Pengertian Hadits Qudsi, Contoh & Perbedaannya Dengan Al Quran

Apa itu Hadits Qudsi? Adakah contohnya? Apa perbedaannya dengan Al Quran? Bagaimana Lafadz Hadits Qudsi? Semua pertanyaan tersebut akan kami jawab melalui tulisan panjang ini.

Pembagian hadits ditinjau dari segi tempat atau kepada siapa hadits tersebut disandarkan, terbagi menjadi empat macam, yaitu hadits qudsi, hadits marfu’, hadits mauquf dan hadits maqthu’. Berikut selengkapnya:

Hadits Qudsi adalah

Pengertian Hadits Qudsi Secara Bahasa dan Istilah
Pengertian Hadits Qudsi Secara Bahasa dan Istilah

Pengertian hadits qudsi secara bahasa dan istilah adalah sebagai berikut:

Qudsi Secara bahasa

Secara etimologi, kata القُدْسِيُّ al-Qudsiy adalah nisbah atau sesuatu yang dihubungkan, kepada القُدْس Al-quds, yang berarti الطُّهْر ‘suci’. Dengan demikian, al-hadits al-Qudsi berarti hadits yang dihubungkan kepada Dzat yang suci, Yang Maha Suci, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hadits Qudsi Secara istilah

Pengertian hadits Qudsi menurut istilah ilmu hadits adalah:

هُوَ مَا نُقِلَ إِلَيْنَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ إِسْنَادِهِ إِيَّاهُ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Hadits yang diriwayatkan kepada kita dari Nabi ﷺ yang disandarkan oleh beliau kepada Allah ‘Azza wa jalla.”

Atau

كُلُّ حَدِيْثٍ يُضِيْفُ فِيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَوْلاً إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Setiap hadits yang disandarkan Rasulullah ﷺ perkataannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Definisi di atas menjelaskan bahwa hadits Qudsi itu adalah perkataan yang bersumber dari Rasulullah ﷺ namun disandarkan beliau kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi, meskipun itu adalah firman Allah Ta’ala, hadits qudsi bukanlah al-Quran dan bahkan keduanya berbeda. [Ulumul Hadits, Dr. Nawir Yuslem, hal. 278-279]

Perbedaan Hadits Qudsi dan Al-Quran

Perbedaan Hadits Qudsi dan AL Quran
Perbedaan Hadits Qudsi dan AL Quran

Antara al-Quran dengan hadits Qudsi terdapat beberapa perbedaan. Perbedaan yang paling penting menurut Syaikh Shalah Najib Ad-Daq adalah sebagai berikut:

  1. Al-Quran Al-Karim adalah kalamullah yang diwahyukan kepada Rasulullah ﷺ dengan lafazh-Nya.

Para ahli bahasa Arab yang fasih dari Bangsa Arab ditantang dengan al-Quran. Mereka tidak mampu untuk mendatangkan semisal al-Quran atau sepuluh surat saja atau satu surat saja yang semisal dengannya.

Tantangan tersebut masih berlaku sampai sekarang. Dengan demikian al-Quran adalah mukjizat yang abadi hingga hari kiamat sedangkan pada hadits qudsi tidak terjadi adanya tantangan dan mukjizat dengan hadits qudsi.

  1. Al-Quran al-Karim dinisbahkan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan hadits Qudsi kadang diriwayatkan dengan disandarkan kepada Allah Ta’ala.

Al-Quran al-Karim dinisbahkan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga dikatakan: Allah Ta’ala berfirman.

Sedangkan hadits Qudsi kadang diriwayatkan dengan disandarkan kepada Allah Ta’ala. Dengan demikian ini merupakan bentuk penyandaran secara langsung. Sehingga dikatakan: Allah Ta’ala berfirman.

Terkadang diriwayatkan dengan disandarkan kepada Rasulullah ﷺ . Dengan demikian penyandaran ini bersifat tidak langsung karena Rasulullah ﷺ memberitahukan dari Allah Ta’ala. Dengan demikian lafazhnya adalah: Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana Rasulullah ﷺ riwayatkan dari Rabbnya ‘Azza wa Jalla.

  1. Al Quran semuanya mutawatir, sedangkan hadits qudsi hukumnya bermacam-macam

Seluruh al-Quran al-Karim dinukil sampai kepada kita secara mutawatir sehingga al-Quran itu Qath’i ats-Tsubut (secara pasti dan mutlak bersifat shahih dari sisi sumbernya). Sedangkan hadits qudsi terkadang shahih atau hasan atau dh’aif atau bahkan maudhu’ (palsu).

  1. Al-Quran lafazh dan maknanya dari Allah. Sedangkan Hadits Qudsi makna dari Allah, sementara lafazh dari Rasulullah ﷺ

Dari sisi lafazh dan maknanya, Al-Quran berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia merupakan wahyu dengan lafazh dan makna. Sedangkan hadits Qudsi maknanya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sementara lafazhnya berasal dari Rasulullah ﷺ .

Dengan demikian ia merupakan wahyu secara makna tanpa disertai lafazh. Oleh karenanya, diperbolehkan periwayatannya secara makna menurut mayoritas ahli hadits.

  1. Membaca al-Quran merupakan ibadah, sedangkan pahala membaca hadits qudsi bersifat umum.

Membaca al-Quran adalah wajib atas setiap orang dalam shalat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

”Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran.” [Al-Muzammil: 20]

Membaca al-Quran adalah ibadah yang akan diberi pahala besar oleh Allah Ta’ala.

Sedangkan membaca hadits Qudsi dalam shalat tidak sah. Membaca hadits qudsi akan mendapatkan pahala secara umum namun tidak sebagaimana pahala membaca al-Quran yang pada setiap hurufnya sepuluh kebaikan. [Mabahits fi ulumil Quran, Mana’ Qathan, hal. 22-23]

  1. Al-Quran tidak disentuh kecuali oleh orang yang telah bersuci sedangkan hadits qudsi bisa disentuh orang yang dalam keadaan suci maupun tidak.
  2. Diharamkan meriwayatkan al-Quran secara makna. Adapun hadits qudsi tidak diharamkan meriwayatkan secara makna.
  3. Satu kalimat dari al-Quran al-Karim dinamakan ayat dan sejumlah ayat dinamakan surat. sedangkan hadits-hadits qudsi tidak dinamakan sebagiannya dengan ayat maupun surat berdasarkan kesepakatan para ulama.
  4. Disyariatkan untuk menyatukan antara mambaca ta’awudz dan basmalah saat membaca al-Quran namun tidak demikian halnya dengan hadits qudsi. [Dirosat fi ulumil quran, Fahd Ar-Rumi, hal. 23-24][i]

Jumlah Hadits Qudsi

Sesungguhnya jumlah hadits qudsi secara umum tidak besar bila dibandingkan dengan hadits nabawi. Sebagian ulama mengatakan jumlahnya sekira 200 hadits. [Taisir Mushthalahil Hadits]

Di antara ulama masa kini yang menyusun kitab tentang hadits Qudsi adalah Syaikh Mushthafa AL-‘Adawi yang berjudul Shahih Al-Ahadits Al-Qudsiyyah.

Dalam pengantar kitabnya beliau mengatakan bahwa beliau mengumpulkan hadits-hadits qudsi yang telah dia rajihkan keshahihannya.

Di dalam kitab tersebut Syaikh Al-Adawi mengumpulkan sekira 185 hadits yang diambil dari Kutubus sittah, Musnad Ahmad, Shahih Ibnu Hibban, Mustadrak al-hakim dan kitab-kitab hadits lainnya. [Al-Ahadits Al-Qudsiyyah fil Jarh wat Ta’dil wa Mashadiruha wa Adwaru Tadwiniha, Abdul Ghafur Abdul Haq Al-Balusyi, hal. 49.][ii]

Ciri dan Tanda Lafadz Hadits Qudsi

Ciri dan Tanda Lafadz Hadits Qudsi
Ciri dan Tanda Lafadz Hadits Qudsi

Di dalam meriwayatkan Hadits Qudsi, ada dua lafazh yang dipergunakan, yaitu:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، فيما يرويه عن ربِّه عز وجل

“Rasulullah ﷺ bersabda menurut apa yang diriwayatkan oleh beliau dari Allah ‘Azza wa Jalla…”

قال الله تعالى فيما رواه عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menurut apa yang diriwayatkan dari Allah Ta’ala oleh Rasulullah ﷺ …” [Ulumul Hadits, hal. 282]

Kumpulan Contoh Hadits Qudsi

Kumpulan Contoh Hadits Qudsi
Kumpulan Contoh Hadits Qudsi

Berikut ini sejumlah contoh tentang hadits Qudsi lengkap dengan matan hadits, terjemahan, derajat hadits dan sebagian diberikan keterangan tambahan untuk memperjelas persoalan yang dipandang bisa disalah pahami.

1. Hadits Qudsi Tentang Kasih Sayang Allah dan Silaturahmi

وأخرجه الترمذي عَن عَبْدِ الرحمنِ بْنِ عَوْف – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ: «قَالَ اللَّهُ: أَنَا اللَّهُ، وَأَنَا الرَّحْمنُ، خَلَقْتُ الرَّحِمَ، وَشَقَقْتُ لَهَا مِنَ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعْتُهُ».

قال الترمذي – رحمه الله تعالى: حديث حسن صحيح

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,”Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,”Allah berfirman,’Aku Allah. Aku adalah ar-Rahman. Aku telah menciptakan rahim dan aku ambilkan dari pecahan nama-Ku.

Siapa saja yang menyambungnya (hubungan rahim) maka Aku menyambung (hubungan) dengannya dan siapa saja yang memutusnya maka Aku memutus (hubungan) dengannya.” [At-Tirmidzi rahimahullah berkata,”Hadits hasan shahih]

2. Hadits Qudsi Tentang Prasangka Hamba

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلّم: «إنَّ اللَّهَ يَقُولُ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بي، وَأَنَا مَعَهُ إذَا دَعَانِي». قال الترمذي: حديث حسن صحيح

Dar Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,”Rasulullah ﷺ bersabda,”Sesungguhnya Allah berfirman,”Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. dan Aku bersamanya apabila dia berdoa kepada-Ku.” [At-Tirmidzi berkata,”Hadits hasan Shahih]

3. Hadits Qudsi Tentang Wali Allah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم

أَنَّ الله تعالى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيَّاً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ. وَمَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِيْ بِهَا. وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ [266] رواه البخاري

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata,”Rasulullah ﷺ ,”Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman,”Siapa yang memusuhi satu wali-Ku maka sungguh Aku telah menyatakan perang kepadanya, dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan suatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.

Dan seorang hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya jadilah Aku pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk memukul, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.

Dan jika ia meminta (sesuatu) kepada-Ku pasti Aku memberinya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku pasti Aku akan melindunginya.” [Hadits riwayat Al-Bukhari]

Firman Allah: “jadilah Aku pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk memukul, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan..”

Maksudnya adalahdia tidak mendengarkan kecuali apa yang Allah Ta’ala ridhai dan bila dia mendengarkan maka dia mendapatkan manfaat. Dia tidak melihat kecuali apa yang Allah Ta’ala ridhai. Dan bila dia melihat maka dia mendapat manfaat.

Dia tidak memukul dengan tangannya kecuali dalam hal-hal yang Allah ridhai dan jika dia memukul dengan tangannya apa yang Allah Ta’ala ridhai maka dia mendapatkan manfaat. Demikian pula yang terjadi dengan kakinya.

Lihat: Syarh Al-Arba’in An-Nawawi karya Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin.

4. Hadits Qudsi tentang husnuzan Kepada Allah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,”Nabi ﷺ bersabda,

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً – رواه البخاري، رقم 7405 ومسلم ، رقم 2675

”Allah Ta’ala berfirman, ”Aku menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingat-Ku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku.

Kalau dia mengingat-Ku di suatu kumpulan, maka Aku akan mengingatnya di suatu kumpulan yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal kepada-Ku, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta.

Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berjalan cepat.” [Hadits riwayat Al-Bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675]

5. Hadits Qudsi Tentang Syirik

عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلّم: «قَالَ اللَّهُ – تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عملَ عَمَلاً أَشْرَكَ فيه غَيْري، تَرَكْتُهُ وَشرْكَهُ»

أخرجه مسلم في صحيحه (2985) وابن ماجه في سننه (4202) واللفظ لمسلم عن أبي هريرة رضي الله عنه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,”Rasulullah ﷺ bersabda,”Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,”Aku paling tidak butuh kepada semua sekutu. Siapa saja yang melakukan suatu amal yang di dalam amal tersebut dia mempersekutukan dengan selain diri-Ku, Aku tinggalkan dia bersama sekutunya.”

[Hadits riwayat Muslim dalam Shahih-nya no. 2985, dan Ibnu Majah (4202) dan lafazh hadits ini dari jalur Muslim. Lihat Al-Ahadits Al-Qudsiyyah Abul M’uathy hal. 39]

6. Hadits Qudsi Tentang Kezhaliman

عَنْ أَبِي ذَرٍّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنِ النَّبيِّ فيمَا رَوَى عَنِ اللَّهِ – تَبَارَكَ وَتَعَالَى – أَنَّهُ قَالَ: «يَا عبَادي، إنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّما، فَلَا تَظَالَمُوا

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ mengenai apa yang Nabi ﷺ riwayatkan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala, bahwa Allah berfirman, “Wahai para hamba-Ku. Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku dan Aku telah menjadikan kezhaliman itu juga diharamkan di antara kalian. Maka janganlah kalian saling menzhalimi satu sama lain.”

[Hadits riwayat Muslim dalam Shahih-nya Bab Tahrim Azh-zhulmi]

7. Hadits Qudsi Tentang Al Fatihah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,”Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda,

قَالَ اللَّهُ – عَزَّ وَجَلَّ – قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْني وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

فَإذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} قَالَ اللَّهُ – عَزَّ وَجَلَّ: حَمِدَني عَبْدِي

وَإذَا قَالَ: {الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ} قَالَ اللَّهُ – عَزَّ وَجَلَّ – أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي

وَإذَا قَالَ: {مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ} قَالَ اللَّهُ: مَجَّدَني عَبْدِي

فَإذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

فَإذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِم وَلَا الضَّآلِّينَ} قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

أخرجه مسلم في صحيحه (395)، وأحمد في مسنده (2ظ241، 285، 460)، وابن ماجه في سننه (3784) وغيرهم من حديث أبي هريرة رضي الله عنه

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,”Aku membagi shalat antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.

Apabila seorang hamba mengucapkan,”Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.” Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,”Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Apabila dia mengucapkan,”Arrahmaanirrahiim.” Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,’ Hamba-Ku menyanjung-Ku.”

Kemudian apabila dia mengucapkan,”Maaliki yaumiddiin,” Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,”Hamba-Ku memuliakan-Ku.” Bila dia mengucapkan,”iyyaaka na’budu wa iyaaka nasta’iin.” Allah ‘Azza wa jalla berfirman,”Ini antara Aku dan hamba-Ku dan bagi hamba-Ku yang dia minta.”

Apabila dia mengucapkan,”Ihdinash-shiraathal mustaqiim. Shiraathalladziina an’amta ‘alaihim.” Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Ini antara Aku dan hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.”

[Hadits riwayat Muslim dalam Shahih-nya (395), Ahmad dalam Musnadnya (2/ 241, 285, 460), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (3784) dan yang lainnya, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Lihat: Al-Ahadits Al-Qudsiyyah, ‘Adil Abul Mu’athi hal. 39]

8. Hadits Qudsi Tentang Sakit

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله ﷺ:«إنَّ اللَّهَ – عَزَّ وَجَلَّ – يَقُولُ يَوْمَ الْقيَامَة: يَا ابْنَ آدَمَ، ‌مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْني، قَالَ: يَا رَبِّ، وَكَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْت رَبُّ العَالَمِينَ؟ قَالَ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدي فُلانا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ؟ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَني عِنْدَهُ

أخرجه مسلم في صحيحه (2569) من حديث أبو هريرة رضي الله عنه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,” Rasulullah ﷺ bersabda,”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman pada hari kiamat,”Hai anak Adam! Aku sakit namun kamu tidak menjenguk-Ku.” Dia menjawab,”Wahai Tuhan! Bagaimana aku menjenguk-Mu padahal Engkau adalah Tuhan semesta alam?”

Allah berfirman,”Tidakkah kamu tahu bahwa hamba-Ku yang bernama fulan telah sakit namun kamu tidak menjenguknya? Tidakkah kamu mengetahui, andai kamu menjenguknya, kamu akan mendapati-Ku di sisinya?

[Hadits riwayat Muslim di dalam Shahih-nya (2569) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

9. Hadits Qudsi Tentang Surga

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم: «قَالَ اللَّهُ: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا ‌عَيْنٌ ‌رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَر

أخرجه مسلم في صحيحه (2824) وأحمد في مسنده (2\466) وأبو نعيم في الحلية (2\262) من حديث أبي هريرة -رضي الله عنه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ beliau bersabda,’Allah berfirman,”Aku telah menyiapkan untuk para hamba-Ku yang shalih apa saja yang belum pernah dilihat oleh mata, tidak pula terdengar oleh telinga dan terlintas dalam benak manusia.”

[Hadits riwayat Muslim dalam Shahihnya (2824), Ahmad dalam Musnadnya (2/466) dan Abu Nu’aim di dalam kitab AL-Hilyah (2/262) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

10. Hadits Qudsi Tentang Rezki, Sibuk Dengan Dunia

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: «إنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ، ‌تَفَرَّغْ ‌لِعِبَادَتي، أَمْلأْ صَدْرَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإلَاّ تَفْعَلَ مَلأْتُ يَدَيْكَ شُغْلاً، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ»

قال أبو عيسى الترمذي رحمه الله: حديث حسن غريب

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman,”Wahai anak Adam! Dedikasikanlah secara penuh (hidupmu) untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan aku tutup kefakiranmu.

Bila kamu tidak melakukan hal itu maka aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak menutup kefakiranmu.” [Hadits riwayat Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang lainnya. Abu ‘Isa At-Tirmidzi berkata,”Hadits hasan gharib]

11. Hadits Qudsi Tentang Taqwa & Ampunan Allah

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَرَأَ هَذه الآيَةَ: {هُوَ أَهْلُ التَّقْوَى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ} فقالَ: قالَ اللَّهُ – عَزَّ وَجَلَّ -: ‌أَنَا ‌أَهْلٌ أَنْ أُتَّقَى، فَلَا يُجْعَلُ مَعي إلهٌ آخَرَ، فَمَنِ اتَّقَى أَنْ يَجْعَلَ مَعي إلها آخَرَ، فَأَنَا أَهْلٌ أَنْ أَغْفِرَ لَهُ»

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ membaca ayat ini:

هُوَ أَهْلُ التَّقْوَى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ

Dia (Allah) adalah Tuhan Yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun. [Al-Muddatstsir: 56]

Allah Azza wa Jalla berfirman, “Aku berhak (agar) orang-orang bertakwa kepada-Ku, maka janganlah ada yang dijadikan ilah (sesembahan yang diibadahi dengan benar) lain bersama diri-Ku. Siapa saja yang menjaga diri dari menjadikan ilah lain bersama diri-Ku, maka Aku-lah yang berhak untuk memberikan ampunan kepadanya.”

[Hadits riwayat Ibnu Majah di dalam Sunan-nya Bab Ma Yurja min rahmatillah yaumal qiyamah]

Syaikh Nashirudiin Al-Albani menyatakan hadits ini dha’if dalam kitabnya As-Silsilah Adh-Dha’ifah no. 23.[iii]

12. Hadits Qudsi Tentang Bunuh Diri

جُنْدُبُ بن عبد اللهِ البجلي -رضي الله عنه- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلّم: «كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ، بِهِ جُرْحٌ، فَجَزِعَ، فَأَخَذَ سِكِّينا، فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ، فَمَا رَقَأَ الدَّمُ، حَتَّى ماتَ، قالَ اللَّهُ تَعالَى: ‌بادَرَني ‌عَبْدِي بِنَفْسِهِ، حَرَّمْتُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

أخرجه البخاري في صحيحه (1364، 3463) أحمد في مسنده (4\312)، ومسلم في صحيحه (113)

Jundub bin ‘Abdullāh al-Bajali radhiyallahu ‘anhu berkata,” Nabi ﷺ  bersabda,”Di antara orang-orang sebelum kalian ada seorang pria yang terluka. Dia tidak sabar sehingga dia mengambil pisau dan membuat luka di tangannya (memutus urat nadinya) dan tangannya berdarah terus menerus hingga dia meninggal dunia.

Allah Ta’ala berfirman: ‘Hamba-Ku telah telah mendahuluiku (dalam mencabut nyawa) terhadap dirinya. Aku telah mengharamkan surga baginya.’

[Hadits riwayat Al-Bukhari di dalam Shahih-nya (1364, 3463), Ahmad di dalam Musnadnya (4/312) dan Muslim di dalam Shahihnya]

Ada beberapa ulama yang memperselisihkan susunan kalimat hadits di atas yang berbunyi,”Hamba-Ku telah mendahului-Ku (dalam mencabut nyawa) terhadap dirinya sendiri.”

Kalau difahami secara sepintas, pengertian kalimat itu adalah: barang siapa melakukan tindakan bunuh diri, berarti dia telah mati sebelum waktu ajal yang ditetapkan oleh Allah. Padahal tidak ada seorang pun yang meninggal dunia, melalui sebab apa pun, kecuali selalu sesuai dengan waktu yang ditetapkan oleh Allah untuknya.

Sesungguhnya Allah sangat mengetahui kalau seseorang mati dengan sebab tertentu dan pengetahuan Allah Ta’ala tidak akan pernah berubah.

Untuk menanggapi asumsi seperti ini, maka perlu diberikan penjelasan sebagai berikut: ketika seseorang memiliki inisiatif pribadi untuk menghabisi jiwanya sendiri, sedang Allah tidak memberitahukan pengetahuan-Nya kepada orang tersebut (tentang hal yang akan terjadi, karena ini bagian dari ilmu ghaib, pent) maka seakan – akan dia telah mendahului takdir Allah.

Oleh karena itu dia berhak mendapatkan siksa karena perbuatan maksiatnya tersebut. Hadits di atas merupakan keterangan yang sangat gamblang untuk menjelaskan besarnya dosa perbuatan menghilangkan nyawa manusia (baik tindakan bunuh diri atau menghabisi orang lain), sebab pada hakekatnya jiwa bukan milik pribadi namun hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam.[iv]

14. Hadits Qudsi Tentang Balasan Kebaikan dan Keburukan

عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلّم: «قَالَ اللَّهُ – عَزَّ وَجَلَّ: إذَا هَمَّ عَبْدِي بِسَيِّئَةٍ فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ، فَإنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا سَيِّئَةً وَإذَا هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلَهَا، فَاكْتُبُوهَا حَسَنَةً، فَإنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا عَشْرا»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata,”Rasulullah ﷺ bersabda,”Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,”Apabila seorang hamba-Ku berkeinginan untuk melakukan sebuah keburukan maka jangan ditulis dia telah melakukan keburukan tersebut.

Apabila dia melakukan keburukan tersebut maka tulislah satu keburukan. Dan bila berkeinginan untuk melakukan sebuah kebaikan namun belum mengamalkannya maka tulislah satu kebaikan. Apabila dia mengamalkannya maka tulislah kebaikan tersebut 10 kali lipatnya.”

[Hadits Al-Bukhari (7501) dan Muslim (128) dalam Shahih Muslim]

15. Hadits Qudsi Tentang Puasa

عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنِ النَّبيِّ قَالَ: قالَ اللَّهُ: «كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إلَاّ الصَّوْمَ، فَإنَّهُ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَلَخَلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ، أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,”Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untukku dan Aku yang akan memberikan balasan puasa tersebut.

Dan bau mulut orang yang berpuasa itu benar-benar lebih baik di sisi Allah dari pada bau minyak kesturi.” [Hadits riwayat Al-Bukhari di dalam Shahih Al-Bukhari kitab Ash-Shaum]

16. Hadits Qudsi Tentang Sabar dan Musibah

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، عَنِ النَّبيِّ قَالَ: «يَقُولُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ: ابْنَ آدَمَ، إنْ ‌صَبَرْتَ وَاحْتَسَبْتَ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى، لَمْ أَرْضَ لَكَ ثَوَابا إلَاّ الْجَنَّةَ».

Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,”Anak Adam! Jika kamu bersabar dan mengharap pahala dari Allah pada hantaman pada kali pertama (dari sebuah musibah) maka Aku tidak tidak ridha untuk memberimu balasan kecuali surga.”

[Hadits riwayat Ibnu Majah (1597) dan lafazh hadits ini dari jalurnya dan Ahmad (22228). Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan di dalam Shahih Ibnu Majah no. 1308][v]

17. Hadits Qudsi Tentang Shalat 5 Waktu

قال سعيد بن المسيب إن أبا قتادة بن ربعي أخبره أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال – قالَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ افْتَرَضْتُ علَى أمَّتِكَ خَمْسَ صَلَوَاتٍ وَعَهِدْتُ عِنْدِيْ عَهْدًا أنَّهُ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهِنَّ لِوَقْتِهِنَّ أَدْخَلْتُهُ اْلجَنَّةَ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهِنَّ فَلَا عَهْدَ لَهُ عِنْدِيْ

Sa’id bin Al-Musayyab berkata,”Abu Qatadah bin Rib’i memberitahunya bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,”Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,”Aku telah memfardhukan shalat lima waktu atas umatmu dan aku telah menetapkan janji di sisi-Ku bahwa siapa saja yang memelihara shalat lima waktu pada waktunya akan aku masukkan ke dalam surga dan siapa saja yang tidak memelihara shalat lima waktu maka tidak ada janji baginya di sisi-Ku.”

[Hadits riwayat Abu Dawud (430) dan Ibnu Majah (1403) dan ini lafazh dari jalur Ibnu Majah. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan di dalam Shahih Ibni Majah no. 1160][vi]

18. Hadits Qudsi Tentang Mencela Waktu

 عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «قالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلّم

 قالَ اللَّهُ عزَّ وجلَّ: يُؤْذِينِي ابنُ آدَمَ؛ يَسُبُّ الدَّهْرَ، وأنا الدَّهْرُ، بيَدِي الأمْرُ، أُقَلِّبُ اللَّيْلَ والنَّهارَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata,”Rasulullah ﷺ bersabda,”Allah berfirman,”Anak Adam telah menyakiti-Ku. Dia mencaci (mengutuk) masa . Padahal Aku adalah (Pecipta) masa. Urusan ini di tangan-Ku. Aku yang membolak balik siang dan malam.”

[Hadits riwayat Al-Bukhari (7491) dan Muslim (2246)]

Yang dimaksud dengan firman Allah : “Aku adalah masa ” maksudnya adalah Aku adalah pencipta masa. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Alawi bin Abdul Qadir As-Saqqaf dalam syarahnya terhadap hadits ini.[vii]

Contoh Hadits Qudsi Dilihat Dari Periwayatnya

Contoh Hadits Qudsi dilihat dari Periwayatnya
Contoh Hadits Qudsi dilihat dari Periwayatnya

Berikut ini adalah conoth hadits qudsi dilihat dari periwayatnya. Untuk teks lafadz hadits, silahkan merujuk ke bagian atas:

Hadits Qudsi Riwayat Bukhari

  1. Hadits Tentang Wali Allah [Hadits riwayat Al-Bukhari]
  2. Hadits tentang husnuzan Kepada Allah [Hadits riwayat Al-Bukhari, no. 7405]
  3. Hadits Tentang Bunuh Diri
  4. Hadits Tentang Balasan Kebaikan dan Keburukan
  5. Hadits Tentang Mencela Waktu [Hadits riwayat Al-Bukhari no. 7491]

Hadits Qudsi Riwayat Muslim

  1. Hadits tentang husnuzan Kepada Allah [Muslim, no. 2675]
  2. Hadits Tentang Syirik [Hadits riwayat Muslim dalam Shahih-nya no. 2985]
  3. Hadits Tentang Kezhaliman [Hadits riwayat Muslim dalam Shahih-nya Bab Tahrim Azh-zhulmi]
  4. Hadits Tentang Al Fatihah [Hadits riwayat Muslim dalam Shahih-nya (395)]
  5. Hadits Tentang Sakit [Hadits riwayat Muslim di dalam Shahih-nya (2569) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]
  6. Hadits Qudsi Tentang Surga [Hadits riwayat Muslim dalam Shahihnya (2824)]
  7. Hadits Qudsi Tentang Bunuh Diri [Hadits riwayat Muslim di dalam Shahihnya]
  8. Hadits Qudsi Tentang Balasan Kebaikan dan Keburukan [Hadits Muslim (128) dalam Shahih Muslim]
  9. Hadits Qudsi Tentang Mencela Waktu [Hadits riwayat Muslim (2246)]

Hadits Riwayat Ibnu Majah

  1. Hadits Qudsi Tentang Syirik [Hadits riwayat Ibnu Majah (4202) dan lafazh hadits ini dari jalur Muslim. Lihat Al-Ahadits Al-Qudsiyyah Abul M’uathy hal. 39]
  2. Hadits Qudsi Tentang Al Fatihah [Hadits riwayat Ibnu Majah dalam Sunan-nya (3784) dan yang lainnya, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Lihat: Al-Ahadits Al-Qudsiyyah, ‘Adil Abul Mu’athi hal. 39]
  3. Hadits Qudsi Tentang Rezki, Sibuk Dengan Dunia [Hadits riwayat Ibnu Majah dan yang lainnya. Abu ‘Isa At-Tirmidzi berkata,”Hadits hasan gharib]
  4. Hadits Qudsi Tentang Taqwa dan Ampunan Allah [Hadits riwayat Ibnu Majah di dalam Sunan-nya Bab Ma Yurja min rahmatillah yaumal qiyamah]
  5. Hadits Qudsi Tentang Sabar dan Musibah [Hadits riwayat Ibnu Majah (1597) dan lafazh hadits ini dari jalurnya dan Ahmad (22228). Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan di dalam Shahih Ibnu Majah no. 1308]
  6. Hadits Qudsi Tentang Shalat 5 Waktu [Hadits riwayat Ibnu Majah (1403) dan ini lafazh dari jalur Ibnu Majah. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan di dalam Shahih Ibni Majah no. 1160]

Hadits Qudsi Riwayat Ahmad

  1. Hadits Qudsi Tentang Al Fatihah [Hadits riwayat Muslim dalam Shahih-nya (395), Ahmad dalam Musnadnya (2/ 241, 285, 460), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (3784) dan yang lainnya, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Lihat: Al-Ahadits Al-Qudsiyyah, ‘Adil Abul Mu’athi hal. 39]
  2. Hadits Qudsi Tentang Surga [Hadits riwayat Muslim dalam Shahihnya (2824), Ahmad dalam Musnadnya (2/466) dan Abu Nu’aim di dalam kitab AL-Hilyah (2/262) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]
  3. Hadits Qudsi Tentang Rezki, Sibuk Dengan Dunia Hadits riwayat Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang lainnya. Abu ‘Isa At-Tirmidzi berkata,”Hadits hasan gharib]
  4. Hadits Qudsi Tentang Bunuh Diri [Hadits riwayat Al-Bukhari di dalam Shahih-nya (1364, 3463), Ahmad di dalam Musnadnya (4/312) dan Muslim di dalam Shahihnya]
  5. Hadits Qudsi Tentang Sabar dan Musibah [Hadits riwayat Ibnu Majah (1597) dan lafazh hadits ini dari jalurnya dan Ahmad (22228). Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan di dalam Shahih Ibnu Majah no. 1308]

Hadits Qudsi Riwayat Tirmidzi

  1. Hadits Qudsi Tentang Silaturahmi [At-Tirmidzi rahimahullah berkata,”Hadits hasan shahih]
  2. Hadits Qudsi Tentang Prasangka Hamba  [At-Tirmidzi berkata,”Hadits hasan Shahih]
  3. Hadits Qudsi Tentang Rezki, Sibuk Dengan Dunia Hadits riwayat Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang lainnya. Abu ‘Isa At-Tirmidzi berkata,”Hadits hasan gharib]

Hadits Qudsi Riwayat Abu Dawud

  1. Hadits Qudsi Tentang Shalat 5 Waktu [Hadits riwayat Abu Dawud (430) dan Ibnu Majah (1403) dan ini lafazh dari jalur Ibnu Majah. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan di dalam Shahih Ibni Majah no. 1160]

Demikianlah contoh-contoh hadits Qudsi. Semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Buku Tentang Hadits Qudsi

Buku Referensi Artikel Makalah Hadits Qudsi
Buku Referensi Artikel Makalah Hadits Qudsi

Di antara kitab-kitab yang memuat hadits Qudsi adalah al-Ittihafat As-Sunniyyah bil Ahadits Al-Qudsiyyah karya Abdur Rauf Al-Munawi. Di dalam kitab ini terhimpun sejumlah 272 hadits Qudsi.

[Ulumul Hadits , hal. 282 dengan sedikit penyesuaian]

Kitab lainnya adalah Shahih Al-Ahadits Al-Qudsiyyah karya ulama modern yaitu Syaikh Mushthafa Al-‘Adawi, ulama asal Mesir, yang menghimpun sekitar 185 hadits Qudsi yang beliau nilai shahih.[viii]

Demikianlah pembahasan ringkas tentang hadits qudsi. Semoga bermanfaat. Apabila ada kebenaran dalam tulisan ini maa dari Allah Ta’ala semata karena rahmat dan karunianya dan bila ada kesalahan di dalamnya maka dari kami dan setan. Semoga Allah Ta’ala berkenan mengampuni semua kesalahan kami.


Referensi Penulisan Artikel Makalah Hadits Qudsi

[i] https://www.alukah.net/sharia/0/130420/

[ii]https://sotor.com/%D8%B9%D8%AF%D8%AF_%D8%A7%D9%84%D8%A3%D8%AD%D8%A7%D8%AF%D9%8A%D8%AB_%D8%A7%D9%84%D9%82%D8%AF%D8%B3%D9%8A%D8%A9_%D8%A7%D9%84%D8%B5%D8%AD%D9%8A%D8%AD%D8%A9

[iii]Lihat:https://www.dorar.net/hadith/search?q=%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%85%20%D8%A7%D8%BA%D9%81%D8%B1%20%D9%84%D8%B9%D8%A7%D8%A6%D8%B4%D9%87&st=a&xclude=&rawi[]=2177&page=2

[iv] Ensiklopedi Hadits Qudsi dan Penjelasannya, Imam Al-Qasthalani dan Imam an-Nawawi, Pustaka As-Sunnah, jakarta, 2010, hal 523.

[v] lihat: https://dorar.net/hadith/sharh/42736

[vi] lihat: https://dorar.net/hadith/sharh/30000 dan juga https://islamweb.net/ar/library/index.php?page=bookcontents&flag=1&bk_no=5&ID=1393

[vii] lihat:https://dorar.net/hadith/sharh/128708

[viii]https://sotor.com/%D8%B9%D8%AF%D8%AF_%D8%A7%D9%84%D8%A3%D8%AD%D8%A7%D8%AF%D9%8A%D8%AB_%D8%A7%D9%84%D9%82%D8%AF%D8%B3%D9%8A%D8%A9_%D8%A7%D9%84%D8%B5%D8%AD%D9%8A%D8%AD%D8%A9

Tulisan tentang hadits qudsi ini pertama kali diunggah pada 7 September 2021

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Comment