Khutbah Jumat: Cara Mencetak Anak Sholeh

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ،

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

أَمَّا بَعْدُ:

فإنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ.

Keutamaan Memiliki Anak Sholeh

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Setiap orang yang telah berkeluarga pasti memiliki harapan agar memiliki keturunan atau anak dari hasil pernikahannya. Bila sudah dikaruniai anak, sebuah keluarga Muslim tidak hanya merasa cukup dengan sekedar memiliki anak secara biologis yang menjadi penerus garis keturunannya.

Seorang Muslim yang baik pasti sangat menginginkan agar anaknya kelak menjadi anak yang sholeh, yang taat kepada Allah Ta’ala, Rasul-Nya ﷺ dan kedua orang tuanya, berakhlak mulia dan bermanfaat untuk dirinya sendiri, keluarganya, Islam dan kaum Muslimin.

Memiliki anak yang sholeh tidak hanya akan memberikan kebahagiaan di dunia ini semata, namun kebahagiaan itu akan terus berlanjut hingga seorang Muslim telah meninggal dunia. Dia tetap bisa mendapatkan hasil kerja kerasnya mendidik anak-anaknya agar menjadi pribadi muslim yang sholeh.

 Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,” Rasulullah ﷺ bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

”Bila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara, dari sedekah jariyah dan ilmu yang dimanfaatkan, dan anak sholeh yang berdoa untuknya.”[Hadits riwayat Muslim no. 1631]

Dalam hadits ini Rasulullah ﷺ telah menegaskan bahwa anak yang sholeh termasuk salah satu dari tiga perkara yang menyebabkan pahala tetap terus mengalir ke dalam catatan amalnya meskipun seseorang telah meninggal dunia.

Anak yang sholeh doanya lebih berpeluang untuk diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dibandingkan anak yang tidak sholeh apalagi fasik. Hal ini jelas sangat menguntungkan seorang Muslim bila anaknya yang sholeh tadi memohonkan ampunan dan rahmat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia berpeluang besar untuk mendapatkan rahmat dan ampunan tersebut.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,”Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِيْ الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ : يَا رَبِّ أَنىَّ لِيْ هَذِهِ ؟ فَيَقُوْلُ : بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sungguh, Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba yang sholeh di surga,” maka ia pun bertanya: “Wahai Rabbku, bagaimana ini bisa terjadi?” Allah menjawab: “Dengan istighfar anakmu bagi dirimu.” [Hadits riwayat Ahmad  no. 10202]

Lantas apa kriteria seorang anak itu bisa disebut sebagai anak yang sholeh? Pemahaman tentang kriteria anak sholeh itu perlu dimiliki agar setiap orang tua bisa mengarahkan pendidikan anaknya menuju terbentuknya pribadi anak yang sholeh.

Kriteria Anak sholeh

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Suatu kali Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baz rahimahullah ditanya oleh seseorang tentang apakah syarat-syarat anak yang sholeh yang akan diterima doanya? Maka beliau menjawab, ”Anak yang sholeh adalah anak yang istiqamah di atas agama Allah. Dialah anak yang sholeh.

Anak yang istiqamah dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi hal-hal yang diharamkan. Dia adalah seorang mukmin yang bertakwa. Inilah anak yang sholeh itu. Doanya diharapkan terkabul apabila berdoa untuk kedua orang tuanya atau untuk selain keduanya.

Berbeda dengan anak yang fasik. Sesungguhnya kefasikannya terkadang menghalangi terkabulnya doa. Orang fasik adalah orang yang terus menerus melakukan maksiat seperti zina, minum khamer, durhaka kepada kedua orang tua atau memakan riba atau yang serupa dengannya.

Jadi anak yang sholeh adalah orang mukmin yang bertakwa kepada Allah yang melaksanakan fardhu-fardhu dari Allah dan menjauhi hal-hal yang diharamkan oleh Allah.” [website resmi Syaikh bin Baz; https://binbaz.org.sa]

Di dalam website fatwa yang cukup populer di kalangan para penuntut ilmu, yaitu Markazul Fatwa yang berada di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-Faqih Asy-Syinqithy disebutkan bahwa seorang Muslim yang melaksanakan berbagai fardhu dan menjauhi dosa-dosa besar dianggap sebagai anak sholeh yang pahala doanya akan sampai kepada orang tuanya.

Faidah dari pembatasan sifat sholeh pada seorang anak meskipun doa selain anak yang sholeh juga bisa memberi manfaat kepada orang yang meninggal, adalah memotivasi sang anak agar melakukan berbagai keshalehan dan agar mendoakan kedua orang tuanya.

Ada juga ulama yang berpendapat bahwa setiap amal sholeh yang dilakukan oleh seorang anak, pahalanya akan sampai kepada orang tuanya meskipun sang anak tersebut tidak berdoa untuknya.

Hal ini sebagaimana jika seseorang yang meninggal telah meninggalkan sedekah jariyah, pahalanya akan terus mengalir kepadanya meskipun orang yang memanfaatkan atau mendapat faedah dari sedekah jariyah tersebut tidak berdoa untuknya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Syarh Ibni Majah karya As-Suyuthi dan Ad-Dahlawi.

Sedangkan yang dimaksud dengan doa adalah memohon kepada Allah Ta’ala rahmat dan ampunan untuk kedua orang tuanya dan agar melindungi keduanya dari siksa api neraka dan doa yang semisal dengannya. Hal ini sebagaimana firman Allah,

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. [Al-Isra’: 24]

Baca juga Khutbah Jum’at: Kedudukan Ibu Dalam Islam

Cara Mencetak Anak sholeh

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Setelah kriteria anak shalih telah jelas bagi kita, lantas langkah apa saja yang harus dilakukan seseorang agar bisa memiliki anak yang shalih?

Syaikh Wahid Abdussalam Bali memberikan penjelasan secara garis besar bahwa untuk menghasilkan anak yang shalih itu ada sejumlah langkah yang perlu dilakukan:

  1. Saat hendak menikah agar mencari calon ibu yang shalihah untuk anaknya kelak. Hal ini karena ibu merupakan sekolah pertama bagi anak. Bila seorang ibu adalah wanita yang shalihah maka dia akan mengasuhnya anaknya agar shalih dan bertakwa.
  1. Setelah menikah, hendaknya melazimi dzikir dan doa yang terkait dengan pernikahan atau hubungan suami istri.

Misalnya adalah doa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ saat seseorang menikah atau membeli pembantu sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Abu Daud dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash, dia berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda;

إذا تزوج أحدكم امرأة أو اشترى خادما فليأخذ بناصيتها وليسم الله عز وجل وليدع بالبركة وليقل; اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

Apabila kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang pembantu maka peganglah ubun-ubunnya, sebutlah nama Allah, dan berdoalah dengan memohon keberkahan, serta ucapkanlah

“Allahumma inni as-aluka khoiroha wa khoiro maa jabaltaha ‘alaihi wa a’udzu bika min syarriha wa min syarrima jabaltaha ‘alaih.

Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang Engkau jadikan padanya. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang Engkau jadikan padanya.”

Kemudian setiap berhubungan suami istri hendaknya membaca doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ dalam hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi ﷺ bersabda, ”Jika salah seorang dari kalian (suami) ingin menggauli istrinya, dan dia membaca doa:

بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami.”

Jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya.” [Hadits riwayat Al- Bukhari 141 dan Muslim 1434]

  1. Setelah anak lahir hendaknya melakukan sunnah-sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ terkait bayi yang baru dilahirkan. Melaksanakan sunnah Nabi ﷺ akan memberikan banyak manfaat dan barokah baik kepada sang anak maupun orang tuanya. Sunnah-sunnah tersebut adalah:
  • Membacakan adzan di telinga anak yang baru saja dilahirkan. Hal ini sebagaimana dalam hadits Abu Raf’i radhiyallahu ‘anhu yang berkata,”Aku melihat Nabi ﷺ membaca adzan di telinga Al-Hasan bin Ali ketika Fathimah radhiyallahu ‘anha melahirkannya dengan adzab shalat.”

[Hadits riwayat At-Tirmidzi dan dia berkata,”Hasan shahih,” Al-Albani menshahihkannya dengan penguat-penguat hadits tersebut di dalam Al-irwa’ hal.159]

  • Mentahnik bayi tersebut dengan kurma kering (tamar). Kalau tidak ada tamar dengan memakai ruthab atau kurba basah. Dan bila juga tidak ada, maka dengan makanan yang manis. Hal ini sebagaimana dalam hadits Dari Abu Musa, beliau berkata,

وُلِدَ لِى غُلاَمٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَة

“Aku dikaruniai dengan lahirnya seorang anak laki-laki, lalu aku membawanya ke hadapan Nabi , maka beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya dengan sebuah kurma kering (tamar).”[Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim]

  • Memberikan nama yang baik untuk sang bayi. Hal ini dalam rangka melaksanakan tuntunan Nabi ﷺ sebagaimana dalam hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,”Rasulullah ﷺ bersabda,’Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian.” [Hadits riwayat Abu Dawud dengan sanad hasan]
  • Menyembelih akikah untuk anak yang telah dilahirkan dengan selamat sebagai bentuk bersyukur kepada Allah Ta’ala dan menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ.
  1. Setelah usia anak beranjak semakin besar, maka diberikan Tarbiyah Islamiyah yang lengkap meliputi seluruh aspek yang dibutuhkan untuk menghasilkan pribadi muslim yang shalih dan shalihah.

Tarbiyah Islamiyah semacam ini harus mencakup pokok-pokok pendidkan dalam Islam yaitu:

  • Pendidikan iman.

Yang dimaksud dengan pendidikan iman adalah membuat anak terikat dengan pokok-pokok iman semenjak dia mulai berakal, membiasakannya dengan rukun Islam semenjak dia paham dan mengajarkan kepadanya prinsip-prinsip syariat yang agung ini semenjak usia tamyiz yaitu sekitar tujuh tahun.

  • Pendidikan akhlak.

Maksudnya adalah kumpulan prinsip-prinsip akhlak dan perilaku utama yang setiap anak wajib untuk mempelajarinya dan mendapatkannya dan membiasakannya semenjak dia berusia tamyis dan berakal hingga dia mencapai usia mukallaf dan terus berlanjut secara bertahap hingga menjadi seorang pemuda yang menerjuni kehidupan ini.

  • Pendidikan pemikiran atau intelektualitas.

Maksudnya adalah mendidik anak-anak agar mampu membedakan yang baik dan buruk, yang hak dan batil, antara pemikiran yang merusak dan membangun karena anak-anak sekarang hidup pada masa di mana banyak tersebar berbagai pemkiran yang begitu beragam dan bercampur aduk.

  • Pendidikan jasmani

Tubuh merupakan kendaraan yang membawa ruh dalam perjalanan menuju Allah. Untuk itu tubuh harus mendapatkan perlakuan dan perawatan yang sebaik-baiknya agar tetap sehat dan kuat untuk memikul beban menjalankan ibadah kepada Allah dalam hidup ini.

Untuk itu perlu ada pelatihan olahraga yang memadai untuk anak-anak agar tubuhnya sehat dan kuat serta penuh semangat. Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata,”Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah dan berkuda.” Hal ini menunjukkan besarnya kepedulian Umar radhiyallahu ‘anhu terhadap pembangunan fisik dan mental anak-anak kaum Muslimin.

  1. Terus menerus berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Allah Ta’ala memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada anak-anaknya dan memasukkan mereka ke dalam hamba-hamba-Nya yang shalih.

Sesungguhnya doa merupakan salah satu sebab terkuat tercapainya suatu maslahat dan terhindarnya suatu madharat sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah.

Pengaruh Keshalihan Orang Tua Untuk Anak

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Upaya untuk mencetak anak shalih tidak bisa hanya disandarkan kepada upaya-upaya yang bersifat material – lahiriah semata yang bisa dengan jelas dilihat hubungan sebab akibat yang ada di dalamnya.

Dalam Islam ada hal-hal yang bersifat non teknis kependidikan yang terkadang berpengaruh besar dalam upaya mencetak anak yang shalih. Perkara-perkara yang bersifat non teknis tersebut menurut Dr. Abdul Haq Humaisy adalah doa, mata pencaharian yang halal, sifat amanah, taat kepada orang tua dan seterusnya.

Coba kita cermati firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Kahfi: 82

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu…”

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya tentang ayat ini, ”Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa orang yang shalih itu keturunannya akan terpelihara. Dan barokah ibadahnya terhadap mereka mencakup di dunia dan akhirat dengan syafaat dirinya terhadap keturunannya tersebut dan ditinggikannya derajat mereka ke derajat yang lebih tinggi di surga untuk menyejukkan pandangan matanya.”

Dr. Abdul Haq Humaisy menerangkan lebih lanjut, ”Sesungguhnya pengisolasian perilaku kita yang salah, akhlak kita yang buruk dan dosa-dosa serta maksiat kita, sekalipun dosa yang tak terlihat, dari pendidikan anak-anak kita dan tidak merasa adanya pengaruh perilaku-perilaku tersebut dalam keshalihan anak-anak kita, merupakan sebuah bentuk kekurangan dalam konsep pendidikan yang integral.

Terkadang kita benar-benar terhalang dari mendapatkan anak-anak yang shalih dengan sebab dosa-dosa tersembunyi yang terus menerus kita lakukan, atau mata pencaharian haram yang terus menerus kita kerjakan atau kedurhakaan kepada orang tua atau dosa-dosa yang lain.

Salah seorang Tabi’in berkata, ”Sesungguhnya aku benar-benar melakukan sebuah dosa. Maka aku melihat pengaruh dosa tersebut pada anakku.”

Sesungguhnya keshalihan anak dan bagusnya pendidikan mereka tidak terlahir dari keistimewaan dalam bimbingan dan pengajaran semata atau keistimewaan dalam pemilihan sekolah atau lembaga pendidikan yang sesuai, atau kerja keras dan harta saja.

Di sana terdapat sebab-sebab yang bersifat peribadahan yang agung yang dilakukan oleh sang orang tua itu sendiri. Yang paling penting adalah rasa takut kepada Allah, perasaan senantiasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, amal shalih yang tersembunyi, berbakti kepada orang tua atau qiyamullail (menghidupkan malam hari dengan ibadah).”

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا.

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد.

Menjadi Anak Shalih Untuk Orang Tua Kita

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bila ternyata keshalihan orang tua memiliki pengaruh yang cukup besar dalam proses mencetak anak-anak menjadi pribadi yang shalih, maka kita sebagai orang tua semestinya melakukan berbagai upaya agar bisa menjadi orang yang shalih di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalih asli bukan polesan.

Pada intinya langkahnya adalah dengan senantiasa menjaga apa saja yang Allah perintahkan dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh Allah.

Secara terinci langkah – langkah untuk menjadi orang yang shalih menurut Dr. Abdulah Al-Faqih Asy-Syinqithy adalah:

  1. Beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, Hari akhir dan takdir yang baik dan yang buruk.
  2. Menegakkan shalat wajib.
  3. Menunaikan zakat bila termasuk orang yang wajib membayar zakat.
  4. Berpuasa pada bulan Ramadhan selama memiliki kemampuan.
  5. Berhaji ke Baitullah al-Haram jika memiliki kemampuan untuk pergi ke sana.
  6. Melaksanakan kewajiban-kewajiban lainnya yang diperintahkan oleh Allah.
  7. Memperbanyak melaksanakan malan-amalan sunnah yang dilaksanakan dengan anggota badan maupun dengan harta.
  8. Mengikuti petunjuk Nabi Muhammad ﷺ.
  9. Berteman dengan orang-orang yang suka berbuat baik.
  10. Menjauhi segala yang dilarang oleh Allah.
  11. Waspada dari mengikuti hawa nafsu dan mentaati setan.
  12. Menjauhi teman-teman yang buruk.

Rasulullah ﷺ telah meringkas semua ini ketika Sufyan bin Abdullah Ats- Tsaqafi bertanya kepadanya, dia berkata, ”Wahai Rasulullah! Beritahulah saya satu perkataan dalam Islam ini yang aku tidak akan menanyakannya lagi kepada seorang pun setelah anda.” Rasulullah ﷺ bersabda, ”Katakanlah: Aku beriman kepada Allah kemudian bersikaplah istiqamah.”

[Hadits riwayat Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ad-Darimi]

Ada sebuah ungkapan menarik dari seorang tokoh besar ulama Tabi’in yang memberikan gambaran praktis kepada kita bagaimana dia mengaitkan keshalihan anak dengan keshalihan orang tua. Sa’id bin Musayyib berkata, ”Sesungguhnya aku benar-benar hendak melaksanakan shalat kemudian aku teringat anakku, maka aku menambah jumah shalatku..”

Yang dimaksud oleh Sa’id bin Musayyib adalah dia ingin dengan memperbanyak shalat dia akan sampai pada derajat orang-orang shalih sehingga dia bisa mendapatkan keshalehan anak-anaknya di masa datang dengan keshalehannya tersebut.

Oleh karena itu, hendaklah para orang tua itu bertakwa kepada Allah, memperbaiki kualitas kehalalan makanan, minuman dan pakaiannya sehingga saat berdoa kepada Allah agar dikarunia anak yang shaleh maka doanya tidak akan ditolak.

Allah akan memperbaiki dan memberkahi anak-anaknya karena doa dan keshalihan para orang tuanya. Semoga khutbah ini bermanfaat. Bila ada kebenaran dalam khutbah ini maka itu merupakan rahmat Allah semata.

Dan bila ada kesalahan dan penyimpangan maka itu dari kami dan dari setan. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kami dan seluruh kaum muslimin. Marilah kita akhiri khutbah Jumat ini dengan berdoa kepada Allah Subhanahu waTa’ala

اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Download Khutbah Jum’at
– Pentingnya Menyambung Silaturahmi

error: Content is protected !!