Makna Baitullah (Rumah Allah) Dalam Al Qur’an dan Hadits

Kita sering mendengar bahwa masjid itu Baitullah (rumah Allah). Namun apakah yang dimaksud dari masjid merupakan rumah Allah? Bukankah Allah tidak butuh rumah? Maha Suci Allah Ta’ala dari hal itu.

Untuk itu, perlu dicari penjelasannya dari para ahli ilmu. Berikut ini penjelasan tentang pengertian masjid adalah rumah Allah

Penjelasan Baitullah Secara Bahasa

Dalam al Quran dan hadits, masjid juga disebut sebagai baitullah (bait Allah). Bait dalam bahasa Indonesia berarti rumah atau tempat tempat tinggal,[i] lalu disandarkan (di-idhafah-kan) kepada lafzhul Jalalah, Allah. Maka secara harfiah, baitullah artinya adalah rumah Allah.

Makna Penyebutan Baitullah dalam Al Quran

Sumber: https://wallpaperaccess.com/mecca

Dalam Al Quran, misalnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَٰهِيمَ مَكَانَ ٱلْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِى شَيْـًٔا وَطَهِّرْ بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلْقَآئِمِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ

”Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.” [Al Hajj: 26]

Dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut Ka’bah sebagai “Baitullah” dan “Baiti”. Pada sebutan kedua, kata Bait disandarkan pada Ya’ (ي ) yang berarti Aku (Allah), sehingga maknanya menjadi “rumah-KU”.

Ka’bah disebut Allah sebagai Baitullah (Rumah Allah) karena Ka’bah merupakan masjid pertama di dunia.

Makna Penyebutan Baitullah dalam Hadits

Penyebutan masjid secara umum sebagai baitullah juga terdapat dalam beberapa hadits Rasulullah ﷺ . Di antara hadits tersebut adalah riwayat dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

الْمَسَاجِدُ بُيُوت الله فِي الْأَرْضِ ، تُضِيءُ لِأَهْلِ السَّمَاءِ كَمَا تُضِيءُ النُّجُومُ السماء لِأَهْلِ الْأَرْضِ

“Masjid-masjid itu adalah rumah-rumah Allah di muka bumi, menerangi penduduk langit sebagaimana bintang-bintang langit menerangi penduduk bumi.” [HR. Ath Thabarani]

Makna Masjid sebagai Baitullah

Bait yang berarti rumah adalah makhluk Allah. Nama-nama makhluk apabila disandarkan kepada Lafzhul Jalalah (الله) maka tujuannya adalah untuk memuliakan makhluk itu.

Jenis penyandaran untuk tujuan memuliakan ini disebut dengan idhafah li at-tasyrif, idhafah li at-takrim atau idhafah tasyrifiyyah, idhafah takrimiyyah.

Berdasarkan penjelasan ini, baitullah yang secara harfiah berarti “ rumah Allah” maksudnya adalah rumah atau bangunan yang dimuliakan oleh Allah.

Baitullah tidak boleh dimaknai sebagai tempat tinggal Allah, sehingga meniscayakan keyakinan menyimpang bahwa Allah membutuhkan tempat tinggal.

Idhafah Tasyrifiyyah (Penyandaran untuk Memuliakan) dalam Al Quran selain Baitullah

Dalam Al Quran, terdapat banyak contoh idhafah tasyrifiyyah:

1.      Nâqatullâh (makna harfiah: unta Allah)

هَـذِهِ نَاقَةُ اللّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللّهِ -٧٣-

“..Ini unta betina Allah sebagai tanda untukmu. Biarkanlah ia makan di bumi Allah,.” [Al A’râf: 73]

وَيَا قَوْمِ هَـذِهِ نَاقَةُ اللّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللّهِ ..-٦٤-

Dan wahai kaumku! Inilah unta betina Allah, sebagai mukjizat untukmu, sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah,…” [Hûd: 64]

2.      Ardhullâh (makna harfiah: bumi Allah)

Al A’râf ayat 73 dan Hûd: 64 seperti di atas.

3.      Rûhana dan rûhullâh (makna harfiah: ruh Allah)

 فَٱتَّخَذَتْ مِن دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَآ إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا

“Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.” [Maryam: 17]

4.      Ibâdullâh (makna harfiah: hamba-hamba Allah)

إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلْمُخْلَصِينَ

“Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa).” [Ash-Shafât: 40)

Dan beberapa ayat lainnya.

5.      Rasûlullâh (makna harfiah: utusan Allah)

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” [Al Fath: 29]

Dan ayat-ayat lainnya.

Baca juga: Keistimewaan Ahli Masjid

Penjelasan Imam Ibnu Katsir

Ketika menjelaskan Surat Maryam: 17

فَٱتَّخَذَتْ مِن دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَآ إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا

“Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.”

Imam Ibnu Katsir berkata, ”Ruh Kami” adalah idhafiyyah tasyrifiyyah dan yang dimaksud adalah Malaikat Jibril ‘alaihis salâm. Dia disandarkan kepada Allah karena kemuliaannya yang lebih dibandingkan dengan malaikat lainnya.

Pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ لَا تَغْلُوا۟ فِى دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْحَقَّ ۚ إِنَّمَا ٱلْمَسِيحُ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ ٱللَّهِ وَكَلِمَتُهُۥٓ أَلْقَىٰهَآ إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ ۖ

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya.” [An-Nisa’: 171]

Ibnu Katsir menjelaskan, ”Mujahid menafsirkan firman Allah (yang artinya): ‘ruh dari-Nya’ dengan ‘utusan dari-Nya’. Menurut (ulama) yang lain, ‘Sebentuk cinta dari-Nya”. Pendapat kuat adalah yang pertama, bahwa Isa diciptakan berasal dari ruh yang ruh tersebut juga diciptakan oleh Allah.

Kata ruh disandarkan paa lafazh Allah dengan makna pemuliaan (tasyrif), sebagaimana kata ‘unta’ dan ‘rumah’ yang juga disandarkan pada lafazh Allah pada ayat (yang artinya): “ini unta Allah” [Hûd: 64] dan pada ayat (yang artinya): ‘Dan sucikanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang berthawaf’ [Al Hajj: 26].

Dalam hadits juga disebutkan,’Maka aku masuk menemui Tuhanku di rumah-Nya.” Rasulullah ﷺ menyandarkan kata rumah pada Allah sebagai idhafiyyah tasyrifiyyah (penyandaran makhluk pada Allah karena kemuliaan makhluk tersebut).

Semua hal ini (setiap penyandaran makhluk pada Allah) intinya sama dan memiliki penjelasan yang sama (sebagai idhafiyyah tasyrifyyah).”[ii]

Kesimpulan

Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa makna masjid sebagai rumah Allah (baitullah) bukanlah sebagai tempat tinggal Allah.

Kata bait yang berarti rumah disandarkan pada lafazh Allah karena kemuliaan bangunan tempat ibadah tersebut dibandingkan bangunan-bangunan lain.

Inilah yang disebut dengan idhafah at-Tasyrif atau idhafah tasyrifiyyah itu. Wallahu a’lam.[iii]

Demikian penjelasan pengertian masjid adalah rumah allah. Semoga memberikan kemanfaatan kepada kaum Muslimin.

[i] Ibnu Manzhur, Lisan al-‘Arab, Jilid 2 hal. 16

[ii] Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 2 hal. 479

[iii] Sumber tulisan: Ada Bid’ah di Masjid ? Karya Faris Khairul Anam, Penerbit: Keira Publishing, Depok, Jawa Barat, cetakan ke 1, Januari 2019, hal. 21-25. Dengan diringkas dan perubahan format penulisan.

Leave a Comment

error: Content is protected !!