Khutbah Jumat: Bahaya Lisan & Urgensi Menjaga Lisan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

فإنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ

Perkara Lisan Adalah Perkara Besar

Jamaah Jumat rahimakumullah

Salah satu satu anugerah yang sangat besar dan rahmat yang agung dari Allah Ta’ala kepada umat manusia adalah manusia dikaruniai lisan yang menjadi salah satu alat untuk berbicara. Ukurannya memang kecil tapi besar ketaatan dan pelanggarannya, karena melalui lisan, kekafiran dan keimanan itu menjadi terlihat jelas.

Lisan adalah adalah penerjemah hati dan pemikiran, alat untuk menjelaskan dan sarana untuk menyampaikan pesan. Lisan memiliki bidang yang besar dalam kebaikan dan memiliki tradisi panjang dalam kejahatan.

Siapa pun yang menggunakannya untuk hikmah dan ucapan yang bermanfaat, memenuhi kebutuhan dan diikat kuat dengan kendali syara’ berarti telah bersyukur terhadap nikmat tersebut dan meletakkan lisan pada tempatnya sehingga dia akan selamat.

Siapa pun yang membiarkan lidahnya dengan bebas lepas, setan telah berjalan bersamanya dalam segala hal. Orang-orang tidak dijebloskan ke dalam neraka kecuali akibat ulah lisan mereka.

Betapa strategisnya posisi lisan sebagai kunci untuk membuka segala kebaikan sekaligus pintu utama menuju neraka. Dalam sebuah hadits yang panjang yang diriwayatkan dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu disebutkan,

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رضي الله عنه قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِيْ الْجَنَّةَ، وَيُبَاعِدُنِي عَنِ النَّارِ، قَالَ : لَقَدْ سَأَلْتَنِي عَنْ عَظِيمٍ، وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَن يَسَّرَهُ اللهُ عَلَيهِ: تَعْبُدَ اللهَ وَلاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ، وَتَحَجُّ الْبَيْتَ، ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ، والصَّدّقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ, قَالَ: ثُمَّ تَلاَ (تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِع )حَتَّى بَلَغَ (يَعْمَلُونَ) ثُمَّ قَالَ : (أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ كُلِّهِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ, وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ, وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ. ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا نَبِيَّ اللهِ، فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. فَقُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللهِ, وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُوْنَ بِمَا نَتَكَلًّمُ بِهِ؟ فَقَالَ : ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يُكَبُّ النَّاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ

Dari Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu dia berkata,” Aku berkata,” Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku amalan yang akan memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka! Beliau ﷺ bersabda, ”Sungguh engkau telah bertanya tentang sesuatu yang besar, namun hal itu sangatlah mudah bagi yang dimudahkan oleh Allah.

Hendaklah kamu hanya beribadah pada Allah dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah haji.”

Kemudian Nabi ﷺ bersabda,”Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa itu adalah perisai, sedekah itu menghapus kesalahan seperti air memadamkan api dan shalatnya seseorang pada tengah malam.” Lalu beliau membaca ayat:

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِع

Lambung-lambung mereka jauh dari tempat tidurnya.” [As-Sajdah : 16] hingga sampai pada firman: يَعْمَلُونَ Yang telah mereka kerjakan.”

Kemudian beliau ﷺ kembali bersabda, ”Maukah kamu aku beritahu pokok pangkal segala urusani, tiangnya dan puncak tertingginya?” Aku menjawab,”Tentu, wahai Rasulullah.”

Beliau ﷺ bersabda,”Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncak tertingginya adalah jihad.”

Kemudian beliau ﷺ bersabda, ”Maukah kamu aku beritahu kunci dari semua itu?” Aku menjawab,”Tentu, wahai Nabi Allah.” Maka Nabi ﷺ memegang lidahnya lalu bersabda, “Jagalah ini!”

Aku bertanya, ”Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa disebabkan apa yang kita ucapkan?” Nabi ﷺ bersabda, ”Semoga Ibumu kehilangan dirimu wahai Muadz! (Tsakilatka ummuka adalah ungkapan untuk memperingatkan, pengajaran adab agar tidak lalai, ungkapan keheranan dan pengagungan suatu perkara. Rasulullah ﷺ tidak memaksudkan doa yang sesungguhnya. Tetapi hal itu berlaku menurut kebiasaan bangsa Arab dalam percakapan. pent. )

Tidaklah manusia itu dilemparkan ke dalam neraka dengan wajah tersungkur kecuali disebabkan hasil panen dari lisan-lisan mereka?” [Hadits riwayat At-Tirmidzi, dan dia berkata bahwa hadits ini hasan shahih]

Baca juga Khutbah Jum’at: Bahaya Tajassus Dalam Islam

Bahaya Bencana Lisan

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Pelanggaran syariat terbanyak yang dilakukan oleh umat islam adalah dari pintu mulut dan kemaluannya. Dari syahwat makan dan bicara serta syahwat zina. Mulut dan kemaluan adalah dua penyebab paling besar seseorang dijebloskan ke dalam neraka.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ (سنن الترمذى – ج 8 / ص 15)

Hal ini sebagaimana dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,”Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang hal yang paling sering memasukkan orang-orang ke dalam surga.Maka Rasulullah ﷺ menjawab,”Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.”

Dan beliau ditanya tentang hal yang paling sering memasukkan orang-orang ke dalam neraka. Maka Rasulullah ﷺ menjawab,”Mulut dan kemaluan.” [Hadits riwayat At-Tirmidzi di dalam Sunan At-Tirmidzi 8/15. Abu Isa At-Tirmidzi berkata,” ini hadits shahih.”]

Bencana mulut dari ketidakmampuan menahan syahwat makan sehingga tidak mengenal halal dan haram serta syahwat bicara yang tidak mengenal adab syar’i dalam berbicara. Syahwat kemaluan karena tidak mau menahan diri dari keinginan untuk bermain perempuan.

Dalam kesempatan khutbah kali ini kami tidak hendak mengulas kandungan hadits ini seluruhnya. Kami hanya membatasi pada penyebab masuk neraka pertama yaitu mulut. Ini pun hanya membahas salah satu sisinya yaitu lisan.

Hal ini mengingat bencana agama dan dunia yang diakibatkan oleh lisan begitu banyak. Di antara bencana lisan adalah :

  1. Berbuat syirik terhadap Allah Ta’ala

Contohnya adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al Maidah: 72

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

  1. Berkata tentang Allah Ta’ala tanpa ilmu

Ini sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Baqarah: 169

إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.

  1. Ghibah dan namimah

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Hujurat: 12

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Tentang celaan terhadap namimah Allah berfirman,

هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, [Al-Qalam: 11]

  1. Dusta

Allah Ta’ala berfirman di dalam surat An-Nahl: 105

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.

  1. Berkata dengan kebatilan atau diam terhadap kebenaran
  2. Kesaksian palsu

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al furqan: 72

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.

  1. Qadzaf atau tuduhan zina tanpa saksi terhadap perempuan muslimah yang memelihara kesuciannya.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat An-Nur: 4

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.

  1. Bersumpah dengan selain Allah

Hal ini berdasarkan hadits dari Abdullah Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut selain nama Allah, maka sungguh dia telah kafir atau musyrik” [Hadits shahih riwayat Abu Dawud (3251), At-Tirmidzi (1535) dan Ahmad (6072). Syaikh Al-Albani menyatakan sebagai hadits shahih di dalam Irwaul Ghalil (2561)]

Baca juga Khutbah Jum’at: 6 Perusak Ukhuwah Dalam Islam

  1. Mencaci maki dan mengolok-olok orang-orang mukmin.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Hujurat: 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

  1. Melaknat

Rasulullah bersabda,

لَا يَكُونُ اللَّعَّانُونَ شُفَعَاءَ، وَلَا شُهَدَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ) أخرجه مسلم في صحيحه برقم (2598) 4/2006.(

Ini sebagian saja dari sekian banyak bencana lisan yang diterangkan oleh para ulama. Tujjuannya adalah memberikan sejumlah gambaran bukan menerangkan secara keseluruhan karena waktunya yang terbatas.

Perintah Menjaga Lisan

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bila sedemikian banyak bencana yang bisa menimpa anak manusia karena lisannya, maka tidak mengherankan bila banyak ayat dan hadits Rasulullah ﷺ yang memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk benar-benar memperhatikan kata-kata yang keluar dari lisannya.

Di antara ayat dan hadits tersebut adalah:

Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71]

Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam.” [Hadits riwayat Al-Bukhari no. 6475 dan Muslim no. 47.]

Dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ: اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ، فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

“Bila anak Adam berada di pagi hari, seluruh anggota badan tunduk kepada lisan lalu berkata, “Takutlah kepada Allah dalam hal kami. Kami hanyalah bergantung padamu. Bila kamu istiqamah, kami pun istiqamah. Dan bila kamu menyimpang, kami pun menyimpang.” [Hadits riwayat At- Tirmidzi no. 2407, dinilai hasan oleh Al-Albani]

Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah! Siapakah kaum muslimin yang paling baik?” Rasulullah ﷺ menjawab,

مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ، وَيَدِهِ

“Seorang muslim yang kaum Muslimin selamat dari (keburukan) lisannya atau tangannya.” [Hadits riwayat Al- Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42]

Baca juga Khutbah Jum’at: Keutamaan Menutup Aib Seorang Muslim

Akibat Tidak Menjaga Lisan

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Lisan yang tidak dikendalikan oleh pemiliknya bisa menjerumuskan pemiliknya dalam jurang penyesalan yang tiada habisnya. Apa yang dianggap oleh seseorang sebagai kata-kata yang sepele bisa menjadi perkara besar di sisi Allah Ta’ala karena keburukan yang terkandung di dalamnya.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سُخْطِ اللَّهِ، لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا، فَيَهْوِي بِهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ سَبْعِينَ خَرِيفًا

Sesungguhnya seseorang benar-benar mengucapkan satu ucapan yang dimurkai Allah. Dia tidak melihat hal itu bermasalah, Akan tetapi, dengan sebab ucapan itu dia terjun ke dalam neraka selama tujuh puluh tahun.” [Hadits shahih riwayat at-Tirmidzi no. 2314 dan Ibnu Majah no. 3970]

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan sebuah ucapan yang diridhai Allah. Dia tidak memperhatikan akibatnya, namun Allah mengangkatnya beberapa derajat dengan ucapan tersebut.

Dan sungguh, seorang hamba mengucapkan sebuah ucapan yang dimurkai oleh Allah, Dia tidak memperhatikan akibatnya, dia terjatuh ke dalam neraka jahannam karena ucapan tersebut.” [Hadits riwayat Al-Bukhari no. 6478 dan Muslim no. 2988]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Kiat Agar Selamat dari Bencana Lisan

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Setelah kita semua tahu begitu banyaknya bencana lisan, lantas apa saja yang bisa dilakukan agar kita selamat dari semua bencana lisan tersebut? Dia antara langkah yang bisa menjadi jalan keluar bagi kita agar terbebas dari semua bencana lisan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Mempelajari segala hal yang diharamkan oleh Allah ta’ala dan rasul-Nya ﷺ dalam berbicara serta adab-adabnya. Pengetahuan tentang hal ini akan menjadi pedoman dalam berbicara yang baik dan benar.
  1. Mujahadatun nafs dalam memperbaiki lisan dan bertekad untuk melakukan perubahan.

Dalam hadits dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi ﷺ bersabda,

أفضل المؤمنين إسلامًا: مَن سَلِم المسلمون مِن لسانه ويده، وأفضل المؤمنين إيمانًا أحسنُهم خُلقًا، وأفضل المهاجرين مَن هجَرَ ما نهى الله تعالى عنه، وأفضل الجهاد من جاهد نفسه في ذات الله عز وجل

Orang mukmin yang paling utama Islamnya adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari (keburukan) lisannya dan tangannya. Dan orang mukmin yang paling utama imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan muhajir (orang yang berhijrah) yang paling utama adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah. dan jihad yang paling utama adalah orang berjihad terhadap dirinya sendiri dalam mentaati Allah ‘Azza wa Jalla. [Hadits riwayat Ath-Thabrani. Lihat Ash-Shahihah 1491]

  1. Membaca sejarah hidup Salaf

Allah Ta’ala berfirman menegaskan bahwa membaca pendirian para ulama yang jujur itu akan menguatkan tekad dalam berpegang teguh kepada kebenaran dalam firman-Nya,

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. [Hud: 120]

Syaikh Asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan,

ومن الأمور التي تُعين على حفظ اللسان: قراءة سير السلف الصالح – رحمة الله عليهم – ففيها النماذج الكريمة التي تُحيي في الأنفس الاشتغال بما يَعني عما لا يَعني

Di antara perkara yang membantu untuk menjaga lisan adalah membaca sejarah hidup As-Salaf Ash-Shalih atau para pendahulu kita yang shalih semoga Allah merahmati mereka semua. Dalam sejarah hidup mereka terdapat contoh-contoh yang mulia yang bisa menghidupkan jiwa dan menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat.

  1. Tidak banyak berinteraksi dengan banyak orang. Membatasi pergaulan dengan orang-orang yang baik akhlaknya dan bagus agamanya karena teman dekat itu mempengaruhi kualitas agama seseorang sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ.
  1. Memperbanyak berdzikir kepada Allah

Memperbanyak dzikir kepada Allah Ta’ala merupakan salah satu cara paling efektif untuk menyelamatkan lisan dari bencana lisan. Banyak berdzikir akan melembutkan hati, mendekatkan diri kepada Allah, menghindarkan lisan dari berkata buruk dan menjauhkan seseorang dari godaan setan.

  1. Menghiasi diri dengan rasa malu.

Rasa malu yang kuat akan menjadi rem yang sangat kuat dari mengucapkan perkataan yang rendah, kotor, hina dan merugikan orang lain. Bila rasa malu sudah tiada maka apa pun bisa dikatakan oleh seseorang tanpa beban sedikit pun.

  1. Mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri dan membenci untuk saudaranya apa yang dia benci untuk dirinya sendiri

Bila seseorang tidak suka mendengarkan ungkapan-ungkapan yang menyakitkan atau rendah dan hina yang diarahkan orang kepada dirinya, maka hendaknya dia juga menyadari bahwa saudaranya pun tidak layak untuk menjadi sasaran ungkapan dan perkataan seperti itu dari dirinya. Dia harus membenci hal itu menimpa saudaranya sebagaimana dia juga tidak suka bila hal itu menimpa dirinya.

  1. Merenungkan tentang Asmaul Husna terutama yang berhubungan langsung dengan hal-hal yang bisa meningkatkan rasa diawasi oleh Allah Ta’ala.

Misalnya As-Sami’ , yang berarti Allah Maha Mendengar apa saja yang dia katakan baik secara terbuka maupun tersembunyi. Al-Bashir yang berarti Allah Maha Mengetahui apa saja yang dia lakukan di tempat terbuka maupun tersembunyi. Dan seterusnya.

  1. Menjaga shalat lima waktu

Allah Ta’ala berfirman,

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Ankabut: 45]

  1. Senantiasa mengingat tentang manfaat menjaga lisan

Ada banyak manfaat menjaga lisan dan banyak diam, di antaranya adalah:

  • Indikasi kesempurnaan iman
  • Selamat dari kerugian harta , jiwa dan kehormatan.
  • Indikasi bagusnya akhlak dan kesucian jiwa.
  • Membuahkan ras cinta Allah dan rasa cinta manusia.
  • Mendidik masyarakat yang baik dan generasi yang baik di atas perkara-perkara yang mulia.
  • Beruntung dengan memperoleh surga dan selamat dari neraka
  1. Berdoa agar dikaruniai lisan yang jujur dan baik.

Doa merupakan salah satu sebab terkuat untuk meraih manfaat dan menolak madharat sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Qayyim al-jauziyyah. Sementara Allah senantiasa mengabulkan doa para hamba-Nya selama itu kebaikan, memenuhi seluruh syarat dikabulkannya doa dan tidak ada penghalang terkabulnya doa.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. [Al-Baqarah: 186]

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberi rezeki kepada kita berupa hidayah dan taufik untuk senantiasa istiqamah di atas kebenaran baik dalam perkataan maupun perbuatan. Marilah kita berdoa kepada Allah untuk menutup khutbah jumat ini.

اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Khutbah Jum’at Pekan Ini
Bahaya Penyakit Hati

error: Content is protected !!