Khutbah Jumat Luasnya Rahmat Allah, Mengharap, & Kiat Menggapainya

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

Mukaddimah Pembukaan Khutbah Jumat

Mukadimah

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Ta’ala atas segala nikmat, karunia dan rahmat-Nya kepada kita semuanya yang tak terhitung dan tak terbatas jumlahnya.

Atas rahmat Allah Ta’ala semata, kita dengan ringan hati, mudah dan aman bisa hadir ke Masjid ini untuk menunaikan salah satu kewajiban agung dalam Islam yaitu ibadah shalat Jumat.

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhamad ﷺ, keluarganya, para sahabatnya dan siapa saja yang mengikuti sunnah beliau lahir batin dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.

Kami wasiatkan kepada diri pribadi dan Jamaah Shalat Jumat sekalian, marilah kita senantiasa berusaha menjadi orang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di mana saja kita berada, semaksimal kemampuan yang kita miliki.

Semoga dengan takwa tersebut Allah Ta’ala menggolongkan kita ke dalam hamba-hamba-Nya yang senantiasa mendapatkan rahmat-Nya yang luas.

Menyadari Luasnya Rahmat Allah

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-A’raf: 156

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”

Rahmat Allah Ta’ala, kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala, itu tidak sebagaimana kasih sayang makhluk. Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki 100 rahmat dan meletakkan satu bagian dari rahmat-Nya tersebut kepada makhluk.

Sisanya, yaitu 99 bagian dari rahmat Allah ini disimpan di sisi-Nya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

وعن أبي هريرة رضي الله عنه، عن النبيِّ صلى الله عليه وسلم قال: إنَّ لِلَّهِ مِئَةَ رَحْمَةٍ أَنْزَلَ منها رَحْمَةً وَاحِدَةً بيْنَ الجِنِّ وَالإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ، فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ، وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ، وَبِهَا تَعْطِفُ الوَحْشُ علَى وَلَدِهَا، وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً، يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَومَ القِيَامَةِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ , beliau bersabda,”Sesungguhnya Allah memiliki 100 rahmat. Allah menurunkan satu rahmat dari 100 rahmat tersebut di antara jin, manusia, hewan, dan serangga.

Dengan rahmat itulah mereka saling mengasihi dan menyayangi. Dengannya pula binatang buas mengasihi anaknya. Dan Allah menunda 99 rahmat. Allah merahmati hamba-hamba-Nya pada hari kiamat dengan 99 rahmat tersebut.” [Hadits riwayat Muslim no. 2752]

Satu bagian rahmat Allah yang Allah turunkan tersebut dibagi untuk seluruh umat manusia, jin, hewan dan seluruh makhluk. Di antara gambaran rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebagai berikut:

  1. Allah menjadikan manusia lebih mulia dibandingkan dengan makhluk yang lain.
  2. Allah menciptakan siang dan malam. Siang sebagai waktu untuk mencari penghidupan dan malam hari sebagai waktu untuk beristirahat.
  3. Allah menundukkan bumi ini dan memberi kemampuan kepada umat manusia untuk memanfaatkan bumi ini berikut apa yang ada di dalamnya untuk melayani mereka dan memudahkan kehidupan mereka di dunia ini.
  4. Allah menurunkan hujan dari langit yang menjadi asas kehidupan segala sesuatu di bumi ini.
  5. Allah mengutus para rasul dan menurunkan kita-kitab untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia kepada kebenaran dan jalan yang lurus dalam hidup ini serta agar umat manusia mendapatkan kebahagian di dunia dan akhirat.
  6. Allah menetapkan syariat untuk umat manusia yang merupakan keadilan Allah di antara para hamba-Nya, rahmat-Nya di antara mereka dan naungan-Allah di bumi-Nya. Semua kebaikan di alam wujud ini hanya bisa didapatkan dari syariat Allah Ta’ala dan hanya bisa dihasilkan dengan syariat Allah Ta’ala.

Dan sebaliknya, segala kekurangan dan masalah di dunia ini sebabnya adalah menyia-nyiakan syariat Allah Ta’ala. Syariat yang dibawa oleh setiap rasul yang diutus oleh Allah Ta’ala merupakan pilar dunia ini, poros keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

  1. Allah memberikan sejumlah keringanan dalam syariat-Nya untuk para hamba-Nya agar mereka tidak merasakan adanya sesuatu yang memberatkan dirinya dalam agama ini.

Misalnya, orang yang sakit dibolehkan tidak berpuasa, orang yang bepergian jarak jauh diperbolehkan untuk mengqashar shalatnya, dan orang boleh memakan bangkai pada saat tidak ada makanan sama sekali yang bisa dijadikan sarana untuk bertahan hidup.

  1. Allah memberikan pahala yang besar atas siapa saja yang bersabar dalam beramal shaleh.
  1. Allah senantiasa membuka pintu taubat bagi hamba-Nya yang melakukan dosa walaupun sepenuh bumi selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari tempat terbenamnya.
  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan akal kepada manusia yang menjadikannya mampu mempelajari berbagai hal. Allah karuniakan juga kemampuan menjelaskan dengan fasih dan gamblang apa saja yang telah ia pelajari. Ini merupakan rahmat Allah Ta’ala dan nikmat yang agung kepada umat manusia.[i]

Dan masih banyak hal lainnya yang tidak bisa disebutkan di sini karena memang rahmat Allah Ta’ala itu sangatlah luas meliputi segala sesuatu.

Kita Masuk Surga Karena Rahmat Allah

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman az-Zukhruf: 72

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِيْٓ اُوْرِثْتُمُوْهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ – ٧٢

Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal perbuatan yang telah kamu kerjakan.

Kemudian Allah Ta’ala juga berfirman dalam surat Al-Waqi’ah: 24

جَزَاۤءًۢ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ – ٢٤

Sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan.

Kedua ayat ini, dan masih banyak lagi yang lainnya, menegaskan adanya pengaruh amal seseorang dalam hubungannya dengan masuk ke dalam surga. Namun, ada sebuah hadits Nabi ﷺ yang shahih yang secara sekilas kelihatannya bertentangan dengan ayat-ayat tersebut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,

لَنْ يُدْخِلَ أحَدًا عَمَلُهُ الجَنَّةَ. قالوا: ولا أنْتَ يا رَسولَ اللَّهِ؟ قالَ: لا، ولا أنا، إلَّا أنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بفَضْلٍ ورَحْمَةٍ

”Amal seseorang sama sekali tidak akan bisa memasukkan dirinya ke dalam surga.” Para sahabat bertanya,”Tidak pula anda wahai Rasulullah?” Rasulullah ﷺ menjawab,”Tidak. Tidak pula diriku. Hanya saja Allah telah meliputi diriku dengan fadhilah dan rahmat.”

[Hadits riwayat Al-Bukhari (5673) dan Muslim (2816)]

Dalam hadits ini Rasulullah ﷺ tegas mengatakan bahwa amal seseorang tidak akan memasukkan dirinya ke dalam surga. Surga hanya bisa didapat dengan rahmat Allah dan fadhilah-Nya.

Untuk bisa memahami kedua nash yang kelihatannya bertentangan ini karena keterbatasan ilmu kita, maka kita perlu merujuk kepada penjelasan para ulama dalam mendudukkan nash al-Quran dan As-Sunnah semacam ini.

Para ulama telah menegaskan, kedua nash tersebut sama sekali tidak bertentangan. Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa amal shaleh merupakan sebab masuk ke dalam surga dan bukan merupakan harga surga. Dan hadits tadi meniadakan amal shaleh itu sebagai harga surga.[ii]

Surga bukanlah ganti dari amal shaleh, namun sebab untuk masuk ke dalam surga.[iii] Syaikh Alawi bin Abdul Qadir As-Saqaf mengatakan,”Orang masuk surga hanyalah dengan rahmat Allah Ta’ala semata, sebab taufik untuk beramal dan hidayah untuk ikhlas dalam beramal, serta diterimanya amal, itu hanyalah karena rahmat Allah dan fadhilah-Nya.

Sehingga, benarlah bila dikatakan bahwa seseorang tidak bisa masuk surga semata-mata karena amalnya. Inilah yang dimaksud dengan hadits tersebut. Adapun amal memang merupakan sebab masuk surga dan ini merupakan bagian dari rahmat Allah Ta’ala.”[iv]

Syaikh Abdul Karim bin Abdullah Al-Hudhair mengatakan,”Seorang Muslim masuk ke dalam surga dengan rahmat Allah Yang Maha Pengasih. Sedangkan kedudukan di surga hanya sesuai dengan amalan.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-A’raf: 43

وَنُوْدُوْٓا اَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ اُوْرِثْتُمُوْهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ –

Diserukan kepada mereka, “Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu, karena apa yang telah kamu kerjakan.”

Maksudnya, dengan sebab amal-amal kalian. Jadi, amal shaleh itu menjadikan seseorang layak mendapatkan kedudukan-kedudukan ini. Siapa saja yang amalannya lebih banyak dan lebih baik serta jauh lebih memenuhi syarat ikhlas dan mengikuti sunnah, maka tidak ragu lagi bahwa kedudukannya lebih tinggi.

Dan siapa saja yang di bawah itu, maka kedudukannya juga lebih rendah. Dengan demikian bisa dipadukan antara hadits tersebut dengan ayat-ayat yang semisal dengan firman Allah Ta’ala tadi.”[v]

Kiat Menggapai Rahmat Allah

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Keselamatan dan kebahagiaan kita di dunia dan akhirat sangat tergantung kepada rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Oleh karenanya, Allah Ta’ala sudah memberitahu bagaimana caranya agar kehidupan kita senantiasa diliputi dengan rahmat Allah Ta’ala.

Syaikh Abdullah bin Jarullah Al-Jarullah menulis sebuah buku kecil yang berjudul Asbabur Rahmah atau sebab-sebab rahmat. Dalam buku tersebut beliau mengumpulkan berbagai ayat dan hadits yang menerangkan sebab-sebab seseorang bisa mendapatkan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Secara ringkas sebab-sebab Allah merahmati hamba-Nya adalah sebagai berikut:

  1. Bersikap ihsan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

Yang dimaksud bersikap ihsan adalah memperbagus dan menyempurnakan ibadah kepada Allah Ta’ala dan merasa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengawasinya dalam ibadah tersebut.

Gambarannya dalam hadits shahih, ihsan adalah anda beribadah kepada Allah seolah melihat Allah. Jika anda tidak bisa melihat Allah, maka ketahuilah sesungguhnya Allah melihat Anda.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-A’raf: 56:

إِنَّ رَحْمَةَ اللهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

”Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang senantiasa berbuat ihsan.”

  1. Takwa kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-A’raf: 156-157

وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍۗ فَسَاَكْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِاٰيٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَۚ –

Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.”

اَلَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ

(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka,

  1. Menyayangi makhluk Allah yang lain, baik manusia maupun binatang.

Hal ini sebagaimana dalam hadits dari Abdulah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

الرَّاحمونَ يرحمُهُمُ الرَّحمنُ . ارحَموا من في الأرضِ يرحَمْكم من في السَّماءِ

”Orang-orang yang menyayangi akan dirahmati oleh Ar-Rahman. Sayangilah siapa saja yang ada di bumi ini, niscaya yang di atas langit (yaitu Allah Ta’ala) akan menyayangi kalian.” [Hadits riwayat Abu Dawud (4941), At-Tirmidzi (1924) dan Ahmad (6494). Al-Albani menyatakan ini hadits shahih dalam Shahih At-Tirmidzi no. 1924][vi]

Hal ini lebih ditekankan lagi pada orang -orang fakir, miskin dan yang membutuhkan.

  1. Iman, hijrah dan jihad di jalan Allah Ta’ala.

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah: 218.

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ اُولٰۤىِٕكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ – ٢١٨

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

  1. Mendirikan shalat, membayar zakat dan mentaati Rasulullah ﷺ

Hal ini sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nur: 56

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ – ٥٦

Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat.

  1. Berdoa kepada Allah agar diberi rahmat dengan menyebut nama-nama-Nya yang baik (Asmaul Husna)

Misalnya, sebagaimana dalam surat Al-Kahfi : 10

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

”Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.”

  1. Mengikuti al-Quran al-Karim dan mengamalkannya

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-An’am: 155

وَهٰذَا كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ مُبٰرَكٌ فَاتَّبِعُوْهُ وَاتَّقُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَۙ – ١٥٥

Dan ini adalah Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan dengan penuh berkah. Ikutilah, dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat.

  1. Mentaati Allah dan Rasul-Nya ﷺ

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Ali Imran: 132

وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَۚ – ١٣٢

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat.

  1. Mendengarkan dan diam saat mendengar tilawah al-Quran Al-karim

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al-A’raf: 204

وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ – ٢٠٤

Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.

  1. Istighfar dan memohon ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Allah Ta’ala berfirman dalam surat An-Naml: 46

 لَوْلَا تَسْتَغْفِرُوْنَ اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ –

Mengapa kamu tidak memohon ampunan kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat?

Inilah sejumlah amalan yang bisa kita lakukan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati diri kita dan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat.

Kita memohon kepada Allah Ta’ala hidayah dan taufik-Nya agar bisa mengamalkan sebab-sebab yang mendatangkan rahmat Allah Ta’ala ini.[vii]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

155 Materi Khutbah Jumat Terbaru

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Az-Zumar : 53,

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ – ٥٣

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Ketika seseorang banyak berbuat dosa, kadang dia sampai pada satu titik kesadaran bahwa dia tidak boleh terus tenggelam dalam dosa. Tekanan rasa bersalah yang begitu besar dalam jiwa kadang mengganggu pikirannya, apakah Allah Ta’ala bersedia mengampuni semua dosanya selama ini?

Dalam ayat ini Allah Ta’ala memberitahu seluruh hamba-Nya yang beriman bahwa mereka tidak boleh berprasangka buruk kepada Allah Ta’ala bila hendak bertaubat dari dosa sebanyak apa pun.

Allah selalu membuka pintu maaf dan taubat kepada para hamba-Nya yang berdosa, selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat. Tidak ada ruang untuk berputus asa dari rahmat Allah.

Allah Ta’ala juga berfirman dalam surat Yusuf: 87 menggambarkan tuntunan agar tidak putus asa saat menghadapi masalah sebesar apa pun.

يٰبَنِيَّ اذْهَبُوْا فَتَحَسَّسُوْا مِنْ يُّوْسُفَ وَاَخِيْهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ – ٨٧

Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” [Yusuf: 87]

Putus asa dari rahmat Allah merupakan tabiat dasar dari orang kafir. Mereka tidak pernah menggantungkan urusan kehidupannya kepada Dzat Yang Maha Kuasa lagi Maha Pengasih.

Yang mereka tahu, saat ada masalah, mereka harus menyelesaikannya dengan bertumpu pada kekuatannya sendiri. Padahal, kapasitas manusia dalam memecahkan masalah itu terbatas.

Saat persoalan yang dihadapi melebihi kapasitas dirinya, jalan dirasa sudah buntu, akhirnya merasa tak sanggup lagi menanggung beban hidup. Akhirnya memilih jalan bunuh diri untuk lepas dari masalah tersebut.

Umat Islam dilarang keras mengikuti kebiasaan orang kafir semacam ini. Dan Allah Ta’ala melalui lisan rasul-Nya ﷺ telah menyiapkan hukuman yang sangat keras bagi siapa saja yang membunuh dirinya sendiri.

Di sinilah pentingnya beriman bahwa Allah Ta’ala itu Maha Pengasih, lebih pengasih kepada hamba-Nya daripada seorang ibu yang menyayangi anak kandungnya. Bila kita ada masalah dan buntu, maka harapan kepada Allah tidak boleh putus.

Selama kita mau berdoa dengan tekun dan sungguh-sungguh, serta memenuhi semua adab dan sebab dikabulkannya doa, serta menjauhi semua penghalang dikabulkannya doa, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh Allah Ta’ala melalui doa.

Contoh saja, kisah Imam Al-Bukhari rahimahullah, ahli hadits dari negeri Bukhara, Asia Tengah, yang sangat terkenal hingga sekarang. Beliau waktu kecil tertimpa kebutaan. Ibunya tidak putus asa dari rahmat Allah. Beliau berdoa dengan tekun agar Allah mengembalikan penglihatan anaknya.

Setelah berdoa cukup lama , akhirnya Allah mengembalikan penglihatan Imam Al-Bukhari. Kisah ini disampaikan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Muqaddimah Fathul Bari: 502.

Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan ketergantungan kita kepada Allah Ta’ala, banyak berdzikir dan berdoa kepada-Nya, dan tidak bersandar kepada diri kita sendiri. Sungguh, banyak masalah kehidupan yang akan terurai dengan petolongan dan rahmat-Nya.

Kita hanya diminta untuk bersangka baik kepada Allah, tidak putus asa terhadap rahmat Allah, terus berdoa kepada-Nya dan memohon rahmat-Nya, sambil terus berfikir dan bekerja, berikhtiar memenuhi hukum sebab akibat yang harus ditempuh di dunia ini.

Allah-lah yang akan menentukan hasilnya, bukan usaha kita. Wallahu a’lam.

155 Khutbah Jumat Singkat Terbaru

Doa Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

 الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

  عِبَادَ اللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ


[i] Lihat: https://www.naasan.net/index.php?page=YXJ0aWNsZQ==&op=ZGlzcGxheV9hcnRpY2xlX2RldGFpbHNfdQ==&article_id=MjYwMA==&lan=YXI=

https://mawdoo3.com/%D9%85%D8%B8%D8%A7%D9%87%D8%B1_%D8%B1%D8%AD%D9%85%D8%A9_%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87_%D8%A8%D8%B9%D8%A8%D8%A7%D8%AF%D9%87

https://www.alukah.net/sharia/0/94106/

[ii] https://www.dorar.net/aqadia/2818/%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B7%D9%84%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%B3%D8%A7%D8%AF%D8%B3:-%D8%A7%D9%84%D8%AC%D9%86%D8%A9-%D9%84%D9%8A%D8%B3%D8%AA-%D8%AB%D9%85%D9%86%D8%A7-%D9%84%D9%84%D8%B9%D9%85%D9%84

[iii] https://www.islamweb.net/ar/fatwa/143299/%D8%AF%D8%AE%D9%88%D9%84-%D8%A7%D9%84%D8%AC%D9%86%D8%A9-%D8%A8%D8%B1%D8%AD%D9%85%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D9%81%D9%84%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%85%D9%84

[iv] https://dorar.net/hadith/sharh/10057

[v] https://ar.islamway.net/fatwa/73182/%D9%85%D8%B9%D9%86%D9%89-%D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB-%D9%84%D9%86-%D9%8A%D8%AF%D8%AE%D9%84-%D8%A3%D8%AD%D8%AF%D8%A7-%D8%B9%D9%85%D9%84%D9%87-%D8%A7%D9%84%D8%AC%D9%86%D8%A9

[vi] https://www.dorar.net/hadith/sharh/71255

[vii] Lihat Asbabur Rahmah, Syaikh Abdulah bin Jarullah Al-Jarullah, hal. 7-10 secara ringkas.

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
– Kumpulan Khutbah Jumat Terbaru
– Khutbah Tentang Ridha Allah

Print Friendly, PDF & Email