Khutbah Jum’at: Sebab-Sebab Bencana (Musibah) Dalam Tinjauan Syar’i

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمً

أَمَّا بَعْدُ

فإنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ

Penyebutan Bencana & Musibah dalam Al-Quran dan Sunnah

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,

Kita sudah terlalu sering mendengar berita terjadinya berbagai musibah dan bencana di negeri kita. Ada bencana alam berupa gunung meletus, banjir bandang, kebakaran hutan, gempa bumi, tanah, longsor, angin puting beliung dan yang paling dahsyat yang pernah terjadi adalah tsunami.

Pertanyannya kemudian, apakah setiap bencana yang terjadi itu murni karena sebab -sebab yang sifatnya rasional yang bisa ditelusuri melalui berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi yang terkait dengan jenis bencana tersebut, ataukah ada sebab lain? Yaitu sebab syar’i.

Sebenarnya, musibah apa pun yang terjadi, tidak akan pernah lepas dari sebab yang bersifat kauni (sesuai hukum kausalitas di dunia ini yang bersifat rasional) dan ada sebab yang bersifat syar’i. Dalam kesempatan ini kita akan bahas sebab syar’i dari berbagai bencana yang menimpa umat manusia.

Ma’syirol Muslimin rahimakumullah,

Kata bencana dan musibah dalam bahasa Indonesia bila dilacak dalam Al-Quran, maka kata yang menjadi padanannya adalah البلاء (al-bala’) dan مصيبة (musibah). Walaupun padanannya tidak bersifat satu-satu. Sebab kandungan makna yang ada dari kata al-bala’ bukan hanya beban derita yang berat atau bencana.

1. Ayat-ayat tentang bala’ dalam al-Quran

Di dalam al-Quran ada enam ayat yang menggunakan kata البلاء (al-bala’). Bila menggunakan pecahan kata yang lain berbentuk kata kerja akan jauh lebih banyak. Di sini hanya dibatasi dengan kata al-bala’ saja. Di antaranya contohnya adalah firman Allah Ta’ala:

وَإِذْ نَجَّيْنَٰكُم مِّنْ ءَالِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوٓءَ ٱلْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَآءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَآءَكُمْ ۚ وَفِى ذَٰلِكُم بَلَآءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.” [Al-Baqarah: 49]

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ رَمَىٰ ۚ وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَاءً حَسَنًا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [al-Anfal: 17]

Dari contoh di atas kita bisa mengetahui bahwa kata bala’ dalam al-Quran tidak selalu berkonotasi negatif atau buruk berupa malapetaka yang menimpa.

Dalam Surat al-Anfal tersebut Allah menyebut kemenangan dengan bala’ dan jelas tujuannya adalah untuk menguji orang mukmin dengannya, apakah akan bersyukur dengan nikmat tersebut atau tidak.

2. Ayat-ayat tentang musibah dalam Al-Quran

Di dalam al-Quran terdapat 21 ayat yang menyebut kata مصيبة (musibah). Bila dengan pecahan kata yang lain menjadi lebih dari itu. Di antara contoh ayat yang berbicara tentang musibah adalah:

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” -Sesungguhnya kami ini milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali.”[Al-Baqarah: 156]

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [Al-Hadid: 22]

Baca juga Khutbah Jum’at: Larangan Mujaharah Dalam Islam

Makna Bencana atau Musibah

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Di dalam al-Mu’jam Al Wasith kata البلاء berarti:

  • Ujian yang menimpa manusia untuk mengujinya
  • Kegundahan dan kesedihan
  • Urusan yang sangat berat

Sedangkan dalam kamus Ar-Raaid kata مصيبة berarti:

  • Penderitaan
  • Petaka
  • Kecelakaan, musibah

Pegertian musibah menurut Al-Munawi adalah sebutan bagi semua hal yang menyakiti manusia. [At-ta’arif, Al Munawi 1/660]. Musibah ada tiga macam:

  1. Musibah umum yang menimpa bumi ini dan umat manusia.

Hal ini seperti bencana alam yang menimpa dan menghancurkan sebuah bangsa serta apa saja yang ada di dalamnya.

Contohnya di dalam al Quran al-Karim banyak sekali. Misalnya banjir besar yang menimpa kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” [Al-Ankabut: 14]

Demikian pula dengan penenggelaman ke dalam bumi terhadap kaum Luth, angin puting beliung yang menimpa kaum ‘Ad, serta kerusakan lingkungan yang menimpa bangsa Fir’aun karena dipenuhi oleh darah dan kutu serta berbagai serangga. Hal ini menyebabkan penderitaan yang tidak tertanggungkan lagi.

Allah berfirman tentang Fir’aun dan kaumnya,

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُفَصَّلَاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ

Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” [Al-A’raf: 133]

  1. Musibah yang menimpa manusia namun tidak menimbulkan kerusakan secara langsung terhadap lingkungan tempat mereka berada

Contoh yang paling jelas dari musibah jenis ini adalah musibah yang menimpa kaum Nabi Syu’aib ‘alaihis salam ketika mereka berpaling dan menentang untuk mengikuti kebenaran. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَكَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا ۗ أَلَا بُعْدًا لِمَدْيَنَ كَمَا بَعِدَتْ ثَمُودُ

Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.

Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa.” [Hud: 94-95]

  1. Musibah yang menimpa sejumlah orang tertentu dan tidak menimpa yang lain

Sebab terjadinya musibah jenis ketiga ini berbeda-beda sesuai dengan keadaan orangnya. Bila dia adalah orang kafir pembangkang maka musibah tersebut merupakan bentuk hukuman dan pembalasan sebagaimana terjadi pada Qarun.

Allah Ta’ala berfirman,

فَخَسَفْنَا بِهِۦ وَبِدَارِهِ ٱلْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُۥ مِن فِئَةٍ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُنتَصِرِينَ

Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” [Al-Qashash: 81]

Terkadang musibah itu bukan merupakan hukuman namun merupakan ujian untuk bersabar. Terkadang musibah itu untuk menghilangkan dosa dan kesalahan dan terkadang untuk pencegahan agar tidak terus menerus berkubang dalam lumpur maksiat.i

Sebab-Sebab Terjadinya Bencana Dalam Tinjauan Syar’i

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid musibah dan bencana (al-Bala’) dalam Al-Quran dan As-Sunah ada dua sebab yang bersifat langsung – selain hikmah Allah Ta’ala dalam qadha’ dan qadar-Nya:ii

1. Sebab pertama: Dosa dan maksiat yang dilakukan oleh seseorang

Yakni, baik itu berupa kekafiran, kemaksiatan atau dosa besar. Allah ‘Azza Wa Jalla menimpakan bencana disebabkan orang tersebut telah bermaksiat secara berlebihan sebagai hukuman yang disegerakan.

Allah Azza Wa Jalla berfirman:

وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” [An-Nisa’ : 79.]

Para ahli tafsir mengatakan maksudnya adalah disebabkan dosa anda.

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [As-Syura: 30]

Dalam sebuah hadits dari Anas radhiallahu anhu, dia berkata, ” Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ .

رواه الترمذي (2396) وحسنه ، وصححه الألباني في “صحيح الترمذي “

Apabila Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, maka Allah mensegerakan hukumannya di dunia ini. Dan bila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya, maka Allah menahan dosanya hingga dibalas di hari kiamat.”

[Hadits riwayat At-Tirmidzi, 2396 dan At-Tirmidzi menyatakannya sebagai hadits hasan. Al-Albani menyatakan sebagai hadits shahih di dalam Shahih At-Tirmidzi.]

2. Sebab kedua: Allah Ta’ala berkehendak untuk meninggikan derajat orang mukmin yang sabar

Karenanya, Allah memberikan cobaan dengan musibah agar ridha dan bersabar. Bagi yang bersabar, akan diberikan pahala orang-orang sabar di akhirat serta ditulis di sisi Allah termasuk orang yang beruntung.

Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik radhiallahu anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ ) . رواه الترمذي (2396) وحسنه ، وصححه الشيخ الألباني في “السلسلة الصحيحة” (رقم/146(

Sesungguhnya besarnya pahala disertai dengan besarnya bencana yang menimpa (sebagai cobaan). Sesungguhnya Allah ketika mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha maka dia akan mendapatkan keridhaan Allah dan siapa yang murka, maka dia akan mendapatkan murka Allah.”

[Hadits riwayat At-Tirmidzi, (2396) dan beliau menyatakannya sebagai hadits hasan. Al-Albani sebagai hadits shahih di dalam ‘as-Silsilah ash-Shahihah, no. 146.

Dua sebab ini terkumpul dalam hadits ‘Aisyah radhiallahu anha, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً ، أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً

رواه البخاري (5641) ، ومسلم (2573)

Tidaklah seorang mukmin terkena duri dan lebih dari itu melainkan Allah akan mengangkat satu derajat dengannya. Atau dihapuskan satu kesalahan dengannya.”

[Hadits riwayat al-Bukhari, (5641) dan Muslim, (2573).]

Baca juga: Khutbah Mengapa Perlu Muhasabah

Agar Bencana Tak Melanda

Sebagian kalangan kadang keliru dalam mengambil langkah-langkah pencegahan agar tidak terjadi musibah. Mereka terlalu fokus pada satu aspek saja. Padahal langkah-lengkah pencegahan semestinya memperhatikan dua aspek sekaligus, yaitu:

  1. Langkah-langkah yang memenuhi hukum sebab akibat yang bersifat material-lahiriah.
  2. Langkah-langkah yang memenuhi sebab-sebab yang bersifat ruhiyah – imaniyah.

Sebagai gambaran saja, dalam masa pandemi ini misalnya, seseorang sangat perhatian dengan langkah-langkah pencegahan agar tidak terkena covid-19 dengan menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan dengan hand sanitizer.

Namun pada saat yang sama, dia mengabaikan sama sekali hal-hal yang bersifat ruhiyah-imaniyah yang bisa melindunginya dari penyakit tersebut.

Semestinya, dua langkah tersebut dilakukan secara berbarengan. Tidak ada yang dikesampingkan atau diabaikan. Mengambil sebab-sebab yang bersifat rasional yang memenuhi hukum kausalitas sama sekali tidak bertentangan dengan sikap tawakkal. Justru mengambil sebab material-lahiriah semacam itu diperintahkan oleh Syariat untuk dilakukan.

Dalil terkuat untuk hal ini adalah perintah kepada Maryam yang sedang hamil tua untuk menggoyang pangkal pohon kurma agar buah kurmanya jatuh dan dia bisa memakan darinya. Padahal untuk menggoyang pangkal pohon kurma hingga jatuh buahnya itu sangat berat meskipun dilakukan oleh seorang pria kuat sekalipun.

Ini menunjukkan disyariatkannya untuk mengambil sebab-sebab maksimal yang bersifat lahiriah yang bisa dilakukan meskipun usaha itu tampak lemah.

وَهُزِّىٓ إِلَيْكِ بِجِذْعِ ٱلنَّخْلَةِ تُسَٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا

Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu..” [Maryam: 25]

Untuk sebab-sebab yang bersifat ruhiyah – imaniyah, agar kita bisa terhindar dari berbagai bencana maka kita bisa melakukan hal-hal berikut:iii

  1. Bertadharru’ kepada Allah dengan banyak melakukan doa dan merendahkan diri kepada-Nya serta menampakkan rasa butuh kepada-Nya

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. [Al-Mukmin: 60]

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [Al-Baqarah: 186]

فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَٰكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” [Al-An’am: 43 ]

  1. Istighfar dan taubat serta inabah dan kembali kepada Allah

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” [Al Anfal: 33]

Di dalam al quran, istighfar itu dikaitkan dengan nikmat, tambahan kekuatan dan berkah sebagaimana firman Allah:

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”. [Hud: 52]

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)

Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” [Nuh : 10-12]

  1. Bertakwa kepada Allah dalam segala perkara

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3)

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. [At-Thalaq: 2-3]

Kemudian Allah juga berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا (4) ذَلِكَ أَمْرُ اللَّهِ أَنزلَهُ إِلَيْكُمْ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا (5)

Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu; dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya. [Ath-Thalaq-4-5]

  1. Bersungguh-sungguh dalam ibadah

Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿ ٥﴾ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿ ٦﴾ فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ﴿ ٧﴾ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ ﴿ ٨﴾

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. [Al-Insyirah : 5-8]

Allah telah menjanjikan kemudahan setelah kesulitan akan tetapi hal itu dengan syarat setelah sang hamba bersungguh – sungguh dalam beribadah kepada-Nya.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ”Maksudnya adalah apabila kamu telah merampungkan urusan-urusan duniamu dan kesibukannya dan telah kamu selesaikan semua yang berkaitan dengannya, maka bulatkanlah tekadmu untuk ibadah dan bangkitlah kamu kepada-Nya dalam keadaan bersemangat. Curahkanlah hatimu dan ikhlaskanlah niatmu dalam beribadah kepada-Nya dan berharap kepada-Nya.”

Oleh karenanya, hendaklah seorang muslim bersungguh-sungguh dalam ibadahnya baik dengan shalat, puasa, qiyamullail, dzikir, sedekah dan lain sebagainya. Semoga Allah Ta’ala berkenan menghindarkan kita semua dari berbagai bencana yang melanda.

Baca juga Khutbah Jum’at: Bahaya LGBT Dalam Islam

Sikap Ketika Bencana Melanda

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bila sebuah bencana sudah terjadi, maka bagaimanakah sikap seorang mukmin dalam menghadapi bencana tersebut? Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid menjelaskan sikap seorang mukmin saat tertimpa bencana adalah:iv

  1. Menyadari bahwa musibah dan bencana itu ujian bagi seorang hamba dan dia merupakan tanda cinta dari Allah kepadanya.

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:

إنَّ عِظَمَ اْلجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ اْلبَلَاءِ ، وَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَحَبَّ قَوْماً ابْتَلَاهُمْ ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ اْلسُخْطُ ) رَوَاهُ التِّرْمِذِيْ ( 2396 ) وَابْنُ مَاجَه ( 4031 ) ، وَحَسَّنَهُ اْلأَلْبَانِيْ فِيْ صَحِيْحِ التِّرْمِذِيْ

Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya bencana yang menimpa (sebagai cobaan). Sesungguhnya, Allah ‘Azza wa Jalla bila mencintai suatu kaum Dia menguji mereka. Siapa yang ridha maka baginya keridhaan Allah dan siapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah.”

[Hadits riwayat At-Tirmidzi (2396) dan Ibnu Majah (4031). Al-Albani menyatakannya sebagai hadits hasan di dalam Shahih At-Tirmidzi]

  1. Menyadari bahwa turunnya bencana itu lebih baik bagi seorang mukmin daripada siksa tersebut disimpan baginya di akhirat nanti.

Bagaimana tidak demikian, sementara dalam musibah dan bencana itu terdapat derajat yang ditinggikan dan keburukan yang dihilangkan.

Nabi ﷺ bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ .

رواه الترمذي (2396) وحسنه ، وصححه الألباني في “صحيح الترمذي “

Apabila Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, maka Allah mensegerakan hukumannya di dunia ini. Dan bila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya, maka Allah menahan dosanya hingga dibalas di hari kiamat.”

[Hadits riwayat At-Tirmidzi, 2396 dan At-Tirmidzi menyatakannya sebagai hadits hasan. Al-Albani menyatakan sebagai hadits shahih di dalam Shahih At-Tirmidzi.]

  1. Mencari pahala dalam bencana yang menimpanya.

Dan tidak ada jalan untuk mendapatkannya kecuali dengan bersabar terhadap bencana yang menimpa. Dan tidak ada jalan untuk bisa bersabar kecuali dengan tekad dan kehendak yang sangat kuat yang didorong oleh iman.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi ﷺ,

)عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلا لِلْمُؤْمِنِ ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ) رواه مسلم (2999(

Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin itu. Sungguh semua urusannya adalah kebaikan baginya. Dan hal itu hanya terjadi pada orang mukmin. Apabila orang mukmin itu mendapatkan sesuatu yang menyenangkan hati maka dia bersyukur. Maka itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa musibah maka dia bersabar. Maka itu merupakan kebaikan baginya.” [Hadits riwayat Muslim (2999]

  1. Mengucapkan istirja’ dan berdoa dengan doa yang telah diajarkan Nabi ﷺ, saat tertimpa musibah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” -Sesungguhnya kami ini milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali.” [Al-Baqarah: 155-156]

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata, ” Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّىَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِى خَيْرًا مِنْهُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم

Tak seorang pun hamba (muslim) yang tertimpa musibah kemudian dia berdoa:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا

Sesungguhnya kita ini milik Allah dan sungguh hanya kepada-Nya kita akan kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah ganti yang lebih baik daripadanya.”

Kecuali Allah memberinya pahala pada musibahnya dan memberinya ganti dengan yang lebih dari dari musibahnya tersebut.

Ummu Salamah berkata, ” Saat Abu Salamah wafat, aku berdoa sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah ﷺ kepadaku, lalu Allah memberi ganti untukku yang lebih baik darinya, yakni Rasulullah ﷺ (Muttafaq ‘Alaih)

  1. Merenung dan mengambil hikmah dibalik musibah yang terjadi hingga mampu menerima musibah tersebut sebagai sebuah nikmat dari Allah. Ini telah terjadi pada banyak orang.

Di antara contohnya adalah apa yang diceritakan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah tentang gurunya yaitu Ibnu Taimiyah rahimahullah. Ibnu Qayyim berkata, ”Suatu kali beliau – yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah- berkata kepadaku:

مَا يَصْنَعُ أَعْدَائِيْ بِيْ !! أَنَا جَنَّتِيْ وَبُسْتَانِيْ فِيْ صَدْرِيْ ، أَيْنَ رِحْتُ فَهِيَ مَعِيْ لاَ تُفَارِقُنِيْ ، إِنَّ حَبْسِيْ خَلْوَةٌ ، وَقَتْلِيْ شَهَادَةٌ ، وَإِخْرَاجِيْ مِنْ بَلَدِيْ سِيَاحَةٌ

“Apa yang akan bisa dilakukan musuh-musuhku kepadaku ?!! Sungguh surgaku dan tamanku berada di dalam dadaku. Kemana pun aku bepergian, maka ia bersamaku dan tidak berpisah denganku. Sesungguhnya penahananku adalah khalwah (dengan Allah), dan pembunuhanku adalah syahadah (kematian syahid) dan pengusiranku dari negeriku adalah siyahah (tamasya).”

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

الحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَ اْلشُكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَ امْتِنَانِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Dari pemaparan pada khutbah yang pertama bisa disimpulkan bahwa sebuah bencana itu bila menimpa orang kafir maka itu merupakan hukuman buat mereka di dunia sebelum di akhirat nanti.

Bila menimpa orang muslim yang suka bermaksiat dan melakukan kemungkaran maka itu untuk menghapus dosanya dan mengingatkannya agar kembali kepada Allah dan mencegahnya tidak terus menerus tenggelam dalam dosa.

Bila menimpa orang mukmin yang taat dan istiqamah dalam beragama maka itu merupakan penghapusan dosa dan untuk meninggikan derajatnya di akhirat nanti.

Dan bila musibah itu menimpa para nabi dan rasul ‘alaihimus salam sementara mereka orang yang tidak pernah berdosa maka itu untuk meninggikan derajat mereka di akhirat nanti. Wallahu a’lam

Doa Penutup

Mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa kepada Allah Ta’ala

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَآصَّةً وَعَنْ سَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

اللَّهُمَّ أَرِنَا اْلحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا اْلبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكم، وَلَذِكرُ اللهِ أَكْبَرُ

Download Khutbah Tentang Musibah

Referensi:

i https://www.hablullah.com/?p=1747

ii https://islamqa.info/ar/answers/112905

iii https://www.msf-online.com/

iv https://islamqa.info/ar/answers/

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
Download Kumpulan Khutbah Jum’at
Inilah Cara Nabi Khutbah Jum’at

error: Content is protected !!