Khutbah Jumat Tentang Riya, Bahaya Riya, Dan Tips Terlepas Darinya

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

Mukaddimah Pembukaan Khutbah Jumat

Mukadimah

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Segala puji mari kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Atas rahmat dan karunia-Nya kita semua bisa melaksanakan kewajiban ibadah shalat Jumat di masjid ini dengan selamat tanpa ada halangan apa pun.

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi kita yang mulia Muhammad ﷺ , keluarganya, para sahabatnya dan kaum Muslimin yang mengikuti sunnah Nabi ﷺ dengan penuh keikhlasan dan istiqamah secara lahir dan batin.

Selanjutnya kami berwasiat kepada diri sendiri dan kepada jamaah shalat Jumat sekalian, marilah kita berusaha terus menerus untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benar takwa, semaksimal kemampuan yang kita miliki di mana pun kita berada.

Apa itu Riya’

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Muhammad : 33

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَلَا تُبْطِلُوْٓا اَعْمَالَكُمْ – ٣٣

Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan janganlah kamu merusakkan segala amalmu.

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala melarang kita melakukan sesuatu yang bisa merusak amal shaleh yang kita lakukan. Ada banyak perkara yang bisa merusak amal shaleh seseorang. Di antara yang sangat berbahaya adalah riya’.

Lantas apakah riya’ itu? Pengertian riya’ bisa dijelaskan dari segi bahasa dan istilah syar’i:

Riya’ Secara bahasa

أن يُظهِر الإنسانُ من نفسه خلافَ ما هو عليه ليراه الناس

”Seseorang menampakkan sesuatu dari dirinya yang berbeda dengan keadaan dirinya yang sebenarnya, dengan tujuan agar manusia memperhatikan dirinya.”

[Lihat: Lisanul ‘Arab (4/291), Mukhtarush Shihah (1/111), Mu’jam Al-Fuqaha’ (1/228)]

Riya’ Secara Istilah

  • Menurut Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah, riya’ adalah menampakkan ibadah dengan tujuan agar orang-orang melihat ibadah tersebut lalu mereka memuji pelaku ibadah tadi.” [Fathul Bari (18/336)]
  • Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, ”Pangkal dari riya’ adalah mencari kedudukan di hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka berbagai jenis kebaikan. Jadi riya’ adalah menginginkan hamba dengan melakukan ketaatan kepada Allah.” [Ihya’ Ulumiddin: 2/483]
  • Sedangkan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, tokoh ulama Tabi’in mengatakan,

أصْل الرِّياء حبُّ المحْمدَة

“Pangkal dari riya’ adalah menyukai pujian.” [Al-Auliya’, Ibnu Abi Dunya, 1/69][i]

Bahaya Riya’

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Riya’ merupakan syirik yang tersembunyi yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah ﷺ akan menimpa kita semua.

عن أبي سعيدٍ رضيَ اللهُ عنهُ قالَ: خَرَجَ علينا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ونحنُ نَتَذاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ، فقالَ: «ألا أُخْبرُكُمْ بما هوَ أخْوَفُ عليكُمْ عندي من المسيحِ الدَّجالِ؟»، قالَ: قُلنا: بَلَى، فقالَ: «الشِّرْكُ الخَفِيُّ، أنْ يقومَ الرَّجُلُ يُصلِّي فيُزَيِّنُ صلاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ») رواه ابنُ ماجه

”Rasulullah ﷺ keluar menemui kami. Kami saat itu sedang saling mengingatkan tentang Al-Masih Dajjal. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, ”Maukah kalian aku beritahu tentang sesuatu yang lebih aku khawatirkan atas diri kalian daripada Al-Masih Ad-Dajjal?

Kami menjawab, ”Tentu saja wahai Rasulullah.” Rasulullah ﷺ bersabda, ”Syirik yang tersembunyi. Seseorang mendirikan shalat kemudian dia memperbagus shalatnya karena dia mengetahui ada orang yang melihat.”

[Hadits riwayat Ibnu Majah. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Shahih Ibni Majah no. 3408]

Syirik ini disebut sebagai tersembunyi karena tertutup dari pandangan manusia dan tersimpan dalam lubuk hati manusia yang paling dalam, yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.

Oleh karenanya lebih ditakutkan oleh Rasulullah ﷺ akan menjangkiti umatnya melebihi kekhawatiran beliau terhadap Dajjal yang meskipun besar sekali fitnahnya, namun terlihat secara kasat mata tanda-tanda kedustaan dan kekafirannya.

Riya’ ini membahayakan pelakunya sendiri. Minimal ada dua bahaya riya yang akan menimpa pelakunya:

  1. Pertama, amalnya menjadi sia-sia karena tidak diterima oleh Subhanahu wa Ta’ala

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman berfirman dalam surat Al-Kahfi: 110

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ –

Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan amal shaleh dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.

Imam Ibnu Katsir saat menafsirkan ayat ini mengatakan, ”Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya” maksudnya berharap pahala dan balasan yang baik dari Allah.

 “maka hendaklah dia mengerjakan amal shaleh.” maksudnya amal yang sesuai dengan syariat Allah.

“dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” maksudnya, yang diinginkan dari amal shalehnya hanya wajah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Ini adalah dua rukun amal yang diterima, yaitu amal itu harus murni karena Allah dan tepat di atas syariat Rasulullah ﷺ .”

Dalam sebuah hadits dari Mahmud bin Labid Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

إنَّ أخوَفَ ما أخافُ عليكُمُ الشِّركُ الأصغرُ: الرِّياءُ، يقولُ اللهُ يومَ القيامةِ إذا جَزَى النَّاسَ بأعمالِهم: اذهَبوا إلى الذينَ كنتم تُراؤونَ في الدُّنيا، فانظُروا هل تَجِدونَ عِندَهم جزاءٍ

”Sesuatu yang paling aku khawatirkan atas diri kalian adalah syirik asghor (syirik paling kecil). Pada hari kiamat ketika Allah memberikan balasan kepada manusia, Allah berfirman kepada orang-orang (yang melakukan riya’), ”Temuilah orang-orang yang kalian berlaku riya’ kepada mereka saat di dunia. Kalian lihat apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?” [Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al-Abani di dalam kitab Shahih At-Targhib no. 32]

Di akhirat tidak ada yang bisa memberi balasan amal kecuali Allah. Orang-orang yang berbuat riya’ tidak akan mendapatkan apa pun. Ini menjadi dalil amal shaleh mereka yang mengandung riya’ meskipun sesuai sunnah tidak diterima oleh Allah Ta’ala.

Baca juga: Khutbah Jumat Hakekat Ikhlas

  1. Mendapatkan siksa di akhirat

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Isra’: 18, mengancam orang-orang yang melakukan riya’ dengan amalnya dan tidak ikhlas karena Allah.

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهٗ فِيْهَا مَا نَشَاۤءُ لِمَنْ نُّرِيْدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهٗ جَهَنَّمَۚ يَصْلٰىهَا مَذْمُوْمًا مَّدْحُوْرًا – ١٨

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.

Allah juga berfirman dalam surat Hud: 15-16

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا نُوَفِّ اِلَيْهِمْ اَعْمَالَهُمْ فِيْهَا وَهُمْ فِيْهَا لَا يُبْخَسُوْنَ – ١٥

Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan.

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَيْسَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا النَّارُ ۖوَحَبِطَ مَا صَنَعُوْا فِيْهَا وَبٰطِلٌ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ – ١٦

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.

Imam Ibnu Katsir mengatakan tentang ayat -ayat ini dalam tafsirnya, ”Siapa saja yang beramal shaleh untuk mencari dunia, baik itu berupa puasa, atau tahajjud di malam hari, dia beramal hanya untuk mencari dunia, Allah akan berkata kepadanya ”Aku penuhi apa yang kamu cari di dunia berupa balasan yang sepadan dan lenyaplah amalan yang dia lakukan demi mencari dunia dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” [Tafsir Ibnu Katsir 4/311]

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami berkata, ”Sudah jelas bagi anda dari ayat-ayat dan hadits yang telah lalu dan dari penjelasan para imam bahwa riya’ itu menghapus amal, menjadi sebab kemurkaan Allah dan mendapat laknat serta dijauhkan dari Allah. Riya’ termasuk dosa besar yang menghancurkan.” [Kitab Az-Zawajir 1/21][ii]

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dikisahkan tentang 3 orang yang pertama kali dilemparkan ke dalam neraka karena niat yang rusak dalam melakukan amal shaleh.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ -رَضِّيَّ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ﷺ: «إنَّ أوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَومَ القِيامَةِ عليه رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ به فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَها، قالَ: فَما عَمِلْتَ فيها؟ قالَ: قاتَلْتُ فِيكَ حتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قالَ: كَذَبْتَ، ولَكِنَّكَ قاتَلْتَ لأَنْ يُقالَ: جَرِيءٌ، فقَدْ قيلَ، ثُمَّ أُمِرَ به فَسُحِبَ علَى وجْهِهِ حتَّى أُلْقِيَ في النَّارِ،

ورَجُلٌ تَعَلَّمَ العِلْمَ، وعَلَّمَهُ وقَرَأَ القُرْآنَ، فَأُتِيَ به فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَها، قالَ: فَما عَمِلْتَ فيها؟ قالَ: تَعَلَّمْتُ العِلْمَ، وعَلَّمْتُهُ وقَرَأْتُ فِيكَ القُرْآنَ، قالَ: كَذَبْتَ، ولَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ العِلْمَ لِيُقالَ: عالِمٌ، وقَرَأْتَ القُرْآنَ لِيُقالَ: هو قارِئٌ، فقَدْ قيلَ، ثُمَّ أُمِرَ به فَسُحِبَ علَى وجْهِهِ حتَّى أُلْقِيَ في النَّارِ،

ورَجُلٌ وسَّعَ اللَّهُ عليه، وأَعْطاهُ مِن أصْنافِ المالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ به فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَها، قالَ: فَما عَمِلْتَ فيها؟ قالَ: ما تَرَكْتُ مِن سَبِيلٍ تُحِبُّ أنْ يُنْفَقَ فيها إلَّا أنْفَقْتُ فيها لَكَ، قالَ: كَذَبْتَ، ولَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقالَ: هو جَوادٌ، فقَدْ قيلَ، ثُمَّ أُمِرَ به فَسُحِبَ علَى وجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ في النَّارِ» رواه مسلم.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ”Rasulullah ﷺ bersabda, ”Sesungguhnya manusia yang pertama kali diputuskan hukumnya pada hari kiamat adalah seseorang yang mati syahid. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya berbagai nikmatnya (saat di dunia), lalu ia pun mengakuinya.

Allah bertanya kepadanya, ”Apakah yang kamu lakukan dengan semua nikmat tersebut?” Ia menjawab, ”Aku berperang semata-mata karena Engkau hingga aku mati syahid.’

Allah berkata, ”Kamu dusta! Kamu berperang supaya dikatakan tentang dirimu, ”Dia orang yang pemberani.” Sungguh kamu sudah mendapatkan sebutan tersebut.”

Kemudian diperintahkan (kepada malaikat) agar menyeret orang itu pada mukanya (dalam keadaan tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Yang berikutnya adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta menghafal al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya, maka ia pun mengakuinya.

Kemudian Allah bertanya kepadanya, ”Apakah yang telah kamu lakukan dengan semua nikmat itu?” Ia menjawab, ”Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku menghafal al Qur`an karena-Mu.”

Allah berkata, ”Kamu dusta! Kamu menuntut ilmu agar dikatakan tentang dirimu: ‘Dia orang ‘alim (orang yang berilmu)’. Dan kamu menghafal Al-Qur`an supaya dikatakan tentang dirimu: ‘Dia seorang Qari’ ( ahli membaca al Qur`an)’.

Dan sungguh kamu sudah mendapatkan sebutan tersebut.” Kemudian diperintahkan (kepada malaikat) agar menyeret pada mukanya lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Kemudian orang yang Allah lapangkan rezekinya dan Allah beri berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya berbagai nikmatnya, maka ia pun mengakuinya.

Allah bertanya kepadanya, ”Apa yang kamu lakukan dengan semua nikmat itu?” Dia menjawab, ”Aku tidak pernah meninggalkan jalan yang Engkau cintai agar berinfaq di jalan tersebut , melainkan pasti aku berinfaq di jalan tersebut semata-mata karena Engkau.”

Allah berkata, ”Kamu dusta! Kamu berbuat yang demikian itu supaya dikatakan tentang dirimu: ‘Dia orang yang dermawan ’. Dan sungguh kamu sudah mendapatkan sebutan tersebut.’

Kemudian diperintahkan (kepada malaikat) agar menyeretnya pada mukanya dan dilemparkan ke dalam neraka.” [Hadits riwayat Muslim no. 1905]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Kumpulan-Materi-Khutbah-Jumat-Singkat-147

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Tips Agar Terhindar Dari Riya’

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Setelah kita mengetahui betapa berbahayanya riya’ atau syirik ashghar ini, lantas apa langkah-langkah yang bisa kita lakukan agar terhindar dari penyakit hati yang mengerikan ini?

Di antara langkah yang perlu ditempuh agar selamat dari riya’ adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki hubungan yang kuat dengan Allah Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat A-Anfal: 64

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللّٰهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ࣖ – ٦٤

Wahai Nabi (Muhammad)! Cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.

Siapa saja yang telah merasa cukup dengan Allah Ta’ala, maka dia tidak akan merasa butuh kepada selain Allah. Hal ini tidak terwujud kecuali apabila hati tergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yakin bahwa Allah itu Mahakaya dan semua manusia-lah yang butuh kepada Allah.

  1. Terus menerus berjihad melawan hawa nafsunya

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Ankabut: 69

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ ࣖ – ٦٩

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.

  1. Berusaha keras untuk bisa menyembunyikan amal shaleh

Ini dengan catatan amal shaleh yang memang bisa disembunyikan, seperti sedekah, membaca al-Quran, shalat sunnah rawatib , puasa sunnah dan seterusnya.

Namun ada amal yang tidak mungkin disembunyikan, misalnya shalat dan puasa wajib, haji, jihad, shalat Jumat, shalat tarawih di masjid, shalat hari raya , shalat tahiyyatul masjid dan seterusnya.

Jadi jangan sampai dengan alasan tidak ingin riya’ kemudian semua amal yang tidak mungkin disembunyikan terus ditinggalkan sama sekali. Ini jelas tipu daya setan.

  1. Merenungkan betapa buruknya riya’
  2. Memperhatikan akibat dan balasan dari riya’ di dunia dan akhirat
  3. Menjauhi tempat atau posisi yang menyebabkan terkenal

Para ulama salaf rahimahumullah menjauh dari posisi-posisi yang menjadikan mereka terkenal yang bisa menyeret mereka kepada riya’ dan sum’ah, misalnya posisi kepemimpinan.

Ibrahim bin Adham, seorang ulama Tabi’in mengatakan,

ما صدق الله من أراد أن يشتهر

”Orang yang ingin terkenal itu tidak akan jujur kepada Allah.” [Ihya’ Ulumiddin 2/283]

  1. Terus menerus merasa diawasi oleh Allah Ta’ala atau dikenal dengan istilah muraqabatullah

Allah Ta’ala berfirman dalam surat An-Nisa’: 1

اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.

  1. Memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala

Caranya adalah dengan banyak mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah dan banyak berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjadi orang yang ikhlas dan dilindungi dari riya’. Ini merupakan sarana terkuat untuk bisa selamat dari riya’.[iii]

Rasulullah ﷺ telah mengajarkan kepada kita doa yang dusunnahkan agar kita baca setiap habis shalat shubuh, yaitu:

Dalam hadits dari Ummul Mukminin Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dia berkata bahwa Nabi ﷺ bila shalat shubuh setelah salam beliau membaca,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

”Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima.”

[Hadits riwayat Ibnu Majah. Hadits shahih menurut Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah no. 762]

Sedangkan doa lainnya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata, ”Aku berangkat bersama Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu untuk menemui Nabi ﷺ . Lalu Nabi ﷺ bersabda,

”Wahai Abu Bakar, sungguh syirik di tengah-tengah kalian itu lebih tersembunyi daripada langkah semut.”

Abu Bakar berkata, ”Tidakkah kemusyrikan itu kecuali seseorang yang menjadikan sesembahan yang lain di samping Allah Ta’ala?”

Nabi ﷺ bersabda, ”Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Sungguh kemusyrikan itu lebih tersembunyi daripada langkah semut. Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang jika Engkau ucapkan, maka akan sirna kemusyrikan dari dirimu, baik sedikit atau pun banyak? Ucapkanlah,

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لما لا أعلم

”Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukanmu padahal aku mengetahuinya dan aku memohon ampun kepadamu dari apa yang aku tidak ketahui.”

Doa yang ini perlu sering kita baca agar Allah melindungi kita dari kemusyrikan kecil yaitu riya’. Semoga Allah karuniakan kepada kita hidayah dan taufik untuk bersikap ikhlas dalam melakukan amal shaleh.

Kumpulan-Materi-Khutbah-Jumat-Singkat-147-Lengkap

Doa Penutup

Demikianlah khutbah jumat tentang riya’ yang bisa kami sampaikan. Bila ada kebenaran di dalamnya maka dari Allah Ta’ala semata karena rahmat dan karunia-Nya. Dan bila ada kesalahan di dalamnya , maka dari kami dan setan.

 Semoga Allah Ta’ala mengampuni semua kesalahan kami dan kaum Muslimin. Marilah kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menutup khutbah ini.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

 الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنَّا نَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِى لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


[i] https://www.alukah.net/sharia/0/23657/

[ii] https://www.alukah.net/sharia/0/23657/

[iii] Ibid.

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Khutbah Jum’at Singkat Terbaru
Khutbah Jum’at Cinta Allah

Print Friendly, PDF & Email