Khutbah Jum’at: Hukum Merayakan Tahun Baru 2022 Masehi Dalam Islam

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

Mukaddimah Pembukaan Khutbah Jumat

Mukadimah

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah melimpahkan berbagai nikmat kepada kita yang kita tak dapat menghitungnya.

Di antara nikmat terbesar yang Allah Ta’ala karuniakan kepada kita adalah nikmat hidayah iman dan Islam, keamanan dan kesehatan.

Dengan semua nikmat tersebut, kita bisa hadir ke masjid yang diberkahi ini dengan mudah dan aman untuk melaksanakan salah satu syiar dan kewajiban agung dalam Islam yaitu ibadah shalat Jumat.

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada nabi kita yang mulia, Muhammad ﷺ, keluarganya, para sahabatnya dan setiap Muslim yang mengikuti jalan hidup beliau dengan sebaik-baiknya hingga akhir zaman.

Tak lupa kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan kaum Muslimin semuanya, agar senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala di mana pun kita berada.

Sesungguhnya, takwa adalah sebaik-baik bekal untuk mengaruhi kehidupan ini dengan penuh keberkahan dan keselamatan serta untuk kembali ke akhirat nanti.

Baca juga: Khutbah Jumat Merayakan Natal Dalam Islam

Sejarah Tahun Baru Masehi

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kita saat ini berada di bulan penghujung tahun masehi atau tahun miladiyah. Sistem penanggalan yang dijalankan hampir seluruh masyarakat dunia pada hari ini.

Usia sistem penanggalan Masehi sudah sangat lama. Ia sudah dipakai sejak lebih dari 4 abad yang lalu. Kalender Masehi yag dikenal juga dengan istilah kalender Gregorian atau kalender Barat, pertama kali di gunakan pada tahun 1582.

Berdasarkan keterangan dalam Encyclopedia Britannica, penanggalan Masehi ini dibuat berdasarkan sistem penanggalan matahari dengan menggunakan hitungan waktu bumi berputar mengelilingi matahari.

Sistem penanggalan Masehi ini sebenarnya ada hubungannya dengan keyakinan kelahiran Nabi Isa, atau Tuhan Yesus menurut agama Kristen, bukan murni berbasis sains.

Hal ini bisa dilihat dalam penjelasan sebuah website berbahasa Inggris yang mempromosikan keyakinan Jesus Kristus yaitu https://christ.org/. Dalam website tersebut diterangkan sebagai berikut:

”Kalender paling populer yang digunakan di seluruh dunia saat ini dikenal sebagai kalender Gregorian atau kalender Barat yang dibuat pada tahun 1582.

Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa Yesus Kristus lahir pada tahun 1. (Tidak ada tahun “nol” dalam kalender, jadi mulai dari 1 BC  (Sebelum Masehi biasa disingkat SM) sampai 1 AD (Masehi biasa disingkat M), pada awal perhitungannya.)

Tahun-tahun sebelum kelahiran Yesus disebut BC – Sebelum Masehi (SM) dan tahun-tahun setelah kelahirannya disebut AD – Masehi (M).

Dionysius pertama kali mengusulkan penggunaan BC (SM) dan AD (M) sekitar tahun 525. Butuh berabad-abad sebelum semua negara Barat Kristen akhirnya mengadopsi sistem tersebut, tetapi akhirnya dimasukkan dalam kalender Gregorian atau Barat.

Dalam bahasa Inggris, BC mengacu pada Before Christ “Sebelum Kristus.” Namun, AD tidak mengacu pada After Death “Setelah Kematian,” seperti yang diasumsikan banyak orang.

Sebaliknya, AD mewakili kata Latin, Anno Domini yang berarti “tahun Tuhan” atau lebih tepatnya “Anno Domini Nostri Jesu Christi” (tahun Tuhan kita Yesus Kristus), mengacu pada kelahiran Yesus Kristus.[i]

Rekomendasi Khutbah Bulan Dzulhijjah

Menyikapi Perayaan Tahun Baru Masehi Menurut Islam

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Apa yang dinyatakan oleh Website tersebut menunjukkan benarnya apa yang pernah disampaikan oleh KH. Cholil Nafis, salah seorang ulama dari Nahdhatul Ulama.

Beliau mengingatkan umat Islam agar tidak terlibat dalam setiap aktifitas yang terkait dengan perayaan Tahun Baru Masehi karena itu bukan Hari raya umat Islam.

Beliau mengatakan, ”Perayaan tahun baru tersebut bukan milik umat Islam. Tahun baru Masehi adalah tahun umat Kristiani yang menghitung awal tahun dari kelahiran Nabi Isa (Yesus).

Oleh karena itu, tidak ada hubungan dan kepentingan umat Islam dengan pergantian tahun yang dimulai pukul 00.00 pada tanggal 31 Desember itu.

Jadi, umat Islam tidak baik dan tidak perlu merayakan apa pun berkenaan dengan pergantian tahun. Jika pergantian tahun Masehi berkenaan dengan mengisi liburan kerja dan sekolah, maka isilah dengan hal-hal yang positif.”[ii] Demikianlah penjelasan KH.Cholil Nafis hafizhahullah.

Bila demikian halnya, lantas bagaimana sebaiknya kita mensikapi tahun baru masehi yang oleh kebanyakan orang dirayakan setiap tahun, karena dianggap memiliki nilai spresial dan hari yang membahagiakan.

Bila mengacu kepada penjelasan KH. Cholil Nafis, maka sebagai umat Islam yang teguh memegang tuntunan agamanya dan sunnah Nabi Muhammad ﷺ, sikap umat Islam adalah tidak ikut-ikutan merayakan hari pergantian tahun baru masehi.

Alasannya paling tidak ada beberapa poin:

  1. Agar kita tidak melakukan tasyabbuh atau menyerupai orang-orang ahli kitab dalam hal-hal yang merupakan ciri khusus dalam keyakinan mereka.

Sudah sama-sama kita ketahui bahwa Rasulullah ﷺ sangat kuat semangatnya dalam mendorong kaum Muslimin untuk meyelisihi ahli kitab dan melarang mereka menyerupai ahli kitab atau tasyabbuh bil kuffar.

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Siapa saja yang menyerupai suatu kaum (bertasyabbuh), maka dia termasuk bagian dari mereka.” [Hadits riwayat Ahmad 2/50 dan Abu Dawud no. 4031. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih di dalam Shahih Sunan Abi Dawud]

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah ﷺ bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

”Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami.” [Hadits riwayat At- Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.]

Syaikh Dr. Nashir bin Abdul Karim al-‘Aql mengatakan, ”Larangan tasyabbuh secara umum meliputi 4 hal:

  1. Masalah Aqidah. Tasyabbuh dalam perkara ini hukumnya kufur dan syirik.
  2. Masalah yang berhubungan dengan hari besar atau perayaan-perayaan.
  3. Masalah Ibadah. Misalnya, mengakhirkan shalat maghrib, meninggalkan makan sahur, mengakhirkan buka puasa dan lain-lain.
  4. Masalah tradisi, akhlak dan tingkah laku. Misalnya dalam berpakaian, memakai bejana atau piring dari emas, mencukur habis jenggot, pergaulan bebas dan seterusnya.”[iii]

Ada hikmah di balik larangan Rasulullah ﷺ dari tasyabbuh dengan non Muslim. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

أَنَّ الْمُشَابَهَةَ فِي الْأُمُورِ الظَّاهِرَةِ تُورِثُ تَنَاسُبًا وَتَشَابُهًا فِي الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَلِهَذَا نُهِينَا عَنْ مُشَابَهَةِ الْكُفَّارِ

”Sesungguhnya penyerupaan dalam perkara-perkara yang bersifat zhahir atau lahiriyah itu akan membuahkan penyesuaian dan penyerupaan dalam hal akhlak dan perbuatan. Oleh karenanya, kita dilarang dari menyerupai orang-orang kafir.” [Majmu’ fatawa, 22/154]

Kemudian ada sebuah atsar dari sahabat Nabi ﷺ , Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

”Barang siapa yang berdiam di negeri-negeri orang asing, lalu membuat tahun baru dan festival seperti mereka serta menyerupai mereka hingga dia mati dalam kondisi demikian, maka kelak dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka.” [Riwayat Al-Baihaqi, no. 18641]

  1. Merayakan pergantian tahun baru Masehi sebagaimana yang sering kita baca beritanya saat ini kebanyakan masuk kategori menghambur-hamburkan harta untuk sesuatu yang tidak bermaslahat.

Memang ada yang mencoba melakukan terobosan dengan melakukan hal yang bermanfaat, seperti menyelenggarakan nikah massal gratis, bahkan masih ditambah diberi uang. Namun yang seperti ini sangat langka.

Kebanyakan hanya bersenang-senang semata untuk sesuatu yang tidak diketahui manfaatnya, yaitu pergantian tahun.

Padahal kita sudah diberitahu oleh Allah Ta’ala bahwa menghambur-hamburkan harta secara sia-sia itu masuk kategori tabdzir dan tabdzir itu merupakan perilaku khas dari setan.

Kita diperintah oleh Allah Ta’ala agar tidak mengikuti jejak langkah setan. Allah Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ وَمَنْ يَّتَّبِعْ خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ فَاِنَّهٗ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ مَا زَكٰى مِنْكُمْ مِّنْ اَحَدٍ اَبَدًاۙ وَّلٰكِنَّ اللّٰهَ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ – ٢١

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar.

Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. [An-Nur: 21]

Allah menyebut para penghambur harta sebagai saudara-saudaranya setan.

وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا – ٢٦

Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ۗوَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا – ٢٧

Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. [Al-Isra’: 26-27]

Baca juga: Urgensi Muhasabah Instropeksi Diri

  1. Membuang-buang waktu.

Di malam tahun baru, banyak orang sesudah waktu isyak akan bergerak ke tempat tempat keramaian menunggu datangnya malam pergantian tahun.

Sebagian besar menikmati berbagai hiburan dan nongkrong sampai pukul 02.00 pagi. Sebagian lagi terus berlanjut hingga pagi.

Sebagian ada yang melakukan maksiat berat seperti minum khamr dan zina, namun ada yang sekedar ngobrol dan minum-minum hingga pagi.

Sekian jam yang hilang tanpa mendapatkan hal yang bermakna kecuali rasa senang. Sebenarnya itu kerugian besar, terutama yang melakukan dosa besar di malam pergantian tahun baru.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِۙ – ١

Demi masa,

اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ – ٢

sungguh, manusia berada dalam kerugian,

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ – ٣

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. [Al-‘Ashr: 1-3]

Perlu diingat, sepertiga malam terakhir adalah waktu yang sangat berharga. Sungguh betapa rugianya kalau pada waktu yang sangat berharga ini seseorang justru membuang-buangnya secara percuma, apalagi dipakai bermaksiat.

Mengenai berharganya waktu sepertiga malam terakhir berikut hadits-hadits yang memberitakannya:

Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ فِى اللَّيْلِ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

”Sesungguhnya pada malam hari benar-benar terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang muslim meminta kepada Allah kebaikan baik terkait urusan dunia maupun akhiratnya bersesuaian dengan waktu tersebut, melainkan Allah akan memberikan apa yang ia minta. Hal ini ada di setiap malam.” [Hadits riwayat Muslim no. 757]

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda,

يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

”Tuhan kita Tabaroka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Allah berkata, ”Siapa yang berdoa pada-Ku, aku akan mengabulkan doanya.

Siapa yang meminta kepada-Ku, pasti akan Aku beri. Dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku, pasti akan Aku ampuni.” [Hadits riwayat Al- Bukhari no. 6321 dan Muslim no. 758]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

155 Khutbah Jumat Singkat Terbaru

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Menyambut Tahun Baru Masehi Dengan Harapan Baru

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dalam kesempatan khutbah yang kedua ini kami mengingatkan diri kami sendiri dan kaum Muslimin semuanya agar mensikapi pergantian malam tahun baru sebagaimana pergantian malam yang lainnya.

Tidak ada yang istimewa. Malam yang istimewa dalam Islam hanyalah 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Di luar itu maka semua malam sama saja nilainya.

Kita ikuti seruan KH. Cholil Nafis, bahwa perayaan Tahun Baru bukan milik kaum Muslimin dan tidak ada hubungan dan kepentingan sama sekali dengan umat Islam.

Kita perlu menyadari bahwa pergantian tahun itu justru menjadi tanda yang jelas telah semakin berkurangnya umur kita dan semakin dekatnya kita menuju ajal.

Namun kita tetap diminta untuk menatap hari esok dengan sikap optimis bahwa Allah Ta’ala akan menolong kita dengan rahmat-Nya untuk mampu menjalankan tugas-tugas dalam hidup, menuntaskan segala tanggung jawab, dan menyelesaikan segala problema yang kita hadapi.

Rahmat Allah Ta’ala adalah sumber segala kesuksesan baik di dunia dan akhirat. Namun rahmat Allah itu hanya akan kita dapatkan bila kita termasuk orang- orang yang senantiasa berbuat ihsan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ – ٥٦

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. [Al-A’raf: 56]

Baca juga: Khutbah Jumat Tahun Ini Harus Lebih Baik

Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili rahimahullah dalam Tafsir Al-Munir mengatakan bahwa termasuk dalam pengertian melakukan kerusakan di muka bumi dalam ayat ini adalah berbuat syirik kepada Allah, dan melakukan kemaksiatan.

Oleh karena itu, kalau seseorang melakukan berbagai dosa dan maksiat di malam pergantian tahun, sebenarnya dia sedang menyambut tahun baru dengan berbuat kerusakan di muka bumi.

Hal ini jelas menjauhkan dirinya dari rahmat Allah Ta’ala. Karena rahmat Allah Ta’ala itu hanya dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan, yaitu orang-orang yang mengikuti perintah Allah Ta’ala dan meninggalkan larangan-Nya.

155 Materi Khutbah Jumat Terbaru

Doa Penutup

Demikianlah khutbah tentang tahun baru yang bisa kami sampaikan. Semoga bermanfaat. Marilah kita berdoa kepada Allah Ta’ala untuk mengakhiri khutbah ini.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

 الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنَّا نَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِى لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


[i] https://christ.org/questions-and-answers/what-does-bc-and-ad-have-to-do-with-jesus/

[ii] https://alrasikh.uii.ac.id/2019/12/27/tahun-baru-masehi-milik-siapa/

[iii] Tasyabbuh Sikap Meniru Orang Kafir, Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-‘Aql, Pustaka Mantiq, Solo, 1992, hal. 30-32 secara ringkas.

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
Khutbah Jum’at Paling Bagus
Khutbah Jumat Tahun Baru Hijriyah
Khutbah Jumat Tahun Ini Harus Lebih Baik

Print Friendly, PDF & Email