﷺ , dan keluarganya, para sahabatnya dan siapa saja dari kaum mukminin yang mengikuti sunnah beliau secara lahir dan batin dengan penuh keikhlasan dan kesabaran hingga hari kiamat.

Hari ini kita masih berada di bulan kemerdekaan Bangsa ini. Masih dalam suasana gembira atas nikmat agung dari Allah Ta’ala berupa kemerdekaan Bangsa ini dari penjajahan Bangsa Jepang dan Eropa dalam kurun waktu yang sangat lama.

Tema khutbah kali ini hendak mengulas tentang perjuangan para nabi Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk meraih kemerdekaan. Bukan merdeka dari cengkeraman dan penindasan bangsa lain. Namun memerdekakan diri dan kaumnya yang beriman dari bangsanya sendiri yang melakukan penindasan kepada sesama anak bangsa.

Para Nabi tersebut hendak membebaskan kaumnya dari penindasan para penguasa dan tokoh-tokoh bangsanya sendiri yang memiliki keyakinan yang sangat rusak namun dipaksakan kepada setiap orang di bawah kekuasaannya untuk dianut oleh setiap warganya.

Hal ini sebagaimana oleh Raja Namrudz di masa Nabi Ibrahim, Abu Jahal di masa Nabi Muhammad ﷺ . Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ﷺ tidak sedang berjuang memerdekakan diri dan kaumnya dari penindasan negara lain namun dari penindasan para pemuka atau pimpinan dari bangsanya sendiri.

Demikian pula dengan Nabi-Nabi yang lain. Rata-rata menghadapi bangsanya sendiri. Lain halnya dengan Nabi Musa ‘alaihis salam. Beliau berjuang memerdekakan Bangsa Israel dari penindasan Firaun yang secara kebangsaan bukan dari Bani Israel namun dari Bangsa Qibti. Dalam Bahasa Inggris dikenal dengan Egypt, Mesir. Nabi Musa dari keturunan Israel.

Baca juga: Khutbah Jumat Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Kemerdekaan Yang Dibawa Para Nabi

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Para Nabi ‘alaihimus salam, semuanya adalah para pejuang kemerdekaan. Hanya saja, kemerdekaan yang dibawa atau yang diperjuangkan oleh para Nabi tersebut bukanlah perjuangan atas nama nasionalisme sebagaimana yang dipahami saat ini.

Bukan perjuangan untuk membebaskan sebuah teritori atau suatu wilayah kedaulatan yang direbut atau diduduki oleh bangsa lain. Para Nabi ‘alaihimus salam bukan memperjuangkan nasionalisme semacam itu.

Kita bisa melihat kisah – kisah para Nabi dalam al-Quran. Nabi Nuh ‘alaihis salam bekerja keras selama 950 tahun mengajak kaumnya agar mereka tidak menjadi budak dari tuhan-tuhan palsu yang mereka buat sendiri berupa patung tokoh-tokoh terkemuka mereka, yaitu Waad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.

Kelima tokoh itu dahulu adalah orang-orang paling shalih di antara bangsanya Nabi Nuh ‘alaihis salam. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, setelah orang-orang shalih tersebut meninggal, setan membisikkan kepada kaum dari orang-orang shalih tersebut agar mereka membuatkan patung orang – orang shalih tadi di majlis-majlis yang menjadi tempat berkumpulnya mereka, sekaligus diberi nama dengan nama-nama orang-orang shalih tersebut.

Kemudian kaumnya pun mengerjakan bisikan setan tadi, hingga ketika orang-orang yang membuat patung itu wafat, dan ilmu sudah mulai terkikis, maka patung-patung itu pun akhirnya dijadikan sesembahan oleh generasi penerus mereka.

Ini sejarah mengapa kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam terjerumus ke dalam kemusyrikan sesuai dengan penjelasan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari.

Kaum Nabi Nuh ternyata menentang dakwah Nabi ini dengan penentangan yang keras. Hal ini sebagaimana dikisahkan Allah Ta’ala dala firmannya:

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”. [Nuh: 23]

Nabi Nuh selama 950 tahun hanya berhasil membebaskan sedikit orang saja dari penyembahan kepada patung tersebut. Padahal segala macam upaya telah beliau lakukan.

Dari sini nampak bahwa kemerdekaan yang diperjuangkan oleh Nabi Nuh ‘alaihis salam adalah kemerdekaan dari keyakinan menyimpang yang membelenggu masyarakat berupa penyembahan kepada selain Allah.

Demikian pula, Nabi Ibrahim dan Nabi Musa ‘alaihis salam. Termasuk di dalamnya Nabi Sulaiman yang membebaskan kaum Ratu Saba’ dari penyembahan kepada matahari. Sedangkan Nabi Luth berjuang untuk membebaskan kaumnya dari gaya hidup yang sangat menyimpang dari fithrah yaitu, homoseksualitas.

Perjuangan Nabi Luth ‘alaihis salam tidaklah ringan. Meluruskan fitrah masyarakat yang sudah sangat rusak dan menyimpang bukan perkara mudah. Nabi Luth mendapatkan tantangan yang keras dari kaumnya yang keras kepala.

Akhirnya hanya sedikit saja dari kaum Nabi Luth yang berhasil diselamatkan dari lingkungan masyarakat yang sangat rusak tersebut.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ

إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ

80. Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?”

81. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.

82. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri”.

83. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). [Al-A’raf: 80-83]

Kemerdekaan yang dibawa oleh Nabi Luth ‘alaihis salam adalah misi membebaskan masyarakat dari belenggu hawa nafsu dan fitrah yang rusak dan meyimpang.

Adapun, Nabi Syu’aib ‘alaihis salam berjuang keras untuk membebaskan atau memerdekakan kaumnya dari penyembahan kepada berhala dan dari praktek perdagangan yang sangat merugikan masyarakat, yaitu suka memanipulasi timbangan.

Praktek dagang yang dibangun di atas dasar kebohongan dan kecurangan telah demikian mewabah dalam masyarakat di mana Nabi Syu’aib berada. Dan beliau berjuang keras untuk menyadarkan mereka akan keburukan dan kerusakan praktek tersebut.

Beliau hendak membebaskan masyarakat dari kemusyrikan dan dari praktek perdagangan yang sangat merugikan mereka. Namun yang didapat justru perlawanan. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu.

Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”. [Al-A’raf: 85]

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا ۚ قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ

Pemuka-pemuka dan kaum Syu’aib yang menyombongkan dan berkata: “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami”. Berkata Syu’aib: “Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?” [Al-A’raf: 88]

Makna Kemerdekaan dari Kisah Nabi

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dari gambaran singkat tentang misi perjuangan yang dibawa setiap Nabi dan Rasul tersebut, bisa kita ambil kesimpulan umum bahwa makna kemerdekaan yang diperjuangkan oleh para Nabi dan Rasul itu pada prinsipnya adalah:

  1. Membebaskan umat manusia dari penghambaan kepada sesama manusia atau sesama makluk menuju penghambaan kepada penciptanya makhluk.

Memerdekakan umat para nabi tersebut dari belenggu kemusyrikan yang sudah tertanam kuat dalam hati dan pikiran mereka selama puluhan tahun, turun temurun dari nenek moyang mereka.

Semua keyakinan yang rusak dan menyimpang serta menghinakan martabat manusia itu dibongkar habis oleh para Nabi dan Rasul. Ini jelas menimbulkan masalah dalam internal masyarakat yang sangat meyakini kebenaran kepercayaan mereka dan memandangnya sebagai hal sakral yang tidak boleh diubah oleh siapa pun juga walaupun oleh utusan Allah Ta’ala sekalipun.

Ini memang tabiat orang kafir yang sangat fanatik dan sudah menutup akal sehat dan hati nuraninya dari kebenaran.

  1. Hal kedua yang diperjuangkan oleh para Nabi dan Rasul adalah perbaikan akhlak dan perilaku masayrakat agar tidak menyimpang dan rusak, merosot ke derajat yang lebih rendah dari binatang karena menjadikan hawa nafsu dan syahwatnya sebagai tuhannya yang senantiasa diikuti dan dipatuhi keinginannya.

Para Nabi dan Rasul itu hendak melakukan perbaikan akhlak atau moralitas masyarakat secara menyeluruh hingga terciptalah masyarakat yang bersih, harmoni serta kuat hubungan antar individu di dalamnya.

Terciptalah lingkungan masyrakat yang aman dan tenteram dan jauh dari tindak kezhaliman. Jadi ada dua persoalan utama yang menjadi medan perjuangan para Nabi ‘alaihimus salam, yaitu menanamkan akidah tauhid yang bersih dan lurus dan menyempurnakan akhlak yang mulia.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

”Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut.” [An-Nahl: 36]

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

 – بُعِثتُ لأُتَمِّمَ صالِحَ الأخْلاقِ

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” [Hadits shahih riwayat Ahmad (8939), Al-Bukhari (273)]

Memerdekakan masyarakat dari keyakinan yang menyimpang dan akhlak yang rendah dan hina bukanlah perkara mudah. Tantangannya sangat berat, dan banyak. Dan biasanya justru datang dari tokoh-tokoh masyarakat itu sendiri yang sudah kadung sedemikian kotor jiwanya, rusak cara berfikirnya dan buta mata hatinya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ

Contoh Perjuangan Kemerdekaan Para Nabi:

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

1/3 dari al Quran berisi tentang kisa-kisah para Nabi dan orang-orang terdahulu yang penuh hikmah. Kisah Nabi yang paling sering diungkap adalah kisah perjuangan Nabi Musa ‘alaihis salam. Tentu banyak pelajaran dan hikmah yang bisa diambil dari kisah perjuangan Nabi Musa ‘alaihis dalam memerdekakan Bangsa Israel dari penindasan Firaun sehingga sampai sedemikian besar perhatian al-Quran terhadapnya.

Nabi Musa bersama Nabi Harun tanpa dukungan kekuatan apa pun selain iman dan tawakkal kepada Allah, dengan berani dan penuh adab melakukan upaya penyadaran kepada Firaun dan kaumnya.

Mereka dibuka kesadarannya oleh Nabi musa ‘alaihis salam dengan berbagai mukjizat yang beliau tunjukkan serta penjelasan yang argumentatif dan santun, agar Firaun dan kaumnya sadar bahwa Dia bukanlah Tuhan semesta alam. Dia adalah manusia biasa yang menjadi hamba bagi Allah Subhanahu w Ta’ala.

Namun semua itu tidak mempan, karena Firaun sudah sedemikian dikuasai kesombongan akibat berkuasa dalam kurun waktu yang sangat lama tanpa ada satu pun kekuatan yang mampu meruntuhkan dirinya. Kesombongannnya sampai pada taraf dirinya meyakini sebagai Tuhan bagi masyarakat di bawah kekuasaannya.

Akhirnya Allah Ta’ala menunjukkan kekuasaan-Nya dengan menenggelamkan Firaun dan bala tentaranya seluruhnya di laut.

Meskipun kisah Nabi Musa ‘alaihis aslam adalah kisah yang paling lengkap dalam al-Quran namun tidak akan bisa menandingi kelengkapan kisah perjuangan Nabi Muhammad ﷺ. Kisah perjuangan beliau membebaskan umat manusia kala itu dari perbudakan sesama manusia dan dari belenggu keyakinan dan kepercayaan yang sesat berhasil diabadikan dalam riwayat-riwayat yang shahih sehingga bisa dijadikan sumber rujukan bagi umat Islam setelah beliau ﷺ .

Nabi ﷺ memulai dakwahnya sendirian tanpa ada pendukung kecuali istrinya yang mulia, Khadijah radhiyallahu ‘anha. Setelah itu, dukungan datang dari Waraqah bin Naufal, sepupu Khadijah radhiyallahu ‘anha.

Waraqah bin Naufal adalah orang yang paham tentang agama ahli kitab dan dia menyatakan imannya kepada Nabi ﷺ . Dia memperingatkan Nabi ﷺ bahwa dirinya pasti akan diusir oleh kaumnya sebagaimana para nabi terdahulu.

Setelah itu beliau berdakwah kepada kalangan keluarganya dan mendapat dukungan dari Ali bin Abi Thalib yang masih kecil. Sedangkan orang kedua dari lingkungan di luar keluarga Nabi ﷺ adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anha.

Beliau melakukan upaya penyebaran dakwah tauhid selama 3 tahun secara tertutup. Setelah itu diperintahkan oleh Allah untuk berdakwah secara terbuka. Dan benarlah yang dikatakan Waraqah bin Naufal.

Tokoh -tokoh Quraisy mulai menyatakan penentangannya, bahkan pamannya sendiri abdul Uzza bi Abdul Muthalib atau dikenal dengan Abu Lahab menjadi penentang utamanya. Permusuhan mereka sampai pada tingkatan Nabi ﷺ , keluarganya dan seluruh Bani Hasyim di boikot selama 3 tahun oleh berbagai kabilah di Arab.

Namun Nabi ﷺ dan para sahabat serta Bani hasyim yang masih kafir tetap bertahan. Akhirnya, boikot itu dibatalkan oleh sebagian dari kabilah arab yang tidak tega melihat ketidakadilan terus terjadi kepada Bani Hasyim.

Dirobek-robeklah pakta perjanjian yang ditempel di Ka’bah. Lepas dariujian tersebut Nabi ﷺ terus berupaya mencari jalan keluar untuk menyelamatkan Islam dan kaum Muslimin karena tekanan semakin berat.

Akhinya sebagian berhijrah ke Habasyah dan sebagian lannya berhijrah ke Madinah. Paska hijrah keadaan tidak kemudian aman tentram. Setelah 13 tahun merasakan penindasan di Mekah, Rasulullah ﷺ dan para sahabat selama 5 tahun pertama di Madinah mengalami tekanan besar akibat berbagai kampanye militer yang dilancarkan Quraisy dan para sekutunya termasuk dari kalangan Yahudi.

Setelah tahun kelima Hijriyah barulah kondisi kaum Muslimin berada di atas angin. Mereka mulai diperhitungkan oleh kekuatan regional di wilayah Jazirah Arab.

Dalam kurun waktu 10 tahun di Madinah Rasulullah ﷺ telah memimpin langsung peperangan sebanyak 27 kali, berdasarkan riwayat yang paling shahih, melawan kekuatan yang hendak menghapus eksistensi kaum Muslimin dan hendak memperbudak manusia di bawah kekuasaan mereka yang zhalim.

Dalam kurun waktu 23 tahun Rasulullah ﷺ berhasil membebaskan manusia dari belenggu keyakinan sesat dan penindasan penguasa yang tiran serta berhasil melahirkan masyarakat yang bertauhid hanya menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berakhlak mulia.

Belum pernah ada dalam sejarah kemanusiaan orang yang prestasinya melebihi Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana disampaikan oleh Michael H.Hart dalam bukunya 100 orang yang paling berpengaruh di dunia. Dia menempatkan Nabi Muhammad ﷺ sebagai orang pertama dalam urutan tokoh paling berpengaruh di dunia dalam versinya meskipun dia adalah orang non Muslim.

Demikian gambaran ringkas perjuangan Nabi Muhammad ﷺ  mewujudkan misi kenabian yaitu mendakwahkan Tauhid dan menyempurnakan akhlak mulia. Memerdekakan jiwa manusia dari penghambaan kepada makhluk dan hanya menjadi hamba Allah serta tidak menjadi hamba hawa nafsu dan setan.

159 Judul Khutbah Jumat Panjang Lengkap

Doa Penutup

Wallahu a’lam bish shawab. Semoga bermanfaat mari kita akhiri dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

 الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

  عِبَادَ اللهِ

((إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Materi Khotbah Jum’at Singkat Terbaru
Khutbah Jumat Tentang Dakwah
Khutbah Jumat Tentang Komunis
Khutbah Jumat Hari Pahlawan 10 November

Print Friendly, PDF & Email