Khutbah Jumat: Tugas Manusia dan Tujuan Penciptaannya di Dunia

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

Mukaddimah Pembukaan Khutbah Jumat

Mukadimah

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Segala puji kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat dan karunia-Nya yang tanpa batas kepada kita semuanya.

Karena rahmat-Nya semata kita semua bisa hadir di masjid ini dengan aman dan selamat untuk menunaikan salah satu kewajiban agung dalam Islam, yaitu ibadah shalat Jumat.

Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada nabi yang mulia, Muhammad ﷺ , para keluarganya, sahabatnya dan siapa saja yang mengikuti sunnah beliau ﷺ dengan sebaik-sebaiknya .

Kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan Jamaah shalat Jumat sekalian, marilah kita berusaha terus menerus untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, di mana pun kita berada, sesuai dengan kemampuan maksimal yang kita miliki.

Tujuan Penciptaan Manusia

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Shad, surat nomor ke 38 ayat yang ke 27,

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.

Dalam ayat ini Allah Ta’ala menegaskan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang Allah Ta’ala ciptakan di alam semesta ini secara main-main, sia-sia, tanpa makna dan tujuan, baik di langit , bumi maupun di antara keduanya. Termasuk dalam hal ini dalam masalah penciptaan manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Mukminun, surat ke 23 ayat ke 115,

اَفَحَسِبْتُمْ اَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّاَنَّكُمْ اِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ – ١١٥

Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada tujuan) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

Maksud ayat ini sebagaimana dijelaskan para ulama adalah, ”Apakah kalian menyangka bahwa kalian diciptakan sedemikian ini secara sia-sia, tanpa ada perintah buat kalian dan tanpa ada larangan-larangan untuk kalian dan kalian tidak akan diberi pembalasan atas segala perbuatan kalian, jika baik maka akan dibalas dengan kebaikan dan jika jahat maka akan dibalas dengan keburukan?”[i]

Sama sekali tidak demikian. Allah Ta’ala menciptakan kita untuk tujuan dan tugas yang agung dan untuk ujian yang besar. Dengan ujian tersebut berhasillah orang yang berhasil dan gagallah orang yang gagal.

Manusia diberi tugas yang yang agung oleh Allah Ta’ala dalam kehidupan di dunia ini. Menurut Syaikh Muhammad Hasan Dadaw Asy-Syinqithi, seorang ulama besar dari Mauritania, tugas manusia di dunia ada dua:

  1. Pertama, beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
  2. Kedua, menjadi khalifah di muka bumi ini.[ii]

Sebenarnya tugas kedua masih dalam kandungan makna tugas yang pertama, namun disendirikan karena menurut Syaikh Muhammad Hasan Dadaw, tugas manusia yang pertama itu jin dan manusia semua melakukannya, sedangkan untuk tugas yang kedua itu hanya khusus buat manusia.

Tugas Manusia & Tujuan Penciptaan di Dunia

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mari kita urai maksud masing-masing tugas manusia dalam kehidupan di dunia ini.

1. Beribadah Kepada Allah

Untuk tugas yang pertama, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskannya dalam firman-Nya di surat Adz-Dzariyat, surat nomor 51 ayat yang ke 56. Ayat ini sangat akrab di telinga kita, yaitu

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ – ٥٦

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.

Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithy rahimahullah dalam tafsirnya, Adhwaul Bayan menjelaskan maksud ayat اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ “melainkan agar mereka beribadah kepadaku” dengan mengatakan,

”Makna ayat yang mulia ini adalah “Melainkan agar Aku memerintahkan mereka untuk beribadah kepada-Ku dan agar Aku beri cobaan mereka, yaitu ujian dengan berbagai taklif (yaitu, perintah dan larangan dalam syariat) kemudian Aku beri balasan terhadap semua perbuatan mereka. Bila baik maka mendapat kebaikan dan bila buruk maka mendapat keburukan.”[iii]

Perlu kami ingatkan kembali tentang pengertian ibadah secara syar’i dalam kesempatan ini untuk lebih memperjelas pemahaman kita tentang ayat tersebut. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa definisi ibadah secara syar’i adalah:

هي اسم جامع لكل ما يحبه اللَّه ويرضاه؛ من الأقوال والأعمال الظاهرة والباطنة

”Ungkapan yang meliputi apa saja yang Allah Ta’ala cintai dan ridhai baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang zhahir ( dapat dilihat ) maupun yang batin ( tidak dapat dilihat).” [Majmu’ Al-Fatawa : 10/149 dan Al-Ubudiyah 1/3]

Berdasarkan definisi ini, maka ibadah itu ada yang dilakukan dengan hati, seperti cinta, takut dan berharap kepada Allah. Ada ibadah yang dilakukan dengan lisan, seperti berdoa dan membaca al-Quran. Dan ada juga yang dilakukan dengan anggora badan, misalnya shalat.

Rekomendasi Khutbah Jumat Keutamaan Puasa Syawwal

2. Sebagai Khalifah Fil Ardh (Khalifah di muka bumi)

Syaikh Muhammad Hasan Dadaw mengatakan, ”Tugas manusia yang kedua adalah menjadi khalifah di bumi untuk meninggikan kalimat Allah dan menegakkan keadilan di bumi ini. Ini khusus buat manusia saja.

Allah memuliakan anak Adam dengan tugas ini. Allah menciptakan Adam lalu memberinya ruh dan memerintahkan Malaikat untuk bersujud kepadanya. Allah memberitahukan kepada Malaikat tujuan penciptaan Adam ini dalam firman-Nya:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً َۖ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat,”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” [ Al-Baqarah: 30]

Imam Al Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya saat menerangkan maksud khalifah dalam ayat ini mengatakan,”Yang di maksud dengan khalifah di sini adalah Adam. Dia dinamakan dengan khalifah karena dia wakil Allah di bumi-Nya untuk menegakkan hukum-hukum Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya.”[iv]

Sebagaimana tadi dijelaskan oleh Syaikh Muhamad Hasan Dadaw, bahwa maksud dari menjadi khalifah di bumi adalah I’laai kalimatillah atau meninggikan kalimat Allah dan Al-Qiyam bil qisthi atau menegakkan keadilan di dunia ini.

Lantas apakah yang dimaksud dengan kalimat Allah? Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya terhadap firman Allah Ta’ala dalam surat At-Taubah ayat 40:

وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰىۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ –

“dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.”

tentang maksud firman Allah وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ “dan kalimat Allah itulah yang tinggi.” mengatakan:

ودين الله وتوحيده وقول لا إله إلا الله ، وهي كلمته ( العليا ) ، على الشرك وأهله

“Agama-Nya, mentauhidkan-Nya dan perkataan laa ilaaha illallah, itulah kalimat-Nya, lebih tinggi dari kemusyrikan dan orang-orang musyrik.” [Tafsir Ath-Thabari: juz 14 hal. 261][v]

Selain meninggikan agama Allah yaitu Islam dan aqidah tauhid di atas semua ajaran orang musyrik, tugas sebagai manusia sebagai khalifah di bumi adalah Al-qiyam bil qisthi.

Yang dimaksud dengan al Qiyam bil qisthi adalah menegakkan keadilan di semua urusan pada siapa pun di muka bumi ini.

Allah Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاۤءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ ۚ اِنْ يَّكُنْ غَنِيًّا اَوْ فَقِيْرًا فَاللّٰهُ اَوْلٰى بِهِمَاۗ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوٰٓى اَنْ تَعْدِلُوْا ۚ وَاِنْ تَلْوٗٓا اَوْ تُعْرِضُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا – ١٣٥

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya).

Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan. [An-Nisa’: 135]

Maksud ayat ini adalah jadilah kalian sebagai orang-orang yang senantiasa menegakkan keadilan di seluruh keadaan kalian dalam kaitannya dengan hak-hak Allah dan hak-hak manusia.

Bersikap adil dalam hak-hak Allah maksudnya adalah tidak menggunakan nikmat-nikmat Allah Ta’ala untuk bermaksiat kepada Allah, namun digunakan untuk mentaati-Nya.

Sedangkan bersikap adil dalam hak-hak manusia adalah dengan memenuhi seluruh hak manusia yang harus anda penuhi sebagaimana anda meminta agar hak-hak anda juga dipenuhi.

Anda harus memenuhi nafkah yang menjadi kewajiban anda, membayar hutang, bergaul dengan manusia dengan sikap dan perilaku yang anda sendiri suka jika diperlakukan dengan cara seperti itu.[vi]

Allah Ta’ala telah memberitahukan kepada kita dalam al-Quran bahwa diutusnya para rasul dengan berbagai hujah dan mukjizat serta neraca keadilan berupa kebenaran yang diakui oleh akal yang sehat dan lurus yang bertentangan dengan pandangan-pandangan yang menyimpang, adalah dalam rangka menegakkan keadilan di antara manusia.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat al-Hadid ayat ke 25:

لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنٰتِ وَاَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتٰبَ وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِۚ وَاَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗ وَرُسُلَهٗ بِالْغَيْبِۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ ࣖ – ٢٥

Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Dan Kami menciptakan besi yang mempunyai kekuatan, hebat dan banyak manfaat bagi manusia, dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat, Mahaperkasa.[vii]

Syaikh Muhammad Hasan Dadaw menegaskan bahwa untuk melaksanakan tugas yang kedua ini, manusia perlu melakukan perjalanan di muka bumi di berbagai penjurunya, memanfaatkan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, yang Allah berikan untuk umat manusia dan membagikannya secara adil kepada yang berhak.

Selain itu harus melakukan perbaikan di muka bumi dan tidak boleh melakukan kerusakan di muka bumi setelah melakukan perbaikan tersebut.[viii]

Lantas apakah yang dimaksud dengan melakukan kerusakan di muka bumi? Ungkapan ini merujuk kepada ayat dalam al-Quran. Di antaranya, firman Allah Ta’ala tentang kebiasaan orang munafik:

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِۙ قَالُوْٓا اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ – ١١

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.”

اَلَآ اِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلٰكِنْ لَّا يَشْعُرُوْنَ – ١٢

Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari. [Al-Baqarah: 11-12]

Syaikh Abdurahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menerangkan maksud kedua ayat ini dalam tafsirnya dengan mengatakan, ”Apabila orang-orang munafik itu dilarang dari melakukan kerusakan di muka bumi, yaitu melakukan kekafiran dan kemaksiatan – termasuk di dalamnya adalah membongkar rahasia orang-orang mukmin kepada musuh-musuhnya dan memberikan loyalitas kepada musuh orang-orang mukmin – mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.”

Mereka membatasi bahwa yang melakukan perbaikan itu kelompok mereka saja, sedangkan orang-orang mukmin itu bukan termasuk orang yang melakukan perbaikan.

Maka Allah membalik pengakuan mereka dengan firman Allah, yang artinya, “Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.”

Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang lebih merusak melebihi orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah, menghalangi manusia dari jalan Allah, berupaya menipu Allah dan orang-orang beriman, membela orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, lalu mengklaim bahwa semua itu merupakan sebuah perbaikan.” Demikian tafsir dari Syaikh As -Sa’di rahimahullah.[ix]

Syaikh As-Sa’di rahimahullah adalah seorang mufassir modern dari Saudi Arabi yang wafat pada Januari 1957 lalu. Beliau mengikuti meode tafsir para ulama mutaqaddimin sehingga tafsirnya tidak berbeda dengan mereka.

Imam Ath-Thabari dan Ibnu Katsir dalam tafsir mereka menyatakan hal yang sama tentang maksud “kerusakan” dalam ayat tersebut adalah kekafiran dan kemaksiatan.

Itu adalah pendapat dari ulama besar dari kalangan sahabat Nabi ﷺ , yaitu Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Bila demikian halnya, maka orang-orang kafir dan orang Muslim yang mengikuti jejak kemunafikan Abdullah bin Ubay bin Salul, tokoh orang munafik di zaman Nabi ﷺ yang sangat berpengaruh saat itu, tidak akan pernah mampu menjalankan tugas sebagai khalifah di muka bumi dengan benar.

Karena tabiat dasar orang munafik itu adalah melarang hal yang ma’ruf menurut syariat dan memerintahkan kepada perkara yang mungkar secara syar’i. Mereka adalah motor penggerak kemungkaran dan kemaksiatan, sekaligus pembendung yang sangat kuat dan militan terhadap perkara yang ma’ruf.

Allah Ta’ala berfirman saat menjelaskan tabiat dasar orang munafik tersebut dalam surat At-Taubah: 67

اَلْمُنٰفِقُوْنَ وَالْمُنٰفِقٰتُ بَعْضُهُمْ مِّنْۢ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوْفِ وَيَقْبِضُوْنَ اَيْدِيَهُمْۗ نَسُوا اللّٰهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ – ٦٧

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan kepada Allah, maka Allah melupakan mereka (pula). Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.

Dengan demikian, betapa pun hebat kemampuan manajemen dan leadership orang muslim munafik, dia tidak akan pernah berhasil mengemban tugas yang agung ini. Apalagi orang non Muslim. Semoga kaum Muslimin dijauhkan dari pemimpin semacam ini.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Materi-Khutbah-Jumat-Singkat-147-Lengkap

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Tujuan Penugasan Manusia di dunia

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al Mulk ayat 2 tentang tujuan Allah Ta’ala menciptakan kematian dan kehidupan:

 ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ – ٢

Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.[Al-Mulk:2]

Allah Ta’ala menciptakan manusia dan memberinya tugas untuk menjalan ibadah kepada-Nya itu untuk menguji siapakah diantara hamba-Nya tersebut yang paling baik dalam melaksanakan tugas ibadah dalam arti yang luas kepada Allah Ta’ala.

Para ulama telah menerangkan tentang maksud dari ahsanu ‘amalan dalam ayat ini, yaitu amal yang paling ikhlas untuk Allah dan yang paling sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ .

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,” لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا “untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” Al-Fudhail bin ‘Iyadh (seorang ulama Tabi’ut Tabi’in) menjelaskan,

أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ ، قَالُوا : يَا أَبَا عَلِيٍّ مَا أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ ؟ قَالَ : إنَّ الْعَمَلَ إذَا كَانَ خَالِصًا ، وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا ، لَمْ يُقْبَلْ ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ ، حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا

وَالْخَالِصُ : أَنْ يَكُونَ لِلَّهِ ، وَالصَّوَابُ : أَنْ يَكُونَ عَلَى السُّنَّةِ، وَذَلِكَ تَحْقِيقُ قَوْله تَعَالَى (فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ) ” انتهى من “مجموع الفتاوى” (1/ 333)

“Amal yang paling murni (khalish) dan yang paling tepat (shawab). Orang-orang bertanya,”Wahai Abu ‘Ali, apakah yang dimaksud dengan yang paling murni dan yang paling tepat itu?”

Fudhail menjawab, ”Sesungguhnya suatu amal itu bila murni (khalish) namun tidak tepat (shawab) maka tidak akan diterima. Dan bila amal itu tepat (shawab) namun tidak murni (khalish) maka juga tidak diterima. Sampai amal itu murni dan tepat (khalishan wa shawaban).

Yang dimaksud dengan murni atau khalish yaitu amal tersebut hanya untuk Allah dan yang dimaksud dengan tepat atau shawab adalah amal tersebut berdasarkan sunnah. Hal itu merupakan perwujudan dari firman Allah Ta’ala (dalam surat Al-Kahfi: 110)

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ –

”Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan amal shalih dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” [Majmu’ Al-Fatawa 1/333][x]

Jadi amal yang terbaik bukan amal yang paling banyak, namun yang paling ikhlas karena Allah dan paling sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ . Semoga Allah Ta’ala mengaruniakan kepada kita keikhlasan dalam beramal dan kesungguhan dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ .

Kumpulan-Materi-Khutbah-Jumat-Singkat-147-Lengkap

Doa Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

 الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

  عِبَادَ اللهِ

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ


[i] https://www.alukah.net/sharia/0/29282/

[ii] https://www.youtube.com/watch?v=no0uEtD0RPM&feature=youtu.be

[iii] https://www.alukah.net/sharia/0/122874/

[iv]https://www.islamweb.net/ar/library/index.php?page=bookcontents&idfrom=18&idto=18&bk_no=51&ID=19

[v] https://www.islamweb.net/ar/library/index.php?page=bookcontents&ID=2313&bk_no=50&flag=1

[vi] https://khutabaa.com/ar/article/%D8%A7%D9%84%D9%82%D8%B3%D8%B7-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D9%83%D8%AA%D8%A7%D8%A8%D9%88%D8%A7%D9%84%D8%B3%D9%86%D8%A9

[vii] https://midad.com/article/196078/%D9%88%D9%82%D9%81%D8%A7%D8%AA-%D9%85%D8%B9-%D8%A2%D9%8A%D8%A9%D9%84%D9%82%D8%AF%D8%A3%D8%B1%D8%B3%D9%84%D9%86%D8%A7%D8%B1%D8%B3%D9%84%D9%86%D8%A7%D8%A8%D8%A7%D9%84%D8%A8%D9%8A%D9%86%D8%A7%D8%AA

[viii] https://www.youtube.com/watch?v=no0uEtD0RPM&feature=youtu.be

[ix] Taisir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Al-Kalam Al-Mannan, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Darusalam, Riyadh, 1422 H / 2002 M, Cetakan kedua, hal. 32.

[x] https://islamqa.info/ar/answers/199063/%D8%AA%D9%81%D8%B3%D9%8A%D8%B1-%D8%A7%D9%88%D9%84%D8%B3%D9%88%D8%B1%D8%A9%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%84%D9%83

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
Khutbah Jumat Singkat Terbaru

Print Friendly, PDF & Email