Peran Masjid Sekolah Dalam Pembinaan Karakter Positif Anak Didik

Masjid Sekolah memiliki banyak peran dalam pembinaan karakter positif Anak Didik – Saat ini hampir setiap sekolah negeri dan swasta Islam selalu ada masjid di dalamnya. Namun dalam masalah pemanfaatannya masing-masing sekolah memiliki pertimbangan dan orientasi sendiri.

Sebagiannya berangkat dari persepsi, yang penting ada rumah ibadah buat yang Muslim baik guru maupun muridnya. Sebagian lainnya sudah berangkat dari pertimbangan yang bersifat lebih strategis dan mendasar.

Bila masjid sekolah hanya sekedar digunakan sebagai tempat ibadah dan tempat praktek pelajaran wudhu dan sholat, maka ini menjadikan fungsi masjid di Lembaga pendidikan menjadi kurang maksimal.

Sementara, bila berorientasi pada upaya melahirkan anak didik yang beradab, relijius dan memiliki kesadaran beribadah sekaligus tahu tata cara pelaksanaannya dengan benar maka masjid itu akan lebih maksimal pemanfaatannya oleh pihak sekolah.

Seruan dari para pakar pendidikan untuk menyelengarakan pendidikan yang berkarakter hanya akan menjadi slogan semata jika tidak ada contoh nyata dari para guru dan tidak ada sarana yang efektif dan memadai untuk mewujudkannya.

contoh manajemen masjid sekolah

Sebagian Peran Masjid Sekolah

1. Memberi Suri Tauladan kepada Anak

Dalam konteks pendidikan karakter Islami, maka jalan yang paling efektif adalah adanya suri tauladan dari para guru. Tanpa hal itu, maka segala bentuk ceramah, nasehat dan arahan terkait akhlak yang baik bagai menegakkan benang basah. Semua itu hal tadi menjadi mandul dan tidak berbuah sama sekali.

Karakter positif nan Islami dari para guru yang menjadi teladan itu akan semakin sempurna bila dipadu dengan adanya fasilitas masjid di sekolah. Ini bersifat mutlak.

Karena tanpa ada masjid di sekolah maka akan sangat kesulitan bagi para guru untuk memberikan contoh nyata dan berbagai pelajaran praktis terkait banyak hal.

2. Mengajarkan Adab

Banyak adab yang bisa diajarkan dengan adanya masjid di sekolah. Seperti, pelajaran adab saat berjalan menuju masjid untuk shalat. Pelajaran di kelas mudah dihafal.

Namun untuk bisa menjadi karakter siswa, maka guru harus memberi contoh berjalan ke masjid dengan tenang sekaligus mengontrol para siswa dalam perjalanannya ke masjid. Sehingga anak-anak menjadi terbiasa dengan adab berjalan yang baik. Yaitu tenang dan penuh khidmat saat ke masjid.

Kebiasaan anak-anak yang selalu berlomba lari saat menuju ke masjid (biasanya anak usia SD) perlu diluruskan dengan cara yang baik dan efektif. Yaitu ada contoh langsung dan kontrol yang kuat. Bila ini dijalankan sehari – hari selama bertahun-tahun masa sekolah, lebih bisa diharapkan hasilnya di saat mereka lulus dari sekolah.

Setelah jam sholat digital berbunyi, para siswa bisa diajak untuk bersegera ke masjid. Berjalan dengan tenang, segera mengambil wudhu, menunggu di dalam masjid, dan mempraktekkan semua adab yang telah dipelajari. Sehingga ilmu akan menjadi amal.

inilah fungsi masjid sekolah yang benar

3. Sarana Implementasi Ilmu

Ini baru satu adab saja. Adab tidak hanya dipelajari, tapi juga harus diimplementasikan. Padahal begitu banyak adab yang bisa diajarkan di masjid yang bisa diimplementasikan.

Misalnya, mengimplementasikan adab saat masuk ke masjid, adab berpakaian untuk sholat, adab saat berada di masjid, shalat secara berjamaah, adab setelah shalat, dan juga adab saat keluar dari masjid.

Semua itu bisa diajarkan kemudian dipraktekkan secara praktis setelah teorinya disampaikan di ruang kelas. InsyaAllah akan menjadi karakter Islami yang kuat bila dibiasakan setiap hari selama masa sekolah.

4. Pembelajaran Fikih Ibadah

Selain adab, dengan adanya integrasi masjid dengan sekolah, maka para guru akan semakin mudah dalam mengajarkan pelajaran ibadah. Caranya menjadi sangat praktis karena bisa langsung melihat bagaimana sang guru melakukannya.

Misalnya tentang fikih cara berwudhu yang benar sesuai sunnah. Tata cara shalat sunnah tahiyatul masjid. Shalat sunnah rawatib. Cara shalat berjamaah. Bila ini dijalankan dengan baik maka akan sangat melekat pada anak didik hingga mereka dewasa.

5. Praktek Doa Harian

Selain adab dan tata cara pelaksanaan wudhu dan ibadah shalat, dengan adanya masjid, maka para peserta didik bisa langsung diajarkan dan dibiasakan berbagai dzikir dan doa sehari-hari.

Misalnya, doa saat berjalan ke masjid, doa masuk dan keluar kamar mandi, doa setelah berwudhu, doa usai adzan, doa masuk dan keluar masjid, dzikir setelah shalat wajib dan sebagainya.

Kebiasaan dzikir ini akan menjadi karakter mereka, bila dilakukan setiap hari di bawah contoh, bimbingan dan pengawasan para guru. Tanpa peran guru yang kapabel dan penuh dedikasi semacam itu, maka sulit diharapkan terwujudnya pendidikan karakter Islami pada anak didik kita.

peran masjid sekolah untuk pembinaan karakter

6. Latihan Memakmurkan Masjid

Dan yang tak kalah pentingnya adalah dengan adanya masjid di sekolah maka akan memudahkan para guru untuk membiasakan anak didiknya untuk memakmurkan masjid.

Misalnya pada saat pelajaran membaca dan menghafal ayat-ayat al quran maka dilakukan di masjid karena memang barokahnya besar dan pahalanya lebih banyak dan lebih utama, sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ

Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8: 94. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 86 menyatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

وعن عقبة بن عامر رضي الله عنه قال: خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم ونحن في الصُّفّة فقال: «أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ، فَيَأْتِيَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِي غَيْرِ إِثْمٍ وَلا قَطْعِ رَحِمٍ؟» فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، نُحِبُّ ذَلِكَ، قَالَ: «أَفَلا يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمُ أَوْ يَقْرَأُ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ، وَثَلاثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الإِبِلِ

Dari [Uqbah bin Amir] ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar sementara kami sedang berada di Shuffah (tempat berteduhnya para Fuqara dari kalangan muhajirin), kemudian beliau bertanya: “Siapakah di antara kalian yang suka pergi ke Buthhan atau ke Aqiq, lalu ia pulang dengan membawa dua ekor unta yang gemuk-gemuk dengan tanpa membawa dosa dan tidak pula memutuskan silaturahmi?”

Maka kami pun menjawab, “Kami semua menyukai hal itu.” Beliau melanjutkan sabdanya: “Sungguh, salah seorang dari kalian pergi ke masjid lalu ia mempelajari atau membaca dua ayat dari kitabullah ‘azza wajalla adalah lebih baik baginya daripada dua unta. Tiga (ayat) lebih baik dari tiga ekot unta, empat ayat lebih baik daripada empat ekor unta. Dan berapa pun jumlah unta.” [HR Muslim, No. 1336]

apa itu masjid sekolah dan fungsinya

7. Pendidikan Karakter Anak

Selain membaca al Quran, anak-anak juga bisa dilatih dalam momen tertentu untuk bermalam di sekolah bersama guru dan melakukan shalat tahajud. Bisa pula berlatih I’tikaf selama beberapa hari di bulan Ramadhan sekaligus ada pesantren kilat. Atau bahkan bisa dilakukan kebiasaan shalat sunnah dhuha di pagi hari sebelum masuk kelas.

Ini semua bisa dan mungkin dilakukan dengan syarat ada masjid di sekolah dan ada guru yang memang berdedikasi penuh dalam pembinaan karakter Islami pada anak. Jadi ini bukan persoalan teori akhlak yang diajarkan di kelas semata.

Persoalan pendidikan karakter adalah persoalan membangun kebiasaan positif pada anak. Dan tidak ada karakter yang lebih positif melebihi adab-adab dalam Islam.

Demikian tulisan singkat tentang fungsi masjid di sekolah. Semoga bermafaat.

Leave a Comment

error: Content is protected !!