Khutbah Jum’at: Keistimewaan Islam Dalam Berbagai Bidang

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

Mukaddimah Pembukaan Khutbah Jumat

Pokok Perkara Adalah Islam

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Dalam sebuah hadits saat menjawab pertanyaan salah seorang shahabat Nabi Muhammad ﷺ -yang dikenal sebagai sahabat yang paling mendalam ilmunya tentang masalah halal dan haram- yaitu Mua’adz bin Jabar radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ memberikan jawaban panjang lebar yang berisi pokok-pokok persoalan yang sangat mendasar dalam Islam.

Salah satu bagian dari hadits tersebut adalah sabda Nabi ﷺ berikut ini:

أَلَا أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ اْلأَمْرِ ، وَعَمُوْدِهِ، وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ؟ قُلْتُ: بَلَى، يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: رَأْسُ اْلأَمْرِ اْلإِسْلاَمِ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ اْلجِهَادُ

”… ‘Maukah engkau aku beritahu tentang pokok segala perkara, tiang-tiangnya, dan puncaknya?’ Aku katakan, ‘Mau, wahai Rasulullah!’ Nabi bersabda, ‘Pokok segala perkara adalah Islam, tiang-tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.’ [ Hadits riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Dalam kesempatan khutbah ini, tidak semua bagian dari nukilan hadits tersebut akan dibahas. Hanya bagian pertama saja yang akan dibahas yaitu tentang Ro’sul Amri al-Islam.

Syaikh Alawi bin Abdul Qadir As-Saqaf dalam al-mausu’ah al-haditsiyyah menjelaskan dalam syarahnya terhadap hadits ini:

“ألَا أُخبِرُكَ برأسِ الأمرِ كُلِّه ”Maukah engkau aku beritahu tentang pokok segala perkara”, yang dimaksud dengan ‘Ro’sul amri’ adalah رأسِ الدِّينِ ‘ro’sud diin’ (kepala (pokok pangkal) agama ini)… Sedangkan sabda Nabi ﷺ رأسُ الأمرِ: الإسلامُ “Ro’sul amri Al-Islam” maksudnya adalah “الشَّهادَتانِ” ‘dua kalimat syahadat’.

Dua kalimat syahadat itu menjadi pokok dalam agama ini. Dalam hadits ini terdapat isyarat bahwa posisi Islam bagi seluruh amal adalah seperti posisi kepala bagi tubuh. Tubuh sangat membutuhkan kepala dan tidak ada eksistensinya tanpa kepala.”

Penjelasan yang diberikan oleh Syaikh Alawi As-saqqaf ini memang selaras dengan sabda nabi ﷺ dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّ رَأْسَ هَذَا اْلأَمْرِ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

”Sesungguhnya kepala (pokok pangkal) agama ini adalah kamu bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata dan tidak ada sekutu bagi Allah dan bahwa Muhamma adalah hamba dan utusan-Nya.”

Islam Adalah Agama Yang Sempurna

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kita semua telah sering mendengar bahwa Islam merupakan agama yang sempurna. Hanya saja tidak setiap orang memahami dengan baik kesempurnaan Islam tersebut.

Dr. Murad Bakharishah memberikan penjelasan menarik tentang kesempurnaan Islam ini. Beliau mengatakan:

“Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan kita dengan agama yang komprehensif dan sempurna. Allah menjelaskan kepada kita di dalam agama ini segala sesuatu dan segala perkara. Syariat Allah Subhanahu wa Ta’a datang kepada kita sebagai penjelasan segala sesuatu dan sebagai rincian bagi setiap hukum dan persoalan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. [An-Nahl:89],

وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا

Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas. [Al-Isra’: 12]

dan

مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. [Al-An’am: 38]

Sebelum Rasulullah ﷺ meninggal, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, [Al-Maidah: 3]

Dengan demikian agama Islam ini adalah agama yang lengkap, sempurna dan umum, komprehensif atau menyeluruh. Di dalamnya tidak ada kekurangan dan cacat.

Tidak mungkin Rasulullah ﷺ meninggalkan sesuatu dari agama ini lalu tidak berbicara tentang hal itu atau melewatkannya.

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ  tidak berbicara karena hawa nafsu. Beliau hanyalah berbicara berdasarkan wahyu.

Nabi ﷺ  bersabda, ”Sesungguhnya tidak seorang nabi pun sebelumku kecuali dia telah mengajari umatnya kebaikan yang telah dia ketahui dan memperingatkan mereka dari keburukan apa yang yang dia ketahui.”

Sesungguhnya agama ini tidak hanya dibatasi dengan ibadah-badah semata. Agama ini adalah agama yang sempurna yang mencakup persoalan ibadah, muamalah, keyakinan, hukum, politik, ekonomi, sejarah, akhlak dan segala sesuatu terdapat dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ.

Oleh karenanya, seorang muslim yang mentauhidkan Allah haruslah menyerah kepada Allah dengan sebenarnya, tunduk kepada Allah dalam segala sesuatu dan mentaati-Nya dalam segala perkara, serta menjadi hamba yang sejati bagi Allah dalam semua perintah dan larangan dan seluruh persoalan.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ وَأُمِرْتُ لِأَنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”.

Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku”. [Az-Zumar 11-14]

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. [Al-An’am: 162-163]

Mayoritas kaum Muslimin hari ini tertimpa bencana berupa pemahamannya yang terbatas terhadap agama ini. Sebagian orang menyangka bahwa agama ini hanyalah puasa, shalat, haji dan zakat.

Dia lupa bahwa politik itu juga bagian dari agama ini. Pemahamannya tentang masalah politik harus berangkat dari pandangan syar’i rabbani yang terkait dengan manhaj atau jalan Allah dan golongan-Nya.

Allah Ta’ala berfirman tentang mereka:

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. [Al-Maidah: 56]

Dan

أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. [Al-Mujadalah: 22]

Ekonominya juga harus Islami, muncul dari syariat Allah sang Pencipta alam semesta. Demikian pula dengan kehidupan sipilnya harus tunduk kepada manhaj Allah dan agama-Nya.

Segala sesuatu dari urusan kehidupannya harus bersumber dari pandangan agama dan hukumnya, perintah Allah dan larangan-Nya hingga menjadi hamba Allah yang sebenarnya dan tunduk kepada-Nya dalam segala sesuatu.

Bila tidak demikian, lantas di manakah penghambaan kepada Allah dan agama-Nya ini bila manusia menjadi hamba Allah dalam shalat, puasa, bersuci, dan haji kemudian menjadi hamba selain Allah dalam afiliasi dan pemikiran politik dan menyelisihi Allah dalam sistem ekonomi dan sosial yang telah diperintahkan Allah dan telah digariskan dan dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ .

Apakah masuk akal Rasulullah ﷺ itu mengajari kita hukum-hukum kamar mandi, siwak atau membersihkan gigi serta urusan-urusan ringan lainnya, kemudian meninggalkan kepada kita secara lepas bebas tentang persoalan-persoalan besar seperti politik, peradilan, hukum, ekonomi dan menjalankan berbagai persoalan kehidupan sosial dan moral?

Ini mustahil terjadi.

Allah Ta’ala berfirman,

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. [Al-A’raf: 54]

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, [Ar-Rum: 30]

Sebagian orang menyangka bahwa agama itu hanya penampilan luar semata sehingga mereka fokus pada ibadah-ibadah yang lahir tanpa memperhatikan ibadah-ibadah yang bersifat amalan hati yang tidak terlihat.

Mereka memperhatikan tampilan luar tanpa memperhatikan aspek ruhiah dan ikhlas karena Allah, jujur kepada Allah dan tunduk kepada Allah dalam semua ibadah baik yang lahir maupun batin.

Allah telah memperingatkan kita mengenai orang-orang munafik yang meperhatikan yang zhahir namun mengabaikan yang batin dalam firman-Nya:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. [An-Nisa’: 142]

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ ۖ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ ۖ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ ۖ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ ۚ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۖ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? [Al-Munafiqun: 4]

Rekomendasi Keutamaan Qurban dan Hikmah Berqurban

Keistimewaan Islam

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Sebagai sebuah agama Islam adalah agama yang lengkap, sempurna dan selaras dengan fitrah umat manusia serta bisa diaplikasikan di sepanjang zaman dengan berbagai latar belakang suku dan budaya.

Islam sangat mampu beradaptasi dengan berbagai keragaman yang ada tanpa menanggalkan prinsip-prinsipnya yang agung.

Sebagai sebuah sistem kehidupan, Islam memiliki banyak kelebihan, keunggulan dan keistimewaan. Sekedar sebagai gambaran global, kami akan memberikan penjelasan singkat keistimewaan beberapa aspek dari sistem hidup Islam.

1. Keistimewaan Syariat Islam

Menurut Dr. Abdul Qadir Audah ada 3 keistimewaan syariat Islam bila dibandingkan dengan hukum positif buatan manusia:

  1. Pertama, Syariat Islam memiliki sifat sempurna yaitu meliputi apa saja yang dibutuhkan oleh syariat yang sempurna berupa kaidah dan prinsip yang menjamin pemenuhan kebutuhan-kebutuhan masyarakat di masa kini yang dekat dan juga di masa depan yang jauh.
  2. Kedua, kaidah-kaidah syariat Islam dan prinsip-prinsipnya senantiasa lebih tinggi dari level masyarakat. Di dalam Syariat Islam terdapat kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip yang memelihara Syariat islam ini tetap berada di level yang tinggi ini betapa pun tingginya tingkatan suatu masyarakat.
  3. Ketiga, syariat Islam lebih unggul dari hukum positif dari sisi kestabilan dan kemapanan. Nash-Nash atau ketentuan-ketentuan hukumnya tidak menerima koreksi dan penggantian betapa pun lama mas a yang sudah berjalan. Pada saat yang sama, Syariat Islam mampu menjaga kesesuaiannya dengan segala tempat dan waktu. [At-Tasyri’ Al-Jinai al Islami, Dr. Abdul Qadir Audah 1/24]

2. Keistimewaan Aqidah Islam

Dalam hal keyakinan, akidah islam juga memiliki keistimewaan yang tidak ada pada akidah di luar Islam. Di antaranya menurut Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawi adalah:

  1. Sesuai dengan fitrah manusia

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Ar-Rum: 30,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

  1. Akidah Islamiyah bersifat tetap tidak menerima penambahan dan pengurangan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هذا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُو رَدٌّ

”Siapa yang mengada-adakan hal baru dalam urusan kami ini (yaitu Islam,pent) sesuatu yang bukan bagian darinya maka hal itu tertolak.” [Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Asy-Syura: 21 ,

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۗ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.

  1. Berbasis bukti-bukti (burhan)

Para ulama berkata, ”Naql (dalil naqli) yang shahih tidak akan bertentangan dengan akal yang jelas.” Kita melihat Al-Quran dalam persoalan uluhiyah (ketuhanan) menegakkan bukti-bukti dari alam semesta, jiwa manusia dan dari sejarah tentang eksistensi Allah serta keesan-Nya dan kesempurnaan-Nya.

  1. Akidah yang bersifat pertengahan.

Akidah Islam adalah akidah yang ada di tengah, menjaga dari sikap melampaui batas (ifrath) dan dari sikap mengurangi ajaran agama (tafrith), terpilih, adil dan seimbang.

3. Keistimewaan Ekonomi Islam

Mengenai ekonomi Islam, Mustafa Edwin Nasution, Ketua Program kajian Timur Tengah dan Islam, Program Pascasarjana Universitas Indonesia dalam sebuah tulisannya tentang Ekonomi Islam Sebagai Sistem Alternatif Untuk Pemulihan ekonomi Indonesia menyatakan sistem ekonomi Islam berbeda dengan sistem ekonomi konvensional dalam banyak hal.

  1. Pertama, sistem ekonomi Islam itu dibangun di atas landasan al-Quran dan hadits dan bukan dibangun di atas landasan rasio manusia seperti yang terjadi pada sistem ekonomi pasar.
  2. Kedua, secara umum dapat dikatakan bahwa salah satu ciri utama dari sistem ekonomi Islam adalah pelarangan riba atau bunga dari kegiatan perekonomian. Sementara, kita tahu bahwa riba atau bunga merupakan salah satu variabel dalam sistem ekonomi konvensional yang menentukan jalannya sistem yang ada.
  3. Variabel zakat yang merupakan salah satu variabel kunci untuk menggerakkan roda perekonomian dalam sistem ekonomi islam.
  4. Seluruh kegiatan dari pelaku ekonomi salam sistem ekonomi Islam harus bertindak sesuai dengan apa-apa yang telah digariskan dalam Al-Quran dan Hadits. Berbagai kegiatan produksi haruslah merupakan kegiatan produksi barang-barang yang halal yang dilandasi oleh etika dan moral Al-Quran dan hadits.

Demikian pula tingkah laku kita mengkonsumsi barang-barang dan jasa-jasa haruslah dilakukan berdasarkan kaidah-kaidah yang sesuai dengan syariah.

4. Keistimewaan Pendidikan Islam

Sedangkan dalam persoalan pendidikan, sistem pendidikan Islam juga memiliki sejumlah keistimewaan yang tidak dimiliki sistem pendidikan yang lain. Di antara kelebihan sistem pendidikan Islam menurut Dr. Khalid bin Hamid Al-Hazimi dalam kitabnya Ushul At-Tarbiyah Al-Islamiyyah adalah:

  1. Rabbaniyah

Yang dimaksud rabbaniyah adalah hukum-hukum Islam dan arahan-arahannya sumbernya yang pokok adalah dari Allah Azza wa Jalla dan bukan dari hawa nafsu manusia.

Inilah yang membedakannya dari teori-teori buatan manusia yang sumbernya adalah hawa nafsu dan pemikiran yang bisa ditolak dan dikoreksi sehingga bisa berubah dan berganti sesuai dengan hawa nafsu dan syahwat.

  1. Komprehensif dan terpadu

Pendidikan islam tidak memisah antara agama dengan dengan dunia. Ia bersifat kekal hingga hari kiamat dan sesuai dengan fitrah manusia dan sesuai untuk segala tempat dan masa.

Pendidikan Islam tidak terbatas pada masa dan tempat tertentu.

  1. Seimbang

Pendidikan Islam memperhatikan seluruh aspek dalam diri manusia baik yang berkaitan dengan akhlak, tubuh dan akal dan mewujudkan keseimbangan antara tuntutan manusia yang bersifat fisik maupun ruhiah. Tidak melebihkan satu aspek dari aspek yang lain.

  1. Tetap dan Fleksibel

Dalam ajaran Islam ada perkara-perkara yang bersifat tetap yang tidak mungkin untuk mengubahnya atau menggantinya atau menghilangkannya.

Hal itu berupa kaidah-kaidah yang bersifat global dan prinsi-prinsip umum serta hukum-hukum yang bersifat parsial (juziyyah) yang terdapat nash mengenainya.

Sebagai contoh adalah memberikan amanat kepada ahlinya, wajibnya amar makruf nahyi mungkar, haramnya pencurian dan penipuan dan riba. Semua ini tidak boleh ada perubahan dan penggantian.

Sedangkan fleksibilitas nampak dalam kadar penyelesaian masalah yang muncul dalam kehidupan manusia. Rahasia dari fleksibilitas syariat Islam dan kelayakannya bagi setiap masa dan tempat adalah bahwa Islam itu datang dengan kaidah-kaidah global dan nilai-nilai serta prinsip-prinsip yang kokoh yang tidak akan berubah dan tidak berganti.

Setelah itu para ulamamengarahkan kajian dan ijtihad dalam masalah-masalah dan peristiwa-peristiwa yang bersifat juziyyah yang berkembang dalam kerangka kaidah -kaidah dan prinsip-prinsip ini.

  1. Realistis

Kesesuaian bimbingan ajaran Islam itu nampak jelas dan gamblang bagi setiap orang melalui hakikat-hakikat yang obyektif, yang selaras dengan fitrah manusia dan potensi manusia.

Bukan hanya dengan teori-teori pemikiran murni dan tidak pula dengan idealita-idealita yang tidak ada tempatnya dalam kehidupan manusia.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

155 Materi Khutbah Jumat Terbaru

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ

Tidak Mati Kecuali Dalam Keadaan Islam

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Dalam khutbah kedua ini kami ingin mengingatkan diri kami sendiri dan jamaah Jumat semuanya tentang pentingnya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diberi keteguhan di atas Islam dan meninggal dalam keadaan sebagai Muslim.

Hal ini karena amal seseorang itu tergantung dengan penutupnya. Rasulullah ﷺ bersabda,

إنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَنَ الطَّوِيلَ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ، ثُمَّ يُخْتَمُ له عَمَلُهُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، وإنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَنَ الطَّوِيلَ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، ثُمَّ يُخْتَمُ له عَمَلُهُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ.

”Ada orang yang benar-benar beramal dalam waktu yang lama dengan amalan ahli surga, kemudian amalnya ditutup dengan amalan ahli neraka. Dan ada orang yang benar-benar melakukan amal ahli neraka dalam waktu yang lama, kemudian amalnya ditutup dengan amalan ahli surga.” [Hadits riwayat Muslim]

Kematian di atas Islam adalah keberhasilan yang hakiki bagi seorang Muslim. Ia merupakan pintu keselamatan dan kebahagiaan untuk selamanya di akhirat nanti.

Capaian dunia berupa harta pangkat dan jabatan tidak sebanding bila disandingkan dengan kematian di atas Islam. Apa artinya semua itu bila seseorang meninggal di atas kekafiran?

Meninggal di atas kekafiran adalah bencana terbesar yang menimpa seorang anak manusia dan merupakan kegagalan yang sangat nyata dalam kehidupan di dunia ini.

Sebab di akhirat nanti orang yang meninggal di atas keyakinan selain Islam tidak memiliki masa depan kecuali kesengsaraan tanpa batas. Mereka tidak bisa menebus semua itu dengan dunia ini seluruhnya.

Karenanya, tidak mengherankan bila Nabi yusuf ‘alaihis salam, setelah menjadi raja yang berkuasa dengan segala fasilitas dan kemewahan serta popularitas dan pengaruh di kalangan masyarakat di negerinya, tidak lengah dari urgennya persoalan ini.

Impian dan cita-cita terbesar Nabi Yusuf ‘alaihis salam beliau tuangkan dalam doanya yang terkenal di dalam surat Yusuf: 101:

رَبِّ قَدْ ءَاتَيْتَنِى مِنَ ٱلْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِى مِن تَأْوِيلِ ٱلْأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ أَنتَ وَلِىِّۦ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلآخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِى مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِى بِٱلصَّٰلِحِينَ

Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan makna doa ini “wafatkanlah aku dalam keadaan Islam “:

”Maksudnya adalah tetapkanlah akidah Islam pada diriku dan teguhkanlah hatiku di atasnya hingga Engkau mewafatkanku dalam keadaan berpegang teguh kepadanya. Permohonan ini bukanlah doa agar Allah mempercepat kematian untuk dirinya.

“dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shalih”, dari kalangan para nabi yang berbakti kepadaMu dan orang-orang yang terbaik lagi terpilih.

Semoga kisah Nabi Yusuf ini menginspirasi kita agar tidak terpedaya dengan berbagai capaian dunia dalam bentuk apa pun sehingga lupa memelihara diri dari segala hal yang bisa menyebabkan terjerumus dalam berbagai tindak kemaksiatan yang bisa mengantarkan kepada suul khatimah. Kita berlindung kepada Allah dari suul Khatimah.

155 Kumpulan Khutbah Jumat Singkat

Doa Penutup

Demikian khutbah jumat tentang keistimewaan Islam yang kami sampaikan. Bila ada kebenaran di dalamnya maka itu dari rahmat Allah semata dan bila ada kesalahan dan kekeliruan maka itu dari kami dan dari setan. Allah dan Rasul-Nya berlepas diri darinya.

Semoga Allah mengampuni segala kesalahan kami. Marilah kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menutup khutbah ini

اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Teks Khutbah Jumat Lengkap Dengan Doanya
– Khutbah Jumat Tentang Amalan Hati
Khutbah Jumat Tentang Keutamaan Dakwah

Print Friendly, PDF & Email