Khutbah Jum’at: Kedudukan Ibu Dalam Islam

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

فإنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ

Kedudukan Ibu dalam Islam

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Dalam kesempatan khutbah kali ini, khatib hendak mengulas tentang betapa tinggi, mulia dan bermartabatnya kedudukan ibu dalam ajaran Islam. Sejarah tidak mengenal agama atau sistem kehidupan yang menghormati perempuan sebagai ibu dan menempatkannya dalam posisi yang sedemikian tinggi sebagaimana Islam.

Tingginya kedudukan Ibu dalam Islam bisa dilihat dari hal-hal berikut:

  1. Islam telah menegaskan wasiat tentang ibu, dan menjadikan wasiat tentang ibu itu mengiringi wasiat untuk mentauhidkan Allah dan beribadah kepada-Nya. Padahal mentauhidkan Allah dan beribadah hanya keapda-Nya adalah tujuan utama diciptakannya jin dan manusia di dunia ini.

Ini berarti kedudukan berbakti kepada orang tua berada pada level kedua urgensinya di dalam ajaran Islam setelah tuntunan untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

  1. Islam menjadikan berbakti kepada ibu sebagai salah satu prinsip kebajikan yang sangat utama. berbakti kepada kedua orang tua, terutama ibu, merupakan salah satu amal yang paling agung dan utama untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
  1. Islam memposisikan hak seorang ibu lebih kuat daripada hak ayah karena kesulitan yang dia alami selama kehamilan, persalinan, menyusui dan pengasuhan.

Inilah yang Al-Qur’an nyatakan dan diulangi dalam lebih dari satu surat, untuk mengukuhkannya dalam benak dan jiwa anak-anak.

Penyebutan Ibu Dalam Al Qur’an

Ayat-ayat yang menegaskan ketinggian kedudukan seorang ibu dalam Islam adalah sebagai berikut:

  1. Surat Lukman: 14-15

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

  1. Al-Ahqaf: 15

Allah berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

  1. Al-Isra’: 23

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Baca juga Khutbah Jum’at: Keutamaan Birrul Walidain

Keutamaan Ibu Dalam Hadits

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Rasulullah ﷺ memberikan perhatian besar tentang persoalan tingginya posisi seorang ibu dalam ajaran Islam. Banyak hadits yang menjelaskan tentang bagaimana seharusnya sikap anak terhadap orang tua terutama ibunya karena ibu memiliki keutamaan lebih dibanding ayah.

Di antara hadits -hadits tersebut di antaranya:

  1. Hadits Abu Hurairah radhiallahu’ahu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk saya perlakukan dengan baik?’ Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Ibumu!’

Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa?’ Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Ibumu!’

Orang tersebut bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Ibumu.’

Orang tersebut bertanya lagi, ‘setelah itu siapa lagi?,’ Rasulullah ﷺ menjawab, ‘ayahmu.’” [Hadits riwayat Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548]

  1. Hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha

قالَ الحافظُ ابنُ حجرٍ رحمَه اللهُ تَعالى:” جاءَ ما يَدُلُ على تَقدِيمِ الأمِ في البرِ مُطلقاً، وهوَ ما أَخرَجه الإمامُ أحمدُ والنسائيُ؛ وصححَّه الحاكمُ من حديثِ عائشةَ رضي اللهُ عنَها أنها سألتِ النبيَ صلى اللهُ عليهِ وسلمَ أيُّ الناسِ أعظمُ حقاً على المرأةِ؟ قال: زوجُها، قالتْ: فقلتُ على الرجلِ؟ قالَ: أُمه.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, ”Terdapat hadits yang menunjukkan didahulukannya ibu dalam masalah kebaktian secara mutlak. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan An-Nasa’i dan dishahihkan oelh Al-Hakim dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa beliau bertanya kepada Nabi ﷺ ,

أيُّ الناسِ أعظمُ حقاً على المرأةِ؟ قال: زوجُها، قالتْ: فقلتُ على الرجلِ؟ قالَ: أُمه

“Siapakah orang yang paling besar haknya atas seorang wanita? Nabi ﷺ menjawab, ”Suaminya.” ‘Aisyah berkata, ”Aku bertanya lagi, bila atas laki-laki?” Nabi ﷺ menjawab, ”Ibunya.”

  1. Hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu

Imam Al Bukhari meriwayatkan di dalam kitab Al Adab Al Mufrad dari Abu Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari, bahwa dia melihat Abdullah bin Umar dan seorang pria dari Yaman sedang Thawaf di Ka’bah. Pria tersebut berthawaf sambil menggendong ibunya. Pria tersebut berkata,

إِنِّي لَهَا بَعِيرُهَا الْمُذَلَّلُ

إِنْ أُذْعِرَتْ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرِ

ثُمَّ قَالَ: يَا ابْنَ عُمَرَ، أَتَرَانِي جَزَيْتُهَا؟

Sungguh aku adalah unta tunggangannya yang jinak

Bila hewan tunggangannya yang lain kabur maka aku tidak akan kabur

Setelah itu orang Yaman itu bertanya kepada Ibnu Umar, ”Wahai Ibnu Umar, apakah menurutmu aku sudah membalasnya?” Ibnu Umar menjawab,

لَا، وَلَا بِزَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ

”Tidak, meskipun satu hembusan nafas panjangnya saat sedang melahirkan.” [Al-Adab Al Mufrad 1/18]

  1. Atsar Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma

Diriwayatkan dari ‘Atha` bin Yasar (bekas budak Maimunah, seorang tokoh ulama Tabi’in terpercaya), dari Ibnu ‘Abbas, bahwa seorang pria mendatangi Ibnu Abbas lalu berkata, ”Sesungguhnya saya telah melamar seorang wanita, namun dia menolak untuk menikah denganku.

Lalu pria lain meminangnya dan ia senang untuk menikah dengannya. Saya pun merasa cemburu kepada wanita tersebut sehingga saya membunuh wanita itu. Apakah ada taubat untukku?”

Ibnu Abbas bertanya, “Apakah ibumu masih hidup?”

“Tidak,” jawab pria tersebut.

“Bertaubatlah kepada Allah ‘Azza wa jalla dan mendekatlah kepada-Nya semaksimal kemampuanmu.”

‘Atha` bin Yasar berkata, “Aku pergi lalu aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbas, ‘Mengapa engkau bertanya kepadanya tentang kehidupan ibunya?”

Ibnu ‘Abbas berkata, “Sungguh aku tidak mengetahui suatu amalan yang lebih mendekatkan kepada Allah ‘azza wa jalla dari berbakti kepada ibu.”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari Rahimahullah dalam Al-Adabul Mufrad dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-adab al-Mufrad (4) dan di dalam Ash-Shahihah no. 2799]

Baca juga Khutbah Jum’at: Kisah Uwais Al Qorni

Para Salaf Kepada Ibu

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,

As-salaf ash-shalih merupakan generasi terbaik dalam Islam. Generasi yang hidup di 3 abad pertama dalam Islam yaitu generasi sahabat, Tab’in dan Tabiut tabi’in. Dalam persoalan menghormati seorang ibu, kita akan mendapatkan contoh-contoh terbaik juga dari mereka.

Berikut ini kami berikan sedikit contoh riwayat sebagian ulama salaf dalam bersikap baik kepada ibunya.

  • Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

مامن مؤمن له أبوان فيصبح ويمسي وهو محسن إليهما إلا فتح الله له بابين من الجنة

”Tidak seorang mukmin pun yang berbuat baik kepada kedua orang tuanya di setiap hari yang berlalu kecuali Allah membuka untuknya dua pintu surga.’

  • Sebagian sahabat berkata,

ترك الدعاء للوالدين يضيق العيش على الولد.

”Meninggalkan berdoa untuk kedua orang tua akan menyebabkan kehidupan seorang anak menjadi sempit.”

  • Dari Abu Hazim (Salamah bin Dinar rahimahullah, tokoh ulama tabi’in) berkata, ”Abu Hurairah tidak pergi untuk berhaji sampai ibunya meninggal dunia (untuk menjaga ibunya yang sudah tua, pent). ” dan Al-Hasan Al-Bashri (ulama Tabi’in) ditanya tentang birrul walidain (berbakti kepada orang tua) maka dia menjawab,

أن تبذل لهما ماملكت , وتطيعهما مالم تكن معصية

”Kamu curahkan untuk mereka apa yang kamu miliki dan kamu taati mereka selama bukan maksiat.”

Atha’ bin Abi Rabah (ulama Tabi’in) ditanya oleh seseorang bahwa ada seorang lelaki yang ibunya telah bersumpah atas dirinya agar dia tidak shalat kecuali hanya shalat fardhu saja dan tidak puasa kecuali hanya puasa di bulan Ramadhan? Lantas Atha’ menjawab, ”Dia taati ibunya.”

  • Muhammad bin Sirin rahimahullah (seorang ulama Tabi’in terkemuka) mengatakan, di masa pemerintahan Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, harga satu pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun demikian, Usamah bin Zaid membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan mengambil jamarnya (bagian batang kurma yang berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma).

Jamar tersebut lantas beliau berikan kepada ibunya. Melihat apa yang dilakukan Usamah bin Zaid tersebut, orang-orang bertanya kepadanya, “Mengapa engkau berbuat demikian, padahal engkau mengetahui bahwa harga satu pohon kurma itu seribu dirham?”

Usamah bin Zaid menjawab, “Karena ibuku meminta jamar pohon kurma, dan tidaklah ibuku meminta sesuatu kepadaku yang mampu kupenuhi pasti aku penuhi permintaannya.” (Diambil dari Shifatush Shafwah)

Agar terbayang jelas nilai pengorbanan sahabat agung Usamah bin Zain kita konversikan saja 1000 dirham di masa itu ke dalam rupiah. 1 dirham = 2,97 gr emas. Untuk saat ini (desember 2020), 1 gram emas harganya Rp. 966.000. Bila 1000 dirham berarti 2,97 gr x 1000 = 2970 gram emas. Ini setara dengan 2970 x Rp966.000 = Rp.2.869.020.000.

Uang senilai hampir tiga milyar seakan hanya sekedar untuk memenuhi keinginan sederhana seorang ibu. Namun dalam padangan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, hal itu memang merupakan bagian dari melaksanakan perintah Allah untuk berbuat baik kepada Ibu sehingga beliau tidak menghitung-hitung lagi nilainya selama beliau mampu mewujudkannya.

Mengapa Ibu Lebih Utama Dari Ayah

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Mungkin terlintas di benak kita mengapa seorang ibu memiliki hak yang lebih besar daripada seorang ayah terhadap anak-anaknya untuk ditaati dan diperlakukan dengan baik oleh mereka?

Syaikh Muhammad Sa’id Ruslan dalam bukunya Birrul Ummi Sabiilul Barokah Fid Dunya War Rahmah Fil Akhirah memberikan penjelasan menarik terhadap persoalan ini.

Menurut beliau ada sejumlah alasan mengapa ibu lebih diutamakan daripada ayah:

  1. Ibu menanggung kepayahan dan kondisi berat selama masa kehamilan.
  2. Ibu menanggung penderitaan saat proses melahirkan.
  3. Ibu menanggung segala kepayahan selama masa menyusui.
  4. Ibu terlibat langsung dalam mendidik anak di masa kecil bersama sang ayah.

Semua hal ini tidak diketahui oleh anak ketika dia mulai beranjak dewasa. Yang dia ketahui, perhatian dari ayahnya yang terus diberikan, biaya dari ayahnya yang terus mengalir sehingga terkadang seorang anak melanggar hak ibu.

Oleh karena itu Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa seorang ibu 3 kali lipat lebih wajib diperlakukan dengan baik oleh anak dibanding sang ayah.

Selain keempat alasan di atas yang memang dijelaskan oleh para ulama, menurut Syaikh Muhammad Sa’id Ruslan ada alasan-alasan lainnya, yaitu:

  • Wanita itu lemah, lembut, halus sehingga tidak mampu untuk membela dirinya sedangkan seorang ayah kadang ditakuti anak bila hendak berbuat buruk kepadanya karena kekuatannya.
  • Seseorang kadang malu durhaka kepada ayahnya di hadapan banyak orang, takut dikecam orang banyak. Namun tidak demikian halnya dengan kepada ibunya karena ibunya tertutup oleh dinding-dinding rumahnya sehingga lebih rentan untuk didurhakai oleh anak tanpa merasa malu kepada orang lain.
  • Wanita itu karena watak dasarnya adalah sangat peka perasaannya sehingga terkadang mudah tersinggung. Sehingga bila anaknya berbuat durhaka kepadanya, dia kadang sulit menahan amarahnya dan dikhawatirkan terus segera berdoa buruk untuk anaknya yang durhaka.

Padahal bila doa itu bertepatan dengan waktu diijabahinya doa maka doa itu akan terkabul dan tidak ada yang bisa lagi membendung musibah yang akan menimpa anak tersebut.

Bentuk Bakti Kepada Ibu

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah,

Di antara bentuk berbakti kepada ibu adalah seperti yang dikatakan oleh sahabat mulia Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma kepada seseorang, ”Demi Allah, kalau kamu berbicara kepada ibumu dengan kata-kata yang santun dan suara yang lembut dan memberinya makan, kamu benar-benar akan masuk ke dalam surga selama kamu jauhi dosa-dosa besar.” [Tafsir Ath-Thabari : 9187-9188]

Tentunya bentuk ketaatan kepada seorang ibu bukan hanya berkata baik dan memberi makan, namun mencakup segala jenis kebaikan dan segala hal yang diridhai oleh Allah. Itulah yang dimaksud dengan kata Al-Birr. Sehingga birrul walidain berarti melakukan segala jenis kebaikan dan apa saja yang diridhai oleh Allah Ta’ala untuk orang tuanya.

Tekanan Ibnu ‘Abbas pada perkataan yang baik dan memberikan apa saja yang dibutuhkan oleh orang tua selama itu bukan kemaksiatan dan mampu untuk dipenuhi karena dua hal itu memang bersifat sangat mendasar.

Bila seorang anak sanggup menjaga kata-katanya kepada orang tuanya dalam keadaan apa pun dan senantiasa merusaha memenuhi apa yang dibutuhkan orang tua selama mampu, hampir bisa dipastikan dalam hal lainnya dia juga akan berbuat baik kepada orang tuanya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Kekuatan Doa Ibu

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Doa orang tua kepada anaknya adalah salah satu doa yang tidak akan ditolak oleh Allah Subahanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana dalam hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

ثلاثُ دَعَواتٍ لا تُرَدُّ : دعوةُ الوالدِ ، و دعوةُ الصائمِ ، و دعوةُ المسافرِ

Ada tiga doa yang tidak akan ditolak oleh Allah: doa orang tua (untuk anaknya) dan orang orang yang sedang berpuasa dan doa orang yang sedang safar.” [Hadits riwayat Al Baihaqi dalam Sunan-nya no. 6619, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah]

Dalam hal ini terkadang ada masalah yang muncul berupa anak yang baik namun ibunya justru sering mendoakan buruk untuk anak-anaknya tanpa sebab syar’i yang benar.

Dalam persoalan semacam ini Markazul Fatwa di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al Faqih menyatakan bahwa doa buruk seorang ibu untuk anak-anaknya itu mustajab. Namun kemustajaban doa buruk ibu untuk sang anak tersebut hanyalah dalam kondisi saat anaknya berbuat durhaka kepadanya atau sang ibu dizhalimi oleh anaknya.

Bila sang anak tidak menzhalimi ibunya dan tetap memenuhi hak-haknya maka doa buruk seorang ibu tidak akan membahayakan diri sang anak insyallah. Namun demikian, sang anak tetap diharuskan untuk berbuat baik dan berbakti kepada ibunya dan menasehati ibunya agar tidak terus menerus mendoakan buruk untuk anak-anaknya.

Rasulullah ﷺ melarang kita berdoa buruk untuk anak-anak kita. Beliau ﷺ bersabda,

Beliau ﷺ bersabda,

لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ

Jangan kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian sendiri, dan jangan mendoakan keburukan untuk anak-anak kalian, dan jangan pula mendoakan keburukan untuk harta kalian. Jangan sampai kalian menepati suatu waktu yang pada waktu itu Allah diminta sesuatu lantas Allah mengabulkan doa kalian.” [Hadits riwayat Muslim]

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan kepada kita semuanya taufik dan hidayah-Nya untuk bisa berbakti kepada orang tua kita baik saat mereka masih hidup maupun setelah mereka berdua meninggal dunia.

إنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم، وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم. إنك حميد مجيد. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا أَوْزِعْنَا أَنْ نَشْكُرَ نِعْمَتَكَ التِي أَنْعَمْتَ عَلَيْنَا وَأَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنَا بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ

اللهم اَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا التِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَاصْلِحْ لَنَا آخرَتَنَا التِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجعَلِ الحياةَ زِيادةً لنَا فِي كُلِّ خيرٍ واجعلِ الموت راحة لنا من كل شر. اللهم لا تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إلَّا غَفَرْتَه، ولا هَمًّا إلَّا فَرَّجْتَه، وَلا كَرْبًا إلَّا نَفَّسْتَه، ولا مَيِّتًا إلا رَحِمْتَه، ولا مَرِيضًا إلا شَفَيْتَه، ولا دَيْنًا إلا قَضَيْتَه، ولا مُجَاهِدًا فِي سبيلكَ إلا نَصَرْتَه، ولا ظَالمًا إلا خَذَلْتَه، ولا عَسِيْرًا إلا يَسَّرْتَه ولا ولدًا إلَّا أَصْلحتَه، بِرَحْمَتِكَ يا أرحمَ الراحمين

اللهم ادْفَعْ عَنَّا البَلَاء والوَبَاء وَالفَحْشَاء والمنكر والمِحَنَ وجميعَ الفِتَنِ مِنْ بَلَدِنَا هذَا خاصَة ومن بلدان المسلمين عامة

اللهم سهِّل أمورَنا وأمورَ معهدِنا وجامعتِنا، وأمور طلبتنا ومدرسينا، وأمور رؤساء معهدنا وجامعتنا، طوِّلْ أَعْمَارَهُم وبَارِكْ حَيَاتَهُم بِرَحْمَتِكَ يَا أَرحمَ الراحمين

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَة وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَة وَقِنَا عَذَابَ النَّار

عِبَادَ الله…إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَان وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَر والبغيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فاذكرُوا اللهَ العظيمَ يذكرْكُم واشْكرُوهُ على نِعَمِهِ يَزدْكُم، وَلَذكْرُ اللهِ أكبر، والله يعلم ما تصنعون

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Download Khutbah Jum’at Singkat
– Sifat Yang Harus Dimiliki Khatib

error: Content is protected !!