Khutbah Jumat: Urgensi dan Keutamaan Mencintai Rasulullah ﷺ

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

Mukaddimah Pembukaan Khutbah Jumat

Keutamaan Rasulullah ﷺ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Di antara karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita kaum Muslimin adalah Allah telah mengutus kepada kita penutup para Nabi dan Rasul, Muhammad ﷺ. Pada hari kiamat kelak seluruh Nabi akan mengikutinya dan dikumpulkan di bawah panjinya.

Hal ini sebagaimana dalam sebuah hadits dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,

أنا سيِّد وَلَدِ آدم يوم القيامة ولا فخر، وبيدي لواء الحمد ولا فخر، وما مِن نبي يومئذ آدم فمَن سِواه إلا تحت لوائي

Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat. Dan Aku bukan hendak membanggakan diri. Di tangankulah panji Al-Hamd dan aku bukan hendak membanggakan diri. Dan tidak seorang Nabi pun pada hari itu baik Adam maupun selain dirinya kecuali berada di bawah panjiku.”

[Hadits riwayat Ahmad 2/3 no. 11.000, At-Tirmidzi 5/308 no. 3148, dan dia berkata, ”Hasan Shahih.” Dan Ibnu Majah 2/1440 no. 4308]

Surga tidak akan dibuka kecuali untuk orang-orang yang melewati jalannya dan mengikuti petunjuknya. Nabi ﷺ bersabda,

آتِي بَابَ اْلجَنَّةِ فَأَسْتَفْتِحُ، فَيَقُوْلُ اْلخَازِنُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُوْلُ: مُحَمَّدٌ، فَيَقُوْلُ: بِكَ أُمِرْتُ ألَّا أَفْتَحَ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ

Aku mendatangi pintu surga lalu aku meminta agar pintu tersebut dibuka. Maka Penjaga pintu surga bertanya, ”Siapakah kamu?” Aku menjawab, ”Muhammad.”Lantas dia berkata, ”Karena dirimu aku diperintahkan agar aku tidak membuka pintu ini untuk seorang pun sebelum dirimu.”

[Hadits riwayat Muslim 1/188, no. 197]

Ketinggian kedudukan Rasulullah ﷺ sampai sejauh itu. Bila melihat keagungan diri beliau yang digambarkan langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Quran, maka kita bisa memakluminya. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” [Nun: 4]

Urgensi Cinta Rasul

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Dalam akidah Islam, mencintai Rasulullah ﷺ adalah persoalan yang sangat fundamental dan urgen.

Banyak dalil yang menunjukkan betapa pentingnya kecintaan seorang Muslim kepada Nabi ﷺ bagi kebaikan kualitas imannya. Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah:

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari 1/14 no. 15 dan Muslim 1/67 no. 44 dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ، وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga aku menjadi orang yang lebih dia cintai daripada anaknya dan orang tuanya dan seluruh manusia.”

Dengan demikian, mukmin sejati adalah orang yang menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai orang yang paling dia cintai melebihi cintanya kepada anaknya, orang tuanya dan seluruh umat manusia.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, ”Di antara hak Nabi ﷺ adalah dia lebih dicintai oleh orang mukmin melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, anaknya dan seluruh makhluk.

Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” [At-Taubah: 24] [lihat: Taqrib Ash-Sharim al-Maslul 1/259; Dr. Shalah Shawi]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, ”Ayat yang agung ini merupakan dalil paling besar atas wajibnya mencintai Allah dan Rasul-Nya ﷺ dan wajibnya mendahulukan kecintaan kepadanya daripada kecintaan kepada segala sesuatu.

Selain itu, ayat tersebut juga menunjukkan ancaman yang keras dan kemurkaan yang besar kepada orang yang lebih mencintai perkara-perkara yang disebutkan dalam ayat tersebut daripada Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan Allah.

Tanda dari hal itu adalah jika dia dihadapkan pada dua perkara:

  1. Yang pertama, perkara itu dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya dan dalam dirinya tidak ada keinginan terhadap perkara tersebut.
  2. Yang kedua, dirinya menyukai perkara tersebut dan sangat menginginkannya akan tetapi perkara tersebut mengakibatkan sirnanya apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya atau bisa menguranginya.

Maka, jika dia lebih mengutamakan apa yang lebih disukai oleh dirinya daripada apa yang dicintai oleh Allah, berarti dia adalah orang yang zhalim yang meninggalkan apa yang diwajibkan atas dirinya.” [Tafsir as-Sa’di 1/332]

Bahkan seorang Mukmin tidak akan memiliki iman yang sempurna sampai dia lebih mencintai Nabi ﷺ daripada dirinya sendiri.

Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Wahai Rasulullah! Anda benar-benar orang yang paling saya cintai daripada segala sesuatu kecuali diri saya sendiri.

Maka Rasulullah ﷺ bersabda, ”Tidak demikian. Demi Allah yang Jiwaku ada di tangan-Nya! Sampai aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri.” Lalu Umar berkata, ”Sungguh sekarang Anda lebih saya cintai daripada diri saya sendiri.” Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, ”Sekarang (sudah benar) wahai Umar.” [Hadits riwayat Al-Bukhari 6/2445 no. 6257]

Khutbah Jumat Tentang Gempa Bumi Dalam Islam
Khutbah Jumat Tentang Sebab Bencana dan Musibah

Hal-Hal Yang Mendorong Untuk Mencintai Nabi ﷺ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Sesungguhnya kecintaan kepada Rasulullah ﷺ itu ada faktor-faktor yang menjadi sebab dan pendorongnya. Faktor-faktor dan sebab-sebab itulah yang membuat kita sangat berkeinginan untuk mencintai beliau ﷺ dengan kecintaan yang sangat kuat.

Di antara faktor dan sebab kecintaan terhadap Rasululullah ﷺ adalah:

  1. Pengagungan terhadap kecintaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menicntai Nabi ﷺ itu mengikuti kecintaan kepada Allah ‘Azza wa jalla
  2. Sesungguhnya Nabi ﷺ adalah pemimpin seluruh anak keturunan Adam dan penutup para Nabi.
  3. Sesungguhnya Nabi ﷺ adalah orang yang menyampaikan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala
  4. Sesungguhnya Nabi ﷺ adalah orang yang sangat penuh kasih sayang kepada umatnya dalam segala hal yang dia syariatkan.
  5. Sesungguhnya Nabi ﷺ adalah orang yang sangat peduli kepada umatnya dan sabar dalam berdakwah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
  6. Sesungguhnya Nabi ﷺ memiliki keistimewaan berupa akhlak yang tinggi nan agung.
  7. Sesungguhnya mencintai Nabi ﷺ itu berpahala sangat besar di dunia dan akhirat.

Baca juga: Khutbah Hukuman Bagi Penghina Nabi

Bukti / Tanda Cinta kepada Rasulullah

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,

Demikian tadi sejumlah faktor dan sebab mengapa seorang muslim harus mencintai Nabi ﷺ dengan kecintaan yang tulus, dan kuat.

Rasa cinta semacam ini pasti memiliki tanda yang bisa dilihat secara zhahir. Sebab rasa suka atau cinta kepada sesuatu atau seseorang itu akan memunculkan sikap dan perilaku tertentu yang menggambarkan perasaan suka tersebut terhadapnya.

Lantas apa sajakah tanda-tanda kecintaan seorang muslim kepada Nabi Muhammad ﷺ? Di antara indikasi terkuat seorang Muslim mencintai Nabi ﷺ adalah sebagai berikut:

  1. Lebih mengutamakan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ dibandingkan kecintaannya kepada yang lain.
  2. Mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ, tidak menentangnya dan tidak memperolok-oloknya.
  3. Sangat perhatian untuk membaca sejarah hidup Nabi ﷺ yang harum semerbak serta berjalan di atas petunjuknya.
  4. Banyak mengingatnya dengan lisan dan hati serta memperbanyak membaca shalawat untuk Nabi ﷺ.
  5. Mencintai orang-orang yang shalih dan para para penyeru kepada sunnah Nabi ﷺ, serta orang-orang yang mengamalkan sunnah Nabi ﷺ terutama para sahabat.
  6. Merasa rindu untuk melihat Nabi ﷺ dan bersahabat dengannya. Sebagaimana sabda beliau ﷺ’

مِن أشدِّ أُمَّتي لي حُبًّا ناسٌ يكُونون بعدي، يودُّ أحدُهم لو رآني بأهله وماله

Umatku yang paling kuat rasa cintanya kepadaku adalah orang-orang yang hidup setelahku. Salah seorang dari mereka sangat berkeinginan andaikan mereka melihatku walau dengan tebusan berupa keluarganya dan hartanya.” [Hadits riwayat Muslim 4/2178 no. 2832]

Baca juga Khutbah Tentang: Jenis Syafaat Rasul Untuk Umatnya

Cara Mencintai Rasulullah ﷺ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bila mencintai Rasulullah ﷺ merupakan salah satu tuntutan iman yang paling besar, lantas bagaimanakah cara mencintai Rasulullah ﷺ ? cara mencintai Rasulullah ﷺ di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Mentaati Rasulullah ﷺ

Hal sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. [An-Nisa’: 80]

2. Memberikan pembelaan yang kuat terhadap Nabi ﷺ dan agamanya terutama saat kehormatan nabi ﷺ dan agamanya dirusak dan dihinakan orang yang membenci beliau ﷺ dan agamanya.

Sebagai contoh, bagi yang memiliki kemampuan di masa sekarang ini adalah dengan cara membuat website khusus untuk membela Nabi ﷺ dan sunnahnya.

Serta membantah berbagai syubhat yang tersebar mengenai Nabi ﷺ dan sunnahnya, menyebarkan problem-problem umat Nabi ﷺ di seluruh penjuru dunia.

3. Mengagungkan Nabi ﷺ dan menghormatinya serta tidak meremehkan sunnahnya.

Banyak orang yang tidak menerapkan sunnah. Selain itu anda dapati mereka juga mengolok-olok orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnah Nabi ﷺ.

Pada saat yang sama mereka menyatakan dirinya mencintai Nabi ﷺ dengan lisannya. Antara apa yang diucapkan dan yang dilakukan tidak konsisten sehingga membikin bingung orang yang melihatnya.

4. Memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi ﷺ.

Allah subhanahu wa Ta’ala bahkan telah memerintahkan kepada orang-orang beriman agar mengucapkan shalawat kepada Rasulullah ﷺ dalam firman-Nya,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzab: 56]

Yang dimaksud dengan shalawat Allah Allah kepada Nabi ﷺ adalah pujian Allah kepada beliau di hadapan para Malaikat-Nya. Sementara, shalawat Malaikat berarti doa untuk Nabi ﷺ, dan shalawat ummatnya berarti permohonan ampun bagi Nabi ﷺ.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jumat dan malam Jumat. Siapa yang mengucapkan satu kali ucapan shalawat kepadaku niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.”

[Hadits riwayat Al-Baihaqi (III/249) dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, sanad hadits ini hasan. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1407) oleh Syaikh al-Albani rahimahullah]

5. Mencintai orang-orang yang dicintai oleh Nabi ﷺ dan apa saja yang dicintai nabi ﷺ baik berupa makanan, minuman, pembicaraan, tempat dan waktu. Ini merupakan kecintaan yang hakiki.

Di antara orang -orang yang dicintai oleh Nabi ﷺ adalah:

  1. Ahli baitnya.

Yang dimaksud dengan Ahli Bait Nabi ﷺ adalah orang-orang yang diharamkan untuk mengambil sedekah. Hal ini sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Imam al Baihaqi rahimahullah mengatakan bahwa di antara ruang lingkup mencintai Nabi ﷺ, adalah mencintai Ahli Bait.” [Syu’abil Iman, al Baihaqi (1/282)]

  1. Para istri Nabi ﷺ

Istri Nabi Muhammad ﷺ memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Mereka tidak sebagaimana wanita pada umumnya. Mereka diposisikan sebagai ibu bagi orang-orang mukmin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik, [Al-Ahzab: 32]

النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. [Al-Ahzab: 6]

Bila sedemikian tinggi kedudukan para istri nabi dalam Islam, maka sudah selayaknya mereka mendapatkan penghormatan dan kecintaan dari umat Nabi Muhammad ﷺ.

  1. Para sahabat Nabi ﷺ

Para sahabat Nabi Muhammad ﷺ bukanlah manusia sembarangan. Mereka adalah sebuah generasi yang memiliki berbagai keutamaan dan keistimewaan setelah mereka mendapat tarbiyah terbaik dari Nabi ﷺ .

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang keutamaan para sahabat radhiyallahu ‘anhum,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang sesama mereka; kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.

Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya.

Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar” [al Fath: 29].

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)” [al Fath :18].

Sedangkan Rasulullah ﷺ berwasiat tentang para sahabatnya,

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Janganlah kalian mencaci maki sahabatku! Janganlah mencaci maki sahabatku! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan dapat menyamai sedekah mereka seberat satu mud dan separuhnya saja tidak. [Hadits riwayat Muslim (2540), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.]

Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,

آيَةُ الإِيْمَانِ حُبُّ الأَنْصَارِ وَآيَــةُ النِّفَاقِ بُعْضُ الأَنْصَارِ

Tanda keimanan adalah cinta kepada kaum Anshar. Dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar”.

6. Berakhlak dengan akhlak Nabi ﷺ dan berjalan di atas jalannya.

Dalam diri Nabi ﷺ telah terdapat suri tauladan yang terbaik dalam segala hal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. [Al-Ahzab: 21]

Rasulullah ﷺ adalah al-Quran yang berjalan di muka bumi. Berjalan di antara manusia. Akhlaknya dengan mudah bisa dilihat dan ditiru oleh siapa saja yang bergaul dengannya. Bagi umatnya, dia bisa meniru akhlak nabi ﷺ dengan membaca riwayat yang shahih tentang diri beliau dan akhlaknya.

Dari berbagai hadits yang shahih tersebut setiap muslim bisa berakhlak denga akhlak Nabi ﷺ dalam hal makan, minum, tidur, bergaul dan seterusnya. Demikianlah cara mencintai Nabi ﷺ. Semoga kita semua dikaruniai kekuatan dan taufik untuk mencintai nabi ﷺ dengan sepenuh hati dan dengan cara yang dibenarkan syariat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

155 Kumpulan Khutbah Jumat Singkat

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ

Keutamaan Mencintai Rasulullah ﷺ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Mencintai Rasulullah ﷺ adalah kewajiban yang agung dalam agama Islam. Karenanya, amal shalih ini memiliki keutamaan yang besar pula sesuai dengan keagungan kewajiban ini.

Di antara keutamaan mencintai Rasulullah ﷺ adalah:

1. Bersama Rasulullah ﷺ di akhirat nanti

Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala surat An-nisa’: 69

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Mengenai sebab turunya ayat ini terdapat sebuah penjelasan dalam sebuah hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, ”Seseorang datang kepada Nabi ﷺ kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh Anda lebih saya cintai daripada diri saya sendiri, dan sungguh Anda lebih saya cintai daripada anak saya.

Ketika saya berada di rumah lalu aku teringat diri Anda maka saya tidak dapat bersabar untuk mendatangi Anda dan melihat Anda; dan jika saya mengingat kematian saya dan kematian Anda maka saya tahu bahwa Anda akan masuk surga dan diangkat derajat anda bersama para nabi, dan jika saya masuk surga, saya khawatir tidak dapat lagi melihat Anda”.

Nabi ﷺ tidak menjawab perkataannya, sampai ayat ini turun kepadanya,

وَمَن يُطِعِ اللهَ وَالرَّسُولَ فَأُو۟لٰٓئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِم…..

[Hadits riwayat Ath-Thabari dalam tafsirnya secara mursal dari Sa’id bin Jubair rahimahumallahu]

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa seseorang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hari kiamat, ”Kapankah terjadinya kiamat.” Nabi ﷺ bertanya kepadanya,

وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا

Apa yang sudah kamu persiapkan untuk hari kiamat?”

Dia menjawab, ”Tidak ada sesuatu pun kecuali hanya aku mencintai Allah dan rasul-Nya ﷺ. Maka Rasulullah bersabda,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

Kamu bersama dengan siapa yang kamu cintai.”

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Kami belum pernah bergembira terhadap sesuatu sebagaimana gembiranya kami dengan sabda Nabi ﷺ: ”Kamu bersama dengan siapa yang kamu cintai.”

Saya mencintai Nabi ﷺ , Abu Bakar, Umar dan saya berharap untuk bisa bersama mereka dengan rasa cintaku kepada mereka meskipun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

2. Mendapatkan rasa manisnya iman

Hal sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin malik dari Nabi ﷺ , beliau bersabda,

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَمَنْ أَحَبَّ عَبْدًا لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ

Siapa saja yang dalam dirinya ada tiga perkara ini maka dia mendapatkan rasa manisnya iman. Siapa yang mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi dari yang selain keduanya dan siapa yang mencintai seseorang hanya karena Allah semata dan siapa yang tidak suka untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana dia tidak suka bila dilemparkan ke dalam neraka.”

Imam An-Nawawi rahimahullah saat menerangkan hadits ini berkata, ”Ini merupakan hadits yang agung yang merupakan salah satu dari prinsip Islam. Para ulama rahimahumullah berkata, ’Makna manisnya iman adalah merasakan kelezatan taat dan menanggung penderitaan dalam meraih keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya ﷺ.

Selain itu adalah mengutamakan hal tersebut di atas kepentingan dunia. Kecintaan seorang hamba kepada Rabb-nya bisa terwujud dengan melakukan ketaatan kepada Allah dan tidak melanggar larangan-Nya. Demikian pula dengan mencintai Rasulullah ﷺ. “

Sedangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, ” (sabda Nabi) “Siapa yang mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi dari yang selain keduanya” ini merupakan bagian dari pokok iman yang diwajibkan. Seorang hamba tidak bisa menjadi seorang mukmin tanpa hal ini.”

155 Materi Khutbah Jumat Terbaru

Doa Penutup

Demikian khutbah yang bisa kami sampaikan tentang cara mencintai Nabi ﷺ serta keutamaannya. Semoga bisa memberikan manfaat bagi kita semuanya.

Bila ada kebenaran dalam khutbah ini maka itu dari rahmat Allah semata dan bila ada kesalahan dan kekeliruan maka itu dari kami dan dari setan. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kami.

Marilah kita akhiri khutbah kali ini dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Khutbah Jum’at Singkat Terbaru
Khutbah Jumat Tentang Menghina Nabi
– Khutbah Jumat Keistimewaan Islam

Print Friendly, PDF & Email