Khutbah Jumat Bulan Rabiul Awwal dan Peristiwa Penting di Dalamnya

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

Mukaddimah Pembukaan Khutbah Jumat

Rabiul Awal Bulan Refleksi Diri

Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah,

Segala puji kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang atas rahmat dan karunia-Nya, pada hari ini kita masih diberi hidayah iman dan Islam serta kesehatan dan kekuatan untuk menjalankan salah satu kewajiban dan syiar yang agung dalam Islam, yaitu shalat Jumat, di masjid yang mulia ini.

Shalawat dan salam semoga senantasa terlimpah kepada Nabi Kita Muhammad ﷺ , keluarganya, para sahabatnya dan seluruh umat Islam yang mengikuti sunnah beliau ﷺ dengan penuh keikhlasan dan kesabaran baik , hingga hari kiamat.

Kami mengingatkan diri kami sendiri dan kaum Muslimin seluruhnya agar senantiasa berusaha untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di mana pun kita berada, dengan cara melaksanakan apa saja yang Allah Ta’ala perintahkan kepada kita dan menjauhi apa saja yang Allah larang dari diri kita, berdasarkan ilmu yang benar secara ikhlas dan sabar.

Hanya dengan jalan itulah kita bisa mewujudkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Dan hanya takwa saja yang menyebabkan kita selamat dan bahagia serta mulia di dunia dan akhirat.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Sekarang ini kita berada di bulan Rabiul Awal. Di bulan ini, terdapat beberapa penting dalam sejarah Islam yang semestinya layak untuk kita jadikan bahan renungan, mengingat pentingnya peristiwa tersebut.

Kebanyakan kaum Muslimin hanya terfokus pada satu peristiwa penting saja yang diperingati setiap tahunnya di bulan Rabiul Awwal, yaitu kelahiran Nabi Muhammad ﷺ .

Sebenarnya ada peristiwa lainnya yang tidak kalang penting dan momumental, namun jarang diingat atau diperingati. padahal peristiwa tersebut jauh lebih penting dari kelahiran Nabi Muhammad ﷺ . Lantas apakah peristiwa penting apa sajakah yang ada dalam bulan Rabiul awal?

Peristiwa Penting Bulan Rabiul Awal

Paling tidak ada tiga peristiwa besar yang terjadi dalam bulan Rabiul Awal dalam sejarah Islam, yaitu:

1. Kelahiran Rasulullah Muhammad ﷺ adalah di bulan Rabiul Awal

Dr Akram Dhiya’ Al-‘Umari mengatakan bahwa para ulama ahli sejarah berbeda pendapat tentang tanggal kelahiran Nabi ﷺ . Menurut Ibnu Ishaq, beliau lahir pada tanggal 12 bulan Rabiul Awal.

Menurut Al-Waqidi, beliau lahir pada tanggal 10 bulan Rabiul Awal. Sementara menurut Abu Mi’syar As-Sindi beliau lahir pada tanggal 2 bulan Rabiul Awal. Di antara ketiga perawi tersebut, Ibnu Ishaq adalah yang paling tsiqah (terpercaya).[i]

Adapun Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam kitabnya Ar-Rahiqul Makhtum mengatakan Rasulullah ﷺ dilahirkan di tengah keluarga Bani Hasyim di Makkah pada Senin pagi, tanggal 9 Rabiul Awwal, permulaan tahun dari Peristiwa Gajah dan 40 tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan atau bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 bulan April tahun 571 Masehi.

Hal ini berdasarkan penelitian ulama terkenal Muhammad Sulaiman Al-Manshurfuri dan peneliti astronomi Mahmud Basya.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa Ibu Rasulullah ﷺ berkata, “Setelah bayiku keluar, aku melihat ada cahaya yang keluar dari kemaluanku, menyinari istana-istana di Syam.”

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Al-Irbadh bin Sariyah, yang isinya serupa dengan perkataan tersebut.”[ii]

Bahwa Rasulullah ﷺ lahir di hari senin ini sesuai dengan sebuah hadits riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ ditanya tentang puasa pada hari Senin dan Kamis kemudian dijawab oleh beliau,”Aku dilahirkan pada hari itu dan diangkat sebagai nabi pada hari itu serta wahyu diturunkan kepadaku juga hari itu.”

Mengenai tahun gajah sebagai tahun kelahiran beliau, menurut Dr. Akram Dhiya’ Al-Umari, indikasi-indikasi sejarah yang sesuai dengan riwayat yang menyatakan bahwa nabi ﷺ lahir pada tahun Gajah sangat kuat. ‘

Menurut Ibnul Qayyim yang didukung oleh Al-Qalashthani, Nabi ﷺ lahir pada tahun Gajah paska Peristiwa Gajah. Peristiwa tersebut merupakan momen bagi persiapan kejayaan Islam ketika Allah mengusir orang-orang Kristen Habasyah dari ka’bah yang saat itu dikuasai oleh kaum Musyrik Arab demi memuliakan rumah-Nya tersebut.[iii]

2. Rasul Hijrah Pada Bulan Rabiul Awal

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Peristiwa monumental kedua pada bulan Rabiul awal adalah hjrahnya Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah dengan ditemani oleh sahabat setianya, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Hijrah ke Madinah merupakan titik tolak dari perkembangan dakwah Islam. Pengaruh Islam yang terus membesar dan menyebar ke berbagai penjuru tanpa bisa dibendung lagi oleh kekuatan apa pun pada masa itu.

Perlu dijelaskan di sini, bahwa sistem kalender dalam Islam di mulai pada bulan Muharram. Padahal sebab penentuan tahun hijriah adalah hijrah Nabi ﷺ. Bila demikian halnya, lantas mengapa permulaan tahun hijriah adalah bulan Muharram bukan bulan Rabiul Awwal yang merupakan bulan hijrahnya Nabi ﷺ ?

Mengenai persoalan ini, Darul Ifta’ Al-Misriyyah menjawab, “Nabi ﷺ tiba di Madinah pada bulan Rabiul Awal. Namun Bulan Muharram dijadikan sebagai permulaan tahun hijriyah karena bulan Muharram itu adalah permulaan tekad untuk melakukan hijrah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar menyatakan di dalam kitab Fathul Bari (7/268), (Penerbit Darul Ma’rifah), “Pengunduran sejarah hijrah dari Rabiul awal ke Muharram adalah karena permulaan tekad untuk berhijrah itu terjadi pada bulan Muharram, karena Baiat yang terjadi saat itu di pertengahan bulan Dzulhijjah.

Ini merupakan pengantar hijrah. Maka Hilal pertama yang terbit setelah baiat dan tekad untuk melaksanakan hijrah adalah hilal bulan Muharram, sehingga pantas bila dijadikan sebagai permulaan. Inilah yang terkuat yang saya dapatkan tentang kesesuaian permulaan tahun hijriah dengan Muharram.”[iv]

Tujuan dari hijrah adalah untuk mewujudkan adanya tempat yang baru untuk dakwah Islam dan terwujudnya rasa aman pada diri kaum Muslimin mengenai nyawa dan agama mereka.

Maka, langkah-langka awal yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ untuk mewujudkan tujuan tersebut adalah hal-hal berikut ini:

  1. Membangun masjid untuk mengatur hubungan antara hamba dan penciptanya, sebagai tempat untuk pertemuan kaum Muslimin, tempat pengajaran hukum-hukum Islam dan penyelenggaraan berbagai majlis dan musyawarah serta berbagai kepentingan masjid lainnya bagi kehidupan kaum Muslimin.
  2. Mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar dalam rangka mengokohkan hubungan di antara anggota masyarakat Muslim dan menghilangkan perasaan keterasingan di kalangan para muhajir.
  3. Mengukuhkan perjanjian dalam rangka menghilangkan kedengkian di antara kaum Muslimin serta menghapus permusuhan di antara mereka di masa jahiliah.[v]

3. Bulan Rabiul Awal Rasul Meninggal

Sekitar tiga bulan sepulang dari menunaikan ibadah haji wada’ Rasulullah ﷺ jatuh sakit yang cukup serius. Pertama kali beliau mengeluh sakit di rumah Ummul Mukminin Maimunah. Beliau sakit selama 10 hari dan akhirnya wafat pada hari senin tanggal 12 Rabiul Awwal dalam usia 63 tahun.

Sebuah riwayat yang shahih menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ sudah mulai mengeluh sakit sejak tahun ke 7 paska penaklukan Khaibar, yakni setelah beliau sempat mencicipi sepotong daging panggang beracun yang disuguhkan oleh seorang perempuan Yahudi, istri Sallam bin Masykam.

Walaupun beliau sudah memuntahkan dan tidak sampai menelannya, namun pengaruh racun tersebut masih tersisa. Beliau meminta izin kepada istri-istrinya yang lain agar diperbolehkan dirawat di rumah Ummul Mukminin ‘Aisyah, dan mereka tidak keberatan.

Ketika sedang dalam keadaan kritis, Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabat,”Kemarilah, aku ingin menulis sepucuk surat wasiat yang setelah membacanya kalian tidak akan sesat.”

Terjadi perselisihan kecil di antara para sahabat. Sebagian ada yang ingin menyodorkan alat-alat tulis dan sebagian yang lain tidak setuju, dengan alasan hal itu justru akan memberatkan beliau.

Belakangan diketahui secara jelas bahwa perintah untuk menyodorkan alat tulis itu bukan wajib tapi pilihan. Sebuah riwayat yang shahih menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ minta alat tulis itu terjadi pada hari Kamis, empat hari sebelum beliau wafat.

Sakit yang diderita Rasulullah ﷺ semakin berat sehingga beliau tidak sanggup keluar rumah untuk ikut shalat bersama para sahabat. Beliau bersabda kepada ‘Aisyah,”Suruhlah Abu Bakar untuk menjadi imam Shalat.”

Pagi hari menjelang wafat, Rasulullah ﷺ membuka tirai kamar ‘Aisyah dan memandang kaum Muslimin yang tengah shalat dalam barisan rapi. Sejenak beliau tersenyum lalu tertawa kecil, seolah-olah beliau sedang berpamitan dengan mereka.

Menyaksikan beliau keluar, kaum Muslimin merasa gembira. Abu Bakar ingin mundur karena mengira Rasulullah ﷺ akan ikut shalat. Tetapi beliau segera memberi isyarat tangan kepada Abu Bakar agar meneruskan shalatnya. Setelah itu beliau masuk kamar lagi sambil menutup tirai.

Fathimah masuk menemui beliau di kamar. Ia merasa sangat iba melihat penderitaan ayahnya. Dia berkata,”Alangkah beratnya penderitaan ayah.” Beliau bersabda,”Setelah hari ini, tidak akan ada lagi penderitaan.”

Kemudian Usamah bin Zaid muncul. Beliau memanggil Usamah dengan bahasa Isyarat karena nampaknya beliau sudah tidak sanggup lagi berbicara karena menahan derita sakit yang semakin berat.”

Pada saat menjelang ajal, beliau bersandar di dada ‘Aisyah. ‘Aisyah mengambil siwak pemberian saudaranya, Abdurrahman bin Abu Bakar. Ia lalu memberikan siwak tersebut kepada beliau yang kemudian beliau gunakan untuk membersihkan mulutnya.

Rasulullah ﷺ kemudian memasukkan tangannya ke dalam sebuah bejana berisi air. Sambil mengusapkan ke wajah beliau bersabda,”Laa ilaaha Illallah, Sesungguhnya kematian itu didahului oleh saat-saat sekarat.”

‘Aisyah samar-samar masih mendengar beliau bersabda,”Bersama orang-orang yang dikaruniai nikmat oleh Allah.” Lalu beliau berdoa,”Ya Allah, pertemukan aku dengan Engkau Yang Maha Tinggi.”

‘Aisyah tahu pada saat itu Rasulullah ﷺ disuruh untuk memilih dan beliau memilih bertemu dengan Tuhannya Yang Maha Tinggi.” Rasulullah ﷺ akhirnya wafat di pangkuan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelang tengah hari.[vi]

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

155 Materi Khutbah Jumat Terbaru

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Rabiul Awal Moment Menjadi Penerus Dakwah Nabi

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan Rasul-Nya Muhammad ﷺ dengan empat perkara, yaitu:

  1. Mempelajari wahyu yaitu belajar tentang al-Quran.
  2. Mengamalkan Al-Quran.
  3. Mengajarkan al-Quran kepada umat manusia.
  4. Membangun manusia berdasarkan al-Quran.

Seluruh tanggung jawab ini beralih kepada diri kita setelah wafatnya Rasulullah ﷺ . Tentunya yang paling tertuntut untuk masalah tersebut adalah dari kalangan para ulama dan mujtahid umat ini, kemudian mreka yang kapasitas keilmuannya tentang al-Quran dan Agama Islam ini di bawah mereka.

Masing- masing mendapatkan beban tanggung jawab sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang dia miliki.

Ada dua langkah dalam agama ini, yaitu langkah untuk beribadah dan langkah untuk berdakwah. Atau dengan kata lain, gerakan untuk memperbaiki diri sendiri dan gerakan untuk memperbaiki orang lain. Itu merupakan keutamaan yang Allah berikan kepada siapa yang Allah kehendaki.

Nabi ﷺ telah berdaya upaya dengan sungguh-sungguh membina para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum sehingga terwujudlah pada diri para sahabat tersebut dua perkara:

  1. Tegaknya agama Islam dalam kehidupan mereka.
  2. Tegaknya agama Islam dalam kehidupan umat manusia.

Dengan demikian setiap Muslim akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala. Masing-masing akan dihisab atas amal individual yaitu ibadah dan atas amal jama’i atau aktifitas yang dilakukan secara kolektif yaitu dakwah kepada Allah.

Allah Ta’ala akan meminta tanggung jawab terhadap sang da’i dan orang – orang yang diseru oleh sang dai, pada hari kiamat tentang apa yang telah mereka lakukan saat masih di dunia ini.

Allah Ta’ala berfirman,

فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ .فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ ۖ وَمَا كُنَّا غَائِبِينَ .وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ ۚ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ .وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ

6. Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami),

7. maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).

8. Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

9. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. [Al-A’raf: 6-9]

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَالْعَصْرِ .إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ .إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

1. Demi masa.

2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. [Al-‘Ashr: 1-3]

155 Khutbah Jumat Singkat Terbaru

Doa Penutup

Demikian khutbah Jumat bulan Rabiul Awal kali ini. Semoga bermanfaat. Marilah kita akhiri dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

 الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

  عِبَادَ اللهِ

((إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ


[i] Seleksi Sirah Nabawiyah, Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umari, Darul Falah, hal. 77.

[ii] Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyurrahman Mubarakfuri, Pustaka Al-Kautsar Jakarta, 2012, cetakan ke 37, hal. 48.

[iii] Seleksi Sirah Nabawiyah, Dr. Akram dhiya’ Al’Umari, Darul Falah, hal. 76.

[iv] https://www.albayan.ae/varieties/2021-08-08-1.4223150

[v]https://mawdoo3.com/%D8%AF%D8%B1%D9%88%D8%B3_%D9%88%D8%B9%D8%A8%D8%B1_%D9%85%D9%86_%D8%A7%D9%84%D9%87%D8%AC%D8%B1%D8%A9_%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A8%D9%88%D9%8A%D8%A9_%D8%A7%D9%84%D8%B4%D8%B1%D9%8A%D9%81%D8%A9

[vi] Seleksi Sirah Nabawiyah, Dr. Akram Dhiya’ Al-‘Umari, Darul Falah, hal. 613-616 secara ringkas.

Baca Juga Tentang Khutbah Jum’at:
Kumpulan Khutbah Jumat Singkat
Khutbah Jumat Bulan Safar

Print Friendly, PDF & Email