Khutbah Jum’at: Pengertian Istiqomah dan Cara Meraihnya

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

فإنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ

Istiqomah di dalam Al-Quran-Al-Karim

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada Rasulullah ﷺ dan seluruh orang-orang beriman agar bersikap istiqomah dalam firman-Nya:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. [Hud: 112]

Saat menjelaskan ayat ini, Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi mengatakan,

Makna firman Allah : (فَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ) oleh karena itu, kamu dan orang-orang beriman yang bersamamu hendaklah bersikap istiqomah seperti yang telah diperintahkan oleh Rabb-mu dalam kitab-Nya, beraqidahlah dengan dengan keyakinan yang benar, lakukanlah amal-amal yang shalih, tinggalkan kebatilan, jauhilah amal-amal yang buruk. Bila demikian yang kamu lakukan maka balasan untuk kalian adalah balasan yang baik pada hari kiamat.

Firman-Nya : (وَلَا تَطۡغَوۡاْۚ) janganlah kalian melampaui batas yang telah ditetapkan baik dalam masalah aqidah, perkataan, maupun perbuatan.

Firman-Nya : (إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ) “Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.”, peringatan dari perbuatan melampaui batas, serta ancaman bagi orang-orang yang menyimpang dari jalan yang lurus.

Pelajaran dari ayat tersebut adalah

  • Wajib bersikap istiqomah di atas agama Allah dalam hal aqidah, ibadah, hukum, dan adab.
  • Haram bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) dan melampaui batas yang Allah tetapkan dalam syariat-Nya.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat yang lain yang memerintahkan istiqomah,

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ فَٱسْتَقِيمُوٓا۟ إِلَيْهِ وَٱسْتَغْفِرُوهُ ۗ وَوَيْلٌ لِّلْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya.” [Fushilat: 6]

Saat menerangkan ayat tersebut Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah mengatakan,”Ayat tersebut menunjukkan bahwa pasti akan ada kekurangan di dalam istiqomah yang diperintahkan di dalam ayat tersebut, lalu ia diharuskan untuk beristighfar yang merupakan konsekuensi dari taubat lalu kembali lagi istiqomah.”

Dari sini bisa diketahui bahwa pada hakikatnya seorang muslim itu tidak akan mampu bersikap istiqomah secara penuh atau 100 persen dalam seluruh jenis ketaatan. Selalu ada kekurangan dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh hadits al-Hakam bin Hazn al-Kulafi bahwa Nabi ﷺ bersabda :

”Wahai manusia, sesungguhnya kalian tidak mampu mengamalkan semua yang aku perintahkan kepada kalian, namun berlaku luruslah dan berilah kabar gembira.” [Hadits riwayat Abu Dawud (1096) dan Ahmad (17856). Dinilai hasan oleh al-Albani dalam Irwaul Ghalil (616)]

Oleh karena kita disunnahkan untuk senantiasa beristighfar dan bertaubat kepada Allah setiap hari sebanyak 70 hingga 100 kali sehari sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.

Bila perlu mungkin diperbanyak dari jumlah tersebut mengingat beliau adalah orang yang makshum terjaga dari dosa saja seperti itu teguhnya, apalagi kita yang memang selalu melakukan dosa. Jadiperlu lebih banyak lagi.

Istiqamah di dalam As-Sunnah An Nabawiah

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,

Di dalam as Sunnah an Nabawiah juga terdapat perintah kepada kaum Muslimin untuk bersikap istiqomah. Hal ini sebagaimana dalam hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu, di berkata,” Rasulullah ﷺ bersabda,

اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمْ الصَّلَاةَ وَلَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ

Beristiqomahlah kalian, dan sekali-kali kalian tidak akan dapat menghitungnya. Dan beramallah, sesungguhnya amalan kalian yang paling utama adalah shalat, dan tidak ada yang menjaga wudlu kecuali orang mukmin.” [Hadits riwayat Ahmad (5/276) dan Ibnu Majah (277) dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah no. 226]

Syaikh Abdul Qadir As-Saqqaf menjelaskan bahwa maksud dari sabda Nabi ﷺ اسْتَقِيمُوا adalah perintah untuk bersikap istiqomah di atas jalan yang lurus, jalan petunjuk yaitu tegak di atas kalimat tauhid Laa ilaaha illallah dengan memenuhi hak Allah, melaksanakan perintah-Nya dan berhenti dari apa yang Allah larang serta ridha terhadap apa saja yang berasal dari Allah.

Sedang yang dimaksud dengan Nabi ﷺ وَلَنْ تُحْصُوا (dan sekali-kali kalian tidak akan dapat menghitungnya) adalah kalian tidak akan sanggup untuk menghitung dan menyempurnakan setiap bentuk kebaikan dan ketaatan dengan daya dan kekuatan kalian dan tidak pula dengan kesungguhan dan kemampuan kalian.

Bahkan kalian tidak akan akan mampu melakukannya dan memang sudah sepantasnya kalian tidak akan mampu menanggungnya meskipun kalian mencurahkan segala kesungguhan kalian.

Hal ini menuntut istiqomah harus diiringi dengan isti’anah atau memohon pertolongan kepada Allah, bersangka baik kepada-Nya dan takut kepada-Nya. Dalam hadits ini terdapat pelajaran:

  1. Agar bersikap istiqomah di atas jalan yang lurus dengan memohon pertolongan kepada Allah.
  2. Memelihara wudhu merupakan ciri khas orang mukmin.
  3. Memelihara shalat merupakan amal yang paling utama serta menjadi tanda sikap istiqomah.

Hadits lainnya yang memerintahkan kaum muslimin untuk bersikap istiqomah adalah

عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu ‘Amr bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata,”Wahai Rasulullah! Katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, ”Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah.” [Hadits riwayat Muslim, no. 37]

Pertanyaan yang diajukan oleh Sufyan bin Abdillah radhiallahu ‘anhu adalah pertanyaan yang sangat penting dengan susunan kalimat tanya yang sederhana dan ringkas. Ini termasuk tanda kecerdasan Sufyan bin Abdillah dalam mengajukan sebuah pertanyaan. Siapa yang memiliki kemampuan bertanya yang bagus maka akan terbuka baginya pemahaman terhadap berbagai masalah agama ini.

Jawaban Nabi ﷺ juga menunjukkan kapasitas Nabi ﷺ yang begitu piawai dalam memberikan penjelasan yang ringkas, jelas dan mengandung makna yang luas dan mendalam. Kemampuan ini disebut dengan jawami’ul kalim. Allah Ta’ala memberi keitimewaan kepada Nabi ﷺ dengan kemampuan menyampaikan ilmu yang sangat hebat semacam ini.

Iman dan istiqomah merupakan dua persoalan mendasar dan sangat agung. Dua hal itu mengumpulkan seluruh kebaikan. Kebaikan hamba, petunjuknya, dan taufiknya di dunia dan akhirat merujuk kepada dua hal tersebut. Iman dan amal shaleh membuahkan berbagai kebaikan, kemenangan dan keberuntungan di akhirat.

Pengertian istiqomah

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bila istiqomah itu perkara agung yang diperintahkan kepada Rasulullah ﷺ dan seluruh umatnya lantas apakah yang dimaksud dengan istiqomah itu? Para ulama sejak dari zaman sahabat sudah beragam pendapatnya tentang pengertian istiqomah.

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa istiqomah adalah tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun.

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa istiqomah itu berdiri tegak di atas persaksian Laa ilaaha illallah ( tiada sesembahan yang benar untuk disembah kecuali Allah). dalam riwayat yang lain beliau juga berkata bahwa istiqomah berarti orang yang terus menerus menjalankan kewajiban dari Allah. Kemudian mengikhlaskan agama dan amalnya untuk Allah Ta’ala.

Imam Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah dalam kitabnya Jami’ul Ulum wal Hikam mendefinisikan istiqomah dengan menyatakan bahwa istiqomah adalah melewati shiratal mustaqim (jalan yang lurus) yaitu agama Islam yang lurus ini tanpa menyimpang dari jalan tersebut baik ke kanan atau ke kiri.

Hal ini meliputi melakukan seluruh ketaatan baik yang nampak maupun yang tersembunyi dan meninggalkan seluruh hal yang dilarang. Dengan demikian istiqomah ini mencakup seluruh bagian dari agama ini secara keseluruhan.” [halaman 385]

Urgensi istiqomah

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bila demikian pengertian dari istiqomah, lantas apakah urgensinya sehingga posisi istiqomah sedemikian sentralnya dalam agama ini. Ia menempati level kedua setelah iman. Ini menunjukkan bahwa istiqomah memang posisinya urgen dalam agama ini.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata di dalam kitabnya Madarijus Salikin bahwa posisi istiqomah bagi keadaan seseorang itu seperti posisi ruh bagi badan. Sebagaimana badan jika tidak ada ruhnya berarti ia adalah mayit maka demikian pula dengan keadaan seseorang tanpa istqamah berarti dia rusak.

Jadi istiqomah itu merupakan batu pondasi bagi agama ini. Seluruh amal shalih tanpa ada istiqomah tidak akan meningkatkan kita untuk bisa memetik buah dari agama ini. Sesungguhnya persoalan istiqomah dan kaitannya dengan agama ini merupakan persoalan yang sangat serius.

Selama kita tidak bertekad untuk berhubungan dengan Allah Ta’ala dengan jalan istiqomah di atas perintah-Nya maka kita tidak akan pernah bisa memetik buah dari agama ini sedikit pun.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” [ Al-Ahqaf: 13]

Cara Meraih istiqomah

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,

Bila sedemikian urgen istiqomah bagi kita dalam meniti jalan yang lurus ini, lantas, bagaimana cara kita agar bisa meraih istiqomah di jalan kebenaran? Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid, sarana-sarana yang bisa dilakukan seorang muslim agar bisa istiqomah di atas jalan yang lurus adalah:

1. Berpegang teguh dengan al-quran.

Ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” [al-Furqan: 32]

2. Berpegang teguh kepada syariat allah dan beramal shaleh

Ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ ۖ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا

Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” [An-Nisa’: 66]

3. Merenungi kisah-kisah para nabi dan mengkajinya untuk diikuti dan diamalkan.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” [Hud: 120]

4. Berdoa

Di antara sifat hamba-hamba Allah yang beriman adalah mereka menghadap kepada Allah dengan berdoa memohon agar meneguhkan hati mereka:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. [Ali Imran: 8]

وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”. [Al-Baqarah: 250]

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ;anhu secara marfu’ bahwa Rasulullah memperbanyak berdoa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

Wahai (Dzat) yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku atas agama-Mu” [Tuhfatul Ahwadzi, 6/349, dan dalam Shahih Al Jami’ (4864)]

5. Dzikrullah

Ini merupakan sarana paling besar untuk meraih keteguhan di atas agama Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. [Al-Anfal: 45]

Dalam ayat ini disebutkan bahwa dzikrullah merupakan salah satu sarana agar tetap teguh di jalan jihad dan menang melawan musuh.

6. Bersama dengan orang-orang yang bisa meneguhkan hati di atas kebenaran

Ada golongan manusia yang memiliki keistimewaan berupa bisa membuat orang lain tetap teguh di atas agamanya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi ﷺ,

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu , dia berkata,”Rasulullah ﷺ bersabda,’Sesungguhnya di antara manusia itu ada yang menjadi pembuka bagi kebaikan dan penutup bagi keburukan…” [Hadits riwayat Ibnu Majah (237). Al-Albani rahimahullah menyatakannya sebagai hadits hasan di dalam Shahih Sunan Ibnu Majah (194)]

Mencari para ulama, orang-orang shalih, para dai dan orang-orang mukmin serta senantiasa bersama mereka, merupakan sarana yang sangat membantu untuk bersikap teguh di atas al haq. Dalam sejarah Islam sudah terjadi banyak fitnah kemudian Allah meneguhkan kaum Muslimin dengan sejumlah tokoh mereka.

Di antara contohnya adalah sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Al-Madini rahimahullah (salah satu ulama terkemuka di bidang ilmu hadits) Allah memuliakan agama ini dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu saat terjadi kemurtadan massal di masa kepemimpinannya dan juga melalui Imam Ahmad pada saat terjadi fitnah (al-Quran diyakini sebagai makhluk Allah).”

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan peran Syaikhnya yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam meneguhkan hati,”Dahulu, bila kami sudah dicekam rasa takut, prasangka kami menjadi buruk, bumi ini terasa sempit bagi kami, kami mendatangi beliau.

Begitu kami melihatnya, lalu mendengar nasehat-nasehatnya maka semua hal itu sirna seketika dari diri kami. Keadaan berbalik menjadi lapang dada, kuat, yakin dan tenang.

Maha Suci Allah yang telah mempersaksikan Surga-Nya kepada hamba-hamba-Nya sebelum berjumpa dengan-Nya dan membuka untuk mereka pintu-pintu surga di dunia ini, dan mendatangkan kepada mereka ruh surga, anginnya yang lembut dan keharumannya.

Hal itu menjadikan para hamba mencurahkan seluruh kekuatannya untuk mencari surga dan berlomba menuju ke surga.” [Al Wabil Ash-Shayyib hal. 97]

Buah istiqomah

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bila seorang muslim berhasil bersikap istiqomah sepanjang hayatnya di dunia ini, maka dia pasti akan meraih apa yang telah Allah Janjikan bagi orang – orang yang istiqomah di jalan-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.

Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. [Al-Ahqaf: 13-14]

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. [Fushilat: 30-31]

Berdasarkan tafsir dari kedua ayat di atas bisa disimpulkan bahwa buah yang akan didapat oleh orang-orang mukmin yang istiqomah hingga akhir hayatnya adalah:

  1. Mereka dilindungi dari kegoncangan dan kengerian Hari Kiamat.
  2. Mereka juga tidak bersedih atas apa yang mereka tinggalkan di belakang mereka bagian dunia yang tidak mereka raih.
  3. Malaikat akan turun kepada mereka saat mereka sedang menghadapi kematian dan menguatkan mereka agar tidak takut dengan kematian dan jangan bersedih atas dunia yang mereka tinggalkan.
  4. Malaikat memberi kabar gembira dengan surga kepada mereka.
  5. Para malaikat menjadi penolong mereka di dunia dan akhirat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

الحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَ اْلشُكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَ امْتِنَانِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ.

Istiqomah adalah Karamah paling agung

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Perlu diketahui bahwa karamah terbesar yang diraih oleh seorang mukmin di dunia ini adalah bila dikaruniai kemampuan untuk terus menerus bersikap istiqomah hingga akhir hayatnya. Karamah terbesar seorang mukmin bukan dengan mendapatkan hal-hal yang luar biasa seperti bisa berjalan di atas air, tidak mempan dibakar dan sebagainya.

Syaikhu Islam berkata,

“فَأَعْظَمُ اْلكَرَامَةِ: لُزُوْمُ اْلاِسْتِقَامَةِ”

”Karomah terbesar adalah terus menerus bersikap istiqomah.” [madarijus salikin, Ibnu Qayyim, 2/106]

Syaikh Abu Ali Al- Jurjani rahimahullah berkata,

كُنْ طَالِبًا لِلْاِسْتِقَامَةِ لَا طَالِبًا لِلْكَرَامَةِ فَإِنَّ نَفْسَكَ مُنْجَبَلَةٌ عَلَى طَلَبِ اْلكَرَامَةِ وَ رَبُّكَ يَطْلُبُ مِنْكَ اْلاِسْتِقَامَةَ”

”Hendaklah kamu menjadi orang yang mencari istiqomah bukan pencari karomah. Sesungguhnya jiwamu tergerak untuk mencari karomah sementara Tuhanmu menuntut dari sikap istiqomah.” [Majmu’ Al Fatawa 11/320]

Semoga Allah Ta’ala berkenan mengaruniakan kepada kita semuanya sikap istiqomah di atas agama Islam dengan senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya hingga akhir hayat kita.

Mari kita akhiri khutbah Jumat ini dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Download Khutbah Jum’at Lengkap
– Karakter Ideal Seorang Khatib
Keutamaan Hijrah Dalam Islam
Menjaga Semangat di Bulan Syawal

error: Content is protected !!