Khutbah Jumat: Sifat Tamak – Bahaya Rakus Terhadap Harta dan Obatnya

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

Mukaddimah Pembukaan Khutbah Jumat

Mukadimah

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menganugerahkan berbagai nikmat kepada kita semua, terutama nikmat hidayah iman dan Islam, keamanan dan kesehatan serta rezeki yang baik dan mencukupi.

Dengan rahmat Allah semata, kita semua bisa hadir di masjid yang diberkahi ini untuk melaksanakan kewajiban ibadah shalat Jumat dengan ringan hati, mudah dan selamat.

Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi kita yang mulia Muhammad ﷺ , keluarganya, para sahabatnya dan siapa saja yang mengikuti sunnah Nabi ﷺ dengan ikhlas dan sabar hingga akhir zaman.

Kami wasiatkan kepada diri kami pribadi dan jamaah shalat Jumat sekalian, marilah kita senantiasa berusaha semaksimal kemampuan kita untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di mana pun kita berada.

Semoga dengan takwa tersebut Allah Ta’ala berkenan memudahkan semua urusan kita, memberi rezeki kita dari arah yang tidak diduga dan memberkahi rezeki dan keluarga kita.

Tamak Sifat Berbahaya Yang Harus Dijauhi

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari hadits Ka’b bin Malik Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ , beliau bersabda,

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ، بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

”Kerusakan yang ditimbulkan oleh dua seriga lapar yang dilepaskan dalam kawanan domba tidak lebih besar dibandingkan dengan kerusakan yang ditimbulkan oleh kerakusan seseorang kepada harta dan kedudukan terhadap agamanya.”

[Hadits riwayat At-Tirmidzi no. 2376 dan Ahmad no. 15794. Syaikh Al-Albani menyatakan ini hadits shahih di dalam Shahih At-Tirmidzi no. 2376]

Dalam hadits ini Nabi ﷺ menjelaskan bahaya tamak terhadap harta dan kebesaran di atas umat manusia terhadap agama seseorang dan keistiqamahannya.

Hadits ini tidak mencakup orang yang menghasilkan harta yang halal. Dalam sebuah hadits disebutkan:

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِح

”Sebaik-baik harta yang baik adalah milik orang yang baik (shalih).”

[Hadits riwayat Al-Bukhari no. 299, Al-Hakim no. 2130 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 1248 dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu]

Sudah maklum bahwa jika serigala dikirim di tengah kawanan domba, ia akan memakannya. Kalaulah tidak memakan semuanya, maka ia akan merusak dan membinasakan mereka, sehingga tidak akan ada domba yang selamat.

Lalu bagaimana jika serigala itu lapar? Bagaimana jika itu bukan satu serigala, tetapi dua serigala lapar? Tidak diragukan lagi kerusakan dan kebinasaan akan semakin besar.

Ketamakan seseorang terhadap harta dan kedudukan jauh lebih merusak terhadap agamanya daripada kerusakan yang ditimbulkan oleh dua serigala lapar terhadap kawanan domba yang tidak ada penggembalanya.

Islam tidak hendak mencabut rasa cinta seseorang kepada harta namun Islam menuntut agar Allah dan Rasul-Nya ﷺ lebih dicintai dari selain keduanya.

Allah Ta’ala telah memberitahu bahwa harta dan anak itu statusnya hanyalah cobaan buat kita di dunia ini. Allah Ta’ala berfirman dalam Surat At-Taghabun: 15,

اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ – ١٥

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.

Oleh karena harta hanyalah cobaan, maka Allah Ta’ala memperingatkan kita agar jangan lalai dari semua yang Allah wajibkan gara-gara sibuk mencari harta meskipun halal.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Munafiqun: 9,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ – ٩

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.

Bentuk Tamak Terhadap Harta

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Tamak terhadap harta itu ada dua macam:

  1. Sangat mencintai harta disertai dengan usaha pencarian yang luar biasa dengan berbagai cara yang mubah untuk mendapatkannya meskipun harus menanggung berbagai kepayahan dan penderitaan.

Bila waktu siang hari sudah digunakan untuk bekerja, maka malam hari adalah waktu untuk keluarga dan beribadah kepada Allah Ta’ala.

Namun yang terjadi kadang tidak demikian. Dari jam 9 pagi sampai jam 11 malam, lima hari dalam seminggu dipakai untuk bekerja. Work aholics. Gila kerja. Sedangkan dua hari libur dipakai untuk rekreasi yang sia-sia.

Allah Ta’ala dan akhirat tidak teringat di hatinya kecuali hanya sedikit saja. Wal’iyadzu billah. Betapa ruginya kehidupan semacam ini meskipun bergelimang harta.

  1. Sangat mencintai harta disertai dengan usaha pencarian yang luar biasa tanpa peduli sumbernya halal atau haram serta tidak memenuhi hak-hak harta yang diwajibkan oleh syariat kepadanya.

Inilah sifat kikir yang tercela. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Hasyr: 9,

وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ

Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Dalam kitab Sunan Abi Dawud dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ , beliau bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالشُّحِّ، أَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخِلُوا، وَأَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا، وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا

”Jauhilah sifat kikir. Orang-orang sebelum kalian telah binasa karena sifat kikir. Sifat kikir itu telah memerintah mereka untuk bersikap pelit akhirnya mereka menjadi pelit.

Sifat kikir itu memerintah mereka untuk memutus hubungan kerabat lalu mereka memutus hubungan kerabat. Dan sifat kikir itu memerintah mereka untuk melakukan perbuatan melampaui batas maka mereka pun melakukannya.”

[Hadits riwayat Abu Dawud no. 1698. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih di dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/318 no. 1489]

Sebagian ulama mengatakan,”Sifat الشح – kikir – ketamakan yang amat sangat yang mendorong pemilik sifat tersebut untuk mengambil apa saja secara tidak halal serta tidak memenuhi hak-haknya.

Hakikat kikir adalah jiwa yang sangat cenderung kepada apa saja yang diharamkan oleh Allah dan dilarang darinya serta tidak puasnya seseorang dengan apa saja yang Allah halalkan untuknya.”[i]

Rekomendasi Khutbah Bahaya Komunis Atheis
Rekomendasi Khutbah Jumat Peristiwa penting bulan rabiul awal

Tanda Tamak Terhadap Harta

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Tamak terhadap dunia dengan segala isinya termasuk harta, memiliki tanda-tanda atau ciri – ciri. Kita perlu mengenalinya agar terhindar dari keburukannya. Di antara tanda-tanda dari tamak terhadap dunia adalah:

  1. Menjual akhirat dengan mengumpulkan harta tanpa peduli sumbernya halal atau haram.

Rasulullah ﷺ telah memperingatkan tentang akan datangnya zaman semacam ini dan kelihatannya zaman kita ini termasuk di dalamnya. Rasulullah ﷺ ,

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، لاَ يُبَالِي المَرْءُ بِمَا أَخَذَ المَالَ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ» (صحيح البخاري؛ برقم: [2083])

”Benar-benar akan datang suatu zaman kepada manusia, seseorang tidak peduli darimana dia mendapatkan harta apakah dari yang halal atau dari yang haram.” [Shahih Al-Bukhari no. 2083]

  1. Kedengkian.

Orang yang kikir merasakan kepedihan bila ada bagian dari dunianya yang sirna seperti harta, kedudukan, pangkat dan kekuasaan. Dia tidak rela dengan keadaannya selama-lamanya. bahkan dia menganggap dirinya selalu bernasib sial dan mendapat takdir yang buruk karena dia tidak memperoleh apa yang diperoleh orang lain.

Namun dia tidak merasakan perasaan semacam itu saat melihat orang yang agamanya lebih baik dari dirinya dan akhlaknya lebih utama dari dirinya. Jadi dia hanya cemburu dalam persoalan duni. Dan sampai kapan pun, dia tidak akan berlomba dalam masalah agama.

  1. Berlebihan dalam memperhatikan hiburan diri baik berupa makanan, minuman, pakaian, rumah dan kendaraan.

Sangat memperhatikan perkara tersier dan kemewahan, dengan perhatian yang menyita waktu dan pikirannya, sehingga ia berusaha untuk membeli pakaian yang elegan, menghiasi rumahnya , dan menghabiskan uang dan waktu dalam hal ini.

Padahal dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Mu’adz bin Jabal bahwa Rasulullah ﷺ ketika mengutusnya ke Yaman sebagai Qadhi atau Gubernur berpesan kepadanya,

إيَّاكَ والتَّنعُّمَ؛ فإنَّ عِبادَ الله ليسوا بالمُتنعِّمينَ

”Hendaklah kamu jauhi berlebihan dalam kesenangan. Sesungguhnya hamba-hamba Allah bukanlah orang yang berlebihan dalam bersenang-senang.”

[Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih di dalam As-Silsilah Ash-Shahihah][ii]

Hal Yang Mendorong Sifat Tamak

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Pendorong utama sifat tamak terhadap harta adalah terlalu cinta terhadap dunia. Lantas apa yang menyebabkan seseorang begitu cinta kepada dunia meskipun sudah mengetahui bahwa dunia itu fana dan bakal dia tinggalkan untuk selamanya?

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid mengatakan sebab cinta dunia itu banyak namun yang paling menonjol ada tiga macam:

  1. Dunia itu indah dan manis secara zhahir.

Allah Ta’ala berfirman,

اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا – ٤٦

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. [Al-Kahfi: 46]

Dalam hadits shahih juga sudah dijelaskan:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

Dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Nabi ﷺ , beliau bersabda,”Sesungguhnya dunia itu manis nan hijau (indah). Sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dunia ini lalu Allah melihat bagaimana kalian beramal.

Dan jagalah diri kalian dari dunia dan jagalah diri kalian dari wanita. Sesungguhnya penyimpangan pertama dari Bani Israel adalah berkaitan dengan wanita.” [Hadits riwayat Muslim no. 2742]

Dalam hadits ini Nabi ﷺ menyerupakan dunia dengan buah-buahan yang manis dan hijau karena memang rasa manis itu disukai dan menarik hati manusia secara umum.

  1. Kecenderungan hati dan jiwa manusia terhadap dunia.

Allah Ta’ala berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allâh-lah tempat kembali yang baik (surga). [Ali-Imran:14].

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

قَلْبُ الشَّيْخِ شَابٌّ عَلَى حُبِّ اثْنَتَيْنِ طُولُ الْحَيَاةِ وَكَثْرَةُ الْمَالِ

”Hati orang yang sudah tua masih tetap muda dalam hal mencintai dua perkara yaitu hidup yang lama dan banyak harta.”

[Hadits riwayat Al-Bukhari no. 6420 dan Muslim no. 1046]

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari no. 6436 dan Muslim no. 1048 bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

لَوْ كانَ لِابْنِ آدَمَ وادِيانِ مِن مالٍ لابْتَغَى ثالِثًا، ولا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إلَّا التُّرابُ، ويَتُوبُ اللَّهُ علَى مَن تابَ

”Seandainya anak Adam itu memiliki dua lembah penuh harta, pasti dia masih menginginkan yang ketiga. Dan tidak ada yang akan bisa memenuhi perut anak Adam kecuali tanah dan Allah akan memberi taubat kepada orang yang bertaubat.”

  1. Lebih mendahulukan kesenangan dunia yang bersifat segera namun fana daripada kenikmatan akhirat yang masih tertunda namun kekal selamanya.

بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۖ – ١٦

Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia,

وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ – ١٧

Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. [Al-A’la: 16-17]

Syaikh Al-Munajjid menegaskan bahwa cinta dunia dan lebih mengutamakannya daripada akhirat itu pangkalnya ada dua sebab:

  1. Adanya kerusakan dalam iman dan agama.
  2. Adanya kerusakan dalam akal (cara berfikir atau cara pandangnya).[iii]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

155 Kumpulan Khutbah Jumat Singkat

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Cara Mengobati Sifat Tamak

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Cinta kepada dunia merupakan pangkal segala keburukan. Sifat tamak terhadap harta bersumber dari kecintaan kepada dunia yang berlebihan.

Dengan demikian cara untuk selamat dari sifat tamak adalah dengan membebaskan diri dari sifat mencintai dunia dan menomorduakan akhirat. Syaikh Muhammad Al-Munajjid memberikan obat dari cinta dunia sebagai berikut:

  1. Memiliki pengetahuan yang kokoh tentang hakikat dunia.
  2. Meremehkan dan merendahkan dunia.
  3. Merenungkan betapa cepat sirnanya dunia ini dan betapa cepatnya menghadap akhirat.
  4. Bersikap qana’ah (menerima dengan lapangan dada) dengan sedikitnya dunia yang dimiliki.
  5. Merenungkan berbagai akibat buruk dari mencintai dunia.
  6. Menyibukkan diri dengan mengupayakan sebab-sebab kelezatan hakiki bukan ilusi.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan hakikat kelezatan hidup di dunia sebagai berikut:

”Kelezatan dunia yang paling agung secara mutlak adalah kelezatan mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kelezatan mencintai-Nya. Itulah kelezatan dunia dan kenikmatannya yang tinggi.

Sesunguhnya ruh, hati dan tubuh ini diciptakan untuk itu. Mengenal Allah Subahanahu wa Ta’ala dan mencintai-Nya adalah perkara terbaik di dunia ini. Sedangkan sesuatu yang paling lezat di akhirat adalah melihat Allah Ta’ala dan menyaksikan-Nya di surga.

Mencintai dan mengenal Allah merupakan hal yang menyejukkan mata, kelezatan bagi ruh dan kebahagiaan di hati.

Sedangkan kenikmatan dan kesenangan dunia yang memutus dari mengenal dan mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berbalik menjadi kesengsaraan dan siksaan yang menjadikan orangnya terus menerus berada dalam kehidupan yang menyesakkan dada di dunia ini.

Dengan demikian, kehidupan yang baik di dunia ini hanyalah dengan Allah Ta’ala Subhanahu wa Ta’ala. [Al-Jawab Al-Kafi:168]

  1. Mendahulukan ridha Allah dari apa saja yang disenangi oleh dirinya dan hawa nafsunya.
  2. Berfikir tentang kenikmatan surga.

Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata,”Nabi ﷺ bersabda,

اللَّهُمَّ لا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الآخِرَةِ

”Ya Allah. Tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirat.” [Hadits Muttafaq ‘alaih. Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]

Sebab dari hal itu adalah bahwa manusia itu terdiri dari jasad dan ruh. Masing-masing membutuhkan makanan dan sesuatu yang membuatnya merasa nikmat. Itulah kehidupannya.

Kehidupan jasad adalah makan, minum, nikah , pakaian, wewangian dan berbagai kelezatan inderawi lainnya. Dilihat dari segi ini, kehidupan jasadi atau kehidupan fisik manusia itu serupa dengan hewan karakteristiknya.

Adapun ruh itu lembut. Ia bersifat ruhani dari jenis malaikat. Maka makanannya, kelezatannya dan kegembiraannya serta kesenangannya adalah dalam mengenal penciptanya, tempat kembalinya, dan apa saja yang mendekatkan kepada-Nya, baik berupa taat kepada Allah, dzikir, mencintai-Nya, tenang dengan-Nya dan rindu berjumpa dengan-Nya. Inilah kehidupan jiwa dan makanannya.

Bila jiwa kehilangan semua ini, maka jiwa tersebut akan sakit dan rusak dengan kerusakan yang lebih besar dari kerusakan yang diderita jasad saat tidak mendapatkan makanan dan minumannya.

Oleh karena itu, terdapat banyak orang kaya, dengan rezeki berlimpah yang telah memberi jasadnya dengan berbagai kenikmatan, namun merasakan adanya kepedihan dan kesepian dalam hatinya.

Orang-orang yang tidak mengerti menyangka hal itu bisa sirna dengan ditambahnya kelezatan fisik. Yang lain menyangka hal itu akan sirna dengan menghilangkan kesadaran melalui hal-hal yang memabukkan.

Semua ini hanya menambah siksaan batin dan kesepian jiwanya. Sebabnya hanyalah karena ruh itu telah kehilangan makanannya dan gizinya, sehingga menjadi sakit dan menderita.” [Syarh hadits labbaik: 58]

  1. Merenungkan betapa cepat sirnanya dunia.
  2. Besabar dari mencintai dunia.

[Hubbud Dunya, Syaikh Al-Munajjid, hal. 45-56 secara ringkas]

Demikianlah sejumlah kiat yang diberikan oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid agar bisa terbebas dari cinta kepada dunia yang menjadi sumber dari sifat tamak terhadap harta.

155 Khutbah Jumat Singkat Terbaru

Doa Penutup

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan hidayah dan taufik kepada kita untuk bisa menjalankan kiat-kiat tersebut dengan sebaik-baiknya.

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

 الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنَّا نَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِى لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ


[i] https://www.alukah.net/sharia/0/85121/

[ii][ii] lihat: http://iswy.co/e15a69 dan https://www.islamweb.net/ar/fatwa/339112/%D9%87%D9%84-%D9%8A%D9%86%D9%82%D8%B5-%D9%85%D9%86-%D8%AB%D9%88%D8%A7%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B3%D9%84%D9%85-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%A2%D8%AE%D8%B1%D8%A9-%D8%A8%D9%82%D8%AF%D8%B1-%D9%85%D8%A7-%D8%A3%D8%AE%D8%B0-%D9%85%D9%86-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%B9%D9%8A%D9%85-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%86%D9%8A%D8%A7

[iii] Hubbud Dunya, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, hal. 23-26.

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Materi Khotbah Jum’at
Khutbah Jumat Zuhud Terhadap Dunia
Khutbah Jumat Tentang Riba
Khutbah Jumat Urgensi Wara’

Print Friendly, PDF & Email