Khutbah Jumat: Bahaya Suul Khatimah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

فإنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ

Hadits Tentang Amal Penutup Kehidupan

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Suatu kali Rasulullah ﷺ bersabda,

إنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَنَ الطَّوِيلَ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ، ثُمَّ يُخْتَمُ له عَمَلُهُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، وإنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَنَ الطَّوِيلَ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، ثُمَّ يُخْتَمُ له عَمَلُهُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ.

Ada orang yang benar-benar beramal dalam waktu yang lama dengan amalan ahli surga, kemudian amalnya ditutup dengan amalan ahli neraka. Dan ada orang yang benar-benar melakukan amal ahli neraka dalam waktu yang lama, kemudian amalnya ditutup dengan amalan ahli surga.” [Hadits riwayat Muslim]

Di dalam hadits ini Nabi ﷺ menjelaskan bahwa seseorang telah melakukan amalan perbuatan penduduk surga seumur hidupnya kemudian dia melakukan perbuatan penghuni neraka di akhir usianya sehingga dia masuk ke dalam neraka.

Dan ada juga seseorang yang sepanjang usianya melakukan perbuatan penghuni neraka kemudian dia melakukan amal perbuatan penduduk surga di akhir umurnya sehingga dia masuk ke dalam surga.

Oleh karenanya seorang muslim dituntut untuk senantiasa waspada dan tidak tertipu dengan dirinya sendiri apabila mendapati pada dirinya terdapat kesalehan dan kecenderungan kepada kebaikan. Dan hendaknya seorang muslim itu memohon kepada Allah taufik dan kelurusan sikap secara terus menerus dan juga memohon husnul khatimah.

Pengertian Suul Khatimah

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah,

Hadits tadi menjelaskan tentang penghujung amal manusia yang menjadi penutupnya. Bila amal yang menutup kehidupan seseorang itu amal shalih maka itulah yang sering disebut dengan husnul khatimah. dan bila amal perbuatan yang menjadi penutup usianya adalah perbuatan buruk maka itulah yang sering disebut dengan suul khatimah.

Khutbah kali ini hendak fokus membahas tentang suul khatimah, pengertiannya, sebab-sebabnya, tanda-tandanya dan cara agar seorang muslim tidak tertimpa suul khatimah.

Pengertian dari suul khatimah adalah seorang hamba meninggal dalam keadaan yang buruk yang tidak diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, ruhnya dicabut dalam kondisi di atas dosa dan maksiat, kemudian dia bertemu Allah Ta’ala dengan dosa-dosa tersebut.

Suul khatimah merupakan bencana yang menimpa seorang anak manusia, kerugian besar dan kegagalan dalam kehidupan. Seseorang akan dibangkitkan sesuai dengan amal terakhir yang dia lakukan.

Bahaya Suul Khatimah

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,

Suul khatimah adalah kondisi yang paling ditakuti oleh orang-orang shalih. Hal ini mengingat betapa besarnya bahaya yang ditimbulkannya yaitu kesengsaraan hidup di akhirat.

Ibnul Mubarak rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang yang memiliki bashirah tidak akan merasa aman dari empat perkara:

  1. Dosa masa lalu, yang tidak dia ketahui apa yang Allah akan perbuat dengannya,
  2. Umur yang tersisa, yang tidak dia ketahui musibah apa yang akan dia alami,
  3. Keutamaan yang Allah karuniakan, yang mungkin saja itu adalah istidroj atau pemberian nikmat tanpa ada keridhaan.
  4. Kesesatan yang dihiasi sehingga nampak seperti petunjuk. Penyimpangan hati saat demi saat itu lebih cepat dari kedipan mata, yang bisa jadi mencabut agamanya tapa dia sadari.

Kondisi paling berbahaya yang dihadapi oleh seorang muslim adalah saat dia sedang dalam keadaan menjelang kematiannya. Saat itu manusia berada dalam kondisi paling lemah sedangkan setan berada dalam kondisi paling puncak kesungguhannya.

Diriwayatkan bahwa tidak ada kondisi yang setan betul-betul bersungguh-sunugguh dalam menyesatkan anak Adam selain menjelang kematiannya. Dia berkata kepada para pengikutnya, ‘Perhatikan masalah ini. Bila kalian tidak berhasil hari ini, maka kalian tidak akan dapat melakukannya setelah hari ini.”

Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ dalam hidupnya senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala agar tidak dikuasai setan saat kematian. Hal ini untuk mengajarkan kaum muslimin agar bersungguh-sungguh mencari keselamatan dari fitnah setan.

Dalam sebuah hadits dari Abu Yusr radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

الَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَدمِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ التَرَدِّي ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الغَرَقِ وَالحَرَقِ وَالهَرَمِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَن يَتَخَبَّطَنِي الشَّيطَانُ عِندَ المَوتِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَن أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدبِرًا ، وَأَعُوذُ بِكَ أَن أَمُوتَ لَدِيغًا )رواه أحمد، رقم 3/427، وأبو داود، رقم 1552 وسكت عنه ، والنسائي، رقم 5531 ، وقال الحاكم في المستدرك رقم 1/713 : صحيح الإسناد ولم يخرجاه ، وصححه الألباني في صحيح أبي داود( .

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tertimpa benda keras, aku berlindung kepada-Mu dari terjatuh, aku berlindung kepada-Mu dari tenggelam, terbakar dan pikun. Aku berlindung kepada-Mu dari dikuasai setan saat sakaratul maut. Aku berlindung kepada-Mu dari mati dalam jihad di jalan-Mu dalam keadaan melarikan diri, aku berlindung kepada-Mu dari mati karena tersengat binatang berbisa.”

[Hadits riwayat Ahmad, 3/427, Abu Daud, no. 1552, An-Nasai, no. 5531. Al-Hakim berkata dalam Al-Mustadrak, 1/713: Shahih sanad tapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dan dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud]

Dalam sebuah hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,”Rasulullah ﷺ bersabda,

إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُم فَليَستَعِذ بِاللَّهِ مِن أَربَعٍ : يَقُولُ : الَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِن عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِن عَذَابِ القَبرِ ، وَمِن فِتنَةِ المَحيَا وَالمَمَاتِ ، وَمِن شَرِّ فِتنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ (رواه البخاري، رقم 1377، ومسلم ، رقم 588)

Apabila salah seorang dari kalian membaca tasyahud, hendaklah dia berlindung kepada Allah dari keempat perkara, dengan mengucapkan,

Allahumma inni a’uudzu bika min adzaabi Jahannam, wa min adzaabil qabri, wa min fitnatil mahya wal mamaat wa min syarri fitnatil masihid dajjaal

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab neraka jahanam dan dari adzab kubur dan dari fitnah kehidupan dan kematian dan dari keburukan fitnah al-masih ad-Dajjal.” [Hadits riwayat Al- Bukhari, no. 1377 dan Muslim, no. 588]

Seorang ulama Tabi’in bernama Thawus bin Kisan al Yamani rahimahullah pernah menegur anaknya yang shalat sunnah tanpa membaca doa ini setelah tasyahud. Dia memerintahkan anaknya untuk mengulang shalatnya. Ini menunjukkan pentingnya doa tersebut walaupun tidak disepakati sebagai sesuatu yang wajib dalam shalat.

Baca juga Khutbah Jum’at: Harapan Mayit di Dalam Al Qur’an & Sunnah

15 Sebab Suul Khatimah

Jamaah Jumat rahimakumullah

Sebab-sebab suul khatimah dipaparkan di dalam al-Quran dan disebutkan di dalam as-Sunnah. Syaikh Nada Abu Ahmad menyebutkan di antara sebab suul khatimah adalah:

  1. Kerusakan keyakinan dan beribadah dengan perbuatan bid’ah
  2. Kemunafikan dan berbedanya antara yang zhahir dan batin
  3. Suka menunda taubat
  4. Panjang angan-angan dan cinta kepada dunia
  5. Ketergantungan hati kepada selain Allah
  6. Putus asa dari rahmat Allah
  7. Biasa bermaksiat dan terus menerus melakukannya
  8. Bersahabat dengan orang-orang yang rusak
  9. Tidak istiqamah di atas ketaatan.

Sedangkan menurut Syaikh al-Munajjid sebab-sebab suul khatimah adalah

  1. Kerusakan keyakinan
  2. Terus menerus melakukan maksiat
  3. Berkubang dalam dosa-dosa besar.
  4. Cinta dunia dan terikat kepadanya disertai dengan kelemahan kecintaan terhadap akhirat dan amal-amal untuk akhirat.
  5. Menyimpang dari sikap istiqamah dan berpaling darinya serta dari orang-orang yang istiqamah.
  6. Terus menerus bersama dengan teman-teman yang buruk dan bergaul dengan mereka.

Al-Hafizh Abdul Haq al-Isybaili rahimahullah berkata, ”Ketahuilah bahwa suul khatimah semoga Allah melindungi kita darinya, tidak akan terjadi pada orang yang istiqamah zhahirnya dan shalih batinnya. Suul khatimah itu hanya terjadi pada orang yang ada kerusakan pada akalnya dan terus menerus melakukan dosa besar dan berjalan menuju dosa-dosa besar.

Kemudian boleh jadi hal itu mendominasi dirinya sehingga maut datang kepadanya sebelum bertaubat dan menyerangnya sebelum inabah kepada Allah dan kematian mengambil dirinya sebelum memperbaiki batinnya dan setan menghancurkannya pada keguncangan tersebut dan menyambarnya pada saat kekagetan tersebut.”

Baca juga Khutbah Jum’at: Rahasia dibalik umur 40 Tahun

Tanda Suul Khatimah

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Suul khatimah itu memiliki tanda-tanda yang bisa dikenali. Di antara tanda-tanda suul khatimah menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid adalah:

  1. Seorang hamba meninggal dalam keadaan berburuk sangka (suuzh-zhan) kepada Allah.
  2. Ditutup hidupnya dengan amal yang buruk sehingga di mati di atas kemaksiatan seperti meninggalkan shalat atau minum khamr, atau zina.
  3. Dipalingkan dari taubat dan tidak diberi taufik untuk bertaubat sehingga dia keterlaluan dalam penyimpangan dan kesesatannya serta tidak takut melakukan kemungkaran hingga meninggal di atas kemungkaran.
  4. Terkumpul padanya antara perbuatan yang buruk di dunia dengan terlihatnya tanda-tanda suul khatimah pada wajahnya berupa wajah yang menghitam, cemberut dan gelap atau menolak untuk mengucapkan syahadatain.

Dia malah berpaling pada berbicara dengan keadaan yang menjadi kebiasaannya di dunia ini berupa keburukan serta kerusakan dan seterusnya.

  1. Pada akhir usianya dia justru meremehkan berbagai kewajiban dengan dalih sakit dan tidak ada kemampuan. Dia akhirnya menyia-nyiakan kewajiban-kewajiban dari Allah dengan sikapnya yang meremehkan tersebut dan keburukan perbuatannya.
  2. Membenci kematian di waktu menjelang kematiannya disertai rasa takut, cemas, keguncangan yang bertambah disertai dengan keburukan amalnya.
  3. Banyak orang yang melontarkan penilaian buruk kepadanya setelah kematiannya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Agar Tidak Suul Khatimah

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bila suul khatimah itu sangat berbahaya bagi keselamatan setiap muslim di akhirat nanti, lantas bagaimanakah caranya agar kita bisa selamat dari mara bahaya tersebut?

Syaikh Nada Abu Ahmad mengatakan bahwa pada prinsipnya agar seseorang itu selamat dari suul khatimah adalah dengan merasa takut terhadap suul khatimah serta menjauhi segala sebab yang mengantarkan kepada suul khatimah.

Untuk itu seorang muslim hendaklah senantiasa mengharuskan dirinya untuk melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Berpegang teguh dengan ketaqwaan dan ketaatan.
  2. Menjauhkan dirinya dari apa saja yang diharamkan oleh Allah.
  3. Bersegera untuk bertaubat dari kemaksiatan
  4. Berdoa secara sungguh-sungguh agar Allah menutup hidupnya dengan husnul khatimah.
  5. Bersangka baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
  6. Banyak berdoa kepada Allah agar hatinya diteguhkan di atas agama-Nya dan di atas ketaatan kepada-Nya. Rasulullah ﷺ sangat sering berdoa dengan doa ini

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوُبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Allahumma Musharrifal quluub sharrif qulubanaa ‘ala tha’atik

Ya Allah Tuhan yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.” [Shahih Muslim no. 2654]

Sebagai penutup kami sampaikan nasehat ulama besar abad 8 hijriah, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah,

“فمَن كان مشغولاً بالله وبذكره ومحبَّته في حال حياتِه، وجد ذلك أحوَج ما هو إليه عند خروج رُوحه إلى الله، ومَن كان مشغولاً بغيره في حال حياته وصحَّته، فيعسرُ عليه اشتغاله بالله، وحضوره معه عند الموت، ما لم تدركه عنايةُ ربِّه، ولأجل هذا كان جديرًا بالعاقل أن يُلزم قلبَه ولسانه ذكرَ الله حيثُما كان لأجل تلك اللَّحظة، والتي إن فاتت شقِيَ شقاوة الأبد، فنسأل الله أن يُعيننا على ذكره وشكره وحسن عبادته”؛ اهـ؛ (طريق الهجرتين ص 308

”Siapa yang sibuk dengan Allah, berdzikir kepada-Nya dan mencintai-Nya saat masih hidup, dia akan mendapati hal itu adalah perkara yang paling dia butuhkan ketika ruhnya keluar dari tubuhnya menuju Allah.

Dan siapa yang sibuk dengan selain Allah saat masa hidupnya dan sehatnya maka dia sulit untuk menyibukkan diri dengan Allah dan kehadirannya bersamanya saat menjelang kematian selama dia tidak mendapatkan perlindungan dari Tuhannya.

Oleh karenanya, sudah sepantasnya bagi orang berakal agar hati dan lisannya terus menerus berdzikir kepada Allah di mana pun berada untuk menghadapi masa tersebut (saat keluarnya ruh dari tubuhnya)

Bila terlewat masa tersebut maka akan sengsara dengan kesengsaraan selamanya. Kita memohon kepda Allah agar menolong kita untuk berdzikir kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya dan beribadah kepada-Nya dengan ikhlas dan sesuai sunnah.” [Thariqul hijratain: 308]

اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
Kumpulan Khutbah Jum’at
Sifat Yang Harus Dimiliki Khatib Jum’at
Tips Mencari Referensi Judul Khutbah
Keutamaan Sedekah Dalam Islam

error: Content is protected !!