Khutbah Jumat Mahabbah Cinta Allah Kenali Tanda dan Cara Mendapatkannya

Khutbah Pertama

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ اْلكِتَابَ. أَظْهَرَ اْلحَقَّ بِاْلحَقِّ وَأَخْزَى اْلأَحْزَابَ وَأَتَمَّ نُوْرَهُ، وَجَعَلَ كَيْدَ اْلكَافِرِيْنَ فِيْ تَبَاب

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ اْلعَزِيْزِ اْلوَهَّابَ. المَلِكُ فَوْقَ كُلِّ اْلمُلُوْكِ وَرَبَّ اْلأَرْبَابِ.غَافِرُ الذَّنْبِ وَقَابِلُ التَّوْبِ شَدْيْدُ اْلعِقَابِ

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اْلمُسْتَغْفِرُ التّوَّاب.اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى اْلآلِ وَاْلأَصْحَابِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا .يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أمَّا بعد

Mukaddimah Pembukaan Khutbah Jumat

Pengertian Cinta Allah

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Para ulama menjelaskan bahwa seorang hamba berjalan menuju Allah itu dengan cinta, takut dan harap. Cinta merupakan kepala sedangkan Khauf (takut kepada Allah) dan Raja’ (berharap kepada Allah) merupakan sayap.

Cinta kepada Allah merupakan kekuatan hati, nutrisi ruh, penyejuk mata, sumber kebahagiaan jiwa, cahaya akal, puncak cita-cita dan ruh kehidupan.

Cinta kepada Allah merupakan ruh kehidupan yang menyebabkan siapa saja yang tidak mendapatkannya maka ia ibarat orang yang mati.

Cinta kepada Allah merupakan cahaya. Siapa saja kehilangan cahaya tersebut maka dia berada di lautan kegelapan.

Cinta kepada Allah merupakan obat yang bila tidak dimiliki maka seluruh penyakit akan bersarang dalam hatinya. Cinta kepada Allah merupakan kelezatan yang bila seseorang tidak bisa merasakannya maka seluruh kehidupannya merupakan kegelisahan dan kepedihan.

Ia merupakan ruh iman dan amal. Bila iman dan amal tanpa didasari cinta kepada Allah maka itu ibarat jasad tanpa ruh di dalamnya.

Sungguh beruntung orang yang telah mencapai tingkatan cinta kepada Allah. Kita memohon kepada Allah agar menyampaikan diri kita semuanya ke tingkatan tersebut.

Banyak orang yang mengaku bahwa dirinya mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala sementara mereka tidak mengetahui tanda-tandanya, cara mendapatkannya dan apa saja buahnya?

Oleh karena itu, dalam kesempatan khutbah ini kami berusaha menjelaskan beberapa persoalan penting terkait amal hati yang agung ini, yaitu mahabbatullah atau cinta kepada Allah Ta’ala.

Hal pertama yang perlu diketahui adalah tentang pengertian cinta kepada Allah. Menurut penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, secara syar’i mahabbatullah, atau rasa cinta seseorang kepada Allah adalah kecenderungan hati kepada Allah dengan cinta, pengagungan dan pengharapan.

Dengan demikian cinta kepada Allah itu merupakan amal hati, bisa bertambah dan berkurang. Setiap orang berbeda-beda tingkatan cintanya kepada Allah.[i]

Hukum Mahabbatullah

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Hal berikutnya yang perlu diketahui adalah tentang hukum mahabbatullah. Apakah hukum cinta kepada Allah Ta’ala?

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid mengatakan bahwa cinta kepada Allah merupakan pokok dari agama Islam yang menjadi poros agama ini.

Kesempurnaan cinta kepada Allah merupakan indikasi kesempurnaan iman dan sebaliknya, berkurangnya rasa cinta kepada Allah berarti tauhid seseorang telah berkurang juga. Cinta kepada Allah hukumnya wajib berdasarkan ijma’ atau kesepakatan ulama kaum Muslimin.

Seluruh hamba dibebani untuk melakukan apa saja yang akan menyampaikan menuju cinta kepada Allah untuk menyempurnakan keharusan iman dan syarat-syarat iman.

Suatu kali Al-Bashri menemui Abu ‘Abbas Ibnu Suraij. Ibnu Suraij bertanya kepadanya, tahukah kamu dimana nash dalam al-Quran yang menetapkan cinta kepada Allah itu fardhu (sebuah kewajiban)?” Al-Bashri menjawab, “Aku tidak tahu.” Lantas Ibnu Suraij berkata, “firman Allah ‘Azza wa Jalla,

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. [At-Taubah: 24]

Ancaman itu tidak akan terjadi kecuali atas tindakan meninggalkan kewajiban.” [Syu’abul Iman: 1/365]

Perlu diketahui bahwa cinta seorang hamba yang hukumnya wajib adalah kecintaan dengan pengungan dan penghormatan serta ibadah bukan jenis-jenis cinta yang lain.

Rasa cinta yang bersifat alami seperti cintanya orang yang lapar kepada makanan, orang yang haus kepada air itu tidak mengharuskan adanya pengagungan.

Demikian pula cinta orang tua kepada anak, cinta di antara orang-orang yang seprofesi, atau sesama ilmuwan atau sama-sama bergelut di dunia bisnis atau rasa cinta di antara saudara satu sama lain ini tidak ada masalah ada pada diri seseorang bersamaan dengan adanya rasa cinta kepada Allah.

Cinta yang hanya layak ditujukan kepada Allah dan tidak boleh ditujukan kepada selain Allah karena bisa menjadi bentuk kemusyrikan adalah kecintaan ubudiyah, kecintaan penghambaan yang mengharuskan adanya rasa hina, tunduk, pengagungan, kesempurnaan taat dan mengutamakannya lebih dari yang lain. Mahabbah atau cinta semacam ini tidak boleh digantungkan kepada selain Allah sama sekali.” [Taisirul ‘Azizil Hamid: 411][ii]

Tanda Cinta Hamba Pada Rabbnya

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Cinta pada Allah itu tersembunyi di dalam hati sehingga mudah bagi siapa saja untuk mengaku tentang cinta tersebut.

Allah Ta’ala berfirman tentang perilaku orang Yahudi dan Nasrani,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىٰ نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ ۚ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ ۖ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ ۚ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya.

Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). [Al-Maidah: 18]

Oleh karena itu selayaknya setiap orang tidak tertipu dengan tipu daya setan, dan diri sendiri, bila dirinya mengaku mencintai Allah selama belum dia uji dengan tanda-tandanya dan memberikan bukti-buktinya agar mengetahui apakah pengakuan itu benar atau dusta.

Cinta kepada Allah itu merupakan pohon yang baik yang akarnya kokoh dan cabangnya menjulang ke langit, tanda-tandanya terlihat dalam hati dan pada anggota badan.

Tanda-tanda bukti cinta tersebut seperti buah bagi pohon dan asap bagi api. Tanda-tanda itu banyak, sebagiannya dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid sebagai berikut:

1. Mencintai pertemuan dengan Allah Ta’ala

Hal ini sebagaimana dalam hadits Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

”Siapa yang suka bertemu dengan Allah, maka Allah suka bertemu dengannya dan sia yang tidak suka bertemu dengan Allah maka Allah juga tidak suka bertemu dengannya.” [Hadits riwayat Al-Bukhari (6507) dan Muslim (2683)]

Jadi seorang pecinta sejati itu senantiasa mengingat yang dia cintai dan tidak akan lupa janji pertemuan dengannya.

2. Suka menyendiri untuk bermunajat kepada Allah Ta’ala dan membaca kitab-Nya

Muhammad bin Al-‘ala’ rahimahullah berkata, “Siapa yang mencintai Allah dia akan suka tidak dikenal oleh manusia.”

Al-Junaid rahimahullah berkata, “Siapa yang mencintai Allah maka dia akan lupa dengan selain Allah.”

Dengan demikian orang yang mencintai Allah itu tekun melaksanakan tahajud dan memanfaatkan heningnya malam dengan bermunajat kepada Allah.

3. Sabar dalam melakukan ketaatan.

4. Sabar terhadap hal-hal yang tidak disukai.

Al-Halimi rahimahullah berkata, “Siapa yang mencintai Allah Ta’ala tidak akan menganggap berbagai musibah yang Allah tetapkan itu sebagai bentuk perlakuan buruk Allah Ta’ala kepada dirinya dan tidak merasa berat terhadap tugas-tugas beribadah kepada-Nya dan melaksanakan kewajiban dari Allah Ta’ala yang telah ditetapkan atas dirinya.” [Syu’abul Iman (1/368]

5. Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya.

Hal ini sebagaimana dalam hadits Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Wahai Rasulullah! Anda benar-benar lebih saya cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku sendiri.”

Maka Nabi ﷺ bersabda, “Bukan demikian. Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sampai aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri.” Lalu Umar berkata kepada Nabi ﷺ , “Sungguh sekarang demi Allah, Anda benar-benar lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Maka Nabi ﷺ bersabda, “Sekarang (sudah benar) wahai Umar.” [Hadits riwayat Al-Bukhari (6632)]

Dengan demikian, tanda cinta sejati adalah seorang hamba lebih mengutamakan Allah dan rasul-Nya melebihi yang lainnya, baik itu anaknya, orang tuanya, seluruh manusia dan bahkan segala syahwat apa pun.

Siapa saja yang lebih mengutamakan sesuatu yang dia sukai melebihi Allah Ta’ala maka hatinya sakit.

6. Sangat suka berdzikir kepada Allah Ta’ala.

Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Tanda cinta kepada Allah adalah terus menerus berdzikir karena siapa yang mencintai sesuatu dia akan sering mengingatnya.” [Syu’abul Iman: 1/388]

7. Mencintai Al-Quran

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Siapa yang ingin sekali untuk mengetahui bahwa dirinya mencintai Allah ‘Azza wa Jalla maka hadapkanlah dirinya ke Al-Quran. Apabila dia menyukai al-Quran berarti dia mencintai Allah ‘Azza wa Jalla karena Al-Quran itu kalamullah ‘Azza wa Jalla.” [As-Sunnah li Abdillah bin Ahmad (125)]

8. Bersikap lembut kepada sesama mukmin, bersikap keras kepada orang kafir (yang memerangi Islam dan kaum Muslimin) dan berjihad di jalan Allah.

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ -٥٤-

Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan Mendatangkan suatu kaum, Dia Mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang Diberikan-Nya kepada siapa yang Dia Kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui. [Al-Maidah: 54]

9. Mengikuti syariat Allah Ta’ala

Sebagaimana firman ALlah Ta’ala,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ -٣١-

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah Mencintaimu dan Mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. [Ali Imran: 31]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat yang mulia ini menjadi penentu bagi setiap orang yang mengaku dirinya mencintai Allah namun tidak mengikuti jalan Muhammad ﷺ maka sebenarnya dia telah berdusta dalam pengakuannya dalam hal tersebut sampai dia mengikuti syariat Muhammad ﷺ dan agamanya dalam seluruh perkataan, perbuatan dan keadaannya.” [Tafsir Ibnu Katsir: 1/477]

10. Setia karena Allah dan memusuhi karena ALlah

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tanda kesempurnaan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah benci kepada orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya.” [Majmu’ Fatawa: 8/361]

11. Mencintai orang-orang mukmin dan orang-orang shalih.

Syah Al-Kirmani rahimahullah berkata, “Mencintai wali-wali Allah termasuk tanda bukti kecintaan kepada Allah.” [Hilyatul Auliya’: 10/237]

12. Zuhud dalam kehidupan dunia ini.

Sesungguhnya cinta kepada Allah itu berkonsekuensi untuk tidak menyukai kehidupan dunia ini dan bersikap zuhud terhadapnya karena menggantungkan hatinya kepada yang lebih besar dari semua urusan ini.[iii]

Rekomendasi Khutbah Jumat Keutamaan Puasa Syawwal

Sebab Mendapatkan Cinta Allah

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Seorang Muslim harus berusaha keras mencurahkan segala kemampuan dan kesungguhannya untuk menjadi orang yang mencintai Allah Ta’ala. Lantas bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan cinta kepada Allah Ta’ala? Ada sejumlah langkah yang perlu dilakukan sebagaimana penuturan Syaih Muhammad Shaliha Al-Munajjid, yaitu:

  1. Membaca Al-Quran dengan tadabbur dan memahami kandungan makna dan maksudnya.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Siapa yang suka agar dia mencintai Allah dan Rasul-Nya maka hendaklah membaca Al-Quran dengan Mushaf.” [Hilyatul Auliya’: 7/209) dihasankan oleh Al-Albani]

  1. Melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Kecintaan seorang hamba kepada Allah bisa didapatkan dengan melakukan ketaatan kepada-Nya dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya.” [Fathul bari: 1/61]

  1. Mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan amalan sunnah setelah melaksanakan yang wajib.

Hal ini sebagaimana hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda,”Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman,”Siapa saja yang memusuhi wali-Ku, maka benar-benar Aku nyatakan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada dengan apa saja yang telah Aku wajibkan kepadanya.

Hamba-Ku terus menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.

Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.” [Hadits riwayat: Al-Bukhari (6502)]

  1. Memperbanyak dzikir dengan lisan, hati dan amalan.
  2. Memperhatikan kebaikan, nikmat dan anugerah Allah Ta’ala baik yang nampak maupun tidak nampak.
  3. Mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala.

‘Utbah rahimahullah berkata, “Siapa yang mengenal Allah maka akan mencintainya.” [Hilyatul Auliya’: 6/236]

  1. Menyendiri dengan Allah Ta’ala di saat sepertiga malam terakhir.

Allah Ta’ala berfirman,

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفاً وَطَمَعاً وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ -١٦-

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhan-nya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami Berikan kepada mereka. [As-Sajdah: 16]

Kemungkinan masih ada cara yang lainnya untuk meraih cinta kepada Allah Ta’ala namun kita cukupkan sampai di sini.[iv]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Kumpulan-Materi-Khutbah-Jumat-Singkat-147

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِمَامُ الأَنبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

  أَمَّا بَعْدُ

Buah Cinta Allah

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Sesungguhnya mengetahui buah dari sesuatu itu akan membantu dalam upaya meraih hal tersebut.

Maka dalam khutbah kedua ini kami akan jelaskan buah-buah dari mahabbah atau cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan harapan hal ini akan menjadi penguat dorongan untuk berusaha mendapatkan cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di antara buah dari cinta kepada Allah adalah:

  1. Masuk ke dalam surga dan dijauhkan dari neraka.

Andaikan buah dari cinta kepada Allah hanyalah berupa masuk ke dalam surga dan selamat dari neraka tentu hal ini sudah cukup bagi setiap orang agar tidak mengganti cinta kepada Allah dengan selainnya untuk selamanya.

  1. Mendapatkan cinta dari Allah Ta’ala

Hal ini sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Nabi ﷺ mengutus seseorang dalam sebuah unit pasukan (sariyah). Saat dia mengimami shalat para sahabatnya dia biasa menutup bacaannya dengan Qul huwallahu Ahad.

Ketika mereka kembali ke Madinah hal itu disampaikan kepada Nabi ﷺ . Lantas Nabi ﷺ bersabda, “Tanyalah dia mengapa di melakukan hal itu?” Lalu para sahabat bertanya kepada pria tersebut, dan dia menjawab karena itu merupakan sifat Ar-rahman dan aku suka untuk membaca surat tersebut.

Nabi ﷺ bersabda kepada para sahabat, “Beritahulah dia, bahwa Allah mencintainya.” [Hadits riwayat Al Bukhari (7375) dan Muslim (813)]

  1. Mendapatkan pujian manusia dalam kehidupan di dunia.

Ini sebagaimana dalam hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Sebuah jenazah dibawa melewati Rasulullah ﷺ , maka Rasulullah ﷺ  bersabda, “Pujilah jenazah tersebut.” Maka para sahabat berkata, “Yang kami ketahui tentang dirinya adalah dia mencintai Allah dan rasul-Nya. Para sahabat memujinya dengan kebaikan.” [Hadits riayat Ahmad (13062) dan dishahihkan oleh Al-Albani]

  1. Terlindung dari laknat.

Hal ini berdasarkan hadits dari Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang lelaki di masa Rasulullah ﷺ biasa membikin Rasulullah ﷺ tertawa. Nabi ﷺ pernah menghukum jilid dirinya karena minum khamr.

Suatu hari dia ditangkap lagi dan diperintahkan agar dia dijilid. Ada salah seorang berkata, “Ya Allah, Laknatlah dia. Betapa seringnya dia melakukan ini.” Maka Nabi ﷺ bersabda, “Jangan kalian laknat dia. Demi Allah yang aku ketahui, dia mencintai Allah dan rasul-Nya.” [Hadits riwayat Al-Bukhari (6780)]

Al-Hafizh Ibnu Katsir bekata tentang hadits ini, “Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya itu terlaknat.” [Tafsir Ibnu Katsir: 1/272][v]

Demikian tadi sebagian dari buah-buah cinta kepada Allah Ta’ala. Semoga memberikan tambahan dorongan kepada kita agar bekerja lebih keras untuk bisa mencintai Allah Ta’ala dan mendapatkan cinta dari Allah Ta’ala.

Kumpulan-Materi-Khutbah-Jumat-Singkat-147-Lengkap

Doa Penutup

Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita semuanya dan memberi rezeki kekuatan kepada kita untuk mendapatkannya. Mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa kepada Allah Ta’ala.

اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


[i] Al-Mahabah, Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, Majmu’atuz Zaad lin Nasyr, 1430 H / 2009 M, hal. 9.

[ii] Ibid, 10-12.

[iii] Ibid, 13-34 dengan diringkas.

[iv] Ibid, 35-52 dengan diringkas.

[v] Ibid, 53-56.

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Materi Khotbah Jum’at Singkat
Khutbah Jumat Tentang Tafakur
Khutbah Jumat Menggapai Ridha Allah
Khutbah Jumat Tawakal Kepada Allah

Print Friendly, PDF & Email