Khutbah Jumat: Sunnah dan Kebiasaan Nabi ﷺ Di Bulan Ramadhan

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

Mukaddimah Pembukaan Khutbah Jumat

Mukadimah

Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah,

Segala puji mari kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah melimpahkan berbagai nikmat kepada kita semua tiada batas dan jenisnya.

Dengan rahmat-Nya semata kita semua bisa hadir di masjid ini, untuk menunaikan kewajiban shalat Jumat dengan mudah dan selamat, tanpa mengalami kesulitan dan musibah apa pun.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi yang mulia, Muhammad ﷺ , keluarganya, para sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti sunnah beliau ﷺ secara lahir batin dengan penuh ketundukan, keikhlasan dan kesabaran.

Kemudian kami wasiatkan kepada diri kami sendiri dan kepada Jamaah shalat Jumat sekalian, marilah kita senantiasa berusaha untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semaksimal kemampuan yang kita miliki, dimana pun kita berada.

Takwa inilah yang akan menjadi bekal terbaik kita, saat datang waktunya kita harus berangkat melakukan perjalanan abadi ke alam akhirat nanti, yang jadwalnya tidak kita ketahui sama sekali.

Allah Ta’ala berfirman,

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ –

Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat! [Al-Baqarah: 197]

Nabi Muhammad ﷺ Mengistimewakan Ramadhan

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Bila datang bulan Ramadhan, Nabi ﷺ biasanya menyambut kedatangan bulan tersebut dengan gembira, memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya dan mengingatkan para sahabatnya tentang keutamaan bulan Ramadhan agar memanfaatkan siang dan malamnya dengan sebaik-baiknya, tanpa berlebihan dan tanpa ada kelalaian.

Hal ini sebagaimana dalam Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

لَمَّا حَضَرَ رَمَضَانُ ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ :أَتَاكُمْ رَمَضَانُ ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

”Ketika Ramadhan tiba, Rasulullah ﷺ memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan mengatakan, ”Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan kalian untuk berpuasa Ramadhan.

Pada bulan Ramadhan, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka jahannam ditutup dan setan-setan pendurhaka dibelenggu.

Di bulan ini, Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang terhalang dari kebaikan malam tersebut, maka dia benar-benar orang yang terhalang dari kebaikan.”

[Hadits riwayat An-Nasa’i (2106), Ahmad (7148), Ibnu Abi Syaibah (8867). Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini Shahih lighairihi di dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (999)]

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Lathaiful Ma’arif hal. 147 mengatakan, ”Sebagian ulama mengatakan bahwa hadits ini merupakan dasar untuk memberikan ucapan selamat atas kedatangan bulan Ramadhan yang biasa dilakukan oleh orang-orang satu sama lain.”[i]

Rekomendasi Khutbah Jumat Keutamaan Puasa Syawwal

Kebiasaan Nabi ﷺ  di Bulan Ramadhan

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Agar cara kita menjalani bulan Ramadhan lebih dekat kepada praktek yang pernah dijalankan oleh Rasulullah ﷺ, ada baiknya kita ketahui apa saja kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi ﷺ di bulan Ramadhan.

Hal ini akan membantu kita lebih terarah dalam memanfaatkan bulan yang penuh keutamaan ini.

Di antara kebiasaan Nabi ﷺ di bulan Ramadhan berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih adalah sebagai berikut:

  1. Memperbanyak sedekah

Hal ini sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (4/99) dan Muslim (2307) dalam Ash-Shahihain dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, ”Rasulullah ﷺ adalah orang yang sangat dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan ketika dijumpai Jibril.” [Muttafaq ‘alaih]

  1. Memperbanyak membaca al-Quran

Selama bulan Ramadhan, Rasulullah ﷺ banyak membaca al-Quran al-Karim. Pada bulan ini, Malaikat Jibril ‘alaihis salam turun ke bumi atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membacakan Al-Quran kepada utusan-Nya.

Dalam hadits riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu disebutkan, ”Rasulullah ﷺ ditemui Jibril di setiap malam pada bulan Ramadhan untuk membaca al-Quran.”

[Muttafaq ‘alaih. Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim]

  1. Mengakhirkan sahur

Sahur adalah sunnah, baik itu dalam puasa sunnah atau pun wajib. Sunnah dalam sahur adalah mengakhirkan waktunya, karena dalam hal sahur Nabi ﷺ biasa mengakhirkan waktunya.

Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu menceritakan, ”Kami sahur bersama Rasulullah ﷺ kemudian kami beranjak untuk shalat.” Ada yang bertanya, ”Berapa jarak antara keduanya?” Zaid menjawab, ”Sekitar lima puluh ayat.”

[Muttafaq ‘alaih. Hadits riwayat Al-Bukhari (4/118-119) dan Muslim no. 1097 dalam Ash-Shahihain]

Jarak waktu antara makan sahur dengan waktu datangnya shubuh adalah membaca al-Quran sebanyak 50 ayat. Maksudnya, ayat-ayat yang sedang, tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek, dengan bacaan yang sedang, tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat.

Dalam hadits riwayat Ath-Thabrani disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, ”Ada tiga akhlak para rasul, yaitu menyegerakan buka puasa, mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.”

Akhlak adalah perilaku yang dilakukan seseorang secara reflek tanpa berfikir panjang lagi. Berarti akhlak adalah kebiasaan. Jadi, salah satu kebiasaan para rasul adalah mengakhirkan sahur.

  1. Puasa wishal

Puasa wishal adalah puasa tanpa berbuka, baik dengan makanan atau minuman selama dua hari atau lebih secara berturut-turut. Dengan kata lain, puasa wishal adalah menyambung puasa satu hari dengan puasa pada hari berikutnya tanpa berbuka, tanpa makan dan minum.

Ini adalah kebiasaan Nabi ﷺ  yang bersifat khusus yang tidak disunnahkan bagi umatnya. Bahkan beliau melarang umatnya melakukan puasa wishal.

Dalam hadits shahih riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma disebutkan, ”Rasulullah ﷺ  menyambung puasa dalam bulan Ramadhan (puasa wishal). Lalu orang-orang pun ikut puasa wishal.

Maka beliau melarang mereka puasa wishal. Para sahabat berkata, ”Bukankah anda puasa wishal?” Nabi ﷺ  menjawab, ”Sesungguhnya aku tidak seperti kalian. Ketika aku tidur, Tuhanku memberikan makan dan minum kepadaku.” [Muttafaq ‘alaih]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, ”Yang dimaksud dengan makanan dan minuman yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya ﷺ ketika tidur adalah ilmu dan kecintaan yang dipancarkan ke dalam hatinya, sehingga beliau bisa merasakan lezatnya bermunajat kepada Tuhannya.

Makanan dan minuman di sini adalah apa yang mengenyangkan hati, jiwa dan ruh. Karena jika ruh dan hati telah kenyang dengan ‘makanannya’, maka hal ini dapat menguatkan tubuh, sehingga tubuh sanggup tidak mendapatkan makanan dan minuman untuk sementara waktu.” [Subulus Salam Ash-Shan’ani, 2/309]

  1. Menghidupkan malam dengan ibadah

Hal ini sebagaimana dalam hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, ”Rasulullah ﷺ bersungguh-sungguh di bulan Ramadhan, tidak seperti kesungguhan beliau di bulan-bulan yang lain.” [Hadits riwayat Muslim no. 1175]

Maksud “bersungguh-sungguh dibulan Ramadhan” dalam hadits ini adalah volume ibadah Rasulullah ﷺ lebih banyak pada bulan Ramadhan dibanding pada bulan-bulan yang lain.

  1. I’tikaf

Rasulullah ﷺ selalu i’tikaf di bulan Ramadhan pada sepuluh hari yang terakhir. Dalam hadits shahih riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim disebutkan, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, ”Rasulullah ﷺ selalu beri’tikaf di sepuluh hari yang terakhir pada bulan Ramadhan.” [Muttafaq ‘alaih]

  1. Menghidupkan sepuluh malam terakhir dan membangunkan keluarganya.

Hal ini sebagaimana dalam hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, ”Apabila telah masuk sepuluh hari (terakhir), Rasulullah ﷺ menghidupkan malam, membangunkan keluarganya dan bersungguh-sungguh serta mengencangkan sarungnya.”

[Muttafaq ‘alaih. Hadits riwayat Al-Bukhari (4/233-234) dan Muslim (1174) dalam Shahih mereka]

Yang dimaksud dengan membangunkan keluarganya adalah membangunkan istri-istrinya untuk shalat malam atau mengerjakan ibadah yang lain.

Sedangkan yang dimaksud dengan “bersungguh-sungguh serta mengencangkan sarungnya” adalah sungguh-sungguh ibadah pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan lebih dari hari-hari biasanya.

  1. Menyuruh para sahabat agar bersungguh-sungguh mencari lailatul qadar.

Ketika bulan Ramadhan telah memasuki sepuluh hari terakhir, Rasulullah ﷺ biasanya menyuruh para sahabatnya agar bersungguh-sungguh mencari lailatul qadar.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, ”Rasulullah ﷺ biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan dan beliau bersabda, ”Carilah lailatul qadar dengan sungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.”

[Muttafaq ‘alaih. Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim][ii]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Kumpulan-Materi-Khutbah-Jumat-Singkat-147

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Mari Meniru Kebiasaan Nabi ﷺ di Bulan Ramadhan

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Ali-Imran ayat ke 31,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ -٣١-

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah Mencintaimu dan Mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Ayat ini menegaskan kepada kita semua bahwa jika kita memang benar – benar jujur dengan pengakuan kita bahwa kita ini mencintai Allah Ta’ala, maka kita pasti akan menjadi orang yang senantiasa mengikuti ajaran dan tuntunan Nabi ﷺ .

Termasuk dalam hal ini adalah tuntunan Nabi ﷺ dalam menjalani puasa Ramadhan. Dari beberapa kebiasaan Nabi ﷺ yang telah dibahas tadi, hanya satu yang tidak boleh untuk diikuti, yaitu puasa wishal.

Sedangkan sisanya maka kita sangat dianjurkan untuk mengikutinya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu .[At-Taghabun: 16]

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، .

”Apa saja yang kalian aku larang darinya maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian maka kerjakanlah semampu kalian.”

[Hadits riwayat Al- Bukhari, no. 7288 dan Muslim, no. 1337]

Yang dimaksud dengan “مَا ٱسْتَطَعْتُمْ” “menurut kesanggupanmu / semampu kalian” dalam ayat dan hadits tersebut bukan semau kita, tapi semaksimal kekuatan yang kita miliki. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Dr. Imad Zhuhair Hafizh dalam tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah.

Misalnya, seseorang sebenarnya mampu untuk shalat tarawih secara berjamaah di masjid sampai sebulan penuh karena dia sehat, kuat dan tidak ada halangan apa pun. Namun tidak mau melakukannya dan hanya bertahan sampai 20 hari saja.

Setelah itu dia tidak lagi mau shalat tarawih. Saat ditanya mengapa tidak lagi shalat tarawih?, dia menjawab, ”Saya mampunya baru 20 hari. Kalau sudah menjelang lebaran, terus terang saya belum mampu. Masih suka nongkrong sama teman-teman.”

Ini namanya bukan semampunya. Betapa banyak orang yang meninggalkan sunnah Nabi ﷺ , termasuk sunnah – sunnah di bulan Ramadhan dengan alasan belum mampu, padahal faktanya tidak mau.

Sungguh rugi orang yang dikaruniai nikmat bisa bertemu dengan bulan mulia penuh berkah ini dalam keadaan sehat dan aman, namun hanya mengerahkan sedikit saja dari kemampuannya untuk memburu keutamaannya.

Andaikan ganjaran shalat tarawih di bulan Ramadhan berwujud suatu materi yang bisa dilihat dan langsung diterima dan bisa dimanfaatkan, misalnya berupa uang puluhan juta setiap malamnya, niscaya, dari awal sampai akhir Ramadhan, semua masjid tidak akan pernah ada yang kosong.

Namun Allah Ta’ala memang berkehendak menguji kecintaan para hamba-Nya, sehingga semua balasan berupa pahala yang jauh lebih besar dari dunia seisinya, bukan sekedar uang puluhan juta, ditunda hingga tiba Yaumul Jaza’, Hari Pembalasan.

Kumpulan-Materi-Khutbah-Jumat-Singkat-147-Lengkap

Doa Penutup

Semoga Allah karuniakan kepada kita semuanya hidayah dan taufik, sehingga kita bisa mengikuti kebiasaan Rasulullah ﷺ di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, semaksimal kemampuan yang kita miliki.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

 الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللهم احفَظ المُسلمين في كل مكان، اللهم احفَظ المُسلمين في بلاد الشام، وانصُرهم على عدوِّهم وعدوِّك يا رب العالمين

اللهم إنا نسألُك الجنةَ وما قرَّبَ إليها من قولٍ وعملٍ، ونعوذُ بك من النار وما قرَّب إليها من قولٍ وعملٍ

اللهم أصلِح لنا دينَنا الذي هو عصمةُ أمرنا، وأصلِح لنا دُنيانا التي فيها معاشُنا، وأصلِح لنا آخرتَنا التي إليها معادُنا، واجعل الحياةَ زيادةً لنا في كل خيرٍ، والموتَ راحةً لنا من كل شرٍّ يا رب العالمين

اللهم إنا نسألُك الهُدى والتُّقَى والعفافَ والغِنى، اللهم أعِنَّا ولا تُعِن علينا، وانصُرنا ولا تنصُر علينا، وامكُر لنا ولا تمكُر علينا، واهدِنا ويسِّر الهُدى لنا، وانصُرنا على من بغَى علينا

اللهم اجعَلنا لك ذاكِرين، لك شاكِرين، لك مُخبتين، لك أوَّاهين مُنيبين

اللهم تقبَّل توبتَنا، واغسِل حوبتَنا، وثبِّت حُجَّتنا، وسدِّد ألسِنتَنا، واسلُل سخيمةَ قلوبنا

اللهم اغفِر للمُسلمين والمُسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات، اللهم ألِّف بين قلوبِ المُسلمين ووحِّد صُفوفَهم، واجمع كلمتَهم على الحقِّ يا رب العالمين

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴾ [النحل: 90]

فاذكروا اللهَ يذكُركم، واشكُروه على نعمِه يزِدكم، ولذِكرُ الله أكبر، واللهُ يعلمُ ما تصنَعون


[i] https://islamqa.info/ar/answers/273606/%D8%AD%D9%88%D9%84-%D8%B5%D8%AD%D8%A9-%D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%87%D9%86%D9%89%D8%A9-%D8%A8%D8%AF%D8%AE%D9%88%D9%84-%D8%B1%D9%85%D8%B6%D8%A7%D9%86-%D8%A7%D8%AA%D8%A7%D9%83%D9%85-%D8%B1%D9%85%D8%B6%D8%A7%D9%86-%D8%B4%D9%87%D8%B1-%D9%8A%D8%BA%D8%B4%D8%A7%D9%83%D9%85-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D9%81%D9%8A%D9%87-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB

[ii] 165 Kebiasaan Nabi ﷺ , Abduh Zulfidar Akaha, Maktabah Abiyyu, Jakarta, 2006. hal 211-234 secara ringkas.

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Khutbah Jum’at Singkat Padat
– Khutbah Menyambut Ramadhan
Khutbah Jumat Keutamaan Ramadhan
Khutbah Jumat Kewajiban Ramadhan

Print Friendly, PDF & Email