{"id":491,"date":"2024-09-08T15:39:42","date_gmt":"2024-09-08T08:39:42","guid":{"rendered":"https:\/\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/?p=491"},"modified":"2024-09-08T15:41:12","modified_gmt":"2024-09-08T08:41:12","slug":"hadits-shahih-dan-contohnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/hadits-shahih-dan-contohnya\/","title":{"rendered":"Hadits Shahih dan Contohnya, Pembagian, Hukum, Syarat"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Hadits Shahih Dan Contohnya <\/strong>&#8211; Hadits bila dilihat dari kuat lemahnya, terbagi menjadi hadits maqbul dan mardud. Hadits maqbul adalah hadits yang memenuhi syarat untuk dapat diterima sebagai dalil hukum dan landasan beramal.<\/p>\n\n\n\n<p>Artikel Pengertian Hadits Shahih Dan Contohnya mencakup arti bahasa, definisi istilah, pembagian shahih lidzatihi &amp; shahih lighairihi, penjelasan syarat hadis shahih.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan hadits mardud adalah sebaliknya. Hadits yang tertolak, tidak memenuhi syarat qabul. Hadits maqbul ini terdiri dari hadits shahih dan hasan. Sedangkan hadits mardud dinamai juga dengan hadits dha&#8217;if. <\/p>\n\n\n\n<p>Tulisan berikut ini membahas tentang hadits shahih, pengertiannya, hukumnya, pembagiannya, serta contoh-contohnya.<\/p>\n\n\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pengertian Hadits Shahih Adalah<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Pengertian-Hadits-Shahih-arti-bahasa-dan-definisi-istilah.jpg?resize=1024%2C576&#038;ssl=1\" alt=\"Pengertian Hadits Shahih arti bahasa dan definisi istilah\" class=\"wp-image-504\" srcset=\"https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Pengertian-Hadits-Shahih-arti-bahasa-dan-definisi-istilah.jpg?resize=1024%2C576&amp;ssl=1 1024w, https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Pengertian-Hadits-Shahih-arti-bahasa-dan-definisi-istilah.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Pengertian-Hadits-Shahih-arti-bahasa-dan-definisi-istilah.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Pengertian-Hadits-Shahih-arti-bahasa-dan-definisi-istilah.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Pengertian hadits shahih dilihat dari segi bahasa dan istilah adalah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Arti shahih secara bahasa<\/h3>\n\n\n\n<p>Secara bahasa, kata \u0627\u0644\u0635\u064e\u0651\u062d\u064a\u062d\u064f ash &#8211; shahih (sehat) berarti lawan dari kata \u0627\u0644\u0633\u0642\u064a\u0645 as-saqiim (sakit). Shahih berarti terbebas dari segala aib dan keraguan.<\/p>\n\n\n\n<p>Adapun ungkapan \u0623\u0631\u0636 \u0635\u062d\u064a\u062d\u0629 <em>ardhun shahihah<\/em> berarti tidak ada wabah di wilayah tersebut dan tidak banyak penyakit di dalamnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kitab Lisanul &#8216;Arab disebutkan bahwa syair yang shahih berarti syair yang bebas dari kekurangan, sedangkan perkataan yang shahih berarti perkataan yang bisa dijadikan pegangan atau sandaran.<a href=\"#_edn1\">[i]<\/a><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Definisi Hadits Shahih secara istilah<\/h3>\n\n\n\n<p>Adapun definisi hadits shahih secara istilah, ada banyak definisi yang diberikan para ulama hadits. Di antara yang paling terkenal adalah definisi yang diberikan oleh Imam Ibnu Ash-Shalah:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right\">\u0647\u0648 \u0627\u0644\u062d\u062f\u064a\u062b \u0627\u0644\u0645\u0633\u0646\u062f \u0627\u0644\u0630\u064a \u064a\u062a\u0635\u0644 \u0625\u0633\u0646\u0627\u062f\u0647 \u0628\u0646\u0642\u0644 \u0627\u0644\u0639\u062f\u0644 \u0627\u0644\u0636\u0627\u0628\u0637 \u0639\u0646 \u0627\u0644\u0639\u062f\u0644 \u0627\u0644\u0636\u0627\u0628\u0637 \u0625\u0644\u0649 \u0645\u0646\u062a\u0647\u0627\u0647\u060c \u0648\u0644\u0627 \u064a\u0643\u0648\u0646 \u0634\u0627\u0630\u0627 \u0648\u0644\u0627 \u0645\u0639\u0644\u0644\u0627<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dHadits yang bersambung sanadnya dengan dinukilkan oleh perawi yang adil lagi <em>dhabith<\/em> dari perawi yang adil dan <em>dhabith<\/em> juga, hingga ke akhir sanadnya, serta hadits tersebut tidak syadz, juga tidak memiliki &#8216;illah (cacat).\u201d [Lihat Ulumul Hadits: 11-12]<a href=\"#_edn2\">[ii]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Yang dimaksud dengan <em>dhabith<\/em>, secara bahasa merupakan isim fa\u2019il dari \u0636\u064e\u0628\u064e\u0637\u064e &#8211; \u064a\u064e\u0636\u0652\u0628\u0637\u064f <em>dhabatha \u2013 yadhbithu<\/em> yang berarti menghafalnya dengan pasti.<\/p>\n\n\n\n<p>Adapun secara istilah, Dhabith adalah perawi yang riwayatnya sesuai dengan riwayat-riwayat perawi tsiqat yang dhabith dalam lafazh atau dalam makna walau secara umum. Dengan kata lain dhabit adalah hafizh yang teliti.<a href=\"#_edn3\">[iii]<\/a><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Baca juga: <a href=\"https:\/\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/hadits-hasan-dan-contohnya\/\" target=\"_blank\" data-type=\"post\" data-id=\"122\" rel=\"noreferrer noopener\"><em>Pengertian Hadits Hasan<\/em><\/a><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Syarat &amp; Kriteria Hadits Shahih<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Syarat-Kriteria-Hadits-Shahih-Lidzatihi-Lighairihi.jpg?resize=1024%2C576&#038;ssl=1\" alt=\"Syarat Kriteria Hadits Shahih Lidzatihi Lighairihi\" class=\"wp-image-505\" srcset=\"https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Syarat-Kriteria-Hadits-Shahih-Lidzatihi-Lighairihi.jpg?resize=1024%2C576&amp;ssl=1 1024w, https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Syarat-Kriteria-Hadits-Shahih-Lidzatihi-Lighairihi.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Syarat-Kriteria-Hadits-Shahih-Lidzatihi-Lighairihi.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Syarat-Kriteria-Hadits-Shahih-Lidzatihi-Lighairihi.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Dari pengertian hadits shahih tersebut menjadi jelas bahwa syarat-syarat shahih yang wajib dipenuhi agar suatu hadits itu menjadi shahih ada lima buah:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Sanad yang bersambung.<\/li><li>Para perawinya adil.<\/li><li>Para perawinya dhabith.<\/li><li>Tidak mempunyai &#8216;illah (cacat).<\/li><li>Tidak ada syadz.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Apabila salah satu dari lima syarat ini tidak ada , maka hadits terebut tidak dinamakan sebagai hadits shahih.<a href=\"#_edn4\">[iv]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Penjelasan dari syarat-syarat hadits shahih di atas adalah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Sanad hadits harus bersambung.<\/h3>\n\n\n\n<p>Maksudnya adalah bahwa setiap perawi menerima hadits secara langsung dari perawi yang berada di atasnya dari awal sampai akhir sanad dan seterusnya sampai kepada Nabi Muhammad \ufdfa sebagai sumber hadits tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Hadits-hadits yang tidak bersambung sanadnya tidak dapat disebut hadits shohih, yaitu seperti hadits Munqathi&#8217;, Mu&#8217;dhal, Mu&#8217;allaq, Mudallas dan lain-lainnya yang sanadnya tidak bersambung.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Perawinya adil<\/h3>\n\n\n\n<p>&#8216;Adalah Ruwat atau Setiap perawi hadits tersebut harus bersifat adil. Yaitu memenuhi kriteria: Muslim, baligh, berakal, taat beragama, tidak melakukan perbuatan fasik dan tidak rusak muruahnya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Perawinya dhabith<\/h3>\n\n\n\n<p>Artinya perawi hadits tersebut memiliki ketelitian dalam menerima hadits, memahami apa yang ia dengar, serta mampu mengingat dan menghafalnya sejak ia menerima hadits tersebut sampai pada masa ketika ia meriwayatkannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Atau, ia mampu memelihara hadits yang ada di dalam catatannya dari kekeliruan atau dari terjadinya pertukaran, pengurangan dan sebagainya yang dapat mengubah hadits tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Ke-dhabith-an seorang perawi dengan demikian dapat dibagi menjadi dua, yaitu <em>dhabith shadran<\/em> (kekuatan ingatan atau hafalannya) dan <em>dhabith kitaaban<\/em> (kerapian dan ketelitian tulisan atau catatannya).<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Hadits tersebut tidak syadz<\/h3>\n\n\n\n<p>Artinya hadits tersebut tidak menyalahi riwayat perawi yang lebih tsiqat dari dirinya. (Baca selengkapnya: <a href=\"https:\/\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/hadits-syadz-dan-contohnya\/\" target=\"_blank\" data-type=\"post\" data-id=\"119\" rel=\"noreferrer noopener\"><em>Pengertian Hadits Syadz<\/em><\/a>)<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">5. Hadits tersebut tidak memiliki &#8216;illah (cacat)<\/h3>\n\n\n\n<p>Hadits tersebut selamat atau bebas dari &#8216;illah yang merusak. Yang dimaksud dengan &#8216;illah dalam suatu hadits adalah sesuatu yang sifatnya samar-samar atau tersembunyi yang dapat melemahkan hadits tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Sepintas terlihat seperti hadits shahih. Namun apabila diteliti lebih lanjut akan terlihat cacat yang merusak hadits tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Umpamanya, hadits Mursal dan Munqathi&#8217; (terputus sanadnya), dinyatakan sebagai hadits Maushul (bersambung sanadnya), atau hadits Mauquf dinyatakan sebagai hadits Marfu&#8217; dan sebagainya.<a href=\"#_edn5\">[v]<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Hukum Hadits Shahih<\/h2>\n\n\n\n<p>Mengenai hukum hadits shahih Dr. Sayyid Abdul Majid Al-Ghouri mengatakan, \u201dWajib beramal dengan hadits shahih berdasarkan ijma&#8217; para ahli hadits dan ahli Ushul Fikih serta para Fuqaha yang telah menjadi panutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Hadits merupakan salah satu hujjah syara&#8217;. Tidak seorang Muslim pun yang boleh meninggalkan beramal dengan hadits shahih.\u201d [Lihat Taisir Mushthalah Al-Hadits: 34-36]<a href=\"#_edn6\">[vi]<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pembagian Hadits Shahih<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Pembagian-Hadits-Shahih-sahih-lidzatihi-shohih-lighairihi.jpg?resize=1024%2C576&#038;ssl=1\" alt=\"Pembagian Hadits Shahih sahih lidzatihi shohih lighairihi\" class=\"wp-image-503\" srcset=\"https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Pembagian-Hadits-Shahih-sahih-lidzatihi-shohih-lighairihi.jpg?resize=1024%2C576&amp;ssl=1 1024w, https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Pembagian-Hadits-Shahih-sahih-lidzatihi-shohih-lighairihi.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Pembagian-Hadits-Shahih-sahih-lidzatihi-shohih-lighairihi.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Pembagian-Hadits-Shahih-sahih-lidzatihi-shohih-lighairihi.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Hadits shahih terbagi menjadi dua macam, yaitu shahih lidzatihi dan shahih lighairihi. Penjelasannya adalah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">&#8211; Hadits Shahih Lidzatihi<\/h3>\n\n\n\n<p> Hadits Shahih Lidzatihi Yaitu hadits yang mencapai derajat shahih dengan dirinya sendiri tanpa membutuhkan kepada dukungan untuk menguatkannya.<a href=\"#_edn7\">[vii]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Dengan kata lain, bila sebuah hadits dapat memenuhi lima syarat hadits shahih secara sempurna berupa sanad yang bersambung, perawinya adil, perawinya dhabith, tidak syadz dan tidak memiliki <em>&#8216;illah<\/em> maka hadits tersebut dinamakan dengan shahih lidzatihi.<a href=\"#_edn8\">[viii]<\/a><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">&#8211; Hadits Shahih Lighairihi<\/h3>\n\n\n\n<p>Pada asalnya, hadits shahih lighairihi merupakan hadits hasan lidzatihi yang diriwayatkan dari sanad yang lain yang sama kedudukannya atau lebih kuat kedudukannya darinya dengan lafazh yang sama atau makna yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka, dengan sebab keberadaan sanad yang lain ini, telah menguatkannya dan menaikkannya dari derajat hasan menuju ke derajat shahih dan dinamakan dengan shahih lighairihi.<a href=\"#_edn9\">[ix]<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Contoh Hadits Shahih Arab dan Artinya<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Contoh-Hadits-Shahih-Lidzatihi-Contoh-Hadits-Lighairihi.jpg?resize=1024%2C576&#038;ssl=1\" alt=\"Contoh Hadits Shahih Lidzatihi Contoh Hadis Shohih Lighairihi\" class=\"wp-image-500\" srcset=\"https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Contoh-Hadits-Shahih-Lidzatihi-Contoh-Hadits-Lighairihi.jpg?resize=1024%2C576&amp;ssl=1 1024w, https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Contoh-Hadits-Shahih-Lidzatihi-Contoh-Hadits-Lighairihi.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Contoh-Hadits-Shahih-Lidzatihi-Contoh-Hadits-Lighairihi.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Contoh-Hadits-Shahih-Lidzatihi-Contoh-Hadits-Lighairihi.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Berikut contoh hadis shahih lidzatihi dan  hadis shahih lighairihi:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Contoh Hadits Shahih \/ Shahih Lidzatihi<\/h3>\n\n\n\n<p>Untuk memperjelas, berikut ini contoh dari hadits shahih lidzatihi:<\/p>\n\n\n\n<p><strong>&#8211; Hadits Shahih Tentang Nabi \ufdfa membaca surat ath-Thur saat shalat Maghrib<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam Shahihnya, ia berkata,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right\">\u062d\u064e\u062f\u064e\u0651\u062b\u064e\u0646\u064e\u0627 \u0639\u064e\u0628\u0652\u062f\u064f \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u0650 \u0628\u0652\u0646\u064f \u064a\u064f\u0648\u0633\u064f\u0641\u064e \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0623\u064e\u062e\u0652\u0628\u064e\u0631\u064e\u0646\u064e\u0627 \u0645\u064e\u0627\u0644\u0650\u0643\u064c \u0639\u064e\u0646\u0652 \u0627\u0628\u0652\u0646\u0650 \u0634\u0650\u0647\u064e\u0627\u0628\u064d \u0639\u064e\u0646\u0652 \u0645\u064f\u062d\u064e\u0645\u064e\u0651\u062f\u0650 \u0628\u0652\u0646\u0650 \u062c\u064f\u0628\u064e\u064a\u0652\u0631\u0650 \u0628\u0652\u0646\u0650 \u0645\u064f\u0637\u0652\u0639\u0650\u0645\u064d \u0639\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0628\u0650\u064a\u0647\u0650 \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0633\u064e\u0645\u0650\u0639\u0652\u062a\u064f \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064e \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u0650 \u0635\u064e\u0644\u064e\u0651\u0649 \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0633\u064e\u0644\u064e\u0651\u0645\u064e \u0642\u064e\u0631\u064e\u0623\u064e \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u063a\u0652\u0631\u0650\u0628\u0650 \u0628\u0650\u0627\u0644\u0637\u064f\u0651\u0648\u0631\u0650<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dTelah menceritakan kepada kami &#8216;Abdullah bin Yusuf, ia berkata, \u2018Telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Muhammad bin Jubair bin Muth&#8217;im dari ayahnya, ia berkata, \u201dAku pernah mendengar Rasulullah \ufdfa dalam shalat Maghrib membaca &#8220;Ath-Thur.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya, dalam Kitab Al-Adzan, no. 765]<\/p>\n\n\n\n<p>Hadits di atas dapat dinyatakan sebagai hadits shohih karena telah memenuhi syarat-syarat ke -shahih-an suatu hadits sebagaimana terlihat dalam keterangan berikut:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"a\"><li><strong>Sanad hadits tersebut bersambung.<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Dalam hal ini masing-masing perawinya mendengar langsung dari gurunya. Adapun penggunaan <em>&#8216;an&#8217;anah<\/em> (yaitu &#8220;dari&#8221; dalam sanad hadits) yang digunakan oleh Malik, Ibnu Syihab dan Ibnu Jubair itu dihukumkan sebagai bersambung, disebabkan perawi-perawi tersebut tidak bersifat mudallis (menyembunyikan keburukan sanad).<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" start=\"2\"><li><strong>Para perawi hadits tersebut adalah adil dan dhabith.<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Hal tersebut telah diteliti oleh para ulama Jarh wa Ta&#8217;dil, dengan perincian keterangannya sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Abdullah bin Yusuf adalah orang yang tsiqah dan mutqin.<\/li><li>Malik bin Anas: Imam, Hafizh.<\/li><li>Ibnu Syihab Az-Zuhri: Faqih, Hafizh, disepakati kebesarannya dan kesempurnaan keahliannnya (itqan).<\/li><li>Muhammad bin Jubair: Tsiqah.<\/li><li>Jubair bin Muth&#8217;im: sahabat nabi \ufdfa . Para sahabat telah disepakati oleh para ahli hadits sebagai orang yang adil.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\" start=\"3\"><li><strong>Hadits tersebut tidak syadz karena tidak dijumpai hadits lain yang lebih kuat yang berlawanan dengannya.<\/strong><\/li><li><strong>Tidak terdapat &#8216;illah sama sekali di dalam hadits tersebut.<a href=\"#_edn10\">[x]<\/a><\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Contoh Hadits Shahih Lighairihi<\/h3>\n\n\n\n<p>Berikut ini satu contoh hadits shahih lighairihi mudah-mudahan bisa memberikan gambaran yang lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Hadits tentang orang yang paling berhak mendapat kebaktian terbaik<\/strong><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Imam Ahmad meriwayatkan di dalam Musnad-nya, dia berkata,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-right\">\u062d\u064e\u062f\u064e\u0651\u062b\u064e\u0646\u064e\u0627 \u064a\u064e\u062d\u0652\u064a\u064e\u0649 \u0628\u0652\u0646\u064f \u0633\u064e\u0639\u0650\u064a\u062f\u064d \u062d\u064e\u062f\u064e\u0651\u062b\u064e\u0646\u064e\u0627 \u0628\u064e\u0647\u0652\u0632\u064c \u0628\u0652\u0646\u064f \u062d\u064e\u0643\u0650\u064a\u0645\u0650 \u062d\u064e\u062f\u064e\u0651\u062b\u064e\u0646\u0650\u0649 \u0623\u064e\u0628\u0650\u0649 \u0639\u064e\u0646\u0652 \u062c\u064e\u062f\u0650\u0651\u0649 \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0642\u064f\u0644\u0652\u062a\u064f \u064a\u064e\u0627 \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064e \u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u0650 \u0645\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0628\u064e\u0631\u064f\u0651 \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0623\u064f\u0645\u064e\u0651\u0643\u064e \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0642\u064f\u0644\u0652\u062a\u064f \u062b\u064f\u0645\u064e\u0651 \u0645\u064e\u0646\u0652 \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u062b\u064f\u0645\u064e\u0651 \u0623\u064f\u0645\u064e\u0651\u0643\u064e \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0642\u064f\u0644\u0652\u062a\u064f \u062b\u064f\u0645\u064e\u0651 \u0645\u064e\u0646\u0652 \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0623\u064f\u0645\u064e\u0651\u0643\u064e \u062b\u064f\u0645\u064e\u0651 \u0623\u064e\u0628\u064e\u0627\u0643\u064e \u062b\u064f\u0645\u064e\u0651 \u0627\u0644\u0623\u064e\u0642\u0652\u0631\u064e\u0628\u064e \u0641\u064e\u0627\u0644\u0623\u064e\u0642\u0652\u0631\u064e\u0628\u064e<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Telah bercerita kepada kami Yahya bin Sa&#8217;id, ia berkata,&#8217;Telah bercerita kepada kami Bahz bin Hakim,&#8217; Ia berkata,&#8217;Ayahku telah menceritakan kepadaku dari kakekku, ia berkata, \u201dAku bertanya,<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dWahai Rasulullah ! Siapakah orang yang aku harus paling berbakti kepadanya?\u201d Rasulullah \ufdfa menjawab, \u201dIbumu.\u201d Aku bertanya lagi, \u201dkemudian siapa?\u201d Rasulullah \ufdfa menjawab, \u201dKemudian Ibumu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Aku bertanya lagi, \u201dLalu siapa lagi?\u201d Rasulullah \ufdfa menjawab, \u201dIbumu kemudian ayahmu kemudian yang paling dekat kekerabatannya denganmu dan yang di bawah itu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Hadits ini sanadnya bersambung, tidak ada syadz di dalamnya serta tidak ada &#8216;illah yang merusak karena tidak terdapat dalam rangkaian ini ikhtilaf apa pun di antara para perawi dan tidak pula dalam matan.<\/p>\n\n\n\n<p>Imam Ahmad dan syaikhnya, yaitu Yahya bin Sa&#8217;id Al-Qathan adalah dua orang imam yang agung. Bahz bin Hakim termasuk orang yang jujur dan memelihara diri (Ahlus Shidqi wa Ash -Shiyanah) sehingga Ali bin Al-Madini, Yahya bin Ma&#8217;in, An-Nasai dan yang lainnya menyatakannya sebagai orang yang tsiqah.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun para ulama mendapati adanya masalah dalam sebagian hadits yang dia riwayatkan sehingga Syu&#8217;bah bin Al-Hajjaj berbicara tentang dirinya disebabkan oleh hal tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun hal ini tidak menghilangkan sifat <em>dhabth<\/em>. Hanya dirasakan <em>dhabth<\/em>-nya kurang. Al-&#8216;Ajliyy dan Ibnu Hibban menyatakan Hakim ayah Bahz itu orangnya tsiqah. An-Nasa&#8217;i berkata, \u201d<em>Laisa bihi Ba&#8217;sun.\u201d<\/em> (ini ungkapan dalam Jarh dan Ta&#8217;dil yang kurang lebih berarti: tidak ada masalah dengan dirinya.)<\/p>\n\n\n\n<p>Maka hadits Bahz tersebut menjadi Shahih lighairihi.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang jelas, sesungguhnya orang yang kurang jelas yang bertanya kepada Nabi \ufdfa adalah Muawiyah kakek dari Bahz.<\/p>\n\n\n\n<p>Telah diriwayatkan penggunaan &#8220;\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0628\u064e\u0631\u064f\u0651 &#8221; di sebagian jalurnya dalam riwayat Muslim. Sehingga menguatkan hadits Bahz ini dengan riwayat Muslim tersebut. Maka hadits ini menjadi Shahih Lighairihi.\u201d<a href=\"#_edn11\">[xi]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Yang dimaksud dengan <em>dhabth<\/em> (bukan <em>dhabith<\/em>) menurut para ahli hadits adalah seorang perawi yang disifati dengan sifat sadar dan tidak lalai, hafal apabila menyampaikan dari hafalannya, <em>itqan<\/em> (sangat bagus\/sempurna) bila menyampaikan dari kitabnya, serta menguasai makna jika meriwayatkan hadits tanpa lafazhnya. [Lihat At-Tabshirah wa At-Tadzkirah 1\/293 dan Tadrib Ar-Rawi 1\/201 dan Fathul Mughits 1\/ 286]<a href=\"#_edn12\">[xii]<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Urutan Riwayat Hadits Shahih<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Urutan-Riwayat-Hadits-Shahih-Menurut-Para-Ulama.jpg?resize=1024%2C576&#038;ssl=1\" alt=\"Urutan Riwayat Hadits Shahih Menurut Para Ulama\" class=\"wp-image-506\" srcset=\"https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Urutan-Riwayat-Hadits-Shahih-Menurut-Para-Ulama.jpg?resize=1024%2C576&amp;ssl=1 1024w, https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Urutan-Riwayat-Hadits-Shahih-Menurut-Para-Ulama.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Urutan-Riwayat-Hadits-Shahih-Menurut-Para-Ulama.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Urutan-Riwayat-Hadits-Shahih-Menurut-Para-Ulama.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Sebagian ulama hadits membagi tingkatan hadits shahih berdasarkan kepada kriteria yang dipedomani oleh para <em>Mukharrij<\/em> (perawi terakhir yang membukukan ) hadits shahih tersebut kepada tujuh tingkatan, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Hadits yang disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim.<\/li><li>Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari saja.<\/li><li>Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim saja.<\/li><li>Hadits yang diriwayatkan menurut persyaratan Al-Bukhari dan Muslim.<\/li><li>Hadits yang diriwayatkan menurut persyaratan Al-Bukhari.<\/li><li>Hadits yang diriwayatkan menurut persyaratan Muslim.<\/li><li>Tingkatan selanjutnya adalah hadits shahih menurut imam-imam hadits lainnya yang tidak mengikuti syarat Al-Bukhari dan Muslim, seperti Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. [Taisir Musthalah Al- Hadits, Ath-Thahan: 42-42]<a href=\"#_edn13\">[xiii]<\/a><\/li><\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tanya Jawab Seputar Hadits Shahih:<\/h2>\n\n\n\n<p>Pertanyaan berikut ini sering dicari jawabnya oleh sebagian kalangan. Untuk itu, kami coba untuk memberikan penjelasan tentang masalah tersebut.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apa maksud Ini hadits shahih atau Tidak shahih?<\/h3>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img data-recalc-dims=\"1\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Jelaskan-Maksud-Hadits-Shahih-Ghairu-Shahih-Tidak-Shahih-brainly.jpg?resize=1024%2C576&#038;ssl=1\" alt=\"Maksud Hadits Shahih Ghairu Shahih Tidak Shahih\" class=\"wp-image-501\" srcset=\"https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Jelaskan-Maksud-Hadits-Shahih-Ghairu-Shahih-Tidak-Shahih-brainly.jpg?resize=1024%2C576&amp;ssl=1 1024w, https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Jelaskan-Maksud-Hadits-Shahih-Ghairu-Shahih-Tidak-Shahih-brainly.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Jelaskan-Maksud-Hadits-Shahih-Ghairu-Shahih-Tidak-Shahih-brainly.jpg?resize=768%2C432&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Jelaskan-Maksud-Hadits-Shahih-Ghairu-Shahih-Tidak-Shahih-brainly.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjawab pertanyaan tentang perbedaan antara ungkapan ini hadits shahih dan hadits ini isnadnya shahih, beliau menjawab,<\/p>\n\n\n\n<p>\u201dPara ahli hadits (muhaddits) telah menetapkan bahwa hadits shahih yang secara umum diyakini kepastian penisbahannya kepada Nabi \ufdfa adalah hadits yang terkumpul padanya lima syarat berikut:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Masing-masing perawinya adil.<\/li><li>Masing-masing perawinya dhabith.<\/li><li>Sanadnya bersambung dari awal sanad hingga akhir sanad.<\/li><li>Hadits tersebut selamat dari syadz dalam sanad maupun matannya.<\/li><li>Hadits tersebut selamat dari &#8216;illah (cacat) dalam sanad maupun matannya.\u201d<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Sedangkan hadits dikatakan <em>isnadnya shahih<\/em> bila hadits tersebut memenuhi tiga syarat pertama dari hadits shahih di atas dan tidak mencakup syarat keempat dan kelima.<a href=\"#_edn14\">[xiv]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan yang dimaksud dengan ungkapan hadits ini <em>ghairu shahih<\/em> maksudnya menurut para ahli hadits adalah hadits yang belum memenuhi syarat-syarat keshahihan hadits atau hasan, pada kedua jenis dari hadits hasan atau shahih tersebut secara zhahir.<\/p>\n\n\n\n<p>Ungkapan tersebut bukanlah berarti hadits tersebut telah dipastikan ketidakshahihannya pada tataran realita karena bisa jadi seorang pendusta itu kadang bicara benar dan orang yang banyak keliru itu kadang tepat kata-katanya. [Lihat: Hasyiyah Ar-raf&#8217;u wa at-takmil hal. 189]<a href=\"#_edn15\">[xv]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Demikianlah pembahasan <a href=\"https:\/\/wp.me\/pdzO2z-7V\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tentang hadits shahih dan contohnya<\/a>. Semoga bermanfaat. Bila ada kebenaran dalam tulisan ini maka itu dari Allah Ta&#8217;ala karena rahmat dan fadhilah-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan bila ada kesalahan di dalamnya maka dari kami dan setan. Semoga Allah Ta&#8217;ala mengampuni semua kesalahan kami dan kaum Muslimin.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ednref1\">[i]<\/a> Mu&#8217;jam Al-Musthalah Al-Haditsiyyah, Dr. Sayyid Abdul Majid Al-Ghouri, Dar Ibni Katsir, Beirut, 1428 H \/ 2007 M, Cetakan pertama, hal. 437.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ednref2\">[ii]<\/a> Ibid.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ednref3\">[iii]<\/a> Ibid, hal. 453.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ednref4\">[iv]<\/a> Ibid. hal. 438.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ednref5\">[v]<\/a> Ulumul Hadis, Dr. Nawir Yuslem, M.A., hal. 220-221.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ednref6\">[vi]<\/a> Mu&#8217;jam Al-Musthalah Al-Haditsiyyah, Dr. Sayyid Abdul Majid Al-Ghouri, Dar Ibni Katsir, Beirut, 1428 H \/ 2007 M, Cetakan pertama, hal. 438.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ednref7\">[vii]<\/a> Mu&#8217;jam Al-Musthalah Al-Haditsiyyah, Dr. Sayyid Abdul Majid Al-Ghouri, Dar Ibni Katsir, Beirut, 1428 H \/ 2007 M, Cetakan pertama, hal. 441.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ednref8\">[viii]<\/a> Ulumul Hadits, Dr. Nawir Yuslem,M.A., hal. 221.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ednref9\">[ix]<\/a> Mu&#8217;jam Al-Musthalah Al-Haditsiyyah, Dr. Sayyid Abdul Majid Al-Ghouri, Dar Ibni Katsir, Beirut, 1428 H \/ 2007 M, Cetakan pertama, hal. 442.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ednref10\">[x]<\/a> Lihat: Mu&#8217;jam Al-Musthalah Al-Haditsiyyah, Dr. Sayyid Abdul Majid Al-Ghouri, Dar Ibni Katsir, Beirut, 1428 H \/ 2007 M, Cetakan pertama, hal. 438-439 dan Ulumul Hadis, Dr. Nawir Yuslem, M.A., hal. 222-223.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ednref11\">[xi]<\/a> Lihat: Mu&#8217;jam Al-Musthalah Al-Haditsiyyah, Dr. Sayyid Abdul Majid Al-Ghouri, Dar Ibni Katsir, Beirut, 1428 H \/ 2007 M, Cetakan pertama, hal. 442.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ednref12\">[xii]<\/a> Ibid, hal. 454.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ednref13\">[xiii]<\/a> Ulumul Hadits, Dr. Nawir Yuslem, M.A., hal. 224-225.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ednref14\">[xiv]<\/a>https:\/\/islamqa.info\/ar\/answers\/122507\/%D8%A7%D9%84%D9%81%D8%B1%D9%82%D8%A8%D9%8A%D9%86%D9%82%D9%88%D9%84%D9%87%D9%85%D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB%D8%B5%D8%AD%D9%8A%D8%AD%D9%88%D9%82%D9%88%D9%84%D9%87%D9%85%D8%A7%D8%B3%D9%86%D8%A7%D8%AF%D9%87-%D8%B5%D8%AD%D9%8A%D8%AD.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ednref15\">[xv]<\/a> Mu&#8217;jam Al-Musthalah Al-Haditsiyyah, Dr. Sayyid Abdul Majid Al-Ghouri, Dar Ibni Katsir, Beirut, 1428 H \/ 2007 M, Cetakan pertama, hal. 306.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hadits Shahih Dan Contohnya &#8211; Hadits bila dilihat dari kuat lemahnya, terbagi menjadi hadits maqbul dan mardud. Hadits maqbul adalah hadits yang memenuhi syarat untuk dapat diterima sebagai dalil hukum dan landasan beramal. Artikel Pengertian Hadits Shahih Dan Contohnya mencakup arti bahasa, definisi istilah, pembagian shahih lidzatihi &amp; shahih lighairihi, penjelasan syarat hadis shahih. Sedangkan &#8230; <a title=\"Hadits Shahih dan Contohnya, Pembagian, Hukum, Syarat\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/hadits-shahih-dan-contohnya\/\" aria-label=\"More on Hadits Shahih dan Contohnya, Pembagian, Hukum, Syarat\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":502,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[4],"tags":[7],"class_list":["post-491","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ilmu-hadits","tag-perbedaan-hadits-shahih-dan-mutawatir"],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Makalah-pengertian-hadits-shahih-dan-contohnya-brainly.jpg?fit=1200%2C675&ssl=1","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pdzO2z-7V","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/491","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=491"}],"version-history":[{"count":10,"href":"https:\/\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/491\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":509,"href":"https:\/\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/491\/revisions\/509"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-json\/wp\/v2\/media\/502"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=491"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=491"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pabrikjammasjid.com\/hadits\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=491"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}