Khutbah Jumat: Hakikat Tawakkal, Keutamaan & Buahnya

Khutbah Pertama

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ فَقَّهَ مَنْ أَرَادَ بِهِ خَيْرًا فِيْ الدِّيْنِ، وَشَرَعَ أَحْكَامَ اْلحَلَالَ وَاْلحَرَامَ فِيْ كِتَابِهِ اْلمُبِيْنِ، وَأَعَزَّ اْلعِلْمَ وَرَفَعَ أَهْلَهُ الَّذِيْنَ اتَّقَوْهُ وَكَانُوْا بِهِ عَالِمِيْنَ، أَحْمَدُهُ حَمْدًا يَفُوْقُ حَمْدَ اْلحَامِدِيْنَ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِيْ لَا تُحْصَى وَإِيَّاهُ أَسْتَعِيْنُ، وَأَسْتَغْفِرُهُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ وَأَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ إِنَّهُ يُحِبُّ اْلمُتَوَكِّلِيْنَ

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَرْسَى قَوَاعِدَ الشَّرْعِ وَبَيَّنَهَا أَحْسَنَ تَبْيِيْنٍ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

أما بعد فيا أيها المؤمنون! اتقوا الله ربكم؛ فإنه أهل أن يُتقى، واشكروه على نعمه التي لا تُعد ولا تُحصى، فقد تأذن بالزيادة للشاكرين، وتوبوا إليه فإننا خطاءون وهو الغفور الرحيم

Mukaddimah Pembukaan Khutbah Jumat

Pengertian Tawakkal

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Tema pembahasan khutbah hari ini adalah salah satu akhlak islam yang sangat mulia, besar manfaatnya, agung pengaruhnya, setiap hamba Allah membutuhkannya dalam kondisi senang maupun susah bahkan dalam seluruh keadaannya.

Akhlak ini merupakan salah satu cabang iman, salah satu amal hati yang keutamaannya ditunjukkan oleh banyak sekali ayat dan hadits. Siapa saja yang berpegang teguh kepadanya Allah akan melindunginya dan menjaganya serta memberinya rezeki dan mencukupinya.

Pembahasan kita hari ini adalah tentang tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apakah sebenarnya tawakal itu?

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajid menjelaskan bahwa secara bahasa tawakal berarti menampakkan kelemahan dan bersandar kepada yang lain. Sedangkan secara istilah para ulama memberikan definisi yang bermacam – macam.

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan tawakal adalah benarnya ketergantungan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam rangka mendapatkan berbagai manfaat dan menghindarkan dari berbagai madharat baik urusan dunia maupun akhirat seluruhnya.” [Jami’ul Ulum wal Hikam: 436]

Al-Hasan rahimahullah berkata, “Tawakal seorang hamba kepada Tuhannya itu berarti dia mengetahui bahwa Allah itulah kepercayaannya.” [Jami’ul Ulum wal Hikam: 437]

Az-Zubaidi rahimahullah berkata, “Tawakal adalah tsiqah (percaya penuh) dengan apa yang ada di sisi Allah serta berputus asa terhadap apa yang ada di tangan manusia.” [Tajul ‘Arus, Madah (wakala)]

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tawakal adalah benarnya ketergantungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam meraih berbagai manfaat dan menghindarkan dari segala madharat dengan melakukan sebab-sebab yang diperintahkan oleh Allah untuk dilakukan.” [Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibni ‘Utsaimin: 1/63]

Ini merupakan definisi yang bagus karena paling komplit dan utuh.[i]

Hukum Tawakal

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Apakah hukum tawakal dalam Islam?

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajid menegaskan bahwa Tawakal kepada Allah itu hukumnya wajib. Ia merupakan salah satu kewajiban yang agung dalam syariat Islam. bahkan, tawakal merupakan syarat iman.

Hal ini merupakan kesimpulan dari firman Allah Ta’ala,

قَالَ رَجُلاَنِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُواْ عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ –

Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang telah diberi nikmat oleh Allah, “Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman.” [Al-Maidah: 23]

Apabila tawakal telah sirna maka hilang pula imannya.

Tawakal merupakan salah satu pondasi tauhid uluhiyah sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ -٥-

Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. [Al-Fatihah: 5][ii]

Kedudukan Tawakal

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Tawakal memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Keagungan kedudukan tawakal ini digambarkan dengan jelas dan menarik oleh Dr. Sulaiman bin Qasim bin Muhammad Al-‘id. Beliau mengatakan:

“Tawakal kepada Allah merupakan akhlak Islam yang agung. Ia merupakan tingkatan yakin yang paling tinggi dan keadaan para muqarrabin yang paling mulia. Tawakal merupakan setengah dari agama sedangkan setengah sisanya adalah inabah kepada Allah.

Tawakal merupakan kunci segala kebaikan karena ia merupakan maqam atau kedudukan tauhid yang paling tinggi serta ibadah yang paling agung. Tawakal adalah kewajiban yang harus dilakukan ikhlas karena Allah Ta’ala dan keyakinan Islam berdasarkan firman Allah Ta’ala

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman. [Al-Maidah: 23]

Tawakal merupakan salah satu syarat iman, keharusan iman dan tuntutan keimanan. Setiap kali iman seorang hamba bertambah kuat maka tawakalnya bertambah besar. Apabila imannya melemah maka tawakalnya juga melemah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Dan kepada Allah saja hendaknya orang-orang beriman itu bertawakal. [Ali Imran: 122]

dalam ayat lainnya Allah berfirman,

وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ

Dan Musa berkata, “Wahai kaumku! Apabila kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya, jika kamu benar-benar orang Muslim (berserah diri).” [Yunus: 84]

Tawakal merupakan jenis ibadah yang paling agung dan paling mencakup banyak hal karena dari tawakallah tumbuh berbagai amal shaleh. Tawakal itu diiringkan dengan tiga tingkatan agama, yaitu Islam, Iman dan Ihsan serta syiar-syiar agama yang agung.

Tawakal merupakan salah satu prinsip ibadah. Tauhid seorang hamba tidak akan sempurna tanpa tawakal. Perintah untuk bertawakal begitu banyak dalam Al-Quran. Di antaranya adalah ayat berikut:

فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ

Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. [Hud: 123]

dan

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ

Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup, Yang tidak mati, [Al-Furqan: 58]

Tawakal merupakan ciri khas orang mukmin yang benar-benar jujur dalam imannya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, [Al-Anfal: 2]

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Ada empat perkara yang tidak Allah berikan kecuali kepada orang yang Allah cintai yaitu sikap diam yang merupakan permulaan ibadah, tawakal kepada Allah, tawadhu’ dan zuhud di dunia.” [Hadits riwayat Ath-Thabrani di dalam Ithaafus Saadah][iii]

Urgensi Tawakal

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Ada beberapa hal yang menunjukkan betapa urgennya tawakal ini dalam Islam. Di antara urgensi tawakal adalah:

  1. Allah telah memerintahkan nabi-Nya ﷺ dan para nabi sebelum beliau untuk bertawakal kepada-Nya dan menjadikan tawakal sebagai syiar bagi para hamba-Nya yang beriman dan menjadi pujian buat mereka.

Allah telah memerintahkan Rasul-Nya ﷺ untuk bertawakal kepada-Nya dalam 9 ayat. Demikian pula Allah memerintahkan orang-orang mukmin secara umum untuk bertawakal.

  1. Tawakal merupakan akhlak para rasul seluruhnya dan juga merupakan sifat agung yang paling menonjol dari orang-orang yang beriman.

Ini karena ketergantungan hati kepada sebab-sebab yang zhahir dan meyakini bahwa sebab-sebab zhahir tersebutlah yang memiliki pengaruh berarti menodai kebenaran iman dan kebersihannya. Bahkan hal itu pada hakikatnya merupakan sebuah bentuk meusyrikan kepada Allah Ta’ala.

  1. Tawakal itu amat sangat dibutuhkan oleh setiap muslim khususnya dalam masalah rezeki, atau juga oleh para pelaku dakwah dan pengemban risalah serta para pelaku perbaikan masyarakat yaitu muslihun atau pembaharu menuju kebaikan.
  2. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Tawakal itu mencakup iman secara keseluruhan.”
  3. Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, ”Tawakal kepada Allah itu setengah dari iman.”
  4. Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Puncak iman itu adalah ikhlas, tawakal serta berserah diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
  5. Sahl bin Abdullah At-Tustari rahimahullah berkata, “Siapa yang mencela usaha ikhtiyari berarti telah mencela sunnah dan siapa yang mencela tawakal maka dia telah mencela iman.”[iv]
Khutbah Jumat Tentang Gempa Bumi Dalam Islam
Khutbah Jumat Tentang Sebab Bencana dan Musibah

Keutamaan Tawakal

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Sekarang kita akan melihat apa saja keutamaan tawakal dalam al-Quran dan as-Sunnah. Semoga pemaparan tentang keutamaan ini bisa menguatkan semangat kita semua untuk meningkatkan level tawakal kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Dalil dari al-Quran

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengatakan lafazh tawakal di dalam al-Quran ada di 42 tempat. Gaya Al-Quran dalam menjelaskan keutamaan tawakal dan dorongan untuk bertawakal itu bermacam -macam. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Allah ‘Azza wa Jalla memerintah Nabi-Nya ﷺ untuk bertawakal kepada-Nya

Misalnya dalam firman Allah,

فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّكَ عَلَى الْحَقِّ الْمُبِينِ -٧٩-

“Maka bertawakallah kamu kepada Allah. Sesungguhnya kamu di atas kebenaran yang nyata.” [An-Naml: 79]

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيراً -٥٨-

Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup, Yang tidak mati, [Al-Furqan: 58]

dan firman Allah Ta’ala

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ -١٥٩-

Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah Mencintai orang yang bertawakal.[Ali Imran: 159]

  1. Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk bertawakal kepada-Nya. Ini sebagaimana firman Allah,

إِذْ هَمَّت طَّآئِفَتَانِ مِنكُمْ أَن تَفْشَلاَ وَاللّهُ وَلِيُّهُمَا وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ -١٢٢-

ketika dua golongan dari pihak kamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah Penolong mereka. Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang Mukmin bertawakal. [Ali Imran: 122]

  1. Allah mensifati orang-orang mukmin sebagai orang-orang yang bertawakal kepada Tuhannya.

Tawakal kepada Allah merupakan sifat yang tinggi, syiar yang khas yang membedakannya dari yang lain serta tanda yang paling menonjol dari orang mukmin. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, [Al-Anfal: 2]

  1. Menyebutkan contoh-contoh tawakal para Nabi ‘alaihimus salam.

Allah telah memerintah kita untuk menjadikan Ibrahim ‘alaihis salam dan orang-orang mukmin yang bersamanya sebagai suri teladan. Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ ٤-

Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya. [Al-Mumtahanah: 4]

Saat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dilempar ke dalam api yang sangat besar dengan sebuah alat pelontar, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mengucapkan kalimat,”Hasbiyallahu wa ni’mal wakil.” (Cukuplah Allah bagiku dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.)

Sebagaimana dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Hasbunallahu wa ni’mal wakil, ” ini diucapkan oleh Ibrahim saat dilemparkan ke dalam api.” [Hadits riwayat Al-Bukhari (4563)][v]

Dalil dari As-Sunnah

  1. Imam Al-Bukhari meriwayatka dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa dia berkata,’Rasulullah ﷺ bersabda,

”Ditampakkan kepadaku beberapa ummat. Ada nabi yang berjalan dengan diikuti oleh satu ummat. Ada nabi yang diikuti oleh beberapa orang. Ada nabi yang diikuti oleh sepuluh orang.

Ada nabi yang diikuti oleh lima orang, dan ada nabi yang berjalan sendiri (tanpa pengikut). Aku memperhatikan ada sekumpulan orang dalam jumlah besar. Aku berkata, ‘Wahai Jibril, apakah mereka itu ummatku?”

Jibril menjawab, ‘Bukan, tapi lihatlah ke ufuk!” Aku pun melihat ternyata ada sejumlah besar manusia. Jibril berkata, ‘Mereka adalah ummatmu, 70.000 orang di depan mereka itu tidak akan dihisab dan tidak akan diadzab.’

Aku berkata, ‘Mengapa?’ Dia menjawab, ‘Mereka tidak minta diobati dengan cara kay (menggunakan besi panas), tidak minta diruqyah, dan tidak melakukan tathayyur (meyakini tertimpa sial karena sesuatu hal), serta hanya kepada Allah mereka bertawakal.’[Hadits riwayat Al- Bukhari 6059]

  1. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari Umar radhiyallahu ‘anhu secara marfu’, “Andaikan kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal kepada-Nya, Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Burung pergi di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan kembali dalam keadaan kenyang.”
  2. Di dalam Sunan, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang mengucapkan – ketika keluar dari rumahnya- Bismillah tawakaltu ‘alallahi wa laa haula wa laa quwwata illa bilaah, maka akan dikatakan kepadanya, “Kamu diberi petunjuk, dipelihara dan dicukupi. Lalu setan berkata kepada setan lainnya, bagaimana kamu menghadapi orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi dan dijaga?”

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

155 Materi Khutbah Jumat Terbaru

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِمَامُ الأَنبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.  أَمَّا بَعْدُ

Buah Tawakal

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Pada khutbah yang kedua ini, kami akan sampaikan sejumlah faedah atau buah yang agung dari bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid.

  1. Siapa yang bertawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya.

ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ –

Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan Mencukupkan (keperluan)nya. [ Ath-Thalaq: 3]

  1. Merasakan kebersamaan Allah

Hal ini karena ketika seseorang bertawakal kepada Allah dan bersandar kepada-Nya, dia akan merasakan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla itu dekat kepadanya. Allah itu yang menolongnya untuk meraih tujuannya. Dengan demikian dia merasakan bersama Allah Ta’ala di setiap waktu dan keadaan.

  1. Meraih kecintaan Allah Ta’ala

Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertawakal kepadanya dengan sebenar-benar tawakal karena orang yang bertawakal ini mengamalkan perintah-perintah-Nya dan mengambil sebab-sebab yang Allah syariatkan serta hatinya terus bergantung kepada Allah Ta’ala.

  1. Mendapatkan pertolongan atas musuh.

Siapa saja yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan menolongnya atas musuhnya dan menyediakan sebab-sebab pertolongan untuk mengalahkan musuh tersebut. Para sahabat mengetahui hal tersebut.

Oleh karena itu mereka berkata, sebagaimana dikisahkan oleh Allah Ta’ala,

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُواْ لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَاناً وَقَالُواْ حَسْبُنَا اللّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ -١٧٣- فَانقَلَبُواْ بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللّهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُواْ رِضْوَانَ اللّهِ وَاللّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ -١٧٤-

(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi Penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung.”

 Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana dan mereka mengikuti keridaan Allah. Allah Mempunyai karunia yang besar. [Ali Imran: 173-174]

  1. Masuk surga tanpa hisab

Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam hadits riwayat Al-Bukhari yang menegaskan adanya 70 ribu orang dari umat Muhammad ﷺ yang akan masuk surga tanpa hisab.

  1. Mendapatkan rezeki

Hal ini sebagaimana dalam hadits dari Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (2344) bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, kalia pasti akan diberi rezeki sebagaimana burung telah diberi rezeki. Burung pergi dipagi hari dalam keadaan perut kosong dan kembali dalam keadaan kenyang.”

  1. Terjaga dirinya, keluarganya dan anaknya.

Hal ini sebagaimana dilakukan Ya’qub ‘alaihis salam. Beliau memberikan sejumlah nasehat kepada anak-anaknya untuk menjaga mereka setelah itu beliau menyerahkan urusannya kepada Allah Ta’ala.

Beliau berkata sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

وَقَالَ يَا بَنِيَّ لاَ تَدْخُلُواْ مِن بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُواْ مِنْ أَبْوَابٍ مُّتَفَرِّقَةٍ وَمَا أُغْنِي عَنكُم مِّنَ اللّهِ مِن شَيْءٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ -٦٧-

Dan dia (Ya‘qub) berkata, “Wahai anak-anakku! Janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda; namun demikian aku tidak dapat mempertahankan kamu sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan itu hanyalah bagi Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya pula bertawakallah orang-orang yang bertawakal.” [Yusuf: 67]

  1. Dijaga dari setan

Hal ini sebagaimana sabda Nabi ﷺ , “Siapa yang keluar dari rumahnya lalu membaca Bismillah tawakkaltu ‘alallahi Laa haula wa laa quwwata illa billaah, maka aka dikatakan kepadanya, kamuakan dicukupi, dan dipelihara dan setan menyingkit dari dirinya.” [Hadits shahih riwayat At-Tirmidzi (3426) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu]

  1. Ketentraman jiwa.
  2. Membangkitkan tekad untuk beramal karena tawakal membuka pintu untuk mengambil sebab yang disyariatkan.[vi]
155 Kumpulan Khutbah Jumat Singkat

Doa Penutup

Demikian banyak faedah dan buah dari tawakal. Semoga Allah berkenan untuk memberikan kepada kita semuanya rezeki kekuatan untuk bisa bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal sehingga bisa mendapatkan buah yang banyak ini seluruhnya.

Marilah kita akhir khutbah ini dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


[i] At-Tawakal, Muhammad Shalih Al-Munajjid, Majmu’atu Zaad, Saudi Arabia, 1430 H / 2009 M, cetakan pertama,hal. 9-10.

[ii] Ibid, hal. 21.

[iii] https://www.alukah.net/sharia/0/52989/

[iv] https://www.alukah.net/sharia/0/52989/

[v] At-Tawakal, Muhammad Shalih Al-Munajjid, Majmu’atu Zaad, Saudi Arabia, 1430 H / 2009 M, cetakan pertama,hal. 21-25.

[vi] Ibid, hal. 35-42.

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Khutbah Jum’at ٍSingkat
Khutbah Jumat Tentang Bersyukur Kepada Allah
Khutbah Jumat Keutamaan Sabar

Print Friendly, PDF & Email