Khutbah Jumat Tentang Ilmu Yang Bermanfaat & Agar Ilmu Bermanfaat

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

Mukaddimah Pembukaan Khutbah Jumat

Mukadimah

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah melimpahkan nikmat yang tiada batasnya kepada kita semuanya terutama hidayah iman dan Islam, keamanan dan kesehatan serta rezeki yang mencukupi.

Shalawat dan salam semoga senantiasa dicurahkan kepada Nabi kita yang mulia, Muhammad ﷺ , keluarganya, para sahabatnya dan siapa saja yang mengikuti sunnahnya dengan sebaik-baiknya hingga akhir zaman.

Selanjutnya kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan jamaah shalat Jumat sekalian, marilah kita senantiasa berusaha untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benar takwa semaksimal kemampuan yang kita miliki, di mana pun kita berada.

Tak Semua Ilmu Bermanfaat

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Az-Zumar, surat ke 39 ayat ke 9

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”

Syaikh Dr. Khalid As-Sabt menerangkan maksud dari ayat di atas adalah bahwa kedua kelompok manusia tersebut tidaklah sama. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surat Al-Hasyr, suar ke 59 ayat ke 20,

لَا يَسْتَوِيْٓ اَصْحٰبُ النَّارِ وَاَصْحٰبُ الْجَنَّةِۗ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ – ٢٠

Tidak sama para penghuni neraka dengan para penghuni surga; para penghuni surga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.

Mereka tidak sama dalam kehidupannya, amal mereka juga tidak sama, kematian mereka tidaklah sama. Keadaan mereka saat dibangkitkan dan dikumpulkan di padang mahsyar tidak sama.

Mereka tidak sama cara melintasnya di atas shirath, jembatan yang membentang di atas neraka jahannam. Keadaan hisab mereka juga tidak sama. Kedudukan mereka di surga tidaklah sama.

Pada segala sisi, mereka tidaklah sama. Betapa jauhnya perbedaan antara orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu.

Yang dimaksud dengan ilmu yang menjadikan pemiliknya tidak sama dengan yang tidak berilmu adalah ilmu yang bermanfaat, yang mendekatkan seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian penjelasan dari Syaikh Dr.Khalid As-Sabt.[i]

Dari sini bisa kita ketahui bahwa memang ilmu itu ada yang bermanfaat dan ada yang tidak bermanfaat. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan yang lainnya dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, sungguh aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak pernah merasa puas dan doa yang tidak dikabulkan.”

[Hadits riwayat Muslim no. 2722, An-Nasa’i no. 5470, Ibnu Majah no. 250, Ahmad no. 13699 dan Ibnu Hibban no. 83]

Dalam hadits ini Rasulullah ﷺ berlindung kepada Allah Ta’ala dari empat perkara. Salah satunya adalah ilmu yang tidak bermanfaat.

Perhatian Rasul Terhadap Ilmu Bermanfaat

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Bila Rasulullah ﷺ berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari ilmu yang tidak bermanfaat, maka beliau pasti sangat memperhatikan masalah ilmu yang bermanfaat.

Beliau memohon kepada Allah Ta’ala ilmu yang bermanfaat dan mendorong umatnya untuk meminta kepada Allah Ta’ala ilmu yang bermanfaat.

Dalam hadits dari Ummul Mukminin Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah ﷺ bila setelah mengucapkan salam pada shalat shubuh beliau mengucapkan doa

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

“Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima.” [Hadits riwayat Ibnu Majah. Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Shahih Ibni Majah no. 762]

Ini merupakan pengajaran kepada umat Islam agar memohon kepada Allah Ta’ala agar berkenan mengajari mereka apa saja yang bermanfaat buat mereka.

Dalam sebuah hadits shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ berdoa kepada Allah Ta’ala,

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا

“Ya Allah, berilah manfaat kepadaku dengan apa saja yang telah Engkau ajarkan kepadaku dan berilah aku ilmu apa saja yang bermanfaat untukku dan tambahkanlah ilmu untukku.”

[Hadits riwayat At-Tirmidzi no. 3599 dan Ibnu Majah no. 3833. Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Shahih Ibni Majah no. 247]

Rasulullah ﷺ juga memberikan bimbingan kepada umatnya untuk meminta ilmu yang bermanfaat sebagaimana dalam hadits

 عَنْ جَابِرٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” سَلُوا اللَّهَ عِلْمًا نَافِعًا ، وَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu,ia berkata,”Rasulullah ﷺ bersabda,”Mintalah ilmu yang bermanfaat kepada Allah dan berlindunglah kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.”

[Hadits riwayat Ibnu Majah no. 3843 dan Al-Baihaqi di dalam Ad-Da’awat Al-Kabir 1/286. Al-Albani menyatakan hadits ini hasan di dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1511 dan di dalam Shahih Al-Jami’ no. 3635][ii]

Rekomendasi Khutbah Bahaya Komunis Atheis
Rekomendasi Khutbah Jumat Peristiwa penting bulan rabiul awal

Kriteria Ilmu Yang Bermanfaat

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Setelah kita mengetahui betapa besarnya perhatian Rasulullah ﷺ terhadap ilmu yang bermanfaat, lantas apa kriteria dari ilmu yang bermanfaat yang disebutkan di dalam hadits-hadits tadi?

Syaikh Alawi bin Abdul Qadir As-Saqqaf saat memberikan syarah hadits atau penjelasan makna hadits Jabir bin Abdillah, memberikan kriteria tentang ilmu yang bermanfaat sebagai berikut:

  1. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang memperbaiki akhlak batin sehingga berimbas pada amal-amal zhahir dan memperbaiki kondisi yang zhahir dan batin.
  2. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu tentang syariat yang memberikan faedah kepada orang-orang yang telah mukallaf, apa saja yang perkara agama yang diwajibkan atas dirinya baik dalam masalah ibadah, muamalah, akhlak dan perilaku.
  3. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu tentang Allah ‘Azza wa Jalla, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, perbuatan-Nya dan apa saja yang boleh dalam kaitannya dengan Allah Ta’ala dan apa saja yang tidak boleh. Ini merupakan ilmu yang paling agung dan paling bermanfaat.
  4. Termasuk ke dalam ilmu yang bermanfaat adalah ilmu-ilmu duniawi yang mengandung manfaat dan maslahat bagi kaum Muslimin.

Apabila seorang Muslim mempelajari ilmu duniawi dengan niat ikhlas karena Allah Ta’ala dan memberikan manfaat kaum Muslimin dengan ilmu tersebut, maka dia mendapatkan manfaat dengan ilmu-ilmu duniawi tersebut di dunia dan akhirat.

Adapun ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak diamalkan dan tidak pula dimanfaatkan, tidak memperbaiki akhlak, perkataan dan perbuatan, sehingga menjadi bukti yang akan menyusahkan pemiliknya.

Termasuk ke dalam ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang dilarang untuk dipelajari seperti ilmu sihir dan sebagainya.[iii]

Mengenai ilmu yang tidak diamalkan sehingga menjadi ilmu yang tidak bermanfaat dan justru akan menyusahkan pemiliknya di akhirat nanti adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Jum’ah: 5,

مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰىةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًاۗ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ – ٥

Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Kemudian Allah berfirman dalam surat Al-A’raf: 175-176,

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ الَّذِيْٓ اٰتَيْنٰهُ اٰيٰتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَاَتْبَعَهُ الشَّيْطٰنُ فَكَانَ مِنَ الْغٰوِيْنَ – ١٧٥

Dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang yang sesat.

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا وَلٰكِنَّهٗٓ اَخْلَدَ اِلَى الْاَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوٰىهُۚ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الْكَلْبِۚ اِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْۗ ذٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ – ١٧٦

Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga).

Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.

Kemudian dalam surat Al-Jatsiyah: 23

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةًۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ – ٢٣

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya?

Maka siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat?) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Sejumlah ayat dalam tiga surat tadi merupakan celaan terhadap ilmu yang tidak diamalkan oleh pemiliknya sehingga menjadi ilmu yang tidak bermanfaat dan pemiliknya menjadi tercela karenanya sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Dr. Khalid As-Sabt.

Adapun ilmu yang sama sekali tidak ada manfaatnya dan yang ada justru madharat semata adalah ilmu sihir, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah: 102,

وَاتَّبَعُوْا مَا تَتْلُوا الشَّيٰطِيْنُ عَلٰى مُلْكِ سُلَيْمٰنَ ۚ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمٰنُ وَلٰكِنَّ الشَّيٰطِيْنَ كَفَرُوْا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَآ اُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوْتَ وَمَارُوْتَ ۗ وَمَا يُعَلِّمٰنِ مِنْ اَحَدٍ حَتّٰى يَقُوْلَآ اِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۗ فَيَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُوْنَ بِهٖ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهٖ ۗ وَمَا هُمْ بِضَاۤرِّيْنَ بِهٖ مِنْ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَيَتَعَلَّمُوْنَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۗ

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu tidak kafir tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia yaitu Harut dan Marut.

Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kafir.” Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya.

Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan, dan tidak memberi manfaat kepada mereka

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

155 Kumpulan Khutbah Jumat Singkat

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا.

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Agar Ilmu Bermanfaat Bagi Pemiliknya

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dalam khutbah pertama sudah kita bahas tentang kriteria ilmu yang bermanfaat dan tidak bermanfaat. Berdasarkan hal tersebut, kita mesti berusaha agar ilmu kita bermanfaat. Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan agar ilmu kita bermanfaat:

  1. Kita hanya mempelajari ilmu yang bermanfaat bagi kita baik ilmu agama maupun ilmu dunia dengan niatan hendak meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebab tanpa tujuan hendak meraih ridha Allah Ta’ala semata, meskipun ilmu yang kita pelajari jelas-jelas ilmu yang bermanfaat, misalnya ilmu tentang syariat Islam, maka kita tetap tidak bisa mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut.

Justru yang kita dapat hanyalah murka Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah ﷺ , beliau bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Siapa saja yang mempelajari ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allah ‘Azza Wa Jalla, tetapi ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan suatu bagian dari nikmat dunia, maka ia tidak akan mencium aroma wangi Surga pada hari Kiamat.”

[Hadits riwayat Abu Dawud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad no. 8457. Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam kitab Iqtidhaul ‘ilmi, hal atau no. 102]

Hadits ini menunjukkan ilmu yang dia pelajari tidak bermanfaat bagi dirinya pada hari kiamat. Bahkan Allah menghapusnya.[iv]

  1. Mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari semaksimal kemampuan yang kita miliki.

Dengan mengamalkan ilmu yang kita ketahui, kita menjadi orang pertama yang mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut. Misalnya, kita mengetahui dzikir saat keluar rumah. Lalu kita tekuni. Setiap keluar rumah membaca dzikir tersebut.

Maka manfaat dzikir tersebut akan langsung bisa kita rasakan di dunia ini. Dan di akhirat insyaallah pahala telah menanti bila kita ikhlas karena Allah. Demikian seterusnya.

Setiap pengetahuan yang kita miliki tentang Islam, bila benar-benar kita amalkan maka akan bermanfaat di dunia dan akhirat.

  1. Mengajarkan ilmu yang kita pelajari dan telah kita amalkan.

Dengan mengajarkan ilmu kepada yang belum mengetahui maka kita telah memberi manfaat kepada orang lain dan sudah pasti kepada diri kita sendiri. Sebab bila ilmu tersebut diamalkan orang lain maka akan menjadi amal jariyah kita.

Hal ini sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عنْه عَمَلُهُ إِلَّا مِن ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِن صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له

”Apabila seseorang meninggal dunia, terputuslah amalnya dari dirinya kecuali dari tiga amal: shadaqah jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan atau anak shaleh yang mendoakannya.”

Dalam hadits yang lain, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَن دلَّ على خير، فله مثل أجْر فاعله

”Siapa saja yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pelaku kebaikan tersebut.” [Hadits riwayat Muslim no. 1893]

Demikian hal-hal yang perlu kita lakukan agar ilmu yang kita miliki menjadi bermanfaat. Wallahu A’lam.

155 Materi Khutbah Jumat Terbaru

Doa Penutup

Marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa kepada Allah Subhahanahu Wa ta’ala

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

 الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

  عِبَادَ اللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ


[i] https://khaledalsabt.com/lectures/8/%D8%B3%D9%85%D8%A7%D8%AA-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%84%D9%85-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A7%D9%81%D8%B9

[ii] https://khaledalsabt.com/lectures/8/%D8%B3%D9%85%D8%A7%D8%AA-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%84%D9%85-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A7%D9%81%D8%B9

[iii] https://dorar.net/hadith/sharh/61082

[iv] https://dorar.net/hadith/sharh/113542

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Materi Khutbah Jum’at
Khutbah Jumat Tentang Dakwah
Khutbah Jumat Keutamaan Sedekah
Khutbah Jumat Tentang Takwa

Print Friendly, PDF & Email