Khutbah Jumat: Larangan Tajassus Dalam Islam

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

فإنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ

Tajassus Adalah Unsur Perusak Masyarakat Muslim

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Semua orang Muslim, baik dari kalangan ilmuwan maupun masyarakat biasa, sudah sama mengetahui bahwa Islam sangat menekankan aspek kerukunan, harmoni dan persaudaraan dalam masyarakat Muslim.

Untuk itu banyak tuntunan dalam Islam yang tertuang dalam Al-Quran dan As-Sunnah yang mendorong umat islam untuk benar-benar mewujudkan masyarakat muslim ideal yang dibangun di atas basis bahwa orang mukmin itu saudara bagi mukmin yang lain sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. [Al-Hujurat: 10]

Agar pondasi masyarakat muslim ideal ini kokoh dan kuat sehingga di atasnya bisa berdiri sebuah masyarakat yang sangat sehat dan erat hubungan antar anggota masyarakatnya dan sangat jauh dari konflik internal di antara mereka, Islam mendorong umatnya untuk melakukan berbagai hal untuk menguatkan ukhuwah islamiyah tersebut.

Diantaranya adalah saling memberi hadiah, saling menasehati, saling menolong, memberi makan yang membutuhkan, menyebarkan salam kepada siapa saja, mengunjungi yang sakit, mengurusi muslim yang meninggal, membantu kesusahan keluarganya dan menghilangkan kesedihannya.

Dan mungkin masih banyak lagi hal-hal positif yang bisa dilakukan untuk memperkokoh pondasi persaudaraan di antara sesama orang beriman. Apa yang disebutkan tadi hanyalah sekedar contoh semata.

Islam tidak hanya menghasung umatnya untuk menyirami persaudaraan iman dan Islam itu dengan berbagai perbuatan mulia tadi, namun juga memberikan rambu-rambu yang tegas yang menjadi pagar perlindungan dari berbagai sikap dan perbuatan tercela dan merusak agar persaudaraan iman tadi tidak pudar dan ikatannya tidak melemah.

Ada banyak hal yang bisa merusak harmoni dalam sebuah masyarakat, menciptakan suasana saling curiga dan bermusuhann serta bisa memicu konflik di antara individu dalam masyarakat. Salah satu yang paling buruk dan merusak adalah perilaku suka mencar-cari kesalahan orang lain atau menelisik rahasia-rahasia sesama muslim yang tidak dibenarkan secara akal sehat dan syariat.

Perilaku buruk, merusak dan jahat ini dikenal dengan istilah tajassus. Allah dan Rasul-Nya ﷺ telah memberikan larangan tegas kepada orang-orang beriman agar tidak melakukan tajassus. Lantas apakah sebenarnya tajassus itu?

Apa itu Tajassus?

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Secara bahasa, kata tajassus diambil dari kata الجَسِّ (al jassu), yang berarti mencari dan menyelidiki. Kata At-Tajassus berarti menyelidiki perkara-perkara yang tersembunyi. Seringkali dipakai untuk perkara yang buruk.

Sedangkan kata Jasus adalah mata-mata yang mencari dan menyelidiki informasi kemudian membawa hasil pencariannya. Jadi Jasus adalah orang yang memegang rahasia-rahasia keburukan atau kejahatan sedangkan Namus adalah orang yang memegang rahasia-rahasia kebaikan.

Secara istilah syar’i, tajassus adalah mencari kekurangan dan aib-aib serta menyingkap apa yang ditutupi oleh orang-orang. Hal ini sebagaimana dijelaskan di dalam kitab Tafsir Al-Munir karya Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili (26/247).

Larangan Tajassus Dalam Al-Quran

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang para hamba-Nya yang beriman dari melakukan tajassus dalam ayat-ayat yang jelas dan tegas yang menunjukkan atas keharaman perbuatan keji dan tercela ini.

  1. Surat Al-Hujurat: 12.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. [Al-Hujurat : 12]

Imam Ibnu Jarir ketika mentafsirkan firman Allah وَلا تَجَسَّسُوا dan janganlah kalian melakukan tajassus (mencari-cari kesalahan)” berkata:

“Kalian jangan saling mencari-cari aib satu sama lain dan jangan menyelidiki rahasianya dengan tujuan untuk menampakkan aib-aibnya. Namun cukuplah dengan urusan dirinya yang nampak bagi kalian. Berdasarkan hal itulah mereka dipuji atau dicela bukan berdasarkan rahasia-rahasia yang tidak kalian ketahui…”

Setelah itu beliau menukil atsar Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

نهى الله المؤمن من أن يتتبع عورات المؤمن

”Allah melarang orang mukmin dari mencari-cari aib-aib orang mukmin yang lain.” [Hadits riwayat Ath-Thabrani dalam tafsirnya 22/304]

Imam Al-Baghawi berkata,

نهى الله تعالى عن البحث عن المستور من أمور الناس وتتبع عوراتهم؛ حتى لا يظهر على ما ستره الله منها

Allah Ta’ala melarang dari mencari urusan-urusan manusia yang tidak terlihat dan menyingkap aurat -aurat (aib-aib) mereka sehingga tidak memperlihatkan perkara yang telah Allah tutupi.” [Tafsir Al Baghawi: 7/345]

  1. Surat Al-Ahzab: 58

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.

Adakah sesuatu yang lebih menyakitkan dari perbuatan mencari-cari kekurangan manusia, menyelidiki keburukan-keburukannya dan mencari-cari kesalahan-kesalahannya serta memampakkan dosa-dosa yang ditutup oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,”Tajassus itu menyakitkan. Orang yang dicari-cari kesalahan merasa tersakiti dengannya. Tajassus itu menyebabkan kebencian dan permusuhan serta mengakibatkan seseorang telah membebani dirinya sendiri dengan sesuatu yang bukan menjadi kewajibannya.

Anda mendapati seseorang yang mencari-cari kesalahan orang lain yang disebut dengan mutajassis, kita berlindung kepada Allah darinya, satu saat berada di sini, saat lain di sana. Kali lain melihat ke sini dan kali lainnya melihat ke sana. Dia telah melelahkan dirinya sendiri dalam hal menyakiti hamba-hamba Allah.” [Syarah Riyadhush Shalihin 6/251-252]

  1. At-Taubah: 47

Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang munafik dan sifat-sifat mereka,

لَوْ خَرَجُوا فِيكُمْ مَا زَادُوكُمْ إِلَّا خَبَالًا وَلَأَوْضَعُوا خِلَالَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.

Imam Mujahid berkata,”maknanya, di antara kalian ada orang-orang yang menyukai mereka (orang-orang munafik), menyampaikan kepada mereka apa yang dia dengar dari kalian. Orang-orang inilah para jasus.” [Tafsir Al-Baghawi: 4/56]

Imam Al-Qurthubi berkata tentang firman Allah:

وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ

“sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka.” Yaitu, menjadi mata-mata bagi mereka dengan menyampaikan informasi dari kalian kepada mereka. [Tafsir Al jami’ li Ahkamil Quran: 8/157]

Baca juga khutbah jum’at: Bahaya Ghibah Dalam Islam

Larangan Tajassus Dalam As-Sunnah

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Rasulullah ﷺ sangat keras dalam melarang dan memperingatkan dari tajassus. Beliau menjelaskan bahwa tajassus itu merusak persaudaraan, menyebabkan putusnya ikatan-ikatan berbagai hubungan dan merupakan jalan untuk merusak masyarakat. Di antara hadits-hadits yang melarang tajassus adalah:

  1. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata,’Rasulullah ﷺ bersabda,

إيَّاكُمْ والظَّنَّ، فإنَّ الظَّنَّ أكْذَبُ الحَديثِ، ولا تَحَسَّسُوا، ولا تَجَسَّسُوا، ولا تَنافَسُوا، ولا تَحاسَدُوا، ولا تَباغَضُوا، ولا تَدابَرُوا، وكُونُوا عِبادَ اللهِ إخْوانًا

”Hendaklah kalian menjauhi prasangka. Sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta. Janganlah kalian mencari-cari kesalahan, kalian jangan saling bersaing, dan jangan saling mendengki, jangan saling memusuhi dan janganlah saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” [Hadits riwayat Al-Bukhari (6064) dan Muslim (2563)]

  1. Hadits Abu Barzakh Al-Aslami

Dari Abu Barzakh Al Aslami radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,’Rasulullah ﷺ bersabda,

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الإِيمَانُ قَلْبَهُ لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِى بَيْتِهِ.

Wahai orang-orang yang telah beriman dengan lisannya namun iman belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian mengghibah kaum Muslimin dan jangan pula mencari-cari aib-aib mereka. Sesungguhnya orang yang mencari-cari aib mereka akan dicari aibnya oleh Allah dan siapa yang Allah cari aibnya Allah akan membongkarnya walaupun di rumahnya.” [Hadits riwayat Abu Dawud, Ahmad, Abu Ya’la dan Al-Baihaqi. Syaikh al-Albani mengatakan: hasan shahih di dalam Shahih Sunan Abi Dawud (4880)]

  1. Hadits Muawiyah bin Abi Sufyan

Dari Muawiyah radhiyallahu ‘anhu dia berkata,’Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّكَ إِنِ اتَّبَعْتَ عَوْرَاتِ الناسِ ؛ أَفْسَدْتَهُمْ ، أوْ كِدْتَ أنْ تُفْسِدَهُمْ

Sesungguhnya jika kamu mencari aib-aib orang lain berarti kamu telah merusak mereka atau hampir saja kamu merusak mereka.”

[Hadits riwayat Abu Dawud, Au Ya’la, Ibnu Hibban, Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi. Imam An-nawawi menshahihkan hadits ini di Riyadhush-Shalihin (508) dan Al-Albani mengatakan hadits ini shahih di dalam Shahih Sunan Abi Dawud (4880)]

  1. Hadits Ibnu Abbas

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata,”Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنِ اسْتَمع إلى حَديثِ قَوْمٍ، وهُمْ له كارِهُونَصُبَّ في أُذُنِهِ الآنُكُ يَومَ القِيامَةِ،

Siapa yang mendengarkan pembicaraan sejumlah orang sementara mereka tidak suka dia mendengarnya, akan dituangkan timah hitam ke dalam telinganya pada hari kiamat.” [Hadits riwayat Al-Bukhari (7042)]

Baca juga khutbah jum’at: Menutup Aib Seorang Muslim

Macam-Macam Tajassus dan Hukumnya

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,

Pada asalnya, tajassus itu diharamkan secara syar’i. Dilarang melakukannya. Namun ada sebagian bentuk tajassus yang terkadang boleh dilakukan karena tuntutan maslahat. Berdasarkan hal ini maka tajassus itu bisa dibagi menjadi dua bagian

  1. Tajassus yang dilarang oleh syariat Islam.

Yang dimaksud dengan tajassus jenis pertama ini adalah mencari-cari aib-aib dan rahasia manusia serta menyingkap kekurangan mereka karena faktor sikap berlebihan dan ingin memuaskan rasa ingin tahu tanpa ada tujuan yang dibolehkan. Baik berupa untuk memperoleh manfaat yang nyata atau demi menghilangkan kerusakan yang diperkirakan akan terjadi, baik dengan cara mengintai, mencuri dengar atau mendengarkan.

Tajassus jenis inilah yang diharamkan secara jelas oleh berbagai dalil dan tidak diperbolehkan kecuali dalam keadaan-keadaan khusus. Sesungguhnya pada dasarnya seorang muslim itu suci, terpelihara, tidak bersalah dan selamat dari segala sesuatu yang memalukan.

Oleh karenanya, hukum asal dari tajassus dalam Islam adalah dilarang dalam segala bentuknya, baik berupa tajassus antar individu atau individu terhadap negara atau negara dengan negara.

Karena tajassus itu merobek kehormatan seorang Muslim, menyingkap tirainya dan kadang meyebabkan kedengkian dan kebencian di antara indvidu dalam masayrakat Muslim. Inilah yang ditolak oleh Islam baik secara garis besar maupun secara terperinci.

  1. Tajassus yang diperbolehkan oleh syariat Islam

Adapun jenis kedua dari tajassus adalah tajassus yang disyariatkan. Maksudnya adalah setiap aktifitas tajassus yang bertujuan untuk kemaslahatan negara Islam dalam interaksinya dengan musuh-musuhnya, atau membersihkan masyarakat dari para pelaku kejahatan dan kerusakan dan mengikuti pergerakan mereka dan menyempitkan mereka.

Tajassus jenis ini bertingkat-tingkat hukumnya dari wajib hingga mubah sesuai dengan tuntutan maslahat dan kondisi darurat. Jadi ada tajassus yang hukumnya wajib yaitu yang menjadi jalan untuk menyelamatkan jiwa dari kebinasaan atau untuk melenyapkan kerusakan yang nyata.

Sisi yang membolehkan dari perbuatan ini adalah karena hal itu masuk dalam kategori sarana untuk mengingkari kemungkaran.

Dan ada Tajassus yang mubah yaitu tajassus selain yang berupa tajassus yang diharamkan oleh syariat namun belum sampai ke derajat wajib. Seperti tajassus terhadap musuh untuk mengetahui jumlah dan perlengkapan mereka dan selainnya.

Demikian keterangan Syaikh Muhammad Mu’inuddin Bashri di dalam kitab Ahkamus Sima’ wal istma’ fisy Syari’ah Al Islamiyyah, hal. 353.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Bahaya Tajassus Yang Diharamkan Dalam Islam

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti mengandung dampak negatif, mafsadat atau pengaruh buruk terhadap umat manusia. Dampak buruk atau mafsadat yang timbul itu bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat keburukan yang dilarang oleh Allah Ta’ala.

Tajassus adalah perbuatan yang diharamkan secara tegas dan keras oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya ﷺ. Oleh karenanya, pasti dampak buruk yang ditimbulkannya juga cukup besar bagi indvidu dan masyarakat.

Di antara dampak buruk atau mafsadat tajassus yang haram adalah:

  1. Tajassus merupakan salah satu fenomena dari prasangka buruk atau suuzhan dan salah atu akibat dari suuzhan. Dengan demikian tajassus yang haram itu terlahir dari sifat tercela yang buruk yang dilarang oleh agama yang lurus ini.
  2. Tajassus merupakan salah satu gambaran dari kelemahan iman, lemahnya relijiusitas dan tipisnya rasa diawasi oleh Allah. Ini ditinjau dari aspek agama. Sedangkan jika dilihat dari segi akhlak, tajassus menunjukkan kerendahan dan kekotoran jiwa, kelemahan tekadnya, dan kesibukan jiwa tersebut dengan perkara-perkara yang rendah bukannya perkara yang mulia dan bernilai tinggi.
  3. Tajassus adalah perusak ukhuwah, membuka jalan menuju putusnya hubungan, rusaknya ikatan, munculnya permusuhan di antara orang-orang yang saling mencintai dan menebarkan benih perpecahan di antara saudara seiman.
  4. Dengan adanya tajassus maka runtuhlah figur teladan dan menjadi kecillah figur teladan tersebut di mata orang-orang yang rendah. Saat itulah dosa-dosa menjadi disepelekan dan keburukan diremehkan.

Jelasnya demikian. Bila orang yang dicari-cari kesalahannya tersebut adalah orang yang berposisi sebagai figur teladan, kemudian diketahui dirinya melakukan suatu keburukan atau dosa atau maksiat maka tidak ragu lagi, kebesarannya akan mengecil, kedudukannya akan sirna dan nasehat serta arahannya tidak akan diterima.

Bahkan, bisa jadi maksiat yang dia lakukan akan dianggap remeh oleh pelaku tajassus sehingga dia ikut melakukannya dengan alasan dirinya tidak lebih baik keadaannya dibandingkan dengan sang teladan yang juga telah melakukannya.

  1. Tajassus mengantarkan kepada kehidupan yang buruk. Kehidupan yang penuh dengan keraguan dan kekhawatiran. Setiap orang merasa tidak aman dengan privasinya yang terancam untuk disingkap atau terlihat oleh banyak orang. Bahkan orang – orang akan hidup dalam kondisi ragu tanpa ada habisnya. Ini merupakan bukti kebenaran sabda Nabi ﷺ,

إِنَّكَ إِنِ اتَّبَعْتَ عَوْرَاتِ الناسِ ؛ أَفْسَدْتَهُمْ ، أوْ كِدْتَ أنْ تُفْسِدَهُمْ

Sesungguhnya jika kamu mencari aib-aib orang lain berarti kamu telah merusak mereka atau hampir saja kamu merusak mereka.”

  1. Tajassus mengakibatkan kebencian, dan mendorong adanya balas dendam. Jika seseorang mengetahui bahwa si fulan telah mencari-cari kesalahannya dan ingin merobek tirainya dan membongkar urusannya, maka dia akan berusaha untuk melakukan tajassus terhadap orang tadi dan membongkarnya juga.
  2. Tajassus juga membuka jalan menuju tersebar luasnya kekejian di antara kaum muslimin, dan menyebar luasnya keburukan di antara mereka. Hal itu karena tersebarnya skandal yang tertutup dan keburukan yang tersembunyi.
  3. Tajassus merupakan indikasi penyakit hati. Hal itu menunjukkan dengan jelas nan gamblang akan buruknya batin dan kemunafikan yang bersarang di dalam hati. Pelakunya jauh dari iman meskipun dia mengklaim beriman serta jauh dari ketakwaan meskipun menghiasi diri dengan tampilan takwa.

Oleh karenanya, Rasulullah ﷺ memanggil orang-orang yang punya sifat semacam ini dengan sabdanya,

Wahai orang-orang yang telah beriman dengan lisannya namun iman belum masuk ke dalam hatinya…”

  1. Pelaku tajassus diancam dengan dibongkarnya keburukan-keburukannya meskipun di tengah-tengah keluarganya.
  2. Dan cukuplah keburukan tajassus itu bahwa para pelakunya telah menghadapkan dirinya sendiri kepada kemurkaan Allah, dan mendapatkan hukuman berupa siksa yang pedih. Ini di akhirat.

Adapun di dunia ini, dia terus menerus dibenci dan dimusuhi oleh masyarakat. Dia senantiasa berada dalam keraguan. Orang-orang tidak merasa nyaman dengan dirinya dan tidak pula merasa tenang dengan kehadirannya.

Demikian tadi uraian tentang tajassus, jenisnya, hukumnya dan dampaknya kepada kehidupan masyarakat. Semoga penjelasan ini bermanfaat dan Allah berkenan melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua dan keluarga kita agar dijauhkan dari akhlak yang sangat buruk dan hina ini. Mari kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍّ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي اْلأُمُوْرِ، وَنَسْأَلُكَ عَزِيْمَةَ الرُّشْدِ، وَنَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي اْلأُمُوْرِكُلَّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلآخِرَةِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Naskah Khutbah Jum’at Terbaru

error: Content is protected !!