Pengertian Memakmurkan Masjid; Kajian Lengkap Keutamaan, Cara, dan Hikmah

Memakmurkan masjid adalah frase yang sering kita dengar. Memakmurkan masjid merupakan amal shaleh yang sangat mulia.

Ia merupakan ciri khas orang muslim yang beriman kuat terhadap Allah, hari akhir, senantiasa menegakkan shalat, membayar zakat dan tidak takut dengan seorang pun kecuali Allah.

Ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا ٱللَّهَ ۖ فَعَسَىٰٓ أُو۟لَٰٓئِكَ أَن يَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُهْتَدِينَ

Yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” [At Taubah: 18]

Lantas bagaimanakah memakmurkan sebuah masjid? Apakah dengan membangunnya dengan fasilitas yang memadai? Atau dengan melakukan berbagai aktifitas ibadah di dalamnya?

Atau dengan melakukan berbagai aktifitas selain ibadah mahdhah yang memberikan maslahat kepada kaum Muslimin?

Sebelum semua hal diatas dibahas, tulisan ini akan membahas tentang definisi, keutamaan, serta cara memakmurkan masjid.

hukum shalat berjamaah dalam islam menurut para ulama
Ilustrasi Memakmurkan Masjid Sumber: brooonzyah.net

Pengertian Memakmurkan Masjid

Pembahasa ini dimulai dari pembahasan definisi secara bahasa dan istilah:

1. Secara Bahasa

Dalam Bahasa Arab memakmurkan masjid berasal dari kata عمارة المساجد (‘imaratul masajid). Arti kata العمارة (al ‘imarah) secara Bahasa adalah sesuatu yang dipakai sebagai sarana untuk memperbaiki, membangun dan memelihara suatu tempat.i

2. Secara Istilah umum

Secara umum memakmurkan masjid itu meliputi dua hal:ii

1. Memakmurkan masjid secara fisik

Bentuk-bentuk memakmurkan mesjid secara fisik adalah sebagai berikut:

  • Membangun masjid,
  • Memperbaiki masjid
  • Memberikan pelayanan untuk masjid
  • Membersihkan masjid

2. Memakmurkan masjid secara non fisik

Bentuk memakmurkan masjid secara non fisik:

  • Shalat di dalamnya,
  • Melazimi masjid,
  • Beribadah kepada Allah di dalamnya,
  • Menunjuk para imam sholat yang sesuai syaratnya dan muadzinnya,
  • Membuka halaqah dzikir di masjid berupa taklim Al Quran, fikih, tafsir, hadits dan ilmu-ilmu bermanfaat yang lain,
  • Memberi wakaf untuk hal-hal yang memberikan masalahat ke masjid seperti wakaf tempat tinggal untuk imam sholat masjid, muadzin, guru, para penuntut ilmu di masjid, dan pekerjaan tempat wudhu dan lain-lain

Dalil Al Quran Diperintahkannya Memakmurkan Masjid iii

Al Quran mendorong untuk memakmurkan masjid dalam bentuk dalil-dalil umum yang menunjukkan atas disyariatkannya berinfak di jalan kebaikan dan dalam bentuk nash yang jelas tentang memakmurkan masjid.

1. Nash-nash Al Quran yang memerintahkan memakmurkan masjid bersifat umum

  1. Surat Ali Imran: 92

لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

  1. Surat Ali Imran: 115

وَمَا يَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَلَن يُكْفَرُوهُ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلْمُتَّقِينَ

Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menenerima pahala)nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.”

2. Nash – nash khusus tentang memakmurkan masjid

  1. Surat An Nuur: 36

فِى بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا ٱسْمُهُۥ يُسَبِّحُ لَهُۥ فِيهَا بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.”

Syaikh Abdurrahman As Sa’di ketika menafsirkan “yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya,” berkata:

“Dua hal ini merupakan kumpulan hukum masjid. Masuk ke dalam makna “memuliakan masjid” adalah membangunnya, menyapunya, membersihkannya dari berbagai najis dan hal-hal yang menyakiti orang.

Menjaganya dari orang gila dan anak-anak yang mereka itu tidak terpelihara dari najis. Masjid dijaga dari orang-orang kafir, hal-hal yang sia-sia di dalamnya, mengeraskan suara selain dzikrullah.

Jadi, Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk memakmurkan masjid, mengurusnya dan memeliharanya.”

  1. Surat Al Baqarah: 127

Bahkan Allah Ta’ala menyebutkan bahwa memakmurkan masjid itu merupakan tugas para Nabi sebagaimana firman Allah Ta’ala berikut ini:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِۦمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

  1. Surat At Taubah: 18

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا ٱللَّهَ ۖ فَعَسَىٰٓ أُو۟لَٰٓئِكَ أَن يَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Keutamaan Memakmurkan Masjid

Keutamaan Memakmurkan Masjid
Sumber Gambar: https://moneyissues.ng/

Memakmurkan masjid memiliki keutamaan yang banyak dan besar. Sebagian keutamaan dari memakmurkan masjid baik secara fisik maupun non fisik adalah sebagai berikut:

1. Dibangunkan Surga di Akhirat

Keutamaan Pertama: Allah akan membangunkan rumah di surga bagi siapa yang membangun masjid di dunia.

Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ

Barangsiapa yang membangun masjid, maka Allah akan bangunkan baginya yang semisalnya di surga.” (HR. Al Bukhari: 450 dan Muslim: 533]

Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhuma, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ ، أوْ أَصْغَرَ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

Barangsiapa membangun masjid karena Allah sebesar sarang burung atau lebih kecil. Maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga.” (HR Ibnu Majah: 738Dishahihkan oleh Al-Albany)

2. Indikator kebaikan iman seorang muslim

Keutamaan Kedua: Pulang-perginya seorang Muslim untuk menunaikan shalat wajib lima waktu di masjid, berdzikir, membaca al Quran dan melakukan berbagai amal kebaikan lain di dalamnya menjadi indikator kebaikan imannya.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخدري رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَتَعَاهَدُ الْمَسْجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالإِيمَانِ ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ : ( إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ ) الآيَةَ ) رواه الترمذي (2617) ، وأحمد في مسنده (27325)

Dari Abu Said Al Khudri radhiyallahu ‘anhu ia berkata,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,’ Apabila kalian melihat seorang lelaki yang melazimi masjid maka saksikanlah bahwa dia orang beriman.

Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: “Orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat…” sampai akhir ayat (At Taubah: 18).” [Hadits riwayat At Tirmidzi 2617; dan Ahmad dalam Musnadnya (27325).

Syaikh Nashirudin Al Albani mengatakan hadits ini tidak shahih dan sanadnya tidak hasan (lihat Tamamul Minnah: hal 291). Demikian juga dengan Lajnah Daimah dalam fatwanya (4/444) melemahkan hadits tersebut.iv Namun makna hadits ini shahih karena sudah ditunjukkan oleh ayat di atas.

3. Mendapat Sakinah Dari Allah

Keutamaan Ketiga: Orang-orang yang membaca Al Quran dan mempelajari Al Quran di masjid maka sakinah akan turun kepadanya, rahmat menyelubungi mereka, malaikat mengelilingi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan Malaikat mulia di sisi-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

Siapa yang melewati suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, Allah akan memudahkan untuknya jalan ke surga.

Dan tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya bersama di antara mereka kecuali sakinah turun kepada mereka, rahmat menyelubungi mereka dan malaikat mengelilingi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan makhluk mulia di sisi-Nya.” [ HR Muslim, no. 4867]

4. Mendapat Kendaraan Terbaik dari Allah

Keutamaan Keempat: Belajar Al Quran atau membaca 2 atau 3 atau 4 ayat Al Quran di masjid lebih baik daripada mendapatkan 2 atau 3 atau 4 ekor unta.

Dari [Uqbah bin Amir] ia berkata; Rasulullah ﷺ keluar sementara kami sedang berada di Shuffah (tempat berteduhnya para Fuqara dari kalangan muhajirin), kemudian beliau bertanya:

“Siapakah di antara kalian yang suka pergi ke Buthhan atau ke Aqiq, lalu ia pulang dengan membawa dua ekor unta yang gemuk-gemuk dengan tanpa membawa dosa dan tidak pula memutuskan silaturahmi?”

Maka kami pun menjawab, “Kami semua menyukai hal itu.”

Beliau melanjutkan sabdanya: “Sungguh, salah seorang dari kalian pergi ke masjid lalu ia mempelajari atau membaca dua ayat dari kitabullah ‘azza wajalla adalah lebih baik baginya daripada dua unta.

Tiga (ayat) lebih baik dari tiga ekot unta, empat ayat lebih baik daripada empat ekor unta. Dan berapa pun jumlah unta.” [HR Muslim, No. 1336]

5. Mendapat Pahala Berhaji

Keutamaan Kelima: Belajar atau mengajarkan kebaikan di masjid akan mendapatkan pahala orang berhaji secara sempurna.

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.

[HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8: 94. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 86 menyatakan bahwa hadits ini hasan shahih]

6. Mendapat Naungan Allah di Hari Kiamat

Keutamaan Keenam: Orang yang sangat mencintai masjid dan senantiasa shalat berjamaah di masjid akan mendapat naungan Allah pada hari kiamat. Tujuannya agar mendapatkan keutamaan shalat berjama’ah.

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: …. Dan seorang (pria) yang hatinya bergantung ke masjid…” [HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031]

7. Dihapus Dosa dan Diangkat Derajatnya

Keutamaan Ketujuh: Orang yang memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah di dalamnya akan dihapus dosanya dan diangkat derajatnya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :

Apakah kalian mau aku tunjukkan dengan apa yang Allah hapuskan dosa baginya dan Allah tinggikan derajatnya?” Para sahabat menjawab,” Tentu wahai Rasullullah.”

Kemudian beliau bersabda,” Menyempurnakan wudhu dalam kondisi yang tidak disukai (hawa yang sangat dingin yang menusuk tulang), memperbanyak langkah ke masjid, dan menunggu shalat sampai shalat berikutnya. Itulah ar-ribath, maka itulah ar-ribath.” [HR. Muslim, 251].

8. Mendapat Cahaya Yang Sempurna Pada Hari Kiamat

Keutamaan kedelapan: Orang yang pergi ke masjid dalam kegelapan malam untuk shalat jamaah akan mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari kiamat

Berdasarkan hadits dari Buraidah al-aslamy radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ, beliau bersabda : “Berilah kabar gembira kepada para pejalan kaki ke masjid di gelap gulitanya malam dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.”

[HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Abu Daud, hadits 561]

9. Mendapat Jaminan Allah

Keutamaan Kesembilan: Orang yang pergi ke masjid untuk shalat, menuntut ilmu, I’tikaf dan ketaatan lainnya akan mendapatkan jaminan dari Allah Ta’ala

Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

Ada 3 orang yang berada dalam jaminan Allah Azza Wa Jalla: seorang yang keluar dari rumahnya menuju salah satu masjid Allah Azza Wa Jalla, seorang yang keluar berperang di jalan Allah, dan seorang yang keluar untuk berhaji.”

[HR Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ (9/251) dan dishahihkan oleh Al Albany dalam Shahihul Jami’ hal. 3051]

Cara Memakmurkan Masjid

Pada prinsipnya, cara memakmurkan masjid ada dua macam. Yang pertama adalah memakmurkan masjid secara fisik. Yang kedua adalah memakmurkan masjid secara non fisik atau secara maknawi.

1. Memakmurkan masjid secara fisik.

Di antara bentuk memakmurkan masjid secara fisik adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Dr. Ibrahim bin Muhammad al Huqail: “Memakmurkan masjid itu bisa dengan membangunnya, membersihkannya, meluaskannya dan membuat penerangan bagi masjid.”[1]

Tentang keutamaan membangun masjid terdapat riwayat yang shahih dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ (رواه البخاري، رقم 450، ومسلم، رقم 533، من حديث عثمان رضي الله عنه)

Barangsiapa yang membangun masjid, maka Allah akan bangunkan baginya yang semisalnya di surga.” (HR. Al Bukhari, 450 dan Muslim, 533 dari Hadits Utsman radhiallahu ’anhu)

Diriwayatkan Ibnu Majah, 738, dari Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhuma, sesungguhnya Rasulullah sallallahu ’alahi wa sallam bersabda:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ ، أوْ أَصْغَرَ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

Barangsiapa membangun masjid karena Allah sebesar sarang burung atau lebih kecil. Maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga.” (Dishahihkan oleh Al-Albany)

Al-Qothoh adalah jenis burung yang sudah dikenal. ‘Mafhasu al-qothoh’ adalah sarang untuk bertelur di dalamnya.

Ahli ilmu mengatakan, hal ini disebutkan untuk mubalaghah (ungkapan hiperbolis) (ukuran terkecil), maksudnya meskipun masjid sampai ukuran sekecil ini. Dan barangsiapa yang ikut serta dalam pembangunan masjid, maka dia akan mendapatkan pahala sesuai dengan keikutsertaannya, dan dia mendapatkan pahala lain yaitu membantu orang lain dalam kebaikan dan ketakwaan.[2]

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk membuat masjid di kampung-kampung kami dan membersihkannya serta mengelokkannya.” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para penulis kitab Sunan, kecuali An Nasa’i.[3]

Baca juga: 6 Keistimewan Ahli Masjid

Cara Memakmurkan Masjid Secara Maknawi

2. Memakmurkan masjid secara non fisik (maknawi)

Sedangkan memakmurkan secara non fisik, Dr. Ibrahim Al Huqail menyebutkan sejumlah contoh yaitu dengan shalat di dalamnya, banyak jalan pulang pergi ke masjid untuk menghadiri shalat jamaah, mempelajari ilmu yang bermanfaat dan mengajarkannya dan berbagai macam ketaatan yang lainnya.[4]

Terkait masalah memakmurkan masjid secara fisik dan non fisik ini Allah Ta’ala berfirman:

فِى بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا ٱسْمُهُۥ يُسَبِّحُ لَهُۥ فِيهَا بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” [An Nur: 36]

Di dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa yang dimaksud dengan [فِى بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرْفَعَ] ”Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan” yakni yang telah diperintahkan untuk dipelihara dan dijaga kebersihannya dari kotoran dan dari perkataan atau perbuatan sia-sia yang tidak layak untuk dilakukan di dalamnya.

Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abi Thalhah dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkaitan dengan firman Allah : [فِى بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرْفَعَ] ”Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan” beliau mengatakan: “Allah telah melarang perbuatan sia-sia di dalamnya.”

Qatadah mengatakan,”Maksudnya adalah masjid-masjid yang telah Allah perintahkan untuk membangun, memakmurkan, memuliakan dan menjaga kebersihannya.”[5]

Pada prinsipnya adalah dengan melakukan upaya-upaya yang bersifat fisik dan non fisik sesuai dengan prinsip dan tuntunan syariat Islam.

Misalnya, secara fisik sekarang ini sudah ada masjid yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang sangat bermanfaat bagi masyarakat luas.

Di antaranya, dibangun di dalam kompleks masjid sekolah-sekolah untuk belajar membaca dan menghafal Al Quran. Dapat juga mewakafkan jam digital masjid untuk menjaga ketepatan waktu sholat. Membangun klinik kesehatan untuk masyarakat, tempat bimbingan dan konseling dan sebagainya.

Selain itu, pihak pengurus masjid di masa sekarang sudah banyak yang memberikan berbagai layanan kepada masyarakat dengan tujuan untuk meramaikan masjid dan memberikan manfaat kepada masyarakat secara luas.

Diantaranya, dipersilahkan bagi masyarakat untuk menyelenggarakan pernikahan di masjid, dipersilahkan bagi Jamaah masjid untuk mengambil minuman secara bebas. Bahkan juga disediakan parfum gratis untuk wewangian.

Juga perlu edukasi tentang keutamaan memakmurkan masjid. Sebab pahala shalat di masjid dan memakmurkannya, berbeda dengan pahala shalat berjama’ah di mushola di dalam rumah bersama keluarga.

Di masa datang kemungkinan bisa berkembang bentuk-bentuk menghidupkan masjid. Yang penting tidak menyalahi prinsip-prinsip syariat Islam dan bukan merupakan bentuk-betuk kemaksiatan yang dilarang oleh Islam.

Semoga bermanfaat.

Referensi Penulisan Artikel Memakmurkan Masjid:

i Lihat: https://www.almaany.com/ar/dict/ar-ar/%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%85%D8%A7%D8%B1%D8%A9/

ii Lihat: https://alimam.ws/ref/77

iii Ibid

iv Lihat: https://islamqa.info/ar/answers/120910/

[1] Lihat: https://www.alukah.net/web/hogail/0/123451/

[2] Lihat: https://islamqa.info/id/answers/146564/barangsiapa-yang-ikut-serta-membangun-masjid-apakah-dia-mendapatkan-pahala-orang-yang-membangun-masjid

[3] Lihat: Tafsir Ibnu Katsir jilid 6, Pustaka Imam Syaf’I, Bogor, cetakan pertama, Dzulhijjah 1424/ Januari 2004. Halaman 59.

[4] Lihat: https://www.alukah.net/web/hogail/0/123451/

[5] Lihat: Tafsir Ibnu Katsir jilid 6, Pustaka Imam Syaf’I, Bogor, cetakan pertama, Dzulhijjah 1424/ Januari 2004. Halaman 59.

Leave a Comment

error: Content is protected !!