Khutbah Jumat Hedonisme Dalam Pandangan Islam

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

فإنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ

Fenomena Hedonisme di Masyarakat Saat ini

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bila kita mencermati kondisi lingkungan di mana kita tinggal saat ini, baik melalui saluran televisi, portal berita di internet, maupun saluran media massa lainnya, kita dapati bahwa sebagian besar anggota masyarakat, utamanya kaum muda, memiliki gaya hidup yang cenderung mengikuti hawa nafsunya.

Misalnya saja, hampir di setiap kota besar selalu ada tempat-tempat hiburan malam yang menjadi markas untuk menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak bisa dibenarkan secara syariat. Kehidupan dunia gemerlap atau dugem.

Berdansa, bernyanyi bersama laki-laki dan perempuan dengan pakaian yang sangat kebarat-baratan. Sebagian mabuk, sebagian melakukan transaksi narkoba, yang lainnya bahkan ada yang melakukan transaksi antara PSK dan pria hidung belang dan seterusnya.

Belum lagi bila melihat tempat-tempat pariwisata, pusat-pusat hiburan dan pusat-pusat perbelanjaan, akan terlihat bagaimana pergaulan pria dan wanita yang tidak ada batasnya sama sekali kecuali sedikit rasa malu yang tersisa berupa tidak mau berciuman di tempat terbuka.

Ini pun sebenarnya sudah dilakUkan sebagian generasi muda yang sudah hilang rasa malunya sama sekali sebagai orang timur.

Gaya hidup yang sangat konsumtif sudah sangat dominan. Membeli sesuatu bukan karena dorongan kebutuhan atau berdasar prioritas yang rasional namun lebih karena ingin mengikuti mode dan bersaing untuk tampil lebih hebat dari yang lain walaupun penghasilannya sebenarnya kurang mendukung.

Sebagian dari mereka bahkan berani melakukan pelanggaran hukum untuk mendapatkan uang dalam skala besar dengan cara paling mudah dan cepat, demi untuk mampu memenuhi ambisi syahwat untuk bermegah-megahan di kalangan komunitas di mana mereka beraktifitas.

Membeli mobil mewah, apartemen megah, properti di lokasi elit bernilai milyaran rupiah, dan berbagai asesoris penampilan diri maupun perabot rumah tangga yang serba mewah, lalu dipertontonkan di media sosial untuk menunjukkan segala kehebatan yang dimilikinya secara duniawi, dilakukan tanpa rasa malu sedikit pun.

Ini sebenarnya perilaku kekanak-kanakan yang tidak akan dilakukan mereka yang masih memiliki akal sehat, harga diri dan kepedulian terhadap kondisi lingkungan di mana kita tinggal saat ini, yang dipenuhi dengan begitu banyak orang miskin dan mereka yang kesusahan untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.

Semua fenomena itu dikenal dengan gaya hidup hedonis. Para pemuja kesenangan hidup dunia yang mengikuti paham hedonisme, baik mereka tahu atau tidak, baik mereka sengaja atau tidak. Lantas apakah sebenarnya hedonisme itu?

Apa itu Hedonisme?

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Setiap orang sangat ingin memperoleh kebahagiaan dan kesenangan dalam hidupnya karena kebahagiaan dan kesenangan adalah hak setiap manusia. Oleh karena itu, wajar jika orang hidup untuk mencari kesenangan. Hal ini didasarkan pada sifat manusia yang selalu ingin bersenang-senang dan bersenang-senang merupakan hal yang esensial untuk mendapatkan kesenangan.

Orientasi hidup yang selalu mengarah pada kesenangan, kebahagiaan atau menghindari perasaan tidak menyenangkan dikenal dengan istilah hedonisme. Hedonisme adalah perilaku yang menghargai kesenangan dan kebahagiaan pribadi, kemewahan, dan stabilitas, di atas segalanya. Hedonisme muncul pada awal sejarah filsafat sekitar 433 SM.

Pada dasarnya, hedonisme ingin menjawab pertanyaan filosofis ”apa yang terbaik untuk manusia?” Hal ini berawal dari Socrates yang menanyakan tentang tujuan akhir umat manusia. Kemudian Aristippos dari Kyrene (433-355 SM) menjawab bahwa yang terbaik bagi manusia adalah kesenangan.

Aristippos menjelaskan bahwa orang selalu mencari kesenangan sejak masa kecilnya dan jika tidak mencapainya akan mencari yang lain, namun bukan berarti orang bisa dengan leluasa dan brutal mendapatkan kesenangan dan membenarkan berbagai cara untuk mendapatkan kesenangan tersebut.

Saat ini, sikap membenarkan segala cara untuk memperoleh kesenangan telah mengganggu gaya hidup kaum muda. Mereka berlomba-lomba mengaktualisasikan dirinya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

Mereka melakukan segala daya dan upaya untuk mencapai kenikmatan hidup, seperti tertangkap basah pergaulan bebas, menggunakan obat-obatan terlarang, bahkan ada yang rela mengorbankan kehormatannya.

Ketika hedonisme telah mencengkeram hidup mereka, banyak nilai luhur kemanusiaan yang luntur, bahkan hilang. Kepekaan sosial mereka tergeser ketika mereka selalu mempertimbangkan untung dan rugi dalam bersosialisasi. Akibatnya, ketika seseorang membutuhkan pertolongan, mereka bersembunyi dan enggan berkorban.

Baca juga Khutbah Jum’at: Bahaya Penyakit Hati

Sejarah Singkat Hedonisme

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,

Hedonisme adalah pandangan hidup yang mengasumsikan bahwa orang bahagia ketika memperoleh kebahagiaan sebanyak-banyaknya dan sebisa mungkin menghindari perasaan menyakitkan. Hedonisme merupakan pandangan yang memandang bahwa kesenangan atau kebahagiaan merupakan tujuan hidup dan perbuatan manusia.

Secara etimologis, istilah “hedonisme” diambil dari bahasa Yunani “hēdonismos” dari akar kata “hēdonē”, yang berarti “kesenangan”. Gagasan ini menjelaskan bahwa apa yang memuaskan keinginan manusia dan apa yang meningkatkan kuantitas kesenangan dianggap baik.

Hedonisme adalah pandangan filosofi moral dari Yunani yang bertujuan untuk menghindari kesengsaraan dan semaksimal mungkin menikmati kebahagiaan dalam hidup. Selama itu, hedonisme masih memiliki makna positif.

Dalam perkembangannya, para penganut ini mencari kebahagiaan yang langgeng tanpa penderitaan. Mereka menjalani berbagai praktek pertapaan, seperti puasa, hidup miskin, bahkan menjadi pertapa untuk mendapatkan kebahagiaan sejati.

Namun, ketika Kekaisaran Romawi menguasai seluruh Eropa dan Afrika, gagasan ini mengalami pergeseran negatif dalam slogan baru hedonisme. Moto baru, carpe diem (mencapai kesenangan sebanyak mungkin selama Anda hidup), membangkitkan setiap nafas pandangan ini. Kebahagiaan dipahami sebagai kesenangan belaka tanpa memiliki makna yang dalam.

Hedonisme dalam Pandangan Islam

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Pada dasarnya, hedonisme yang digagas oleh Articulus (bapak hedonisme) tidak begitu bermakna seperti saat ini. Hedonisme telah mengalami pergeseran makna pemahaman masyarakat menjadi konsep yang hanya berorientasi material.

Inilah makna hedonisme bagi sebagian besar orang yang hanya memandang bahwa kesenangan, dan kebahagiaan baik lahir batin adalah tujuan utama hidup di dunia ini. Akibatnya, hedonisme adalah cara pandang tertentu dalam memahami kehidupan manusia di duniaini. Hal ini sangat bertentangan dengan hukum Islam.

Islam tidak hanya memandang aspek duniawi tetapi juga ukhrawi. Dalam pandangan Islam, kenikmatan dunia hanyalah kenikmatan sementara, sedangkan kehidupan abadi adalah akhirat.

Di dunia, bukan hanya kesenangan material yang dikejar manusia, tetapi di dunia ini manusia memiliki tugas sebagai khalifah untuk memimpin diri sendiri dan yang lain untuk beribadah kepada Allah semata dan menjauhkan manusia dari menjadi budak sesama manusia atau budak dunia.

Islam tidak sepakat dengan idea hedonisme karena hedonisme hanya mengejar modernitas fisik. Islam tidak mengajarkan hal-hal seperti itu, seperti disebutkan dalam Al-Quran Surat Hud: 116, dimana Allah ta’ala berfirman:

فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ ۗ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ

Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.

Terlebih bagi anak muda, budaya hedonisme seolah sudah menjadi ideologi yang sudah tidak tabu lagi. Tantangan terbesar generasi muda muslim saat ini adalah budaya hedonisme, yaitu kesenangan adalah hal terpenting dalam hidup.

Budaya yang bertentangan dengan Islam ini disukai dan dijadikan gaya hidup anak muda masa kini, tanpa memandang status sosial, ekonomi dan pendidikan, baik kaya atau miskin, bangsawan atau rakyat jelata, cendekiawan atau orang awam, di desa atau di kota, seolah-olah mereka setuju menjadikan hedonisme sebagai budaya modern mereka.

Hal ini mengasingkan dan mengusir mereka dari gaya hidup yang beradab, yakni dari hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan manusia.

Baca juga Khutbah Jum’at: Sebab Runtuhnya Peradaban

Bahaya Hedonisme Dalam Tinjauan Islam

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah,

Hedonisme sangat merusak baik secara akal sehat maupun secara syariat. Di antara dampak-dampak buruk yang sangat merusak dari gaya hidup hedonis baik karena meyakini itu sebagai sebuah pandangan hidup atau pun tidak adalah sebagai berikut:

  1. Individualisme.

Orang yang pernah terkena hedonisme cenderung merasa tidak membutuhkan bantuan orang lain. Mereka merasa sudah bisa hidup sendiri, tetapi kenyataannya tidak demikian. Manusia adalah makhluk sosial.

Ini jelas bertentangan dengan Islam yang sangat menekankan hidup berdampingan secara harmonis, saling peduli, saling membantu dalam kebaikan dan takwa.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. [Al-Maidah: 2]

  1. Kemalasan.

Kemalasan merupakan akibat dari hedonisme karena selalu menyia-nyiakan waktu. Mereka adalah manusia yang sama sekali tidak menghargai waktu. Sementara Islam sangat membenci kemalasan dan sangat menghargai waktu. Karena waktu adalah kehidupan.

Menyia-nyiakan waktu berarti membuang-buang kehidupannya sendiri yang merupakan modal utama untuk berbekal ke akhirat. Para hedonis pasti termasuk orang yang merugi.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. [Al-Ashr: 1-3]

Rasulullah ﷺ senantiasa berlindung dari sikap malas setiap pagi dan sore.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah ﷺ biasa membaca do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, sifat pengecut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” [Hadits riwayat Al-Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706]

  1. Pelacuran.

Pengikut hedonisme rentan terjebak dalam pergaulan bebas di mana mereka selalu berada di kehidupan malam seperti dugem, pesta narkoba, dan seks bebas. Allah Ta’ala telah mengharamkan zina dan menyebut zina merupakan jalan hidup yang paling buruk

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. [Al-Isra’: 32]

Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan sebuah hadits dari Samurah bin Jundab Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, “Pada suatu pagi Nabi ﷺ bercerita kepada kami:

إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتِيَانِ وَإِنَّهُمَا ابْتَعَثَانِي وَإِنَّهُمَا قَالَا لِي انْطَلِقْ وَإِنِّي انْطَلَقْتُ مَعَهُمَا. . . فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلَى مِثْلِ التَّنُّورِ قَالَ فَأَحْسِبُ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فَإِذَا فِيهِ لَغَطٌ وَأَصْوَاتٌ قَالَ فَاطَّلَعْنَا فِيهِ فَإِذَا فِيهِ رِجَالٌ وَنِسَاءٌ عُرَاةٌ وَإِذَا هُمْ يَأْتِيهِمْ لَهَبٌ مِنْ أَسْفَلَ مِنْهُمْ فَإِذَا أَتَاهُمْ ذَلِكَ اللَّهَبُ ضَوْضَوْا

“Tadi malam aku didatangi dua orang. Keduanya berkata kepadaku, “Berjalanlah. Kemudian aku berjalan bersama keduanya. . . lalu kami mendatangi bangunan menyerupai tungku api. Tiba-tiba terdengar suara gaduh dan teriakan di dalamnya. Lalu kami melongok ke dalamnya.

Ternyata di dalamnya terdapat beberapa laki-laki dan perempuan telanjang. Kobaran api dari bawah mereka berkobar ke arah mereka. Saat kobaran api itu mengenai mereka, maka mereka menjerit kesakitan.”

Kemudian Nabi ﷺ bertanya kepada kedua orang yang pergi bersamanya tadi, “Siapa mereka itu?” kemudian dijawab -di penghujung hadits-,

وَأَمَّا الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ العُرَاةُ الَّذِينَ فِي مِثْلِ بِنَاءِ التَّنُّورِ، فَإِنَّهُمُ الزُّنَاةُ وَالزَّوَانِي

“Adapun laki-laki dan perempuan telanjang yang berada di bangunan seperti tungku api adalah para laki-laki dan perempuan pezina.” [Hadits riwayat Al-Bukhari]

  1. Konsumtif dan boros

Hedonis cenderung konsumtif karena membelanjakan uang untuk membeli barang-barang yang hanya untuk kesenangan tanpa didasari kebutuhan. Menghamburkan uang untuk membeli berbagai hal yang tidak penting, sekedar untuk pamer merk atau barang mahal.

Padahal orang-orang yang suka menghamburkan harta untuk perkara yang tidak bermanfaat itu termasuk saudara-saudara setan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” [Al Isro’ : 26-27]

  1. Kejahatan terutama korupsi

Dalam hedonisme, seseorang dapat melakukan tindak kejahatan dan pelanggaran syariat berupa mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar. Hal ini karena orang yang menganut hedonisme cenderung melakukan apa pun meskipun harus melanggar hukum, hanya untuk memenuhi kesenangannya sendiri, tanpa memikirkan akibatnya.

Mengambil harta orang lain baik sedikit atau banyak secara batil jelas perbuatan yang sangat merusak rasa aman di masyarakat dan jelas sangat dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. [An-Nisa’: 29]

  1. Cenderung kepada kesombongan.

Para hedonis merasa berada di stratifikasi sosial yang tinggi. Perasaan bahwa dia lebih unggul atau memiliki tingkatan dan kelas yang berbeda dari orang lain.

Perasaan superior atas makhluk Allah yang lain yang berangkat dari persepsi yang salah bahwa apa yang ada pada dirinya lebih unggul dari yang lain adalah cara berpikir ala Iblis laknatullah ‘alaih.

Allah Ta’ala mengisahkan bagaimana Iblis menolak perintah Allah Ta’ala untuk memberikan sujud penghormatan kepada Adam semata karena meyakini dirinya diciptakan oleh Allah dengan bahan dasar yang berkualitas lebih baik dari Adam ‘Alaihis salam.

Perasaan superior atas yang lain semacam ini hanya akan membawa kepada perilaku yang negatif dan bahkan merusak.

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ ﴿٧٥﴾ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Allah berfirman, “Hai iblis! Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi? Iblis berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. [Shaad:75-76]

  1. Egois.

Hedonisme cenderung mengarah pada keegoisan. Mereka tidak peduli dengan orang lain karena yang terpenting bagi para hedonis adalah kesenangan yang diraih.

Islam tidak mengenal sikap egoisme. Islam sangat kuat dorongannya kepada umat Islam agar senantiasa peduli dengan orang lain. Perilaku egoistis ini hanya akan merusak harmoni dan soliditas dalam masyarakat.

Rasulullah bersabda,

الْمُؤْمِنِ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَثُّدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Seorang mukmin dengan mukmin lainnya adalah bagaikan bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan lainnya.” [Hadits riwayat Al- Bukhari dan Muslim]

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اثْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمى

Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan dan kasih sayang mereka adalah bagaikan satu jasad, apabila satu anggota tubuh sakit maka seluruh badan akan susah tidur dan terasa panas.” [Hadits riwayat Muslim no. 2586]

  1. Pribadi yang lembek dan lemah

Gaya hidup hedonis yang sangat memuja kesenangan duniawi hanya akan melahirkan pribadi lemah dan lembek yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya dan bersikap tegar di saat musibah datang menerpa.

Mereka akan menjadi hamba hawa nafsu dan akan menadi tipikal orang yang akan mengeluh karena sebuah musibah meskipun ringan. Mereka tidak akan sanggup bersabar untuk melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat. Dan juga tidak akan mampu bersabar dalam menanggung takdir Allah yang berupa musibah.

Generasi semacam inilah yang akan senantiasa menyia-nyiakan shalat dan mengikuti syahwat. Mereka hanya akan menemui kerugian dan kegagalan dan kesesatan baik di dunia maupun di akhirat.

Allah Ta’ala berfirman,

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” [Maryam: 59]

Kita berlindung kepada Allah dari menjadi orang-orang yang terpengaruh dengan gaya hidup hedonis yang sedang merajalela pada saat ini. Semoga Allah mengaruniakan kepada kita semuanya istiqamah dan ‘afiah atau keselamatan agama, dunia dan akhirat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Mengobati Penyakit Hedonisme

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Bila hedonisme itu ibarat sebuah penyakit yang mewabah di tengah-tengah masyarakat, lantas bagaimana seorang Muslim bisa menjadi imun terhadap penyakit tersebut dan masyarakat menjadi terobati dari wabah tersebut?

Di antara langkah-langkah yang perlu dilakukan agar imun dari wabah penyakit hedonisme dan bisa menghambat penyebarannya di tengah masyrakat adalah:

  1. Menjalankan perintah Nabi ﷺ untuk banyak mengingat kematian. Ini obat paling mujarab terhadap penyakit hedonisme.

Hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadits riwayat Ath Thabrani dan Al Hakim, bahwa Nabi ﷺ bersabda,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ , فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْهُ أَحَدٌ فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الْعَيْشِ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ , وَلاَ ذَكَرَهُ فِيْ سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ

Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali hal itu akan melonggarkan kesempitan tersebut pada dirinya. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu lapang (kehidupannya), kecuali hal itu akan menyempitkan keluasan hidup pada dirinya.” [Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir, no. 1.222; Shahih At Targhib, no. 3.333

  1. Banyak merenung tentang hakikat dunia yang fana, hina dan kesenangannya bersifat semu dan terbatas agar tidak tertipu dengannya.

Allah Ta’ala berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. [Al-Hadid: 20]

  1. Banyak mengkaji ayat dan hadits yang mencela orang-orang yang melampaui batas, mencintai dunia dan mengikuti hawa nafsu dan memuji orang-orang yang cinta kepada Allah dan akhirat

Sebagaimana dalam firman Allah berikut.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan perkerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali Neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” [Hud:15-16]

  1. Memegang teguh pesan Nabi ﷺ agar hidup zuhud di dunia.

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِىِّ قَالَ أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِىَ اللَّهُ وَأَحَبَّنِىَ النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ازْهَدْ فِى الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِى أَيْدِى النَّاسِ يُحِبُّوكَ ».

Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi, ia berkata,”Ada seseorang yang mendatangi Nabi ﷺ lalu berkata,”Wahai Rasulullah, tunjukkanlah saya suatu amalan yang bila saya kerjakan, maka Allah akan mencintai saya dan manusia juga mencintai saya.”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia, Allah akan mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki orang lain, mereka akan mencintaimu.”

[Hadits riwayat Ibnu Majah dan selainnya. An-Nawawi mengatakan bahwa hadits ini dikeluarkan dengan sanad yang hasan]

  1. Memegang teguh pesan Nabi ﷺ agar melihat kepada orang yang lebih rendah kondisi keduniaannya.

Hal ini sebagaimana dalam hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata,

أَمَرَنِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ أَمَرَنِي بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ وَأَمَرَنِي أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِي وَلَا أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي

Kekasihku yakni Nabi memerintah tujuh perkara padaku. Beliau menyuruhku agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka. Dan beliau menyuruhku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan dunia), dan tidak melihat orang yang berada di atasku. …” [Hadits riwayat Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih]

  1. Menjauhi komunitas yang bergaya hidup hedonis dan tidak berteman akrab dengan mereka.

Hal ini karena kualitas beragama seseorang itu sangat dipengaruhi oleh teman dekatnya atau komunitas terdekat dalam hidupnya. Ini sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya. Maka, kalian hendaknya memperhatikan dengan siapa kalian berteman dekat.” [Hadits riwayat Abu Dâwud no. 4833 dan at-Tirmidzi no. 2378. (ash-Shahîhah no. 927)]

  1. Bergaul dengan orang-orang miskin yang shalih dan berakhlak mulia agar lebih bisa bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada dirinya. Hal ini sebagaimana tadi disebutkan dalam hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.
  1. Bagi para dai, khatib dan para ulama agar senantiasa mengingatkan masyarakat muslim dari bahaya gaya hidup hedonis di dunia dan akhirat melalui berbagai sarana yang memungkinkan dan efektif pengaruhnya.
  1. Bagi para pemegang amanah kepemimpinan agar sebisa mungkin menegakkan nahyi mungkar dengan kekuasaan yang mereka miliki agar hedonisme tidak semakin membudaya di negeri ini.

Demikian khutbah Jumat tentang hedonisme dalam pandangan Islam. Semoga bermanfaat buat kita semua. Marilah kita akhiri khutbah ini dengan berdoa kepada Allah Ta’ala.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Materi Khutbah Jum’at Lengkap

error: Content is protected !!