Pengertian Menghidupkan Syiar Islam Di Masyarakat

Syiar Islam begitu penting. Ia harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Syiar Islam harus terus hidup di tengah masyarakat. Ia merupakan eksistensi Islam dan kaum Muslimin.

Tulisan berikut ini akan membahas tentang apa itu syiar islam, jenis-jenisnya, urgensinya dan cara menghidupkannya.

Pengertian Syiar Islam

Kata الشَّعَائرُ ‘sya’aair’ (syiar-syiar) adalah bentuk jamak dari شَعِيرَةٍ ‘sya’iirah’ (syiar) artinya العلامة ‘al-‘alaamah ‘ (tanda/alamat). Segala sesuatu yang dijadikan sebagai tanda dari sekian tanda-tanda ketaatan kepada Allah adalah merupakan syiar-syiar Allah Ta’ala.[i]

Macam & Bentuk Syiar Islam

Syaikh Dr. Ibrahim bin Muhammad al Huqail menjelaskan ada empat macam jenis syiar dalam Islam, yaitu:

1. Syiar yang berkaitan dengan waktu

Syiar yang berkaitan dengan waktu (syiar zamaniyah) adalah waktu – waktu yang dikhususkan dan dimuliakan oleh Allah Ta’ala. Diantaranya adalah bulan-bulan haram yang empat yaitu Dzul Qa’dah. Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab.[ii] Selain itu adalah bulan Ramadhan dan hari Jumat.[iii]

Allah Ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ

”(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran..” [Al Baqarah: 185]

Allah Ta’ala berfirman tentang bulan haram:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu..” [At-Taubah: 36]

Tentang keagungan hari Jumat, dalam sebuah hadits dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“أَضَلَّ اللهُ عَنِ الْجُمُعَةِ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا فَكَانَ لِلْيَهُوْدِ يَوْمُ السَّبْتِ وَكَانَ لِلنَّصَارَى يَوْمُ الأَحَدِ فَجَاءَ اللهُ بِنَا فَهَدَانَا اللهُ لِيَوْمِ الْجُمُعَةِ.”

”Allah memalingkan kaum sebelum kita dari hari Jumat. Untuk kaum Yahudi adalah hari Sabtu, sedangkan untuk orang-orang Nasrani adalah hari Ahad, lalu Allah membawa kita dan menunjukan kita kepada hari Jumat.” [Hadits riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya (II/286) kitab al-Jum’ah.]

2. Syiar yang berkaitan dengan tempat

Syiar yang berkaitan dengan tempat (syiar makaniyah) adalah tempat-tempat yang diagungkan oleh Allah Ta’ala dan Allah memerintahkan untuk mengagungkannya dan menjadikannya sebagai tanda bagi pelaksanaan satu amal dari amal-amal dalam haji dan umrah seperti Ka’bah, Masjidil Haram, Maqam Ibrahim, Shafa dan Marwah, Masy’aril Haram di Muzdalifah, Mina, tempat-tempat melempar Jumrah, haram Makkah dan Madinah.[iv]

Setiap tempat yang dijadikan oleh Allah sebagai alamat pelaksanaan amal shalih maka tempat itu juga termasuk syiar Allah. Maka setiap masjid adalah syiar Allah, meninggikan adzan di masjid adalah syiar Allah dan mengagungkan masjid berarti mengagungkan syiar Allah.[v]

Inilah salah satu keutamaan ahli masjid dalam Islam, karena dia selalu menghidupkan salah satu syiar Islam dengan selalu datang ke masjid.

3. Syiar yang berkaitan dengan binatang

Di antara binatang yang menjadi syiar dalam Islam adalah binatang hadyu (yakni binatang yang dihadiahkan (dikurbankan) untuk Allah berupa unta, sapi, atau kambing) dan qalaaid (Yakni hewan-hewan hadyu yang diberi kalung ketika dikurbankan menuju Baitul Haram).[vi]

Ini berdasarkan firman Allah:

وَٱلْبُدْنَ جَعَلْنَٰهَا لَكُم مِّن شَعَٰٓئِرِ ٱللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ

”Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya,..” [Al-Hajj: 36]

4. Syiar Islam yang berupa ibadah

Syiar Islam ini bisa ibadah berbentuk perkataan maupun perbuatan. Syiar shalat ‘Id adalah takbir. Syiar Haji adalah talbiyah. Hal ini sebagaimana dalam hadits Zaid bin Khalid Al Juhani radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,”Rasulullah ﷺ bersabda:

جاءني جِبْرِيلُ – عليه السَّلاَمُ – فقال: يا محمد، مُرْ أَصْحَابَكَ فَلْيَرْفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّلْبِيَةِ؛ فَإِنَّهَا من شَعَائِرِ الْحَجِّ

”Jibril ‘alaihis salam mendatangiku lalu berkata,’Hai Muhammad! Suruhlah para sahabatmu untuk meninggikan suaranya dengan mengucapkan talbiyah. Sesungguhnya talbiyah itu termasuk syiar-syiar haji.” [Hadits riwayat Ahmad]

Kata الشعائر (syiar-syiar) disebut berulang di dalam Al-Quran sebanyak 5 kali. Semuanya mencakup masalah haji dan manasiknya. Sebabnya, wallahu a’lam, haji adalah syiar yang paling menonjol dalam Islam. Manasik yang ada di dalamnya semuanya adalah syiar-syiar yang nampak dan terbuka. Bahkan seluruh ibadah yang bersifat lahir berkumpul dalam ibadah haji.[vii]

Urgensi Syiar dalam Islam

Urgensi Menghidupkan Syiar Islam di Masyarakat
Sumber: https://amrkhaled.net/

Syiar merupakan hal yang sangat urgen dalam Islam. Paling tidak ada dua urgensinya, sebagaimana penjelasan Syaikh Dr. Ibrahim bin Muhammad Al-Huqail:

  1. Allah telah menjamin untuk menjaga Islam dari penggantian dan pengubahan dan menjadikan sebab-sebab syar’i untuk menjaga Islam adalah dengan syiar-syiar yang menonjol tersebut yang diwarisi umat ini dari sejak masa Nabi ﷺ hingga sekarang secara praktis (‘amali).

Syiar-syiar itu ada yang bersifat harian yang diulang-ulang seperti adzan dan shalat berjamaah. Sebagai contoh seorang muslim yang ketika mendengar jam digital waktu sholat di rumahnya berbunyi kemudian bersegera untuk berangkat ke masjid. Ini merupakan bentuk menghidupkan syiar Islam.

Diantaranya ada yang bersifat mingguan yaitu shalat Jumat. Shalat Jumat disyariatkan secara jahriyah meskipun di siang hari karena ia merupakan syiar yang nampak yang manusia dalam jumlah besar berkumpul padanya.

Ada juga syiar yang bersifat tahunan yaitu puasa Ramadhan dan zakat fitrah, shalat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adhha serta Haji.

  1. Sesungguhnya orang-orang dihukumi berdasarkan syiar-syiar yang nampak. Siapa yang menampakkan syiar-syiar Islam maka dia dihukumi sebagai Muslim sedangkan masalah batinnya itu Allah yang mengurusnya.

Hal ini sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,’Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صلَّى صَلَاتَنَا وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا، فَذَلِكَ الْمُسْلِمُ الذي له ذِمَّةُ الله وَذِمَّةُ رَسُولِهِ

”Siapa yang shalat sebagaimana shalat kami, menghadap kiblat ke kiblat kami, memakan sembelihan kami maka dia seorang Muslim yang baginya perlindungan Allah dan perlindungan Rasul-Nya.” [Hadits riwayat Al-Bukhari].

Amal-amal yang disebutkan di dalam hadits di atas merupakan syiar-syiar yang bersifat zhahir. Para Ulama menyebutkan sebab mengapa bercampur dengan manusia (al-Khulthah) lebih utama daripada al-‘uzlah (hidup menyendiri dan menjauh dari masyarakat) adalah menyaksikan syiar-syiar Islam.[viii]

Urgensi Mengidupkan Syiar Islam

Sesungguhnya Agama Islam ini tidak akan bertahan kecuali dengan tetap bertahannya syiar-syiarnya dan menampakkan syiar-syiar tersebut. Kaum Muslimin memiliki banyak syiar yang harus dinampakkan yang hal ini tidak dimiliki oleh penganut agama yang lain.

Musuh-musuh Islam dari kalangan orang kafir dan munafik berusaha keras untuk menjadikan syiar-syiar Islam ini menjadi tidak bernilai di dalam hati kaum Muslimin.

Karena tidak ada jalan bagi mereka untuk memalingkan kaum Muslimin dari agama mereka kecuali dengan menghapus syiar-syiar mereka, atau mengubahnya atau mengosongkannya dari makna-makna keimanan sehingga menjadi sekedar tradisi dan adat yang tidak memiliki pengaruh pada kaum Muslimin.[ix]

Syiar seperti ini juga harus tetap dijaga dimanapun berada. Bahkan ketika bekerja, kita juga dapat menghidupkan syiar Islam. Yakni dengan menjaga shalat ketika waktu istirahat meskipun sangat sempit.

Bila sebagai pemilik usaha, kita bisa mengatur jam istirahat kerja sesuai waktu sholat. Sehingga, para karyawan dan perusahaan yang dikelola dikenal sebagai yang menghidupkan dan menjaga syiar Islam di masyarakat.

Dengan demikian menghidupkan syiar-syiar Islam dalam masyarakat Muslim itu berarti upaya penting dalam mempertahankan eksistensi Islam dan kaum Muslimin itu sendiri.

Dari sini kita bisa memahami mengapa sebagian negara Barat hari ini begitu keras dan gencar membuat aturan hukum yang membatasi simbol-simbol syiar Islam yang zhahir, diantaranya adalah masalah adzan, masjid, pakaian muslimah dan yang semacam itu.

Cara Menghidupkan Syiar Islam

Cara untuk menghidupkan syiar Islam adalah dengan menghindari hal-hal yang bisa mematikan syiar tersebut.

Penyebab Matinya Syiar Islam

Penyebab Matinya Syiar Islam di Masyarakat
Masjid Abu Dhabi. Sumber: ig @smilesfromabroad

Selain ada yang dapat menghidupkan syiar, ada pula penyebab hilangnya syiar Islam. Menurut Syaikh Dr. Ibrahim bin Muhammad al Huqail, ada dua hal yang bisa menyebabkan ditinggalnya syiar Islam oleh umat Islam:

  1. Melakukan bid’ah dalam agama.

Telah mutawatir dari Salaf bahwa siapa yang mengadakan hal-hal baru dalam agama (bid’ah) berarti telah meninggalkan sunnah. Bila bid’ah-bid’ah didatangkan maka sunnah akan ditinggalkan hingga agama ini akan berubah secara keseluruhan.

Oleh karenanya, tidak mengherankan bila banyak nash yang sangat keras melarang bid’ah dan menyatakan bid’ah itu lebih bahaya dibandingkan maksiat meskipun bid’ah itu datang dengan tampilan untuk melakukan pendekatan kepada Allah.

Hal ini karena bid’ah itu merupakan perubahan dalam agama sampai menghapus dan menggantinya. Sedangkan maksiat tidak sampai seperti itu.[x]

  1. Bertasyabbuh (menyerupai) umat beragama lain

Tasyabbuh dengan umat beragama lain berarti menukil agama mereka dan syiar-syiar mereka sehingga menyaingi syiar-syiar agama yang benar ini sampai menyirnakannya dan mengganti posisinya.

Demikian pula, banyak nash yang sangat keras dalam masalah tasyabuh ini sehingga orang yang melakukan tasyabuh itu dianggap menjadi bagian dari kaum tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadits.

Di antara contoh perubahan agama karena tasyabuh adalah agama orang Quraisy di Makkah. Mereka mewarisi Al-Hanifiah, agama Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

Hingga suatu kali, Amr bin Luhai al-Khuza’i melakukan perjalanan ke Syam. Di sana dia melihat penduduknya beribadah kepada berhala. Hal itu membuatnya takjub.

Dia memindah peribadahan kepada berhala dan syiar-syiar kemusyrikan ke Makkah sebagai bentuk tasyabbuh kepada penduduk Syam pada saat itu. Maka agama Al-Hanifiyah ditinggalkan dan kemusyrikan menggantikan posisinya.[xi]

Demikian uraian singkat tentang menghidupkan syiar Islam di tengah masyarakat. Ia merupakan pengawal eksistensi agama Islam dan kaum Muslimin.

Untuk itu, kaum Muslimin harus menghindari bid’ah dalam agama dan tasyabbuh dengan orang-orang non Muslim sejauh-jauhnya karena itulah jalan utama untuk menghidupkan syiar Islam yang agung ini. Wallahu a’lam.

[i] http://www.aleman.net/%D8%A7%D9%84%D9%83%D8%AA%D8%A8/%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%A7%D9%88%D9%8A%20%D9%81%D9%8A%20%D8%AA%D9%81%D8%B3%D9%8A%D8%B1%20%D8%A7%D9%84%D9%82%D8%B1%D8%A2%D9%86%20%D8%A7%D9%84%D9%83%D8%B1%D9%8A%D9%85/%D9%81%D8%B5%D9%84%20%D9%81%D9%8A%20%D9%85%D8%B9%D9%86%D9%89%20%D8%A7%D9%84%D8%B4%D8%B9%D8%A7%D8%A6%D8%B1:/i543&d822233&c&p1

[ii] https://www.alukah.net/sharia/0/8967/#ixzz6cDnc4qi2

[iii] https://mawdoo3.com/%D9%88%D9%85%D9%86_%D9%8A%D8%B9%D8%B8%D9%85_%D8%B4%D8%B9%D8%A7%D8%A6%D8%B1_%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87

[iv] https://khutabaa.com/khutabaa-section/corncr-speeches/281722

[v] Ibid.

[vi] ibid

[vii] https://www.alukah.net/sharia/0/8967/#ixzz6cDnc4qi2

[viii] ibid

[ix] ibid

[x] ibid

[xi] ibid

Leave a Comment

error: Content is protected !!