Khutbah Jumat: Tentang Tafakkur, Urgensi, Keutamaan & Buahnya

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

Mukaddimah Pembukaan Khutbah Jumat

Pengertian Tafakkur

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kemungkinan besar kita pernah mendengar hadits yang cukup masyhur ini:

فِكْرَةُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً

” Berfikir sesaat itu lebih baik dari ibadah selama 60 tahun.” [Hadits riwayat Abu Syaikh di dalam Al-‘Azhamah (43) dan Ibnul Jauzi di dalam Al-Maudhu’at (3/144). ]

Ini adalah hadits maudhu’ atau hadits palsu. Syaikh nashirudin Al-Albani rahimahullah sebagai pakar hadits terbesar abad 20 memasukkannya dalam kitabnya: Silsilah Al-Ahadits Ad-Dha’ifah (173) dan mengatakan bahwa ini hadits maudhu’.”

Namun demikian bukan berarti tafakur itu sesuatu yang tercela atau terlarang. Bahkan ia merupakan amal hati yang sangat agung.

Dalam kesempatan khutbah ini, kami ingin menjelaskan apa itu tafakur, dasar diperintahkannya dalam syariat Islam, macam-macamnya, urgensi serta buah-buahnya.

Diharapkan pembahasan ini bisa memberikan gambaran yang benar dan agak lengkap tentang tafakur dalam Islam dan mendorong kita untuk terbiasa melakukannya.

Hal pertama yang perlu kita pahami adalah tentang pengertian tafakkur. Secara bahasa kata تَفَكُّرُ berarti at- ta-ammul (memperhatikan) dan an-nazhru (mengkaji dann mengamati). Kata tafakkur merupakan pecahan dari al-Fikru.

Sedangkan secara istilah, menurut Ath-Thahir bin ‘Asyur rahimahullah, tafakkur adalah pengembaraan atau penjelajahan akal dalam perjalanan untuk memperoleh faedah ilmu yang benar.” [At-Tahrir wat tanwir (3/244][i]

Perintah Tafakkur

JamaahJumat rahimakumullah,

Banyak sekali ayat yang menunjukkan yang mewajibkan orang-orang beriman untuk melakukan tafakkur, baik tafakkur terkait ayat-ayat atau, ciptaan-ciptaan atau tentang diri mereka sendiri atau pun tentang siksa Allah Ta’ala dan rahmat serta surga-Nya.

  1. Surat Ali Imran: 190-192

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ -١٩٠- الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ -١٩١- رَبَّنَا إِنَّكَ مَن تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ -١٩٢-

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau Menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya orang yang Engkau Masukkan ke dalam neraka, maka sungguh, Engkau telah Menghinakannya, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang yang zalim.

Dalam ayat ini Allah memuji hamba-hambanya yang suka berfikir.

Seorang ulama Tabi’in bernama Atha’ bin abi rabah berkata, “Aku dan ‘Ubaid bin ‘Umair menemui ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma. Ibnu ‘Umair berkata, “Tolong beritahulah kami sesuatu yang paling menakjubkan yang Anda lihat dari Rasulullah ﷺ!

Beliau diam sejenak lalu berkata, “Pada suatu malam Rasulullah ﷺ bersabda, “Biarkan aku beribadah kepada Rabbku pada malam ini.” ‘Aisyah berkata, “Demi Allah, aku benar-benar suka di dekat anda dan menyukai apa yang membuat anda bahagia.”

‘Aisyah lalu berkata lagi, “Beliau berdiri dan bersuci kemudian shalat. Beliau menangis terus hingga basah ujung bajunya.Beliau terus menangis hingga basah jenggotnya. Dan beliau terus saja menangis sampai tanah menjadi basah.

Lalu datanglah Bilal mengumandangkan adzan untuk shalat Shubuh. ketika Bilal melihat Rasulullah ﷺ sedang menangis, dia bertanya, “Wahai Rasulullah! Mengapa Anda menangis? Sungguh Allah telah mengampuni anda segala kesalahan di masa lalu dan di masa yang akan datang?”

Rasulullah ﷺ menjawab, “Tidakkah semestinya aku menjadi hamba yang bersyukur? Sungguh telah turun kepada ada malam ini satu ayat. Celakalah orang yang membacanya dan tidak berfikir tentangnya.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” [Ali Imran: 190] [Hadits riwayat Ibnu Hibban di dalam Shahihnya no. 620 dan dishahihkan oleh Al-Albani.”]

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang tidak berfikir tentang ayat ini terancam dengan siksaan. Allah tidak akan mengancam dengan siksa kecuali terhadap orang yang menyelisihi perintah-Nya. Dengan demikian menjadi jelas bahwa tafakkur itu perkara yang wajib hukumnya.

  1. Surat Ar-Ra’du: 2-3

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ

وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا ۖ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ ۖ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

2. Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu.

3. Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Masih banyak ayat lainnya namun ini cukup mewakili dalam memberikan gambaran tentang wajibnya melakukan tafakkur bagi orang beriman.[ii]

Macam-Macam Tafakkur

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Tafakkur itu ada batas-batasnya yang tidak boleh dilewati oleh seorang Muslim sehingga pemikirannya tidak jauh menyimpang. Seorang Muslim jangan memikirkan tentang dzat Allah dan gambaran sifat-sfat Allah-Nya.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Berfikirlah tentang segala sesuatu dan jangan berfikir tentang Dzat Allah.” [Al-Inabah, Ibnu Bathah (108)]

Tafakkur yang bermanfaat bagi seorang Muslim di antaranya adalah memikirkan hal-hal berikut ini:

1. Tafakkur tentang diri manusia itu sendiri.

Allah Ta’ala berfirman,

أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنفُسِهِمْ

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? [Ar-Rum: 8]

Berfikir tentang jiwa manusia ini meliputi beberapa persoalan:

  • Tafakkur tentang bagaimana Allah menciptakan manusia.
  • Tafakur tentang aib-aib diri sendiri. Ini perkara yang penting karena seseorang tidak akan bisa mengoreksi dirinya, mengevaluasi aib-aibnya dan memperbaikinya kecuali setelah berfikir tentangnya.
  • Tafakkur tentang keadaan istri, anak dan keluarga. Maksudnya adalah memikirkan apa saja kekurangan dari mereka dan bagaimana cara terbaik dan paling tepat untuk memperbaikinya.

2. Tafakkur tentang penciptaan langit dan bumi serta keajaiban alam.

Mengapa kita perlu berfikir tentang penciptaan langit dan bumi serta keajaiban alam ini?

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menjawab pertanyaan tersebut dalam tafsirnya demikian:

“Untuk menyimpulkan tujuan dari penciptaan langit dan bumi. Hal ini menunjukkan bahwa tafakkur itu ibadah yang merupakan sifat wali-wali Allah yang berpengetahuan. Bila mereka memikirkan hal tersebut mereka tahu bahwa Allah Ta’ala tidak menciptakan langit dan bumi secara sia-sia tanpa tujuan yang jelas.

Mereka akan mengatakan:

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ

Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau,

[Ali Imran: 191]Maha Suci Engkau dari segala hal yang tidak sesuai dengan keagungan-Mu.” [Taisirul karimir rahman: 161]

3. Tafakkur tentang nikmat-nikmat Allah

Ini merupakan medan tafakkur yang sangat penting. Misalnya memikirkan tentang pekerjaan yang Allah karuniakan kepadanya, tentang istri yang dia nikahi yang sebelumnya tidak dikenalnya lalu Allah tunjukan dia kepadanya sehingga dia menjadi orang terdekatnya.

Kemudian memikirkan tentang keadaan yang aman tenteram di lingkungan dia berada tanpa ada perang dan kerusuhan dan seterusnya.

4. Tafakkur tentang dunia dan akhirat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُون .فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir. Tentang dunia dan akhirat. [Al-Baqarah: 219-220]

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma saat menjelaskan tafsir ayat tersebut mengatakan, “Yakni, tentang sirnanya dan fananya dunia serta datangnya akhirat dan keabadiannya.” [Tafsir Ath-Thabari: 2/369]

Empat macam tafakkur ini tadi adalah tafakkur yang terpuji dan diperintahkan syariat. Namun ada area yang tidak mungkin bisa menjadi area tafakkur. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala

وَنُنْشِئَكُمْ فِي مَا لَا تَعْلَمُونَ

dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui. [Al-Waqi’ah: 61]

Ayat ini menunjukkan bahwa ada sesuatu dari penciptaan manusia yang tersembunyi bagi manusia dan tidak memungkinkan untuk mengetahuinya. Oleh karena itu, tidak boleh membuang-buang waktu dengan berfikir dalam perkara-perkara semacam ini.

Misalnya masalah ruh. Pengetahuan tentang ruh adalah khusus bagi Allah di luar jangkauan kemampuan manusia untuk memikirkannya. Allah Ta’ala berfirman,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. [Al-Isra’: 85]

Selain juga banyak alam ghaib yang tidak mungkin untuk diungkap dengan kaidah-kaidah ilmu materi, misalnya alam malaikat, alam jin, dan lain-lain.

Seorang Muslim harus berhenti berfikir tentang masalah seperti ini sesuai dengan batas yang diberikan oleh syariat dan jangan pernah mencoba untuk menerobosnya karena itu semua masuk persoalan ghaib yang tidak mungkin diungkap dengan pemikiran dan percobaan.[iii]

Rekomendasi Keutamaan Qurban dan Hikmah Berqurban

Urgensi Tafakkur

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Tafakkur merupakan amalan hati yang urgen di salam Islam. Urgensitas tafakkur bisa dilihat dari hal-hal berikut ini:

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengarahkan para hamba-Nya untuk melakukan tafakkur dalam apa saja yang Dia ciptakan di langit dan bumi ini dan apa yang tersebar di antara keduanya dalam begitu banyak ayat dalam Al-Quran.

Semua itu bisa dipahami oleh para ulul albab (orang-orang yang memiliki akal yang sempurna dan logika sehat, memiliki ilmu dan pemahaman) dan Allah mencela orang-orang yang lalai dan tidak mau memikirkan ayat-ayat kauniyah ini, ayat Allah yang berbentuk seluruh ciptaan-Nya di alam semesta.

  1. Memfungsikan akal dengan melakukan tafakkur termasuk perkara yang bisa menyelamatkan manusia dari perangkap taklid buta dan mengikuti hawa nafsu.
  2. Tafakkur merupakan perkara yang dihasung oleh Al-Quran sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat yang diakhiri dengan ungkapan: لعلكم تتفكرون ‘la’allakum tatafakkaruun-, mudah-mudahan kalian berfikir dan yang semacam itu.
  3. Tafakkur merupakan persoalan yang berhubungan dengan akal yang merupakan sarana terpenting yang akan mengantarkan kepada hidayah tanpa ada unsur paksaan sama sekali.

Ini merupakan seruan al-Quran agar bersikap teliti, suka melakukan perbandingan dan kajian. Dengan demikian iman itu harus berangkat dari kepuasan akal yang kokoh. Bila tidak demikian maka rentan terhadap berbagai faktor kekurangan dan berbalik arah.[iv]

Keutamaan Tafakkur

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Sekarang kita lihat tentang keutamaan dan amalan hati yang agung ini sebagaimana dijelaskan oleh para ulama. Di antara keutamaan dari tafakkur adalah:

  1. Tafakkur lebih baik dari qiyamullail.

Hal ini sebagaimana dalam sebuah hadits mauquf dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu dia berkata,

تَفَكُّرُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ

“Tafakkur sesaat itu lebih baik dari qiyamullail semalam.” [Hadits riwayat Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (117) dengan sanad shahih).

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan maksud dari hadits ini sebagai berikut, “Sesungguhnya tadaabur dan tafakkur itu akan memberi seorang hamba berbagai jenis ubudiyah kepada Allah Ta’ala, serta berbagai manfaat yang banyak dalam perkara agamanya.

Terkadang hal itu melampaui sebagian dari ibadah yang zhahir. Hal ini karena tafakkur itu termasuk jenis ibadah qolbiyah, ibadah hati. Ibadah qolbiyah itu merupakan pokok dari ibadah-ibadah yang dilakukan anggota badan dan sekaligus pendorongnya.”

  1. Tilawah dengan tafakkur lebih utama dari tilawah tanpa tafakkur.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

الْقِرَاءَةُ الْقَلِيلَةُ بِتَفَكُّرٍ : أَفْضَلُ مِنْ الْكَثِيرَةِ بِلَا تَفَكُّرٍ ، وَهُوَ الْمَنْصُوصُ عَنْ الصَّحَابَةِ صَرِيحًا.

“Membaca (al-Quran) sedikit dengan disertai tafakkur itu lebih utama daripada membaca dalam jumlah banyak tanpa diiringi tafakkur. Hal ini ada nash dari sahabat secara jelas.

Telah dinukil dari Imam Ahmad riwayat yang menunjukkan hal tersebut. Mutsanna bin Jami’ menukil dari Imam Ahmad, “Ada seseorang yang makan hingga kenyang, banyak melakukan shalat dan puasa. Dan ada pula seseorang yang sedikit makan, amalan ibadah sunnah nafilahnya sedikit, namun banyak berfikir, manakah yang lebih utama? Lalu Imam Ahmad menyebutkan hadits yang meriwayatkan tentang berfikir,

تَفَكُّرُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ

“Berfikir sesaat lebih baik dari qiyamul lail semalam.” [Al-Fatawa Al-Kubra (5/334)]

  1. Tafakkur menunjukkan jalan ke surga

Al-hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

طُوْلُ اْلفِكْرَةِ دَلِيْلٌ عَلَى طَرِيْقِ الْجَنَّةِ

“Berfikir mendalam (tentang ayat-ayat Allah) akan menjadi petunjuk jalan menuju surga.”

  1. Tafakkur adalah ibadah yang paling utama.

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata,

اْلفِكْرَةُ فِيْ نِعَمِ اللهِ مِنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَةِ

“Memikirkan nikmat-nikmat Allah termasuk ibadah yang paling utama.”

  1. Shalat sunnah yang ringan dengan tafakkur lebih utama daripada shalat sunnah yang panjang tanpa tafakkur.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

رَكْعَتَانِ مُقْتَصِدَتَانِ فِيْ تَفَكُّرٍ ، خَيْرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ بِلَا قَلْبٍ

“Shalat dua rakaat yang sedang dengan diiringi tafakkur itu lebih baik daripada qiyamul lail semalam penuh tanpa hati (lalai).”

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengomentari semua keutamaan tersebut dengan mengatakan, “Demikianlah. Semua ini karena tafakkur itu amal hati sedangkan ibadah adalah amal anggota badan. Hati itu lebih mulia daripada anggota badan. Maka amal hati juga lebih mulia daripada amal anggota badan.”[v]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

155 Kumpulan Khutbah Jumat Singkat

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ

Buah Tafakur

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Para ulama salaf dari umat ini telah menyadari berbagai faedah yang agung dan buah-buah yang utama dari tafakkur. Maka mereka menghasung diri mereka sendiri dan saudara-saudara mereka seiman untuk bertafakkur.

Mereka menganggap tafakkur merupakan amalan yang agung bahkan termasuk amalan terpenting dan paling agung. Di antara buah-buah tafakkur menurut Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid adalah sebagai berikut:

  1. Bersungguh dalam beramal.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tafakkur akan membuahkan rasa cinta dan ma’rifah kepada pelakunya. Apabila seseorang berfikir tentang akhirat, kemuliaannya dan keabadiannya serta berfikir tentang dunia, kehinaannya dan kefanaannya, maka akan membuahkan rasa cinta kepada akhirat dan zuhud terhadap dunia.

Setiap kali dia berfikir tentang kurangnya amal dan sempitnya waktu, maka itu akan memunculkan keseriusan dan kesungguhan serta mencurahkan seluruh daya untuk memanfaatkan waktu dengan baik.” [Al-Fawaid: 198]

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

التَّفَكُّرُ فِيْ الْخَيْرِ يَدْعُوْ إِلَى الْعَمَلِ بِهِ وَ النَّدْمُ عَلَى الشَّرِّ يَدْعُوْ إِلَى تَرْكِهِ

“Tafakkur dalam hal kebaikan akan mendorong seseorang untuk mengamalkan kebaikan tersebut, dan menyesali keburukan akan mendorong seseorang untuk meninggalkannya.” [Ihya’ ‘ulumiddin: 4/425]

  1. Takut kepada Allah dan merasakan keagungan Allah.

Bisyr bin al-Harits rahimahullah berkata,

لَوْ فَكَّرَ النَّاسَ فِيْ عَظِمَةِ اللهِ مَا عَصَوْهُ

‘Andaikan orang-orang itu memikirkan tentang keagungan Allah, mereka tidak akan bermaksiat kepada-Nya.” [Hilyatul Auliya’: 8/337]

Hatim Al-Asham rahimahullah berkata, “Dari dzikir akan bertambah rasa cinta dan dari tafakkur akan bertambah rasa takut.” [Ihya’ Ulumuddin: 4/425]

  1. Rasa cinta hamba kepada Tuhannya.

Rasa cinta hamba kepada Allah bisa muncul dari tafakkur terhadap nikmat-nikmat Allah. Ini karena manusia secara alami menyukai siapa saja yang berbuat baik kepadanya.

Apabila seseorang memperhatikan nikmat-nikmat Allah yang begitu banyak kepadanya, maka hal itu akan menyampaikannya kepada cinta dan ridha kepada-Nya.

  1. Bertambahnya iman.

Sesungguhnya tafakkur tentang ayat-ayat Allah dan ciptaan-Nya di alam semesta ini serta dalam diri sendiri merupakan salah satu sarana bertambahnya iman

. Ini karena dengan tafakkur, semakin kokohlah dalam hatinya makna-makna kekuasaan Allah, kekuatan-Nya, keagungan-Nya, pengaturan-Nya, tidak butuhnya Allah kepada siapa pun, hidup-Nya dan rahmat-Nya.

  1. Mengetahui keadaan diri sendiri dan upaya perbaikannya

Seseorang jika memikirkan tentang dirinya sendiri niscaya dia akan mengetahui kekurangan dan kelebihannya.

Al-Fudhail rahimahullah berkata, “Tafakkur itu merupakan cermin yang akan memperlihatkan kepadamu kebaikan-kebaikanmu dan keburukan-keburukanmu.” [Al-‘Azhamah li Abi Syaikh: 13, Hilyatul Auliya’: 8/109]

Saat seseorang mengetahui keadaan dirinya maka dia akan berusaha untuk memperbaiki kekurangan-kekurangannya dan mengembangkan kebaikan-kebaikannya.

  1. Memperbanyak ilmu dan mendapatkan ma’rifah

Sesungguhnya tafakkur itu merupakan sebab Allah memberi rezeki kepada pelakunya ilmu dan ma’rifah serta hikmah. Tafakkur juga merupakan sebab menuju pemahaman syariah secara lebih sempurna dan lebih baik.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Keutamaan itu ada empat hal:

  • Pertama, hikmah (bijaksana). Ini pilarnya adalah berfikir.
  • Kedua, ‘iffah (memelihara diri dari keburukan). Ini pilarnya adalah menguasai syahwat.
  • Ketiga, quwwah, (kekuatan). Ini pilarnya adalah menguasai amarah.
  • Keempat, keadilan. ini pilarnya adalah menyeimbangkan kekuatan – kekuatan jiwa.” [Ihya’ Ulumuddin: 4/425, dengan penyesuaian][vi]
155 Materi Khutbah Jumat Terbaru

Doa Penutup

Demikian tadi khutbah yang bisa kami sampaikan tentang keutamaan tafakkur. Semoga bermanfaat buat kita semuanya. Dan semoga Allah mengaruniakan kepada kita semua taufik dan hidayah-Nya sehingga kita dimudahkan dalam melakukan amal hati yang agung ini.

Marilah kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Mengabulkan doa para hamba-Nya

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

 الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


[i] At-Tafakkur, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, Majmu’atuz Zaad, Saudi Arabaia, 1430 H / 2009 M, Cetakan pertama, hal. 7.

[ii] Ibid, 8-15, secara ringkas.

[iii] Ibid, 16-24 secara ringkas.

[iv] https://www.maghress.com/tetouanplus/19187

[v]https://islamqa.info/ar/answers/239712/%D9%81%D8%B6%D9%84%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%81%D9%83%D8%B1%D9%88%D8%A7%D9%84%D8%AA%D8%AF%D8%A8%D8%B1%D9%88%D9%83%D9%8A%D9%81%D9%8A%D8%A9%D9%82%D9%8A%D8%A7%D9%85%D8%A7%D9%84%D8%B9%D8%A8%D8%AF-%D8%A8%D8%B0%D9%84%D9%83

[vi] At-Tafakkur, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, Majmu’atuz Zaad, Saudi Arabaia, 1430 H / 2009 M, Cetakan pertama, hal. 42-52 secara ringkas.

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Khutbah Jum’at Singkat Terbaru

Print Friendly, PDF & Email