Khutbah Jumat Tentang Firaun Karakteristik dan Sifatnya dalam Al Quran

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

Mukaddimah Pembukaan Khutbah Jumat

Mukadimah

Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semuanya dalam jumlah yang tidak bisa dihitung banyaknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ -٣٤-

Dan Dia telah Memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).[Ibrahim: 34]

Di antara karunia dan nikmat Allah Ta’ala yang terbesar kepada kita adalah hidayah Iman dan Islam serta taufik untuk tetap teguh di atas iman dan islam hingga hari ini. Semoga Allah Ta’ala mengaruniakan kekuatan kepada kita semuanya agar tetap bisa istiqamah di atas Islam hingga akhir hayat kita nanti.

Kemudian shalawat dan salam semoga tercurah untuk nabi kita Muhammad ﷺ , dan keluarganya, para sahabatnya serta siapa saja yang mengikuti sunnah beliau secara lahir dan batin dengan penuh keikhlasan dan kesabaran hingga hari kiamat.

Selanjutnya kami berwasiat kepada diri kami sendiri dan kepada Jamaah shalat Jumat seluruhnya agar senantiasa berusaha untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berusaha bertakwa kepada Allah di saat senang dan susah, lapang dan sempit, sehat dan sakit, di tengah-tengah banyak orang atau pun di saat sendirian dan di kala masih muda dan setelah kita tua.

Sesungguhnya, bekal terbaik untuk pulang ke akhirat sebagai tempat tinggal abadi adalah ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan dan memampukan kita semuanya agar bisa menjadi orang yang bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya, bukan hanya sekedar di bibir semata.

Penyebutan Fir’aun Dalam Al Quran

Jamaah Shalat Jumat arsyadakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan al-Quran kepada Nabi kita Muhammad ﷺ dengan sejumlah tujuan.

Di antara tujuan yang paling besar dari diturunkannya al-Quran Allah adalah agar ditadabburi ayatnya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Shad, surat ke 38 ayat yang ke 29, Allah Ta’ala berfirman,

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ – ٢٩

“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”

Dengan melakukan tadabbur terhadap al-Quran akan didapatkan pemahaman dan pengingatan serta bisa mengambil manfaat dengan al-quran serta menerapkannya dengan cara yang benar.

Al-Quran ini selain mengandung persoalan akidah yang benar, ibadah, syariat, akhlak dan nilai-nilai, juga memberikan pelajaran tentang adanya sunnatullah atau ketetapan Allah yang tidak akan berubah di dunia ini.

Misalnya sunnatullah tentang pertarungan antara kebenaran dan kebathilan, kemenangan akhir selalu ada pada kebenaran, sedikitnya orang-orang yang mengikuti kebenaran, adanya perselisihan dan bagaimana cara berinteraksi terhadap adanya perselisihan, adanya ujian dan cobaan, kemenangan dan kekalahan serta sebab-sebab dan sarananya.

Al-Quran juga menjelaskan tentang adanya orang-orang munafik, kafir dan musyrik, sifat-sifat mereka dan bagaimana menghadapinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala terkadang menyebut orang-orang kafir sebagai orang yang zhalim.

Berbicara tentang masalah orang zhalim dan sifat-sifat mereka, tidak ada orang zhalim di dalam al-Quran yang lebih banyak disebut namanya melebihi Firaun. Nama Firaun disebut sebanyak 74 kali di berbagai surat di dalam Al-Quran.

Tentu ini terkait kisah Nabi Musa ‘alaihis salam dalam menghadapi Firaun sebagai representasi orang zhalim dan kezhaliman terangkuh dan terbesar pada masa itu. Lantas bagaimanakah sifat-sifat Firaun ini? Dan adakah hikmah dibalik seringnya kisah firaun disebutkan di dalam Al-Quran? Marilah kita jelaskan dua persoalan ini secara terpisah.

Khutbah Jumat Tentang Gempa Bumi Dalam Islam
Khutbah Jumat Tentang Sebab Bencana dan Musibah

Karakter & Kejahatan Fir’aun

Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan sifat-sifat Firaun di masa nabi Musa ‘alaihis salam dengan sangat gamblang. Dengan demikian, kita bisa dengan sangat mudah mengidentifikasi seperti apa perilaku orang yang zhalim itu agar kita tidak menirunya.

Karakter Firaun dalam al-Quran secara global adalah sebagai berikut:

1. Fir’aun Merasa dirinya layak untuk disembah

Firaun memiliki banyak karakter negatif yang sangat mengakar dalam dirinya. dan yang paling parah adalah merasa dirinya adalah satu-satunya sesembahan yang layak untuk dicintai, ditakuti dan dipatuhi segala titahnya.

Dia merasa kekuasaannya tiada tandingannya dan kekuatannya tidak ada yang mampu melemahkannya. Maka dia paksa setiap rakyatnya untuk taat dan patuh kepadanya dan mengabdikan hidupnya untuk dirinya.

Ketika Nabi Musa ‘alaihis salam menyampaikan dakwah kepada Firaun agar mentauhidkan Allah dan beribadah hanya kepada Allah, dia menjawab dengan arogan:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يٰٓاَيُّهَا الْمَلَاُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرِيْۚ فَاَوْقِدْ لِيْ يٰهَامٰنُ عَلَى الطِّيْنِ فَاجْعَلْ لِّيْ صَرْحًا لَّعَلِّيْٓ اَطَّلِعُ اِلٰٓى اِلٰهِ مُوْسٰىۙ وَاِنِّيْ لَاَظُنُّهٗ مِنَ الْكٰذِبِيْنَ – ٣٨

Dan Fir‘aun berkata, “Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah tanah liat untukku wahai Haman (untuk membuat batu bata), kemudian buatkanlah bangunan yang tinggi untukku agar aku dapat naik melihat Tuhannya Musa, dan aku yakin bahwa dia termasuk pendusta.” [Al-Qashash: 38]

2. Tirani dan penindas

Sifat kedua ini hanyalah akibat logis dari persepsi dirinya yang keliru bahwa dirinya memiliki kekuasaan tanpa batas. Akhirnya kesombongan dan suka melakukan kejahatan dan kezhaliman menjadi tabiatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاسْتَكْبَرَ هُوَ وَجُنُوْدُهٗ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَظَنُّوْٓا اَنَّهُمْ اِلَيْنَا لَا يُرْجَعُوْنَ – ٣٩

Dan dia (Fir‘aun) dan bala tentaranya berlaku sombong, di bumi tanpa alasan yang benar, dan mereka mengira bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami. [Al-Qashash: 39]

Allah Ta’ala juga berfirman,

فَمَآ اٰمَنَ لِمُوْسٰىٓ اِلَّا ذُرِّيَّةٌ مِّنْ قَوْمِهٖ عَلٰى خَوْفٍ مِّنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَا۟ىِٕهِمْ اَنْ يَّفْتِنَهُمْ ۗوَاِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِى الْاَرْضِۚ وَاِنَّهٗ لَمِنَ الْمُسْرِفِيْنَ – ٨٣

Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, selain keturunan dari kaumnya dalam keadaan takut bahwa Fir‘aun dan para pemuka (kaum)nya akan menyiksa mereka. Dan sungguh, Fir‘aun itu benar-benar telah berbuat sewenang-wenang di bumi, dan benar-benar termasuk orang yang melampaui batas. [Yunus: 83]

Ayat ini menjelaskan suasana batin masyarakat yang hidup di bawah kekuasaan yang berwatak seperti Firaun.

Masyarakat senantiasa merasa terancam, hilang rasa aman dan tenteram karena setiap saat bisa menjadi korban kezhalimannya dengan berbagai dalih hukum yang mereka buat untuk melegalkan penindasan tersebut.

Allah Ta’ala menggambar bagaimana cara Firaun melakukan penindasan terhadap bangsanya sendiri dan memperbudak mereka dengan firman-Nya:

اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗاِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ – ٤

Sungguh, Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir‘aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan. [Al-Qashash: 4]

Selain melakukan berbagai tindak kekejaman di luar batas kemanusiaan, salah satu trick khas Firaun dalam memperbudak rakyatnya sendiri adalah melakukan berbagai upaya untuk memecah belah masyarakat.

Mereka dibuat lemah dengan dikondisikan agar saling mendiskreditkan dan bahkan saling menyerang satu sama lain. Setiap upaya untuk membangun persatuan umat atau rakyat di atas kebenaran dan keadilan, pasti akan dibendung dan digagalkan oleh Firaun.

3. Fir’aun Membuat alasan untuk menghindar dari kebenaran yang nyata

Sifat buruk Fir’aun yang ketiga adalah membuat alasan setiap kali dia dihadapkan dengan kebenaran. Ini jelas terlihat dari kesombongan dan penolakannya terhadap semua mukjizat yang dibawa Nabi Musa ‘alaihis salam kepadanya.

Ketika Nabi Musa ‘alaihis salam menghadapi Firaun, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا مُوْسٰى تِسْعَ اٰيٰتٍۢ بَيِّنٰتٍ فَسْـَٔلْ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اِذْ جَاۤءَهُمْ فَقَالَ لَهٗ فِرْعَوْنُ اِنِّيْ لَاَظُنُّكَ يٰمُوْسٰى مَسْحُوْرًا – ١٠١

Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa sembilan mukjizat yang nyata maka tanyakanlah kepada Bani Israil, ketika Musa datang kepada mereka lalu Fir‘aun berkata kepadanya, “Wahai Musa! Sesungguhnya aku benar-benar menduga engkau terkena sihir.” [Al-Isra’: 101]

Allah Ta’ala juga berfirman di dalam surat Az-Zukhruf: 51-54,

وَنَادٰى فِرْعَوْنُ فِيْ قَوْمِهٖ قَالَ يٰقَوْمِ اَلَيْسَ لِيْ مُلْكُ مِصْرَ وَهٰذِهِ الْاَنْهٰرُ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِيْۚ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَۗ – ٥١

Dan Fir‘aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, “Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; apakah kamu tidak melihat?

اَمْ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْ هٰذَا الَّذِيْ هُوَ مَهِيْنٌ ەۙ وَّلَا يَكَادُ يُبِيْنُ – ٥٢

Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?

فَلَوْلَٓا اُلْقِيَ عَلَيْهِ اَسْوِرَةٌ مِّنْ ذَهَبٍ اَوْ جَاۤءَ مَعَهُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ مُقْتَرِنِيْنَ – ٥٣

Maka mengapa dia (Musa) tidak dipakaikan gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?”

فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهٗ فَاَطَاعُوْهُ ۗاِنَّهُمْ كَانُوْا قَوْمًا فٰسِقِيْنَ – ٥٤

Maka (Fir‘aun) dengan perkataan itu telah mempengaruhi kaumnya, sehingga mereka patuh kepadanya. Sungguh, mereka adalah kaum yang fasik. [Az-Zukhruf: 51-54]

Inilah tiga sifat buruk yang paling menonjol dari Firaun. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan kita semua dari segala sifat tercela dan membimbing kita kepada akhlak yang mulia dan terpuji.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

155 Materi Khutbah Jumat Terbaru

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Hikmah Penyebutan Fir’aun dalam Al-Quran

Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah,

Allah telah menyebutkan banyak sekali kisah Musa ‘alaihis salam beserta Firaun di dalam Al-Qur’an karena itu adalah salah satu kisah yang paling menakjubkan. Beberapa hikmah penyebutan ksiah Fir’aun dalam Al Quran:

  1. Petunjuk untuk melawan para penindas.

Dalam kisah Musa vs Fir’aun merupakan petunjuk dari Allah untuk melakukan perlawanan kepada para penindas. Dalam hal ini, Fir’aun dilawan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam.

  1. Pelajaran penting tentang akhir atau penghujung dari tiran jahat di setiap masa.

Demikianlah Firaun, yang menyombongkan dirinya di muka bumi dan memperbudak orang, melampaui batas di negerinya, menebar banyak tindak kejahatan di dalamnya, dan berkata, Akulah Tuhanmu, Yang Maha Tinggi, berakhir dengan keruntuhan kekuasaannya dan kematian yang tragis.

  1. Melakukan tindakan sewenang-wenang di muka bumi dan menindas sesama manusia adalah penyebab kebinasaan, kerugian dan kehancuran.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَنُرِيْدُ اَنْ نَّمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِى الْاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ اَىِٕمَّةً وَّنَجْعَلَهُمُ الْوٰرِثِيْنَ ۙ – ٥

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi),

وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوْدَهُمَا مِنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَحْذَرُوْنَ – ٦

dan Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi dan Kami perlihatkan kepada Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya apa yang selalu mereka takutkan dari mereka. [Al-Qashash: 5-6]

155 Kumpulan Khutbah Jumat Singkat

Doa dan Penutup

Demikianlah khutbah Jumat tentang Firaun dan sifat-sifatnya. Semoga bermanfaat dalam menambah wawasan kita tentang kisah-kisah dalam Al-Quran. Marilah kita akhiri khutbah ini dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

 الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ احْفَظِ اْلمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ احْفَظِ اْلمُسْلِمِيْنَ فِيْ بِلَادِ الشَّامِ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ وَعَدُوِّكَ يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ اْلجَنَّةَ وَمَا قرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ

اللهم أصلِح لنا دينَنا الذي هو عصمةُ أمرنا، وأصلِح لنا دُنيانا التي فيها معاشُنا، وأصلِح لنا آخرتَنا التي إليها معادُنا، واجعل الحياةَ زيادةً لنا في كل خيرٍ، والموتَ راحةً لنا من كل شرٍّ يا رب العالمين

اللهم إنا نسألُك الهُدى والتُّقَى والعفافَ والغِنى، اللهم أعِنَّا ولا تُعِن علينا، وانصُرنا ولا تنصُر علينا، وامكُر لنا ولا تمكُر علينا، واهدِنا ويسِّر الهُدى لنا، وانصُرنا على من بغَى علينا

اللهم اجعَلنا لك ذاكِرين، لك شاكِرين، لك مُخبتين، لك أوَّاهين مُنيبين

اللهم تقبَّل توبتَنا، واغسِل حوبتَنا، وثبِّت حُجَّتنا، وسدِّد ألسِنتَنا، واسلُل سخيمةَ قلوبنا

اللهم اغفِر للمُسلمين والمُسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات، اللهم ألِّف بين قلوبِ المُسلمين ووحِّد صُفوفَهم، واجمع كلمتَهم على الحقِّ يا رب العالمين

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴾ [النحل: 90]

فاذكروا اللهَ يذكُركم، واشكُروه على نعمِه يزِدكم، ولذِكرُ الله أكبر، واللهُ يعلمُ ما تصنَعون

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
Khutbah Jum’at Terbaru 2022
Khutbah Jumat Musuh Orang Beriman Dalam Al Quran
Khutbah Jumat Tentang LBGT
Khutbah Jumat Al Haq dan Al Bathil

Print Friendly, PDF & Email