Khutbah Jumat: Kewajiban Puasa Ramadhan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

فإنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ

Kapan diwajibkannya puasa?

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. [Al-Baqarah: 183]

Al-Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya tentang ayat ini mengatakan, ”Ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ditujukan kepada orang-orang beriman. Di dalamnya berisi perintah kepada mereka untuk melaksanakan puasa.

Puasa adalah menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh (jima’) mulai sejak terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat karena Allah. Dalam kewajiban puasa ini terdapat pembersihan, pensucian dan pemurnian diri dari semua bentuk keburukan dan kekurangan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan puasa kepada kaum muslim sebagaimana telah mewajibkannya kepada kaum-kaum sebelumnya.

Umat ini memiliki uswah hasanah (suri teladan yang baik) yaitu orang-orang sebelumnya. Ayat ini sekaligus memberitahukan agar kaum Muslim bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan tersebut dengan melakukannya jauh lebih sempurna dibandingkan dengan para pendahulunya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan syariah dan aturan bagi setiap umat, sebagaimana firman-Nya,

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. [Al-Maidah: 48]. Sekian penjelasan Imam Ibnu Katsir tentang ayat tadi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan puasa Ramadhan kepada umat Islam pada tahun 2 Hijriah. Allah Ta’ala menjadikan Islam sebagai salah satu rukun Islam dan kewajiban dalam Islam. Puasa Ramadhan merupakan rukun Islam yang keempat.

Hal ini sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (16) dan Al-Bukhari (8) dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata,’ Rasulullah ﷺ bersabda,

بُنِيَ الإِسْلامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Islam dibangun di atas lima (pilar/rukun): bersaksi tidak ada Tuhan (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, dan mendirikan shalat, dan menunaikan zakat dan berhaji serta puasa Ramadhan.”

Baca juga Khutbah Jum’at: Keutamaan Bulan Ramadhan

Siapakah yang wajib berpuasa?

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Siapa saja yang wajib untuk menjalankan kewajiban puasa Ramadhan? Para ulama telah menjelaskan bahwa puasa Ramadhan itu wajib atas setiap muslim yang memenuhi syarat berikut:

  1. Berakal
  2. Baligh
  3. Sehat
  4. Mukim (tidak sedang melakukan safar)
  5. Untuk wanita ditambah harus dalam keadaan suci dari hadih dan nifas.

Yang dimaksud berakal berarti muslim tersebut tidak gila. Sedangkan yang dimaksud dengan telah mencapai usia baligh menurut para ahli fikih adalah bila telah memiliki salah satu dari tanda-tanda berupa:

  1. Keluar mani dalam keadaan bermimpi

Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ.

Pena telah diangkat dari tiga golongan, dari orang gila hingga ia berakal sehat lagi, dari orang tidur hingga ia bangun, dan dari anak kecil hingga ia ihtilam (bermimpi basah).” [Shahih al-Jaami’ Ash- Shaghir (3514)]

  1. Telah keluar bulu rambut kemaluannya

Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Athiyah Al-Qurazhi, beliau berkata,

عُرِضْنَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ قُرَيْظَةَ فَكَانَ مَنْ أَنْبَتَ قُتِلَ، وَمَنْ لَمْ يُنْبِتْ خُلِّيَ سَبِيلُهُ، فَكُنْتُ مِمَّنْ لَمْ يُنْبِتْ فَخُلِّيَ سَبِيلِي

Pada perang Bani Quraizhah, kami kami dibawa ke hadapan Nabi . Siapa pun yang telah tumbuh bulu kemaluannya dibunuh, sedangkan bagi yang belum tumbuh bulu kemaluannya dibiarkan hidup. Dan aku termasuk orang-orang yang belum tumbuh bulu kemaluannya, maka aku pun dibiarkan pergi.”

[Hadits shahih riwayat Abu Dawud no. 4404, At- Tirmidzi no. 1510, An-Nasa’i no. 3375, dan Ibnu Majah no. 2532]

  1. Telah berusia 15 tahun

Usia 15 tahun ini diukur dari kalender qamariah atau hijriah bukan dengan kalender syamsiah atau masehi. Dasar usia 15 tahun adalah ciri sudah sampai batas baligh adalah hadits Nafi’ dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Ibnu Umar mengatakan bahwa Rasulullah ﷺmemeriksa dirinya dalam perang Uhud. Saat itu umurnya masih empat belas tahun. Maka beliau tidak mengijinkanku. Kemudian Rasulullah Rasulullah ﷺ memeriksaku pada perang Khandaq. Saat itu usiaku lima belas tahun dan beliau mengijinkanku.”

Nafi’ berkata, “Aku pernah menemui Umar bin Abdul Aziz. Saat itu dia menjadi khalifah, lalu aku sampaikan hadits ini. Dia berkata, “Ini adalah batas antara anak kecil dan orang dewasa (baligh).”

Kemudian dia menulis kepada para gubernurnya untuk membebani kewajiban bagi mereka yang telah berusia lima belas tahun.” [Hadits riwayat Al-Bukhari 2664 dan Muslim no. 1490)

  1. Khusus wanita, bila telah keluar darah haidh

Hal-Hal yang wajib dijauhi oleh orang yang sedang berpuasa

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah,

Orang yang sedang melaksanakan puasa Ramadhan harus menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia. Ini sesuai dengan perintah Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

إذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ شَاتَمَهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

Apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa maka janganlah berkata keji (jorok), dan bertengkar mulut dengan suara sangat keras. Apabila seseorang mencaci makinya atau memusuhinya maka katakanlah, ”Sesungguhnya saya sedang berpuasa.” [Muttafaq ‘alaih]

Rasulullah ﷺ juga melarang orang yang sedang berpuasa Ramadhan dari berakhlak buruk. Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,’Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ إلَّا مُسْلِمًا وَالنَّسَائِيَّ.

Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan batil serta berbuat batil maka Allah tidak ada keperluan dengan dia meninggalkan makanan dan minumannya.” [Hadits riwayat Al-Jamaah kecuali Muslim dan An-Nasa’i]

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mensifati para hamba-Nya sebagai orang-orang yang menjauhi perkataan dusta dan batil meskipun di luar bulan Ramadhan. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. [Al-Furqan: 72]

Perkara-perkara yang boleh dilakukan saat sedang berpuasa.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Apa yang disampaikan tadi adalah perkara-perkara yang selayaknya dijauhi oleh seorang muslim saat berpuasa pada bulan Ramadhan. Namun ada sejumlah perkara yang diperbolehkan oleh Allah untuk dilakukan oleh seorang Muslim di bulan Ramadhan.

Hal ini berangkat dari firman Allah Ta’ala,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. [Al-Baqarah: 185]

Di antara hal-hal yang diperbolehkan untuk dilakukan saat berpuasa di bulan Ramadhan adalah:

  1. Masuk waktu fajar masih dalam keadaan junub.

Hal ini sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata, ”Rasulullah ﷺ pernah mendapati waktu fajar telah tiba di bulan Ramadhan sedangkan beliau dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah. Lantas beliau ﷺ mandi dan berpuasa.” [Hadits riwayat Muslim no. 1109]

  1. Bersiwak

Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك مع كل صلاة

Seandainya tidak memberatkan umatku, tentu aku sudah menyuruh mereka bersiwak setiap waktu shalat.” [Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim]

Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,”Mengenai siwak, seluruh ulama sepakat tentang bolehnya memakai siwak ketika berpuasa.” [al-Fatawa al-Kubra”(2/474)]

Untuk masa sekarang ini, orang cenderung membersihkan gigi dengan menggunakan pasta gigi bukan dengan siwak walaupun sebagian masyarakat muslim masih tetap ada yang menggunakan siwak.

Lantas bagaimana hukumnya menggunakan pasta gigi untuk menyikat gigi saat berpuasa? Menurut Syaikh Muhammad bin shalih al Munajjid orang yang sedang berpuasa boleh membersihkan gigi dengan menggunakan sikat dan pasta gigi.

Bahkan, bersiwak atau membersihkan gigi merupakan sunah bagi setiap muslim, baik sedang berpuasa maupun tidak. Namun, bagi yang berpuasa harus berhati-hati, jangan sampai ada yang tertelan.

  1. Berkumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung saat wudhu) tanpa berlebihan.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ hadits berikut:

وَبَالَغْ في الاسْتِنْشَاقِ، إِلاَّ أَنْ تكُونَ صَائماً” رواه أَبُو داود، والترمذي وقال: حديثٌ حسنٌ صحيحٌ

Dan sungguh-sungguhlah dalam istinsyaq kecuali bila kamu sedang berpuasa.” [Hadits riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan dia berkata,’hadits hasan shahih.”]

  1. Mencicipi makanan asal tidak masuk ke dalam kerongkongan.

Para fuqaha tidak berselisih pendapat bahwa orang yang sedang berpuasa mencicipi makanan itu tidak membatalkan puasanya selama tidak ada bagian dari makanan tersebut yang masuk ke dalam perutnya.

Perbuatan ini diperbolehkan tanpa ada kemakruhan apabila ada tuntutan kebutuhan. Ibnu Abbas radhiyallahu berkata,

لا بأس أن يذوق الطعام ؛ الخل أو الشيء ما لم يدخل حلقه وهو صائم. أخرجه عنه ابن أبي شيبة والبيهقي في السنن الكبرى

”Mencicipi makanan itu tidak mengapa dilakukan, cuka atau sesuatu yang lain selama tidak masuk kerongkongannya sementara dia sedang berpuasa. [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra]

Namun bila tidak ada tuntutan kebutuhan untuk itu maka yang lebih utama adalah menjauhinya karena bisa membahayakan puasa. Demikian ini fatwa yang disampaikan oleh Markazul Fatwa yang berada di bawah bimbingan Syaikh Dr. Abdullah Al-Faqih.

  1. Mandi dan menyiramkan air di kepala untuk menyegarkan tubuh.

Hal ini sebagaimana dalam hadits Abu Bakar bin Abdurrahman, bahwa dia berkata,’Sungguh saya melihat Rasulullah ﷺ di Al-A’raj sedang mengguyur kepalanya dengan air– karena haus yang teramat sangat atau panas yang menyengat- padahal beliau sedang berpuasa.” [Hadits riwayat Abu Daud no. 2365]

  1. Menggunakan celak mata dan obat tetes mata.

Orang yang sedang berpuasa diperbolehkan untuk menggunakan celak mata dan obat tetes mata dan apa saja selain keduanya yang masuk ke dalam mata, baik didapati rasanya di kerongkongannya atau pun tidak.

Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam kitabnya Haqiqatush Shiyam dan Ibnu Qayyim Al-jauziyyah di dalam kitabnya Zaadul Ma’ad.

  1. Mencium istri dan bercumbu dengannya dengan syarat tidak keluar air maninya.

Orang yang sedang berpuasa diperbolehkan untuk berciuman dan bercumbu dengan istrinya berdasarkan hadits:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رضي الله عنها: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi ﷺ biasa mencium (istrinya) padahal beliau sedang berpuasa. [Hadits Muttafaq ‘alaih riwayat Al-Bukhari dan Muslim]

وَعَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ، وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ، وَلَكِنَّهُ كَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ”. رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ إلَّا النَّسَائِيَّ.

Sedangkan dalam hadits yang diriwayatkan Al-Jamaah selain An-Nasa’i dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata,”Rasulullah ﷺ biasa mencium (istrinya) padahal sedang berpuasa. Beliau juga biasa mencumbu (istrinya) padahal sedang berpuasa. Akan tetapi (yang perlu dicatat) beliau adalah orang yang paling mampu menguasai hasratnya di antara kalian.”

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ ﷺ عَنِ الْمُبَاشَرَةِ لِلصَّائِمِ، فَرَخَّصَ لَهُ، وَأَتَاهُ آخَرُ فَنَهَاهُ عَنْهَا، فَإِذَا الَّذِي رَخَّصَ لَهُ شَيْخٌ، وَإِذَا الَّذِي نَهَاهُ شَابٌّ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُد.

Sedangkan dalam hadits Abu Hurairah disebutkan bahwa seseorang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang orang yang sedang berpuasa tapi bercumbu dengan istrinya maka Nabi ﷺ memberinya keringanan.

Lalu datang lagi yang lain namun beliau melarangnya untuk melakukannya. Orang yang diberi keringanan tadi adalah orang yang sudah tua sedangkan orang yang dilarang tadi adalah seorang pemuda. [Hadits riwayat Abu Dawud]

  1. Melakukan bekam dan donor darah.

Hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ berbekam dalam keadaan sedang berihram dan berpuasa.[ Hadits riwayat al-Bukhari no. 1938]

Donor darah memang belum ada di zaman Nabi ﷺ namun hukumnya diqiyaskan dengan hukum berbekam di bulan puasa karena memiliki kesamaan sebab yaitu sama-sama mengeluarkan darah. [Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 2: 113-114.]

Udzur-udzur yang membolehkan untuk tidak berpuasa

Jamaah jumat rahimakumullah,

Ada sejumlah orang yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa karena adanya udzur-udzur atau penghalang-penghalang yang secara syar’i menjadikan mereka diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Mereka itu adalah

  1. Musafir

Bila seorang Muslim yang sedang berpuasa Ramadhan atau puasa lainnya sedang melakukan safar yang menjangkau jarak safar maka Allah Ta’ala membolehkannya untuk tidak berpuasa sebagai kemudahan dari Allah dan sebagai keringanan baginya.

Namun dia berkewajiban untuk menggantinya sejumlah hari dia tidak berpuasa setelah kembali di waktu yang lain. Allah Ta’ala berfirman:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. [Al-Baqarah: 184]

Kemudian dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa Hamzah bin Amri al Aslami berkata kepada Nabi ﷺ,”Apakah saya harus berpuasa saat safar?” dia dikenal sebagai orang yang banyak berpuasa. Maka Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنْ شِئْتَ فَصُمْ، وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ

Jika kamu mau silahkan berpuasa dan jika kamu ingin tidak berpuasa silahkan saja.” [Hadits shahih diriwayatkan oleh Al-Bukhari (4/157), Muslim (3/144) Abu Dawud (2402), An-nasa’i (1/510), Ibnu Majah (1662)]

  1. Orang yang sakit

Allah Ta’ala telah membolehkan orang yang sakit untuk tidak berpuasa sebagai rahmat dari Allah, dan kemudahan bagi dirinya serta bentuk perhatian terhadap kelemahannya. Allah Ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. [Al-Baqarah: 185]

  1. Orang yang sudah tua renta dan orang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya

Orang-orang semacam ini bila puasa itu terasa sangat memberatkan sehingga tidak tertanggungkan lagi maka mereka diberi keringanan untuk tidak berpuasa berdasarkan ijma’ para ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnul Mundzir di dalam Al-Ijma’ dan selain beliau.

Mereka hanya diminta untuk membayar fidyah dengan memberi makan setiap hari satu orang miskin. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. [Al-Baqarah: 184]

  1. Wanita hamil dan menyusui

Wanita yang hamil dan menyusui jika tidak sanggup berpuasa atau mereka mengkhawatirkan keselamatan dirinya atau anaknya karena beratnya puasa maka mereka boleh tidak berpuasa dan memberi makan setiap hari satu orang miskin tanpa ada kewajiban qodho’ atau mengganti puasa pada hari yang lain.

Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

إذا خَافتِ الحاملُ على نفسها، والمرضِعُ على ولدها في رمضان، قال: يُفطران ويُطعمانِ مكانَ كلِّ يومٍ مسكينًا، ولا يقضِيان صومًا

“Bila orang yang hamil mengkhawatirkan dirinya dan wanita yang menyusui khawatir terhadap anaknya di bulan Ramadhan, maka mereka boleh tidak berpuasa dan memberi makan setiap hari satu orang miskin dan mereka tidak perlu mengganti satu puasa pun.” [Atsar shahih isnad riwayat At-Thabari (2758) dengan sanad shahih berdasar syarat Muslim. Lihat Al-irwa’ (4/19)]

  1. Wanita yang sedang haid dan nifas

Di antara kelompok orang yang diberi keringanan oleh Allah Ta’ala untuk tidak berpuasa sebagai bentuk kelembutan dari Allah kepada mereka dan perhatian terhadap keadaan kesehatan dan kejiwaan mereka, adalah orang-orang yang sedang haidh dan nifas.

Para ulama telah ijma’ atas wajibnya tidak berpuasa bagi wanita yang haidh dan nifas dan haram atas mereka melakukan puasa dan bahwa kedua golongan wanita tersebut bila berpuasa maka puasa tersebut tidak mencukupi dan tidak sah dari keduanya hingga mereka sudah suci.

Hal itu karena di antara syarat sahnya puasa adalah suci dari haidh dan nifas dan wajib atas mereka untuk menggantinya setelah Ramadhan berlalu. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ ,

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ، فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِينِهَا…

Bukankah jika wanita itu haidh maka dia tidak shalat dan tidak puasa. Maka itulah dua kekurangan dalam agama wanita…” [Hadits shahih]

Kemudian dalam riwayat dari Mu’adzah dia berkata,”Aku bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,” Mengapa orang yang haidh mengganti puasa namun tidak mengganti shalat?” Maka ‘Aisyah berkata,” Apakah kamu haruriyah (sebutan bagi orang-orang khawarij di masa itu)?” Aku menjawab,”Aku bukan orang haruriyah namun aku hendak bertanya.”

‘Aisyah berkata,”Kami juga mengalami haidh dan kami diperintahkan untuk mengganti puasa namun tidak diperintahkan untuk mengganti shalat.”

[Hadits shahih diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1/89), Muslim (1/182), Abu Dawud (262), An-Nasa’i (1/319) dan Ahmad (6/231-232)]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا.

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد.

Hukum Orang yang Meninggalkan puasa

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Tidak berpuasa di siang hari bulan Ramadhan merupakan salah satu dosa paling berat dan paling besar. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ

Aku bermimpi didatangi dua orang. Keduanya memegang pundakku lalu membawaku ke sebuah gunung yang terbuka. Keduanya berkata,” Mendakilah.” Aku menjawab, ”Aku tidak mampu.” Keduanya mengatakan, ”Kami akan membantu memudahkanmu.”

Maka aku pun mendaki. Waktu sampai di puncak gunung tersebut, tiba-tiba terdengar teriakan yang sangat keras. Aku bertanya, “Suara apa itu? Mereka menjawab, “Itu adalah suara penghuni neraka.”

Kemudian dia berangkat lagi bersamaku. Lantas aku dapati suatu kaum yang tubuhnya bergelantungan, mulutnya pecah dan mengeluarkan darah. Aku bertanya, ”Siapa mereka itu?” Dia berkata, “Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum dibolehkan (belum masuk waktu) berbuka puasa.”

[Al-Hakim dan adz-Dzahabi menshahihkan hadits ini. Al-Haitsami mengatakan para perawinya adalah perawi yang shahih dan al-Albani menshahihkannya di dalam shahih At-Targhib]

Siapa yang meninggalkan puasa Ramadhan, berarti dia telah meninggalkan salah satu Rukun Islam, dan melakukan salah satu dosa besar. Bahkan sebagian ulama salaf berpendapat telah kafir dan keluar dari Islam. Nauzubillah min dzalik.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

من أفطر عامداً بغير عذرٍ كان تفويته لها من الكبائر

”Siapa yang berbuka (tidak berpuasa) secara sengaja tanpa udzur maka hal itu termasuk dosa besar.”

Al-Hafizh Azd-Dzahabi rahimahullah berkata,

وعند المؤمنين مقرر: من ترك صوم رمضان بلا عذر بلا مرض ولا غرض فإنه شر من الزاني والمكَّاس ومدمن الخمر، بل يشكون في إسلامه، ويظنون به الزندقة والانحلال

”Bagi orang-orang mukmin ada sebuah ketetapan bahwa siapa yang meninggalkan puasa Ramadhan tanpa udzur, tanpa sakit dan tanpa tujuan (yang diperbolehkan), sesungguhnya dia lebih buruk dari pezina, pemungut pajak dan pecandu minuman keras. Bahkan orang-orang mukmin itu meragukan keislamannya dan menyangkanya sebagai orang zindiq dan telah lepas komitmennya pada agama.” [kitab Al-Kabair, hal. 64]

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kepada kita semuanya taufik dan hidayah-Nya sehingga kita mampu melaksanakan puasa Ramadhan dengan benar dan penuh kesungguhan hingga akhir hayat kita.

Untuk menutup khutbah ini, marilah kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍّ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي اْلأُمُوْرِ، وَنَسْأَلُكَ عَزِيْمَةَ الرُّشْدِ، وَنَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي اْلأُمُوْرِكُلَّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلآخِرَةِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Kumpulan Khutbah Jum’at Singkat
– Rahasia & Keutamaan Sedekah
– Amalan di Bulan Syawal

error: Content is protected !!